• Tidak ada hasil yang ditemukan

DINAMIKA KEHIDUPAN PSK YANG DIJALANI RESPONDEN

HASIL ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

A. HASIL ANALISA DATA

1.4. DINAMIKA KEHIDUPAN PSK YANG DIJALANI RESPONDEN

Berdasarkan latar belakang kehidupan Linda sebelum dirinya memasuki dunia prostitusi, Linda adalah seorang wanita yang terlahir dalam keluarga yang tidak utuh, ayah dan ibunya pisah rumah dan bercerai karena kekerasan yang diterima ibu dan Linda. Keluarga Linda tergolong keluarga kalangan bawah yang harus bekerja keras demi kelangsungan hidup keluarga. Walau hidup terasa sulit, Linda menjalaninya dengan sabar, tabah, dan pantang menyerah. Hidup dengan penuh kesederhanaan membuat Linda mampu bersyukur atas semua yang dimilikinya. Linda termasuk salah satu orang yang telah menemukan makna dalam hidupnya dan merasa hidupnya berarti ketika dia menemukan pria yang dicintai dan membentuk keluarga harmonis yang diinginkan. Linda merasa tujuan hidupnya tercapai dengan memiliki suami yang sangat dicintai dan memiliki anak yang menjadi harapannya sejak perceraian yang dialami ibunya. Linda adalah seorang yang tabah, bersemangat, dan optimis dengan masa depan sehingga Linda mampu beradaptasi dengan lingkungan dan tetap mampu mengontrol diri dalam menjalani kehidupan yang sangat sederhana bersama dengan ibunya. Selain itu, ketika Linda masih kecil, Linda belajar banyak dari ibunya sendiri mendapatkan dukungan sosial yang cukup sehingga Linda bisa memandang masa depan dengan optimis dan memiliki tujuan hidup yang ingin diraihnya. Dia tidak ingin bernasib sama dengan ibunya sehingga Linda tidak sembarangan

56

Linda pada saat itu sangatlah sederhana dan merasa hidupnya bermakna jika bisa mewujudkan impiannya itu.

Kebahagiaan Linda hanya berlansung sementara karena hal yang menjadi tujuan hidupnya harus lenyap akibat kekerasan yang dilakukan suaminya terhadap dia dan ibunya. Keutuhan keluarga Linda hancur dan berakhir dengan perceraian Akibatnya, Linda sangat terpukul, dirinya merasa sedih, kecewa, kesal, dan pasrah pada kehidupannya. Linda menangisi keadaannya, menyalahkan diri sendiri, dan adanya pemikiran untuk bunuh diri. Sepuluh tahun pernikahan mereka harus selesai begitu saja, ketika suami Linda sempat tega melukai ibu dan anaknya. Linda yang tidak kuat dan khawatir dengan perkembangan anak jika terus melihat kondisi keluarga yang demikian. Akhirnya Linda memutuskan untuk meninggalkan suami dengan membawa pergi kedua anaknya.

Melihat kondisi yang dialami Linda pada saat itu, Linda merupakan orang yang mencari makna hidupnya (searching for meaning). Dalam hal ini, Linda yang telah menemukan tujuan hidup pada saat itu, tidak bisa dipertahankan sehingga dia mempersepsi hidupnya yang terasa tidak lagi bermakna dan mulai merasakan keraguan dalam hidup. Linda melakukan segala upaya yang bisa dilakukan agar dapat mengisi kekosongan bathinnya akibat perceraian yang dialami dan pada akhirnya, Linda memilih menjadi pekerja seks komersil untuk menafkahi keluarga dan mengobati luka hatinya.

57

Perceraian yang dialami Linda dengan suaminya membuat Linda sangat sedih, kecewa, dan putus asa, akan tetapi Linda tak bisa menunjukkannya pada anak-anak. Dia hanya bisa menangis di malam hari ketika semuanya sudah tidur. Linda tidak percaya dengan semua ini, seakan kebahagiannya yang singkat hanyalah mimpi indah belaka. Setiap hari Linda berusaha keras mencari pekerjaan agar dapat melupakan kejadian menyakitkan tersebut. Linda sempat bekerja menjadi pembantu rumah tangga selama 1 tahun, namun penghasilan tidak cukup untuk biaya sekolah Hendy dan Wilsen. Linda yang hampir patah semangat, memutuskan untuk berjualan. Akan tetapi, Linda harus berganti profesi setelah berjualan sekitar 1 tahun lamanya karena dagangan tidak laku. Pada akhirnya, Linda kembali bekerja sebagai buruh pabrik. Namun semua penghasilan yang didapat dari 3 pekerjaan berbeda tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Kegagalan Linda untuk mendapatkan pekerjaan tetap dan penghasilan yang sanggup membiayai kedua anak dan ibunya, akhirnya membuat Linda patah semangat dan putus asa.

