• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III KEDUDUKAN RUPS DALAM PEMBELIAN KEMBALI

B. Perlindungan terhadap Investor dalamAksi Buyback

Sebagian besar perusahaan yang menawarkan efeknya melalui pasar modal, sebelumnya merupakan perusahaan keluarga (family company) yang saham dan

manajemennya dikuasai oleh beberapa orang. Setelah menawarkan sebagian sahamnya, perusahaan tersebut masih menganut pola manajemen yang hampir sama dengan ketika sebelum menawarkan sahamnya. Hal ini berpengaruh terhadap pemegang saham publik dalam hubungannya dengan:

a. Komposisi Kepemilikan

Dengan komposisi kepemilikan saham, publik memiliki posisi tawar-menawar (bargaining position) yang lebih lemah.Menyadari kondisi tersebut, pemegang saham publik memerlukan adanya perlindungan melalui penciptaan regulasi oleh pemerintah sehingga tercipta keadilan dalam prolehan informasi dan transaksi sekuritas lainnya.

b. Akses terhadap Informasi dan Sumber Finansial

Pendiri mempunyai akses informasi dan keuangan yang lebih luas di bandingkan dengan pemegang saham publik.Ketimpangan ini berusaha diminimalisasikan dengan adanya peraturan yang mengharuskan perusahaan publik untuk mengumumkan atau melaporkan hal-hal penting yang terjadi pada perusahaan.

Keharusan untuk mengumumkan atau melaporkan ini adalah hakikat dari Prinsip Keterbukaan (Disclosure Principle). Prinsip Keterbukaan menurut Pasal 1 angka 25 UUPM adalah pedoman umum yang mensyaratkan Emiten, Perusahaan Publik, dan Pihak lain yang tunduk pada Undang-undang untuk menginformasikan kepada masyarakat dalam waktu yang tepat seluruh Informasi Material mengenai usahanya atau efeknya yang dapat berpengaruh terhadap keputusan pemodal (investor) terhadap Efek dimaksud dan atau harga dari Efek tersebut.

Prinsip keterbukaan (disclosure principal) menjadi isu utama yang harus dikaji dalam pasar modal.Terdapat suatu teori sederhana yang dapat menjelaskan bagaimana prinsip keterbukaan ini difokuskan. Fokus utama ini akan menghasilkan 4 (empat) tuntutan, antara lain:129

a. Dikarenakan informasi memiliki berbagai karakteristik dari suatu barang umum (public good), maka penelitian saham cenderung kurang tersedia.

Kurangnya ketersediaan informasi bukan berarti bahwa informasi yang diberikan emiten tidak dapat diverfikasi secara optimal dan bahwa kurangnya upaya yang dilakukan terhadap pencarian informasi materiel dari sumber emiten. Maksud yang ingin ditekankan dalam poin pertama ini bahwa sistem keterbukaan wajib dapat dilihat sebagai suatu strategi pengurangan biaya pencarian guna menjamin adanya informasi dalam jumlah besar dan pengujian akurasi yang lebih baik. Hal ini kurang lebih mampu meningkatkan alokasi efisiensi pasar modal dan pada akhirnya peningkatan tersebut menunjukkan suatu pertumbuhan ekonomi yang lebih produktif.

b. Ada dasar substansial untuk dipercaya bahwa ketidakefisienan yang lebih besar akan terjadi tanpa sistem keterbukaan wajib karena biaya sosial yang berlebih akan dikeluarkan investor untuk mengejar laba perdagangan.

Sebaliknya pengolektipan dapat mengurangi social waste yang timbul dari kesalahan alokasi sumber daya ekonomi untuk mencapai tujuan ini.

129 Bismar Nasution, Keterbukaan dalam Pasar Modal, (Jakarta: Fakultas Hukum Universitas Indonesia,Program Pascasarjana,2001), hlm. 24-25.

c. Dalam pasar modal yang efisien, masih ada informasi lain yang dibutuhkan investor rasional untuk mengoptimalkan portofolio sahamnya. Informasi yang demikian sangat baik diberikan melalui suatu sistem keterbukaan wajib.

