• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor Penyebab Salah Paham Terhadap Islam

Dalam dokumen Studi Islam (Halaman 105-110)

REKONSTRUKSI PEMAHAMAN TERHADAP ISLAM

B. Faktor Penyebab Salah Paham Terhadap Islam

Kesalahfahaman/penyimpangan pengertian sekitar Islam yang mungkin banyak terjadi pada masa sekarang ini diantaranya terutama di dalam pemikiran kalangan non Islam dan orang Islam sendiri adalah:

1. Menganggap Islam tidak sesuai dengan perkembangan zaman .

2. Islam membelenggu kebebasan berpikir dan perkembangan sains.

3. Islam mengkebiri hak-hak wanita.

4. Islam tidak toleran terhadap umat dan agama lain. 5. Islam tidak melindungi hak asasi manusia4.

Mengapa sampai terjadi orang salah paham terhadap Islam?, Syekh Muhammad Qutb dalam bukunya Subuhat Hawlil Islam yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia tahun 1980 dengan judul Salah Paham Terhadap Islam yang dikutif Daud Ali (1998) memberikan gambaran umum tentang Islam yang disalah pahamkan bukan saja oleh orang-orang non muslim, tetapi juga oleh orang-orang Islam sendiri . Kesalahpahaman itu disebabkan karena beberapa hal, diataranya adalah 1). Salah memahami ruang lingkup agama Islam; 2) Salah menggambarkan segmen-segmen atau bagian-bagian kerangka keseluruhan ajaran agama Islam dan 3). Salah dalam mempergunakan metode pengkajian Islam.

1. Salah mempergunakan metode mempelajari Islam

Sejak kedatangan Islam abad ke 13 M. hingga saat ini, fenomena pemahaman keIslaman umat Islam di Indonesia masih ditandai amat 4 Hammudah Abdalati. 1981, Islam dalam Sorotan,, Surabaya. PT. Bina Ilmu.

pariatif. Kondisi pemahaman keislaman tersebut barangkali terjadi juga diberbagai belahan dunia. Kita tidak tahu apakah kondisi demikian merupakan sesuatu yang alami yang harus diterima sebagai suatu kenyaatan untuk diambil hikmahnya, ataukah diperlukan adanya standart umum yang perlu diterapkan dan diberlakukan kepada berbagai pemahaman keagamaan yang variatif itu, sehingga walaupun kadaannya amat pariatif tetapi tidak keluar dari ajaran yang terkandung dalam al-Qur’an dan al-Sunnah serta sejalan dengan data-data historis yang dapat di pertanggung jawabkan keabsahannya.5

Dari pernyataan di atas, dapat dipahami sekaligus memberikan penekanan bahwa berbagai pemahaman keagamaan yang berkembang ditengah-tengah masyarakat muslim nampaknya terjadi Kemungkinan karena merupakan sesuatu yang harus diterima dan bersifat alamiyah sepanjang sejarah kehidupan umat Islam atau pemahaman yang variatif tersebut merupakan sesuatu yang dapat di netralisir menjadi sebuah pemahaman yang utuh yang tentu saja melalui berbagai upaya dan penggunaan metode yang benar.

Mukti Ali mengatakan bahwa salah satu penyebab pemahaman umat Islam seperti di Indonesia masih parsial karena kesalahan dalam mengunakan metode. Ada 2 alasan mendasar kenapa terjadi hal yang demikian .

Pertama, selama ini ahli-ahli ilmu pengetahuan termasuk dalam

hal ini para orientalis mendekati Islam hanya dengan menggunakan kacamata ilmiah saja sehingga penelitian ini belum menyeluruh dan sebenarnya mereka tidak mengerti Islam secara utuh, yang mereka ketahui hanya eksternalitas (segi-segi luar saja).

Metode yang ditempuh oleh para orientalis terutama sebelum perang dunia kedua, adalah pendekatan yang menjadikan Islam dan seluruh ajarannya semata-mata sebagai obyek studi analisis. Laksana dokter bedah mayat, para orientalis meletakan Islam diatas meja operasi, memotongnya bagian demi bagian dan menganalisis bagian-5 Abudin Nata, Metodologi hlm.95

bagian dengan mempergunakan ukuran yang tidak Islam.6 Artinya mereka mempergunakan metode dan menganaliisis dengan ukuran-ukuran yang tidak Islami (tidak sesuai dengan ajaran-ajaran Islam). Hasilnya tentu tidak akan memusakan dan pasti menimbulkan salah paham. Lebih-lebih lagi bagi mereka yang memang melihat Islam hanya dari kacamata subyektif dan sentimen agama.

