68
oleh nas} z}anniy. Sedangkan hukum-hukum yang telah ditunjuk dengan qath'i dalalah tak ada sedikitpun peluang bagi ijtihad.
Diakui atau tidak pembuatan limitasi ijtihad tersebut ternyata dalam dinamika historisitas Islam membawa dampak terhadap perkembangan pemikiran hukum Islam. Dibatasinya ijtihad dengan tidak boleh menyentuh nas} qat}’iy dala>lah telah menyebabkan pembaruan hukum Islam bersifat parsial ad hoc. Karena untuk mewujudkan pembaruan secara universal diperlukan adanya pemberian ruang gerak ijtihad seluas-luasnya, termasuk yang qat}’iy dala>lah sekalipun. Implikasinya, rumusan syarat-syarat ijtihad harus fleksibel, elastis, dinamis, sesuai dengan kebutuhan mujtahid.
Pembaruan pemikiran Islam tidak dapat dilakukan, jika sikap skeptis dan jumud masih melanda para ulama dan umat Islam. Sebaliknya, sikap progresif dan dinamis amat penting, tetapi sikap hati-hati tetap merupakan suatu keharusan, selain mempunyai otoritas yurisprudensi, sangat probabilitas untuk ber-istinbat}h dan ber-istidla>l dalam merepresentasi makna substantif syara’.
B. Sumber Hukum Istinba>t}
Istinbat}} adalah media elementer sebagai salah satu proses pencarian sumber hukum dari sumber-sumber hukum shari’ah merupakan sebuah pernyataan yang didasarkan pada dalil-dalil yang menunjukan kevalidannya, baik dalil yang bersifat implisit ataupun jelas dan eksplisit yang bersumber pada dalil naqli (al-Qur’a>n dan al-hadith).
69
1. Al-Qur’a>n
ْﻢُﻬْـﻨِﻣ ُﻪَﻧﻮُﻄِﺒﻨَﺘْﺴَﻳ َﻦﻳِﺬﱠﻟا ُﻪَﻤِﻠَﻌَﻟ ْﻢُﻬْـﻨِﻣ ِﺮْﻣَﻷا ِﱄْوُأ َﱃِإَو ِلﻮُﺳﱠﺮﻟا َﱃِإ ُﻩوﱡدَر ْﻮَﻟَو
“Apabila mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri diantara mereka, tentulah orsng-orang yang ingin mengetahui kebenarannya akan dapat mengetahuinya (secara resmi) dari mereka (Rasul dan ulil amri). QS. An-Nisa>’ (4) : 83
َأ ﺎَِﲟ ِسﺎﱠﻨﻟا َْﲔَﺑ َﻢُﻜْﺤَﺘِﻟ ِّﻖَْﳊِﺑﺎ َبﺎَﺘِﻜْﻟا َﻚْﻴَﻟِإ ﺎَﻨْﻟَﺰﻧَأ ﱠ�ِإ
ًﺎﻤﻴِﺼَﺧ َﲔِﻨِﺋﺂَﺨْﻠِّﻟ ﻦُﻜَﺗ َﻻَو ُّﻟﻠﻪا َكاَر
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu.(Qs. Al-Nisa> (4): 105)”
Ayat ini menjustifikasi eksistensi ijtihad dengan cara qiyas.111
َنوُﺮﱠﻜَﻔَـﺘَـﻳ ٍمْﻮَﻘِّﻟ ٍتَ� َﻵ َﻚِﻟَذ ِﰲ ﱠنِإ
“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”. ( Qs. Al-Ra’d: 3 )
ٍتَ� َﻵ َﻚِﻟَذ ِﰲ ﱠنِإ
َنﻮُﻠِﻘْﻌَـﻳ ٍمْﻮَﻘِّﻟ
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berakal.” ( Qs. Al-Ra’d:4 )
“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memperhatikan tanda-tanda.”
Istilah berpikir dan berakal adalah sebuah aktifitas yang menggunakan logika dengan penekanan yang ditunjukan ayat ini, yakni berpikir tanpa mendahului al-Qur’a>n dan al-Sunnah.
