• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

G. Metode Penelitian

5. Analisa Data

Analisa dilakukan dengan cara menelaah berbagai sumber data yang diperoleh dari buku-buku, diktat serta data yang bersumber dari pustaka digital seperti artikel serta jurnal hukum secara sistematis, kemudian hasil penelaahan datadirekonstruksidengan berbagai peraturan perundang-undangan yang menjadi sumber data primer penelitian ini.Hasil rekonstruksi tersebutdisusun dan dianalisa kemudian disesuaikan dengan norma-norma hukum yang terkandung di dalam peraturan perundang-undangan yang menjadi data primer penelitian ini yakni Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan Peraturan OJK Nomor 2/POJK.04/2013 untuk menjawab isu permasalahan dalam penelitian ini.

BAB II

BUYBACK SAHAM BERDASARKAN UNDANG-UNDANG PERSEROAN

TERBATAS DAN PERATURAN OJK A. Perusahaan Terbuka dalam Hukum di Indonesia 1. Pengertian Perusahaan Terbuka

Perseroan pada dasarnya adalah badan hukum yang memenuhi syarat ketentuan Pasal 1 angka 1 UUPT 2007.58Dia merupakan persekutuan modal yang terbagi dalam saham. Didirikan berdasarkan perjanjian diantara pendiri atau pemegang saham, serta melakukan kegiatan usaha, dan kelahirannya juga melalui proses hukum yang dikukuhkan berdasarkan keputusan Pengesahan oleh Kementerian Hukum dan HAM.

Ketentuan mengenai perseroan terbuka diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal (UUPM).Pengertian mengenai perseroan terbuka dalam UUPT ada dua, yaitu perseroan publik dan perseroan yang melakukan penawaran umum. Perseroan publik atau perusahaan publik berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 22 UUPM adalah perseroan terbatas yang sahamnya telah dimiliki sekurang-kurangnya oleh 300 pemegang saham dan memiliki modal disetor sekurang-kurangnya Rp. 3.000.000.000,- (tiga milyar rupiah) atau suatu jumlah pemegang saham dan modal disetor yang ditetapkan oleh peraturan pemerintah.

Sementara itu, perseroan yang melakukan penawaran umum berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 15 UUPM merupakan emiten yang melakukan kegiatan

58 Pasal 1 angka 1 UUPT, Perseroan Terbatas yang selanjutnya disebut Perseroan, adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undang-Undang ini serta peraturan pelaksanaannya.

penawaran efek untuk menjual efek kepada masyarakat berdasarkan tata cara yang diatur dalam undang-undang ini dan peraturan pelaksananya.

Pada prinsipnya pengertian “penawaran efek yang demikian” memperhatikan kondisi-kondisi sebagai berikut:59

a. Setiap penawaran efek kepada lebih dari 100 pihak;

b. Setiap penawaran efek melalui media massa dianggap sebagai suatu penawaran kepada lebih dari 100 pihak; dan/atau

c. Suatu penawaran efek bukan merupakan suatu penawaran umum sebagaimana dimaksud dalam UUPM, jika nilai seluruh penawaran dari penawaran efek tersebut kurang dari Rp. 1 Miliar.

Sedangkan Perseroan Terbuka adalah Perseroan Publik atau Perseroan yang melakukan penawaran umum saham, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang Pasar Modal.

Apa yang dinamakan Perseroan Terbuka adalah suatu perusahaan yang sahamnya di jual ke masyarakat luas melalui bursa sebagai salah satu cara untuk memupuk modal dengan jalan menghimpun modal dari masyarakat melalui bursa saham. Itulah yang dewasa ini dikenal sebagai PT Go Public, atau yang lebih tepat sebagai PT yang melakukan penawaran umum (Public Offering).60

Perseroan Terbuka merupakan salah satu bentuk dari Perseroan Publik, karena dalam Pasal 1 ayat (8) UUPT disebutkan apa yang dimaksud dengan Perseroan Publik adalah Perseroan yang memenuhi kriteria jumlah pemegang saham dan modal

59Muhammad Yasin, Tanya Jawab Hukum Perusahaan, (Jakarta: Visimedia, 2009), hlm. 15

60 Rudhi Prasetya, Op. Cit, hlm. 93.

disetor sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang Pasar Modal.

