HASIL ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
A. HASIL ANALISA DATA
III. ANALISA INTER RESPONDEN (LINDA – LENI)
LINDA LENI
Latar Belakang dan Pilihan Hidup
• Sejak kecil, hidup susah bersama ibu saja (ayah menikah lagi) dan harus bekerja keras bersama-sama untuk memenuhi kebutuhan hidup. Linda memiliki ibu yang sabar, bersemangat, dan pantang menyerah dalam menghadapi setiap masalah yang menimpa ibu dan dirinya. Linda juga memperoleh didikan agama yang membuat dirinya rajin mengunjungi vihara dan terbiasa menjalankan ibadah.
• Menikah dan membina keluarga yang harmonis selama 5 tahun dan memiliki 2 orang anak. Bisnis suami yang bangkrut menjadi alasan suaminya melakukan KDRT (fisik dan verbal) dan akhirnya bercerai.
• Perceraian dengan suami yang sangat dicintai memicu perasaaan sedih, sakit hati, tertekan (internal). Selain itu, kesulitan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari bersama-sama ibu dan dua orang anak (eksternal) mempengaruhi choices yang dijalani dan mengarah pada pilihan menjadi PSK, apalagi diri sendiri yang tidak memiliki cukup ketrampilan.
• Sejak kecil, kurang mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tua yang dipersepsikan oleh Leni sebagai adanya perlakuan yang tidak adil dari orang tua terhadap dirinya dibanding dengan saudara kandungnya. Untuk menarik perhatian orangtua, Leni berusaha meraih prestasi dengan mendapat beasiswa untuk tingkat SMA.
• Menikah secara hukum agama saja dan hidup bersama suaminya, namun menjelang kelahiran anak, suami selingkuh dan melakukan KDRT (fisik dan verbal) pada dirinya dan akhirnya bercerai.
• Perceraian dengan suami karena suami selingkuh, tidak setia, dan kemudian merampas anak yang dilahirkan memicu rasa marah dan kesal, ingin balas dendam pada mantan suami (internal). Kembali ke orangtua dan melihat keadaan orang tua yang mengalami kesulitan pemenuhan kebutuhan dan biaya pendidikan kedua adiknya (eksternal) mempengaruhi choices yang mengarah pada pilihan menjadi PSK, apalagi tidak ada ketrampilan tertentu untuk memilih pekerjaan lain.
Tahap Derita
• Didominasi emosi negatif; sedih, kesal, kecewa, tertekan, menderita, stress, merasa terkhianati, serta pikiran untuk bunuh diri karena berpisah dengan orang yang dicintai
• Merasa bersalah karena berbohong pada orang tua, membuat malu keluarga
• Menutupi status, was-was pada siapapun dan kemanapun, takut didiskriminasi masyarakat, menyesal menyandang status sebagai PSK.
• Merasa kecewa, kesal, marah, sakit hati, menyesal telah menikahi pria tidak setia.
• Kehilangan anak yang lahir dan segera terpisahkan karena diambil oleh mertua yang menganggap Leni tidak mampu membesarkan anak. Sesekali bertemu dengan anak yang tidak mengenal dirinya sebagai ibu dan menyesal tidak mempertahankannya.
• Berbohong pada orang tua karena takut diasingkan lagi dan membuat malu keluarga terkait dengan statusnya sebagai PSK.
115
Searching for meaning Trigger factor :
Perasaan sedih yang berlarut-larut, memikirkan masa lalu yang menyedihkan dan ada perasaan menyesal memilih jalani hidup sebagai PSK menimbulkan pemikiran dan mencoba untuk bunuh diri. Hal ini diketahui oleh ibu yang dengan sabar dan pantang menyerah memberikan nasehat dan dukungan kepadanya.
Pengalaman ibu dan adanya nasihat membuat dirinya sadar dan timbul motivasi serta berkeinginan untuk menjadi kuat seperti ibu dalam menjalani hidup dan menghadapi masalah. (internal)
Trigger factor:
Adanya kebutuhan untuk mendapat perhatian dan kasih sayang mendorong Leni untuk kembali membina hubungan intim dengan seseorang dan sempat berhenti menjadi PSK. Tetapi hubungan ini hanya bertahan 5 bulan, berakhir karena kecewa dengan perlakuan pacar.