Tujuan penegakan prinsip keterbukaan untuk menjaga kepercayaan pelaku pasar modal130 sangat relevan ketika munculnya ketidakpercayaan publik terhadap pasar modal, yang pada gilirannya mengakibatkan pelarian modal (capital flight) secara besar-besaran dan seterusnya dapat mengakibatkan kehancuran pasar modal (bursa saham). Sebab ketiadaan keterbukaan atau ketertutupan informasi akan menimbulkan ketidakpastian bagi investor. Akibatnya investor sulit mengambil keputusan untuk berinvestasi melalui pasar modal.Hal ini sesuai dengan pendapat bahwa apabila makin jelas informasi perusahaan, maka keinginan investor untuk berinvestasi semakin tinggi.Sebaliknya ketiadaan atau ketertutupan informasi dapat menimbulkan keragu-raguan investor untuk berinvestasi.

Penegakan Prinsip Keterbukaan untuk menjaga kepercayaan investor sebagai faktor fundamental, bukan satu-satunya pendekatan untuk memprediksi harga saham.Faktor teknis, seperti psikologis dan emosi juga mempengaruhi harga saham.Misalnya berkenaaan dengan keadaan ekonomi, keadaan politik, kebijakan pemerintah dan rumor.131

130 Pelaku Pasar modal : analis saham atau penasehat investasi, pialang maupun investor, khususnya para investor yang potensil ataupun investor rasional.

131Pendekatan teknis sebagai aliran kedua setelah pendekatan fundamental, menyatakan bahwa investor adalah makhluk yang irrasional.Bursa pada dasarnya adlaah cerminan mass behaviour.

Gambarannya adalah misalnya seorang individu yang bergabung dalam suatu massa, bukan hanya kehilangan rasionalitasnya, tetapi juga seringkali melebur identitas pribadi ke dalam identitas kolektif.

Harga saham sebagai komoditas perdagangan, tentu dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran.

Komoditi utama yang dijual di pasar modal adalah informasi yang berwujud fakta material. Informasi atau fakta material menurut Pasal 1 angka 7 UUPM Informasi atau Fakta Material adalah informasi atau fakta penting dan relevan mengenai peristiwa, kejadian, atau fakta yang dapat mempengaruhi harga Efek pada Bursa Efek dan atau keputusan pemodal, calon pemodal, atau Pihak lain yang berkepentingan atas informasi atau fakta tersebut.132

Keterbukaan atas fakta material ini merupakan bentuk perlindungan kepada investor karena pada hakikatnya tujuan utama dari keterbukaan informasi adalah memberikan kemudahan bagi investor untuk menimbang kemudia memutuskan mengenai keputusan apa yang akan diberikan investor tersebut terhadap saham-saham perusahaan.

Keterbukaan informasi ini dituangkan ke dalam prospektus. Prospektus berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 26 UUPM adalah setiap informasi tertulis sehubungan dengan Penawaran Umum saham dengan tujuan agar Pihak lain membeli Efek. Sedangkan efek berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 5 UUPM adalah surat berharga, yaitu surat pengakuan utang, surat berharga komersial,saham, obligasi, tanda bukti utang, Unit Penyertaan kontrak investasi kolektif, kontrak berjangka atas Efek, dan setiap derivatif dari Efek.

Ketentuan khusus mengenai keterbukaan di sektor pasar modal ini telah diatur secara komprehensif berdasarkan Peraturan OJK Nomor 31 /POJK.04/2015 tentang Namun pada gilirannya permintaan dan penawaran merupakan manifestasi dari kondisi psikologis investor. Sjahrir, Tinjauan Pasar Modal, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1995), hlm. 229.

132 Merupakan pengertian yang sama sebagaimana telah diatur dalam Pasal 1 Peraturan OJK NOMOR 31 /POJK.04/2015 tentang Keterbukaan atas Informasi atau Fakta Material oleh Emiten atau Perusahaan Publik.

Keterbukaan atas Informasi atau Fakta Material oleh Emiten atau Perusahaan Publik.

Tujuan dibentuknya peraturan ini adalah dalam rangka meningkatkan kualitas keterbukaan oleh Emiten atau Perusahaan Publik khususnya terkait Informasi atau Fakta Material, perlu menyempurnakan peraturan mengenai Keterbukaan Informasi yang Harus Segera Diumumkan Kepada Publik dengan menetapkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan tentang Keterbukaan Atas Informasi Atau Fakta Material Oleh Emiten atau Perusahaan Publik.

