• Tidak ada hasil yang ditemukan

TESIS OLEH : CHAIRIYAH ELLA SARI SIREGAR /HK PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2017

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TESIS OLEH : CHAIRIYAH ELLA SARI SIREGAR /HK PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2017"

Copied!
193
0
0

Teks penuh

(1)

PEMEGANG SAHAM (RUPS)

(Studi Peraturan OJK Nomor 2/POJK.04/2013 tentang Pembelian Kembali Saham yang Dikeluarkan oleh Emiten atau Perusahaan Publik dalam Kondisi Pasar yang Berfluktuasi Secara Signifikan)

TESIS

OLEH :

CHAIRIYAH ELLA SARI SIREGAR 147005078/HK

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2017

(2)

PEMEGANG SAHAM (RUPS)

(Studi Peraturan OJK Nomor 2/POJK.04/2013 tentang Pembelian Kembali Saham yang Dikeluarkan oleh Emiten atau Perusahaan Publik dalam Kondisi Pasar yang Berfluktuasi Secara Signifikan)

TESIS

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Hukum Dalam Program Studi Magister Ilmu Hukum pada

Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

OLEH :

CHAIRIYAH ELLA SARI SIREGAR 147005078/HK

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2017

(3)

JUDUL

NAMA MAHASISWA NOMOR POKOK PROGRAM STUDI

Ketua Program Studi IImu Hukum

Prof. Dr. Sunarmi. S.H.. M.Hum.

ANALISIS YIIRIDIS

TENTANG PEMBELIAN

KEMBALI

{BAYBACK)

SAHAM TANPA

PERSETUJUAIY RAPAT TJMUM PEMEGANG SAHAM (RIIPS) (Studi Peraturan

Ojk

Nomor

2/Pojk04/2013 Tentang

Pembelian

Kembali Saham Yang Dikeluarkan Oleh Emiten Atau Perusahan Publik Dalam Kondisi Pasar Yang Berfluktuasisecara Signifikan)

CHAIRTYAH ELT.A SART SIREGAR 147005078/HK

ILMU HI]KUM

Ketua

\,&*,!-'q^^^*-

Dr. Mahmul Sireear. S.H. . M.Hum.

Anggota

Menyetujui Komisi Pembimbins.)

ggota

Lulus :

(4)

(Studi Peraturan OJK Nomor 2/POJK.04l20l3

tentang Pembelian Kembali Sahem yang Dikeluarkan oleh Emiten atau Perusahaan Publik dalam Kondisi Pasar yang Berfluktuasi Seeara Signifrkan)

TESIS

Dengan

ini

menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pemah

diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan

di

suatu perguruan tinggi dan sepanjang sepengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain kecuaii secara terrulis dikutip dalam naskah ini

dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan,l3Mei 2017

(5)

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. Dr. Bismar Nasution, S.H., M.H.

Anggota : 1. Prof. Dr. Suhaidi, S.H., M.H.

2. Dr. Mahmul Siregar, S.H., M.Hum.

3. Dr. Megarita, S.H., C.N., M.Hun

4. Dr. T. Keizerina Devi Azwar, S.H., C.N., M.Hum

(6)

akibat dari Krisis ekonomi global yang ditandai dengan merosotnya harga saham perusahan-perusahaan go public. Dapat dilihat di IHSG, harga saham perusahaan banyak mengalami penurunan yang cukup signifikan sebagai dampak dari krisis.

Menyikapi hal tersebut,OJK sebagai otoritas pasar modal dengan alasan untuk memberikan kemudahan eksekusi dan pengambilan keputusan yang sifatnya urgent, menerbitkan Peraturan OJK Nomor 2/POJK.04/2013 tentang Pembelian Kembali Saham yang Dikeluarkan oleh Emiten atau Perusahaan Publik dalam Kondisi Pasar yang Berfluktuasi secara Signifikan. Dengan adanya peraturan OJK ini, perusahaan yang harga sahamnya cenderung menurun secara signifikan diperkenankan untuk melakukan buyback tanpa harus menyelenggarakan RUPS terlebih dahulu. Kebijakan OJK tersebut menimbulkan pertanyaan bagaimana pengaturan berdasarkan UUPT dan POJK tersebut secara rinci, selanjutnya bagaimana sebenarnya kedudukan RUPS dalam buyback Saham Perusahaan Publik di dalam UUPT dan POJK, dan bagaimana perlindungan hukum yang dapat diberikan kepada Perusahaan Publik dan Investor terkait POJK tersebut.

Metode penelitian hukum yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian hukum normatif dengan sifat penelitian deskriptif analitis yakni untuk memberikan argumentasi atas hasil penelitian yang menggunakan pendekatan perundang-undangan. Pendekatan tersebut melakukan pengkajian peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan buyback saham baik pada saat situasi pasar normal maupun krisis global.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Pengaturan buyback berdasarkan UUPT bersifat terlalu general dan minimalis sehingga membutuhkan peraturan khusus sebagai peraturan pelaksana yakni Peraturan Nomor XI.B.2 yang diperuntukkan bagi penyelenggaraan buyback pada saat kondisi pasar normal, sedangkan pada saat kondisi pasar krisis, peraturan yang berlaku adalah POJK Nomor 2/POJK.04/2013, keberlakuan Peraturan OJK ini bersifat temporer, hanya pada saat situasi pasar cenderung berfluktuasi secara signifikan. Selanjutnya kedudukan RUPS dalam aksi korporasi buyback saham berdasarkan ketentuan Pasal 4 Peraturan OJK adalah ditiadakan dikarenakan perusahaan perlu mengambil langkah yang efisien untuk membuat keputusan yang sifatnya mendesak dan urgent bagi perusahaan Peniadaan penyelenggaran RUPS tersebut berdasarkan Pasal 4 POJK digantikan dengan pengumuman yang berisikan rencana, perkiraan, proforma, metode, serta analisis manajemen perusahaan mengenai pengaruh buyback saham terhadap kegiatan usaha dan pertumbuhan perusahaan. Mengenai konsep perlindungan hukum terhadap investor tidak cukup diatur didalam POJK tersebut sebab telah diatur secara komprehensif di dalam Peraturan OJK Nomor:

1/POJK.07/2013 tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan. dengan demikian bentuk perlindungan yang diatur dalam POJK tersebut semata-mata hanya untuk emiten/perusahaan publik saja.

Kata Kunci : Buyback, RUPS, Otoritas Jasa Keuangan.

(7)

the global economic crisis marked by declining stock prices of publicly traded companies. It can be seen in the IHSG, the company's stock price has decreased significantly as the impact of the crisis. In response, the government has taken a step by encouraging companies to buy back shares. For reasons of ease of execution and urgent decision making, The Financial Services Authority (OJK) as a capital market authority has re-enacted Rule Number 2 / POJK.04 / 2013 concerning Buyback of Shares Issued by Issuers or Public Companies in Significant Market Fluctuation Conditions. With this OJK regulation, companies whose share prices tend to decline significantly are allowed to buyback without having to hold a GMS in advance. The OJK policy raises the question of how the arrangements are based on the Company Law and the POJK in detail, then how exactly the GMS position is in the Shareholders of the Public Company in UUPT and POJK, and how the legal protections can be provided to the POJK related Public and Investor Company.

The method of legal research used in this study is normative legal research with the nature of descriptive analytical research that is to provide arguments for the results of research using the approach legislation. The approach undertakes a review of legislation relating to the stock buyback of a limited liability company without a GMS during the global economic crisis.

The result of this research indicates that the buyback arrangement based on UUPT is too general and minimalist and therefore requires special regulation as the implementing regulation that is Rule Number XI.B.2 which is intended for the holding of buyback when the market condition is normal, while at the time of crisis market condition, is valid POJK No. 2 / POJK.04 / 2013, the enforcement of this OJK Regulation is temporary, only when the market situation tends to fluctuate significantly as a result of the crisis.Furthermore, the position of the GMS in share buyback corporate action pursuant to the provisions of Article 4 of the OJK Regulation is abolished because the company needs to take efficient measures to make an urgent and urgent decision for the company. The abolition of such GMS pursuant to Article 4 of the POJK is replaced with an announcement containing the plan, proforma, methods, and analysis of the company's management regarding the influence of share buyback on business activities and growth of the company.

Concerning the concept of legal protection against investors is not sufficiently regulated in the POJK because it has been regulated comprehensively in the OJK Regulation Number 1 / POJK.07 / 2013 on Consumer Protection of Financial Services Sector, thus the form of protection stipulated in the POJK is solely for issuers / public companies only.

Keyword : buyback, general meeting of shareholders, The Financial Services Authority (OJK)

(8)

Puji dan syukur selalu dipanjatkan kepada Allah SWT atas rahmat, berkah, dan karunia-Nya yang tiada pernah habis-habisnya kepada ummat manusia, serta shalawat beriring salam kepada junjungan Nabi Muhammad SAW yang syafaat beliau sangat diharapkan dihari pembalasan kelak.

