• Tidak ada hasil yang ditemukan

ALIRAN DALAM ISLAM DAN SEJARAH PEMIKIRANNYA

Dalam dokumen Studi Islam (Halaman 195-200)

A. Pendahuluan

Perselisihan tercela yang mcngakibatkan timbulnva perpecahan dikalangan ummat Islam pada mulanya terjadi karena sebab yang sederhana, namun karena pelakunya lebih mengedepankan hawa nafsu dan kepentingan kelompok, organisasi atau golongan maka berubah menjadi suatu yang besar yang berakibat pada perpecahan bahkan mereka ada yang saling mengkafirkan satu sama lain Terkadang masyarakat terimbas oleh kepentingan mereka, hingga saling menyalahkan pada hal belum tentu salah, lain dari itu masyarakat awwam tidak tahu permasalahannya, mereka hanya ikut-ikutan belaka.

Mulai ada gejala timbulnya aliran-aliran dalam Islam adalah sejak pucuk pimpinan kekhalifahan di pegang Utsman lbnu Affan, yaitu khalifah ketiga setelah wafatnya Rasulullah SAW. Pada masa Khalifah ketiga ini suasana politik mulai diwarnai oleh kepentingan kelompok. Yang mengarah pada terjadinya perpecahan ditubuh Ummat Islam yang terus meruncing sampai terbunuhnya khalifah Utsman bin Affan ra, akhirnya tampuk pimpinan kekhalifahan di gantikan oleb Ali bin Abu Thalib.

Pada masa pemerintahan khalifah Ali bin Abu Thalib ra, perpecahan di tubuh ummat Islam terus berlanjut dan sangat sulit dicarikan solusinya, dimana ummat Islam pada saat itu ada yang pro terhadap kekhalifahan Ali bin Abu Thalib ra yang menamakan dirinya kelompok Syi’ah dan khawarij.

Bermula dan situlah akhirnya timbul berbagai aliran di kalangan ummat Islam, masing-masing kelompok juga berpecah belah. sehingga akhirnya jumlah aliran dikalangan ummat Islam sangat banyak.

B. Pengertian Aliran

Menurut bahasa, aliran merupakan terjemahan dari Bahasa Arab dalam mufradnya dan jamaknya adalah yang mempunyai arti aliran, golongan dan berarti pula faham. Dan yang di maksud adalah sekelompok manusia yang berhimpun dalam suatu ikatan atau organisasi, lembaga, jama’ah dan ikatan lainnya dibawah suatu pemimpin atau imam yang diyakini sebagai Nabi atau mempunyai otoritas sehagai Nabi atau Tuhan Dengan membuat ajaran yang bertentangan dengan syari’at Islam atau dengan kata lain adalah golongan-golongan yang keluar dari jalan Ahlus Sunnah wal jama’ah misalnya, seperti khawarij, murji’ah. dan lain-lain. Membuat aliran yang ajarannya menyimpang hukumnya haram, dan Murtad pelaku dan pengikutnya. Allah melarang manusia berpecah belah dan mengikuti ajarannya dan tidak membuat ajaran sendiri-sendiri. Allah berfrman:

“dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.”(Q.S Ali Imran 103)

Sebagai antisipasi, jauh-jauh hari Rasulullah telah memberitahu dan memperingatkan kepada para sahabat dan umatnya akan timbulnya aliran-aliran dalam Islam dimana ummat Islam akan terpecah belah menjadi 73 golongan, Nabi SAW juga menegaskan bahwa dari ke 73 golongan tersebut tidak semua ajarannya benar lebih banyak yang menyimpang dari Al-Quran dan sunah sehingga, mayoritas aliran tersebut sesat dan menyesatkan karena mereka menambah dan mengurangi, merubah bahkan membuat ajaran sendiri, mereka lebih

mendahulukan omongan Imam atau amirnya dari pada Firman Allah atau sabda Nabi SAW. Hadist Riwayat Tirmidzi Rasulullah bersabda:

“Artinya Sunguh-sungguh akan datang (terjadi ) atas umatku sebagaimana yang terjadi atas bani Israil setapak demi setapak. Sehingga andainya terdapat dalam kalangan mereka, orang yang mendatangi ibunya terang-terangan (berbuat tidak baik), niscaya akan terdapat juga dalam umatku orang yang berbuat demikian. Dan bahwasanya Bani Israil telah berpecah-pecah menjadi 72 golongan (mazhab). Dan umatku akan berpecah-belah menjadi 73 golongan, semuanya itu masuk neraka kecuali satu, sababat bertanya Siapakah golongan itu ya Rasulullah?” Jawab Nabi yaitu mereka yang mengikuti sunnahku dan sunnah sahabatku”.

