(2- Habis)
MANTAN Duta Besar Muhamad Ali Chanafiah bukan satu-satunya yang terbuang akibat G-30-S/PKI. Ratusan anak pilihan yang punya intelektualitas tinggi, yang sedang belajar di luar negeri ketika peristiwa itu terjadi, juga mengalami nasib serupa.
Yang paling merasakan adalah mahasiswa yang kala itu studi di negara-negara sosialis seperti China, Rusia, dan negara-negara Eropa Timur lainnya seperti Hongaria atau Cekoslovakia. Mereka dikaitkan dengan peristiwa itu padahal mereka tidak tahu apa-apa karena mereka meninggalkan Indonesia jauh sebelum peristiwa itu meletus.
diakui Tom Iljas, lulusan Peking Institute of Agricultural Mechanization. ''Saya mendapat tugas belajar ke China awal 1960-an dan lulus 1965. Setelah Dubes Jawoto meninggalkan KBRI dan kedutaan diambil oper atase militer, tiba-tiba paspor saya ditahan pihak imigrasi. Saya tidak tahu alasannya. Saya benar-benar tidak tahu apa yang terjadi di Indonesia. Dan tiba-tiba, saya terlempar dari Indonesia. Stateless selama 18 tahun,'' Tom menuturkan.
Tom masih banyak mahasiswa lain. Keinginan untuk pulang pupus sudah. Maha- siswa Indonesia yang dikirim belajar ke luar negeri umumnya mengambil bidang teknik dan kedokteran.
''Kami orang-orang nasionalis yang mencintai tanah air kami,'' tambah Warsito Darmosukarto, lulusan jurusan fisika Universitas Moskow, ketika ditemui di kediaman Tom Iljas di Sodertalje, Stockholm, Swedia.
sudah 40 tahun berlalu, 'orang-orang yang terhalang pulang' itu masih menyimpan beragam kekhawatiran. Tidak mengherankan jika hanya empat di antara ratusan 'orang-orang yang terbuang' itu yang tersebar di seluruh Eropa mau bergabung dan berbagi cerita dengan Media. Lainnya memilih diam. Mengubur masa lalu yang menyakitkan. Mengubur kerinduan akan Tanah Air. Mengubur sanak, sahabat, dan kenalan.
Kekhawatiran itu beralasan. Sanak keluarga mereka di Tanah Air diasingkan hanya karena ada saudara mereka belajar di China, Rusia, Cekoslovakia, Hongaria, atau negara-negara Eropa Timur lainnya.
Pencabutan paspor membuat kebanggaan sebagai penerima beasiswa untuk belajar di luar negeri sirna sudah. Hal itu menjadi lengkap ketika suatu hari dipanggil ke KBRI. ''Di sana kami disuruh menandatangani surat untuk mengutuk Soekarno. Tapi saya menolak,'' tukas Warsito. Akibatnya, paspornya ditarik KBRI tanpa melalui pengadilan. Itu mungkin 'lebih baik' daripada apa yang dialami Sumarman. ''Saya tahu paspor saya ditarik justru lewat surat yang dikirim ke universitas,'' papar pria asal Palembang itu.
SEJAK saat itu perasaan menjadi tidak menentu. Hilang segala kontak dengan keluarga di Indonesia. ''Saya sempat kirim surat kepada orang tua saya. Isinya pendek, Saya tidak bisa pulang,'' cerita pria yang kini berusia 63 tahun itu. ''Tahu nggak apa yang terjadi? Adik saya diminta lapor setiap hari selama bertahun-tahun, hanya gara-gara ia menerima surat dari Moskow,'' sambungnya.
Keluarga mereka berantakan. Dijauhi tetangga karena dianggap PKI yang mem- bahayakan. ''Beberapa rekan kami bunuh diri karena tak tahan,'' cerita Warsito, pria kelahiran Cilacap, Jateng, 67 tahun silam itu.
''Ada juga yang jadi gila. Ada yang nekat pulang ke Indonesia, kemudian ditangkap dan dipenjara tanpa pengadilan,'' tambah Adrian Jamal, lulusan jurusan elektro Universitas di Chekoslovakia ini.
Paspor Adrian dicabut. Dia pun berpindah dari satu negara ke negara lain tanpa identitas. Tentu bukan hal mudah memulai hidup baru di negara lain. Bermula sebagai pekerja kasar, meski berijazah insinyur.