Tesis yang berjudul “Analisis Yuridis tentang Pembelian Kembali (Buyback) Saham tanpa Persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Studi Peraturan OJK Nomor 2/POJK.04/2013 tentang Pembelian Kembali Saham yang Dikeluarkan oleh Emiten atau Perusahaan Publik dalam Kondisi Pasar yang Berfluktuasi Secara Signifikan)” ini disusun dengan tujuan untuk melengkapi tugas-tugas dan mememuhi syarat-syarat untuk mencapai gelar Magister Hukum pada Program Studi Pascasarjana Ilmu Hukum, Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

Tesis ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karenanya tak pelak bahwa saran, kritik dan ide-ide baru yang konstruktif dalam mengomentari tesis ini sangat dibutuhkan dan karenanya akan diterima dengan penuh kebijaksanaan.

Di atas semuanya, perkenankanlah dengan ini Saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Ayahanda Saya, H. Abu Churairah Siregar, S.H., M.H., atas didikan, arahan, pengetahuan juga dukungan yang luar biasa kepada saya, juga kepada Ibunda Saya, Hj. Afrinawati Pane, atas omelan-omelan, dukungan, nasihat, support dan terutama doa. Terima kasih tak terkira untuk kalian Ayah dan Ibunda Saya, atas perjuangan dan pengorbanan dalam mendidik saya. Juga terimakasih sedalam-dalamnya untuk kedua adikku Fitria Ramadhani Siregar, S.H., dan Namira Romaito Siregar, atas dukungan, semangat, celotehan-celotehan, dan doa kalian untuk kakak sangat berarti dalam proses penyelesaian pendidikan magister ini.

Selanjutnya dalam kesempatan ini, Saya menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. Runtung, S.H., M.Hum., selaku Rektor Universitas Sumatera Utara;

2. Prof. Dr. Sunarmi, S.H., M.H., selaku Ketua Program Studi Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

(9)

menyelesaikan pendidikan Program Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

4. Prof. Dr. Bismar Nasution, S.H., M.H, selaku ketua komisi pembimbing yang telah banyak memberikan masukan dan arahan kepada Saya, sehingga Saya dapat menyelesaikan penulisan tesis ini;

5. Dr. Mahmul Siregar, S.H., M.Hum selaku Sekretaris Program Studi Magister Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara juga sekaligus Dosen Pembimbing II, yang dengan sabar, memeriksa dengan detail lembar perlembar penulisan tesis ini, yang telah membagikan saya ilmu, saran serta kritik yang sangat berarti bagi saya dalam proses penyelesaian penulisan Tesis ini;

6. Prof. Dr. Suhaidi, S.H,. M.H., selaku Dosen Pembimbing III yang telah membimbing dan memberi masukan dalam menyelesaikan penulisan Tesis ini;

7. Dr. Megarita, S.H., C.N., M.Hum dan Ibu Dr. T. Keizerina Devi Azwar, S.H., C.N., M.Hum., selaku penguji, terima kasih atas masukan dan pendapat demi tercapainya kesempurnaan penulisan tesis ini;

8. Dosen dan Staf Akademika Program Studi Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

9. Sahabat akademis terbaik Indri Hafni Pramitha Harahap, S.H., Kak Khairunnisa S.H., M.H., Bang Mifa Alfahmi, S.H., M.H., Bang Johannes M Turnip, S.H., M.H. bersama-sama dan saling mendukung dalam penyelesaian pendidikan magister ini.

10. Rekan Mahasiswa Pascasarjana Program Studi Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara angkatan tahun 2014 yang telah membantu memberikan semangat dalam penelitian ini hingga selesai dan lancar;

(10)

Thankyou very much Abang 

12. Sallvyna Derliana Dewi Lubis, S.T., Kusuma Ambarwati S.H., Elly Syafitri, S.H., sahabat tersayang atas doa, suport dan semangatnya. 

13. Bapak – Bapak rekan kerja di Kantor Ku tersayang, Terutama Pak Aminuddin Sinaga, Pak Gumara Erlanda, Bang Herisujatmiko, Bang Rizky Anzah, Bang Palti Raja Siregar, Bang Ahmad Syukri dan Seluruh Bapak- Bapak, Abang dan Kakak Rekan kerja tersayang di Unit Usaha Syariah PT. Bank Sumut.

Semoga segala bantuan dan kebaikan tersebut dilimpahkan balasan dari Tuhan Yang Maha Esa. Akhirnya Saya berharap, semoga tesis ini dapat bermanfaat, khususnya untuk Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan umumnya pihak yang membutuhkan.

Medan, Mei 2017 Penulis

Chairiyah Ella Sari Siregar

(11)

Nama : Chairiyah Ella Sari Siregar Tempat/Tanggal Lahir : Medan, 11 Desember 1992

Alamat : Jl. Garu II B, Komplek Villa Harjo Sari Indah Tahap 1, No. 66.

Pekerjaan : Karyawan BUMD

Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Status : Belum Menikah

Nama Ayah : H. Abu Churairah Siregar, S.H,. M.H Nama Ibu : Hj. Afrinawati Pane.

Nama Saudara : Fitria Ramadhani Siregar, S.H.

Namira Romaito Siregar.

E-mail : [email protected]

II. LATAR BELAKANG PENDIDIKAN

1. Taman Kanak-kanak Hikmatul Fadhillah Medan, Lulus Tahun 1998 2. Sekolah Dasar Kemala Bhayangkari, Lulus Tahun 2004

3. Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Medan, Lulus Tahun 2007 4. Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Medan , Lulus Tahun 2010 5. S1 Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara, Lulus Tahun 2014

(12)

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... vi

DAFTAR ISI ... vii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 14

C. Tujuan Penelitian ... 14

D. Manfaat Penelitian ... 15

E. Keaslian Penelitian ... 16

F. KerangkaTeori dan Konsepsi ... 17

1. Kerangka Teori... 17

2. Kerangka Konsep ... 33

G. Metode Penelitian... 35

1. Jenis dan Sifat Penelitian ... 36

2. Pendekatan Penelitian ... 39

3. Sumber Data ... 39

4. Pengumpulan Data ... 42

5. Analisa Data ... 43

BAB II BUYBACK SAHAM BERDASARKAN UNDANG-UNDANG PERSEROAN TERBATAS DAN PERATURAN OJK A. Perusahaan Terbuka dalam Hukum di Indonesia ... 44

B. Buyback saham berdasarkan UUPT ... 62

C. Buyback saham berdasarkan Peraturan OJK Nomor 2/POJK.04/2013 ... 79

D. Perbandingan Buyback Saham Berdasarkan UUPT dan Peraturan OJK ... 83

BAB III KEDUDUKAN RUPS DALAM PEMBELIAN KEMBALI SAHAM (BUYBACK) OLEH EMITEN/PERUSAHAAN PUBLIK DIKAITKAN DENGAN PERATURAN OJK NOMOR 2/POJK.04/2013 ... 89

(13)

C. Kedudukan RUPS dalam buyback saham oleh Peraturan OJK 116 BAB IV PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP INVESTOR DAN

EMITEN/PERUSAHAAN PUBLIK DALAM AKSI KORPORASI BUYBACK SAHAM TANPA RUPS

BERDASARKAN PERATURAN OJK NOMOR

2/POJK.04/2013 ... 128

A. Konsep Perlindungan Hukum Terhadap Investor dalam Pasar Modal ... 128

B. Perlindungan terhadap Investor dalamAksi Buyback ... 148

C. Perlindungan terhadap Perusahaan Publik dalam Aksi Buyback ... 162

BAB V PENUTUP ... 167

A. Kesimpulan ... 167

B. Saran ... 170

DAFTAR PUSTAKA ... 172

(14)

A. Latar Belakang

Perekonomian Indonesia seperti banyak negara berkembang, saat ini sedang berada dalam situasi yang sulit, dimana Indonesia telah mengalamiperlambatan ekonomi dalam empat tahun terakhir dikarenakan krisis keuangan global.Sisi pertamayang mempengaruhi ekonomi Indonesia adalah perlambatan ekonomi China, yang merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia. Sisi kedua berasal dari krisis finansial yang terjadi di Amerika dimana faktor terbesar pemicu krisis tersebut berasal dari dua perusahaan besar yaitu Lehman Brothers dan Dow Jones. 1

Meskipun di Indonesia ada persepsi yang kuat dikalangan pemerintah bahwa krisis keuangan global tidak akan terlalu berpengaruh pada perekonomian nasional.

