BAB I PENDAHULUAN
F. KerangkaTeori dan Konsepsi
M. Solly Lubis memberikan pengertian mengenai kerangka teori, yakni “suatu kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, tesis mengenai sesuatu kasus atau permasalahan yang dijadikan bahan perbandingan, pegangan teoritis, yang mungkin disetujui ataupun tidak disetujui yang dijadikan masukan dalam membuat kerangka berpikir dalam penulisan.”21
Fungsiteori dalam penelitian ini adalah untuk mensistematiskan penemuan-penemuan penelitian, membuat prediksi atas dasar penemuan-penemuan dan menyajikan penjelasan yang dalam hal ini untuk menjawab pertanyaan.Artinya teori merupakan suatu penjelasan rasional yang berkesesuaian dengan objek yang dijelaskan dan harus didukung oleh fakta empiris untuk dapat dinyatakan benar.22
Teori yang dapat dijadikan sebagai pisau analisis dalam menelaah dan menganalisa permasalahan yang terdapat dalam penelitian ini antara lain adalah Teori Organ Perseroan dan Teori Perlindungan Hukum.
Kedudukan perseroan sebagai suatu entitas didukung dengan kemampuan perseroan tersebut untuk bertindak sebagaimana layaknya seorang manusia yang memiliki personalitas atau kepribadian (rechtspersoonlijkheid). Perseroan seperti
21 M. Solly Lubis, Teori Hukum, (Medan: Madjoe Group, 2004),hlm. 80.
22Ibid, hal 17.
manusia, bisa menjadi badan hukum, oleh karena itu bisa juga disebut sebagai subjek hukum. Apabila sesuatu mempunyai “hak” (recht, right) dan “kewajiban” (duty) seperti layaknya manusia, maka menurut hukum setiap apa pun yang mempunyai hak dan kewajiban adalah subjek hukum dalam kategori “badan hukum” (rechtpersoon, legal person). Dengan demikian, tidak selamanya badan hukum, harus manusia.23
Badan hukum yang bukan manusia itulah yang disebut pada Pasal 1 angka 1 UUPT namanya disebut sebagai “Perseroan Terbatas” (Naamlozevenootschapps, corporation limited by shares). Umum berpendapat, kata perseroan atau korporasi yang dipakai sekarang berasal dari bahasa latin: corpus yang berarti badan, tubuh atau raga. Kata itulah yang berkembang menjadi corporation atau perseroan yang lahir dan dicipta melalui proses hukum. Bukan lahir melalui proses alamiah (natural birth) seperti halnya manusia. Itu sebabnya perseroan disebut sebagai badan hukum buatan (kunsmantige rechtspersoon, artificial legal persoon). Meskipun perseroan merupakan badan hukum yang lahirnya berdasarkan proses hukum, namun perseroan tidaklah fiktif, tetapi nyata-nyata ada melakukan kegiatan bisnis atau kegiatan usaha ditengah-tengah kehidupan masyarakat. 24
Teori personalitas perseroan yang paling mendekati dengan konsep perseroan sebagai badan hukum adalahTeori Organ Perseroan (Teori Realistis). Pengusung Teori Organ adalah Otto Von Girkie (1841-1921), dimana menurutnya badan hukum itu seperti manusia yang memiliki organ-organ sebagai penggerak maksud dan tujuan yang semula ingin dicapai badan hukum tersebut.
23M. Yahya Harahap, Hukum Perseroan Terbatas, (Jakarta : Sinar Grafika, 2009), hlm. 52-53.
24Ibid.