Ketika berada pada tahap derita, Linda tidak menyadari lingkungan yang berada di sekitar dirinya dan hanya berfokus pada diri sendiri. Hal ini yang menyebabkan pemahaman diri Linda menjadi negatif. Linda memandang dirinya tidak berguna, pesimis, mudah putus asa karena tidak mampu mempertahankan rumah tangganya. Linda menjadi putus asa karena sudah kehabisan cara dan ide untuk mendapat uang banyak demi keberlangsungan hidup dirinya dan keluarga. Hal ini mempengaruhi

58

tindakan Linda tidak lagi didasari oleh pikiran dan hati yang tenang melainkan karena emosi yang kacau, tidak terkendali, perasaan tertekan, dan pemikiran akan diri yang negatif. Linda tidak lagi berpikir panjang untuk mengikuti saran temannya bekerja di suatu tempat dengan penghasilan yang besar yang dapat mengubah seluruh hidupnya. Karena hati dan pikiran yang masih kacau, didorong dengan perasaan sakit hati yang ingin segera diobati, maka Linda memutuskan menjadi pelacur hanya dalam waktu 2 minggu setelah bekerja di tempat pelacuran.

Setiap hari Linda merasa ketakutan, merasa bersalah karena harus berbohong pada keluarga, perasaan sedih dan tertekan yang hanya bisa dipendam sendirian, tidak ingin orang lain tahu statusnya karena akan membuat malu keluarga dan didiskriminasi masyarakat sekitar. Walaupun demikian, Linda tetap aktif mencari kembali apalah arti hidup dengan bergantung pada pekerjaan yang tidak halal ini. Linda yang masih merasa sedih dan tertekan dengan pengalaman tragis yang dialami ditambah dengan pekerjaannya sebagai PSK, semakin membuat dirinya tertekan, muncul rasa bersalah pada keluarga karena dia memilih menjadi PSK agar dapat memenuhi kebutuhan keluarganya dari penghasilan haramnya, dan muncul rasa takut yang berlebihan apabila orang lain mengetahui statusnya terutama keluarganya. Semua hal ini membuat dirinya merasa tertekan dan semakin menarik diri dari lingkungan sosial karena takut statusnya diketahui orang lain yang dapat membuat malu keluarga dan didiskriminasi masyarakat.

59

Linda yang sangat bergantung dengan pekerjaannya sampai harus merasa tertekan, takut, dan bersalah ini selama 2 tahun, pelan-pelan menunjukkan perubahan dan mulai muncul kesadaran dalam diri Linda untuk mengubah hidup ke arah yang lebih baik karena mendapatkan nasehat dari orang terdekatnya. Dalam hal ini, ibunya Linda berperan besar mengubah sikap Linda terhadap kondisi hidupnya yang menderita. Selama 2 tahun lamanya, ibu Linda selalu memberikan dukungan dan nasehat kepada Linda sehingga Linda kembali menjalankan ibadahnya, merenungkan diri, berkonsultasi dengan Bhante, mendapat pandangan dari beliau, berdoa dan beribadah sampai pada akhirnya Linda dapat menerima keadaan dirinya dan melanjutkan hidupnya. Hal ini dapat dilihat dari data hasil wawancara dengan Linda berikut:

“Aku tak pernah cerita apa-apa pada siapapun...tapi mama ngerti perasaanku...aku adalah darah daging mama…wajar saja kalo aku tak cerita pun…mama mengerti apa yang kupikirkan dan kurasakan.. suatu ketika mama pernah ngobrol denganku dan bertanya..kira-kira seperti ini yang mama bilang padaku, “Lin, udah lama kamu gak ke vihara? Ibu ngerti kamu mencoba untuk melupakan kejadian itu, tapi kita tidak bisa selamanya menghindar, kita harus menerima kenyataan, Lin. Jika tidak bisa cerita sama mama gak apapa, belajarlah untuk melepaskan. Cobalah untuk aktif mendengarkan Dharma, maka hati dan pikiran kamu akan lebih tenang dan kamu bisa mengambil hikmah dari kejadian ini…” (N.W3.R1.Li11.)

