• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2017

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2017"

Copied!
121
0
0

Teks penuh

(1)

TANGGUNGJAWAB TIM LIKUIDASI YANG DITUNJUK OTORITAS JASA KEUANGAN (OJK) TERHADAP PEMEGANG

POLIS/TERTANGGUNG ATAS

PERUSAHAAN ASURANSI YANG DICABUT IZIN USAHANYA DIKAITKAN DENGAN

POJK NOMOR 28/POJK.05/2015

SKRIPSI

Diajukan Untuk Melengkapi Tugas Akhir dan Memenuhi Syarat-Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum

Oleh :

AVERINA HANJANI SIREGAR NIM : 130200465

DEPARTEMEN HUKUM EKONOMI

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2017

(2)

TANGGUNGJAWAB TIM LIKUIDASI YANG DITUNJUK OTORITAS JASA KEUANGAN (OJK) TERHADAP PEMEGANG

POLIS/TERTANGGUNG ATAS

PERUSAHAAN ASURANSI YANG DICABUT IZIN USAHANYA DIKAITKAN DENGAN

POJK NOMOR 28/POJK.05/2015

SKRIPSI

Diajukan Untuk Melengkapi Tugas Akhir dan Memenuhi Syarat-Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum

Oleh :

AVERINA HANJANI SIREGAR NIM : 130200465

DEPARTEMEN HUKUM EKONOMI PROGRAM KEKHUSUSAN HUKUM EKONOMI

Disetujui Oleh :

Ketua Depertemen Hukum Ekonomi

Windha, SH.M.Hum NIP. 197501122005012002

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Prof. Dr. Bismar Nasution SH.MH Tri Murti Lubis, SH, MH NIP. 195603291986011001 NIP. 198612122014042001

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2017

(3)

Tanggungjawab Tim Likuidasi Yang Ditunjuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Terhadap Pemegang Polis/Tertanggung Atas Perusahaan Asuransi Yang Dicabut

Izin Usahanya Dikaitkan Dengan Pojk Nomor 28/POJK.05/2015 ABSTRAK

Averina Hanjani Siregar * Bismar Nasution**

Tri Murti Lubis***

Tindakan pencabutan izin usaha asuransi, OJK telah menempuh tindakan- tindakan atau langkah-langkah permulaan. Usaha penyelamatan perusahaan asuransi melalui tindakan-tindakan permulaan tersebut merupakan salah satu bentuk dari tugas Tim Likuidasi sebagai pengawas serta pembina lembaga keuangan di Indonesia.

Adapun rumusan masalah yang akan dibahas di dalam skripsi ini adalah Bagaimana otoritas jasa keuangan (OJK) dalam melakukan tugas dan wewenangnya dalam pengawasan perusahaan Asuransi, perlindungan hukum terhadap pemegang polis dalam pencabutan izin usaha asuransi dan tanggung jawab tim likuidasi otoritas jasa keuangan (OJK) terhadap pemegang polis/ tertanggung atas perusahaan asuransi yang dicabut izin usahanya berdasarkan POJK Nomor 28/POJK.05/2015.

Metode yang digunakan adalah yuridis normatif, bahan hukum yang diambil berupa bahan hukum primer, sekunder, dan tersier, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi kepustakaan dan analisis yang dipakai secara kualitatif.

Adapun kesimpulan dalam skripsi ini adalah OJK dalam melakukan tugas dan wewenangnya dalam pengawasan perusahaan Asuransi yang transparan, kredibel, relevan, dan akuntabel dalam aktivitas yang dijalankan. Setiap perusahaan asuransi yang tidak menjalankan sebagaimana mestinya OJK berhak menindak sesuai tugas dan wewenang yang mereka lakukan dan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku khususnya di sektor jasa keuangan. Perlindungan hukum terhadap pemegang polis dalam pencabutan izin usaha asuransi berupa memperoleh haknya secara proporsional. Menteri diberi wewenang berdasarkan Undang-Undang Perasuransian untuk meminta Pengadilan agar perusahaan asuransi yang bersangkutan dinyatakan pencabutan izin usaha, sehingga kekayaan perusahaan tidak dipergunakan untuk kepentingan pengurus atau pemilik perusahaan tanpa mengindahkan kepentingan para pemegang polis. Tanggung jawab tim likuidasi OJK terhadap pemegang polis/

tertanggung atas perusahaan asuransi yang dicabut izin usahanya berdasarkan POJK Nomor 28/POJK.05/2015 yaitu mengumumkan berakhirnya Likuidasi dengan menempatkannya dalam Berita Negara Republik Indonesia dan dalam 2 (dua) Surat Kabar, memberitahukan kepada instansi yang berwenang mengenai hapusnya status badan hukum Perusahaan, memberitahukan kepada instansi yang berwenang, agar nama Perusahaan dicoret dari daftar perusahaan dan menyerahkan seluruh dokumen Perusahaan dalam Likuidasi kepada OJK.

