Taufiqurrahman Set iawan
Soejono (1977) mengemukakan bahwa pemanfaatan gua sebagai tempat penguburan
Soejono (1977) mengemukakan bahwa pemanfaatan gua sebagai tempat penguburan menunjukkan adanya kecenderungan memilih bagian-bagian atau ruang-ruang yang lebih terisolasi dan jarang digunakan, yaitu yang dekat dinding gua atau bagian paling belakang. Penguburan dalam gua pada umumnya posisi rangka terlipat menunjukkan adanya perlakuan khusus terhadap si mati. Sebagian ahli menganggap posisi rangka terlipat ini sebagai posisi tiruan kondisi bayi yang berada dalam rahim ibu, yang melambangkan suatu kelahiran kembali pada kehidupan sesudah mati. Sebagian lainnya mendasarkan pada alasan praktis, yaitu untuk mengatasi tempat penguburan yang sempit.
Berkenaan dengan hal di atas, terdapat salah satu hal yang menarik data sisa manusia yang didapatkan di Loyang Ujung Karang dan Loyang Mendali. Kerangka yang ditemukan di Loyang Ujung Karang tersebut dimakamkan pada lokasi yang sangat baik untuk beraktivitas
dan di daerah pintu masuk gua6. Hal tersebut juga pernah ditemukan pada Gua Braholo,
yang menempatkan individu di bagian tengah gua yang biasa digunakan sebagai lokasi beraktivitas. Konsep tersebut sangat erat hubungannya dengan adanya religi masyarakat tentang keinginan selalu dekat dengan leluhurnya. Namun demikian, bukti aktivitas yang cukup intensif tidak ditemukan di lapisan atas dari lokasi individu dikuburkan di lokasi ini.
Bukti adanya pemanfaatan ruang di atas penguburan sebagai lokasi aktivitas yang intensif ditemukan di Loyang Mendali. Di atas batu yang menutupi individu yang ditemukan di lokasi ini ditemukan banyak ekofak tulang terbakar, abu pembakaran, dan juga sisa-sisa tanah memerah karena digunakan sebagai lokasi pembakaran. Hal itu memberikan petunjuk gambaran akan adanya konsep religi yang tersebut di atas, yaitu keinginan untuk tetap dekat dengan leluhur.
6
Berdasarkan informasi yang didapatkan dari masyarakat setempat bahwa bagian atap mulut gua ini telah runtuh dan sehingga bagian yang kini menjadi bagian depan tersebut awalnya merupakan bagian dalam dari ceruk ini
Foto 6. Penguburan Terlipat di Gua Pawon, Jawa Barat (Sumber: http://anisavitri.wordpress.com)
Sistem penguburan pada kedua kerangka yang ditemukan di Loyang Mendali dan Loyang Ujung Karang adalah penguburan primer terlipat dan tanpa wadah. Asumsi tersebut
didasarkan pada pengamatan terhadap tulang-tulang yang masih intake. Tulang-tulang
berukuran kecil seperti tulang lutut (patella) maupun tulang telapak tangan (metacarpal)
masih berada pada posisinya. Kerangka pertama yang ditemukan di Loyang Mendali memiliki sistem penguburan terlipat dan di atasnya diletakkan batu besar. Orientasi kedua penguburan ini adalah timur---barat dengan kepala menengadah ke atas dan tangan lurus dan kedua kakinya terlipat ke arah kanan. Menurut Harry Widianto yang dikutip oleh Kompas (2010), orientasi timur-barat ini dihubungkan dengan siklus kehidupan yang menganggap arah timur sebagai lokasi penempatan kepala serta simbol matahari terbit, sedangkan barat sebagai lokasi penempatan kaki dan sebagai simbol matahari tenggelam. Dalam konteks ini, penguburan dengan orientasi semacam itu mengacu pada asal mula (timur) dan akhir (barat) dari kehidupan.