Jadi yang dimaksud dengan Perseroan Terbuka menurut Pasal 1 angka 7 UUPT, adalah :

a. Perseroan Publik yang telah memenuhi ketentuan Pasal 1 angka 22 UU No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal (UUPM) yakni Perseroan yang memiliki pemegang saham sekurang - kurangnyanya 300 (tiga ratus) orang, dan modal disetor sekurang-kurangnya Rp. 3.000.000.000,- (Tiga miliar rupiah),

b. Perseroan yang melakukan penawaran umum (public offering) saham di bursa efek. Maksudnya Perseroan tersebut, menawarkan atau menjual saham atau efeknya kepada masyarakat luas.

Ketentuan berapa banyaknya pemegang saham dan berapa banyaknya modal disetor yang harus dipenuhi untuk dapat digolongkan sebagai Perseroan Publik, diatur dalam Pasal 1 angka 22 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, yaitu:

a. Bila sahamnya dimiliki sekurang-kurangnya oleh 300 (tiga ratus) pemegang saham;

b. Modal disetornya berjumlah Rp. 3.000.000.000,- (tiga miliar), dan;

c. Atau ditetapkan lain dengan Peraturan Pemerintah.

Jadi sebenarnya ada dua macam Perseroan Publik, yaitu:

a. Perseroan Publik yang Perseroan Terbuka, yakni yang sahamnya dijual di bursa kepada masyarakat, yang perlu diatur secara khusus demi untuk memberikan perlindungan kepada pemegang saham publik ini, dan;

b. Perseroan Publik, yang sahamnya tidak dijual kepada masyarakat, tetapi jumlah pemegang sahamnya telah sedemikian banyak yang oleh karena itu pemegang saham yang banyak ini perlu mendapatkan perlindungan yang sama seperti pemegang-pemegang saham bursa.

Sedangkan yang dimaksud Emiten berdasarkan Pasal 1 angka 6 UUPM61, Emiten adalah pihak yang melakukan penawaran umum, dan penawaran umum baru dapat dilakukan Emiten, setelah lebih dulu didaftarkan ke Badan Pengawasn Pasar Modal (BAPEPAM) sekarang Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sesuai dengan ketentuan Pasal 3 UUPM.

Perlu digarisbawahi bahwa yang dimaksud perusahaan terbuka tidak hanya perseroan terbatas yang sahamnya telah dimiliki sekurang-kurangya oleh 300 pemegang saham dan memiliki modal disetor sekurang-kurangnya Rp.

3.000.000.000,- tetapi perseroan yang meskipun jumlah pemegang sahamnya kurang dari 300 dapat pula merupakan perusahaan terbuka jika melakukan penawaran umum ke bursa efek dengan syarat-syarat yang telah ditentukan oleh UUPM dan peraturan pelaksana lainya.62

62Op.Cit.,hlm. 6.

2. Proses Menjadi Perusahaan Terbuka (Go Public)

Perusahaan yang berencana Go Public atau melakukan Initial Public Offering (IPO) terlebih dahulu mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) atau Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) untuk mendapatkan persetujuan dari pemegang saham.Dalam RUPS atau RUPS-LB tersebut diputuskan berapa modal yang dibutuhkan dan bagaimana komposisi saham setelah IPO dilakukan.

Setelah mendapatkan persetujuan dari para pemegang saham untuk melakukan IPO dalam RUPS atau RUPS-LB maka perusahaan mencari dan menunjuk perusahaan efek yang berfungsi sebagai Penjamin Emisi/Underwriter, profesi penunjang dan lembaga penunjang.Profesi penunjang dan lembaga penunjang berfungsi untuk membantu mempersiapkan berbagai dokumen emisi untuk keperluan IPO tersebut.