Sebenarnya hadis-hadis semacam ini banyak sekali tetapi, isi dan tujuannya hampir sama. Adapun golongan yang satu yang disebut Rasul sejak perjalanannya hingga sahabat masih merupakan teka-teki dan sebagian ulama berpendapat golongan ini adalah ahlussunnah wal jama‘ah, tapi golongan lain membantah pendapat ini dan menyatakan bahwa golongannya lah yang termasuk golongan yang selamat. Sebab, mereka pun berdiri berdasarkan alasan-alasan dan dalil-dalil kuat AI-qur’an dan hadis serla dalil-dalil akal.1

C. Sejarah Singkat Situasi Politik Pada Masa Sahabat

Permulaan dari perpecahan umat Islam boleh dikatakan setelah wafatnya Nabi SAW. Tetapi perpecahan itu menjadi reda, karena terpilihnya Abu Bakar sebagai khalifah. Ia menumpas pemberontak-pemberontak pada masa kekhalifahannya yakni orang-orang yang mengaku sebagai Nabi dan orang-orang yang tidak mau membayar zakat. Begitu pula pada masa Pemerintahan Umar bin Khattab menjadi khalifah. Pada masa kekhalifahan ketiga, yakni yang dipimpin 1 M. Sufyan Raji Abdullah. Mengenal Aliran-Aliran Dalam Islam dan Ciri-ciri

Utsman bin Affan mulailah terjadi perpecahan. Utsman termasuk dalam golongan pedagang Quraisy yang kaya. Kaum keluarganya terdiri dari orang aristokrat Mekkah yang karena pengalaman dagang mereka, mempunyai pengetahuan tentang administrasi. Ahli sejarah menggambarkan Utsman sebagai orang yang lemah dan tak sanggup menentang ambisi keluarganya yang kaya dan berpengaruh itu. Ia mengangkat mereka menjadi gubernur di daerah yang tunduk pada kekuasaan Islam. Gubemur yang diangkat Umar Bin Khattab, khalifah yang terkenal sebagai orang kuat yang tak memikirkan kepentingan keluarganya dijatuhkan oleh Utsman.2

Tindakan-tindakan politik yang dijalankan Utsman ini menim-bulkan reaksi yang tidak menguntungkan bagi dirinya. Sahahat-sahabat Nabi yang dulunya menyokong Utsman ketika melihat tindakan yang kurang tepat ini mulai meninggalkannya. Diantara khulafa Al-Rasyidin yang empat, Utsman terhitung yang paling lama memerintah yaitu 12 Tahun (24 – 35 H) dan pada hari Jum’at, tanggal 8 Dzulhijjah Tahun 35 Hiiriah, bertepatan dengan tanggal 17 Juni Tahun 656 M Khalifah Utsman terbunuh, pada saat itu khalifah Utsman sedang membaca Al - Qur’an.3

Kematian Utsman telah meninggalkan malapetaka besar dalam tubuh umat Islam. Perpecahan dikalangan umat Islam menjadi empat sampai lima yang antara satu dan lainnya tidak dapat bersatu kembali. Golongan itu adalah golongan yang mendukung Ustman, pengikut Ali, golongan yang berpegang teguh pada prinsip jamaah dan kaum khawarij Setelah Utsman wafat, Ali sebagai calon terkuat menjadi khalifah keempat meskipun melalui pemilihan yang belum sempurna terdapat dua golongan yang menentang pemerintahannya yakni Thalhah dan Zubair yang didukung Aisyah yang mengakibatkan perang jamal dan dimenangkan oleh Ali. Serta golongan Muawiyah yang mengakibatkan perang shiffin dan diakhiri dengan tahkim sehingga merugikan pihak Ali. Akibatnya, pihak Ali terpecah menjadi 2 Abudin Nata. Ilmu Kalam, Filsafat, dan Tasawuf. Jakarta. PT Raja Grafindo

Persada: 1993

3 Jurji Zaidan. Tarikh al-Tamaddun al-Islamy, Mahabbah, al-Hilal. Cet V, 1997. hlm 66

dua golongan yakni khawarij dan Syi’ah. Dalam perkembangan selanjutnya golongan khawarij juga mengalami perbanyakan golongan. Begitu pula munculnya aliran-aliran baru yang berlainan faham.