Proses penguburan yang dilakukan pada kedua kerangka tersebut didahului dengan membuat lubang kubur dan kemudian individu dimasukkan ke dalamnya. Hal itu dibuktikan dengan adanya fitur yang memotong lapisan tanah lantai gua. Pada situs Loyang Ujung Karang ditemukan fitur yang tampak di bagian dinding timur kotak selebar individu yang dikuburkan (50 cm) dengan kondisi tanah pasir kasar yang gembur. Pada situs Loyang Mendali, individu dimasukkan ke lubang kuburnya dan kemudian diletakkan dua buah blok batu di atas individu dan ditambah dengan memasukkan kerakal-kerakal batu di sekitarnya. Di atas lokasi penguburan tersebut kemudian digunakan sebagai lokasi tempat mengumpulkan sisa makanan dan juga mengolah makanan. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya temuan ekofak tulang, tulang-tulang terbakar, abu pembakaran, serta fitur tanah yang terbakar.
Sistem penguburan primer terlipat dan posisi terlentang yang ditemukan di Loyang Mendali menunjukkan kesamaan dengan sistem penguburan yang ditemukan di Gua Braholo, dan Gua Marjan yaitu penguburan terlipat pada posisi terlentang dan ditutupi dengan batu. Batu-batu tersebut kemungkinan berfungsi sebagai alat untuk menjaga individu si mati dari binatang buas, agar tidak dipindahkan atau tidak dimangsa. Namun terdapat kemungkinan
juga bahwa batu tersebut digunakan alat penanda struktur sosial si mati7. Terdapat
kemungkinan bahwa si mati ini merupakan individu berstatus sosial tinggi sehingga ketika meninggal mayatnya harus dijaga dengan baik. Asumsi tersebut didukung dengan peletakkan
7
Asumsi yang didapatkan pada diskusi antara penulis dengan Lucas Partanda Koestoro dan Ketut Wiradnyana pada tanggal 28 Januari 2011 di Balai Arkeologi Medan.
makam pada bagian paling tinggi dari ruangan gua di Loyang Mendali. Walaupun demikian, asumsi dimaksud masih memerlukan pengujian lebih lanjut dengan data yang lebih memadai. Sistem penguburan terlipat di Loyang Ujung Karang memiliki kesamaan dengan sistem penguburan terlipat yang ditemukan di Ceruk Sodong (Jawa Timur). Namun terdapat perbedaan yaitu posisi tangan yang tidak berada di atas perut melainkan lurus ke bawah sampai ke pinggul dengan kaki terlipat ke kanan dan kemungkinan tangan kanannya memegang pergelangan kaki kanannya. Perbedaan ini kemungkinan dilatarbelakangi oleh permasalahan teknis penguburan yang dilakukan.
Sistem penguburan primer terlipat dengan posisi terlentang tersebut merupakan salah satu bagian dari budaya yang sering dijumpai di wilayah Asia Tenggara. Menurut Harry Widianto, dalam Sugiyanto (2009: 141--142), sistem penguburan ini berasal dari daratan Asia Tenggara sekitar 10.000 tahun yang lalu yang kemudian menyebar ke arah selatan dan barat Nusantara yang kemudian menyebar ke timur ke Nusa Tenggara. Selain tradisi penguburan terlipat terlentang tersebut, kadang-kadang juga ditemukan sistem penguburan yang menempatkan blok-blok batu pada beberapa bagian-bagian tertentu seperti kepala, dada, dan pergelangan kaki. Fenomena penguburan tersebut juga ditemukan di Loyang Mendali.
Namun blok-blok batu tersebut ditempatkan di atas tulang pinggulnya (pelvis) dan juga pada
bagian kepalanya. Selain itu, si mati dikuburkan dengan kedua kakinya dilipat ke arah kiri.
Penguburan merupakan salah satu aktivitas masa lalu yang erat kaitannya dengan religi. Perlakuan khusus terhadap si mati memberikan indikasi akan adanya konsep tersebut. Perlakuan-perlakuan terhadap si mati diantaranya adalah pemberian hematit/oker, bekal kubur dan juga melipat tubuh si mati. Di Asia Tenggara Daratan, perlakuan-perlakuan semacam itu banyak ditemukan pada situs-situs masa Mesolitik yang dikaitkan dengan budaya Hoabinh.