Kedua , Sebaliknya para ulama sudah terbiasa memakai ajaran

Islam secara doktriner dan dogmatis. Sebagai akibatnya penafsiran tersebut sulit diterapkan ditengah-tengah masyarakat yang modern dan global sehingga orang menyimpulkan bahwa Islam dengan seperangkat ajarannya ketinggalan zaman, tidak sesuai dengan alam pembangunan.7

Menggaris bawahi dari pernyatan Mukti Ali di atas, nampaknya untuk memperoleh pemahamn yang kaffah (menyeluruh) terhadap Islam perlu memadukan berbagai pendekatan/metode studi Islam dari berbagai disiplin ilmu baik secara ilmiah maupun doktriner sehingga pemahaman masyarakat menjadi lebih baik.

2). Salah memahami ruang lingkup Islam

Salah paham terhadap Islam terjadi karena orang salah memahami ruang lingkup agama Islam. Lambang yang sama yakni perkataan agama dipakai untuk sistim ajaran yang berbeda. Sebagai contoh terpengaruh dengan kata religi atau relegion yang ruang lingkupnya hanya mengatur hubungan manusia dengan tuhan saja orang menganggap bahwa sebagai agama Islampun ruang lingkupnya hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan belaka. Sesungguhnya tidaklah begitu karena ruang lingkup Islam dalam makna Dinul Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan saja seperti yang terkandung dalam istilah religi, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan dirinya, dengan masyarakat, alam dan lingkungan hidupnya.

6 Lihat Fazlur Rahman dalam Muhammad Daud Pendidikan Agama Islam, (Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 1998),hlm.79.

Dari hal tersebut nampak bahwa Islam sebagai agama merupakan sebuah sistem yang mengatur seluruh kehidupan manusia baik dalam hubungannya dengan Allah, sesama manusia, terhadap diri sendiri maupun alam sekitarnya.

3. Salah menggambarkan susunan bagian-bagian agama dan ajaran Islam.

Islam berlainan dengan yang umum diketahui, bukan hanya mempunyai satu atau dua asfek. Islam sebenarnya mempunyai asfek teologi, asfek ibadat, asfek moral, asfek mistisme, asfek filsafat, asfek sejarah, asfek kebudayaan dan lain sebaginya. Pengetahuan Islam hanya dari satu atau dua asfek dan bahkan hanya dari satu aliran atau mazhab, akan menimbulkan pengetahuan yang tidak lengkap tentang Islam. Islam di Indonesia pada umumnya dikenal hanya dari asfek teologi dan itupun hanya dari aliran tradisionalnya, dari asfek hukum, yaitu menurut mazhab Syafi’i. Asfek-asfek lainnya seperti asfek moral, mistisme, filsafat, sejarah dan kebudayaan serta aliran dan mazhab-mazhab lain kurang dikenal. Oleh karena itulah katanya pengetahuan kita di Indonesia tentang Islam tidak sempurna dengan kata lain hakikat Islam tidak begitu dikenal dan inilah yang menyebabkan kesalah pahaman tentang Islam.8

Secara jujur kita akui bahwa fenomena ini masih dapat disaksikan ditengah-tengah kehidupan masyarakat. Misalnya orang menggambarkan atau membuat gambaran yang memberi kesan seakan-akan Islam hanya bicara persoalan akidah (iman) atau ilmu tauhid saja, atau Islam hanya seolah-olah syari’at (hukum) saja, atau fiqh belaka, atau Islam hanya ajaran Tasawuf, akhlak dan tarikat/ilmu kebatinan semata tanpa memandang dan meletakan bagian-bagian tersebut dalam sebuah kerangka agama dan ajaran Islam secara konprehensif dan terpadu. Sehingga ketika ada sekelompok orang mempelajari/ mendalami bagian tertentu dari agama dengan pendekatan/dari sudaut 8 Harun Nasution, 1985), Islam ditinjau dari berbagai asfeknya, (Jakarta,

pandang yang tidak lazim digunakan, dianggap salah dan terlepas dari agama.

