• Tidak ada hasil yang ditemukan

Urgensi Metodologi Studi Islam

Dalam dokumen Studi Islam (Halaman 139-146)

STUDI ISLAM TINJAUAN METODOLOGIS

D. Urgensi Metodologi Studi Islam

Perdebatan tentang perlunya perangkat analisis dan metodologis dalam studi Islam (Dirasah Islamiyah atau Islamic Studi) merupakan agenda yang tidak pernah berhenti diperdebatkan oleh kalangan akademisi dan intelektual di Indonesia. Pada tahun sekitar 70-an saat pertama kali diperbincangkan telah memunculkan pro dan kontra. Disatu sisi, ada kelompok yang menolak Islam dikaji secara interdisipliner dengan alasan, selain pendekatan ini dapat merusak moral mahasiswa, juga muncul kesan bahwa studi konvensional akan ditinggalkan, sedangkan disisi lain, ada kelompok yang menerimanya karena bagi mereka ilmu-ilmu bantu tersebut dianggap dapat membantu memahami Islam secara konprehensif.33

Metodologi studi Islam secara konvensional berkembang sejak lahirnya ilmu-ilmu Ke Islaman sekitar abad ke 3 H. Paling sedikit ada 3 jenis metodologi konvensional yang telah berkembang. Pertama; Metodologi penelitian tafsir yang menekankan pada, misalnya pentingnya ilmu asbab al nuzul ( sebab-sebab turunnya ayat Al-qur’an), linguistika (aspek-aspek kebahasaan) ayat Alqur’an, konsep nasikh mansukh (abrogation) dan lain-lain. Pendek kata semua topik yang terdapat dalam ulumul qur’an dapat dikatakan sebagai konsep metodologis dalam studi Al-Qur’an; Kedua; metode penelitian hadits (Musthalah Hadits) yang pada intinya dibagi menjadi dua : Ilmu yang membahasa teks (matan) hadits dan yang membahas bagaimana hadits itu ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya hingga sampai pada perawi hadits yang kemudian membukukannya (Ilmu Hadits Riwayah dan Dirayah). Ketiga : Ilmu Ushul Fiqh/ilmu dasar-dasar fiqh (ilmu yang mempelajari tentang dalil-dalil nash dari segi penunjukannnya kepada hukum.

Di IAIN MSI sudah diajarkan dan berkembang sejak IAIN berdiri, hanya saja masih terserak dan belum diintegrasikan dengan konsep metodologi penelitian ilmiah kontemporer (modern) termasuk metodologi penelitian sosial. Istilah yang dipakai dalam metode studi 33 Lukman S. Thaher, Studi Islam Interdisipliner : Aplikasi Pendekatan Fislafat,

Islam konvensional dianggap asing krn masih menggunakan Istilah Arab bukan Inggris dan belum dicarikan padanan katanya. Contoh konsep tafsir bil ma’sur (menafsir Al-qur’an dengan Al-qur’an atau dengan hadits) dan asbabun nuzul dianggap asing ketika orang bicara dengan istilah Hermeneutika. Meskipun 2 konsep ini tidak persis sama, namun satu sama lain erat kaitannya. Konsep Rijalul Hadits/Isnad dianggap tidak berkaitan dengan konsep historisitas dan historiografi, Konsep jami’ dan mani’ dalam ilmu mantiq dianggap asing dari konsep induktif dan deduktif. Konsep studi matan hadits dianggap asing dari konsep studi naskah/filologi.

Untuk mengorganisasikan MSI yang masih berserakan sejak thn 1980-an disusun mata kuliah yang bernama Dirasah Islamiyah dengan buku rujukan utama yang dipakai Karangan Prof. DR. Harun Nasution yaitu Islam ditinjau dari bebrapa aspeknya dan pembaharuan dalam Islam. Sejarah pemikiran dan gerakan. Buku ini menggambarkan secara utuh tentang studi Islam serta cabang-cabang ilmu yang dapat dikembangkan didalamnya yaitu Islam ditinjau dari sudut sejarah, politik, filsafat pranata dan sebagainya sekaligus merupakan buku pengantar yang baik dari segi scope materi studi Islam. Buku yang kedua isinya menerangkan bahwa ilmu yang dikembangkan oleh studi Islam tidak statis tetapi terus berkembang sampai zaman modern sekarang. Meski mata kuliah Dirasah Islamiyah secara teoritik dimasudkan sebagai pengantar sekaligus mengandung unsur metodologi, tetapi dalam kenyataannya lebih menitik beratkan pada isi/materi studi Islam dan kurang memberikan perhatian pada aspek metodologisnya. Karena itu ketika program Magister Studi Islam mulai dikembangkan pada PT Islam swasta sejak thn 1996, dirasa penting mengembangkan mata kuliah Pendekatan Studi Islam (Approaches to the study of Islam).