Pada salah satu Hoabinh di situs Gua Cha, Kelantan, Malaysia dijumpai kerangka seorang pemuda yang dikubur terlipat, berbantalkan lempengan dan bagian tubuhnya ditindih dengan bungkahan batu tufa serta ditaburi oker merah. Situs tersebut merupakan situs Hoabinh yang berasal dari masa berkisar 10.000 SM. Pada situs lain yaitu Gua Niah, Malaysia juga ditemukan penguburan dalam posisi terlipat yang berasal dari masa berkisar 9.000 sebelum masehi. Beberapa tulang yang ditemukan masih menyisakan bubuk oker. Bubuk oker juga ditemukan pada peralatan batu, lancipan tulang dan cangkang kerang yang merupakan bekal kubur. Selain itu, di situs Gua Kepah, Pulau Penang, Malaysia juga ditemukan penguburan sekunder yang ditaburi oker merah yang berasosiasi dengan peralatan Hoabinh. Temuan
sistem penguburan terlipat ini juga ada di Gua Duyong, Pulau Palawan, Filipina Selatan dan berasal dari masa sekitar 3.000 sebelum masehi (Bellwood, 2000: 245–325).
Dengan uraian di atas, dapat diketahui bahwa budaya tersebut berasal dari budaya ras Austromelanesid yang berasal dari Asia Tenggara. Namun, data tengkorak yang ditemukan di Loyang Ujung Karang menunjukkan ciri-ciri yang berasal dari ras Mongoloid (lihat foto 7). Ciri-ciri tengkorak ras Mongoloid ini adalah bentuk tengkorak cenderung membulat, mulut
yang menonjol sedikit, gigi muka dengan tautan klas II Kennedy gigi seri besar dan berbentuk
sekop, dahi membulat, serta rongga mata tinggi dan berbentuk persegi (Yondri, 2010: 4; lihat juga foto 8).
Foto 7. Tengkorak yang ditemukan di Situs Loyang Ujung Karang (Dok. Balai Arkeologi Medan,2010) Foto 8. Tengkorak yang ditemukan di Gua Pawon, Jawa Barat yang mengacu pada ras Mongoloid
(Sumber: Yondri,2010:4)
5. Penutup
Temuan kerangka manusia di Loyang Mendali dan Loyang Ujung Karang di Takengon, Kabupaten Aceh Tengah teridentifikasi berjenis kelamin perempuan dan penguburan yang dilakukan merupakan sistem penguburan terlipat yang merupakan salah satu budaya yang sering dijumpai di wilayah daratan Asia Tenggara. Dari identifikasi yang telah dilakukan di atas, dapat diketahui bahwa sistem penguburan gua-gua di Takengon merupakan sistem penguburan primer terlipat dengan posisi terlentang dan berorientasi timur-barat. Selain itu, dikuburkan dengan menggunakan lubang kubur dan diberikan bekal kubur kepada individu si mati. Sistem penguburan tersebut didasarkan pada adanya konsep religi dari fenomena alamiah yaitu matahari terbit dan terbenam, serta keinginan selalu dekat dengan leluhur. Selain itu, sistem penguburan ini juga dipengaruhi oleh terbatasnya ruang gua dan juga konsep mengembalikan manusia seperti pada rahim ibu.
Data tersebut merupakan salah satu data tambahan tentang sistem penguburan di dalam gua. Identifikasi dan analisis yang telah penulis lakukan masih memerlukan pembuktian lebih
Foto 7
lanjut dengan penelitian yang lebih mendalam mengingat masih sangat sedikitnya data yang didapatkan. Dalam hal ini sangat diperlukan kajian lebih lanjut oleh ahli-ahli dalam bidang paleontologi dan juga genetika sehingga dapat diketahui secara pasti tentang ras, gender, dan juga aspek-aspek lainnya.