Teori Organ menganggap bahwa keberadaan badan hukum dalam tata hukum sama saja dengan keberadaan manusia sebagai subjek hukum. Jadi badan hukum bukanlah khayalan dari hukum sebagaimana diajarkan teori fiksi, melainkan benar (realistis) ada dalam kehidupan hukum. Teori ini secara sangat kuat mengakui keberadaan badan hukum sebagai subjek hukum yang terpisah dengan para anggotanya (pemegang sahamnya).25
Teori Organ menganggap badan hukum itu menjadi suatu “verband personlickeit”, yaitu suatu badan yang membentuk kehendaknya dengan perantara alat-alat atau organ-organ badan tersebut, misalnya anggota-anggotanya atau pengurus seperti manusia yang mengucapkan kehendaknya dengan perantara mulutnya atau dengan perantara tangannya kemudian kehendak tersebut dituangkan diatas kertas. Apa yang mereka putuskan itu adalah kehendak badan hukum.26
Bahwa perseroan sebagai badan hukum adalah “realita sesungguhnya”, yang sama halnya dengan sifat kepribadian manusia. Sebab seperti halnya personalitas manusia, perseroan sebagai badan hukum, juga mempunyai maksud, tujuan dan kehendak seperti manusia.27
Dengan demikian menurut teori organ, badan hukum bukan merupakan suatu hal yang abstrak, tetapi benar-benar ada. Badan hukum bukan suatu kekayaan (hak) yang tidak bersubjek, tetapi badan hukum itu suatu organisme yang riil, yang hidup dan bekerja seperti manusia biasa. Tujuan badan hukum menjadi kolektivitas, terlepas
25 Munir Fuady, Doktrin-Doktrin Modern dalam Corporate Law, (Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 2002), hlm. 4.
26 Mulhadi, Hukum Perusahaan, (Bogor, Ghalia Indonesia, 2010), hlm. 78.
27Agus Budiharto, Kedudukan Hukum dan Tanggung Jawab Pendirian Perseroan Indonesia (Jakarta : Sinar Grafika, 2002), hlm. 27.
dari individu, ia suatu “verband persoonlichkeit” yang memiliki gesamwille (kehendak). Berfungsinya badan hukum disamakan dengan fungsi manusianya. 28
Perseroan mempunyai status persona standi in judicio, artinya sekalipun ia hanya berwujud suatu badan dan bukan manusia alamiah, namun dimata hukum ia dipandang sama seperti manusia alamiah yang dapat menjadi pendukung hak dan kewajiban.29
Teori Organ ini sangat mendukung keberadaan organ-organ perseroan sebagai penggerak/promotor suatu perseroan. Organ perseroan tersebut bersinergi membangun perseroan sesuai dengan maksud dan tujuan pendirian perseroan.
Perseroan sebagai badan hukum sangatlah bergantung kepada kepiawaian organ-organnya untuk mengurus perseroan dalam rangka menumbuh-kembangkan perseroan itu sendiri.
Karakteristik perseroan berdasarkan konsep Teori Organ :30
1. Bahwa perseroan memiliki kepribadian hukum atau personalitas hukum (legal personality) yang berbeda dan terpisah (distinct and separate) dari kepribadian hukum individu personnya;
2. Hukum membolehkan (law permits) penerapan tanggung jawab terbatas (limited liability) hanya sebatas harta kekayaan Perseroan, dan menggugat dan digugat atas nama Perseroan.
3. Perseroan diakui memiliki “kepengurusan” yang disebut Direksi yang bertindak mengurus usaha Perseroan, serta mewakili Perseroan.
28Ibid.
29Rudhi Prasetya, Op. Cit., hlm. 18.
30 Yahya Harahap, Op. Cit., hlm.56.
Sebagaimana telah diketahui bahwa organ-organ perseroan terdiri atas Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Direksi dan Komisaris. Keberadaan RUPS sebagai Organ Perseroan, ditegaskan pada Pasal 1 angka 4 yang mengatakan RUPS adalah Organ Perseroan. Dengan demikian menurut hukum, RUPS adalah Organ Perseroan yang tidak dapat dipisahkan dari Perseroan. Melalui RUPS tersebutlah para pemegang saham sebagai pemilik (eigenaar, owner). Perseroan melakukan kontrol terhadap kepengurusan yang dijalankan manajemen perseroan.
Secara umum, menurut Pasal 1 angka 4, RUPS sebagai Organ Perseroan, mempunyai wewenang yang tidak diberikan kepada Direksi atau Dewan Komisaris, namun dalam batas yang ditentukan dalam undang-undang ini dan/atau anggaran dasar perseroan.
Kemudian kewenangan RUPS tersebut, dikemukakan ulang lagi pada Pasal 75 ayat (1) yang berbunyi :
RUPS mempunyai wewenang yang tidak diberikan kepada Direksi atau Dewan Komisaris dalam batas yang ditentukan dalam undang-undang ini dan/atau anggaran dasar.