Kata kunci : Perusahaan asuransi, pemegang polis, OJK dan Tim Likuidasi

*) Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara **) Pembimbing I

***) Pembimbing II

(4)

KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahim Assalamu’alaikum Wr.Wbr

Pertama-tama disampaikan rasa syukur kehadirat Allah SWT yang maha pengasih lagi penyayang atas segala rahmat dan karuniaNya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. Skripsi merupakan salah satu persyaratan bagi setiap mahasiswa yang ingin menyelesaikan studinya di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Sehubungan dengan itu, disusun skripsi yang berjudulkan:

“Tanggungjawab Tim Likuidasi Yang Ditunjuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Terhadap Pemegang Polis/Tertanggung Atas Perusahaan Asuransi Yang Dicabut Izin Usahanya Dikaitkan Dengan Pojk Nomor 28/POJK.05/2015”.

Pelaksanaan penulisan skripsi ini diakui banyak mengalami kesulitan dan hambatan, namun berkat bimbingan, arahan, serta petunjuk dari dosen pembimbing, maka penulisan ini dapat diselesaikan dengan baik. Dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada semua pihak yang banyak membantu, membimbing, dan memberikan motivasi. Untuk itu penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH, M.Hum, sebagai Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Prof. Dr. Budiman Ginting, SH, M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Bapak Dr. Ok.Saidin, SH.M.Hum sebagai Wakil Dekan I, Ibu Puspa Melati Hasibuan,SH.M.Hum sebagai

(5)

Wakin Dekan II, Bapak Jelly Leviza,SH.M.Hum sebagai Wakil Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Windha, SH.M.Hum sebagai Ketua Departemen Hukum Ekonomi Universitas Sumatera Utara atas bimbingan dan dukungannya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sampai selesai.

4. Bapak Prof. Dr . Bismar Nasution, SH.M.Hum dan Ibu Tri Murti Lubis, SH.M.Hum sebagai Pembimbing I dan Pembimbing II yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk membimbing dan mengarahkan penulisan skripsi ini hingga selesai.

5. Seluruh dosen-dosen Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang tidak dapat di sebutkan satu persatu yang telah mendidik dan menegajar Penulis selama belajar di FH USU..

6. Pimpinan, Pejabat dan Staf Biro Rektor Universitas Sumatera Utara atas kerjasama dan partisipasinya dalam memberikan data serta bimbingan untuk penyusunan skripsi ini. Terimakasih juga kepada Kak Yuna yang selalu membantu penulis.

7. Kedua orang tua Penulis, Irwan Zuhdi Siregar, SH dan Rusmaini Simanjuntak yang selalu memberikan dukungan, doa dan kasih sayangnya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Terimakasih juga kepada Kedua adik Penulis, Dwita Oktavani Siregar dan Akbar Pangeran Siregar. Terimakasih kepada Muhammad Iqbal Pohan S.Tr.K yang selalu membantu dan mendukung penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

(6)

8. Terimakasih kepada sahabat - sahabat terbaik yang selalu mendukung, Adrina Qanita Siregar, Evi Veronika, Beby Yolanda dan Cut Rika Kartika . 9. Terimakasih juga kepada teman – teman grup e dan grup g kepada Misael

Tamaris, Virandani, Anjali, Vanessa, Wilson, Melvin, Christ, Raka, agung,caca dan yang lain yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.

10. Terimakasih juga kepada teman – teman Hukum Ekonomi dan Law Tour Ekonomi yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini baik secara langsung maupun tidak langsung, yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Demikianlah yang dapat penulis sampaikan, atas segala kesalahan dan kekurangan saya mohon maaf. Atas perhatiannya penulis mengucapkan terima kasih.

Medan, November 2016 Penulis

Averina Hanjani Siregar 130200465

(7)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... v

Bab I : PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Perumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penulisan ... 6

D. Manfaat Penulisan ... 6

E. Keaslian Penulisan ... 8

F. Tinjauan Pustaka ... 8

G. Metode Penelitian. ... 12

H. Sistematika Penulisan ... 14

BAB II : OTORITAS JASA KEUANGAN (OJK) DALAM MELAKUKAN TUGAS DAN WEWENANGNYA ... 16

A. Struktur Regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ... 16

B. Otoritas Jasa Keuangan sebagai Lembaga yang Independensi... 26

C. Tugas dan Wewenang Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ... 33

BAB III : PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEMEGANG POLIS DALAM PENCABUTAN IZIN USAHA ASURANSI .. 38

A. Tinjauan Umum mengenai perusahaan Asuransi ... 38

1. Pengertian Asuransi dan Perusahaan Asuransi ... 38

2. Dasar Hukum pemegang Polis perusahaan Asuransi ... 41

(8)

B. Keterbatasan dan Hambatan Pemerintah Dalam Perlindungan

Hukum Setelah Pencabutan Izin Usaha Asuransi ... 47

C. Upaya Yang Seharusnya Dilakukan Pemerintah Dalam Perlindungan Hukum Setelah Pencabutan Izin Usaha Asuransi 58 D. Perlindungan Hukum Pemegang Polis Pasca Pencabutan izin Usaha Asuransi Oleh OJK ... 68