Melihat kesulitan ekonomi orangtua yang membuat adik terancam tidak sekolah membuat ia akhirnya memutuskan kembali menjadi PSK untuk membantu orangtua dan focus untuk bertahan hidup. Dengan membantu orangtua membuat orangtua mulai memperhatikan dan memberi kasih sayang padanya, dan ini menjadi dorongan baginya untuk bangkit dari pengalaman menyakitkan dan kembali menjalani kehidupan. (Eksternal / situasional).
Tahap Penerimaan Diri
• Memahami dan menerima keadaan diri yang telah berlarut-larut dalam kesedihan dan sadar bahwa diri sendiri sudah seharusnya bangkit dan menjalani kehidupan dengan sabar dan bersemangat (Internal)
• Menjalani kehidupan dengan tidak lagi berfokus pada diri sendiri dan melihat kondisi luar diri sehingga menyadari ada hal-hal yang penting dan berharga dalam hidup. Berkonsultasi dengan Bhante dan mendapat saran memperkuat keyakinan untuk lebih rasional dalam menghadapi kehidupan.
• Adanya dukungan dari ibu dan Bhante yang disertai dengan motivasi dan niat dalam diri untuk menjadi lebih kuat dan sabar dalam menghadapi tantangan masa depan.
• Memahami keadaan diri yang terlalu mementingkan masalah percintaan dan melupakan keluarganya yang pada akhirnya sadar ketika perlakuan orang tua berubah menjadi peduli dan perhatian sehingga dirinya menginginkan perhatian dan penerimaan dari orang tuanya.
• Menjalani kehidupan sebagai pencari nafkah bagi keluarganya, walaupun dirinya mengetahui bahwa abang dan kakaknya kurang memperhatikan kondisi keluarga dan hanya dialah satu-satunya anak yang peduli dan berbakti pada mereka.
• Fokus untuk bertahan hidup dengan tetap menjadi PSK agar mendapat penghasilan dan dapat tetap membantu kebutuhan orangtua.
Tahap Penemuan Makna
Linda menyadari bahwa ada hal yang penting dan berharga dalam hidup ketika dirinya mendekatkan diri dengan orang-orang terdekatnya (ibu dan kedua anaknya), dan merasa membutuhkan dan mencintai mereka.
Hal ini membuat Linda kemudian menetapkan tujuan hidupnya dengan nilai-nilai makna hidup yang menjadi prinsipnya, antara lain:
Experiential value (+): Mengambil hikmah dari
Leni menyadari bahwa ada hal yang lebih penting dan berharga daripada bergantung hidup pada laki-laki. Hal ini berkaitan dengan keinginannya untuk diperhatikan dan dipedulikan orang tuanya.
Berusaha untuk lebih memperhatikan pemenuhan kebutuhan hidup agar memperoleh pengakuan dan penerimaandari orang tua. Terkait dengan hal ini, Leni memanfaatkan pekerjaannya sebagai PSK dengan tujuan untuk memenuhi keinginannya yang tercermin dalam nilai:
116
berubah melihat masa depan dan tidak menyesal akan masa lalu.
Attitudinal value (+): mengambil sikap yang tepat yang disertai dengan tindakan yang tepat terkait dengan penderitaannya sebagai PSK; dengan tujuan mengubah kondisi dirinya.
Linda yang memiliki experiential value dan attitudinal value membuat dirinya mampu mengambil sikap dan tindakan yang tepat dalam situasi yang sulit; bahkan ketika mengalami penderitaan, Linda mampu mengambil hikmah atas kejadian yang menimpanya dengan menambah keyakinan dan kepercayaan pada Tuhan. Berkaitan dengan hal ini, Linda menjadi berpandangan optimis, memiliki perasaan positif dan semangat dalam menghadapi tantangan ke depan.
