• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi Istinba>t}| Terhadap Pembinaan Hukum Islam

88

hukum terhadap sebuah kasus yang spesifik diharapkan sebuah upaya ijtihad telah mencapai targetnya secara maksimal.

D. Implementasi Istinba>t}| Terhadap Pembinaan Hukum Islam

Kehidupan umat Islam di era global semakin kompleks mulai dari persoalan politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan, hingga formulasi hukum Islam kekinian yang tak kunjung selesai. Hal ini, karena berkembangnya tingkah laku perbuatan manusia seiring berkembangnya teknologi dan informatika. Dalam masalah politik misalnya, seperti yang terjadi di Indonesia khususnya, formulasi hukum Islam ke dalam hukum positif masih terbatasi oleh pluralitas sosial yang tidak menghendaki terlegal formalkannya hukum Islam (baca; syari’at Islam) pada undang-undang, sehingga memicu banyaknya usulan berlakunya syari’at Islam di beberapa wilayah di bawah naungan otonomi daerah. Hal ini sangat difahami terkait beberapa undang-undang hukum positif yang masih belum bernuansa nilai-nilai islami. Oleh karenanya kajian istinba>t} min al-‘adilla>t al-asa>siyah (mengeluarkan hukum dari al-Qur’a>n dan hadith) sangat membantu dalam memformulasikan hukum yang komprehenship bagi masyarakat plural.

Implementasi dari realitas pemaknaan hukum yang bersumber dari al-Qur’a>n dan as-Sunnah mencoba mengakomodir segala aktivitas manusia. upaya kontekstualisasinya banyak dilakukan oleh pemikir klasik maupun kontemporer. Namun demikian, upaya untuk menerjemahkan kembali

89

nilai universalitasnya yang memiliki prinsip shalih li kulli zama>n wa

al-makan masih terlihat titik kelemahannya secara fundamental.134

Di sisi lain, ada sebagian umat Islam yang mencoba menonjolkan hukum Islam sebagai entitas unik yang terpisah dari peradaban lain—sudah final—dan menutup ruang untuk ditafsir ulang. Hal tersebut mengakibatkan hukum Islam terkesan sangat mengerikan, jumud, statis dan eksklusif.135 Padalah jika melihat perjalanan panjang hukum Islam dari masa Nabi,

134 Untuk memahami dialektika al-Qur’a>n memerlukan sejumlah ilmu bantu dan alat bantu yang signifikan. Ilmu bantu dimaksud adalah sejumlah ilmu yang diperlukan untuk memudahkan pengungkapan makna-makna yang terkandung dalam al-Qur’a>n dalam berbagai aspeknya. Ilmu-ilmu tersebut harus dikuasai oleh seorang mufassir al-Qur’a>n, terutama untuk menghindari kesalahpahaman dan membantu pengungkapan makna ayat-ayat al-Qur’a>n yang pelik dan rumit. Sebagaimana diketahui, al-Qur’a>n adalah teks suci yang dibaca dan ditulis dalam bahasa Arab. Ilmu tentang bahasa ini, yang dapat dikategorikan sebagai ilmu bantu, antara lain: 1) ilmu

Ishtiqa>q (etimologi), 2) ilmu Nah}w (sintaksis), 3) ilmu S{arf (morfologi), dan 4) ilmu Bala>ghah (susastra).ilmu bantu ini tidak banyak dimiliki oleh pemerhati al-Qur’a>n mereka

hanya berkutat pada terjemahan jadi, tanpa menggali intertektualnya yang masih butuh ilmu-ilmu yang lain selain alat bantu diatas; seperti kaidah ushuliyyah, ta’wil dan tafsir, relasi teks dan makna dll, yang mempunyai cabang entitas ilmu yang saling berkesinambungan.