BAB IV: TANGGUNGJAWAB TIM LIKUIDASI OTORITAS JASA KEUANGAN (OJK) TERHADAP PEMEGANG POLIS/ TERTANGGUNG ATAS PERUSAHAAN ASURANSI YANG DICABUT IZIN USAHANYA BERDASARKAN POJK NOMOR 28/POJK.05/2015 ... … 77

A. Terbentuknya Tim Likuiditas ditinjau dari POJK Nomor 28/POJK.05/2015 ... 77

B. Tugas dan Wewenang Tim Likuidasi …...………... 81

C. Pengawasan dan Pelaksanaan Tim Likuidasi kepada OJK atas Pemegang Polis/Tertanggung di Perusahaan Asuransi... 83

D. Tanggungjawab Tim Likuidasi kepada Perusahaan Asuransi atas dicabut Izin Usahanya... 90

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN ... 96

A. Kesimpulan ... 96

B. Saran ... 97 DAFTAR PUSTAKA

(9)

A. Latar Belakang

Seiring dengan meningkatnya perkembangan asuransi di Indonesia tidak menjadikan lepas dari permasalahan di dalamnya. Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK) setidaknya secara akumulasi Asuransi masih memegang porsi dominan dari banyaknya aduan yang mampir ke OJK.1

Perusahaan asuransi telah memiliki dasar hukum yang kuat untuk menjamin adanya kepastian hukum dalam penyelenggaraan usaha asuransi dan sekaligus menjadi salah satu lembaga penghimpun dana masyarakat dengan cara menerima pengalihan berbagai risiko yang dihadapi anggota masyarakat (tertanggung). Penyelenggaraan kegiatan Perusahaan asuransi yang dilakukan secara sehat dan bertanggung jawab sesuai dengan kaidah dan mekanisme yang lazim berlaku dalam penyelenggaraan usaha perasuransian pada umumnya memungkinkan dicapainya perlindungan yang diinginkan oleh konsumen. Lebih daripada kedua tujuan tersebut, penyelenggaraan usaha yang melindungi kepentingan masyarakat pemegang polis (yang merupakan pemilik sebagian besar dana perusahaan asuransi) terbukti merupakan hal utama yang menyebabkan usaha perasuransian yang berkelanjutan.

Perusahaan asuransi telah dicabut izin usahanya, maka kekayaan perusahaan asuransi tersebut perlu dilindungi agar para pemegang polis tetap dapat memperoleh haknya secara proporsional. Untuk melindungi kepentingan

1 Bambang Priyo Jatmiko, Aduan ke OJK Didominasi Nasabah Asuransi, melalui http://bisniskeuangan.kompas.comi, diakses tanggal 7 September 2016

(10)

para pemegang polis tersebut, Menteri diberi wewenang berdasarkan Undang- Undang ini untuk meminta Pengadilan agar perusahaan asuransi yang bersangkutan dinyatakan pailit, sehingga kekayaan perusahaan tidak dipergunakan untuk kepentingan pengurus atau pemilik perusahaan tanpa mengindahkan kepentingan para pemegang polis. Selain itu, dengan adanya kewenangan untuk mengajukan permintaan pailit tersebut, maka Menteri dapat mencegah berlangsungnya kegiatan tidak sah dari perusahaan yang telah dicabut izin usahanya, sehingga kemungkinan terjadinya kerugian yang lebih luas pada masyarakat dapat dihindarkan.2

Hal terjadinya pelanggaran yang merugikan nasabah, maka berdasarkan ketentuan Pasal 17 ayat (2) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian (selanjutnya disebut UU Perasuransian), OJK berwenang dalam melakukan pemberian peringatan, pembatasan kegiatan usaha, bahkan pencabutan izin usaha. Dengan dicabutnya izin pada perusahaan asuransi maka untuk melindungi kekayaan perusahaan agar para nasabah dapat memperoleh haknya secara proporsional selain dilakukan melalui cara kepailitan OJK juga berwenang dalam mewajibkan perusahaan asuransi yang bersangkutan untuk menyelesaikan seluruh utang termasuk hak nasabah pemegang polis dengan melakukan likuidasi perusahaan. Hal ini sangat dimungkinkan karena pada umumnya suatu perusahaan asuransi berbentuk perseroan. Dilakukannya likuidasi tercantum secara jelas di dalam penjelasan Pasal 142 huruf b Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (untuk selanjutnya selanjutnya disebut UUPT) yang

2 Isharyanto Ciptowiyono, Kepailitan dan Usaha Asuransi, melalui http://www.

kompasiana.com/isharyanto/kepailitaan-dan-usaha-asuransi.html diakses tanggal 8 September 2016