“...aku berterima kasih pada mama..karna ada mama yang kasih aku dukungan… aku masih bisa bertahan...lalu aku mencoba saran mama... ke vihara.. walau masih takut, tapi aku memberanikan diri... tanpa pikir apapun… aku akhirnya ke vihara, tempat kesukaanku dulu… aku

60

kesehatan jangan sampai sakit… berilah kekuatan tuk melupakan pengalaman pahit agar bisa melanjutkan hidup… hmm… terus aku memohon agar penghasilan per bulan cukup untuk biaya makan dan sekolah anakku… setelah aku cuapkan doaku dengan tulus di hadapan Buddha... sesaat hatiku terasa lega… seakan batu di dalam hati sudah terangkat sedikit… tidak lagi terasa berat…” (N.W3.R1.Li12.)

“sejak saat itu, setiap minggu aku jadi sering ke vihara tuk berdoa, sembahyang...sekali lagi aku berterima kasih pada mama...pelan-pelan aku mulai memperhatikan kondisi mama dan kedua anakku..aku tidak lagi terlalu mementingkan uang,biaya, dan rasa sakitku...aku merasa mama semakin bertambah tua, rambut putihnya sudah mulai banyak…dan anakku ternyata rajin belajar dan sangat penurut…aku pun mulai sadar bahwa aku tidak sendirian..aku masih punya mama dan anakku..aku harus melanjutkan hidup..dan mulai memikirkan masa depan kedua anakku…” (N.W3.R1.Li12.)

“aku juga sudah berani cerita dan berbagi, namun hanya pada Bhante saja bukan mama ataupun orang lain...aku masih ingat apa kata Bhante waktu itu..beliau berkata bahwa hidup ini adalah pilihan yang memiliki karmanya masing-masing. Setiap karma yang berbuah adalah hasil dari perbuatan di masa lampau yang tidak perlu disesali sebab ada hikmah dibalik pilihan jalan hidup yang ditempuh. Masa lalu tak bisa diubah, yang bisa diubah adalah masa depan yang ditentukan dengan perbuatan kita saat ini. Adanya keterikatan dan tidak bisa melepas akan membuat hidup semakin menderita. Oleh karena itu, jika ingin bahagia, maka tumbuhkanlah rasa cinta kasih dan mudah melepaskan... aku coba tuk pahami maksud Bhante...tuk itu, aku tiap malam bukan tuk nangis lagi… tapi berdoa dan membaca paritta sekaligus meditasi agar pikiranku tetap tenang dan bisa melepaskan masa laluku...” (N.W3.R1.Li13.)

61

Dengan adanya kesadaran terhadap kondisi yang dialami oleh diri sendiri, dan mulai mengambil tindakan ke depan bersama dengan keluarganya setelah menyadari bahwa adanya hal yang lebih penting dan berharga yang ingin dia lindungi serta keinginan untuk tidak khawatir lagi pada diri dan berusaha membahagiakan mereka. Hal penting dan berharga yang dimaksud Linda adalah keluarganya. Pada tahap ini disebut tahap penerimaan diri, perubahan yang dialami oleh Linda adalah hasil perenungan diri dengan membandingkan pengalaman ibu yang bahkan lebih susah dan menderita ketika harus seorang diri tanpa tergantung pada orang lain membesarkannya. Selain sosok ibunya, Linda juga sering berdoa dan kembali beribadah sehingga Linda kembali memandang dirinya positif sehingga semangat pantang menyerah dan ke-optimis-annya timbul untuk mengubah hidup keluarganya ke arah yang lebih baik walaupun Linda harus bertahan menjadi PSK agar keluarganya tidak kelaparan dan anaknya bisa sekolah. Pada tahap ini, pola pikir Linda yang positif membuat tindakan Linda juga menjadi positif dan nyata dilakukan tanpa memaksakan diri sendiri. Ibadah yang dijalankan Linda karena keyakinan dan kepercayaan akan ajaran-Nya membuat dirinya tenteram dan tabah dalam menghadapi cobaan hidup yang sudah dipilihnya dan menimbulkan perasaan seakan-akan mendapat bimbingan dalam melakukan tindakan-tindakan penting dan berguna dalam mencapai hidup yang bermakna. Dan pada tahap ini, aspek kebermaknaan hidup yang dikemukakan oleh Frankl, yaitu kebebasan berkehendak (freedom of will)

