• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ket ut Wiradnyana

3. Hasil dan Bahasan

3.3. Alat Litik Loyang Mendale dan Budaya Hoabinh

Alat Litik yang ditemukan pada singkapan tebing di situs Loyang Mendale, sebuah di antaranya berfungsi sebagai kapak genggam dengan bentuk agak bulat. Sebuah yang lainnya merupakan kapak penetak yang mungkin berkaitan dengan aktivitas pembuatan alat litik dan sekaligus sebagai kapak batu untuk memotong kayu atau mencangkul tanah untuk mendapatkan umbi-umbian. Alat litik yang lainnya merupakan perkutor yang difungsikan sebagai pemukul dan sekaligus sebagai alat untuk menghaluskan bahan makanan di antaranya. Keberadaan kapak penetak dan perkutor pada temuan singkapan ini merupakan model produk yang kerap ditemukan pada situs-situs berbudaya hoabinh, selain itu juga kerap ditemukan alat litik lainnya berupa serpih (Forestier, 2007: 47).

Alat litik di situs bukit kerang Sukajadi berbentuk agak lonjong yang berfungsi sebagai kapak genggam diantaranya mengindikasikan fungsinya untuk keperluan memotong kayu ataupun mencangkul tanah guna mendapatkan bahan pangan seperti umbi-umbian. Alat litik di situs Gua Kampret juga mengindikasikan fungsinya sebagai kapak genggam untuk keperluan

memotong kayu ataupun memotong tulang binatang buruan dan dapat juga difungsikan untuk mencangkul tanah guna mendapatkan bahan pangan seperti umbi-umbian.

Secara morfologi sebuah alat litik yang ditemukan di situs Loyang Mendale dengan alat litik yang terdapat di situs bukit kerang Sukajadi dan di situs Gua Kampret memiliki persamaan, serta yang paling menonjol adalah adanya pangkasan lebar pada bagian ventral dari alat litik tersebut. Alat litik yang ditemukan di situs-situs berbudaya hoabinh di luar Indonesia kerap dimasukkan dalam teknologi mesolitik. Begitu juga dengan teknologi ketiga alat litik dimaksud dapat dimasukkan dalam babakan teknologi mesolitik, mengingat peralatan litiknya telah mengalami pengerjaan kembali, baik itu berupa pemangkasan lanjutan dan juga peretusan

setelah dilakukan pemangkasan awal terhadap batu inti12 ataupun kerakal. Aspek teknologi

dalam pengerjaan alat litik di situs Sukajadi, Gua Kampret dan Loyang Mendale tidak sederhana seperti teknologi alat litik pada masa paleolitik, yang hanya dipangkas seadanya tanpa pengerjaan lanjutan. Begitu juga alat litik di ketiga situs dimaksud teknologinya tidaklah setara dengan teknologi peralatan masa neolitik mengingat alat litik itu belum diupam seperti hasil budaya neolitik berupa kapak lonjong dan persegi.

Tahapan pengerjaan yang merupakan bagian dari teknologi pembuatan alat litik tersebut memiliki kesamaan yaitu penyiapan batuan kerakal yang lonjong atau agak membulat. Kemudian disiapkan dataran pukulnya yang datar dan relatif kecil, baik itu pada bagian lateral kiri (alat litik di Loyang Mendale dan bukit kerang Sukajadi) atau pada bagian proksimal (alat litik Gua Kampret). Setelah itu, dilakukan pemangkasan dari arah lateral kiri ke arah lateral kanan (alat litik di Loyang Mendale dan bukit kerang Sukajadi) atau dari arah proksimal ke arah distal (alat batu Gua Kampret) dengan pangkasan yang lebar dan melandai (proses ini

untuk mendapatkan support). Kemudian alat litik tersebut diretus hampir di seluruh sisinya

untuk mendapatkan tajaman. Arah peretusan alat-alat litik dimaksud cenderung berlawanan dengan arah pangkasan yang melebar tersebut. Setelah itu dilakukan pemangkasan pada bagian dorsalnya dari sisi lateral ke tengah dorsal yang bertujuan sebagai tempat meletakkan jari (memudahkan penggenggaman). Untuk alat litik di Gua Kampret, pemangkasan pada bagian dorsal difungsikan untuk mendapatkan tajaman yang diinginkan (bifasial).