(11)

menyatakan bahwa yang dimaksud dengan dicabutnya izin usaha perseroan sehingga menimbulkan perseroan melakukan likuidasi adalah ketentuan yang tidak memungkinkan perseroan untuk berusaha dalam bidang lain setelah izin usaha dicabut, misalnya izin usaha perbankan, izin usaha perasuransian.3

Setiap Pihak yang melakukan Usaha Perasuransian wajib terlebih dahulu mendapat izin usaha dari Otoritas Jasa Keuangan. Persyaratan izin usaha diberlakukan sesuai dengan jenis usaha yang akan dijalankan.4 Pasal 9 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Perasuransian mengatakan bahwa Otoritas Jasa Keuangan menyetujui atau menolak permohonan izin usaha Perusahaan Perasuransian paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak permohonan diterima secara lengkap. Dalam hal Otoritas Jasa Keuangan menolak permohonan izin usaha penolakan harus dilakukan secara tertulis dengan disertai alasannya. Pasal 40 ayat (1) menegaskan bahwa setiap perubahan kepemilikan Perusahaan Perasuransian wajib terlebih dahulu memperoleh persetujuan Otoritas Jasa Keuangan. Pasal 43 ayat (1) menjelaskan bahwa perusahaan perasuransian yang dicabut izin usahanya wajib menghentikan kegiatan usahanya.

Jika suatu perusahaan asuransi telah dicabut izin usahanya, maka kekayaan perusahaan tersebut perlu dilindungi agar para pemegang polis tetap dapat memperoleh haknya secara proporsional. Untuk melindungi kepentingan para pemegang polis tersebut, Menteri Keuangan diberi wewenang berdasarkan Undang-undang ini untuk meminta pengadilan agar perusahaan asuransi yang

3 Istikhomah Dika Romadhona, Bambang Winarno dan Djumikasih, Kajian yuridis terhadap kewenangan otoritas jasa keuangan dalam pengajuan permohonan pernyataan pailit bagi perusahaan asuransi berkaitan dengan perlindungan hukum nasabah, Jurnal Ilmiah Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, 2014

4 Undang-Undang Nomor 40 tahun 2014 tentang Perasuransian, Pasal 8 ayat (1) dan (3)

(12)

bersangkutan dinyatakan pailit, sehingga kekayaan perusahaan tidak dipergunakan untuk kepentingan pengurus pemilik perusahaan tanpa mengindahkan kepentingan pemegang polis.5

Perusahaan wajib menghentikan kegiatan usaha serta segera menyelenggarakan RUPS untuk memutuskan Pembubaran dan membentuk Tim Likuidasi sejak Pencabutan Izin Usaha Perusahaan.6 Sejak Pencabutan Izin Usaha Perusahaan, pemegang saham atau yang setara dengan pemegang saham pada badan hukum berbentuk koperasi, Direksi, Dewan Komisaris, dan pegawai Perusahaan dilarang mengalihkan, menjaminkan, mengagunkan, atau menggunakan kekayaan, atau melakukan tindakan lain yang dapat mengurangi aset atau menurunkan nilai aset Perusahaan. 7

OJK melaksanakan tugas pengaturan dan pengawasan terhadap kegiatan jasa keuangan di sektor Perbankan, kegiatan jasa keuangan di sektor Pasar Modal dan kegiatan jasa keuangan di sektor Perasuransian, Dana Pensiun, Lembaga Pembiayaan, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya.8 Untuk melaksanakan tugas pengawasan OJK mempunyai wewenang memberikan dan/atau mencabut izin usaha, izin orang perseorangan, efektifnya pernyataan pendaftaran, surat tanda terdaftar, persetujuan melakukan kegiatan usaha, pengesahan, persetujuan atau penetapan pembubaran dan penetapan lain.9 Tidak adanya aturan atau ketentuan

5 Abdulkadir Muhammad, Hukum Asuransi Indonesia, Cetakan kelima (Bandung:

Penerbit PT Citra Aditya Bakti, 2011), hlm. 45.

6 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 28 /POJK.05/2015 Tentang Pembubaran, Likuidasi, dan Kepailitan Perusahaan Asuransi Perusahaan Asuransi Syariah, Perusahaan Reasuransi, dan Perusahaan Reasuransi Syariah, Pasal 2 ayat (1)

7 Ibid, Pasal 2 ayat (2)

8 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan, Pasal 6

9 Ibid, Pasal 9

(13)

yang jelas mengenai kedudukan atau status Perusahaan Asuransi yang telah dicabut izin usahanya oleh Menteri Keuangan sehingga tidak adanya kepastian dan membuat pihak perusahaan melakukan penafsiran yang berbeda serta aturan atau ketentuan mengenai suatu perusahaan asuransi yang telah dicabut izin usahanya.10

Tindakan pencabutan izin usaha asuransi merupakan suatu langkah akhir dari usaha untuk menyehatkan bank yang terkena kesulitan tersebut. Sebelum dilakukan tindakan pencabutan izin usaha asuransi, OJK telah menempuh tindakan-tindakan atau langkah-langkah permulaan. Usaha penyelamatan perusahaan asuransi melalui tindakan-tindakan permulaan tersebut merupakan salah satu bentuk dari tugas Tim Likuidasi sebagai pengawas serta pembina lembaga keuangan di Indonesia. Pelaksanaan pengawasan Tim Likuidasi kepada OJK terhadap perusahaan asuransi di Indonesia dilakukan sesuai dengan peraturan OJK Nomor 28/POJK.05/2015 yang berlaku.