Jadi, secara umum, kewenangan apa saja yang tidak diberikan kepada Direksi dan/atau Dewan Komisaris, menjadi kewenangan RUPS. Oleh karena itu, dapat dikatakan RUPS merupakan organ tertinggi perseroan. Namun hal itu tidak persis demikian, karena pada dasarnya ketiga organ perseroan itu sejajar dan berdampingan sesuai dengan pemisahan kewenangan (separation of power) yang diatur dalam undang-undang dan anggaran dasar. Dengan demikian, tidak dapat dikatakan RUPS
lebih tinggi dari Direksi dan Dewan Komisaris. Masing-masing mempunyai posisi dan kewenangan sesuai dengan fungsi dan tanggung jawab yang mereka miliki.
Setiap pemegang saham mempunyai hak menghadiri RUPS. Undang-undang Perseroan pada masa modern mengatur ketentuan yang menegaskan hak tersebut.
Begitu juga anggaran dasar, mengatur ketentuan perseroan harus mengadakan RUPS paling tidak satu kali dalam setahun. Pada dasarnya, dalam RUPS pemegang saham melakukan kontrol atas jalannya kepengurusan perseroan yang dilakukan Direksi.31
Mengenai tindakan perseroan untuk melakukan aksi buybacksaham haruslah mendapat persetujuan RUPS. Pasal 38 Ayat (1) UUPT, mengharuskan adanya
“persetujuan” RUPS atas buybacksaham atau pengalihan lebih lanjut saham yang dibeli kembali. Baik buybackmaupun pengalihan lebih lanjut saham tersebut, hanya boleh dilakukan Direksi berdasarkan “persetujuan” RUPS, kecuali ditentukan lain dalam perundang-undangan. Keputusan RUPS sah apabila dilakukan sesuai dengan ketentuan mengenai panggilan rapat, kuorum dan persetujuan jumlah suara untuk
“perubahan” AD.
Jadi, RUPS untuk memberi persetujuan membeli kembali saham yang telah dikeluarkan maupun untuk pengalihan lebih lanjut saham yang dibeli kembali oleh undang-undang, dalam hal ini Pasal 38 Ayat (1) UUPT32, disamakan kategori dan sifatnya dengan RUPS “perubahan” AD tertentu yang digariskan Pasal 21 ayat (1)
31 Pendapat James D. Cox, Thomas Lee Hazen dan Hedge O’ Neal dikutip dari Yahya Harahap, Op. C.it, hlm. 305.
32 Pasal 38 Ayat (1)UUPT :Buyback saham sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (1) atau pengalihannya lebih lanjut hanya boleh dilakukan berdasarkan persetujuan RUPS, kecuali ditentukan lain dalam peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal.
dan (2)33 UUPT. Dengan demikian, landasan rujukan RUPS tersebut, harus tunduk kepada ketentuan Pasal 86 UUPT.
Berdasarkan Pasal 39 UUPT, RUPS dapat menyerahkan kewenangan kepada Dewan Komisaris untuk menyetujui pelaksanaan Keputusan RUPS untuk membeli kembali atau untuk mengalihkan lebih lanjut saham yang dibeli kembali, dengan ketentuan sebagai berikut :
1. Penyerahan kewenangan itu kepada Dewan Komisaris, hanya terbatas untuk jangka waktu paling lama 1 (satu) tahun;
2. Namun jangka waktu itu, setiap kali dapat diperpanjang untuk jangka waktu 1 (satu) tahun, dan;
3. Penyerahan kewenangan itu sewaktu-waktu dapat dicabut oleh RUPS.
Sesuai dengan Penjelasan pasal ini, yang dimaksud dengan “pelaksanaan”
adalah penentuan tentang :
1. Saat dan cara buybacksaham;
2. Jumlah saham yang dapat dibeli kembali.
Akan tetapi, terhadap pelaksanaaan yang diberikan RUPS kepada Dewan Komisaris atas buybackmaupun tindak lanjutnya ada pembatasan. Ke dalam pelaksanaan itu, tidak termasuk hal-hal yang menjadi “tugas” Direksi dalam
33 Pasal 21 ayat (1) UUPT: Perubahan anggaran dasar tertentu harus mendapat persetujuan Menteri dan Ayat (2) UUPT : Perubahan anggaran dasar tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. nama Perseroan dan/atau tempat kedudukan Perseroan; b. maksud dan tujuan serta kegiatan usaha Perseroan; c. jangka waktu berdirinya Perseroan; d. besarnya modal dasar; e.
