• Tidak ada hasil yang ditemukan

Taufiqurrahman Set iawan

3. Sisa Manusia Di Gua-Gua Takengon

Sisa manusia yang pertama kali dijumpai di Situs Loyang Mendali pada tahun 2009 dan kemudian diketahui lebih lanjut pada penelitian 2010, di kotak U2T1 di bagian barat situs dan berada pada bagian dekat dinding gua di kedalaman 60 cm dari permukaan lantai gua sekarang. Kondisi individu berada di bawah dua buah batu besar yang berada pada bagian

atas tulang pelvis dan dada. Sampai saat ini bagian kerangka yang sudah tampak dan dapat

teridentifikasi adalah tulang pelvis, tulang paha (femur), tulang kaki (tibia dan fibula), dan

tulang lengan (humerus) bagian kiri. Orientasi kerangka ini adalah timur-barat dengan kaki

terlipat ke arah kiri. Tulang-tulang kaki ini masih relatif utuh dan belum tertransformasi posisinya. Masih minimnya data yang tampak belum memungkinkan adanya proses identifikasi lebih lanjut terhadap temuan kerangka ini (lihat foto 3).

Temuan kerangka ini berada di bawah dua buah batu besar yang sengaja diletakkan di atas individu untuk menjaga individu diganggu oleh binatang buas. Temuan kerangka ini berada di bawah lapisan fragmen tulang binatang terbakar, fragmen tulang tersementasi gamping, dan juga abu pembakaran. Selain itu, di sekitar kerangka ini juga ditemukan fragmen gerabah putih yang tipis berpoles merah dan juga fragmen gerabah berwarna hitam. Kemungkinan gerabah tersebut merupakan bagian dari gerabah yang dijadikan bekal kubur dari individu yang dikuburkan.

Foto 3. Temuan Kerangka Manusia Yang Ditemukan di Loyang Mendali (Dok. Balai Arkeologi Medan,2010)

Sisa manusia kedua ditemukan di Situs Loyang Ujung Karang pada kotak ekskavasi S2T2 yang berada di dekat dinding timur dan pintu masuk dan ditemukan pada kedalaman 60 cm dari permukaan tanah sekarang Kondisi kerangka masih relatif utuh, sebagian besar anatomi

tubuhnya masih dapat diidentifikasi dan intake2.

Individu dimakamkan pada posisi terlentang dengan kepala di bagian timur, kedua kaki terlipat ke arah kanan dan berada di bagian barat. Kedua tangan relatif lurus ke bawah dengan telapak tangan berada di samping badan. Tulang tangan kanan individu ini menyatu dengan tulang-tulang kaki kanan (lihat foto 4).

Tengkorak ditemukan masih dalam kondisi utuh lengkap dengan bentuk bulat tanpa tonjolan di

bagian belakang dan bagian kening (frontal)

membulat. Pada tengkorak ini masih melekat gigi

yang besar dan rahang bawah (mandible) masih

melekat pada bagian jaw point. Pada bagian atas tengkorak ini antara bagian parietal dan

frontal tersusun rapat dan telah terdapat sutura lines seperti pada bagian tengkorak orang dewasa.

Gigi geligi pada individu ini masih relatif utuh dan lengkap. Gigi tersebut tersusun seperti

pada individu dewasa, delapan gigi seri (incisor), empat gigi taring (canine), delapan gigi

geraham depan (premolar), dan delapan gigi geraham (molar). Gigi geraham bungsu

(molar 3) dapat teridentifikasi pada bagian rahang atas kanan, walaupun tidak terlalu tampak karena masih tertutup tanah yang berada di rongga mulut.

Tulang tangan (humerus, ulna, dan radius) masih tersusun pada posisinya dan memanjang

lurus di bagian kiri dan kanan badan. Tulang radius bagian kanan kiri telah patah karena

proses alamiah yang terjadi. Bagian tulang ulna masih relatif utuh dan sebagian masih belum

terihat karena masih tertutup tanah. Tulang telapak tangan (metacarpal dan phalanx) kanan

2

Intake merupakan istilah dalam arkeologi untuk menyebutkan posisi temuan yang belum mengalami perubahan posisi atau masih sama dengan posisi asalnya.