memiliki keterampilan sehingga memutuskan untuk mempertahankan pekerjaannya sebagai PSK dalam membantu menghidupi keluarganya dan menjalankan tanggung jawabnya sebagai anak pada orang tua. Leni yang sangat bergantung dengan pekerjaannya sebagai PSK, memilih mempertahankan pekerjaannya sebagai bentuk rasa tanggung jawab pada keluarga. Leni yang memiliki creative value menyadari bahwa kondisi diri yang tidak memiliki keterampilan sehingga memilih tetap sebagai PSK untuk membantu keluarganya dan mendapatkan perhatian dan kasih sayang orang tuanya
Tahap Realisasi Makna Terhenti pada Tahap Penemuan Makna
Linda memiliki beberapa alternatif dalam memenuhi hasrat untuk hidup bermakna yang dapat ditunjukkan dengan:
• Berpandangan optimis dalam menghadapi tantangan masa depan yang akan dialami oleh diri sendiri dan keluarga => kognitif
• Bersemangat, pantang menyerah, dan berpegang pada prinsip => afektif
• Berbagai kegiatan terarah yang dilakukan seperti: mencoba mencari pekerjaan baru, mengenal beberapa pria dan menemukan seorang pria Batak duda sebagai teman curhat, melunasi hutang-hutangnya, dan berhasil meluluskan kedua anaknya hingga perguruan tinggi, bertambahnya anggota keluarga yang berasal dari anak pertama dengan kehadiran seorang cucu, meluangkan lebih banyak waktu menemani ibunya yang sudah lanjut usia. => perilaku
Linda memantapkan diri dan mengikrarkan diri untuk berusaha memenuhi makna dan tujuan hidupnya; membesarkan anak-anak dan memberikan pendidikan yang terbaik bagi mereka, dan juga mencoba membanggakan dan membahagiakan ibunya.
Dalam upaya merealisasikan makna hidupnya, Linda termasuk salah satu orang yang menetapkan beberapa nilai yang sama penting untuk diwujudkan, dan seandainya nilai tersebut tidak terpenuhi, maka Linda tetap dapat menjalani kehidupan sehingga tidak akan
Keragu-raguan Leni dalam mengambil tindakan dan perasaan takut untuk memulai hidup yang baru apabila dia meninggalkan pekerjaannya, dan merasa semua kasih sayang, perhatian, dan kepedulian yang dialaminya akan pudar jika dirinya tidak lagi sanggup membantu orang tua dan memiliki penghasilan yang banyak seperti saat ini.
Leni mengetahui benar keterampilan yang dimiliki dengan hanya bekerja sebagai PSK dia mampu membiayai hidup diri sendiri dan keluarga, dan juga dengan penghasilannya dapat mengunjungi anaknya yang berada di Malaysia.
Leni mengandalkan pekerjaannya sebagai PSK menjadi salah satu penyebab penderitaannya, dalam menjalaninya merasa dirinya hampa. Hal ini terjadi karena dirinya masih ragu dan takut apabila dirinya meninggalkan pekerjaannya, maka semua yang pernah dirasakan akan memudar dan menghilang. Berkaitan dengan hal ini menunjukkan bahwa nilai makna hidup yang dimiliki Leni bukan menjadi tujuan hidup yang sebenarnya, dirinya belum mampu bersikap dan mengambil tindakan yang tepat mengenai penderitaan yang dialami (belum mampu mengambil hikmah) karena pikiran dan perasaan negatif masih mendominasi sehingga timbul keraguan dan ketakutan dalam diri. Berkaitan dengan hal ini, Leni mempertanyakan kembali tujuan hidup yang sebenarnya yang ingin dipenuhi karena kehampaan yang dirasakan ketika menjalankan niatnya untuk
117
pernah bingung dan kehilangan orientasi dalam hidupnya.
memenuhi keinginan untuk diterima dan diperhatikan kedua orang tuanya hingga akhirnya kehilangan arah dan ketertarikan untuk menjalaninya.
Will to meaning Back to tahap derita
Hasrat untuk hidup bermakna muncul dari sejak Linda sadar telah menemukan makna dan tujuan hidupnya dan memiliki niat dan berjanji pada diri sendiri untuk memenuhi makna dan tujuan hidupnya, berusaha mencari pekerjaan lain dengan mempelajari keterampilan baru sambil melunasi hutang-hutangnya sebagai PSK, yang semuanya dilakukan secara sadar dan terarah sehingga uang yang didapatkan adalah untuk menghidupi keluarga dan membiayai pendidikan kedua anaknya.
Selama menjalani hidupnya sebagai PSK untuk membantu menghidupi keluarga dan dirinya sendiri, Leni masih memikirkan penyesalannya tidak mempertahankan anak yang susah payah dia lahirkan, dan kerinduannya pada anak sendiri. Senang mendapat perhatian dan kasih sayang kedua orang tuanya, akan tetapi bukan hidup seperti ini yang sebenarnya dia inginkan. Leni menginginkan sebuah tujuan hidup yang dapat membuat hidup bersemangat dan bergairah untuk meraihnya agar dapat benar-benar merasa bahagia dan merasa hidupnya bermakna. Terpenuhi hasrat untuk hidup bermakna Still Searching for real meaning Tidak pernah bingung atau kehilangan orientasi dalam
merealisasikan tujuan hidupnya. Hal ini karena Linda menyadari bahwa dirinya yang berusaha tanpa pernah menyerah, maka apapun hasil yang didapatkan tidak membuat dirinya menyesal. Linda yang mampu mengambil hikmah dari segala konsekuensi dari tindakan yang dilakukan.
