** Peralihan dari era Orde Lama ke Orde Baru diantarai oleh sebuah peristiwa kekacauan politik tahun 1965.
Peristiwa yang dipicu konflik di tubuh Angkatan Darat (AD) itu dengan serta merta menyeret nama Partai Komunis Indonesia sebagai dalang penculikan dan pembunuhan atas tujuh perwira AD pada dini hari tanggal 1 Oktober 1965.
Komentar:
A.H. : Sejauh ini, belum ada bukti kuat yang menyatakan PKI sebagai pelaku tunggal upaya kudeta melalui penculikan dan pembunuhan para jenderal Angkatan Darat tersebut. Peristiwa 1965 itu bersifat kompleks dan tidak bisa disederhanakan. Banyak pihak yang bermain dalam peristiwa kelabu tersebut. Saat ini terdapat beberapa versi tentang dalang di balik peristiwa itu. Ada yang mengatakan angkatan bersenjata, Soeharto, Soekarno, CIA dan tidak ada pelaku tunggal.
Keterlibatan Suharto dalam penculikan dan pembunuhan atas tujuh perwira AD pada dini hari tanggal 1 Oktober 1965, suatu puncak konflik berdarah di tubuh Angkatan Darat (AD), telah banyak dibahas oleh para ahli sejarah baik ditingkat nasional maupun internasional. Beberapa indikasi pokok ttg. keterlibatan Suharto yang telah dibahas antara lain sbb:
a. Perintah radiogram Suharto mendatangkan pasukan militer dari daerah dengan peralatan siap tempur untuk siap siaga di Jakarta menjelang peristiwa meletusnya G30S.
b. Kedekatan hubungan Suharto dengan para tokoh kunci G30S spt. Latief dan Untung serta laporan kolonel Latief kepada Suharto ttg. rencana penangkapan thd. para anggota "Dewan Jendral" pada malam menjelang penangkapannya, yang hal ini tidak dihalangi dan juga tidak dilaporkan kepada atasannya.
c. Suharto berbohong ketika dia bilang ada "pasukan tak dikenal identitasnya" yang berada disekitar istana negara pada tanggal 1 Oktober 1965. Kesaksian seorang perwira yang bertugas pada pasukan tersebut menyatakan, bahwa anak buahnya (tentaranya) selama seharian banyak yang keluar masuk kegedung KOSTRAD - tempat Suharto berkantor - untuk buang air kecil (kencing), sehingga adalah suatu hal yang tidak mungkin bila Suharto tidak tahu atau tidak diberi tahu oleh petugasnya ttg. identitas pasukan tsb.
Banyak ahli sejarah yang menarik kesimpulan, bahwa keterlibatan Suharto dalam G30S dan kemudian menumpasnya dengan dalih untuk melindungi presiden Sukarno, sebenarnya adalah merupakan bagian tak terpisahkan dari pelaksanaan strategi "kudeta merangkak" untuk merebut kekuasaan negara dari Bung Karno, dengan terlebih dulu menyingkirkan dan kekuatan kiri lainnya yang dianggap sebagai
penghalang pokoknya.Negara Barat, terutama AS pada waktu itu juga berkepentingan menyingkirkan Bung Karno, karena peranan Bung Karno didunia ketiga (Asia, Afrika dan Amerika Latin) dianggap merugikan kepentingannya, terutama usaha Bung Karno dalam menggalang kekuatan NEFO (New Emerging Forces), yang terdiri dari kekuatan anti imperialis diseluruh dunia menghadapi penindasan dan ancaman dari pihak imperialis yang disebut OLDEFO, terutama imperialis AS.
CONEFO atau Conference of Emerging Forces, yang sedianya akan diadakan di Indonesia dan direncanakan akan diikuti oleh wakil-wakil negara Asia, Afrika dan Amerika Latin juga oleh wakil-wakil kekuatan anti imperialis sedunia, gagal dilaksanakan setelah meletusnya peristiwa G30S.
** tragedi kemanusiaan di Lubang Buaya itu kemudian, dalam hitungan bulan, diikuti oleh tragedi kemanusiaan yang jauh lebih besar, yakni aksi .... berupa penangkapan dan pembunuhan atas anggota, simpatisan Partai Komunis Indonesia.