Berdasarkan ketentuan Pasal 2 Peraturan OJK Nomor 31 /POJK.04/2015 bahwa Pasal 2 ayat (1) bahwa Emiten atau Perusahaan Publik wajib menyampaikan laporan Informasi atau Fakta Material kepada Otoritas Jasa Keuangan dan melakukan pengumuman Informasi atau Fakta Material kepada masyarakat. Informasi atau Fakta Material dalam laporan dan pengumuman tersebut wajib paling sedikit memuat:

a. tanggal kejadian;

b. jenis Informasi atau Fakta Material;

c. uraian Informasi atau Fakta Material; dan d. dampak kejadian Informasi atau Fakta Material.

Fakta material menurut Pasal 6 Peraturan OJK Nomor 31 /POJK.04/2015 bahwa Informasi atau Fakta Material sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) meliputi:

a. penggabungan usaha, pemisahan usaha, peleburan usaha, atau pembentukan usaha patungan;

b. pengajuan tawaran untuk pembelian Efek perusahaan lain;

c. pembelian atau penjualan saham perusahaan yang nilainya material;

d. pemecahan saham atau penggabungan saham;

e. pembagian dividen interim;

f. penghapusan pencatatan dan pencatatan kembali saham di Bursa Efek;

g. pendapatan berupa dividen yang luar biasa sifatnya;

h. perolehan atau kehilangan kontrak penting;

i. penemuan baru atau produk baru yang memberi nilai tambah bagi perusahaan;

j. penjualan tambahan Efek kepada masyarakat atau secara terbatas yang material jumlahnya;

k. perubahan dalam pengendalian baik langsung maupun tidak langsung terhadap Emiten atau Perusahaan Publik;

l. perubahan anggota Direksi dan/atau anggota Dewan Komisaris;

m. pembelian kembali atau pembayaran Efek Bersifat Utang dan/ atau Sukuk;

n. pembelian atau penjualan aset yang sifatnya penting;

o. perselisihan tenaga kerja yang dapat mengganggu operasional perusahaan;

p. perkara hukum terhadap Emiten atau Perusahaan Publik dan/atau anggota Direksi dan anggota Dewan Komisaris Emiten atau Perusahaan Publik yang berdampak material;

q. penggantian Akuntan yang sedang diberi tugas mengaudit Emiten atau Perusahaan Publik;

r. penggantian Wali Amanat;

s. penggantian Biro Administrasi Efek;

t. perubahan tahun buku Emiten atau Perusahaan Publik;

u. perubahan penggunaan mata uang pelaporan dalam laporan keuangan;

v. Emiten atau Perusahaan Publik berada dalam pengawasan khusus dari regulator terkait yang dapat mempengaruhi kelangsungan usaha Emiten atau Perusahaan Publik;

w. pembatasan kegiatan usaha Emiten atau Perusahaan Publik oleh regulator terkait;

x. perubahan atau tidak tercapainya proyeksi keuangan yang telah dipublikasikan, secara material;

y. adanya kejadian yang akan menyebabkan bertambahnya kewajiban keuangan atau menurunnya pendapatan Emiten atau Perusahaan Publik secara material;

z. restrukturisasi utang;

aa. penghentian atau penutupan sebagian atau seluruh segmen usaha;

bb. dampak yang bersifat material terhadap Emiten atau Perusahaan Publik karena kejadian yang bersifat memaksa; dan/atau

cc. Informasi atau Fakta Material lainnya.

Informasi atau Fakta Material harus diumumkan oleh Emiten atau Perusahaan Publik yang sahamnya tercatat pada Bursa Efek, dimana pengumuman infomasi tersebut diumumkan melalui:

a. Situs Web Emiten atau Perusahaan Publik, dalam Bahasa Indonesia dan bahasa asing, dengan ketentuan bahasa asing yang digunakan paling sedikit bahasa Inggris; dan

b. Situs Web Bursa Efek atau 1 (satu) surat kabar harian berbahasa Indonesia yang berperedaran nasional.

Sementara itu pengumuman bagi Emiten atau Perusahaan Publik yang sahamnya tidak tercatat pada Bursa Efek paling sedikit harus melalui:

a. Situs Web Emiten atau Perusahaan Publik, dalam Bahasa Indonesia dan bahasa asing, dengan ketentuan bahasa asing yang digunakan paling sedikit bahasa Inggris; dan

b. 1 (satu) surat kabar harian berbahasa Indonesia yang berperedaran nasional.

Pengumuman yang menggunakan bahasa asing wajib memuat informasi yang sama dengan informasi dalam pengumuman yang menggunakan Bahasa Indonesia.