Berkaitan dengan likuidasi, dalam UU Perasuransian tidak diatur tindak lanjut dari pencabutan izin usaha perusahaan asuransi dan reasuransi. Sedangkan di UU Nomor 40 tahun 2014 tentang Perasuransian diatur, bahwa paling lama 30 hari sejak tanggal dicabutnya izin usaha, perusahaan asuransi dan reasuransi yang dicabut izinnya wajib menyelenggarakan RUPS untuk memutuskan pembubaran badan hukum perusahaan yang bersangkutan dan membentuk tim likuidasi.

Bila perusahaan tersebut tidak dapat menyelenggarakan RUPS dan membentuk tim likuidasi, maka OJK memutuskan pembubaran badan hukum

10 Chairul Umam, Melihat Hal-Hal Krusial Dalam Wajah Baru Undang-Undang Perasuransian, Jurnal Rechsvinding Media Pembinaan Hukum Nasional, 2014.

(14)

perusahaan dan membentuk tim likuidasinya. Diterbitkannya UU Nomor 40 tahun 2014 tentang Perasuransian yang baru ini dapat mengefektifkan penyelenggaraan usaha perasuransian yang selama ini sudah berjalan. Dengan diterbitkannya UU perasuransian ini diharapkan nantinya penyelenggara usaha perasuransian dapat berjalan dengan lebih baik dan perlindungan kepentingan masyarakat serta pengguna jasa asuransi dapat semakin ditingkatkan dan menuangkannya ke dalam bentuk skripsi yang berjudul : “Tanggungjawab Tim Likuidasi Yang Ditunjuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Terhadap Pemegang Polis/Tertanggung Atas Perusahaan Asuransi Yang Dicabut Izin Usahanya Dikaitkan Dengan Pojk Nomor 28/POJK.05/2015”.

B. Perumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang akan dibahas di dalam skripsi ini adalah:

1. Bagaimana otoritas jasa keuangan (OJK) dalam melakukan tugas dan wewenangnya dalam pengawasan perusahaan Asuransi?

2. Bagaimanakah perlindungan hukum terhadap pemegang polis dalam pencabutan izin usaha asuransi?

3. Bagaimanakah tanggung jawab tim likuidasi otoritas jasa keuangan (OJK) terhadap pemegang polis/ tertanggung atas perusahaan asuransi yang dicabut izin usahanya berdasarkan POJK Nomor 28/POJK.05/2015?

C. Tujuan Penulisan

Berdasarkan perumusan masalah sebagaimana yang telah diuraikan diatas maka tujuan dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut:

(15)

1. Untuk mengetahui otoritas jasa keuangan (OJK) dalam melakukan tugas dan wewenangnya dalam pengawasan perusahaan Asuransi.

2. Untuk mengetahui perlindungan hukum terhadap pemegang polis dalam pencabutan izin usaha asuransi.

3. Untuk mengetahui tanggungjawab tim likuidasi otoritas jasa keuangan (OJK) terhadap pemegang polis/ tertanggung atas perusahaan asuransi yang dicabut izin usahanya berdasarkan POJK Nomor 28/POJK.05/2015.

D. Manfaat Penulisan

Berdasarkan permasalahan yang menjadi fokus kajian penelitian ini dantujuan yang ingin dicapai maka diharapkan penelitian ini dapat memberikan manfaat sebagai berikut :

1. Secara teoritis

Skripsi ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam rangka perkembangan Ilmu Hukum pada umumnya, perkembangan hukum ekonomi pada khususnya mengenai tim likuidasi otoritas jasa keuangan (OJK) terhadap pemegang polis/ tertanggung atas perusahaan asuransi yang dicabut izin usahanya berdasarkan POJK Nomor 28/POJK.05/2015.

2. Secara Praktis

a. Bagi Pemerintah sebagai bahan pertimbangan dalam kegiatan perusahaan asuransi yang dicabut izin usahanya berdasarkan POJK Nomor 28/POJK.05/2015.

(16)

b. Bagi Masyarakat sebagai bahan referensi dan menambah wawasan masyarakat mengenai otoritas jasa keuangan (OJK) terhadap pemegang polis/ tertanggung atas perusahaan asuransi yang dicabut izin usahanya.

c. Bagi Akademisi sebagai tambahan wawasan ilmiah dan ilmu pengetahuan bagi penulis dalam disiplin ilmu yang ditekuni penulis dan dapat digunakan sebagai bahan perbandingan dan informasi dalam melakukan penelitian masa yang akan datang.