Pentingnya pendekatan studi Islam menurut M. Amin Abdullah, didasarkan pada kenyatan bahwa studi Islam, terutama jika dilihat dari sudut pandang Relegionswissenchaft, mengharuskan para pengkajinya untuk memperhatikan secara penuh apa yang idmaksud dengan ”beragma” dan ”agama” dalam masyarakat Muslim dan oleh

para sarjana Muslim. Studi Islam membutuhkan bantuan metodologi untuk mengungkap data-data keagamaan guna memahami lebih arif bahwa semua agama yang memilki kesadaran historis empiris yang khusus (particular) dapat memiliki elemn keagamaan yangs ama, yang dipahami secara transndental-universal. Data-data keagamaan yang bersifat normatif-teologis itu pada saat yangs ama mempunyai muatan historis, sosial budaya dan politik.34

Kemudian berkembang juga untuk program S1. Ketika kurikulum IAIN 1995 disempurnakan pada tahun 1997 dengan SK Menag no 383 thn 1997 mulailah diperkenalkan satu mata kuliah baru “Metodologi Studi Islam”. yang dikembangkan dari mata kuliah

Dirasah Islamiyah.35

Metodologi Studi Islam (MSI) merupakan salah satu komponen mata kuliah dasar umum (MKDU) yang harus diikuti oleh semua mahasiswa di setiap fakultas dan jurusan dalam lingkungan Perguruan Tinggi Islam dengan bobot 3 SKS dan diberikan kepada mahasiswa pada semester pertama.

Metodologi Studi Islam merupakan mata kuliah yang penting (urgen)untuk diberikan kepada mahasiswa dalam rangka :

1. Memberikan bekal metodologis, yaitu kemampuan memilih dan menerapkan metode-metode yang dianggap cepat dan tepat serta efektif dan efesien dalam menempuh studi Islam sebagaimana yang telah digunakan oleh para ilmuan muslim dalam mengkaji Islam sehingga menimbulkan kesimpulan yang beragama. Pemahaman terhadap adanya keragaman metode dengan berbagai kelemahan dan kekurangannya dapat menumbuhkan sikap toleransi yang pada gilirannya menumbuhkan sikap kerukunan internal umat Islam;

2. Agar seorang mahasiswa dapat memahami perkembangan pemikiran metodologi yang telah dikembangkan para ilmuan muslim masa klasik (lalu) dan masa kini dalam mengkaji 34 Lukman S. Thaher, Studi Islam Interdisipliner : Aplikasi Pendekatan Fislafat,

Sosiologi dan sejarah, (Yogyakarta, Qirtas, 2004), hlm.vii-viii

Islam, baik sebagai upaya memurnikan ajaran Islam dari unsur yang merusak adat al-Islam maupun sebagai upaya untuk mengkontestualisasikan doktrin al-Islam itu sendiri . Pada gilirannya, para mahasiswa yang akan menjadi ilmuan ilmuan muslim masa datang akan menjadi sarjana muslim yang sangat toleran terhadap perbedaan pandangan antar sesama sarjana muslim yang lain, bahkan dengan nonmuslim sekalipun.

3. Mendapatkan pengetahuan konprehensi tentang Islam dalam berbagai asfeknya; Islam sebagaimana terdapat dalam sumber ajarannya yaitu Al-Qur’an dan al-hadits, ajaran Islam sebagai hasil interpretasi ulama, dan ajaran Islam sebagai pengamalan (historis);

4. Menjawab permasalahan berkenaan dengan pemahaman terhadap Islam, dengan meningkatkan pengusaan terhadap metodologi yang selama ini dianggap lemah. Hal ini antara lain pernah dikemukakan oleh Prof. DR. Ahmad Tafsir didepan dosen-dosen mata kuliah MSI IAIN SGD Bandung pada tanggal 11 September 1997;

5. Menciptakan kontekstualisasi Islam doktrin Islam secara temporal sehingga doktrin Islam akan tampak sellau aktual didalam kehidupan sosialkultural yang selalu dinamis dan mobil. Hal ini lebih memungkinkan karena para ilmuan muslim kontemporer tidak perlu lagi untuk memanfaatkan sebuah metode kajian untuk mengkaji al-Islam karena pada masa lalu para ilmuan muslim pun telah mmepergunakan metode itu untuk mengkaji al –Islam. 6. Dengan mengunakan metode yang cepat dan tepat, diharapkan

mahasiswa Perguruan Tinggi Islam memiliki pemahaman yang komprehensif mengenai Islam, sehingga melahirkan pengamalan Islam sebagai suatu kesadaran yang timbul dari dalam dirinya sendiri sehingga Islam yang dipelajarainya itu dapat ”mempribadi” di dalam dirinya. Disamping itu juga untuk menghindari terjadinya kesalah pahaman terhadap Islam baik oleh umat Islam maupun di luar Islam yang selama ini kerap kali dilakukan oleh sebagian para orientalis barat.