Leni sadar bahwa dirinya mengalami kehampaan dalam hidup. Hal ini karena dirinya sering mempertanyakan diri sendiri, apakah dengan menjadi PSK adalah tujuan hidup yang didambakannya. Walaupun dia tahu bahwa dengan menjadi PSK, dia dapat melakukan kewajibannya sebagai anak.
Leni menjadi ragu-ragu dan takut untuk berhenti menjadi PSK. Dia berusaha melaksanakan tanggung jawabnya, dengan kondisi diri yang merasa hampa dan kosong karena masih dalam pencarian sebuah tujuan hidup yang dapat membuat dirinya memiliki gairah dalam perwujudannya.
Tahap kehidupan bermakna People in doubt
Keyakinan Linda sepenuhnya atas lindungan dan pertolongan Tuhan dalam melaksanakan niat baiknya dalam upaya mencari nafkah untuk keluarga dan membesarkan anak serta membahagiakan ibunya. Berkaitan dengan hal ini, Linda mampu menghadapi tantangan ke depan sebagai seorang janda yang kesulitan keuangan, dan akan mendapat godaan dari banyak lelaki. Linda tetap sabar, selalu berpandangan optimis dan bersemangat demi ibu dan anak-anaknya dalam menghadapi challenges yang akan dialami keluarganya hingga tujuan hidupnya terwujud. Dengan berpegang teguh pada prinsip, self-commitment dalam menghadapi challenges, dan faith pada kuasa Tuhan yang dapat memberikan perlindungan dan pertolongan dalam menjalankan niat baiknya.
Leni masih yakin dan percaya apa yang dapat dilakukan saat ini, namun tidak adanya semangat, melainkan takut dan ragu-ragu dalam menghadapi tantangan dan ketidakpastian masa depan, belum bisa membuat dirinya belajar dari pengalaman dan mengambil hikmah atas pilihan hidupnya sendiri. Dengan kata lain, Leni ragu-ragu dan takut dalam mengambil langkah dan tindakan ke depan dengan beranggapan bahwa hasilnya akan sama dan mengecewakan bagi diri sendiri, walaupun dirinya sadar bahwa dia sedang mengalami kehampaan dalam hidup.
118
B. PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil analisa data pada Responden #1 dan Responden #2 dilihat bahwa Responden #1 berhasil meraih hidup yang bermakna (the meaningful life), sedangkan Responden #2 tidak mampu meraih hidup yang bermakna. Hal ini ditandai dengan adanya will to meaning yang dimiliki oleh responden #1 dan tidak dimiliki oleh responden #2. Will to meaning merupakan motivasi dasar manusia untuk meraih hidup yang bermakna (Sahakian dalam Bastaman, 2006). Motivasi inilah yang membuat responden #1 mampu merencanakan hidup ke depan dan melakukan kegiatan terarah untuk memenuhi tujuan hidup yang telah ditetapkan. Berbeda pada responden #2 yang malah merasa takut dan ragu untuk mengambil langkah ke depan karena masih mempertanyakan tujuan hidupnya yang sebenarnya.
Berkaitan dengan hal responden #2 yang tidak berhasil meraih hidup bermakna dan malah kembali menderita serta mencari-cari makna hidup yang sebenarnya ini, dapat ditinjau melalui tahapan kebermaknaan hidup yang telah dilalui masing-masing responden. Berada pada tahap derita, responden #2 melakukan pelampiasan atas derita yang dialaminya dengan kembali berhubungan intim yang pada akhirnya gagal karena mengalami kekerasan dalam berpacaran, dalam hal ini berbeda dengan responden #1 yang menyimpan segalanya dalam hati hingga akhirnya sempat melakukan percobaan bunuh diri. Akan tetapi, responden #1 memperoleh social support dan figure ibunya yang telah berhasil bangkit dari penderitaan hidup menjadi reinforcement bagi responden #1 untuk menerima keadaan diri dan menyadari kondisi di luar dirinya, sedangkan
119
responden #2 yang berjuang sendirian dengan belajar dari pengalaman pahit yang dialami tanpa dukungan dari teman ataupun orang tuanya.