Apabila terdapat perbedaan penafsiran informasi yang diumumkan dalam bahasa asing dengan yang diumumkan dengan Bahasa Indonesia, informasi yang digunakan sebagai acuan adalah informasi dalam Bahasa Indonesia.

Mengenai pengumuman ini berdasarkan ketentuan Pasal 8 Peraturan OJK Nomor 31 /POJK.04/2015, apabila emiten atau Perusahaan Publik telah menyampaikan laporan kepada Otoritas Jasa Keuangan dan mengumumkan Informasi atau Fakta Material kepada masyarakat dalam rangka memenuhi Peraturan Otoritas Jasa Keuangan lainnya, Emiten atau Perusahaan Publik tersebut dianggap telah memenuhi kewajiban laporan kepada Otoritas Jasa Keuangan dan mengumumkan Informasi atau Fakta Material kepada masyarakat berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan ini.

Apabila kewajiban untuk mengumumkan informasi atau fakta material tersebut tidak dilakukan maka terhadap emiten atau perusahaan publik tersebut di kenakan

sanksi. Pasal 9 Peraturan OJK Nomor 31/POJK.04/2015 telah mengatur bahwa dengan tidak mengurangi ketentuan pidana di bidang Pasar Modal, Otoritas Jasa Keuangan berwenang mengenakan sanksi administratif terhadap setiap pihak yang melakukan pelanggaran ketentuan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan ini termasuk pihak-pihak yang menyebabkan terjadinya pelanggaran tersebut, berupa:

a. peringatan tertulis;

b. denda yaitu kewajiban untuk membayar sejumlah uang tertentu;

c. pembatasan kegiatan usaha;

d. pembekuan kegiatan usaha;

e. pencabutan izin usaha;

f. pembatalan persetujuan; dan g. pembatalan pendaftaran.

OJK dapat memberikan sanksi lain selain sanksi administratif berupa tindakan-tindakan tertentu terhadap setiap pihak yang melakukan pelanggaran ketentuan Peraturan OJK sebagaimana telah diatur dalam Pasal 10 Peraturan OJK Nomor 31/POJK.04/2015. Sementara itu berdasarkan ketentuan Pasal 11, selain memberikan sanksi administratif, OJK dapat mengumumkan pengenaan sanksi administratif tersebut kepada masyarakat.

2. Perlindungan terkait fluktuasi harga saham yang mengikat investor.

Harga saham dapat dilihat di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dimana kondisi IHSG tersebut dapat merefleksikan kondisi pasar modal yang sebenarnya.

Sifat harga saham emiten-emiten di bursa saham itu beragam, bisa mengalami

kenaikan, penurunan atau bahkan tidak bergerak sama sekali (flat). Kondisi harga saham yang sifatnya fluktuatif ini sangat dipengaruhi oleh informasi materil133 yang dimiliki emiten.

Apabila fakta materil emiten menunjukan akan mengalami pertumbuhan maka harga saham emiten tersebut dapat diekspektasikan mengalami kenaikan, namun sebaliknya apabila emiten menunjukkan performa pertumbuhan perusahaan yang menurun maka informasi fakta materil mengenai emiten tersebut negatif sehingga sentimen pasar yang muncul pun menyebabkan harga saham emiten tersebut menurun.

Informasi merupakan unsur penting bagi investor dan pelaku bisnis, karena informasi pada hakekatnya menyajikan keterangan catatan atau gambaran baik untuk keadaan masa lalu, sekarang, maupun masa yang akan datang bagi kelangsungan hidup suatu perusahaan dan bagaimana pasaran efeknya sendiri. Informasi yang lengkap, relevan,akurat dan tepat waktu sangat diperlukan oleh investor di pasar modal sebagai alat analisis untuk mengambil keputusan investasi.134

133Investasi yang dilakukan para investor diasumsikan selalu didasarkan pada pertimbangan yang rasional sehingga berbagai jenis informasi diperlukan untuk pengambilan keputusan investasi.Secara garis besar informasi yang diperlukan investor terdiri dari informasi yang bersifat fundamental dan informasi teknikal.Melalui dua pendekatan informasi tersebut diharapkan investor yang melakukan investasi mendapatkan keuntungan yang signifikan ataupun dapat menghindari kerugian yang harus ditanggung.(Pendapat Sakti,dalamDesy Arista& Astohar, Analisis Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Return Saham(Kasus pada Perusahaan Manufaktur yang Go Public di BEI periode tahun 2005 – 2009,Jurnal Ilmu Manajemen dan Akuntansi Terapan, Vol 3 Nomor 1, Mei 2012, hlm. 1)

134 Investasi harus henar-benar menyadari bahwa di samping akan memperoleh keuntungan tidak menutup kemungkinan mereka akan mengalami kerugian. Keuntungan atau kerugian tersebut sangat dipengaruhi oleh kemampuan investor menganalisis keadaan harga saham rnerupakan penilaian sesaat yang dipengaruhi oleh banyak faktor termasuk diantaranya kondisi (performance) dari perusahaan, kendala-kendala eksteral, kekuatan penawaran dan permintaan saham di pasar, serta kemampuan investor dalam menganalisis investasi saham.