Kemudian berlanjut ke dalam Tahapan Pernyataan Pendaftaran. Tahapan Pernyataan Pendaftaran merupakan tahapan dimana calon emiten menyerahkan dokumen yang memuat prinsip-prinsip keterbukaan dan prospektus ringkas yang berisi berbagai informasi terkait dengan perusahaan, mulai dari company profile, kinerja operasional perusahaan seperti, neraca laba rugi, proyeksi kinerja perusahaan serta untuk kepentingan apa dana masyarakat itu dibutuhkan.63

63 Prospektus bagi emiten adalah sarana untuk memperkenalkan diri kepada investor.Sedangkan bagi investor prospektus ini merupakan sarana untuk mendapatkan gambaran lengkap tentang emisi yang ditawarkan sehingga investor tersebut dapat mengambil keputusan yang benar dalam hal membeli atau tidak efek yang ditawarkan oleh emiten. Dari segi penulisan prospektus harus jelas dan komunikatif sehingga dengan mudah dapat dipahami oleh pemodal yang tidak semuanya paham mengenai bahasa-bahasa teknis.Prospektus harus menyajikan informasi mengenai emiten secara lengkap baik tentang efek yang ditawarkan apakah efek hutang atau efek ekuitas, nilai

Dalam Pernyataan pendaftaran juga harus terdapat informasi dan atau fakta materiel mengenai perusahaan yang akan melakukan penawaran umum atas efeknya.

Pernyataan pendaftaran tidak hanya memuat fakta mengenai calon emiten tetapi juga memuat pendapat dari profesi penunjang yang ada di pasar modal mengenai calon emiten tersebut baik mengenai harta kekayaan, keuangan atau status hukum dari calon emiten tersebut.

Berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 19 UUPM, Pernyataan Pendaftaran adalah dokumen yang wajib disampaikan kepada OJK oleh Emiten dalam rangka Penawaran Umum:

a. Bentuk dan isi Pernyataan Pendaftaran adalah dokumen menurut Peraturan Nomor IX.B.1,64

b. Dalam ketentuan ini terdapat sebanayak 20 (dua puluh) aspek yang harus diperhatikan;

c. Harus mencakup semua “informasi” dan “fakta material” mengenai Perseroan Publik tersebut, yang dapat “mempengaruhi” keputusan pemodal atau investor untuk membeli saham atau efek yang ditawarkan.

efek yang ditawarkan maupun jumlah lembarnya. Selain itu disajikan juga nilai nominal dan harga yang ditawarkan untuk efek-efek tersebut, yang dapat ditawarkan sama dengan nilai nominal atau di atas nilai nominal. Informasi mengenai efek ini juga akan mencakup mengenai hak-hak dari pemegang efek tersebut. Prospektus juga menguraikan mengenai emiten yang menerbitkan efek tersebut.Seperti sejarah dari emiten, struktur permodalan dan perkembangannya termasuk pemindahan/mutasi-mutasi hak atas saham. Prospektus secara lengkap juga harus menguraikan rencana penggunaan atas dana yang diperoleh dari hasil penawaran umum. Hal ini penting karena dengan melihat rencana penggunaan atas dana hasil IPO ini maka investor dapat memperkirakan prospek dari emiten ke depannya sehingga investor dapat membuat keputusan yang benar.

64Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal Nomor KEP-49/PM/1996 Tentang Pedoman Mengenai Bentuk dan Isi Pernyataan Pendaftaran Perusahaan Publik

Setiap Perseroan Publik yang hendak melakukan Penawaran Umum, “Wajib”

mendaftarkan diri kepada BAPEPAM sekarang OJK, dimana atas pendaftaran itu Bapepam memberi “efektifnya” Pernyataan Pendaftaran tersebut berupa Formulir No.

IX.A.2, atas penerimaan formulir No.IX.A.2, Perseroan Publik yang bersangkutan memiliki “legalitas” untuk melakukan penawaran umum. Selanjutnya Penjamin Emisi (underwriter) yakni Lembaga Penunjang Pasar Modal yang berperan sebagai penjamin emisi atau penjualan saham pada waktu pasar perdana, yang membuat penawaran umum bagi kepentingan emiten (Pasal 1 angka 17 UUPM) Selanjutnya penjamin emisi “wajib” melakukan kegiatan Penawaran Umum efek ke Bapepam untuk memperoleh gambaran tingkat efektivitas Penawaran Umum (dengan menggunakan Formulir Khusus IX A-2-2).