62

mulai terlihat wujud perilaku konkritnya. Linda yang mulai melihat kondisi di luar dirinya, dan mampu bertanggung jawab atas piihan hidup yang dijalaninya. Menjadi PSK bukan lagi untuk mengobati luka dan rasa sakit hati, namun menjadi salah satu pekerjaan yang dapat memenuhi apa yang menjadi harapannya karena tidak memiliki keterampilan. Linda menyadari jika seandainya dia meninggalkan pekerjaan ini dan mencari pekerjaan yang lebih layak, maka kemungkinan dia tidak sanggup menyekolahkan anaknya dan membayar uang sewa rumah kontrakan sebab penghasilan yang rendah hanya cukup untuk makan dan minum setiap hari untuk 4 orang anggota keluarga. Oleh karena itu, Linda memilih bertahan untuk dapat menghidupi keluarga. Hal ini terlihat dari pernyataan berikut:

“aku melakukan hal tersebut selama beberapa bulan, barulah aku paham...bahwa dengan bersyukur dengan apa yang aku punya..aku bisa melepaskan dan melihat masa depanku…aku masih terjerat hutang dan bergantung dengan pekerjaan ini…jadi aku lum bisa berhenti…jadi aku terpaksa bertahan agar bisa menghidupi keluarga..” (N.W3.R1.Li14.)

“…aku bekerja sebagai PSK bukan lagi untuk diriku sendiri, bukan hanya untuk menenangkan diri..akan tetapi demi keluargaku..aku memilih bertahan..agar dapat memenuhi harapanku terhadap orang-orang yang kuanggap penting dan berharga dalam hidupku..anakku dan keluargaku...” (N.W3.R1.Li15.)

Linda yang menyadari adanya hal yang sangat penting dan berharga dalam hidup yang kemudian menjadikannya sebagai tujuan hidupnya. Hal yang sangat penting dan berharga tersebut adalah

63

keluarganya, ibu dan kedua anaknya. Dia tidak ingin mereka hidup menderita. Oleh karena itu, dia menginginkan anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya, dia ingin mendidik anaknya menjadi orang yang berguna, orang yang tabah, dan tidak mudah putus asapada maslaah yang ada dihadapan diri mereka nantinya. Linda teringat semangat ibunya yang dulu membesarkan dirinya seorang diri. Linda yakin dan percaya sanggup mengubah hidup kedua anaknya menjadi lebih baik lagi walau harus berkorban. Dengan adanya kesadaran akan hal yang penting dan berharga dalam dirinya, Linda telah menemukan dan menentukan apa yang menjadi tujuan hidupnya. Kondisi yang demikian disebut tahap penemuan makna hidup atau penentuan tujuan hidup. Pada tahap ini, Linda benar-benar mendekatkan dirinya dengan anggota keluarga karena Linda membutuhkan mereka dan mencintai mereka sehingga Linda merasa keberadaannya sangat penting dan dibutuhkan dalam keluarga. Hal inilah yang membuat Linda merasa dirinya berharga dan bermakna bagi diri sendiri dan keluarganya. Hal ini dapat dibuktikan melalui pernyataan Linda berikut:

“Aku berkorban demi anak dan ibuku..gak apapalah kalo harus menjual diri demi bertahan hidup…karna mereka adalah tanggunganku, jadi aku berusaha untuk memenuhi kebutuhan mereka…melindungi mereka...aku berusaha sekuat tenaga tiap hari agar mereka tetap bisa makan dan sekolah…aku berusaha melunasi hutangku secepatnya agar punya modal buat ke depannya.. menggapai impianku memiliki rumah sendiri untuk keluargaku...” (N.W3.R1.Li20.)