Namun mau tidak mau Indonesia tetap terkena imbas krisis ekonomi global. Persepsi pemerintah tersebut didasari karena adanya anggapan bahwa fundamental ekonomi Indonesia kuat dan sektor perbankan tidak serentan 10 tahun lalu.Padahal, situasi perekonomian negara yang fundamental ekonominya lebih kuat dari Indonesia-pun juga mengalami imbas bahkan lebih parah seperti Cina dan Korea.2

1Bank Lehman Brothers dengan CEO-nya, Richard Severein Fuld, Jr. atau sering dipanggil Dick Fuld meminjam dengan sangat agresif dari Federal Reserve, Bank Sentral Amerika Serikat (disini Bank Indonesia/BI) dengan jumlah sangat banyak, melebihi dari bank-bank lainnya, kurang lebih dua kali dari bank-bank yang lain pada umumnya, hal inilah awal dari krisis kredit perumahan macet atau lebih dikenal dengan subprime mortgage crisis. Muhammad Hambali, Sub Prime Mortgage:Akumulasi Kegagalan Sistem Kapitalisme(Analisis Program Penyelamatan Krisis Financial Global),Memahami Subprime Mortgage AS, http://www.detikfinance.com (Akses tgl 15 April 2016).

2Krisis di Amerika Serikat akan menyebabkan Indonesia terseret krisis melalui dua cara.

Pertama, financial liquid (keterkaitan finansial).Bank Indonesia (BI) dan beberapa perusahaan swasta Indonesia juga membeli saham atau memperoleh investasi dari investment bank-nya Amerika dan

(15)

Tentu saja krisis global yang melanda dunia sangat berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara, tidak tertutup kemungkinan juga berimbas kepada industri pasar modal negara tersebut.3 Industri Pasar Modal dapat dijadikan indikator ekonomi suatu negara bahkan secara ekstrim dapat dijadikan tolok ukur kemajuan suatu negara, artinya suatu bangsa atau negara baru berhak menyandang predikat negara maju kalau industri pasar modalnya mumpuni .

Salah satu kelebihan pasar modal adalah kemampuannya menyediakan modal dalam jangka panjang dan tanpa batas. Misalnya, keberadaan pasar modal sangat bermanfaat untuk membiayai investasi pada proyek-proyek jangka panjang dan memerlukan modal yang besar.4

Sebagaimana telah diketahui Pasar Modal adalah jembatan bagi suatu perusahaan untuk bisa tetap eksis dari segi permodalan dan menjadi perusahaan kelas global.5 Dalam industri pasar modal, harga saham suatu perusahaan dapat dijadikan sebagai salah satu tolok ukur baik tidaknya kinerja keuangan perusahaan tersebut, sehingga dapat dikatakan dalam kondisi yang wajar dan normal, semakin baik kinerja keuangan suatu perusahaan, harga sahamnya juga semakin membaik (meningkat).

Eropa yang sekarang collapse. Otomatis, ini akan berdampak bagi BI dan perusahaan swasta yang bersangkutan. Rontoknya Institusi Wall Street, dalam http://www.kompas.com (Akses tgl 15 April 2016).

3Krisis ekonomi saat ini telah membuat para pemimpin dunia sibuk mencari jalan ke luar untuk mengatasi krisis. Paket penyelamatan krisis telah disiapkan dengan total dana yang luar biasa yaitu 3,4 trilyun dolar AS. Di Amerika sendiri sebesar 700 milyar dolar, Inggris 691 milyar dolar, Jerman 680 milyar dolar, Irlandia 544 milyar dolar, Perancis 492 milyar dolar, Rusia 200 milyar dolar dan negara- negara Asia 80 milyar dolar, Rontoknya Institusi Wall Street dalam http://www.kompas.com (Akses tgl 15 April 2016).

4Sawidji Widoatmojo, Pasar Modal Indonesia : Pengantar dan Studi Kasus, ( Bogor : Ghalia Indonesia, 2009), hlm. 4.

5Ibid, hlm. 3.

(16)

Di dalam industri pasar modal, harga saham sangat menentukan nilai jual suatu perusahaan di mata investor. Perusahaan dengan harga saham yang tinggi pada umumnya merefleksikan bahwa kondisi perusahaan tersebut sedang baik dan cukup diminati investor. Karakteristik perusahaan dengan harga saham tinggi biasanya ditandai dengan ciri-ciri laba perusahaan yang selalu surplus setiap tahunnya, kondisi keuangan dan permodalan yang kuat, manajemen perusahaan yang mumpuni dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Dengan demikian,wajar jika perusahaan perlu menjaga harga sahamnya agar mencerminkan kondisi yang sebenarnya meskipun situasi ekonomi sedang mengalami krisis ekonomi global.

Harga saham suatu perusahaan dapat dibaca melalui indeks harga saham yang biasanya selalu fluktuatif. Naik turunnya indeks suatu bursa dapat dibaca sebagai cermin dinamika ekonomi negara tersebut. Itulah sebabnya, dalam publikasi indikator kunci suatu negara sering dijumpai data tentang indeks harga saham. Bila orang menilai perekonomian suatu negara, maka dia akan melihat juga perkembangan indeks harga saham ini, disamping angka inflasi, neraca transaksi berjalan, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) dan data-data ekonomi makro lainnya.

Dengan demikian terjadinya krisis ekonomi global dapat membuat penilaian terhadap situasi perokonomian suatu negara tercermin buruk di indeks harga saham.

6Krisis ekonomi global dapat menghambat pertumbuhan ekonomi suatu negara

6Menurut ekonom INDEF, Iman Sugema, indikasinya adalah laju penurunan saham di Bursa Efek Indonesia (47,1%) jauh lebih besar dari pada laju penurunan Dow Jones AS (30%). Indikasi lain, suspense yang dilakukan BEI selama tiga hari merupakan langkah yang tidak dilakukan AS.

Oleh karena itu menurutnya adalah suatu kesalahan bila Indonesia mengatakan fundamental ekonomi Indonesia aman-aman saja dan tidak akan berpengaruh terhadap kemiskinan.

(AgungNusantara, Selamatkan Sektor Riil Indonesia dalam Dinamika Keuangan dan Perbankan, Pebruari 2009, Vol. 1 No. 1,hlm. 39-46.)

(17)

termasuk industri pasar modalnya karena keduanya sangat menunjukkan korelasi positif atau berhubungan erat. 7

Di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merupakan indeks yang merangkum perkembangan harga-harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). IHSG ini dapat dibaca sebagai gambaran situasi ekonomi nasional. Jadi kalau IHSG menunjukkan peningkatan, maka ini menjelaskan ekonomi Indonesia sedang dalam siklus membaik. Sebaliknya, bila IHSG menurun, ini menjelaskan ekonomi Indonesia sedang mengalami kesulitan.

Sebagaimana telah diketahui, beberapa tahun terakhir, ekonomi Indonesia menunjukkan kesulitan sebagai akibat dari Krisis ekonomi global yang ditandai dengan merosotnya harga saham perusahan-perusahaan go public.8 Dapat dilihat di

7Siklusnya adalah demikian : Seandainya oleh suatu sebab (misalnya terpengaruh oleh resesi dunia), kondisi ekonomi makro suatu negara mengalami surut, yang ditandai dengan rendahnya pertumbuhan PDB, maka ini menunjukkan kemampuan berproduksi dan berkonsumsi masyarakat negara itu menurun. Perusahaan-perusahaan yang go public adalah termasuk kedalam kelompok masyarakat tersebut. Dengan demikian, perusahaan go public juga akan mengalami penurunan produksi yang selanjutnya akan menurunkan tingkat pendapatan perusahaan tersebut. Pada gilirannya, penurunan pendapatan tersebut akan mempengaruhi kinerja perusahaan untuk mencetak laba, dan sangat mempengaruhi kemampuan perusahaan memberikan dividen pada pemegang saham. Yang terakhir ini akan melahirkan opini bahwa kinerja perusahaan tersebut jelek, yang berakibat jatuhnya harga saham di bursa efek. Kalau sebagian besar perushaaan go public mengalami hal tersebut, maka sebagian besar saham juga akan mengalami tren yang menurun juga, dengan demikian penurunan pada angka indeks harga saham dapat dibaca sebagai penurunan kinerja ekonomi secara nasional.

8Akar penyebab masalah (root of causes)dari krisis disebabkan oleh lima faktor. Pertama boom investasi swasta pada tahun 1990-an dan timbul asset bubles yang dipicu adanya anggapan kredit luar negeri murah yang sebahagian besar dalam bentuk jangka pendek bank kepada lembaga keuangan dan perusahaan. Kedua, semakin membesarnya defisit transaksi berjalan yang terjadi berdasarkan rejim nilai tukar tetap atau hampur tetap.Ketiga menurunnya produktifitas investasi yang memanisvestasikan dalam peningkatan yang cepat Incremental CapitalOutput Rations (ICOR), danmelemahnya daya saing produk ekspor.Kempat, lemah dan tidak memadainya peraturan sistem lembaga keuangan sehingga tidak dapat secara berhati-hati (prudent)menyerap pertumbuhan risiko kredit dan harga domestik yang cepat.Kelima , tidak transparannya praktik dan pengolahan (practies and governance) perusahaan.Bagi Indonesia, krisis ekonomi itu menjadi krisis yang berkepanjangan di berbagai bidang.