Informasi yang dipublikasikan sebagai suatu pengumuman akan memberikan signal bagi investor dalam mengambil keputusan investasi. Jika pengumuman tersebut mengandung nilai yang belum diketahui oleh investor maka informasi tersebut akan dianalisis sehingga dapat disimpulkan informasi tersebut sebagai signal baik atau buruk. Jika informasi tersebut memberikan signal baik maka diharapkan pasar akan bereaksi pada waktu pengumuman tersebut diterima oleh pasar yang reaksinya akan terlihat dari adanya perubahan tingkat penjualan saham.

Informasi yang dapat dianalisis oleh investor bisa didapat dari berbagai macam sumber; seperti dari manajemen perusahaan yang mengeluarkan atau memberikan secara sukarela informasi akuntansi perusahaan dalam bentuk laporan keuangan.

Perusahaan melaporkan secara sukarela ke pasar modal agar investor mau menginvestasikan dananya, manajer akan memberikan signal dengan menyajikan laporan keuangan dengan baik agar nilai saham meningkat. Selain dari manajemen perusahaan, juga ada informasi lain yang dapat menjadi pengukuran investor untuk menilai investasi, yaitu dari eksternal perusahaan yang berwujud kebijakan politik (pergantian pejabat eksekutif dan sebagainya), keamanan suatu negara (terkait dengan keamanan investasi), kebijakan ekonomi, bencana alam dan lain sebagainya.

Analisis fundamental135 merupakan analisis yang digunakan untuk mencoba memprediksi harga saham diwaktu yangakan datang dengan mengestimasi nilai faktor-faktor fundamental yang berpengaruh terhadap harga saham dan menerapkan

135Analisis fundamental bertolak dari anggapan dasar bahwa setiap investor adalah mahkluk rasional, karena itu seorang fundamentalis mencoba mempelajari hubungan antara harga saham dengan kondisi peruashaan. Argumentasinya jelas bahwa nilai saham mewakili nilai perusahaan, tidak hanya nilai intrinsik tetapi tidak kalah pentingnya harapan akan kemampuan perusahaan dalam meningkatkan nilai di kemudian hari. (Pendapat Martono, dalam Desy Arista dan Astohar, Op. Cit., hlm. 4.

hubungan variabel-variabel tersebut sehingga diperoleh taksiran harga saham.

Langkah yang penting adalah mengidentifikasi faktor – faktor fundamental (seperti penjualan, biaya, laba, pertumbuhan, penjualan, kebijakan deviden dan lainlain) yang diperkirakan akan berpengaruh terhadap harga saham. Jika kemampuan perusahaan semakin meningkat (menghasilkan laba yang meningkat) maka harga saham akan meningkat. Dengan kata lain profitabilitas akan mempengaruhi harga saham.

Secara umum masyarakat pemodal (investor) yang akan melakukan investasi, terlebih dahulu melakukan pengamatan dan penilaian terhadap perusahaan yang akan dipilih dengan terus memantau laporan keuangan perusahaan-perusahaan tersebut terutama perusahaan yang sudah go public. Berdasarkan laporan keuangan tersebut dapat diketahui kinerja perusahaan dalam menjalankan kegiatan usaha dan kemampuan perusahaan dalam mendayagunakan aktivitas usahanya secara efisien dan efektif serta faktor di luar perusahaan ekonomi, politik, finansial dan lain-lain.136

Bagi pemegang saham, faktor fundamental memberikan gambaran yang jelas dan bersifat analisis terhadap prestasi manajemen perusahaan dalam mengelola perusahaan yang menjadi tanggung jawabnya.Harga saham yang meningkat menggambarkan bahwa nilai perusahaan meningkat atau prestasi manajemen dalam mengelola usahanya sangatlah baik. Peningkatan prestasi manajemen dapat dicapai bila penggunaan modal yang dimiliki secara efektif dan efisien, hasil yang optimal akan dicapai dengan menggunakan keseluruhan modal perusahaan yang diinvestasikan dalam aktiva untuk menghasilkan laba atau keuntungan.137

136 Pendapat Rasmin dalam Desy Arista& Astohar,Ibid., hlm. 1.

137Pendapat Widjoatmojo, Ibid.