pengurangan modal ditempatkan dan disetor; dan/atau f. status Perseroan yang tertutup menjadi Perseroan Terbuka atau sebaliknya.
buybackitu, seperti melakukan pembayaran; penyimpanan surat saham dan pencatatan dalam daftar pemegang saham.34
Mengenai saham yang dikuasai kembali, saham tersebut tidak mempunyai hak suara dan hak dividen. Hal ini sangat berkaitan dengan hak suara (voting right) dan hak dividen (dividen right) atas saham yang dikuasai Perseroan menurut Pasal 40 UUPT 35 :
1. Yang dimaksud dengan saham yang dikuasai Perseroan, karena buyback, peralihan karena hukum, karena hibah atau hibah wasiat;
2. Saham yang dikuasai Perseroan yang terjadi karena hal-hal yang tersebut di atas :
a. Tidak dapat digunakan untuk mengeluarkan suara dalam RUPS, dan tidak diperhitungkan dalam menentukan jumlah kuorum yang harus dicapai sesuai dengan ketentuan undang-undang ini dan/atau Anggaran Dasar.
b. Saham tersebut tidak berhak mendapat “pembagian” dividen.
Dari penjelasan di atas, Pasal 40 UUPT menegaskan, saham yang dikuasai Perseroan baik karena buyback, peralihan karena hukum, hibah atau hibah wasiat, tidak mempunyai hak suara dan tidak mempunyai hak dividen.
Berkaitan dengan buybacksaham perseroan, terkhusus perseroan terbuka berlaku RUPS sebagaimana halnya RUPS dilakukan dalam rangka perseroan
34 M.Yahya. Harahap, Ibid, hlm. 247-248.
35 Pasal 40 Ayat (1) UUPT : Saham yang dikuasai Perseroan karena Buyback, peralihan karena hukum, hibah atau hibah wasiat, tidak dapat digunakan untuk mengeluarkan suara dalam RUPS dan tidak diperhitungkan dalam menentukan jumlah kuorum yang harus dicapai sesuai dengan ketentuan Undang-Undang ini dan/atau anggaran dasar. Pasal 40 Ayat (2) UUPT : Saham sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berhak mendapat pembagian dividen.
melakukan aksi korporasi. Namun dalam hal tertentu seperti misalnya krisis ekonomi yang menyebabkan harga saham perseroan terbuka tersebut menurun secara signifikan, maka dapat dilaksanakan aksi perseroan tersebut tanpa perlu dilakukan RUPS.
Dasar hukum diperbolehkannya melakukan aksi buybacktanpa RUPS ini adalah Peraturan OJK No. 2/POJK.04/2013 tentang tentang buybackSaham yang Dikeluarkan oleh Emiten atau Perusahaan Publik dalam Kondisi Pasar yang Berfluktuasi Secara Signifikan. Pemberlakuan peraturan OJK ini didasari dengan diterbitkannya Surat Edaran OJK Nomor 22/SEOJK.04/2015 tanggal 21 Agustus 2015 tentang Kondisi Lain sebagai Kondisi Pasar Yang Berfluktuasi Secara Signifikan dalam Pelaksanaan buybackSaham Yang Dikeluarkan oleh Emiten atau Perusahaan Publik.
Teori Organ dipandang tepat untuk digunakan dalam penelitian ini dengan pertimbangan sebagai berikut :
1. Teori Organ mampu memberikan penjelasan serta jawaban yang mengarah kepada salah satu fokus permasalahan dari tesis ini yakni kedudukan organ Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) sebagai salah satu organ perseroan yang memiliki kewenangan yang tidak dimiliki oleh organ perseroan yang lain.