Oleh karena itu, diperlukan penelitian lanjutan yang lebih komprehensif terhadap gua-gua lain di Kabupaten Aceh Tengah dan sekitarnya sehingga dapat diperoleh data baru tentang budaya dan migrasi pada masa prasejarah di Sumatera bagian utara, khususnya dan daerah pedalaman di daerah Pegunungan Bukit Barisan khususnya. Selain itu, juga diperlukan adanya analisis temuan yang melibatkan beberapa unsur pendukung sehingga hasil analisis yang dilakukan dapat memperkecil bias yang ditimbulkan oleh penelitian arkeologi.
Kepustakaan
Applegate, Darlene. 2008. Anth 300 Forensic Anthropology, Lab 9: Race Determination., http://people.wku.edu/darlene.applegate/ forensic/lab9/lab9.html, diaksestanggal 25 Januari 2010 pukul 11.00 WIB.
Bellwood, Peter. 2000. Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia. Edisi Revisi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Handini, Retno dan Harry Widianto. 1998. “Gua Braholo: Karakter Hunian Mikro Pada Awal Kala Holosen di Gunung Sewu”, dalam Berkala Arkeologi, Th. XIX Edisi No. 1/Mei, Yogyakarta : Balai Arkeologi Yogyakarta, hal. 21--39.
Nurani, Indah Asikin. 1995. “Pola Permukiman Gua-gua di Kaki Gunung Watangan: Suatu Hipotesis Permukiman Gua Kawasan Timur Jawa”, dalam Manusia dalam Ruang: Studi Kawasan dalam Arkeologi, Berkala Arkeologi Tahun XV-Edisi Khusus. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta, hal. 78--79
Parker, Steve. 1993. Skeleton. London: Dorling Kindersley in association with The Natural History Museum
Setiawan, Taufiqurrahman. 2009. “Loyang Mendali, Situs Hunian Prasejarah Di Pedalaman Aceh, Asumsi Awal Terhadap Hasil Penelitian Gua-Gua Di Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam”, dalam Sangkhakala Vol. XII, No. 24. Medan: Balai Arkeologi Medan, hal. 229--239
Simanjuntak, Truman. 1998. “Budaya Awal Holosen di Gunung Sewu”, dalam Berkala Arkeologi, Th. XIX Edisi No. 1/Mei, Yogyakarta : Balai Arkeologi Yogyakarta, hal. 1--20.
Soejono, R.P. 2008. Sistem-sistem Penguburan Pada Akhir Masa Prasejarah di Bali. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional
Sugiyanto, Bambang. tt. “Tradisi penguburan dalam gua (Studi Kasus Gua-gua di Wilayah Kalimantan)”, http://www.wacananusantara.org/2/728/tradisi-penguburan-dalam-gua-(studi-kasus-gua-gua-di-wilayah-kalimantan), di akses tanggal 11 Januari 2011 pukul 15.00 WIB. ---, 2009. “Pola Pemanfaatan Gua-Gua Hunian Prasejarah di Kalimantan Selatan dan
Timur”, dalam Naditira Widya, Volume 3 Nomor 2.Banjarmasin: Balai Arkeologi Banjarmasin, hal. 133--144
Wiradnyana, Ketut dan Taufiqurrahman Setiawan. 2010. Ekskavasi Gua-Gua di Kabupaten Aceh Tengah, Nanggroe Aceh Darussalam, Laporan Penelitian Arkeologi(belum diterbitkan)
Yondri, Lutfi. 2010. “Batu Kendan dan Manusia Prasejarah di Tepian Danau Bandung Purba”, dalam
Naditira Widya, Volume 4 Nomor 1.Banjarmasin: Balai Arkeologi Banjarmasin, hal. 1--10
Kompas.com. 1 November 2010. Kerangka Purba di Gua Harimau: Para Penghuni Awal Sumatera. Editor: Tri Wahono, diakses tanggal 11 Januari 2011 pukul 15.00 WIB
http://anisavitri.wordpress.com diakses tanggal 11 Januari 2011 pukul 11.00 WIB