Dalam hubungannya dengan mata kuliah lain, mata kuliah MSI dipandang strategis untuk diberikan kepada mahasiswa semester pertama, selain MKDU bahasa Ingris dan bahasa arab. MSI memberikan bekal pengalaman dan metodologi dalam mempelajari sesuatu, termasuk mempelajari Islam, dan menjadi dasar dalam mempelajari mata kuliah lainnya pada semester berikutnya, seperti Ilmu Kalam/tauhid, Fiqh, akhlak/tasawuf, filsafat Islam; ulumul qur’an dan ulumul hadits.

Mengapa diperlukan metodologi dalam studi Islam ini?. Hal ini dikarenakan beberapa argumentasi , yaitu :

Pertama, Usaha untuk menampilkan kembali Islam yang

memiliki sejumlah hasanah dan warisan intelektual dari masa lalu ke masa sekarang. Dalam istilah Nurchalish Madjid, menjawab tantangan untuk menampilkan kembali Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Kemampuan menjawab tantangan ini banyak bergantung kepada pemikiran dan cara berfikir umat Islam tentang agamanya, dengan pola pikir yang Islami.5 Senada dengan itu Ali Syari’ati mengatakan bahwa faktor utama yang menyebabkan kemandekan dan stagnasi dalam pemikiran, peradaban dan kebudayaan yangberlangsung hingga seribu tahun di eropa pada abad-abad pertengahan adalah metode pemkiran Aristoteles. Dikala melihat masalah dan objek itu berobah, maka sains, masyarakat dan dunia juga berobah dan sebagai akibatnya kehidupan manusia menajdi berobah.36

Lebih lanjut Mukti Ali berpendapat bahwa metodologi adalah masalah yang sangat penting dalam sejarah pertumbuhan ilmu. Metode kognitif yang betul untuk mencari kebenaran adalah lebih penting daripada filsafat, sain atau hanya mempunyai bakat. Metode juga mempunyai peranan penting dalam kemajuan dan kemunduran. Adalah karena metode penelitian , kerena melihat sesuatu, bukan karena adanya atau tidak adanya orang-orang yang jenius, yang membawa stagnasi dan masa bodoh atau gerak dan kemajuan (Ali, 190 ; 28) Sebagai contoh yang terjadi pada abad ke 14 , 15 dan 16 5 (Madjid dalam Shodikin, 2002 : 30)

Masehi. Aristoteles (384-322 SM) sudah barang tentu lebih jenius dari Francis Bacon (1561-1626); dan Edison (1849-1931 M) yang merupakan muridnya yang menemukan sistim telepon dan telegram, listrik, booskop bersuara, kereta api listrik dan masih banyak lagi yang lainnya sampai-sampai ia memiliki 1300 hak paten. Plato (366-347 SM) adalah lebih jenius dari Roger Bacon (1214-1626); Pertanyaannya adalah apakah yang menyebabkan kedua Bacon dan Edison tersebut menjadi faktor dalam kemajuan sains, sekalipun keduanya itu jauh lebih rendah jeniusnya dari Plato dan aristoteles yang tidak bisa membangkitkan Eropa Abad Pertengahan, bahkan menyebabkan stagnasi dan kemandekan. Sebabnya adalah karena orang-orang yang biasa saja itu menemukan metode berpikir yang benar dan utuh, sekalipun kecerdasannya biasa, mereka dapat menemukan kebenaran.