135 Kejumudan ini disebabkan adanya diskursus tentang tertutupnya pintu ijtihad bukan lagi sebuah diskursus yang produktif jika hanya terhenti pada sebuah deskripsi mengenai kontroversi yang telah dan selalu menjadi perdebatan sejak Abad Pertengahan. Hal yang semestinya menjadi sebuah renungan bersama adalah bahwa adanya diskursus ini merupakan tindakan preventif (pencegahan) di satu sisi, namun juga sebuah rangsangan atas keindahan diskursus masa silam mengenai beberapa perangkat metodologis yang malfungsi. Penutupan (pintu ijtihad itu) sebenarnya diperuntukkan pada orang-orang yang bukan ahli atau yang tidak memiliki kapabilitas, dan menempuh hal ini hanya sebagai cara atau perantara untuk menuruti keinginan hawa nafsunya semata (khidmat al-ahwa>’) dan terus menerus membuat perpecahan di antara umat Islam, serta orang-orang yang memberikan ta’wil terhadap nas syariat dengan cara yang cacat yang tidak berdasarkan pada rasio dan teks”. Penjelasan T}ant}awy ini mencoba menjembatani adanya sebuah diskursus. Bahwa probabilitas tentang penutupan pintu ijtihad sebenarnya tidak tertutup bagi semua orang, di segenap masa. Namun penutupan jalur ijtihad ini hanya diperuntukkan bagi seseorang yang hendak menempuh jalan ijtihad, namun tanpa berbekal dengan kapabilitas yang mumpuni. Dalam hal ini Ah}mad al-Raysu>ny (ulama Maroko) dalam masalah ijtihad, juga berpendapat, “posisinya sebenarnya berada di antara kebebasan dan tanggung jawab, Artinya, ijtihad sebenarnya memiliki arti “kebebasan” bagi siapa pun yang hendak menempuhnya, namun harus memperhatikan unsur “tanggung jawab”. Unsur tanggung jawab tentunya menegaskan akan adanya kesiapan bertanggung jawab atas jalur ijtihad yang ditempuh dengan kesiapan diri pada seperangkat aturan, prasyarat, yang musti dapat dipertanggungjawabkan. Lihat Muh}ammad Sayyid T}ant}awy, al-Ijtiha>d fi al-Ah}ka>m al-Shar’iyyah (Kairo: Da>r Nahd}ah Mis}r, 1997), 105

90

Sahabat, Tabi’in hingga sekarang, hukum Islam lahir untuk menjawab problematika masyarakat pada masanya.

Di sinilah letak nilai-nilai kemanusiawian hukum Islam (The Humanism

of Islamic Law), semua selalu terbuka untuk mendapatkan sentuhan baru

dalam penafsiran, bahkan terhadap ayat-ayat khash dan qath’iy sekalipun jangkauan proses penalaran (Ijtihad) harus tetap memberikan sentuhan tafsir, sebagai bukti dari adanya elastisitas al-Qur’a>n yang peka zaman dan juga bahwa Islam akan senantiasa mampu menciptakan sebuah solusi bagi problem masyarakat dimanapun dan kapanpun. Oleh sebab itu, bagaimana mungkin hukum Islam akan dapat menjawab persoalan-persoalan kontemporer jika ruang untuk berijtihad terpasung oleh sumber hukum Islam yang ditulis beberapa abad yang lampau tanpa adanya proses reformasi, transformasi, inovasi maupun kontekstualisasi maksud syari’ dengan kondisi sosial dimana problem masyarakat itu tumbuh dan berkembang sehingga dengan adanya proses diatas akan tercipta praktik hukum yang established (mapan).

Hukum Islam, dalam perangkat metodologi ulama’ klasik merepresentasikan sebagai produk pemikiran (ijtihad) yang di dalamnya bersumber suatu hukum yang mengakordinir aktivitas manusia (‘amaliyah) dengan bukti-bukti yang komprehensif (dalalah al-tafsiliyah). Dengan ini, hukum Islam telah membatasi dirinya sebagai suatu hukum yang pasti dan bersumber dari Al-Qur’a>n dan Al-Hadi>th. Namun, benarkah hukum Islam telah merespons aspek-aspek mendasar dalam aktivitas manusia?