Jadi persamaan tahapan pembuatan alat litik dimaksud, yaitu penyiapan bahan baku berupa kerakal, penyiapan dataran pukul yang datar dan kecil, pemangkasan yang melebar pada bagian ventral, adanya pengerjaan pemangksan lanjutan pada bagian ventral alat litik dan sebuah pangkasan pada bagian dorsal. Kesamaan tahapan dimaksud merupakan rangkaian

12

Batu inti, istilah untuk menggambarkan bongkahan bahan baku, sebagai bahan dasar pembuatan alat litik seperti serpih dan bilah untuk kemudian diubah menjadi alat dengan meretus tepinya

Indikasi Budaya Hoabinh pada Alat litik… (Ketut Wiradnyana) 7 9

operasional yang sifatnya teratur untuk mendapatkan support. Kemudian dilanjutkan dengan

pemangkasan ataupun peretusan sebagai upaya untuk mendapatkan alat dengan tajaman yang diinginkan.

Rangkaian operasional dimaksud merupakan perilaku masyarakat dalam membuat alat litik yang telah tertanam sebagai sebuah konsep dalam pikiran. Konsep dalam pikiran dan perilaku dimaksud memiliki kesamaan antara ketiga situs tersebut. Konsep yang ada dalam pikiran itu, yang dituangkan sebagai tahapan-tahapan dalam pembuatan alat litik itulah yang

disebut dengan kebudayaan (culture system dan social system). Sebagai sebuah

kebudayaan, konsep dan perilaku itu berlaku bagi seluruh masyarakatnya. Konsep dan tahapan pengerjaan itu merupakan sebuah ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan salah satu teknik pembuatan alat litik yang sifatnya teratur dalam menghasilkan alat litik dan sekaligus sifatnya sebagai pengatur karena rangkaian tahapan merupakan metodelogis dalam pembuatan alat litik.

Angka 1,2 dan 3 merupakan tahapan pengerjaan dalam pembuatan alat litik di situs budaya hoabinh dataran rendah dan tinggi

Adapun perbedaan dari ketiga alat batu tersebut cenderung dari bentuknya yang agak membulat (alat litik di Loyang Mendale) dan alat batu yang ditemukan di Gua Kampret memiliki ukuran yang lebih besar dengan tajaman yang lebih landai dibandingkan yang ditemukan di situs bukit kerang Sukajadi, Hinai ataupun di situs Loyang Mendale. Tajaman alat litik di Sukajadi dan Loyang Mendale berkarakter monofasial sedangkan yang di Gua Kampret berkarakter bifasial. Selain itu fungsi pangkasan pada bagian dorsal alat litik tersebut berbeda. Pangkasan pada dorsal alat litik di situs bukit kerang Sukajadi dan Loyang Mendale difungsikan dalam upaya memudahkan penggunaannya, sedangkan pangkasan bagian dorsal alat litik di situs Loyang Mendale untuk mendapatkan tajaman bifasial.

Perbedaan morfologi yang tidak begitu tajam antara alat litik yang ditemukan di situs bukit kerang Sukajadi dengan alat litik yang ditemukan di situs Gua Kampret, diasumsikan karena dalam sifat rangkaian operasional pembuatan alat litik tersebut mengindikasikan budaya yang serupa yaitu tatanan budaya hoabinh. Adanya perbedaan morfologi yang tidak begitu tajam tersebut kemungkinan juga diakibatkan oleh kondisi lingkungan yang berbeda sekalipun kedua situs itu terletak pada DAS yang sama yaitu DAS Wampu. Situs Sukajadi tergolong situs di pesisir pantai dan situs Gua Kampret berada di pegunungan. Kondisi areal hunian yang berbeda menjadikan perbedaan ukuran peralatan sekalipun teknologi dan morfologi, serta tahapan pengerjaan dalam pembuatan alat memiliki kesamaan. Perubahan morfologi alat litik merupakan sesuatu yang wajar, seperti yang diungkapkan oleh Peter Bellwood (2000) bahwa amatlah wajar jika alat-alat budaya hoabinh di daratan berubah secara bertahap menjadi berbagai bentuk alat litik yang agak berbeda di kepulauan, dan mungkin sekali Sumatera dan Filipina merupakan kawasan tempat itu terjadi (Bellwood, 2000: 225). Kondisi ini sangat mungkin karena upaya adaptasi masyarakat masa itu dengan lingkungannya, sehingga berbagai budaya materi mengalami penyesuaian dari morfologi awal pada dataran rendah ke morfologi baru di dataran tinggi.