Berbagai kalangan telah mencoba mengamati penyebab krisis di Asia, seperti antara lain lembaga keuangan intemasional dan berbagai pengamat. Hasilnya, mereka berkesimpulan bahwa sistem hukum dari negara-negara yang terkena krisis itulah yang menjadi salah satu faktor yang memberikan kontribusi.(Javad K. Shirazi, The east Asian Crisis Financial Sector Restructuring : Progress &

(18)

IHSG, harga saham perusahaan banyak mengalami penurunan yang cukup signifikan sebagai dampak dari krisis. Menyikapi hal tersebut, pemerintah telah mengambil langkah yakni dengan menganjurkan perusahaan-perusahaan untuk melakukan pembelian kembali (buyback) saham.

Tujuan dari buybacksaham adalah agar harga saham perusahaan lebih stabil.

Manajemen perusahaan melakukanbuybackuntuk melakukan stabilisasi harga9 dan sebagai salah satu alternatif yang dapat dipakai oleh perusahaan untuk meningkatkankembali harga sahamnya yang telah jatuh di pasar.10

Pada dasarnya, buybacksaham adalah pembelian kembali saham-saham yang telah diterbitkan oleh suatu perseroan dan dimiliki oleh perseroan untuk jangka waktu tertentu, maksimum selama 3 tahun. Pasal 37Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (selanjutnya disebut UUPT) mengizinkan perusahaan untuk membeli kembali saham yang telah dikeluarkan melalui persetujuan RUPS.Buyback saham merupakan bentuk tanggung jawab dari perseroan dengan tujuan untuk memberikan perlindungan atas modal dan kekayaan perseroan namun

Issues, paper presented to Asian Corporate Recovery : Corporate Governance, Government Policy, Regional Confernce based on firm-level Survey in Indonesian, Korea, Malaysia, the Philiphines and Thailand financed by The World Bank, Bangkok, Macrh 31 April 1, 1999).

9Kemungkinan terjadinya stabilisasi harga saham di bursa sebagai akibat dari upaya Buyback disebabkan adanya kepastian atau jaminan yang akan diberikan investor (penanam modal) kepada perushaaan publik. http://www.rekomendasi-jd.com/2015/08/mengenal-lebih-jauh-aksi-Buyback- saham.html (Akses Tanggal 13 Desember 2015).

10Dana Rp 25 triliun yang rencananya akan digunakan untuk menyuntik sektor keuangan dan Buyback saham BUMN, harusnya hanya untuk Buyback BUMN, menggerakan sektor riil dan menciptakan lapangan kerja yang masif di seluruh negeri. Dengan buyback BUMN maka keuntungan dari BUMN tersebut akan kembali ke kas negara sehingga nantinya bisa digunakan untuk menggerakkan sektor riil. Agung Nusantara, Op. Cit., hlm.40.

(19)

upaya buybacksaham dapat juga dilakukan untuk menjaga stabilitas harga saham di bursa saham terutama disaat-saat krisis sedang melanda. 11

Buyback saham perusahaan dapat mendatangkan nilai positif bagi perusahaan diantaranya yakni dapat menjaga stabilitas nilai saham di Pasar Modal, dapat menjaga asset perusahaan, menjaga nilai reputasi perusahaan di mata masyarakat terutama investor, dan terutama menjaga kepercayaan investor terhadap perusahaan tersebut.

Namun dibalik nilai positif, buybacksaham perusahaan juga memiliki dampak negatif bagi perusahaan misalnya, dengan dilakukannya buybacksaham, laba perusahaan bisa terkuras, menimbulkan sentimen negatif kepada investor, investor cenderung akan lebih selektif dalam memilih saham-saham yang prospektif, dan yang paling utama beban penyertaan modal negara yang harusnya dapat dicadangkan untuk pembangunan justru tergerus untuk menyelamatkan perusahaan BUMN yang melakukan buybacksaham. 12

Dalam hal tertentu misalnya untuk menghadapi krisis ekonomi dan atau krisis pasar modal, perlu dimungkinkan buybackatas saham-saham yang beredar dalam masyarakat. Atas alasan inilah, tampaknya aksi buybacksaham ini dapat ditolerir hanya untuk waktu temporer. Artinya manakala keadaan sudah membaik, maka saham ini harus dilepaskan kembali. Dalam hubungan inilah, maka menurut Pasal 37

11Republik Indonesia, Pasal 37 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 106, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4756).

12Rai Widjaja, Hukum Perusahaan Perseroan Terbatas, (Bekasi : Megapoin, 2006), hlm. 31- 31

(20)

ayat (4) UUPT bahwa saham yang dibeli kembali ini hanya boleh dikuasai perseroan paling lama tiga tahun.13

Dalam rangka menyikapi krisis global yang berdampak pada merosotnya pertumbuhan ekonomi khususnya di industri pasar modal, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang merupakan otoritas yang berwenang untuk melakukan pengawasan di bidang industri keuangan baik perbankan maupun bukan perbankan mengambil kebijakan yang merupakan inisiatif untuk memudahkan perusahaan public (emiten) menyelamatkan diri dari krisis ekonomi yang melanda. Alasan lainnya adalah untuk melindungi investor dari merosotnya harga saham yang signifikan untuk menjaga kepercayaan investor publik.

Pada tanggal 23 Agustus 2013, OJK melalui Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal menerbitkan Peraturan Nomor 2/POJK.04/2013 tentang Pembelian Kembali Saham yang Dikeluarkan oleh Emiten atau Perusahaan Publik dalam Kondisi Pasar yang Berfluktuasi secara Signifikan.Penetapan kondisi lain sebagai kondisi pasar yang Berfluktuasi secara Signifikan ini berdasarkan Surat Edaran (SE) OJK NO.

1/SEOJK.04/2013 tanggal 27 Agustus 2013 sebagai landasan bagi Emiten atau Perusahaan Publik untuk melakukan buybacksahamnya. Peraturan ini diterbitkan oleh Otoritas Jasa Keuangan untuk mempermudah sekitar 459 (empat ratus lima puluh sembilan) emiten atau perusahaan publik dalam melakukan buybacksaham tanpa melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan tentang perusahaan yang

13 Rudhi Prasetya, Teori& Praktik Perseroan Terbatas, ( Jakarta : Sinar Grafika, 2011), hlm.

130.

(21)

berlaku. 14 Kebijakan tersebut memperbolehkan emiten untuk melakukanbuybacksaham tanpa melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).15

Surat Edaran OJK NO. 1/SEOJK.04/2013 sebagai landasan bagi Emiten atau Perusahaan Publik untuk melakukan buybacksahamnya berdasarkan Peraturan OJK Nomor 2/POJK.04/2013 ini pernah dicabut dengan Surat Edaran OJK NO 8/SEOJK .04/2014. Pencabutan Surat Edaran ini di Tahun 2014 dilakukan OJK karena pada saat itu kondisi pasar modal Indonesia sudah mengalami perbaikan dan pertumbuhan, serta sudah tidak berada dalam kondisi pasar saham yang berfluktuasi secara signifikan kembali.

Kemudian ditahun 2015, dimana krisis ekonomi global mulai bergejolak kembali yang mana berdampak negatif kepada Pasar Modal Indonesia, OJK memberlakukan kembali Peraturan Nomor 2/POJK.04/2013 tentang Pembelian Kembali Saham yang Dikeluarkan oleh Emiten atau Perusahaan Publik dalam Kondisi Pasar yang Berfluktuasi secara Signifikan. Pemberlakuan kembali Peraturan OJK tersebut ditandai dengan diterbitkannya Surat Edaran OJK Nomor 22/SEOJK.04/2015 tanggal 21 Agustus 2015 tentang Kondisi Lain sebagai Kondisi Pasar yang Berfluktuasi Secara Signifikan dalam Pelaksanaan Buyback Saham yang dikeluarkan oleh Emiten atau Perusahaan Publik dikarenakan sistuasi perekonomian dunia menuai krisis yang berdampak siginifikan terhadap industri Pasar Modal Indonesia.

14 http://mariotedja.blogspot.co.id/2013/10/pengaturan-pembelian-kembali-Buyback_4413.

html (Akses tgl 13 Desember 2015).

15 Pemberlakuan SE tersebut dimulai sejak 14 Mei

2014.http://market.bisnis.com/read/20150818/194/463461/relaksasi-Buyback-saham-ojk-beri-sinyal- lampu-hijau (Akses 13 Desember 2015).