...Kaum beragama dijadikan alat bagi kepentingan membasmi musuh ideologi penguasa. Di atas kesadaran kaum beragama yang melakukan pembunuhan atas nama keyakinan agama mereka, berjalan kepentingan penguasa (Orde Baru) untuk membasmi musuh ideologi sang penguasa dan usaha menegakkan pamor kekuasaan....
Komentar:
A.H. : Operasi pembunuhan massal berencana yang dilakukan pasukan militer Angkatan Darat dibawah Komando Suharto, menurut pengakuan Komandan RPKAD Sarwo Edi telah mengakibatkan terbunuhnya 3 (tiga) juta korban jiwa. Sekitar 100.000 orang pernah dikucilkan untuk kerja paksa dipusat konsentrasi tahanan politik (Tapol) dipulau Buru. Jutaan orang yang dicurigai sebagai simpatisan PKI atau simpatisan Ormas yang dekat PKI, juga element kiri pendukung Bung Karno, oleh penguasa militer setempat diperlakukan secara sewenang-wenang. Banyak diantaranya yang dirampas harta kekayaannya kemudian dipenjarakan dipusat-pusat konsentrasi Tapol selama belasan tahun tanpa pengadilan. Para tahanan politik (Tapol) tersebut dibagi-bagi dalam kategori A,B dan C untuk kemudian didiskriminasi dalam kehidupannya. Doktrin militer fasis tentang "bersih lingkungan" dalam masa kekuasaan Orba/Suharto telah melipatgandakan jumlah Koban '65, karena bukan hanya para Tapol, yang jumlahnya jutaan itu yang didiskriminasi oleh negara fasis, tetapi juga para anggota keluarga dan sanak-familinya ikut mendapat diskriminasi oleh aparat kekuasaan negara diktator militer fasis Orba/Suharto. Jumlah seluruh Korban '65, para Tapol bersama anak cucunya diperkirakan sekitar 20 (duapuluh) juta orang.
Genosida '65 di Indonesia tercatat dalam sejarah dunia sebagai Kejahatan besar terhadap Kemanusiaan pada abad ke-20, yang taraf kekejaman dan kebiadabannya hanya bisa dibandingkan dengan kebiadaban Fasisme Hitler di Jerman.
** peristiwa 1965 telah jauh dari saat ini, dan meskipun rezim Orde Baru yang angkuh, yang berperan sebagai mesin pencipta stigma PKI, telah runtuh, namun bekas-bekasnya masih tersisa di mana-mana...
A.H. : Tuntutan para Korban '65 untuk dipulihkan kembali hak-hak asasinya sebagai warga negara, sampai saat ini belum terlaksana. Perjuangan untuk menegakkan HAM, Demokrasi, keadilan Sosial dan Keselamtan Lingkungan terus berlanjut. Menanggulangi beban sejarah kelam masa lalu adalah tugas yang mesti dipikul oleh seluruh bangsa Indonesia, bila ingin menjadi bangsa yang beradab ditengah pergaulan masyarakat dunia.
Arif
****************************
> Arif Darmawan: Sejarah memang harus diluruskan. Apa yang disebut "Gerakan 30 September/PKI" atau "Gerakan September Tugapuluh (Gestapu - ini bukan bahasa Indonesia, melainkan bahasa Inggris) atau yang selama lebih dari tiga dasawarsa telah meracuni otak warga bangsa Indonesia yang tidak sadar sejarah dan generasi muda yang menjadi korban upaya pembentukan pola pikir dan watak. Bandingkan dengan nama atau istilah yang digunakan oleh Bung Karno, yaitu "Gerakan Satu Oktober" (Gestok), karena sejak tanggal tersebut Suharto melakukan kudeta.
> Legowo: Tentang G30S sendiri sebenarnya sudah cukup jelas. Itu operasi militer yang dipimpin oleh orang-orang militer seperti LetKol Untung, Kol Latief, Brigjen Suparjo, dkk. Mereka menggerakkan beberapa batalion. Semula operasinya dijalankan secara rahasia. Tapi setelah bergerak mereka menyatakan diri secara terbuka. Siapa yang sudah bergerak, siapa yang memimpin, apa tujuannya, kenapa mereka bergerak, dst. Semua itu mereka katakan secara terbuka. Lalu semua gerakan itu mereka laporkan pada Panglima Tertinggi waktu itu, Bung Karno.