E. Keaslian Penulisan

Penelitian ini dilakukan atas ide dan pemikiran dari peneliti sendiri atas masukan yang berasal dari berbagai pihak guna membantu penelitian dimaksud.

Sepanjang yang telah ditelusuri dan diketahui di lingkungan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, penelitian tentang “Tanggungjawab Tim Likuidasi Yang Ditunjuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Terhadap Pemegang Polis/Tertanggung Atas Perusahaan Asuransi Yang Dicabut Izin Usahanya Dikaitkan Dengan Pojk Nomor 28/POJK.05/2015”, belum pernah diteliti oleh peneliti sebelumnya. Dengan demikian, jika dilihat kepada permasalahan yang ada dalam penelitian ini, maka dapat dikatakan bahwa penelitian ini merupakan karya ilmiah yang asli, apabila ternyata dikemudian hari ditemukan judul yang sama, maka dapat dipertanggungjawabkan sepenuhnya.

F. Tinjauan Pustaka

Dibentuknya Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yaitu untuk mendukung mewujudkan lembaga yang memiliki fungsi, tugas dan wewenang pengaturan dan pengawasan terhadap kegiatan di dalam sektor jasa keuangan secara terpadu,

(17)

independen dan akuntabel. Artinya pengaturan dan pengawasan terhadap kegiatan sektor jasa keuangan berada pada satu lembaga tidak seperti sebelumnya yang berada pada beberapa lembaga yang berbeda, seperti Kementerian keuangan, Badan Pengawas Pasar Modal dan lembaga lainnya.11

Sektor jasa keuangan terdiri dari beberapa industri keuangan yaitu Perbankan, Lembaga Pembiayaan, Perasuransian, Pergadaian, Pasar Modal dan Dana Pensiun. Masing-masing industri keuangan terdiri dari lembaga-lembaga jasa keuangan. Selanjutnya agar seluruh lembaga jasa keuangan yang melakukan kegiatan pada industri jasa keuangan tersebut dapat menjalankan kegiatannya sesuai peraturan yang ditetapkan, maka perlu ada satu lembaga yang mengatur dan mengawasi kegiatan di industri jasa keuangan serta melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat. Di Indonesia lembaga itu adalah Otoritas Jasa Keuangan (OJK). OJK dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan (UU OJK).12

Dalam bahasa Belanda kata asuransi disebut Assurantie yang terdiri dari kata “aasuradeur” yang berarti penanggung dan “geassureerde” yang berarti tertanggung. Kemudian dalam bahasa Perancis disebut “Assurance” yang berarti menanggung sesuatu yang pasti terjadi. Sedangkan dalam bahasa latin disebut

“Assecurare” yang berarti meyakinkan orang. Selanjutnya bahasa Inggris kata asuransi disebut “Insurance” yang berarti menanggung sesuatu yang mungkin atau tidak mungkin terjadi dan “Assurance” yang berarti menanggung sesuatu

11 Muhamad Djumhana, Hukum Perbankan di Indonesia, (Bandung : PT Citra Aditya Bakti, 2012), hlm 39

12 Kusumaningtuti S. Soetiono, Mengenal Otoritas Jasa Keuangan dan Industri Jasa Keuangan, Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen, OJK, (Jakarta : Penerbit Intermasa, 2014), hlm 57

(18)

yang pasti terjadi.13 Asuransi adalah kontrak yang dituangkan dalam bentuk polis.

Sebagai suatu kontrak, maka ketentuan-ketentuan yang diatur di dalamnya tidak boleh merugikan kepentingan pemegang polis.14

Asuransi atau dalam bahasa Belanda “verzekering” berarti pertanggungan.

Dalam suatu asuransi terlibat dua pihak, yaitu : yang satu sanggup menanggung atau menjamin, bahwa pihak lain akan mendapat penggantian suatu kerugian, yang mungkin pihak lain akan mendapat penggantian suatu kerugian, yang mungkin akan ia derita sebagai akibat dari suatu peristiwa yang semula belum tentu akan terjadi atau semula belum dapat ditentukan saat akan terjadinya.15

Perusahaan asuransi adalah untuk memperoleh keuntungan, pelayanan yang berorientasi kepada kepuasan pemegang polis merupakan nilai tambah yang harus diprioritaskan.16 Sudah menjadi kebiasaan dalam masyarakat saat ini bawa polis asuransi utnuk praktisnya disiapkan oleh perusahaan asuransi. Karena polis dibuat oleh perusahaan asuransi, maka perumusan dan pencetakan polis tersebut mempunyai kecenderungan untuk menguntungkan perusahaan asuransi, walaupun pemerintah telah berupaya agar hal-hal yang merugikan tertanggung yang semacam itu dapat diusahakan untuk dihilangkan.17

Memilih perusahaan asuransi yang terbaik tentu bukan satu hal yang cukup mudah. Terlebih saat ini, kompetisi antara perusahaan asuransi dengan