Seperti yang juga dialami Tom. ''Saya ke Swedia dan bekerja sebagai montir di Scania.'' Meskipun ia lulusan jurusan Mekanisasi Pertanian dari RRC, bukan berarti lantas ia mendapatkan pekerjaan yang layak. Kendala bahasa membuatnya harus memulai dari nol. Namun karena tekun, atasannya memberi kesempatan, hingga ia dipercaya mengepalai sebuah departemen dengan 60 karyawan hingga pensiun tahun lalu.
Meski secara ekonomi sudah mapan, mereka tetaplah pengungsi. Bertahun-tahun stateless. Yang dimiliki aliens passport yakni paspor yang dikeluarkan PBB untuk para pengungsi. Paspor itu berlaku ke seluruh dunia, kecuali ke negara asal. Menyedihkan! Akhirnya mereka terpaksa memilih kewarganegaraan suatu negara agar bisa pulang ke Indonesia, meski hanya sebagai turis di negeri sendiri.
Meski sudah memiliki paspor negara tertentu, tidak mudah bagi mereka untuk pulang ke Indonesia, apalagi ke kampung halaman. Itu dialami Tom, misalnya. Pada pertengahan 80-an, dia balik ke Indonesia. Dia harus mengendap-endap pada pukul 02.00 WIB dini hari menemui ibunya di sebuah desa di Pesisir Selatan, Sumatra Barat. Hanya dua jam Tom bertemu ibunya karena pada pukul 04.00 sudah harus kembali ke Padang.
Setelah reformasi baru agak nyaman, meski tetap waspada. Kini mereka bisa pulang ke kampung halaman sebagai turis dengan jatah 60 hari.
Paspor PBB
Banyak cara untuk mengekspresikan rasa cinta terhadap Tanah Air meski mereka sudah memegang paspor Swedia. Salah satunya adalah tidak menggunakan hak politik sebagai warga negara Swedia. ''Padahal peluang itu sangat besar. Banyak imigran seperti kami, kini duduk di parlemen, bahkan ada yang jadi menteri,'' tambah Warsito.
mereka sudah mulai bangkit lagi. Setidaknya ada setitik harapan ketika KBRI Stockholm mulai mengulurkan tangan. ''Sebelum ini kami dijauhi KBRI. Rasanya KBRI itu angker. Tapi, kini tali silaturahmi dengan KBRI memberikan sepercik kedamaian. KBRI adalah sarana untuk tetap memelihara identitas kami sebagai orang Indonesia. Bahkan kini kami diikutkan dalam acara 17-an,'' tukas Tom yang diangkat sebagai Ketua Olahraga Bridge di KBRI Stockholm.
Soal 'orang-orang yang terbuang' itu muncul dan tenggelam. Di masa Presiden Gus Dur ada titik terang. Namun, kandas karena tekanan politik dalam negeri amat kuat, rehabilitasi pun sirna. Di era Megawati Soekarnoputri, waktu pun berlalu tanpa ada kejelasan soal rehabilitasi. Padahal usia tetap melaju tanpa bisa dibendung.
''Yang kami inginkan adalah pemerintah Indonesia merehabilitasi kami. Memulihkan hak kewarganegaraan kami yang telah dicabut secara semena-mena, hingga kami stateless selama puluhan tahun. Kini usia kami sudah lanjut, lebih dari 60 tahun. Ibarat tinggal menunggu dipanggil Tuhan. Tapi kami tetap berharap bisa kembali ke Indonesia sebagai warga negara Indonesia,'' tambah Tom lagi.
mereka sama seperti keinginan Muhamad Ali Chanafiah yang disampaikan kepada Media malam itu. ''Saya ingin mati di Indonesia dan dikuburkan di sebelah makam istri saya,'' kata mantan Dubes RI di Sri Lanka itu.
Di usia yang lebih 90 tahun Chanafiah mencoba tegar. Dia melantunkan lagu yang masih dihafalnya dengan baik;
sana tempat lahir beta dibesarkan bunda berlindung di hari tua akhir menutup mata
Sahabat Bung Karno itu pun menarik napas panjang. Matanya menerawang. Jauh. (Rustika Nur Istiqomah/X-6)
*************** 0 0 0 0 0 0******************
MEDIA INDONESIA Rabu, 31 Agustus 2005