> Setelah mendengar laporan itu Bung Karno sendiri yang langsung memerintahkan G30S menghentikan gerakannya karena dia yang akan menyelesaikan persoalannya. Sementara pimpinan AD akan dipegang oleh BK dan dia akan menunjuk pimpinan AD yang baru. Pimpinan G30S taat pada perintah itu. Mereka membubarkan diri. Operasinya cuma 2 hari, semua operasi itu dilaporkan kepada panglima tertinggi dan kemudian operasinya dihentikan karena mereka mentaati perintah Panglima Tertinggi. Itulah G30S.
> Yang bagi saya masih kurang jelas adalah motivasi para perwira G30S. Kenapa mereka bergerak? LetKol Untung, Kolonel Latief dan Brigjen Suparjo itu perwira- perwira yang sangat menonjol di kalangan AD pada tahun 65. Mereka bukan militer kelas dua. Mengapa mereka bergerak? Mengapa berani menentang atasannya? Sebagai militer mereka tahu melawan atasan itu risikonya mati. Apakah karena mendengar isu Dewan Jenderal itu? Atau ada motivasi lain yang belum ditelurusi, belum dipelajari dengan teliti.
> Bagaimana latar belakang para prajurit, para kopral, sersan, letnan, kapten, mayor, dll yang bergabung dengan G30S? Itu buat banyak orang masih kurang jelas juga. Yang jelas mereka orang militer yang dilahirkan dalam revolusi kemerdekaan. Generasi LetKol Untung itu - waktu tahun '65 umurnya sekitar 30-an atau awal 40-an -- itu hampir tidak ada yang mendapat pendidikan militer versi kolonial (KNIL atau PETA). Mereka mulai bergabung dengan militer selama revolusi kemerdekaan 1945 s/d 1950 dan kemudian dibesarkan atau meniti karir militernya dalam beberapa
operasi militer paska revolusi seperti penumpasan PRRI/Permesta, DI/TII, operasi Trikora, dan Konfrontasi atau operasi Dwikora. Pengalaman itu membentuk alam pikiran mereka. Seberapa jauh pengalaman itu membentuk motivasi mereka untuk bergabung dalam G30S? Soal ini masih belum banyak dipelajari.
> Sampai sekarang mereka masih selalu dituduh "digerakkan oleh PKI." Padahal kita tahu betapa sukarnya orang sipil menggerakkan militer, di jaman apapun. Ketua Umum Golkar, partai yang sangat berkuasa selama Orba, itu tidak bisa menggerakkan satu batalion pun. Apalagi PKI, yang bukan partai yang berkuasa, pada tahun 65 itu.
> Arif Darmawan: Sudah banyak tulisan yang mengungkap peristiwa atau kejadian yang sebenarnya. Yang memang benar-benar terjadi.
> Legowo: Tentang G30 memang sudah cukup banyak. Membaca laporan Mahmilub juga sudah cukup lengkap. Begitu juga kalau kita membaca Pleidoinya Kolonel Latief, wakil komandan G30S, yang tahu persis seluk beluk G30S. Yang masih sangat kurang adalah dokumentasi, studi dan analisa tentang Pembunuhan Massal 65. G30S dan pembunuhan Massal 65 itu dua hal yang sangat berbeda tetapi selama Orba keduanya disamarkan. G30S diasosiasikan dengan Pembunuhan Massal. Padahal bukan G30S yang melakukan pembunuhan massal.
> Pembunuhan Massal itu operasi militer yang dipimpin langsung oleh Suharto tanpa sepengetahuan Panglima Tertinggi. Ketika Suharto bergerak memimpin pembunuhan massal di Jateng (Oktober), Jatim (Nopember) dan di Bali (Desember) Bung Karno tidak tahu. Tidak ada laporannya. BK harus membentuk Tim Pencari Fakta untuk tahu apa yang sedang terjadi. Sampai sekarang bagi masyarakat Indonesia pembunuhan massal itu juga masih simpang siur. Memang hampir semua orang pernah mendengar. Tapi di mana persisnya, bagaimana terjadinya, bagai- mana itu mulai dan bagaimana bisa berhenti, berapa banyak korbannya, siapa yang berperan dalam pembunuhan, siapa aktor intelektualnya, siapa yang mengorganisir di lapangan, siapa yang mensuport logistik, siapa yang melatih, dst, itu semua masih belum jelas.