رﺎَﺼْﺑَْﻷا ِﱄوُأ َ� اوُِﱪَﺘْﻋﺎَﻓ
“Maka ambillah pelajaran oleh kalian wahai orang-orang yang mempunyai pandangan.112
111 Wahbah Zuhaili, Us}u>l al-Fiqh al-Isla>mi>, 1039
112 Departemen Agama RI, al-Qur’a>n dan terjemahnya, (Jakarta: Pustaka Maghfirah), s. Al-Hijr: 2 ( ِرﺎَﺼْﺑَ ْﻷا ﻲِﻟوُأ ﺎَﯾ اوُﺮِﺒَﺘْﻋﺎَﻓ )
70
Menurut al-Amidi, ayat ini pun menjadi landasan hukum adanya ijtihad, dimana ayat ini menyatakan perintah untuk mengambil pelajaran atas hal yang bersifat umum bagi orang-orang yang memiliki pengetahuan.113
ِﺮْﻣَﻷا ِﰲ ْﻢُﻫْرِوﺎَﺷَو
“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu” (Qs. Ali ‘Imran: 159)
Ayat ini menjelaskan bahwa adanya musyawarah berarti menunjukan penghukuman atas dasar ijtihad, bukan atas dasar penghukuman wahyu.114 Hal ini dilakukan jika tidak didapatkan kejelasan ayat tersurat yang qat}’iy dalam suatu permasalahan. Kemudian ayat yang menyatakan:
ًﺎﻤْﻠِﻋَو ًﺎﻤْﻜُﺣ ﺎَﻨْـﻴَـﺗآ ًّﻼُﻛَو َنﺎَﻤْﻴَﻠُﺳ ﺎَﻫﺎَﻨْﻤﱠﻬَﻔَـﻓ
“Maka Kami memberikan pengertian kepada Sulaiman (tentang hukum yang lebih tepat).” Dan kepada masing-masing Kami berikan hikmah dan ilmu.”(Qs. Al-Anbiyā: 79)
Dalam al-Risa>lah Imam al-Sha>fi’iy (150-204 H) mengatakan bahwa landasan dari ijtihad ini adalah:
َﺮْﻄَﺷ َﻚَﻬْﺟَو ِّلَﻮَـﻓ َﺖْﺟَﺮَﺧ ُﺚْﻴَﺣ ْﻦِﻣَو
ْاﻮﱡﻟَﻮَـﻓ ْﻢُﺘﻨُﻛ ﺎَﻣ ُﺚْﻴَﺣَو ِماَﺮَْﳊا ِﺪِﺠْﺴَﻤْﻟا
ُﻩَﺮْﻄَﺷ ْﻢُﻜَﻫﻮُﺟُو
“Dan dari manapun engkau (Muhammad) keluar,maka hadapkanlah wajahmu ke arah masjidil haram. Dan dimana saja engkau berada, maka hadapkanlah wajahmu ke arah itu.” (Qs. Al-Baqarah: 150)
113 Saifuddin Abu al-Hasan ‘Ali ibn Abi ibn Muhammad al-Amidi, al-Ih}kām, 201 114 Ibid,
71
Beliau menjelaskan bahwa ilmu yang menyatakan bahwa orang yang menghadapkan arahnya ke Masjidil haram dari orang yang meninggalkan rumahnya, menunjukan kebenaran adanya ijtihad untuk menghadapkan arah shalat ke Baitullah dengan petunjuk-petunjuknya, karena orang yang mukallaf waktu itu pada dasarnya tidak tahu apakah ia benar menghadap ke Masjidil Haram ataukah salah?.115
2. Hadith
