6.3 Macam-macam Alih Kode dalam Penggunaan Bahasa Guyub Tutur Masyarakat Bali di Parigi
6.3.2 Alih kode berdasarkan variasi lingual
Berdasarkan variasi lingual, alih kode dapat dibedakan menjadi: (1) alih kode yang berpola dari bahasa Bali ke bahasa Indonesia, (2) alih kode yang berpola dari bahasa Bali ke bahasa Inggris, (3) alih kode yang berpola dari bahasa
Bali ke bahasa Kaili, dan (4) alih kode yang berpola dari bahasa Bali ke bahasa Bugis. Penjelasan mengenai pola-pola alih kode tersebut dapat dilihat pada uraian berikut.
6.3.2.1 Alih kode yang berpola dari bahasa Bali ke bahasa Indonesia
Alih kode yang berpola dari bahasa Bali ke bahasa Indonesia dapat dilihat pada data berikut.
Data 9
Latar : Pasar Inpres Tagunung Parigi Topik : Harga telur
Partisipan : Sahabat Ketut Sukawati (01) Ketut Sukawati, pedagang (02) Pembeli, etnis Kaili (03) (01) : (1) Ba ada atiban medagang, Bu?
„Sudah ada setahun berjualan, Bu?‟ (02) : (2) Tiang ba lebih dua puluh tahunan.
„Saya sudah lebih dua puluh tahun.‟ (01) : (3) Dua puluh tahunan deriki?
„Dua puluh tahun di sini?‟
(02) : (4) Tiang men tahun tujuh tiga deriki, kudang tahun ampun? „Saya sudah tahun tujuh tiga di sini, berapa tahun sudah?‟ (03) : (5) Berapa telurnya? (datang 03)
(02) : (6) Empat, lima ribu. : (7) Deriki tahun tujuh tiga. „Di sini tahun tujuh tiga.‟
: (8) Nenek, bapak, ba sing nu dini, kasihan!
„Nenek, bapak, sudah tidak ada di sini, kasihan!‟
Jika diperhatikan secara saksama, sebagian besar data 9 menggunakan BBC. Hal ini terlihat jelas pada K1, K2, K3, K4, K7, dan K8. Hanya sebagian kecil data 9 menggunakan BI, yaitu K5 dan K6. Penggunaan BBC pada data 9 sangat wajar karena situasinya memang santai dan berlokasi di sebuah pasar tradisional.
Peralihan kode terjadi ketika pembicaraan sampai pada K6, Empat, lima ribu. Alih kode itu dilakukan oleh O2 dari BBC pada K4, Tiang men tahun tujuh tiga deriki, kudang tahun ampun? „Saya sudah tahun tujuh tiga di sini, berapa tahun sudah?‟, ke BI pada K6.
Berhubung peralihan kode tersebut dari BBC ke BI, peralihan kode itu dapat dikatakan berpola dari bahasa Bali ke bahasa Indonesia. Penyebab alih kode adalah kehadiran O3 yang berasal dari etnis Kaili. Apalagi, O3 memulai pembicaraannya dengan menggunakan BI, seperti tampak pada K5, Berapa telurnya?
6.3.2.2 Alih kode yang berpola dari bahasa Bali ke bahasa Inggris
Alih kode yang berpola dari bahasa Bali ke bahasa Inggris dapat dilihat pada data berikut.
Data 3
(O1) : (4) Yeh, saya kan minta sama adik, gimana ini? „Wah, saya kan minta pada adik, bagaimana ini?‟ (O2) : (5) Kenkenne, ada apa ne?
„Bagaimana ini, ada apa?‟ (O1) : (6) Sing ja ada engken.
„Tidak ada apa.‟ : (7) Cuma anu saja. : (8) Kebetulan anune
„Kebetulan ada sesuatu ini.‟ (O2) : (9) Nyen ento?
„Siapa itu?‟
(O1) : (10) Ada bos baru ini dari Palu. „Ada bos baru dari Palu‟ : (11) Kalau memang anu. „Kalau memang begitu.‟ : (12) Apang iraga pituru kenal. „Supaya kita saling kenal.‟ (O2) : (13) Sip, sip, oke!
Beberapa tuturan pada data 3 menunjukkan bahwa bahasa yang digunakan oleh O1 dan O2 cukup bervariasi. Pada awalnya, O1 menggunakan BBC, seperti tampak pada K4, Yeh, saya kan minta sama adik, gimana ini? „Wah, saya kan minta pada adik, bagaimana ini?‟ Tuturan O1 direspons oleh O2 dengan menggunakan BB pada K5, Kenkenne, ada apa ne? „Bagaimana ini, ada apa?‟ Selain BBC dan BB, tuturan di atas juga menggunakan bahasa Inggris. Penggunaan bahasa Inggris oleh O2 semata-mata karena kedekatannya dengan O1 sebagai sahabat karib.
Jika diperhatikan dengan cermat data di atas, sebagian besar O1 menggunakan BBC, sedangkan O2 sebagian besar menggunakan BB dalam tuturannya. Peralihan kode terjadi karena pembicaraan sampai pada K13, Sip, sip, oke! „Ya, ya saya setuju!‟ Alih kode itu dilakukan oleh O2 sekadar agar dirinya dianggap terpelajar. Oleh karena itu, O2 beralih kode dari BB pada K9, Nyen ento? „Siapa itu?‟ ke bahasa Inggris, pada K13. Berhubung peralihan kode itu terjadi dari bahasa Bali ke bahasa Inggris, alih kode itu dapat dikatakan berpola dari bahasa Bali ke bahasa Inggris.