Kondisi tersebut juga memungkinkan morfologi peralatan batu budaya hoabinh yang di Sumatera Utara dengan di Aceh Tengah mengalami sedikit perbedaan, atau juga menjadikan perbedaan morfologi antara peralatan pesisir pantai dengan pegunungan di wilayah Sumatera Utara. Perbedaan dimaksud yaitu hanya pada bagian morfologi semata, yaitu morfologi alat litik di Loyang Mendale lebih bulat dibandingkan dengan alat litik di situs budaya hoabinh di Sumatera Utara. Hal tersebut hanya kalau dilihat dari kasus temuan alat batu pada singkapan situs Loyang Mendale dengan tahapan pembuatan alat litik yang sama. Perbedaan bentuk dimaksud dapat diabaikan, sebagai sebuah kasus khusus yang diakibatkan oleh perbedaan wilayah dan keterbatasan bahan. Perbedaan tersebut bukan merupakan sesuatu yang keluar dari tatanan konsep pada aspek budayanya.

Lingkungan yang berbeda menjadikan cara hidup yang sedikit mengalami perubahan. Masyarakat peramu dan pemburu yang berada di pesisir pantai dengan peramu dan pemburu yang berada di pegunungan tentu memerlukan peralatan litik untuk hidupnya yang disesuaikan dengan kebutuhan dan juga bahan baku yang tersedia. Berbagai peralatan berburu yang berukuran besar tentu fungsinya cenderung berkaitan dengan keperluan yang dipergunakan terhadap objek relatif besar. Di pegunungan memerlukan peralatan yang relatif besar mengingat ketersediaan bahan dan intensitas perburuan pada binatang hutan yang lebih besar, dibandingkan dengan peramu di pesisir pantai yang cenderung mengumpulkan

Indikasi Budaya Hoabinh pada Alat litik… (Ketut Wiradnyana) 8 1 bahan pangan berupa moluska. Tajaman alat batu di pegunungan yang lebih lebar dan landai

serta berkarakter bifasial. Tajaman khusus tersebut merupakan ciri dari peralatan litik yang

lebih mendukung aktivitas para pemburu dibandingkan dengan para peramu.

Kondisi lingkungan dan ketersedian bahan baku alat litik sangat jelas mempengaruhi morfologi dari sebuah alat litik. Sebagai sebuah budaya yang melekat dalam pikiran pendukungnya, maka pembuatan sebuah alat litik tentu telah melalui berbagai tahapan waktu serta teknologi sehingga konsep akan sebuah alat litik telah menjadi baku. Pembakuan tidak selalu sama, mengingat dalam proses adaptasi di setiap wilayah berbeda-beda (tergantung kelompok dan karakter wilayah). Namun secara umum dapat dikatakan bahwa tahapan dasar pembuatan sebuah alat litik merupakan konsep budaya yang melekat dalam pikiran. Begitu juga dalam budaya hoabinh, tahapan konsep pengerjaan alat litik telah melekat pada pikiran pendukungnya, sehingga menjadi baku, sekalipun telah mengalami penyesuaian di lingkungan yang berbeda. Dari perbandingan morfologi ketiga alat litik dimaksud, secara umum dapat diidentikan morfologi alat litik di ketiga situs itu menyerupai

alat litik tipe tapak kuda (horsehoof). Tipe alat litik ini dicirikan dengan bagian ventralnya

memiliki bidang yang cenderung lebar, yang dihasilkan dari pangkasan awal.