Informasi dan fakta material yang perlu dan layak diketahui investor:65

a. Keterangan, bahwa pendaftaran telah diajukan ke Bapepam sesuai dengan UUPM dan ketentuan pelaksanaanya.

b. Pernyataan, bertanggung jawab sepenuhnya atas kebenaran semua informasi dan kewajaran pendapat yang diungkapkan dalam Pernyataan Pendaftaran.

c. Pernyataan, bahwa semua lembaga dan Profesi Penunjang Pasar Modal yang disebut dalam Pernyataan Pendaftaran, bertanggung jawab penuh atas data yang disajikan dan relevan dengan fungsi mereka sesuai dengan peraturan yang berlaku, kode etik, norma dan standar profesi.

d. Nama lengkap alamat perusahaan, logo perusahaan, nommor telefon, nomor kotak kantor pos dan kegiatan Perseroan publik dan kantor perwakilannya.

65 Yahya Harahap, Op.Cit., hlm. 43-49.

e. Struktur modal saham pada saat Pernyataan Pendaftaran diajukan meliputi:

1) Modal dasar (authorized capital);

2) Modal ditempatkan ( subscribed capital);

3) Modal disetor penuh (paid up capital);

4) Jumlah dan nilai total saham;

5) Informasi mengenai maksud Perseroan atau pemegang saham untuk mengeluarkan atau mencatatkan saham dalam waktu 12 (dua belas) bulan setelah tamggal penyerahan Pernyataan Pendaftaran.

f. Keterangan tentang rencana struktur modal saham pada tanggal Pernyataan Pendaftaran, yang diserahkan dalam bentuk tabel yang mencakup :

1) Modal dasar, modal ditempatkan dan modal disetor;

2) Rincian kepemilikan saham oleh pemegang saham yang memiliki 5%

persen atau lebih, Direksi dan Komisaris;

3) Saham dalam simpanan (portepel) yang mencakup jumlahsaham dan nilai nominalnya.

g. Analisis dan pembahasan oleh manajemen secara singkat tentang:

1) Kecenderungan yang diketahui, permintaan-permintaan ikatan-ikatan, kejadian-kejadian atau ketidakpastian yang mungkin dapat mengakibatkan terjadinya peningkatan atau penurunan yang material terhadap likuiditas Perseroan;

2) Analisis atau pembahasan mengenai ikatan yang material untuk investasi barang modal dengan penjelasan tentang tujuan perikatan-perikatan

tersebut, serta sumber dana yang diharapkan memenuhi perikatan-perikatan dimaksud;

3) Analisis mengenai seberapa jauh hasil usaha atau keadaan keuangan Perseroan pada masa yang akan datang:

(a) Menghadapi risiko fluktuasi kurs dan suku bunga;

(b) Memberikan keterangan tentang semua pinjaman dan perikatan tanpa proteksi kurs, yang dinyatakan dalam mata uang asing atau suku bunganya tidak ditentukan lebih dahulu.

4) Analisis tentang perkembangan material yang diperkirakan akan terjadi meliputi :

(1) Kecenderungan keadaan persaingan;

(2) Ketidakpastian yang diketahui dapat menyebabkan informasi keuangan yang telah dilaporkan tidak memberikan indikasi atas hasil usaha dan keadaan keuangan pada masa yang akan datang;

5) Uraian kejadian transaksi yang tidak normal terjadi atau perubahan penting dalam ekonomi yang dapat mempengaruhi jumlah pendapatan yang dilaporkan dalam laporan keuangan yang telah diperiksa akuntan.