(22)

Penerbitan SE tersebut dimaksudkan guna memberikan stimulus dan mengurangi dampak pasar yang berfluktuasi secara signifikan karena adanya pengaruh dan tekanan dari luar terhadap pasar. Aturan tersebut bisa dilakukan dengan ketentuan, total buybacksaham paling banyak 20% dari modal disetor (termasuk treasury stocks), dan paling sedikit saham yang beredar adalah 7,5% dari modal disetor.16

Sebagaimana diketahui, pada 2015 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat 4.510,48 per 18 Agustus 2015, menurun sebesar 13,71% dibandingkan dengan penutupan akhir tahun 2014. Sementara kapitalisasi Pasar Modal Indonesia saat ini mencapai hampir Rp5000 triliun. Meskipun mengalami penurunan sebesar - 5,89% dari posisi akhir tahun 2014 lalu, namun jika dilihat dari posisi pada 5 tahun terakhir, nilainya sudah meningkat lebih dari 60%.17

Perusahaan publik tidak dapat serta merta melakukan buybacksahamnya tanpa persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Buyback tanpa persetujuan RUPS dapat dilakukan apabila kondisi pasar modal berfluktuasi secara signifikan.

Kondisi pasar modal yang berfluktuasi secara signifikan adalah kondisi dimana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)di bursa efek selama 3 (tiga) hari berturut- turut secara kumulatif turun sebanyak 15% (lima belas persen) atau lebih; atau kondisi lain yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan. Permulaan dan berakhirnya kondisi iniakan ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan.

16Siti Komaeroh, Reaksi Pasar Terhadap Pengumuman Buyback Saham (Buyback) Pada Perusahaan yang Terdaftar di BEI tahun 2013-2014(Malang : Fakultas Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, 2015), hlm.2-3.

17Ibid, hlm. 4.

(23)

Perusahaan Publik dapat melakukan buybacksaham setelah menyampaikan keterbukaan informasi kepada OJK dalam waktu paling lama 7 (tujuh) hari bursa setelah terjadinya kondisi pasar modal yang berfluktuasi secara signifikan.Jangka waktu buybacksaham oleh perusahaan publik hanya dapat dilakukan paling lama 3 (tiga) bulan setelah keterbukaan informasi disampaikan kepada OJK.

Dengan buybacksaham maka berakibat pada naiknya laba per saham (earning per share) yang dapat berakibat menaikkan harga saham di pasar. Di samping itu, dengan buyback, saham yang dimiliki oleh masyarakat akan berkurang (supply berkurang), akibatnya adalah harga saham akan naik (dengan asumsi jumlah permintaan terhadap saham tersebut tetap.18

Dalam situasi yang sulit, dimana harga saham perusahaan yang dijual di bursa saham mengalami penurunan harga, maka perusahaan menerapkan strategi untuk membeli kembali saham yang telah dijual. Saham-saham yang telah dibeli kembali perusahaan nantinya akan dicatat sebagai treasury stock dan perusahaan yang telah membeli kembali saham yang dijual bisa mengalihkan saham itu dengan berbagai cara. Dengan demikian dapat dikatakan permintaan akan naik dan otomatis harga saham pun akan naik.19

Dalam keadaan wajar (diluar krisis), alasan perusahaan melakukanaksi korporasi buybacksaham tersebut lantaran perusahaan berhasilmeningkatkan laba dan memelihara kecukupan likuiditas, serta kegiatan usahayang memperlihatkan pertumbuhan pesat dan arus kas signifikan. Di samping itu, perusahaan memiliki

18Ibid.

19 http://akuntansi-teori-praktek.blogspot.co.id/2014/03/keputusan-dan-dampak-treasury- stock.html( Akses Tanggal 13 Desember 2015).

(24)

tingkat utang (leverage) yang relatif lebih rendah dibandingperusahaan sejenis.Diharapkan buybacksaham perseroan di publik dapatmeningkatkan harga saham dalam jangka panjang.

Kondisi buybacksaham ini dibatasi oleh ketentuan-ketentuan sebagai berikut:

1. Buyback saham tersebut tidak menyebabkan kekayaan bersih perusahaan menjadi lebih kecil daripada jumlah modal yang ditempatkan ditambah cadangan wajib yang telah disisihkan. Kekayaan bersih di sini adalah seluruh harta perusahaan yang telah dikurangi seluruh kewajiban perusahaan sesuai dengan laporan keuangan terbaru yang disahkan oleh RUPS dalam 6 (enam) bulan terakhir.

2. Selain ketentuan di atas, besaran persentase buybacksaham ini juga dibatasi.

Pasal 37 ayat (1)Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT) berbunyi sebagai berikut:20

“Perseroan dapat membeli kembali saham yang telah dikeluarkan dengan ketentuan:

a) Buyback saham tersebut tidak menyebabkan kekayaan bersih Perseroan menjadi lebih kecil dari jumlah modal yang ditempatkan ditambah cadangan wajib yang telah disisihkan; dan

b) Jumlah nilai nominal seluruh saham yang dibeli kembali oleh perusahaan dan gadai saham atau jaminan atas saham yang dipegang oleh perusahaan sendiri dan/atau perusahaan lain yang sahamnya secara langsung atau tidak langsung dimiliki oleh perusahaan, tidak melebihi 10% dari jumlah modal yang ditempatkan dalam perusahaan, kecuali diatur lain dalam peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal.”

20Republik Indonesia, Pasal 37 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 106 dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4756). Selanjutnya disingkat UUPT.

(25)

Pasal 37 ayat (2) UUPT :

“Buyback saham, baik secara langsung maupun tidak langsung, yang bertentangan dengan ayat (1) batal karena hukum."

Pasal 37 ayat (3) UUPT :

“Direksi secara tanggung renteng bertanggung jawab atas kerugian yang diderita pemegang saham yang beritikad baik, yang timbul akibat Buyback yang batal karena hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (2)”

Pasal 37 ayat (4) UUPT :

Saham yang dibeli kembali Perseroan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya boleh dikuasai Perseroan paling lama 3 (tiga) tahun.

Berdasarkan ketentuan Pasal 37 UUPT, maka dapat ditarik pemahaman bahwa : 1. Nilai nominal seluruh saham yang di Buyback;

2. Gadai saham/jaminan atas saham dipegang oleh perusahaan sendiri;

3. Gadai saham/jaminan atas saham yang dipegang oleh afiliasi perusahaaan.

Berdasarkan ketentuan Pasal 37 UUPT tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa proses buybacktidak boleh melebihi 10 % dari jumlah modal ditempatkan dalam perusahaan, kecuali diatur lain dalam ranah pasar modal.

Proses buybacksaham ini harus sesuai dengan kondisi tersebut di atas. Jika bertentangan, maka buybacksaham ini menjadi batal demi hukum.Tentunya ketika buybacksaham menjadi batal karena hukum, direksilah yang bertanggung jawab secara tanggung renteng atas kerugian yang diderita pemegang saham yang beritikad baik tersebut.

Selain itu, buybacksaham ini juga memiliki jangka waktu yaitu saham buybackhanya bisa dikuasai perusahaan paling lama 3 (tiga) tahun. Dalam kurun

(26)

waktu inilah, perusahaan memiliki waktu untuk menentukan apakah saham tersebut akan dijual atau ditarik kembali dengan cara pengurangan modal.

Berdasarkan ketentuan Pasal 37 dan 38 UUPT, dapat disimpulkan bahwa ketentuan suatu perusahaan untuk menyelenggarakan aksi korporasi berupa buybackharuslah mengikuti ketentuan permodalan mininum perusahaan dan harus terlebih dahulu mendapatkan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), meskipun pada akhir kalimat di Pasal 38 UUPT, Perundangan-undangan mengizinkan buybacktanpa terlebih dahulu dilaksanakannya RUPS namun harus mengikuti ketentuan peraturan undang-undang. Dalam hal ini OJK sebagai Otoritas Pasar Modal telah mengizinkan perusahaan melakukan buybacktanpa RUPS dalam rangka mensiasati jatuhnya harga saham di pasar modal. Kemudahan yang diberikan OJK kepada perusahaan publik ini tidak serta merta dapat dieksekusi dengan mudah mengingat buybackadalah aksi korporasi yang eksekusinya harus disertai dengan alasan yang cukup fundamental dan krusial mengingat RUPS adalah salah satu organ perseroan yang sangat penting untuk dilaksanakan terlebih lagi dalam rangka mengambil keputusan-keputusan penting untuk perseroan.

Timbul pertanyaan meskipun keberadaan Peraturan OJK No. 2/POJK.04/2013 yangpemberlakuannya ditandai dengan diterbitkanya SE OJK No.

22/SEOJK.04/2015 yang mengizinkan buybacktanpa RUPS tidak menciderai UUPT, namun akankah berlaku efektif mengingat aksi korporasi seperti buybackmerupakan aksi korporasi yang cukup krusial artinya harus terlebih dahulu direncanakan dan dikaji melalui RUPS sebagai organ penting dalam perseroan.