Kedua,, adalah alasan ajaran Islam itu sendiri. Dalam hubungan

ini Shalahuddin Sanusi mengemukakan bahwa : Didalam memahami dan mempelajari Islam sebagai agama, diperlukan langkah yang tepat, yaitu harus memahami scoup atau ruang lingkupnya ajaran Islam, yaitu ajaran Islam itu meliputi material dan spiritual, duniawi dan ukhrawi, jasmani dan rohani, dan kita harus memahami isinya (squensinya) secara extensif (tiap-tiap unsur) atau suatu kesatuannya dari tiap asfek dan secara intensif (kedalamannya), hikmat, guna dan pengalamannya dalam kenyataan hidup dan kehidupan. 37

Dengan demikian pemahaman dan wawasan tentang metodologi studi Islam merupakan sesuatu yang penting (urgen) dalam rangka :

Pertama, Memberikan bekal metodologis, yaitu kemampuan

memilih dan menerapkan metode-metode yang dianggap cepat dan tepat serta efektif dan efesien dalam menempuh studi Islam sebagaimana yang telah digunakan oleh para ilmuan muslim dalam mengkaji Islam sehingga menimbulkan kesimpulan yang beragama. Pemahaman terhadap adanya keragaman metode dengan berbagai kelemahan dan kekurangannya dapat menumbuhkan sikap toleransi 37 Sanusi dalam Shodikin, dalam Jurnal Media Pendidikan, (2002) Volome XVI

yang pada gilirannya menumbuhkan sikap kerukunan internal umat Islam;

Kedua, Diperguruan tinggi diharapkan agar seorang mahasiswa

dapat memahami perkembangan pemikiran metodologi yang telah dikembangkan para ilmuan muslim masa klasik (lalu) dalam meng-kaji Islam, baik sebagai upaya memurnikan ajaran Islam dari unsur yang merusak adat al-Islam maupun sebagai upaya untuk meng-kontestualisasikan doktrin al-Islam itu sendiri. Pada gilirannya, para mahasiswa yang akan menjadi ilmuan ilmuan muslim masa datang akan menjadi sarjana muslim yang sangat toleran terhadap perbedaan pandangan antar sesama sarjana muslim yang lain, bahkan dengan nonmuslim sekalipun. Dengan mengunakan metode yang cepat dan tepat, diharapkan mahasiswa Perguruan Tinggi Islam memiliki pemahaman yang komprehensif mengenai Islam, sehingga melahirkan pengamalan Islam sebagai suatu kesadaran yang timbul dari dalam dirinya sendiri sehingga Islam yang dipelajarainya itu dapat ”mempribadi” di dalam dirinya. Disamping itu juga untuk menghindari terjadinya kesalah pahaman terhadap Islam baik oleh umat Islam maupun di luar Islam

Ketiga, Menjawab permasalahan berkenaan dengan pemahaman

terhadap Islam, dengan meningkatkan pengusaan terhadap metodologi yang selama ini dianggap lemah.

Keempat, Menciptakan kontekstualisasi Islam doktrin Islam

secara temporal sehingga doktrin Islam akan tampak selalu aktual didalam kehidupan sosial kultural yang selalu dinamis dan mobil. Hal ini lebih memungkinkan karena para ilmuan muslim kontemporer tidak perlu lagi untuk memanfaatkan sebuah metode kajian untuk mengkaji al-Islam karena pada masa lalu para ilmuan Muslim pun telah mempergunakan metode itu untuk mengkaji al–Islam.

Dari uraian diatas, tampak bahwa dalam melakukan studi terhadap Islam diperlukan metodologi yang tepat agar dihasilkan suatu kesimpulan mengenai Islam dalam keseluruhan asfek ajarannya secara tepat pula. Baik mengenai Islam sebagai sumber ajaran, Islam sebagai pemahaman, maupun Islam sebagai pengamalan. Termasuk

didalamnya adalah bagaimana cara yang cepat dan tepat mempelajari sumber pokok ajaran Islam, yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits. Selain itu dalam memahami masalah-masalah agama tidak saja diperlukan pendekatan kaidah-kaidah ilmiah, tapi juga diperlukan pendekatan imani.38

Berkenaan dengan hal tersebut diatas, maka dibawah ini akan dideskripsikan berbagai metode yang dapat digunakan dalam memahami agama . Hal ini perlu dilakukan, karena melalui pende-katan/metode tersebutlah kehadiran agama secara fungsional dapat dirasakan oleh penganutnya. Sebaliknya tanpa mengetahui berbagai pendekatan/metode, maka tidak mustahil agama menjadi sulit untuk dipahami oleh masyarakat, tidak fungsional, pemahaman masyarakat tidak kaffah, yang diketahui oleh masyarakat hanya bagian kecil dari ajaran Islam dan pada akhirnya masyarakat mencari penyelesaian masalah yang dihadapinya kepada selain agama dan tentu saja keadaan yang demikian tidak dikehendaki terjadi.

Dalam dokumen Studi Islam (Halaman 139-146)