64

a) Experiental value

Experiential value yang dimiliki Linda dalah pengalaman menjadi seorang pekerja seks komersil terlepas dari segala faktor eksternal dan internal yang membuat dirinya memilih menjadi pekerja seks komersil, Linda mampu mengambil hikmah dari segala konsekuensi dan hikmah dari pilihan yang telah dilaluinya, sehingga dia merasa hidup lebih bermakna. Hal ini terlihat dari pernyataan Linda berikut ini:

“Aku bersyukur masih bisa hidup berkecukupan… bisa bayar uang kontrakan… membiayai hidup kedua anakku hingga kuliah... aku menyesal dulu tidak mikir panjang tuk jadi pelacur... mungkin kalo aku memilih pekerjaan lain… aku dan keluargaku mungkin memiliki nasib yang lain… bisa jadi kami harus pinjam sana sini untuk bisa bertahan hidup… aku berkorban demi anakku… dan buktinya aku merasa anakku tidak harus ngemis... dan mereka sudah mandiri… walau sekarang aku hidup sendiri tanpa pasangan… gak masalah daripada aku ingin memiliki pasangan tapi ternyata gak tulus…aku harus mengalami lagi dunk… bisa-bisa kalo sekali lagi, aku bunuh diri… walau sedih dan kecewa dengan masa lalu… tapi anak-anakku ngerti ibunya berjuang sendiri dan gak menyalahkan ibunya kalo dulu ibunya memilih meninggalkan papanya…” (N.W3.R1.Li23.)

b) Attitudinal value

Linda mampu melihat hikmah dari pengalaman yang dialaminya. Linda telah berhasil melewati masa-masa tragisnya sehingga dia bisa sabar dan tabah dalam menjalani semua karena menyadari pilihan yang dijalani. Dengan kesabaran dan ketabahan Linda telah menemukan makna hidup mereka atas pilihan dan tanggung jawab yang dipikul sampai saat ini (here

65

dengan penuh kesabaran dan ketabahan serta tanggung jawab yang dipikul membuat mereka menemukan insight atas kehidupan Linda sendiri. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan Linda berikut:

“Berkat dukungan keluargaku terutama ibuku..aku sadar bahwa aku tidak boleh trus-trusan terlarut dalam masa laluku...sehingga sesaat aku tersadar oleh perkataan ibuku...aku kembali menjalankan kebiasaanku dengan mengunjungi vihara, berdoa, mendengarkan dhamma.. dan membacakan paritta...sejak saat itu, setiap malam yang pada awalnya..aku nangis terus karna teringat mantan suami...sekarang aku berdoa dan baca paritta tuk nenangin bathin dan jiwaku…aku pun mulai menyadari ada hal yang lebih penting dan berharga buatku dibanding harus melihat masa lalu yang tak bisa kuubah…” (N.W3.R1.Li22.) “….aku mulai memperhatikan sekitarku..terutama ibu dan kedua anakku…aku sadar…mereka masih membutuhkanku..aku mencintai mereka...begitu pula sebaliknya..maka sejak saat itu, yang kupikirkan adalah membahagiakan ibu dan anakku…aku ajari dan didik mereka sebaiknya..dan aku semakin peduli dengan ibuku yang sudah menginjak usianya...walau terasa berat dan susah karna aku belum bisa cerita kebenaran sama mereka…aku yakin cepat lambat..aku akan keluar dan memiliki pekerjaan yang halal..tapi sebelum itu..aku bertahan dulu sampai kedua anakku lulus..” (N.W3.R1.Li22.)

“….dan peerjuanganku tidak sisa-sia..kedua anakku sekarang sudah dewasa dan anakku yang pertama sudah menikah dan punya anak lagi…aku sudah jadi nenek..mereka sering maen-maen ke sini...aku mengendong cucuku yang manis...saat ini, aku sudah melupakan kesedihan itu..sebab itu adalah pilihan hidup dan karmaku sendiri…jadi kalo diberi kesempatan…aku ingin memiliki pekerjaan tetap dan jika aku masih beruntung..aku ingin memulai hubungan yang baru lagi agar aku tidak kesepian di masa tua nanti..semoga aku diberi umur yang panjang agar bisa menggapai semua impianku sebelum ajal menjemput..saddhu3x...” (N.W3.R1.Li22.)