6) Pembahasan, jika laporan keuangan dalam Pernyataan Pendaftaran mengungkapkan peningkatan material dari penjualan atau pendapatan bersih serta laba operasi Perseroan selama 3 (tiga) tahun atau selama perusahaan menjalankan usaha jika kurang dari 3 (tiga) tahun;

7) Bahasan tentang prospek perusahaan dan proyeksi keuangan yang diungkapkan harus dipersiapkan dengan seksama serta objektif berdasar asumsi yang layak.

h. Risiko usaha, disusun berdasarkan bobot risiko yang dihadapi, antara lain : 1) Risiko peperangan;

2) Pasokan bahan baku;

3) Ketentuan negara lain atau internasional, dan 4) Kebijakan pemerintah.

i. Kejadian penting setelah tanggal laporan akuntan.

j. Keterangan tentang Perseroan atau perusahaan, meliputi:

1) Riwayat singkat perseroan;

2) Pengurusan dan pengawasan;

3) Sumber Daya Manusia (SDM).

k. Kegiatan dan Prospek Usaha;

1) Penjelasan mengenai sumber dan ketersediaan bahan baku serta tingkat ketergantungan pada permasalahan tertentu;

2) Penjelasan mengenai proses produksi dan pengendalian mutu, uraian umum tentang status pengembangan produksi dan jasa tertentu;

3) Kapasitas dan hasil produksi selama 5 (lima) tahun terakhir;

4) Produk dan jasa utama Perseroan;

5) Masa berlaku paten, merek, lisensi, franchise, koneksi serta pentingnya hal-hal itu bagi perusahaan;

6) Besarnya ketergantungan perusahaan terhadap satu atau sekelompok pelanggan;

7) Sifat musiman dari kegiatan usaha jika ada;

8) Kegiatan usaha sehubungan dengan modal kerja yang menimbulkan resiko khusus;

9) Uraian tentang pesanan

10) Ketergantungan kontrak dengan Pemerintah;

11) Keadaan persaingan;

12) Informasi singkat mengenai pengeluaran riset dan pengembangan;

13) Uraian tentang pemasaran;

14) Prospek perusahaan sehubungan dengan industri, ekonomi secara umum dan pasar internasional.

l. Ikhtisar data keuangan penting;

1) Penjelasan laporan keuangan merupakan sumber data;

2) Penjelasan laporan keuangan telah diperiksa atau tidak oleh akuntan;

3) Daya yang diajukan konsisten dengan laporan keunagan dengan menjelaskan akun yang dipergunakan;

4) Laporan keuangan yang relevan dengan usaha atau industri yang bersangkutan.

m. Ekuitas;

1) Keterangan mengenai ekuitas berdasarkan laporan keuangan yang diperiksa akuntan:

(a) Tabel ekuitas yang menurut neraca ekuitas pertanggal laporan keuangan sebelum periode yang disajikan dalam laporan keuangan;

(b) Uraian secara kronologis yang menggambarkan perubahan struktur permodalan dalam perusahaan-perusahaan;

(c) Perubahan struktur permodalan yang terjadi setelah tanggal laporan keuangan terakhir.

2) Kebijakan deviden;

(a) Informasi deviden yang direncanakan, dan

(b) Rentang jumlah persentase deviden yang direncanakan dikaitkan dengan laba biasa;

3) Perpajakan;

(a) Pajak yang berlaku baik bagi pemodal maupun perusahaan dan;

(b) Fasilitas khusus perpajakan yang diperoleh.

4) Nama dan alamat lembaga profesi penunjang Pasar Modal (jika ada).

5) Pendapat dan laporan pemeriksaan dari segi hukum:

(a) Keabsahan akta pendirian serta AD dan perubahan-perubahan AD;

(b) Keabsahan izin dan persetujuan yang diperlukan dalam pelaksanaan kegiatan usaha atau kegiatan usaha yang direncanakan;

(c) Status kepemilikan aktiva yang material;

(d) Perkara perdata, pidana, perburuhan dan TUN serta tindakan hukum lain;

(e) Perikatan-perikatan dengan pihak ketiga;

(f) Permodalan perusahaan dan perubahan-perubahan yang direncanakan, dinyatakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan semua telah memperoleh persetujuan yang diperlukan;

(g) Dan hal-hal lain yang material.

6) Laporan Keuangan.

(a) Laporan akuntan berkenaan dengan laporan keuangan yang disajikan;

(b) Menyajikan laporan keuangan untuk jangka waktu 3 (tiga) tahun terakhir atau, sejak berdirinya bagi Perseroan yang berdiri kurang dari 3 (tiga) tahun;

(c) Bagi perusahaan yang telah berdiri secara hukum, kurang dari 1 (satu) tahun buku, persyaratan di atas berlaku untuk periode selama masa berdirinya dikurangi sebanyak-banyaknya tiga bulan.

