• Tidak ada hasil yang ditemukan

Deskripsi Dan Kandungan Arkeologis Gua-Gua Prasejarah Di Takengon

Taufiqurrahman Set iawan

2. Deskripsi Dan Kandungan Arkeologis Gua-Gua Prasejarah Di Takengon

a) Loyang Mendali

Situs Loyang Mendali ini berada di Kecamatan Kebayakan dan terletak pada 4° 38’ 37.2” LU dan 96° 52’ 01.7” BT. Loyang Mendali ini berada pada salah satu bukit yang berjarak + 200 meter dari danau dengan beda tinggi 12 meter dan terdiri dari empat buah ceruk yang berderet tenggara-baratlaut. Dari empat buah ceruk tersebut, hanya satu ceruk yang kondisinya relatif tidak terganggu, tiga ceruk yang lain telah mengalami kerusakan karena aktivitas pengerukan tanah untuk penimbunan jalan dengan memanfaatkan tanah dari lingkungan gua dan ceruk.

Lokasi gua sangat dekat dengan danau, dengan kemiringan lahan di depan gua relatif terjal sehingga aksebilitas ke lingkungan sekitarnya masih relatif mudah. Lantai gua miring di bagian baratlaut dan rata di bagian tenggara. Pada lantai gua kondisi tanah relatif kering

dengan sedimen relatif tebal di beberapa tempat. Sirkulasi udara di dalam gua dan pencahayaan baik sehingga cukup bagus sebagai lokasi hunian.

Ekskavasi yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Medan tahun 2009 di Loyang Mendali bertujuan untuk membuktikan lebih lanjut adanya pemanfaatan gua tersebut sebagai hunian pada masa lampau. Untuk itu, ekskavasi dilakukan dengan menempatkan empat buah kotak ekskavasi pada lokasi yang berbeda, yaitu U2T1, T3S1, T8S2, dan T15S6 (lihat gambar 1). Kotak-kotak ekskavasi tersebut terletak pada lokasi-lokasi yang kemungkinan dapat memberikan gambaran tentang pola tata ruang gua. Pada ekskavasi tahap II yang dilakukan pada tahun 2010, kotak U2T1 dan T15S6 dibuka kembali untuk mengetahui data lebih lanjut pada kedua kotak ini. Selain itu, dibuka juga dua buah kotak ekstensi U2T1, yaitu U2T1 Ext. I dan U2T1 Ext. II, untuk mengetahui lebih lanjut tentang temuan tulang manusia yang berada di bawah batu yang ditemukan pada tahun 2009.

Kotak U2T1 merupakan kotak ekskavasi yang berada di bagian paling atas di mulut gua bagian baratlaut. Lantai gua pada bagian ini sangat sempit dan sangat kecil karena atap gua hanya setinggi 150 cm dari lantai gua. Cahaya matahari yang masuk pada bagian ini relatif sedikit karena dimensi ruangannya yang relatif sempit. Pada kotak ini temuan yang banyak ditemukan adalah fragmen tulang binatang serta fragmen tulang terbakar. Beberapa temuan lain yang ditemukan pada kotak ini adalah fragmen gigi, serta fragmen tembikar berwarna putih dan pada beberapa bagian berslip merah. Pada kotak ekskavasi ini juga ditemukan bagian dari kerangka manusia yang berasosiasi dengan temuan batu alam yang diletakkan di atas kerangka tersebut. Lapisan stratigrafi pada kotak ini terdiri atas empat lapisan dengan lapisan terbawahnya adalah lapisan lempung, yang kemungkinan merupakan sedimen awal penyusun lantai gua.

Di bagian tenggara ceruk ini, satu kotak ekskavasi dijadikan sampel untuk mengetahui pemanfaatan bagian tersebut. Kotak ekskavasi tersebut adalah kotak T15S6. Permukaan lantai gua pada bagian ini relatif datar dan kering dan ruangan relatif luas, cahaya matahari dan sirkulasi udara pada bagian ini sangat baik. Pada kotak ini ditemukan artefak batu, beliung persegi serta calon beliung. Temuan lain yang mendominasi adalah fragmen tembikar polos, fragmen tembikar berhias, dan fragmen keramik. Temuan tersebut kebanyakan ditemukan pada lapisan tanah bagian atas hingga kedalaman 40 cm. Selain itu, terdapat juga temuan fragmen tulang binatang, fragmen tanduk, serta fragmen cangkang kerang. Lapisan stratigrafi pada kotak ini terdiri atas empat lapisan dengan lapisan lempung sebagai dasar lantai gua.