13 Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, (Jakarta : Penerbit Rajawali Pers, 2013), hlm 261

14 Abdulkadir Muhammad, Op.Cit, hlm 40

15 Wirjono Prodjodikoro, Hukum Asuransi di Indonesia, (Jakarta : Penerbit Intermasa, 1996), hlm 1

16 Rianto Astono, Salah Kaprah Memilih Asuransi, (Jakarta : PT Elex Media Komputindo, 2013), hlm 15

17 Agus Prawoto, Hukum Asuransi dan Kesehatan Perusahaan Asuransi, (Yogyakarta : Penerbit BPFE, 1995), hlm 125

(19)

perusahaan yang lainnya semakin bertambah ketat. Hampir seluruh perusahaan asuransi yang ada menyatakan dengan tegas bahwa perusahannya adalah perusahaan asuransi terbaik.18 Apabila asuransi diadakan untuk diri sendiri atau untuk kepentingan pihak ketiga, maka harus dinyatakan dalam polis, apabila tidak dinyatakan dalam polis maka asuransi danggap diadakan untuk diri sendiri, sehingga apabila terjadi kerugian maka penanggung tidak berkewajiban membayar ganti kerugian.19

Tertanggung adalah nasabah yang selama ini telah membayar uang premi kepada pihak penanggung secara berangsur-angsur dan disiplin, dimana dengan pengajuan klaim yang dilakukan oleh tertanggung maka pihak penanggung wajib untuk mengecek atau menilai seberapa besar kerusakan yang timbul atau yang diderita oleh nasabah yang bersangkutan.20 Tertanggung adalah konsumen individu atau konsumen institusi yang mempunyai kepentingan sesuatu yang dimilikinya dan membeli jaminan asuransi. Jaminan yang diberi bisa berbagai, asuransi jiwa atau asuransi kerugian.21

Suatu Tim yang dibentuk secara ad hoc, dimana Tim ini mempunyai tugas dan fungsi untuk melakukan pemberesan dan menindaklanjuti dengan likuidasi dan atau mempailitkan perusahaan asuransi yang di cabut izin usahanya.

Kedudukan pemerintah disini bukan sebagai yang mengganti uang pemegang

18 Zian Farodis, Buku Pintar Asuransi : Mengenal dan Memilih Asuransi yang Menguntungkan Nasabah, (Yogyakarta : Penerbit Laksana, 2014), hlm 89

19 H.K. Martono dan Eka Budi Tjahjono, Asuransi Transportasi Darat-Laut-Udara, (Bandung : Penerbit Mandar Maju, 2011), hlm 8

20 Ilham Fahmi, Bank & Lembaga Keuangan Lainnya : Teori dan Aplikasi, (Bandung : Penerbit Alfabeta, 2014), hlm 206

21 Mulyadi Nitisusastro, Asuransi dan Usaha Perasuransian di Indonesia, (Bandung : Penerbit Alfabeta, 2013), hlm 88

(20)

polis atau kreditur lainnya, melainkan sebagai regulator pemberesan yang tidak lain untuk mempersiapkan perusahaan asuransi yang di cabut izinnya dapat membereskan kewajiban-kewajibannya kepada pemegang polis atau pihak lainnya dan mengamankan aset dari perusahaan asuransi agar tidak dipakai atau dihilangkan.22

G. Metode Penelitian

Penelitian merupakan suatu sarana pokok dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, oleh karena penelitian bertujuan untuk mengungkapkan kebenaran secara sistematis, metodologis dan konsisten dengan mengadakan analisa dan konstruksi.23

Untuk melengkapi penulisan skripsi ini agar tujuan dapat lebih terarah dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, maka metode penulisan yang digunakan antara lain:

1. Jenis dan Sifat penelitian

Penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian hukum normatif, karena untuk menghasilkan argumentasi, teori atau konsep baru sebagai preskripsi dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. Penelitian hukum normatif terutama dilakukan untuk penelitian norma hukum dalam pengertian ilmu hukum sebagai

22 Bintang Poerba, Perlindungan Pemerintah Terhadap Pemegang Polisdalam Pencabutan Izin Usaha Perasuransian, melalui https://binatangpoerba.wordpress.com/2011/10/

03/83/html, diakses tanggal 3 November 2016

23Soerjono Soekanto & Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif: Suatu Tinjauan Singkat, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), hlm 20

(21)

ilmu tentang kaidah atau apabila hukum dipandang sebagai sebuah kaidah yang perumusannya secara otonom tanpa dikaitkan dengan masyarakat.24

Penelitian ini bersifat deskriptif adalah untuk memperolah gambaran yang lengkap dan secara jelas tentang permasalahan yang terdapat pada masyarakat yang digunakan dapat dikaitan dengan ketentuan-ketentuan atau peraturan- peraturan hukum yang berlaku.