2. Teori Organ sangat aktif mendeskripsikan bahwa pada hakikatnya perseroan adalah badan hukum yang nyata-nyata bukan fiktif belaka, beraktivitas, berkegiatan, melakukan usaha dengan didukung oleh
keberadaan organ-organnya sebagai penggerak/promotor yang menentukan arah dan tujuan dibentuknya perseroan.
3. Teori Organ sangat mumpuni mendukung keberadaan Organ RUPS sebagai organ yang sangat penting dalam mengambil keputusan-keputusan yang sifatnya krusial bagi perseroan terutama keputusan-keputusan yang menentukan arah kebijakan yang sifatnya fundamental bagi situasi permodalan perseroan.
4. Namun kewenangan organ RUPS yang demikian krusialnya bagi keberlangsungan dan keberadaan suatu perseroan dapat dikesampingkan oleh situasi tertentu yang sifatnya genting dan memaksa. Seperti misalnya situasi krisis ekonomi global yang masa kedatangannya tidak terprediksi (unpredictable).
5. OJK sebagai otoritas independen yang memiliki kewenangan untuk mengawasi serta mengeluarkan kebijakan bagi perseroan terkhusus perseroan yang telah go public (emiten) telah memberlakukan kembali peraturan yakni bahwa diperbolehkannya suatu perseroan melakukan aksi buyback saham perseroan tanpa terlebih dahulu dilakukannya RUPS. Aksi korporasi tersebut dilakukan dalam rangka upaya penyelamatan dan perlindungan bagi perseroan go public tersebut dari krisis ekonomi global.
6. Kebijakan yang dikeluarkan oleh OJK tersebut mengenyampingkan fungsi dan kewenangan organ RUPS sebagai komite penting pemutus kebijakan-kebijakan ekonomi perusahaan, meskipun diamini oleh
UUPT sebagai landasan hukum keberadaan perseroan di Indonesia, namun tetaplah harus dikaji apakah dapat berlaku secara maksimal di dunia bisnis yang nyata-nyata memiliki permasalahan yang kompleks dan komprehensif.
b. Teori Perlindungan Hukum
Selain dari Teori Organ, Teori Perlindungan Hukum merupakan salah satu teori yang dapat dijadikan pisau analisis untuk menjawab permasalahan yang terdapat dalam tesis ini.
Menurut Satjipto Raharjo, Perlindungan Hukum adalah “Memberikan pengayoman terhadap Hak Asasi Manusia (HAM) yang dirugikan orang lain dan perlindungan itu diberikan kepada masyarakat agar dapat menikmati semua hak-hak yang diberikan oleh hukum.36
Maria Theresia Geme mengartikan Perlindungan Hukum adalah “Tindakan negara untuk melakukan sesuatu dengan memberlakukan hukum negara secara eksklusif dengan tujuan untuk memberikan jaminan kepastian hak-hak yang diberikan oleh hukum”37
Perlindungan hukum dapat timbul karena beberapa sebab. Misalnya karena undang-undang telah mengaturnya, contohnya dalam hubungan hukum publik, juga perlindungan hukum yang timbul karena hubungan kontraktual.
36 Satjipto Raharjo, Ilmu Hukum, (Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 2000), hlm. 54.
37 Pendapat Maria Theresia Geme dikutip dari H. Salim dan Erlies Septiana Nurbani, Penerapan Teori Hukum Pada Penelitian Tesis dan Disertasi, (Jakarta : PT. Rajagrafindo Persada, 2016), hlm. 262.
Bentuk perlindungan hukum pada hakikatnya dapat dilaksanakan melalui dua bentuk. Bentuk pertama adalah dengan memberikan kepastian hukum melalui peraturan perudang-undangan dan penegakannya. Bentuk kedua yakni melalui upaya preventif (pencegahan).38
Terkait dengan perusahaan, konsep perlindungan hukum terutama diperuntukkan kepada investor (penanam modal) dan juga perusahaan itu sendiri.
Sebab utama timbulnya perlindungan hukum bagi perusahaan dan investor adalah karena amanat dari undang-undang. undang yang dimaksud yakni Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas sebagai payung hukum berdirinya suatu perusahaan.