Foto 4. Temuan Kerangka Manusia yang ditemukan di Loyang Ujung Karang

dan kiri sudah tidah utuh dan sebagian lain mungkin masih berada di bagian yang masih tertutup oleh tanah.

Tulang rusuk (costae) masih melekat pada bagian tulang belakang (vertebrae). Bagian tulang

rusuk ini tidak semuanya dapat terlihat karena masih tertutup oleh fitur bagian alas gerabah yang kemungkinan merupakan bekal kubur si individu yang diletakkan di atas bagian dadanya. Namun secara keseluruhan, bagian tulang rusuk ini masih pada kondisi utuh pada bagian kanan, sedangkan yang di bagian kiri sebagian besar telah patah/tidak utuh.

Bagian pelvis kerangka ini masih relatif utuh, hanya pada bagian pubis-nya telah patah.

Pelvis ini teridentifikasi berbentuk lebar dengan rongga pelvis yang relatif besar dan tulang

ekor memanjang. Ciri-ciri morfologis tersebut menunjukkan bahwa individu yang dikuburkan

tersebut memiliki jenis kelamin wanita. Pada tulang pelvis ini juga masih menempel pangkal

tulang paha (femur) pada bagian kiri dan kanannya. Tulang kaki (tibia dan fibula) masih utuh

dan masih belum mengalami transformasi posisi. Tulang kaki (tibia dan fibula) berada di

bagian bawah dari tulang paha (femur), menunjukkan posisi terlipatnya kaki si individu ketika

dikuburkan ke arah kanan. Tulang lutut (patela) masih ditemukan pada kedua kakinya pada

saat kerangka ini ditemukan. Bagian tulang telapak kaki (metatarsal) kemungkinan masih

bisa ditemukan karena masih berada di dalam tanah dan berda di bawah pelvis sebelah

kanan.

Identifikasi lanjutan yang penulis dengan Ume Prihono3 terhadap bagian tengkorak pada

individu yang ditemukan di Loyang Ujung Karang menunjukkan adanya bukti-bukti bahwa

individu ini berjenis kelamin wanita. Hal tersebut dibuktikan dengan bentuk gigi seri (incisor)

yang membulat dan juga wajah yang bulat.4 Selain itu, dari gigi-geligi yang ditemukan juga

menunjukkan bahwa susunan gigi pada tengkorak tersebut menunjukkan jenis tautan klas II

Kennedy5. Dengan tautan gigi tersebut maka rahang bawah individu menjadi lebih ke belakang sehingga antara rahang atas dan bawahnya tidak dapat menyatu dengan rata. Gigi geraham bungsu (molar 3) telah terlihat pada tengkorak ini menunjukkan bahwa individu ini adalah telah dewasa dan berumur di atas 21 tahun. Rahang bawah tengkorak yang tidak terlalu lebar dan memiliki gigi yang besar memberikan gambaran bahwa individu ini berasal dari ras Mongoloid. Identifikasi tersebut diperkuat dengan hasil pengukuran langsung

3

Ume Prihono adalah seorang Sarjana Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara. Identifikasi berlangsung di Balai Arkeologi Medan pada tanggal 25 Januari 2010 dengan berdasarkan data foto dokumentasi penulis pada ekskavasi tahun 2010.

4 Gigi individu laki-laki pada umumnya tidak berbentuk membulat namun lebih panjang dan lebih lonjong

5 Salah satu jenis tautan gigi antara rahang atas dan rahang bawah yang tidak sejajar. Pada tautan gigi ini gigi di rahang bawah berada lebih dibelakang daripada gigi pada rahang atasnya, sehingga bagian lengkung positif gigi molar atas berada pada bagian lengkung negatif gigi molar bawahnya.

terhadap kerangka di lapangan yang menunjukkan tinggi badan yang biasa ditemukan pada ras tersebut, yaitu antara 150--160 cm.

4. Sistem penguburan prasejarah masyarakat mendukung gua hunian di