(27)

B. Rumusan Masalah

Dengan dikeluarkannya Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) No.

2/POJK.04/2013 tentang Pembelian Kembali Saham yang dikeluarkan oleh Emiten atau Perusahaan Publik dalam Kondisi Pasar yang Berfluktuasi Secara Signifikan dan Pemberlakuan kembali Peraturan OJK tersebut dengan dikeluarkannya Surat Edaran (SE) OJK No. 22/SEOJK.04/2015 tentang Kondisi Lain sebagai Kondisi Pasar yang Berfluktuasi secara Signifikan dalam Pelaksanaan Buyback Saham yang Dikeluarkan oleh Emiten atau Perusahaan Publik, maka timbulah pertanyaan yang menjadi rumusan masalah, yakni sebagai berikut :

1. Bagaimanakah pengaturan Buyback saham berdasarkan Undang-Undang Perseroan Terbatas dan POJK No. 2/POJK.04/2013?

2. Bagaimanakah kedudukan RUPS dalam Buyback saham oleh Emiten atau Perusahaan Publik dikaitkan dengan POJK No. 2/POJK.04/2013?

3. Bagaimanakah perlindungan hukum terhadap investor dan Emiten/Perusahaan Publik dalam aksi korporasi Buyback saham tanpa RUPS berdasarkan POJK No. 2/POJK.04/2013?

C. Tujuan Penelitian

Dalam rangka memahami dan mencari jawaban atas permasalahan yang telah dikemukakan diatas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian tesis ini adalah:

1. Untuk dapat mengetahui pengaturan Buyback saham berdasarkan Undang- Undang Perseroan Terbatas dan Peraturan OJK No. 2/POJK.04/2013.

(28)

2. Untuk dapat mengetahui kedudukan RUPS dalam Buyback saham oleh Emiten atau Perusahaan Publik dikaitkan dengan Peraturan OJK No.

2/POJK.04/2013.

3. Untuk dapat mengetahui perlindungan hukum terhadap investor dan Emiten/Perusahaan Publik dalam aksi korporasi Buyback saham tanpa RUPS berdasarkan Peraturan OJK No. 2/POJK.04/2013.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat ataupun kontribusi bagi pihak-pihak yang berkepentingan baik secara teoritis maupun secara praktis.

1. Secara Teoritis

Kajian hasil penelitian ini nantinya diharapkan akan dapat memberikan pemahaman lebih dalam mengenai Analisis Yuridis tentang Pembelian Kembali (Buyback) Saham Perseroan Terbatas tanpa Persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (Studi terhadap Peraturan OJK Nomor 2/POJK.04/2013 tentang Pembelian Kembali Saham yang Dikeluarkan oleh Emiten atau Perusahaan Publik dalam Kondisi Pasar yang berfluktuasi secara Signifikan)

2. Secara Praktis

Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan masukan kepada para stakeholder terutama para praktisi Hukum Ekonomi, seperti hakim, advokat, kurator dan juga para pelaku usaha lainnya khususnya yang bergerak di bidang ekonomi sehingga dapat memahami tentang Hukum Ekonomi Indonesia dengan baik.

(29)

E. Keaslian Penelitian

Berdasarkan pemeriksaaan terhadap penelusuran hasil-hasil penelitian yang dilakukan terhadap berbagai sumber baik itu Perpustakaan Universitas Sumatera Utara maupun sumber-sumber Kajian Penelitian yang dipublikasikan lewat media online, maka Penelitian Tesis yang berjudul :

Analisis Yuridis tentang Pembelian Kembali (Buyback) Saham Perseroan Terbatas tanpa Persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (Studi Terhadap Peraturan OJK Nomor 2/POJK. 04/2013 tentang Pembelian Kembali Saham yang Dikeluarkan oleh Emiten atau Perusahaan Publik dalam Kondisi Pasar yang Berfluktuasi secara Signifikan) belum pernah dilakukan dalam topik dan permasalahan yang persis sama, meskipun terdapat penelitian yang menyangkut topik terkait dalam pembahasan yang berbeda yakni : Tesis yang ditulis oleh Fitri Wahyuni, NIM: 077005097 dengan JudulAnalisis Hukum terhadap Buyback Saham sebagai Bentuk Pengambilalihan Perseroan Terbuka dan Go Private Perusahaan.

Rumusan masalahnya sebagai berikut :

1. Bagaimanakah pengaturan mengenai buybacksaham Perseroan Terbatas di Indonesia?

2. Bagaimanakah pengaturan mengenai Go Private bagi Perseroan Terbatas Terbuka?

3. Bagaimanakan konsekuensi yuridis dari buybacksaham Perseroan dan proses go private suatu Perseroan Terbatas terbuka?

(30)

Oleh karena itu, dapat dipertanggungjawabkan bahwa Tesis ini memiliki keaslian dan sesuai dengan asas-asas keilmuan yang harus dijunjung tinggi yaitu jujur, rasional, objektif dan terbuka.

F. Kerangka Teori dan Konsepsi 1. Kerangka Teori

M. Solly Lubis memberikan pengertian mengenai kerangka teori, yakni “suatu kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, tesis mengenai sesuatu kasus atau permasalahan yang dijadikan bahan perbandingan, pegangan teoritis, yang mungkin disetujui ataupun tidak disetujui yang dijadikan masukan dalam membuat kerangka berpikir dalam penulisan.”21

Fungsiteori dalam penelitian ini adalah untuk mensistematiskan penemuan- penemuan penelitian, membuat prediksi atas dasar penemuan dan menyajikan penjelasan yang dalam hal ini untuk menjawab pertanyaan.Artinya teori merupakan suatu penjelasan rasional yang berkesesuaian dengan objek yang dijelaskan dan harus didukung oleh fakta empiris untuk dapat dinyatakan benar.22

Teori yang dapat dijadikan sebagai pisau analisis dalam menelaah dan menganalisa permasalahan yang terdapat dalam penelitian ini antara lain adalah Teori Organ Perseroan dan Teori Perlindungan Hukum.

Kedudukan perseroan sebagai suatu entitas didukung dengan kemampuan perseroan tersebut untuk bertindak sebagaimana layaknya seorang manusia yang memiliki personalitas atau kepribadian (rechtspersoonlijkheid). Perseroan seperti

21 M. Solly Lubis, Teori Hukum, (Medan: Madjoe Group, 2004),hlm. 80.

22Ibid, hal 17.

(31)

manusia, bisa menjadi badan hukum, oleh karena itu bisa juga disebut sebagai subjek hukum. Apabila sesuatu mempunyai “hak” (recht, right) dan “kewajiban” (duty) seperti layaknya manusia, maka menurut hukum setiap apa pun yang mempunyai hak dan kewajiban adalah subjek hukum dalam kategori “badan hukum” (rechtpersoon, legal person). Dengan demikian, tidak selamanya badan hukum, harus manusia.23

Badan hukum yang bukan manusia itulah yang disebut pada Pasal 1 angka 1 UUPT namanya disebut sebagai “Perseroan Terbatas” (Naamlozevenootschapps, corporation limited by shares). Umum berpendapat, kata perseroan atau korporasi yang dipakai sekarang berasal dari bahasa latin: corpus yang berarti badan, tubuh atau raga. Kata itulah yang berkembang menjadi corporation atau perseroan yang lahir dan dicipta melalui proses hukum. Bukan lahir melalui proses alamiah (natural birth) seperti halnya manusia. Itu sebabnya perseroan disebut sebagai badan hukum buatan (kunsmantige rechtspersoon, artificial legal persoon). Meskipun perseroan merupakan badan hukum yang lahirnya berdasarkan proses hukum, namun perseroan tidaklah fiktif, tetapi nyata-nyata ada melakukan kegiatan bisnis atau kegiatan usaha ditengah-tengah kehidupan masyarakat. 24

Teori personalitas perseroan yang paling mendekati dengan konsep perseroan sebagai badan hukum adalahTeori Organ Perseroan (Teori Realistis). Pengusung Teori Organ adalah Otto Von Girkie (1841-1921), dimana menurutnya badan hukum itu seperti manusia yang memiliki organ-organ sebagai penggerak maksud dan tujuan yang semula ingin dicapai badan hukum tersebut.

23M. Yahya Harahap, Hukum Perseroan Terbatas, (Jakarta : Sinar Grafika, 2009), hlm. 52-53.

24Ibid.