Oleh karena itu dalam sejarah perjalanan ilmu-ilmu keislaman pernah yang menjadi primadona masyarakat adalah ilmu teologi, sehingga setiap masalah yang dihadapkan selalu dilihat dari paradigma teologi. Lebih dari itu teologi yang dipelajarinya hanya berpusat pada paham Asy’ari dan Maturidiyah (Sunni) sedangkan paham lainnya dianggap sesat. Akibat dari keadaan demikian maka tidak terjadi dialog, keterbukaan, saling menghargai dan sebagainya. Setelah itu muncul paham keislaman yang bercorak tasawuf yang mengambil bentuk tarikat yang terkesan kurang menampilkan kehidupan yang seimbang antar urusan dunia dan ukhrawi. Dalam tasawuf kehidupan dunia terkesan diabaikan. Umat terlalu mementingkan urusan akhirat, sedang urusan dunia menjadi terbengkalai dan sebagai akibatnyakeadaan umat menjadi mundur dalam bidang keduniawian, materi dan fasilitas hidup lainnya.9 Kedangkalan wawasan dan pemahaman terhadap Islam turut memberikan warna kepada pemahaman yang bersifat parsial/menggambarkan Islam secar sepotong-sepotong . Sebagai contoh, dalam ajaran Islam setiap orang yang mencuri dipotong tangannnya, orang yang membunuh dihukumkan qisash. Bagi mereka yang memiliki kedangkalan ilmu pengetahuan tentang Islam mereka beranggapan bahwa Islam sebagai agama yang kejam, agama yang identik dengan radikalisme dan tuduhan-tuduhan miring lainnya padahal ketika hukum qishas atau hukum potong tangan dilakukan, maka harus memenuhi kriteria-kriteria tertentu. Disamping itu konsep hukum qishas atau potong tangan justru dalam kerangka menegakkan keadilan, melindungi mereka yang tidak berdaya atau melindungi hak asasi manusia.

Penggambaran Islam secara parsial ini kerap kali dilakukan oleh muslim sendiri dan tanpa disadari atau dengan maksud-masud tertentu para orientalis mencoba memanfaatkan untuk kepentingan politik untuk memarginalkan posisi Islam dimata dunia internasional. 9 Abudin Nata, Metodologi…., hlm.96-97

4. Kekeliruan itu terjadi pada kurikulum pendidikan Islam.

Kekeliruan yang terjadi pada kurikulum pendidikan Islam adalah kurikulum yang dipakai hanya lebih banyak menekankan pada persoalan ibadat, fiqh, tauhid, hadist dan Bahasa Arab saja. Oleh karena itu jelas bahwa yang banyak dikenal siswa/murid hanya dari asfek fiqh, tauhid dan ibadat saja. Disamping itu materi Ibadat, tahid dan fiqh biasanya diajarkan hanya menurut satu mazhab atau aliran . Hal ini tentunya memberikan pengetahuan yang sempit tentang Islam dan akibatnya akan terjadi fanatisme mazhab yang berlebihan. Belum lagi ditambah dengan terbatasnya jumlah jam pelajaran agama pada sekolah-sekolah umum yakni 2 jam dalam seminggu. Padahal Islam dengan seperangkat ajarannya memiliki dimensi yang sangat luas dan mendalam yang tidak cukup hanya dipelajari dalam jam dan masa yang relatif singkat.

5. Terjadinya pemahaman yang bersifat sepotong-sepotong atau keliru terhadap Islam juga tidak lepas dari andil sebagian dari para juru dakwah. Kecendrungan dan intensitas yang cukup besar dalam menyampaikan materi dakwah hanya seputar tauhid, ibadat dan akhlak. Hal ini dapat memberikan kesan kepada para jamaah bahwa Islam itu identik dengan tauhid, ibadat dan akhlak, dan untuk selanjutnya ketika persoalan lain dibicarakan dalam forum yang sama pembicaraan tersebut dianggap diluar kontek Islam. Kecendrungan penyampaian materi dakwah hanya pada dataran/seputar tauhid, ibadah dan akhlak dapat dimaklumi karena keterbatasan kemampuan para mubaligh dalam menguasai berbagai bidang atau disiplin ilmu.

C. Langkah Rekonstruksi Kesalahpahaman Terhadap

Dalam dokumen Studi Islam (Halaman 105-110)