6.3.2.3 Alih kode yang berpola dari bahasa Bali ke bahasa Kaili
Alih kode yang berpola dari bahasa Bali ke bahasa Kaili dapat dilihat pada data berikut.
Data 10
Latar : Pasar Parigi
Topik : Harga minyak kelapa Partisipan : Tetangga, etnis Bali (01)
Pedagang, etnis Bali (02) Pembeli, etnis Kaili (03)
(O1) : (1) … Anggona kue, nggih? „… Dipakai kue, ya?‟ (O2) : (2) Nggih.
„Ya.‟ : (3) Apa le? „Cari apa?‟
(O3) : (4) Minyak kelapa, berapa? (datang O3) (O2) : (5) Minyak, tujuh ribu, tujuh ribu.
: (6) Ari, isi dulu minyak itu Nak! : (7) Ada di jiriken itu.
Beberapa tuturan pada data 10 menggunakan bentuk-bentuk kalimat yang bervariasi. Ada kalimat yang dibentuk dengan satu kata pada K2, Nggih. „Ya‟; ada kalimat yang dibentuk dengan dua kata pada K3, Apa le? „Cari apa?‟; ada kalimat yang dibentuk dengan tiga kata pada K1, … Anggona kue, nggih? „… Dipakai kue, ya‟; ada kalimat yang dibentuk dengan empat kata pada K7, Ada di jiriken itu; ada kalimat yang dibentuk dengan lima kata pada K5, Minyak, tujuh ribu, tujuh ribu. Bahkan, ada kalimat yang dibentuk dengan enam kata pada K6, Ari, isi dulu minyak itu Nak!
Penggunaan bentuk-bentuk kalimat yang bervariasi itu sangat wajar karena peristiwa tutur itu berlangung dalam situasi santai. Dalam situasi santai tidak tertutup kemungkinan digunakan juga bahasa yang bervariasi, seperti halnya data 10. Jika dilihat secara cermat, bahasa yang digunakan adalah BB pada K1, K2; BK pada K3; dan BI pada K4, K5, K6, dan K7.
Peralihan kode terjadi ketika pembicaraan sampai pada K3, Apa le? „Cari apa?‟ Alih kode itu dilakukan oleh O2 dari BB pada K2 ke BK pada K3. Peralihan kode disebabkan oleh kehadiran O3. Berhubung peralihan kode terjadi dari BB ke BK, alih kode itu dapat dikatakan berpola dari bahasa Bali ke bahasa Kaili.
6.3.2.4 Alih kode yang berpola dari bahasa Bali ke bahasa Bugis
Alih kode yang berpola dari bahasa Bali ke bahasa Bugis dapat dilihat pada data berikut.
Data 11
Latar : Ruang tamu Topik : Bahasa Kaili
Partisipan : Ketut Somanadi, etnis Bali (01) Tetangga, etnis Bali (02) Nukbah, etnis Kaili (03)
(O1) : (1) … Tapi kalau bahasa Kaili Pak, di situ bilang, ‘Sema sanga miu? „… Tapi kalau bahasa Kailinya Pak, di situ mengatakan „Siapa
namamu?‟
: (2) Sakuya muni umuru miu? „Berapa umurmu?‟ : (3) Sakuya muni ana miu? „Berapa juga anakmu?‟ : (4) Keto, anak berturut-turut to. „Begitu, orang berturut-turut itu.‟ : (5) Nakuya komiu?
„Sedang apa kamu?‟
: (6) Keto ba, nak berturut-turut to
„Begitu sudah, orang berturut-turut itu.‟ (O2) : (7) Berturut-turut, oh!
(O3) : (8) Degaga harapang. „Tidak ada harapan.‟ (O1) : (9) Degaga harapang.
„Tidak ada harapan.‟
Data 11 menunjukkan bahwa di Parigi ada seorang warga etnis Bali yang sangat menguasai BK. Bahkan, O1 berusaha mengajarkan BK kepada tetangganya yang kebetulan berasal dari etnis Bali juga. Hal ini juga terlihat dari komunikasi yang dilakukan oleh O1 terhadap O2.
Pada awalnya O1 menggunakan BI yang dicampur dengan bahasa Kaili ketika berbicara dengan O2. Dari caranya berbicara tampak O1 sangat antusias mengajarkan BK pada O2. Hal ini tampak pada K1, K2, K3, K4, K5, dan K6.
Selanjutnya, O2 meresponsnya dengan menggunakan BI pada K7, Berturut-turut, oh!
Peralihan kode terjadi ketika pembicaraan sampai pada K9, Degaga harapang „Tidak ada harapan.‟ Alih kode itu dilakukan oleh O1 dari BBC pada K6 Keto ba, nak berturut-turut to „Begitu sudah, orang berturut-turut itu‟ ke bahasa Bugis pada K9. Hal ini sengaja dilakukan oleh O1 untuk merahasiakan sesuatu. Berhubung peralihan kode terjadi dari bahasa Bali ke bahasa Bugis, alih kode itu dapat dikatakan berpola dari bahasa Bali ke bahasa Bugis.