(32)

Teori Organ menganggap bahwa keberadaan badan hukum dalam tata hukum sama saja dengan keberadaan manusia sebagai subjek hukum. Jadi badan hukum bukanlah khayalan dari hukum sebagaimana diajarkan teori fiksi, melainkan benar (realistis) ada dalam kehidupan hukum. Teori ini secara sangat kuat mengakui keberadaan badan hukum sebagai subjek hukum yang terpisah dengan para anggotanya (pemegang sahamnya).25

Teori Organ menganggap badan hukum itu menjadi suatu “verband personlickeit”, yaitu suatu badan yang membentuk kehendaknya dengan perantara alat-alat atau organ-organ badan tersebut, misalnya anggota-anggotanya atau pengurus seperti manusia yang mengucapkan kehendaknya dengan perantara mulutnya atau dengan perantara tangannya kemudian kehendak tersebut dituangkan diatas kertas. Apa yang mereka putuskan itu adalah kehendak badan hukum.26

Bahwa perseroan sebagai badan hukum adalah “realita sesungguhnya”, yang sama halnya dengan sifat kepribadian manusia. Sebab seperti halnya personalitas manusia, perseroan sebagai badan hukum, juga mempunyai maksud, tujuan dan kehendak seperti manusia.27

Dengan demikian menurut teori organ, badan hukum bukan merupakan suatu hal yang abstrak, tetapi benar-benar ada. Badan hukum bukan suatu kekayaan (hak) yang tidak bersubjek, tetapi badan hukum itu suatu organisme yang riil, yang hidup dan bekerja seperti manusia biasa. Tujuan badan hukum menjadi kolektivitas, terlepas

25 Munir Fuady, Doktrin-Doktrin Modern dalam Corporate Law, (Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 2002), hlm. 4.

26 Mulhadi, Hukum Perusahaan, (Bogor, Ghalia Indonesia, 2010), hlm. 78.

27Agus Budiharto, Kedudukan Hukum dan Tanggung Jawab Pendirian Perseroan Indonesia (Jakarta : Sinar Grafika, 2002), hlm. 27.

(33)

dari individu, ia suatu “verband persoonlichkeit” yang memiliki gesamwille (kehendak). Berfungsinya badan hukum disamakan dengan fungsi manusianya. 28

Perseroan mempunyai status persona standi in judicio, artinya sekalipun ia hanya berwujud suatu badan dan bukan manusia alamiah, namun dimata hukum ia dipandang sama seperti manusia alamiah yang dapat menjadi pendukung hak dan kewajiban.29

Teori Organ ini sangat mendukung keberadaan organ-organ perseroan sebagai penggerak/promotor suatu perseroan. Organ perseroan tersebut bersinergi membangun perseroan sesuai dengan maksud dan tujuan pendirian perseroan.

Perseroan sebagai badan hukum sangatlah bergantung kepada kepiawaian organ- organnya untuk mengurus perseroan dalam rangka menumbuh-kembangkan perseroan itu sendiri.

Karakteristik perseroan berdasarkan konsep Teori Organ :30

1. Bahwa perseroan memiliki kepribadian hukum atau personalitas hukum (legal personality) yang berbeda dan terpisah (distinct and separate) dari kepribadian hukum individu personnya;

2. Hukum membolehkan (law permits) penerapan tanggung jawab terbatas (limited liability) hanya sebatas harta kekayaan Perseroan, dan menggugat dan digugat atas nama Perseroan.

3. Perseroan diakui memiliki “kepengurusan” yang disebut Direksi yang bertindak mengurus usaha Perseroan, serta mewakili Perseroan.

28Ibid.

29Rudhi Prasetya, Op. Cit., hlm. 18.

30 Yahya Harahap, Op. Cit., hlm.56.

(34)

Sebagaimana telah diketahui bahwa organ-organ perseroan terdiri atas Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Direksi dan Komisaris. Keberadaan RUPS sebagai Organ Perseroan, ditegaskan pada Pasal 1 angka 4 yang mengatakan RUPS adalah Organ Perseroan. Dengan demikian menurut hukum, RUPS adalah Organ Perseroan yang tidak dapat dipisahkan dari Perseroan. Melalui RUPS tersebutlah para pemegang saham sebagai pemilik (eigenaar, owner). Perseroan melakukan kontrol terhadap kepengurusan yang dijalankan manajemen perseroan.

Secara umum, menurut Pasal 1 angka 4, RUPS sebagai Organ Perseroan, mempunyai wewenang yang tidak diberikan kepada Direksi atau Dewan Komisaris, namun dalam batas yang ditentukan dalam undang-undang ini dan/atau anggaran dasar perseroan.

Kemudian kewenangan RUPS tersebut, dikemukakan ulang lagi pada Pasal 75 ayat (1) yang berbunyi :

RUPS mempunyai wewenang yang tidak diberikan kepada Direksi atau Dewan Komisaris dalam batas yang ditentukan dalam undang-undang ini dan/atau anggaran dasar.

Jadi, secara umum, kewenangan apa saja yang tidak diberikan kepada Direksi dan/atau Dewan Komisaris, menjadi kewenangan RUPS. Oleh karena itu, dapat dikatakan RUPS merupakan organ tertinggi perseroan. Namun hal itu tidak persis demikian, karena pada dasarnya ketiga organ perseroan itu sejajar dan berdampingan sesuai dengan pemisahan kewenangan (separation of power) yang diatur dalam undang-undang dan anggaran dasar. Dengan demikian, tidak dapat dikatakan RUPS

(35)

lebih tinggi dari Direksi dan Dewan Komisaris. Masing-masing mempunyai posisi dan kewenangan sesuai dengan fungsi dan tanggung jawab yang mereka miliki.

Setiap pemegang saham mempunyai hak menghadiri RUPS. Undang-undang Perseroan pada masa modern mengatur ketentuan yang menegaskan hak tersebut.

Begitu juga anggaran dasar, mengatur ketentuan perseroan harus mengadakan RUPS paling tidak satu kali dalam setahun. Pada dasarnya, dalam RUPS pemegang saham melakukan kontrol atas jalannya kepengurusan perseroan yang dilakukan Direksi.31

Mengenai tindakan perseroan untuk melakukan aksi buybacksaham haruslah mendapat persetujuan RUPS. Pasal 38 Ayat (1) UUPT, mengharuskan adanya

“persetujuan” RUPS atas buybacksaham atau pengalihan lebih lanjut saham yang dibeli kembali. Baik buybackmaupun pengalihan lebih lanjut saham tersebut, hanya boleh dilakukan Direksi berdasarkan “persetujuan” RUPS, kecuali ditentukan lain dalam perundang-undangan. Keputusan RUPS sah apabila dilakukan sesuai dengan ketentuan mengenai panggilan rapat, kuorum dan persetujuan jumlah suara untuk

“perubahan” AD.

Jadi, RUPS untuk memberi persetujuan membeli kembali saham yang telah dikeluarkan maupun untuk pengalihan lebih lanjut saham yang dibeli kembali oleh undang-undang, dalam hal ini Pasal 38 Ayat (1) UUPT32, disamakan kategori dan sifatnya dengan RUPS “perubahan” AD tertentu yang digariskan Pasal 21 ayat (1)

31 Pendapat James D. Cox, Thomas Lee Hazen dan Hedge O’ Neal dikutip dari Yahya Harahap, Op. C.it, hlm. 305.

32 Pasal 38 Ayat (1)UUPT :Buyback saham sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (1) atau pengalihannya lebih lanjut hanya boleh dilakukan berdasarkan persetujuan RUPS, kecuali ditentukan lain dalam peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal.

(36)

dan (2)33 UUPT. Dengan demikian, landasan rujukan RUPS tersebut, harus tunduk kepada ketentuan Pasal 86 UUPT.

Berdasarkan Pasal 39 UUPT, RUPS dapat menyerahkan kewenangan kepada Dewan Komisaris untuk menyetujui pelaksanaan Keputusan RUPS untuk membeli kembali atau untuk mengalihkan lebih lanjut saham yang dibeli kembali, dengan ketentuan sebagai berikut :

1. Penyerahan kewenangan itu kepada Dewan Komisaris, hanya terbatas untuk jangka waktu paling lama 1 (satu) tahun;

2. Namun jangka waktu itu, setiap kali dapat diperpanjang untuk jangka waktu 1 (satu) tahun, dan;

3. Penyerahan kewenangan itu sewaktu-waktu dapat dicabut oleh RUPS.

Sesuai dengan Penjelasan pasal ini, yang dimaksud dengan “pelaksanaan”

adalah penentuan tentang :

1. Saat dan cara buybacksaham;

2. Jumlah saham yang dapat dibeli kembali.

Akan tetapi, terhadap pelaksanaaan yang diberikan RUPS kepada Dewan Komisaris atas buybackmaupun tindak lanjutnya ada pembatasan. Ke dalam pelaksanaan itu, tidak termasuk hal-hal yang menjadi “tugas” Direksi dalam

33 Pasal 21 ayat (1) UUPT: Perubahan anggaran dasar tertentu harus mendapat persetujuan Menteri dan Ayat (2) UUPT : Perubahan anggaran dasar tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. nama Perseroan dan/atau tempat kedudukan Perseroan; b. maksud dan tujuan serta kegiatan usaha Perseroan; c. jangka waktu berdirinya Perseroan; d. besarnya modal dasar; e.

pengurangan modal ditempatkan dan disetor; dan/atau f. status Perseroan yang tertutup menjadi Perseroan Terbuka atau sebaliknya.