> Arif Darmawan: Menjadi tugas warga bangsa Indonesia yang memiliki tanggung jawab penuh terhadap nasib bangsa dan negaranya untuk tidak kenal lelah "berteriak" guna meluruskan sejarah.
> Legowo: Tahun 2005 ini ada serangkaian acara untuk memperingati Peristiwa 65. Undangannya saya lampirkan di bawah ini. Yang menarik dari rangkaian acara ini adalah karena penyelenggaranya coba merangkul banyak ilmuwan, sastrawan, ahli perfilman, budayawan, musisi, aktifis muda keagamaan (Syarikat-Indonesia), pembimbing rohani, dll dari beberapa generasi dan bukan hanya dari kalangan korban. Saya kira mereka merintis tradisi baru, mencoba mengungkapkan masalah 65 sebagai masalah bangsa. Bukan masalah para 'korban' saja. Ini tradisi yang bagus untuk dikembangkan terus.
*Kolom IBRAHIM ISA --- 4 Agustus 2005.
SUHARTO BUKAN "PETRUK" TAPI "PETRUS"!
<"Petrus" acronym dari "Penembak Misterius">
Kira-kira 5 tahun yang lalu, Ben Anderson menulis sebuah artikel penting berjudul ‘PETRUS DADI RATU’ (New Left Revue May-June 2000). (Baca halaman 775) Di situ beliau membeberkan fakta-fakta dan data-data: bahwa apa yang terjadi pada dinihari tanggal 1 Oktober 1965 <terkenal dengan nama ”Gerakan 30 September”>, adalah suatu operasi intelejen tentara, yang diregisir sedemikian rupa, dengan maksud supaya gagal. Kemudian peristiwa yang gagal itu diguna- kan sebagai alasan untuk mengambil tindakan drastis, melakukan pengejaran dan pembantaian terhadap kaum komunis (PKI) dan golongan kiri, dengan sasaran merebut kekuasan dari Presiden Sukarno. Tulisan Ben itu, meski ditulis 5 tahun yang lalu tetapi masih relevan. Bahkan merupakan suatu bahan analitis yang beralasan dan argumentatif, juga meyakinkan mengenai kesimpulan yang diambilnya.
Pada bagian akhir tulisannya itu Ben Anderson, dengan serius menulis:
Sebagian besar dari para pelaku pada peristiwa tsb dan yang terjadi sesudahnya, para saksi kunci mengenai krisis 1965, -- atau sudah mati atau dibunuh. Mereka yang masih hidup menutup mulut mereka rapat-rapat, atas dasar berbagai motiv: umpamanya Umar Wirahadikusuma, Omar Dani, Sudharsono, Rewang, M. Yusuf, Benny Murdani, Ny. Hartini, Mursyid, Yoga Sugama, Andi Yusuf dan Kemal Idris. <Sejak tulisan Ben itu, sudah banyak pula yang sudah meninggal>. Kini, 35 tahun kemudian sejak 1965, apakah tidak baik demi haridepan bangsa Indonesia bila orang-orang ini diharuskan untuk memberikan kesaksian yang paling rinci mengenai apa yang mereka lakukan dan saksikan, sebelum mereka menemui Sang Pencipta? Demikian Ben.
Menurut pepatah kuno, tulis Ben Anderson lagi, --- mesin giling Tuhan bekerja lamban tetapi hasil gilingannya halus sekali. Makna dari peribahasa ini ialah, akhirnya beras-kebenaran akan dipisahkan dari dedak-kerincuan dan kedustaan. Di setiap bagian dunia ini, betapapun, -- pada suatu hari kelak, dokumen- dokumen yang dalam waktu lama dirahasiakan, manuskrip dan memoir yang tersimpan dalam laci-laci terkunci, dan catatan-harian penuh abu di loténg para cucu, akhirnya akan dimasukkan ke mesin giling—NYA, dan isinya akan terbuka bagi generasi mendatang.
Demikianlah keyakinan Ben Anderson, bahwa bagaimanapun kerahasiaan dan kebohongan menutupi peristiwa 1965, ditutupi, pada suatu hari kelak semuanya itu akan terbongkar, dan kebenaran akan terungkap.