Diantaranya pula yang berdasarkan hadits Rasulullah SAW. yang diriwayatkan dari Amr ibn al-‘A<s}:
.ﻲﻤﻴﻤﺘﻟا ﲕﳛ ﻦﺑ ﲕﳛ ﲏﺛﺪﺣ
ﷲ ﺪﺒﻋ ﻦﺑا ﺪﻳﺰﻳ ﻦﻋ ﺪﻤﳏ ﻦﺑ ﺰﻳﺰﻌﻟا ﺪﺒﻋ �ﱪﺧأ
ﱃﻮﻣ ﺲﻴﻗ ﰊأ ﻦﻋ ﺪﻴﻌﺳ ﻦﺑ ﺮﺴﺑ ﻦﻋ ﻢﻴﻫاﺮﺑإ ﻦﺑ ﺪﻤﳏ ﻦﻋ دﺎﳍا ﻦﺑ ﺔﻣﺎﺳأ ﻦﺑ
ﻢﻠﺳو ﻪﻴﻠﻋ ﷲ ﻰﻠﺻ ﷲ لﻮﺳر ﻊﲰ ﻪﻧأ :صﺎﻌﻟا ﻦﺑ وﺮﻤﻋ ﻦﻋ ,صﺎﻌﻟا ﻦﺑ وﺮﻤﻋ
ﺪﻬﺘﺟﺎﻓ ﻢﻛﺎﳊا ﻢﻜﺣ اذإ :لﺎﻗ
ﰒ ﺪﻬﺘﺟﺎﻓ ﻢﻛﺎﳊا ﻢﻜﺣ اذإو ناﺮﺟأ ﻪﻠﻓ بﺎﺻﺄﻓ
أ
ﺮﺟأ ﻪﻠﻓ ﺄﻄﺧ
“...Jika seorang hakim menghukumi sesuatu dan benar, maka ia mendapatkan dua pahala. Dan jika ia salah, ia mendapatkan satu pahala.”116
Kemudian hadits yang menjelaskan mengenai pengutusan Muadz ibn Jabal ke Yaman untuk menjadi hakim oleh Rasulullah SAW.,
ﻲﺧأ ﻦﺑ وﺮﻤﻋ ﻦﺑ ثرﺎﳊا ﻦﻋ نﻮﻋ ﰊأ ﻦﻋ ﺔﺒﻌﺷ ﻦﺑ ﺮﻤﻋ ﻦﺑ ﺺﻔﺣ ﺎﻨﺛﺪﺣ
لﻮﺳر نأ :ﻞﺒﺟ ﻦﺑ ذﺎﻌﻣ بﺎﺤﺻأ ﻦﻣ ﺺﲪ ﻞﻫأ ﻦﻣ س�أ ﻦﻋ ﺔﺒﻌﺷ ﻦﺑ ةﲑﻐﳌا
115 Muhammad ibn Idris al-Syāfi’ī, Al-Risālah, Tahqīq Ahmad Muhammad Syākir, (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t.th), 488.
116 Abu Husain Muslim ibn al-Hajjāj al-Qusyairī al-Naisābūrī,Shahih Muslim, jilid 2, 123. Lihat Wahbah Zuhaili, Ushūl al-Fiqh al-Islāmī, 1039
72
اذإ ﻲﻀﻘﺗ ﻒﻴﻛ :لﺎﻗ ﻦﻤﻴﻟا ﱃإ اذﺎﻌﻣ ﺚﻌﺒﻳ نأ دارأ ﺎﳌ ﻢﻠﺳو ﻪﻴﻠﻋ ﷲ ﻰﻠﺻ ﷲ
.ﷲ بﺎﺘﻜﺑ ﻲﻀﻗأ :لﺎﻗ ؟ءﺎﻀﻗ ﻚﻟ ضﺮﻋ
:لﺎﻗ ؟ﷲ بﺎﺘﻛ ﰲ ﺪﲡ ﱂ نﺈﻓ :لﺎﻗ
ﻰﻠﺻ ﷲ لﻮﺳر ﺔﻨﺳ ﰲ ﺪﲡ ﱂ نﺈﻓ :لﺎﻗ .ﻢﻠﺳو ﻪﻴﻠﻋ ﷲ ﻰﻠﺻ ﷲ لﻮﺳر ﺔﻨﺴﺒﻓ
بﺮﻀﻓ .ﻮﻟآ ﻻو ﻲﻳأﺮﺑ ﺪﻬﺘﺟأ :لﺎﻗ ؟ﷲ بﺎﺘﻛ ﰲ ﻻو ﻢﻠﺳو ﻪﻴﻠﻋ ﷲ
ﷲ لﻮﺳر
ﻰﺿﺮﻳ ﺎﳌ ﷲ لﻮﺳر ﻖﻓو يﺬﻟا ﻟﻠﻪ ﺪﻤﳊا :لﺎﻘﻓ .ﻩرﺪﺻ ﻢﻠﺳو ﻪﻴﻠﻋ ﷲ ﻰﻠﺻ
لﻮﺳر
ﷲ
“...Bahwa Rasūlullāh SAW. ketika hendak mengutus Mu’ādz ke Yaman bertanya: “ Dengan cara apa engkau menetapkan hukum seandainya diajukan kepadamu suatu perkara? Mu’ādz menjawab: Saya menetapkan hukum berdasarkan Kitab Allah (Al-Qur’ ān). Nabi bertanya lagi: “ Bila engkau tidak mendapatkan hukumnya dalam Kitab Allah? Jawab Mu’ ādz: Dengan Sunnah Rasūlullāh SAW. Bila engkau tidak menemukan dalam Sunnah Rasūlullāh SAW. dan Kitab Allah? Mu’ādz menjawab: Saya akan menggunakan ijtihād dengan nalar (ra’yu) saya. Nabi bersabda: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufik kepada utusan Rasūlullāh SAW. dengan apa yang diridhai Rasu>lulla>h.”