(37)

buybackitu, seperti melakukan pembayaran; penyimpanan surat saham dan pencatatan dalam daftar pemegang saham.34

Mengenai saham yang dikuasai kembali, saham tersebut tidak mempunyai hak suara dan hak dividen. Hal ini sangat berkaitan dengan hak suara (voting right) dan hak dividen (dividen right) atas saham yang dikuasai Perseroan menurut Pasal 40 UUPT 35 :

1. Yang dimaksud dengan saham yang dikuasai Perseroan, karena buyback, peralihan karena hukum, karena hibah atau hibah wasiat;

2. Saham yang dikuasai Perseroan yang terjadi karena hal-hal yang tersebut di atas :

a. Tidak dapat digunakan untuk mengeluarkan suara dalam RUPS, dan tidak diperhitungkan dalam menentukan jumlah kuorum yang harus dicapai sesuai dengan ketentuan undang-undang ini dan/atau Anggaran Dasar.

b. Saham tersebut tidak berhak mendapat “pembagian” dividen.

Dari penjelasan di atas, Pasal 40 UUPT menegaskan, saham yang dikuasai Perseroan baik karena buyback, peralihan karena hukum, hibah atau hibah wasiat, tidak mempunyai hak suara dan tidak mempunyai hak dividen.

Berkaitan dengan buybacksaham perseroan, terkhusus perseroan terbuka berlaku RUPS sebagaimana halnya RUPS dilakukan dalam rangka perseroan

34 M.Yahya. Harahap, Ibid, hlm. 247-248.

35 Pasal 40 Ayat (1) UUPT : Saham yang dikuasai Perseroan karena Buyback, peralihan karena hukum, hibah atau hibah wasiat, tidak dapat digunakan untuk mengeluarkan suara dalam RUPS dan tidak diperhitungkan dalam menentukan jumlah kuorum yang harus dicapai sesuai dengan ketentuan Undang-Undang ini dan/atau anggaran dasar. Pasal 40 Ayat (2) UUPT : Saham sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berhak mendapat pembagian dividen.

(38)

melakukan aksi korporasi. Namun dalam hal tertentu seperti misalnya krisis ekonomi yang menyebabkan harga saham perseroan terbuka tersebut menurun secara signifikan, maka dapat dilaksanakan aksi perseroan tersebut tanpa perlu dilakukan RUPS.

Dasar hukum diperbolehkannya melakukan aksi buybacktanpa RUPS ini adalah Peraturan OJK No. 2/POJK.04/2013 tentang tentang buybackSaham yang Dikeluarkan oleh Emiten atau Perusahaan Publik dalam Kondisi Pasar yang Berfluktuasi Secara Signifikan. Pemberlakuan peraturan OJK ini didasari dengan diterbitkannya Surat Edaran OJK Nomor 22/SEOJK.04/2015 tanggal 21 Agustus 2015 tentang Kondisi Lain sebagai Kondisi Pasar Yang Berfluktuasi Secara Signifikan dalam Pelaksanaan buybackSaham Yang Dikeluarkan oleh Emiten atau Perusahaan Publik.

Teori Organ dipandang tepat untuk digunakan dalam penelitian ini dengan pertimbangan sebagai berikut :

1. Teori Organ mampu memberikan penjelasan serta jawaban yang mengarah kepada salah satu fokus permasalahan dari tesis ini yakni kedudukan organ Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) sebagai salah satu organ perseroan yang memiliki kewenangan yang tidak dimiliki oleh organ perseroan yang lain.

2. Teori Organ sangat aktif mendeskripsikan bahwa pada hakikatnya perseroan adalah badan hukum yang nyata-nyata bukan fiktif belaka, beraktivitas, berkegiatan, melakukan usaha dengan didukung oleh

(39)

keberadaan organ-organnya sebagai penggerak/promotor yang menentukan arah dan tujuan dibentuknya perseroan.

3. Teori Organ sangat mumpuni mendukung keberadaan Organ RUPS sebagai organ yang sangat penting dalam mengambil keputusan- keputusan yang sifatnya krusial bagi perseroan terutama keputusan yang menentukan arah kebijakan yang sifatnya fundamental bagi situasi permodalan perseroan.

4. Namun kewenangan organ RUPS yang demikian krusialnya bagi keberlangsungan dan keberadaan suatu perseroan dapat dikesampingkan oleh situasi tertentu yang sifatnya genting dan memaksa. Seperti misalnya situasi krisis ekonomi global yang masa kedatangannya tidak terprediksi (unpredictable).

5. OJK sebagai otoritas independen yang memiliki kewenangan untuk mengawasi serta mengeluarkan kebijakan bagi perseroan terkhusus perseroan yang telah go public (emiten) telah memberlakukan kembali peraturan yakni bahwa diperbolehkannya suatu perseroan melakukan aksi buyback saham perseroan tanpa terlebih dahulu dilakukannya RUPS. Aksi korporasi tersebut dilakukan dalam rangka upaya penyelamatan dan perlindungan bagi perseroan go public tersebut dari krisis ekonomi global.

6. Kebijakan yang dikeluarkan oleh OJK tersebut mengenyampingkan fungsi dan kewenangan organ RUPS sebagai komite penting pemutus kebijakan-kebijakan ekonomi perusahaan, meskipun diamini oleh

(40)

UUPT sebagai landasan hukum keberadaan perseroan di Indonesia, namun tetaplah harus dikaji apakah dapat berlaku secara maksimal di dunia bisnis yang nyata-nyata memiliki permasalahan yang kompleks dan komprehensif.

b. Teori Perlindungan Hukum

Selain dari Teori Organ, Teori Perlindungan Hukum merupakan salah satu teori yang dapat dijadikan pisau analisis untuk menjawab permasalahan yang terdapat dalam tesis ini.

Menurut Satjipto Raharjo, Perlindungan Hukum adalah “Memberikan pengayoman terhadap Hak Asasi Manusia (HAM) yang dirugikan orang lain dan perlindungan itu diberikan kepada masyarakat agar dapat menikmati semua hak-hak yang diberikan oleh hukum.36

Maria Theresia Geme mengartikan Perlindungan Hukum adalah “Tindakan negara untuk melakukan sesuatu dengan memberlakukan hukum negara secara eksklusif dengan tujuan untuk memberikan jaminan kepastian hak-hak yang diberikan oleh hukum”37

Perlindungan hukum dapat timbul karena beberapa sebab. Misalnya karena undang-undang telah mengaturnya, contohnya dalam hubungan hukum publik, juga perlindungan hukum yang timbul karena hubungan kontraktual.

36 Satjipto Raharjo, Ilmu Hukum, (Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 2000), hlm. 54.

37 Pendapat Maria Theresia Geme dikutip dari H. Salim dan Erlies Septiana Nurbani, Penerapan Teori Hukum Pada Penelitian Tesis dan Disertasi, (Jakarta : PT. Rajagrafindo Persada, 2016), hlm. 262.

Referensi

Dokumen terkait

Kondisi ini disebabkan PPNS Kantor Imigrasi Kelas I Semarang tidak memberikan pemberitahuan secara tertulis tentang dimulainya dan diakhirinya penyidikan kepada Korwas

Proses penerapan diversi terhadap anak yang berkonflik dengan hukum diawali dengan mediasi atau musyawarah sesuai dengan Qanun Nomor 9 Tahun 2008 tentang pembinaan

ABSTRAK Sistem dan metode penegakan hukum di Indonesia menunjukkan adanya perkembangan pada keadilan masyarakat secara musyawarah mufakat restorative justice yang merefleksikan

Penelitian dilakukan dengan metode yuridis normatif, yaitu dengan cara meneliti bahan hukum primer, bahan hukum sekunder. Kesemua bahan hukum akan ditelaah, dijelaskan dan

Perselisihan tersebut terjadi sejak adanya pengumuman/aanmaning yang dilakukan oleh VN selaku kuasa hukum dari ahli waris pemilik tanah yang pada intinya menyatakan terhadap tanah

Selain pengajuan gugatan derivatif sebagai bentuk perlindungan hukum terhadap pemegang saham, apabila direksi lalai dalam pelaksanaan tugas dalam hal ini

Ketentuan peraturan perundang-undangan tentang CSR yang termuat di dalam UU No.40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) dan PP No.47 Tahun 2012 tentang Tanggung Jawab

dalam pembangunan perumahan dan kawasan permukiman berdasarkan Undang- undang Nomor 1 Tahun 2011 Tentang Perumahan Dan Kawasan Permukiman, yaitu mengalihfungsikan prasarana,