Keberhasilan responden #1 dan responden #2 untuk bangkit dari tahap derita menuju tahap penerimaan diri dapat ditinjau dari pemahaman diri dan pengubahan sikap yang dilakukan kedua responden. Dalam hal pemahaman diri, responden #1 memiliki keyakinan bahwa dengan kemampuan dan usaha sendirilah dia dapat meraih apa yang diinginkan. Keyakinan responden #1 dalam upaya meraih tujuan hidup yang diinginkan menunjukkan bahwa responden #1 memiliki Internal Locus of Control. Internal Locus of Control berarti seseorang yang merasa memiliki kontrol atas nasib dan hidupnya melalui usaha dan tindakan diri sendiri bukan dari orang lain maupun lingkungan (Rotter dalam Schultz, 1995), sedangkan responden #2 tidak yakin dengan kemampuan diri sendiri apabila dirinya sudah tidak menjadi PSK yang menyebabkan orang tuanya tidak akan lagi menyayangi dirinya. Ketakutan responden #2 untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai PSK dan ketergantungannya pada pelanggan yang bersedia memakai jasanya menunjukkan responden #2 memiliki External Locus of Control.
External Locus of Control berarti seseorang yang merasa tidak memiliki kontrol atas hidup dan nasibnya, dan merasa nasibnya adalah suatu keberuntungan, ditentukan oleh orang lain dan lingkungan (Rotter dalam Schultz, 1995). Locus of Control yang dimiliki responden #1 dan responden #2 menunjukkan perbedaan kedua responden dalam memandang keadaan diri sendiri dan pencarian makna yang dilakukan. Internal locus of control responden #1 yang membuat dirinya
120
hidup melalui vicarious learning yang menjadi reinforcement bagi responden #1 untuk melihat ke depan. Berbeda dengan external locus of control responden #2 yang membuat dirinya mengantisipasi ataupun menghindari kegagalan mempertahankan pekerjaannya sebagai PSK dengan tujuan untuk memenuhi need for acceptance dan need for recognition dari orang tuanya.
Peran locus of control terhadap pemahaman diri responden #1 dan responden #2 juga turut menentukan sikap dan tindakan mereka dalam menanggapi pengalaman yang dialami kedua responden. Berkaitan dengan hal ini, maka pemahaman diri mempengaruhi pengubahan sikap (changing attitude) yang dilakukan kedua responden. Pada aspek pengubahan sikap ini, responden #1 melihat pengalaman ibunya yang berhasil mengatasi penderitaan yang dialami (vicarious experience) menjadi reinforcement untuk bangkit dari perasaan sedih yang berlarut-larut menjadi lebih rasional dalam menghadapi kehidupan dan
figure ibu yang sabar dan semangat ideal model bagi responden #1 untuk melanjutkan kehidupan. Hal ini dapat dilihat dari responden #1 yang mulai mengarahkan diri sendiri untuk bertindak positif (positive act); kembali menjalankan ibadah, memperhatikan kesejahteraan keluarga, dan berkonsultasi dengan Bhante yang memberikan dampak positif terhadap perkembangan dan kehidupan sosialnya (psycho-social). Berbeda dengan responden #2 yang sebelumnya sempat meninggalkan pekerjaannya dan memilih untuk berhubungan intim dengan pria lain, namun berakhirnya hubungan tersebut, menyadarkan diri responden #2 dengan mengubah arah hidup dari need for love menjadi
121
kembali menjalankan tanggung jawab dan kewajibannya untuk membantu pemenuhan kebutuhan keluarga dan pendidikan kedua adiknya.