Kaitannya dengan aksi buyback saham perusahaan, perlindungan hukum terutama ditujukan kepada penanam modal (investor) yakni pihak yang memiliki saham di dalam perusahaan. Investor sebagai pihak penanam modal selanjutnya sebagai pihak pemegang saham, memiliki hak untuk mengeluarkan pendapat mengenai persetujuan dilakukan atau tidak dilakukannya buybacksaham perusahaan.
Namun ketentuan tersebut diatur tersendiri, yakni disesuaikan dengan porsi saham yang dimiliki oleh investor tersebut.
Terhadap investor dengan porsi kepemilikan saham yang kecil, berlaku doktrin Gugatan Derivatif (Derivative Action) yang memang telah diatur secara tegas di dalam UUPT dalam rangka memberikan perlindungan dan kepastian hukum kepada investor. Tujuan utamanya adalah untuk menegakkan keadilan dalam tatanan hukum
38M.Irsan Nasaruddin (et. al), Aspek Hukum Pasar Modal Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2008), hlm.227.
perseroan dalam hubungannya dengan komposisi dan pembagian tugas, hak dan kewenangan antara organ-organ dan pihak-pihak dalam suatu perseroan.39
Kemudian dalam kaitannya dengan perlindungan hukum terhadap perusahaan, jelas aksi korporasi buybacksaham merupakan langkah yang direstui oleh undang-undang untuk memberikan proteksi kepada perusahaan. Salah satunya dengan menyelamatkan nilai saham perusahaan agar tidak terlalu menurun secara drastis akibat dampak krisis ekonomi global.
Dasar hukum pelaksanaan aksi korporasi buyback tersebut didasarkan pada Peraturan OJK Nomor 2 /POJK.04/2014 yang memberi kemudahan kepada perusahaan untuk melakukan aksi buybacktanpa perlu disusahkan dengan urusan RUPS terlebih dahulu. OJK sebagai otoritas independen berhak mengeluarkan kebijakan sebagai upaya preventif untuk mencegah jatuhnya harga saham dibursa, kebijakan tersebut semata-mata untuk memberikan perlindungan serta kepastian hukum bagi investor sekaligus juga bagi perseroan dari dampak krisis ekonomi global.
Wujud proteksi atau perlindungan yang diberikan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kepada perusahaan terkhusus perusahaan yang telah go public (emiten) tertuang dengan jelas di Pasal 5 Peraturan OJK Nomor: 2/POJK.04/2013 tentang BuybackSaham yang Dikeluarkan oleh Emiten atau Perusahaan Publik dalam Kondisi Pasar yang Berfluktuasi Secara Signifikan, dimana berdasarkan ketentuan Pasal tersebut telah ditentukan bahwa buybacksaham oleh Perusahaan dalam keadaan
39 Munir Fuady, Doktrin-Doktrin Modern dalam Corporate Law, Op. Cit., hlm.
73.Pemberlakuan Doktrin Gugatan Derivatif ini merupakan upaya nyata dari sektor hukum perseroan untuk menjawab kebutuhan praktek bisnis dengan metode yang modern.
kondisi pasar sedang krisis, yakni paling banyak 20% (dua puluh perseratus) dari modal disetor.
Diikuti dengan ketentuan Pasal 6 Peraturan OJK bahwa emiten dapat melakukan buybacksaham, setelah menyampaikan keterbukaan informasi kepada OJK dan Bursa Efek. Penyampaian informasi (disclosure) dilakukan paling lama 7 (tujuh) hari Bursa setelah terjadinya kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan.
buyback saham hanya dapat dilakukan dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan setelah keterbukaan informasi disampaikan ke bursa efek.
Berdasarkan ketentuan Pasal 5 dan Pasal 6 Peraturan OJK tersebut dapat dilihat bahwa prinsip keterbukaan (disclosure principal) sangat jelas tertuang secara eksplisit dalam rangka memberikan proteksi terhadap investor dan juga emiten. Keterbukaan dalam pasar modal berarti keharusan emiten dan pihak lain yang tunduk kepada undang-undang harus menginformasikan kepada masyarakat dalam waktu yang tepat seluruh informasi material mengenai usahanya atau efeknya yang dapat berpengaruh terhadap keputusan investor terhadap efek yang dimaksud atau harga dari efek tersebut.