7) Laporan penilai (jika ada).

8) Anggaran Dasar (AD).

AD terakhir yang telah mendapat Keputusan Persetujuan atau telah diberitahukan kepada Kemenkumham.

3. Tata Kelola Perusahaan Terbuka

Pada umumnya, yang dimaksud dengan pengelolaan perusahaan adalah hubungan antara pemilik perusahaan dengan stakeholder di satu sisi dan dewan direksi dan manajer di sisi lain. Khususnya, hal tersebut difokuskan pada tanggung jawab dari dewan direksi kepada setiap stakeholder perusahaan.Salah satu tujuan dari pengelolaan perusahaan adalah membuat suatu keseimbangan dan pengawasan sistem untuk mencegah penyalahgunaan dari sumber-sumber corporate dalam rangka

mendorong pertumbuhan ekonomi, pengambilan risiko yang tepat dan kelangsungan hidup (sustainability).66

Hubungan antara perusahaan (corporation) dan stakeholder mengalami perubahan yang signifikan di Asia, terutama terhadap krisis ekonomi.Para investor dan peminjam menginginkan peningkatan standar dari pengelolaan perusahaan di perusahaan dimana mereka berinvestasi, untuk melindungi keuntungan mereka dalam keadaan yang dapat dipertanggungjawabkan.Oleh karena itu amatlah penting memperkuat praktik-praktik pengelolaan perusahaan dalam basis yang terus menerus.67

Disadari salah satu penyebab rentannya perusahaan-perusahaan di Indonesia terhadap gejolak perekonomian adalah lemahnya penerapan Good Corporate Governance dalam pengelolaan perusahaan.Kondisi tersebut ditandai dengan standar laporan yang minimal tentang kinerja keuangan perusahaan, khusunya tentang kewajiban utang-piutang tidak ada direktur independen dan diragukannya independensi auditor.

Disamping itu mekanisme yang mendorong perusahaan untuk menaati peraturan dan penegakan hukum masih kurang.Sanksi yang diberikan kepada mereka yang melanggar peraturan tidak memadai terutama pada situasi ekonomi yang tidak menguntungkan.

Agar Good Corporate Governance dapat dimengerti dan diterapkan dengan baik, perlu dicermati kajian yang dilakukan Organization for Economic and

66 Adrian Sutedi, Good Corporate Governance, (Jakarta : Sinar Grafika, 2011), hlm. 10.

67Ibid, hlm. 10.

Development (OECD) terhadap prinsip-prinsip utama corporate governance.Pengkajian tersebut sampai pada suatu kesimpulan yang cukup representatif sebagai konsensus internasional bahwa corporate governance yang efektif meliputi empat aspek penting, yaitu kewajaran, transparansi, akuntabilitas, dan tanggung jawab.

Aspek kewajaran terutama ditujukan untuk memberikan perlindungan kepada pemegang saham minoritas dari kecurangan, self dealing, atau ketidakwajaran lainnya.Aspek transparansi dimaksudkan untuk menciptakan sistem kontrol yang efektif diantara direksi, manajer, auditor, dan pemegang saham. Adapun aspek tanggung jawab dimaksudkan tanggap terhadap stakeholders dan dilingkungan mana perusahaan beroperasi.

Agar keempat aspek penting mengenai corporate governance tersebut dapat diterapkan dengan baik terutama pada perusahaan terbuka di Indonesia perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut:68

a. Penyempurnaan Peraturan Perundang-undangan

Penyempurnaan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal, khususnya untuk perusahaan terbuka perlu dilakukan antara lain penyederhanaan proses dan tata cara Rapat Umum Pemegang Saham, mengakomodasi hak pemegang saham untuk mengajukan materi dan agenda RUPS, penggunaan hak pemegang saham secara langsung maupun dengan proxy.

68Ibid.