Dari hasil ekskavasi di Loyang Mendali ini, temuan arkeologis yang diperoleh dapat diklasifikasikan dalam dua kelompok yaitu artefak dan ekofak. Temuan artefaktual yang didapatkan dari ekskavasi ini terdiri atas artefak batu, artefak cangkang kerang, tembikar, dan keramik. Temuan ekofaktual didominasi oleh fragmen tulang binatang serta fragmen cangkang kerang non-marin dan marin. Selain temuan tersebut, dari ekskavasi juga didapatkan temuan kerangka manusia sebagai bukti adanya pemanfaatan ruangan gua sebagai tempat aktivitas penguburan.

Dari hasil ekskavasi yang telah dilakukan maka Loyang Mendali ini merupakan salah satu situs masa mesolitik akhir--neolitik. Hal itu ditandai dengan adanya temuan beliung persegi serta gerabah yang merupakan salah satu ciri utama budaya periodisasi tersebut. Adanya temuan keramik Cina memberikan bukti bahwa adanya pemanfaatan ulang ceruk ini sebagai lokasi hunian/persinggahan pada masa kolonial dan juga masa kini.

Secara umum, stratigrafi tanah di Situs Loyang Mendali terdiri atas lima buah lapisan yaitu: 1. Lapisan humus

2. Lapisan pasir kasar cokelat tua

3. Lapisan pasir halus bercampur arang pembakaran 4. Lapisan pasir halus cokelat kekuningan

5. Lapisan pasir kasar cokelat kehitaman

Foto 1. Situs Loyang Mendali (Dok. Balai Arkeologi Medan,2010) Gambar 1. Denah Situasi dan Grid Ekskavasi Situs Loyang Mendali (Gambar: Pesta Siahaan; Modifikasi: Taufiqurrahman Setiawan, 2010) b) Loyang Ujung Karang

Situs Loyang Ujung Karang berada sekitar 1,3 Km ke arah barat dari Loyang Mendali dan masuk dalam wilayah administratif Dusun Blok, Kampung Jongong Meulem, Kecamatan

Kebayakan. Secara astronomis situs ini terletak pada koordinat. 4˚ 38’ 43.5” LU dan 96˚ 51’

20.5” BT. Seperti halnya Loyang Mendali, situs gua Loyang Ujung Karang berada di kaki bukit dengan ketinggian 5 meter dari tanah sawah yang ada di depannya. Loyang yang menghadap ke baratlaut (200°) ini berjarak sekitar 200 meter dari jalan desa Blok Ayangan dan berjarak +1 Km dari Danau Laut Tawar.

Ceruk ini memiliki lebar 16 meter dan kedalaman 8 meter dan tinggi mulut gua 3 meter. Ceruk ini memiliki kondisi lantainya kering dan relatif datar, sedikit meninggi di bagian barat dengan sedimen tanah yang relatif tebal. Di depan mulut gua terdapat bongkahan batu yang kemungkinan merupakan runtuhan atap gua. Sirkulasi udara dan pencahayaan pada gua ini cukup baik sehingga lokasi ini sangat nyaman untuk dijadikan lokasi hunian.

Ekskavasi pada situs ini dilakukan pada satu buah kotak yang berada di bagian timur gua, dekat dengan dinding gua dan dekat dengan dinding kotak S2T2. Kotak ini dipilih untuk mengetahui pola tata guna ruang terutama di bagian yang dekat dengan pintu masuk ceruk ini. Pada kotak ini ditemukan adanya beberapa temuan arkeologis antara lain fragmen tulang, artefak batu, fragmen gerabah, dan kerangka manusia pada kedalaman 60 cm.

Secara umum, lapisan stratigrafi tanah pada Situs Loyang Ujung Karang terdiri atas lima lapisan, yaitu:

1. Lapisan humus 2. Lapisan cokelat padat 3. Lapisan lempung 4. Lapisan pasir abu-abu

5. Lapisan tanah urukan penguburan

Foto 2. Situs Loyang Ujung Karang (Dok. Balai Arkeologi Medan,2010) Gambar 2. Denah Situasi dan dan Grid Ekskavasi Situs Loyang Ujung Karang

(Gambar: Pesta Siahaan; Modifikasi: Taufiqurrahman Setiawan, 2010)