66

“….aku bersyukur aku bisa sadar lebih cepat sehingga aku bisa memandang masa depan yang bisa kuraih jika aku melakukan sesuatu saat ini...terima kasih mama..dan buah hatiku yang mengingatkanku pada Tuhan...sehingga aku tidak terjerumus terlalu dalam..dan mampu mengambil hikmah dari semua ini…” (N.W3.R1.Li22.)

Linda yang mendalami 2 nilai dari 3 nilai yang merupakan sumber makna hidup telah menimbulkan keinginan atau kehendak untuk hidup bermakna dan menemukan makna hidup dari tujuan hidup yang telah ditetapkannya. Kehendak hidup bermakna (will to meaning) yang dapat terlihat dari keyakinan Linda dan dukungan keluarganya membuat Linda mampu mengatasi perasaan negatif seperti rasa bersalah, menyesal, takut menjadi perasaan positif seperti semangat, optimis, sabar, dan tidak mudah putus asa. Linda semakin percaya kuasa Tuhan dan karma yang diperbuatnya. Semua hal tersebut membuat Linda berkehendak untuk hidup bermakna, walapun dirinya harus berbohong dan mengorbankan diri, dia tetap ingin menjaga hal yang dianggap penting dan berharga, yaitu keluarganya. Linda ingin menjadi orang yang berguna dan berharga bagi dirinya sendiri dan keluarganya, meskipun dirinya sudah tidak berguna bagi masyarakat. Keinginannya tersebut yang membuat Linda mampu mengambil hikmah dari penderitaan yang dialami dan melihat masa depan yang lebih baik. Menjadi PSK bukan lagi sebagai obat luka masa lalu, akan tetapi sebagai pekerjaan sementara untuk memenuhi tujuan hidupnya. Adanya kehendak untuk hidup bermakna membuat Linda ingin merealisasikan tujuan hidupnya dengan melakukan berbagai upaya yang

67

terarah serta berkomitmen penuh sampai tujuan hidupnya terwujud. Linda ingin merealisasikan apa yang menjadi makna hidupnya yang memicu timbulnya hasrat hidup bermakna. Semangat hidup dan rasa yakin serta kepercayaan diri Linda membuat dirinya berkomitmen untuk melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan impiannya tersebut. Linda sudah melakukan berbagai upaya seperti mencoba mencari pekerjaan baru, walaupun masih bekerja sebagai PSK. Linda juga telah mencoba mengenal beberapa pria dan alhasil ada seorang pria berketurunan Batak dan memiliki status duda. Linda mengenal baik pria ini bahkan menjadikan dia sebagai satu-satunya teman curhat ketika dia mengalami masalah. Linda mengenal keluarganya dan juga pria ini mengetahui status, pekerjaan serta kondisi keluarga Linda. Akan tetapi, dengan kedekatan Linda dan pria Batak ini, Linda masih ragu dan tidak berani untuk berhubungan lebih dari sekedar teman karena trauma masa lalu masih membekas di hatinya. Linda bertekad untuk segera melunasi hutang-hutangnya dan mencari pekerjaan baru yang halal sehingga dia bisa mengangkat kepala untuk mengejar cintanya. Semua upaya tersebut dilakukan agar dapat tercapai tujuan hidupnya, namun Linda juga tidak serakah dan tetap berserah kepada Tuhan. Jika masih diberi kesempatan, semoga itulah yang terbaik untuk hidupnya. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan Linda berikut:

“barulah akhir-akhir ini… aku ada kenalan pria yang orang Batak duda... jadi dialah orang yang tahu semua masalahku.. aku juga tahu masalah dia..kami berdua saling berbagi... sampe keluargaku dan keluarganya sudah saling mengenal, namun aku sendiri yang masih takut dan belum

68

ada niat untuk berhubungan lebih lanjut dari sekedar teman saja..hehehe…” (N.W3.R1.Li21.)

“...dari dulu aku udah tinggal di lingkungan keluarga yang terpecah belah… aku selalu berpikir, anak-anak lain bisa yaa hidup dengan bahagia, punya keluarga yang

Dokumen terkait