Landasan berijtihad juga dapat ditemukan dalam riwayat yang menceritakan dua sahabat yang telah berijtihad ketika keduanya mengadakan perjalanan, dimana ketika itu waktu shalat sudah datang, namun keduanya tidak menemukam air. Kemudian keduanya shalat (dengan bertayamum), tidak lama kemudian setelah keduanya selesai melakukan shalat, keduanya menemukan air. Maka salah seorang mengulangi shalatnya. Sedang yang satu lagi tidak mengulanginya. Ketika hal itu diadukan kepada Rasulullah, beliau membenarkan keduanya, seraya beliau berkata kepada orang yang tidak mengulangi shalatnya: “Engkau sesuai dengan sunnah, dan shalatmu mendapat pahala.” Sedangkan kepada yang mengulangi shalatnya, ia berkata: “Bagimu dua pahala.”
73
Kemudian ada taqri>r (sikap diam tanda setuju) Rasulullah SAW. kepada ‘Amr ibn ‘As} ketika ia shalat dalam salah satu sar’iyyah117 beserta sahabatnya. Dikatakan bahwa ‘Amr junub, tetapi ia tidak mandi, bahkan cuma tayammum saja karena malam itu sangat dingin. Maka hal itu diadukan kepada Rasulullah SAW., dan ‘Amr berargumen bahwa ia tidak mandi, tapi hanya tayammum karena ia teringat firman Allah Ta’ala
ًﺎﻤﻴِﺣَر ْﻢُﻜِﺑ َنﺎَﻛ َّﻟﻠﻪا ﱠنِإ ْﻢُﻜَﺴُﻔﻧَأ ْاﻮُﻠُـﺘْﻘَـﺗ َﻻَو
“Janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri, sesungguhnya Allah Maha Penyayang atas kalian.”118
Cara berijtihad ini diikuti pula oleh para sahabat dan generasi selanjutnya setelah Rasulullah SAW. wafat, sebagai ciri khas yang selaras dalam menyimpulkan suatu hukum syar’i yang ditetapkan di dalam Islam. Mereka senantiasa menggunakan ijtihad, jika tidak ditemukan suatu kejelasan hukum suatu masalah di dalam Al-Qur’a>n dan al-Sunnah. Hal ini sudah menjadi ijma’ para sahabat yang diikuti oleh segenap ‘Ulama Islam dalam berbagai madzhab.
Umat Islam dengan berbagai madzhabnya telah sepakat (ijma’) atas adanya syari’at ijtihad dan mengaplikasikannya. Dan hasilnya terjadinya perkembangan dalam bidang fikih. Begitupun akal mewajibkan adanya ijtihad, karena kebanyakan dalil-dalil hukum syara’ dalam bentuk aplikatif
117 Sariyyah adalah perang yang tidak diikuti oleh Rasulullah SAW. Sebaliknya perang yang diikutii Rasulullah SAW disebut dengan Ghazwah
74
praktis (amal) bersifat zhannī yang memungkinkan dipahami dengan
beberapa pemahaman. Oleh karena itu diperlukan ijtihad untuk menentukan pendapat yang terkuat. Begitu juga permasalahan yang tidak ada kejelasan nas} tersurat, memerlukan ijtihad untuk menjelaskan hukum syari’at dalam masalah tersebut. Oleh karena ijtihad itu disyari’atkan, maka kedudukan ijtihad ini pula sangat penting untuk diperhatikan. Syeikh Yusuf al-Qaradhawi menghukumi ijtihad dengan fardhu kifayah.119 Ia beralasan bahwa ijtihad itu untuk kepentingan agama dan dunia, sebagaimana ilmu hisab, kedokteran, dan lainnya, yang hukumnya fardhu kifayah. Beliau juga mengutip Syaukani dan Syahrastani dalam
al-Milal wa al-Nihal yang menyatakan bahwa hukum ijtihad adalah fardhu
kifayah.120
119 Fardhu kifayah artinya kewajiban apabila telah ada yang melakukannya, maka kedudukan wajibnya gugur atau kewajiban yang hanya dibebankan kepada sebagian orang saja, bukan muslim seluruhnya.
120 Yusuf al-Qarādhāwī, al-Ijtihād fī al-Syarī’ah al-Islāmiyyah ma’a Nazharāt Tahlīliyyah fī
al-Ijtihād al-Mu’āshir, (Kuwait: Dār al-Qalam, al-Thab’ah al-Ūlā, 1996), 78-79. Selanjutnya
75