Dalam kajian ini penyesuaian tahapan pengerjaan dalam pembuatan alat litik tidak berubah secara tegas sehingga secara teknologis dapat dianggap sama antara budaya yang berkembang di situs budaya hoabinh pesisir dan pegunungan dengan situs Loyang Mendale. Berkenaan dengan kondisi tersebut diasumsikan budaya mesolitik yang berkembang di Loyang Mendale memiliki persamaan dengan budaya hoabinh. Hal tersebut diperkuat dengan temuan ekskavasi berupa alat serpih di situs Loyang Mendale yang berbahan

cangkang moluska dari famili Arcticidae yang merupakan moluska air payau. Moluska banyak

ditemukan di situs-situs budaya hoabinh dan merupakan salah satu bahan pangan masyarakat pendukung budaya itu serta sebagian diantaranya juga digunakan sebagai alat serpih.

4.

Penutup

Alat litik temuan singkapan pada tebing di situs Loyang Mendale memiliki teknologi yang setarap dengan teknologi budaya hoabinh yang ditemukan di pesisir timur Pulau Sumatera. Pembuatan alat litik di situs-situs dimaksud memiliki teknik berupa tahapan pengerjaan yang sama. Tahapan pembuatan alat litik merupakan konsep budaya (teknologi) yang melekat

memiliki kesamaan sekalipun masih terdapat perbedaan yang tidak begitu menonjol. Dalam aspek teknologi alat litik itu disejajarkan dengan periodisasi mesolitik.

Dalam aspek morfologi, alat litik yang ditemukan pada singkapan di Loyang Mendale memiliki persamaan dengan salah satu alat litik yang ditemukan pada situs budaya hoabinh di pesisir timur Pulau Sumatera dan juga di situs Gua Kampret. Hanya saja bentuk dasar alat litik di situs budaya hoabinh ataupun di Gua Kampret lebih lonjong. Perbedaan tersebut diakibatkan oleh adaptasi manusia dengan budayanya serta ketersediaan bahan di lokasi hunian.

Dilihat dari aspek morfologi, tahapan pengerjaan dalam pembuatan alat litik (teknologi) dan pengaruh adaptasi serta ketersediaan bahan maka dapat dikatakan budaya yang berkembang pada masa mesolitik di situs Loyang Mendale memiliki kesesuaian dengan budaya hoabinh di situs bukit kerang Sukajadi dan Gua Kampret. Hal ini diperkuat juga

dengan temuan alat serpih berbahan moluska famili Arcticidae di situs Loyang Mendale yang

merupakan moluska air payau, yang merupakan bahan pangan dan juga digunakan sebagai alat serpih pada budaya hoabinh.

Kepustakaan

Bellwood, Peter. 2000. Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia.Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama Budianto. 1977. Geologi Daerah Sukajadi, Payarengas dan Kampung Baru Kecamatan Hinai

Kabupaten Langkat. Sumatera Utara(tidak diterbitkan)

Forestier, Hubert. 2007. Ribuan Gunung, Ribuan Alat Batu; Prasejarah Song Keplek, Gunung Sewu, Jawa Timur. Jakarta: Gramedia

Haviland, William. A. 1988. Antropologi Jilid II. Jakarta: Erlangga

Koentjaraningrat. 1987. Sejarah Teori Antropologi I.Jakarta: Universitas Indonesia Koentjaraningrat. 1990. Sejarah Teori Antropologi II.Jakarta: Universitas Indonesia

Saifuddin, Achmad Fedyani. 2005. Antropologi Kontemporer, Suatu Pengatar Kritis Mengenai Paradigma. Jakarta: Prenada Media

Wiradnyana, K., & Taufiqurahman S. 2010. Laporan Penelitian Arkeologis, Ekskavasi Gua-Gua di Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Medan: Balai Arkeologi Medan(belum diterbitkan)

Wiradnyana, K. 2010. Laporan Penelitian Arkeologi, Ekskavasi Bukit Kerang Pangkalan, Kec. Kejuruan Muda, Kab. Aceh Tamiang, Prov. NAD. Medan: Balar Medan (belum diterbitkan)

Dapur Gambir Di Kebun Lama Cina,