91

Disinilah, akan dilihat bagaimana hukum Islam selayaknya dibarengi dengan sentuhan kritis terhadap wilayah-wilayah metodologis (manhaj) dan implementasinya (istinbat}} ) dalam tataran sosial. Problem yang mendasar ini sebenarnya membawa dan menampilkan pemikiran kreatif dan produktif para ulama kontemporer. Sejurus dengan pemahaman ini, kisaran hukum islam terus disejajarkan dengan sikap fleksibelnya yang nyata dan daya pemahaman yang disesuaikan dengan keberadaan kondisi umat manusia.

Dus, dari paradigma diatas, mengejawantahkan Istinbat} adalah sebuah keniscayaan yang tidak boleh berhenti pada masa ‘ulama terdahulu saja, tetapi sebaliknya kesinambungan kewajiban istinbat} mesti terus terjadi di stiap masa ataupun tempat. Hal ini mengingat berkembang dan kompleksitas problematika umat dari masa ke masa yang terus berkelanjutan. Oleh karena itu, istinbat} merupakan solusi dalam memberikan keseimbangan hidup dengan sinaran wahyu yang terurut. Ketika persoalan yang muncul merupakan persoalan baru yang tidak eksplisit (qath’ī) dalam al-Qur’a>n dan al-Sunnah,

maka istinbat} adalah jawabannya, yang sudah barang tentu mesti dilakukan menurut konsep yang sebenarnya di dalam Islam. Mengenai urgensitas kesinambungan istinbat}, sebagaimana dikutif Yusuf Qaradhawi, imam al-Syaukani berkata: “Tidak tersembunyi atas kalian (jelas nampak-pent) bahwa kedudukan istinbat} adalah fardhu yang niscaya keberadaannya sepanjang rentangan zaman, tanpa harus kosong dari seorang mujtahid.136 Hal ini

136Statemen ini sejalan dengan bunyi hadith, “Sesungguhnya Allah mengutus untuk umat ini, di penghujung setiap seratus tahun orang yang memperbaharui persoalan agama mereka”, hadith ini diriwayatkan oleh Daud Sulaiman Ibn al-Asha’ath Ibn Ishaq al-Azd a-Sijistani, Sunan Abi

92

dibenarkan oleh Rasulullah SAW. dalam sabdanya:“Akan senantiasa ada sekelompok dari ummatku yang berada dalam kebenaran dengan jelas sampai terjadinya hari kiamat.137

Hanabilah (pengikut Ahmad ibn Hanbal) mengatakan bahwa tidak boleh suatu masa kosong dari seorang mujtahid. Dalam hal ini Abu Ishaq berkata: “Dan dibawah pendapat ‘ulama, Allah tidak akan mengosongkan suatu zaman dari orang yang menegakkan hujjah dan argumentasi mengenai urusan yang besar, seakan-akan Allah mengilhamkan hal tersebut. Artinya: Jika Allah mengosongkan suatu zaman dari penegak hujjah (mujtahid), maka akan terlepaslah beban kewajiban (takli>f). Begitupun dengan imam al-Zubairi yang menyatakan bahwa bumi ini tidak akan kosong dari penegak hujjah (mujtahid) di setiap waktu, masa, dan zaman. Tetapi tentunya, jumlah mujtahid itu sedikit dari yang banyak. Oleh karena itu, jika ada yang mengatakan bahwa tidak ada mujtahid saat ini (suatu zaman), hal itu adalah salah, karena jika tidak ada fuqaha>’, maka kewajiban-kewajiban seluruhnya tidak akan ada. Jika tidak ada kewajiban, maka makhluk akan dihancurkan, sebagaimana sabda rasul, “tidak akan terjadi kiamat kecuali atas seburuk-buruknya manusia”. Dan kita berlindung kepada Allah untuk diakhirkan beserta orang-orang yang buruk.”138

Daud (Mesir: Musthafa al-Bab al-Halabi, 1995), Juz II, 424, bisa dilhat juga pada al-Hafiz} Abu Adillah al-H}akim al-Naisaburi, al-Mustadrak ‘ala> al-Shah}ih}ain. (Beirut: Da>r al-Fikr, 1978),522