D. Aliran-Aliran Pemikira Dalam Islam

1). Aliran Dalam Lapangan Teologi

Teologi Sebagaimana diketahui, membahas ajaran-ajaran dasar dari suatu agama. Setiap orang yang ingin menyelami seluk beluk agamanya secara mendalam, perlu mempelajari teologi yang terdapat dalam agama yang dianutnya. Mempelajari teologi akan memberikan kepada seseorang keyakinan, keyakinan yang berdasarkan pada landasan yang kuat, yang tidak mudah diombang-ambing oleh peredaran zaman.

Dalam istilah Arab, ajaran-ajaran dasar tersebut disebut

Ushul Al-Din dan oleh karena itu buku yang membahas tentang

soal-soal teologi dalam Islam selalu diberi nama kitab Ushul

Al-Din oleh pengarangnya. Ajaran dasar tersebut juga disebut

Aqa’id atau keyakinan-keyakinan, dan buku yang mengupanya berjudul Al-Aqa’id seperti Al-Aqa’id Al-Nasafiyah. Teologi dalam Islam disebut juga At-Tauhid. Kata Tauhid mengandung arti Satu atau Esa dan ke-Esaan dalam Islam Islam mengandung kata yang sangat penting dari segala sifat yang dimiliki Tuhan. Selanjutnya Teologi Islam disebut juga ‘Ilm Al-kalam, karena soal kalam, Sabda Tuhan atau Al-Qur’an pernah menimbulkan pertentangan-pertentangan yang keras dikalangan umat Islam di abad ke sembilan dan kesepuluh masehi, sehingga timbulnya penganiyayaan dan pembunuhan-pembunuhan antar sesama muslim pada waktu itu.

Kalau yang dimaksud dengan kalam adalah kata-kata manusia, maka teologi dalam Islam disebut ‘Ilm al-kalam, karena kaum teolog Islam bersilat dengan kata-kata dalam mempertahankan pendapat dan pendirian masing-masing. Dan

teolog dalam Islam disebut Mutakallim yaitu ahli yang pintar memakai kata-kata.

Teologi Islam yang diajarkan di Indonsia umumnya adalah teologi dalam bentuk Ilmu Tauhid. Ilmu Tauhid biasanya kurang mendalam dalam pembahasan dan kurang bersifat Filosofis. Selanjutnya ilmu Tauhid biasanya memberi penjelasan sepihak dan tidak mengemukakan pendapat dan faham dari aliran-aliran atau golongan-golongan lain yang ada dalam teologi Islam. Dan ilmu Tauhid yang diajarkan dan dikenal di Indonesia pada umumnya adalah dari Asy’ariah, sehingga timbullah kesan dikalangan sementara umat Islam Indonesia bahwa inilah satu-satunya Teologi dalam Islam.

Dalam Islam sebenarnya terdapat lebih dari satu aliran teologi. Ada aliran yang bersifat Liberal, ada yang bersifat tradisional, dan adapula yang bersifat antara liberal dan tradisional. Hal ini mungkin ada hikmahnya, bagi orang yang bersifat tradisional mungkin lebih sesuai dengan jiwanya yang teologi tradisional, sedangkan orang yang pemikirannya bersifat liberal lebih dapat menerima ajaran-ajaran teologi liberal. Dalam soal Fatalisme dan Freewill misalnya, orang yang bersifat liberal tidak dapat menerima faham fatalisme. Baginya faham Freewill yang terdapat dalam teologi liberal lebih sesuai dengan jiwanya.

Kedua corak teologi ini, liberal dan tradisional, tidak bertentangan dengan ajaran-ajaran dasar Islam. Dengan demikian orang yang memilih mana saja dari aliran-aliran tersebut sebagai teologi yang dianutnya tidaklah pula menyebabkan ia keluar dari Islam.4

Meskipun tujuan ulama-ulama Teologi Islam sama, yaitu mempertahankan kepercyaan-keprcayaan Islam dan meman-tapkannya. Namun, banyak terdapat perbedaan-perbedaan Pendapat, sehingga tidak dapat menyimpulkan jumlah aliran atau golongan karena mereka berbeda sistem dan dasar penggolongan. 4 Harun Nasution. Teologi Islam, Jakarta, UI – Press, Cet II, 1982, hlm 4.

Dalam dokumen Studi Islam (Halaman 195-200)