Dari segi substansial, transparansi memampukan publik untuk mendapatkan akses informasi penting yang berkaitan dengan perusahaan. Dari sisi yuridis, transparansi merupakan jaminan bagi hak publik untuk terus mendapatkan akses penting dengan sanksi untuk hambatan atau kelalaian yang dilakukan perusahaan.
Keterbukaan informasi dalam rangka buybacksaham haruslah memuat informasi sebagai berikut:40
1. Perkiraan jadwal, biaya buybacksaham tersebut, dan perkiraan jumlah nilai nominal seluruh saham yang akan dibeli kembali;
2. Perkiraan menurunnya pendapatan Perusahaan sebagai akibat pelaksanaan buybacksaham dan dampak atas biaya pembiayaan Perusahaan;
3. Proforma laba per saham Perusahaan setelah rencana buybacksaham dilaksanakan, dengan mempertimbangkan menurunnya pendapatan;
4. Pembatasan harga saham untuk buybacksaham;
5. Pembatasan jangka waktu buybacksaham;
6. Metode yang akan digunakan untuk buybacksaham; dan
7. Pembahasan dan analisis manajemen mengenai pengaruh buybacksaham terhadap kegiatan usaha dan pertumbuhan Perusahaan di masa mendatang.
Pengenaan sanksi serta penegakan hukum atas setiap pelanggaran terhadap ketentuan mengenai keterbukaan atau transparansi ini menjadikan pemegang saham atau investor terlindungi secara hukum dari praktik-praktik manipulasi dalam perusahaan publik. Karena apabila investor tidak merasa mendapatkan perlindungan hukum yang memadai, maka hampir dipastikan arus investasi melalui pasar modal yang fair, teratur, dan efisien dapat terhambat.
Undang-Undang Pasar Modal Nomor 8 Tahun 1995 (UUPM) sebagai payung hukum keberadaan perusahaan go public telah menyediakan kerangka hukum yang
40 Pasal 6 ayat (4) Nomor: 2/POJK.04/2013tentang Buyback Saham yang Dikeluarkan oleh Emiten atau Perusahaan Publik dalam Kondisi Pasar yang Berfluktuasi Secara Signifikan.
kokoh untuk menjamin transparansi. Pemberlakuan UUPM akan menjadi indikator dan landasan hukum yang diharapkan mampu memberikan perlindungan hukum kepada investor dalam hal hak untuk mendapatkan informasi yang akurat, lengkap, dan benar sehingga calon investor mampu mengambil keputusan karena didukung informasi yang kuat.
Berdasarkan pemaparan tersebut diatas penggunaan konsep teori Perlindungan Hukum dipandang tepat sebab :
1. Teori Perlindungan hukum mendukung sekaligus menjawab permasalahan dalam tesis yakni bahwa latar belakang dikeluarkannya Peraturan OJK Nomor: 2/POJK.04/2013 tentang Buyback Saham yang Dikeluarkan oleh Emiten atau Perusahaan Publik dalam Kondisi Pasar yang Berfluktuasi secara Signifikan adalah pada hakikatnya untuk memberikan proteksi kepada perusahaan terutama perusahaan yang telah go public dan juga investor.
2. Teori Perlindungan Hukum mendukung keberadaan Peraturan OJK tersebut dikarenakan pada hakikatnya pemberlakuan kembali peraturan OJK tersebut dengan diterbitkannya Surat Edaran OJK Nomor 22/SEOJK.04/2015 tentang Kondisi lain Sebagai Kondisi Pasar yang Berfluktuasi secara Signifikan dalam Pelaksanaan Pembelian Kembali Saham yang Dikeluarkan oleh Emiten atau Perusahaan Publik adalah pada dasarnya untuk memberikan proteksi serta kepastian hukum bagi industri pasar modal Indonesia dengan memudahkan emiten-emiten untuk melakukan aksi korporasi buyback saham tanpa perlu melaksanakan
RUPS terlebih dahulu. Dimana alasan utamanya adalah untuk menyelamatkan nilai saham yang mulai merosot dalam waktu tertentu dikarenakan krisis ekonomi secara global.
3. Kerangka Konsep
Buyback saham adalah pembelian kembali saham-saham yang telah diterbitkan
Buyback saham adalah pembelian kembali saham-saham yang telah diterbitkan