137 Muhammad ibn ‘Ali ibn Muhammad Syaukānī, Irsyād Fuhūl, dalam Yusuf al-Qardhāwī, al-Ijtihād fī al-Syarī’ah al-Islāmiyyah, 85

93

Kondisi real suatu zaman meniscayakan adanya mujtahid yang mengemban amanah menegakkan hujjah Islam dimuka bumi, demi terjaganya kemaslahatan umat Islam di dunia dan di akhirat. Menjawab semua permalahan baru dalam dunia yang selalu baru, tetapi bukan mengada-ada hukum baru dari hukum yang sudah baku. Keniscayaan zaman yang akan terus mendatangkan penghuni dunia pengisi zaman yang terus menemui kenistaan dan jauh dari pancaran wahyu di bawah worldview Islam. Hal ini sesuai dengan riwayat yang diterima dari Anas ibn Malik bahwa Rasul SAW. bersabda: “Bersabarlah kalian, karena tidak akan datang suatu zaman,

kecuali zaman tersebut akan lebih jelek dan buruk dari zaman sebelumnya sehingga kalian menemui Tuhan kalian.”139 Mengomentari hadi>th ini, Abdullah ibn Mas’ud menjelaskan bahwa yang dimaksud zaman pada hadi>th diatas, bukanlah suatu tahun lebih baik dari tahun yang lain tau seorang amir lebih baik dari amir yang lain, tetapi ketika para‘ulama dan fuqaha diantara kalian wafat, tetapi tidak ada pengganti mereka. Kemudian datang suatu kaum yang berfatwa dengan akal mereka (tanpa mengindahkan wahyu-pent). Maka mereka menurunkan kewibawaan Islam, bahkan menghancurkannya.

Urgensitas istinbat} adalah sebuah aksioma yang tidak terbantahkan dalam memecahkan berbagai persoalan dalam ranah hukum syari’at. Kedudukannya pun terlegalisasi dengan ketentuan-ketentuan yang jelas dan tidak asal-asalan. Oleh karena itu, otoritas istinbat} tidak dimiliki oleh setiap 139 ﻻٕا نﺎﻣز ﲂﯿﻠ� ﰐٔأﯾ ﻻ ﻪﻧ ٕﺎﻓ اوﱪﺻٕا :لﺎﻘﻓ ,جﺎ�ﳊا ﻦﻣ ﻲﻘﻠﻧ ﺎﻣ ﻪﯿﻟٕا �ﻮﻜﺸﻓ �ﺎﻣ ﻦ� ﺲ�ٔأ ﺎنيﺗٔأ :لﺎﻗ ,ىﺪ� ﻦ� ﲑﺑﺰﻟا ﱃٕا ﻩﺪﻨ�ﺴ� يرﺎ�ﺒﻟا ىور ي�ا ﲅﺳو ﻪﯿﻠ� ﷲ ﲆﺻ ﲂيبﻧ ﻦﻣ ﻪﺘﻌﲰ ,ﲂ�ر اﻮﻘﻠﺗ ﱴﺣ ﻪنﻣ ﴍ ﻩﺪﻌﺑ ) ور ﻩا يرﺎ�ﺒﻟا ( .

keterangan lebih lanjut bisa lihat al-Qaradhawi, al-Mubasysyra>t bi al-Intishār al-Islām, (Kairo:

94

orang, melainkan orang-orang tertentu saja yang memiliki dan memenuhi kualifikasi. Istinbat} merupakan sebuah ekspresi maksimalisasi potensi akal proporsional dan rasionalisasi hukum dengan naungan wahyu yang terrefleksikan dalam worldview Islam. Kegiatan istinbat} adalah kegiatan yang niscaya keberlangsungannya dalam memfasilitasi terwujudnya hukum yang sesuai dengan pancaran wahyu, Al-Qur’a>n dan al-Sunnah, karena ia juga sebagai metodologi dan perangkat teoritik fiqih dalam menderivasi hukum dari sumber primer hukum, Al-Qur’a>n dan al-Sunnah. Wallāhu a’lam.

BAB III