Ben memulai tulisannya dengan menganalisis tentang pembelaan Kolonel Latief di muka sidang Mahmilub, sesudah 13 tahun lamanya ia disekap dalam tahanan
khusus, disekat dari setiap hubungan luar. Ben Anderson menyamakan pembelaan Kolonel Latief tsb, dengan pidato pembelaan Bung Karno dimuka pengadilan kolonial Bandung, yang pada hakikatnya adalah pidato gugatan terhadap kolonialisme: INDONESIA MENGGUGAT (1930). Juga Kolonel Latief menggugat Jendral Suharto, menggugat Orba, teristimewa kekejamannya, mengenai kelicikan dan despotisme penciptanya.
Sayang sekali bahwa dokumen bersejarah ini harus menunggu 22 tahun sampai ia bisa dibaca oleh rakyat Indonesia, yang dicintainya, kata Ben.
Semula aku merasa pasti betul bahwa Ben Anderson, Indonesianis terkenal berbangsa Amerika, yang bersama Indonesianis Amerika lainnya, Ruth McVey, pada periode awal Jendral Suharto (lewat cara kup merangkak) merebut kekuasaan dari Presiden Sukarno, --- menulis sebuah analisis (preliminary) sekitar “G30S”, -- yang kemudian terkenal dengan nama “CORNELL PAPERS”,--- bahwa ia (Ben Anderson) telah membuat kekeliruan dalam memilih judul tulisannya, --- tentang pembantaian 1965 yang terjadi di Indonesia. ‘PETRUS DADI RATU’, begitulah judul tulisan Benedict Anderson. Seingatku salah satu cerita wayang yang populer di kalangan penggemar ceritera wayang di Jawa dan Indonesia, ialah cerita ‘PETRUK DADI RATU’. Artinya ‘Petruk jadi ratu’. Jelas tokoh itu bernama ‘Petruk’, dengan huruf terakhir (k), bukan ‘Petrus’ yang huruf akhirnya adalah (s). Kutanyakan pada istriku, Murti, yang orang Jawa itu, -- bukankah tokoh ‘Petruk’ itu dari ceritera wayang? ‘PETRUK’, kata Murti, adalah salah satu tokoh ‘badut’ bersama ‘GARENG’ dan BAGONG. Tokoh lainnya adalah bapaknya, bernama ‘SEMAR’, yang sesungguhnya adalah dewa. Dalam ceritera wayang itu, tokoh-tokoh itu adalah tokoh positif. Ke-empat-empatnya adalah tokoh yang amat populer dalam ceritera wayang. Amat disukai rakyat. Karena mereka- mereka itu lucu, cerdik. Kuingat pada zaman tahun-tahun Republik Indonesia diproklamasikan, Radio Republik Indonesia (RRI)di Jakarta menyiarkan acara tetap seminggu sekali, suatu ‘talkshow’ yang dibintangi oleh Mang CEPOT dan Mang UDÉL. Dua tokoh ini adalah dari ceritera wayang-golék Sunda (Jawa Barat), yang juga populer, lucu dan cerdik. Menggunakan tokoh-tokoh ceritera wayang untuk menyoroti ‘kekinian’ adalah suatu tradisi dalam kebudayaan rakyat kita.
Kufikir, mengapa pula Ben Anderson mengambil tokoh ‘PETRUK’ dalam menjuluki Suharto. Ini, kalau benar yang dimaksud Ben Anderson memang ‘Petruk’ tetapi Ben salah tulis, lalu ‘PETRUK’ menjadi ‘PETRUS’. Kufikir lagi, bukankah PETRUK itu adalah seorang tokoh positif dalam ceritera wayang. Sedangkan Ben Anderson adalah salah seorang pakar asing PENGERITIK Suharto yang paling vokal, argumentatif atas dasar data-data dan kesaksian- kesaksian, dan amat beralasan. Maka jadilah soal mengapa mengumpamakan Suharto dengan PETRUS?
Sesudah membaca sampai selesai artikel Ben Anderson tsb, jelas bahwa Ben Anderson t i d a k s a l a h tulis. Memang, yang beliau maksudkan adalah ‘P E T R U S DADI RATU’. Dan yang dimaksudkan dengan “Petrus” itu, seperti kita tahu semua, adalah “Penembak Misterius”. Jelas pula bahwa Ben Anderson menyamakan SUHARTO dengan ‘PENEMBAK MISTERIUS” aparat negara, yang