Disamping itu perlu pengungkapan besarnya gaji anggota dewan komisaris dan direksi, governance structures, dan kebijakan dalam laporan tahunan perusahaan terbuka, dan pembentukan komite audit yang bertugas melakukan pengawasan terhadap kegiatan manajemen, pelaporan, dan hal-hal yang berkaitan dengan audit perusahaan.

Selain itu, dipandang perlu melakukan pengkajian lebih lanjut untuk menyempurnakan beberapa ketentuan seperti pengalihan kepemilikan, penerbitan saham tanpa nilai nominal, penyederhanaan proses pendirian dan perusahaan anggaran dasar perseroan.

b. Sosialisasi dan Implementasi Good Corporate Governance.

Mengingat konsep corporate governance belum memasyarakat dalam dunia usaha di Indonesia, dipandang perlu untuk mensosialisasikan corporate governance tersebut kepada para pelaku pasar modal regulator dan Self Regulatory Organization (SROs).Sosialisasi ini diperlukan guna memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai corporate governance kepada pihak-pihak tersebut.

Selanjutnya setelah sosialisasi perlu diikuti dengan implementasi corporate governance agar pengelolaan perusahaan dapat dilakukan dengan baik. Untuk itu, dipandang perlu membentuk semacam pusat kajian corporate governance yang berfungsi antara lain memberikan konsultasi dan evaluasi terhadap ketaatan dalam menerapkan good corporate governance khususnya bagi perusahaan terbuka di Indonesia.

Sementara itu pada Bursa Efek Indonesia, dalam rangka meningkatkan corporate governance, telah melakukan hal-hal sebagai berikut:69

1) Menyusun pedoman Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan.

Penyusunan Pedoman Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan bagi 22 sektor industri yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pengungkapan (disclosure) laporan keuangan emiten dilakukan bersama-sama antara BEJ, Ikatan Akuntan Indonesia, dan Asosiasi Emiten Indonesia, penyusunan pedoman tersebut diharapkan akan dapat mendorong terciptanya good governance bagi emiten, yaitu dengan cara:

(a) Mendorong emiten menyusun laporan keuangannya sesuai dengan PSAK, dan international accounting standarts (IAS);

(b) Mendorong emiten untuk lebih meningkatkan kualitas informasi laporan keuangannya. Misalnya dalam penyajian transaksi pada pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa tidak hanya meliputi transaksi yang bersifat di luar kegiatan normal perusahaan kepada pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa.

2) Menyusun Peraturan Pencatatan yang Baru

Penyusunan peraturan baru di bidang pencatatan efek, kewajiban penyampaian informasi, suspensi, delisting, dan realisting diharapkan dapat meningkatkan corporate governance emiten, yaitu melalui:

69

http://www.linknet.co.id/ind/about-us/corporate-governance/corporate-governance-structure (Akses Tanggal 23 Agustus 2016).

(a) Penetapan kriteria persentase saham yang dimiliki oleh selain 5 (lima) pemegang saham terbesar (dimiliki oleh publik) akan mendorong emiten untuk meningkatkan keterbukaanya. Semakin tinggi persentase tersebut, maka semakin besar perhatian publik kepada emiten, sehingga emiten dituntut untuk lebih meningkatkan kualitas keterbukaannya.

(b) Penetapan jangka waktu penyampaian laporan keuangan yang diaudit, dari 120 hari menjadi 90 hari. Hal ini mendorong emiten untuk meningkatkan dan membenahi sistem informasi akuntasinya, sehingga perusahaan dapat meningkatkan.

(c) Emiten diwajibkan untuk menyampaikan informasi-informasi, antara lain, yaitu apabila:

(1) Menandatangani atau membatalakan kontrak penjualan atau pembelian senilai 10% atau lebih dari nilai penjualan tahun terakhir;

(2) Menandatangani kontrak untuk penjaminan utang senilai 20% atau lebih dari modal disetor;

(3) Meminjam atau meminjamkan uang sebesar 10% atau lebih dari nilai total aktiva pada laporan keuangan terakhir;

(3) Meminjam atau meminjamkan uang sebesar 10% atau lebih dari nilai total aktiva pada laporan keuangan terakhir;

Dokumen terkait