Saham perusahaan go public sebagai komoditi investasi tergolong berisiko tinggi. Karena sifatnya yang peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi, baik oleh pengaruh yang bersumber dari luar atau dalam negeri, perubahan dalam bidang politik, ekonomi moneter, Undang-Undang atau peraturan maupun perubahan yang terjadi dalam industri dan perusahaan yang mengeluarkan saham itu sendiri.Sehingga investor dalam melakukan pembelian saham memerlukan pemikiran berdasarkan data-data dari perusahaan yang bersangkutan.138

Selain faktor-faktor tersebut di atas, masih terdapat faktor lain yang harus dijadikan bahan pertimbangan investor dalam mengambil keputusan investasi, faktor tersebut adalah faktor krisis ekonomi. Pada saat-saat krisis tentu fluktuasi harga saham mengalami perubahan, dan perubahan tersebut cukup signifikan.Hal ini adalah hal wajar karena situasi pasar modal sangat sensitif terhadap kondisi ekonomi pasar global.Oleh karena itu pada saat krisis terjadi, OJK telah menerbitkan peraturan yang dapat mengakomodir setiap perusahaan publik yang berencana untuk menyelematkan harga sahamnya yang anjlok akibat kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan tersebut melalui upaya Buybacksaham.

Pengertian kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan adalah indeks harga saham gabungan di Bursa Efek selama 3 (tiga) hari bursa berturut-turut secara kumulatif turun 15% (lima belas perseratus) atau lebih.139

138Ibid.

139 Pasal 1 Peraturan OJK Nomor: 2/POJK.04/2013 Tentang Pembelian Kembali Saham Yang Dikeluarkan Oleh Emiten Atau Perusahaan Publik Dalam Kondisi Pasar Yang Berfluktuasi Secara Signifikan.

Mengenai kondisi harga saham yang selalu berfluktuasi ini, prinsip keterbukaan adalah kunci utamanya.Prinsip keterbukaan adalah prisip dasar yang harus dilaksanakan setiap perusahaan publik yang listing di pasar modal.Prinsip keterbukaan mengakomodir komoditi utama industri pasar modal yaitu informasi.

Setiap informasi yang didalamnya terkandung fakta materil mengenai perusahaan tersebut wajib di disclose ke publik sebagai bahan pemikiran dan bahan pertimbangan bagi investor dalam mengambil keputusan investasi.

Pengaturan mengenai prinsip keterbukaan telah diatur secara komprehensif di dalam Peraturan OJK Nomor 31 /POJK.04/2015 tentang Keterbukaan atas Informasi atau Fakta Material oleh Emiten atau Perusahaan Publik.Oleh karenanya dengan diterbitkannya peraturan OJK ini maka setiap perusahaan publik yang telah listing di pasar modal memiliki panduan dan pedoman dalam rangka memberikan ataupun memperoleh informasi materil perusahaan.

3. Perlindungan atas harga saham buyback

Berdasarkan peraturan OJK No. 2/POJK.04/2013 dan Surat Edaran OJK NO.

1/SEOJK.04/2013, perusahaan dapat lebih mudah melakukan buyback saham.

Perusahaan dapat melakukan buyback saham sampai batas maksimal 20% dari modal disetor tanpa perlu mendapat persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), namun cukup menyampaikan keteerbukaan informasi kepada OJK dan Bursa Efek Indonesia. Kemudahan peraturan ini ditetapkan dalam rangka mengurangi dampak pasar yang berfluktuasi secara signifikan karena pada triwulan tiga tahun 2013,

perdagangan Efek di Bursa Efek Indonesia mendapat tekanan yang tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang bergerak volatile. Dari level tertinggi 5.214,976 pada tanggal 20 Mei 2013, IHSG sempat mengalami penurunan 20,04% ke level 4.169,827 pada tanggal 23 Agustus dan terus menurun ke level terendah pada posisi 3.967,842 tanggal 27 Agustus 2013 atau turun 23,91%. Adanya kemudahan ini mendorong beberapa perusahaan melakukan buyback.

Dokumen terkait