Berkaitan dengan aspek pengubahan sikap, maka kecendrungan berperilaku pada responden #1 dan responden #2 dapat dijelaskan melalui teori Rotter melalui 4 konsep Social Learning, yaitu behavior potential, expectancy, reinforcement value, dan psychological situation (Rotter dalam Schultz, 1954). Ke-4 konsep tersebut menjelaskan perbedaan antara Responden #1 dan Responden #2 dalam mengubah sikap mereka dan bertindak ke depan. Responden #1 yang telah menyadari pengalaman ibunya yang juga pernah mengalami KDRT dan berakhir dengan bercerai, mengembangkan expectancy dengan menyakini bahwa bila dirinya mampu menjadi seperti ibunya yang optimis, sabar dan pantang menyerah, maka dirinya juga mampu seperti ibunya menghadapi tantangan hidup. Walaupun Responden #1 menyadari bahwa situasi yang dialami tidak sama persis dengan yang dialami ibunya, namun adanya kesamaan sehingga hal tersebut menjadi reinforcement value bagi Responden #1 untuk berubah dan menjadi sehebat ibunya. Hal ini didukung oleh psychological situation yang dialami Responden #1 saat ini dengan adanya semangat, motivasi, dan keinginan untuk changing attitude ditambah dengan adanya social support dari ibu dan Bhante semakin memperkuat behavior potential untuk bangkit dari kesedihan yang berlarut-larut dan menjalani kehidupan bersama dengan keluarga yang merupakan hal penting dan berharga dalam hidupnya. Sedangkan responden #2 yang belajar dari dua pengalaman berhubungan dengan pria membuat Responden
122
memilih untuk membina hubungan untuk ketiga kalinya sehingga dirinya mengubah reinforcement value dengan berfokus membantu pemenuhan keluarganya dengan expectancy bahwa dirinya yang kembali menjadi PSK dan membantu keluarga akan mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya. Hal-hal yang turut mempengaruhi dirinya untuk berperilaku demikian, yaitu psychological situation; tidak memiliki keterampilan khusus dan ingin memenuhi need for acceptance atau need for recognition dan need for love sehingga mempengaruhi
behavior potential Responden #2 dengan memilih hidup sebagai PSK dan memperhatikan kesejahteraan keluarga dengan tujuan memperoleh kasih sayang dan cinta orang tuanya.
Kedua aspek di atas mencerminkan penerimaan diri yang berbeda dari kedua responden. Berkaitan dengan hal ini, kedua responden mampu menerima diri dan berhasil mengambil jarak antara diri dan lingkungan, dan juga kedua responden sama-sama menyadari adanya hal penting dan berharga dalam hidup, namun persepsi akan hal penting dan berharga di antara kedua responden berbeda. Responden #1 dan responden #2 juga sama-sama mampu melewati tahap penerimaan diri dan mencapai tahap penemuan makna. Pada tahap penemuan makna inilah, dapat dilihat perbedaan proses yang dialami responden #1 dan responden #2 melalui pengakraban hubungan dan nilai-nilai yang dianut dalam menumbuhkan will to meaning yang dimiliki oleh responden #1 dan tidak dimiliki oleh responden #2.
Dalam hal pengakraban hubungan, baik Responden #1 maupun Responden #2 sama-sama mendekatkan diri dan membina hubungan dengan keluarga, dan
123
menyadari keberadaan mereka dibutuhkan dalam keluarga, kedua responden juga merasa dicintai dan mencintai keluarga masing-masing. Namun tujuan pengakbran hubungan yang dilakukan oleh Responden #1 dan Responden #2 berbeda, walaupun mereka sama-sama mempersepsikan keluarga sangat berarti dalam hidup mereka saat ini. Berkaitan dengan hal ini, konsep positive regard
Rogers (dalam Schultz, 1995) menjelaskan responden #1 dan responden #2 dalam membina hubungan dengan keluarganya: Dari kecil Responden #1 mendapatkan
unconditional positive regard dari ibunya yang berarti Responden #1 memperoleh
acceptance, love, dan approval dari ibunya tanpa adanya suatu kondisi tertentu sehingga Responden #1 mampu berkembang sebagai pribadi yang sabar, bersemangat, dan berpegang pada prinsip seperti ibunya dan berjuang ke depan untuk memenuhi tujuan hidupnya. Seseorang yang memperoleh unconditional positive regard dari kecil akan merasa dirinya berharga dan berguna bagi diri sendiri dan keluarga dalam kondisi apapun dan selalu mengorientasikan diri ke pemenuhan tujuan dalam hidup karena memperoleh approval dan love dari orang tua (Rogers dalam Schultz, 1995). Komponen ini juga menjadi salah satu kunci keberhasilan Responden #1 dalam meraih hidup yang bermakna (Bastaman, 2006). Namun berbeda dengan Responden #2 yang kurang mendapatkan positive regard dari kedua orang tuanya dari kecil sehingga membuat dirinya berjuang