2. Sumber data

Sumber data yang digunakan adalah data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer, sekunder, dan tersier. Data sekunder adalah mencakup dokumen- dokumen resmi, buku-buku, hasil-hasil penelitian yang berwujud laporan dan sebagainya.25

Bahan hukum primer yaitu bahan hukum yang terdiri dari peraturan perundang-undangan di bidang kepailitan, antara lain:

a. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHP)

b. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 Tentang Otoritas Jasa Keuangan c. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 Tentang Perasuransian

d. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 28 /POJK.05/2015 Tentang Pembubaran, Likuidasi, Dan Kepailitan Perusahaan Asuransi, Perusahaan Asuransi Syariah, Perusahaan Reasuransi, dan Perusahaan Reasuransi Syariah.

24Edy Ikhsan dan Mahmul Siregar, Metode penelitian dan Penulisan Hukum Sebagai Bahan Ajar, (Medan : Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, 2009), hlm 54

25 Amiruddin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Rajawali Pers, 2006), hlm 30

(22)

Bahan hukum sekunder yaitu bahan hukum yang memberikan penjelasan terhadap bahan hukum primer yakni hasil karya para ahli hukum berupa buku, pendapat-pendapat sarjana, yang berhubungan dengan pembahasan skripsi ini.

Bahan hukum tersier atau bahan penunjang yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk atau penjelasan bermakna terhadap bahan hukum primer dan/atau bahan hukum sekunder yakni kamus hukum dan Kamus Besar Bahasa Indonesia.

3. Teknik pengumpulan data

Pengumpulan data dilakukan dengan cara studi kepustakaan (library reaseacrh) yaitu serangkaian usaha untuk memperoleh data dengan jalan membaca, menelaah, mengklarifikasi, mengidentifikasi, dan dilakukan pemahaman terhadap bahan-bahan hukum yang berupa peraturan perundang- undangan serta literatur yang ada relevansinya dengan permasalahan penelitian.26 4. Analisis data

Data yang berhasil dikumpulkan, data sekunder, kemudian diolah dan dianalisa dengan mempergunakan teknik analisis metode kualitatif, yaitu dengan menguraikan semua data menurut mutu, dan sifat gejala dan peristiwa hukumnya melakukan pemilahan terhadap bahan-bahan hukum relevan tersebut di atas agar sesuai dengan masing-masing permasalahan yang dibahas dengan mempertautkan bahan hukum yang ada. Mengolah dan menginterpretasikan data guna mendapatkan kesimpulan dari permasalahan serta memaparkan kesimpulan dan

26Edy Ikhsan dan Mahmul Siregar, Op.Cit, hlm 24

(23)

saran, yang dalam hal ini adalah kesimpulan kualitatif, yakni kesimpulan yang dituangkan dalam bentuk pernyataan dan tulisan.27

H. Sistematika Penulisan

Skripsi ini diuraikan dalam 5 bab dan tiap-tiap bab berbagi atas beberapa sub-sub bab, untuk mempermudah dalam memaparkan materi dari skripsi ini:

Bab I mengenai pendahuluan merupakan gambaran umum yang berisi tentang Latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penulisan, keaslian penulisan, tinjauan kepustakaan, metode penulisan, sistematika penulisan.

Bab II mengenai Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dalam Melakukan Tugas Dan Wewenangnya. Berisikan tentang Struktur Regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Otoritas Jasa Keuangan sebagai Lembaga yang Independensi, dan Tugas dan Wewenang Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Bab III mengenai Perlindungan Hukum Terhadap Pemegang Polis Dalam Pencabutan Izin Usaha Asuransi. Berisikan tentang Tinjauan Umum mengenai perusahaan Asuransi berupa Pengertian Asuransi dan Perusahaan Asuransi, Dasar Hukum pemegang Polis perusahaan Asuransi. Keterbatasan dan Hambatan Pemerintah Dalam Perlindungan Hukum Setelah Pencabutan Izin Usaha Asuransi.

Upaya Yang Seharusnya Dilakukan Pemerintah Dalam Perlindungan Hukum Setelah Pencabutan Izin Usaha Asuransi dan Perlindungan Hukum Pemegang Polis Pasca Pencabutan izin Usaha Asuransi Oleh OJK.

27Ibid., hlm 24-25

(24)

Bab IV mengenai Tanggung jawab Tim Likuidasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Terhadap Pemegang Polis/ Tertanggung Atas Perusahaan Asuransi Yang Dicabut Izin Usahanya Berdasarkan POJK Nomor 28/POJK.05/2015. Bab ini berisi tentang Terbentuknya Tim Likuiditas ditinjau dari POJK Nomor 28/POJK.05/2015, Tugas dan Wewenang Tim Likuidasi, Pengawasan dan Pelaksanaan Tim Likuidasi kepada OJK atas Pemegang Polis/Tertanggung di Perusahaan Asuransi dan Tanggung jawab Tim Likuidasi kepada Perusahaan Asuransi atas dicabut Izin Usahanya.

Bab V mengenai kesimpulan dan saran merupakan bab penutup dari seluruh rangkaian bab-bab sebelumnya, yang berisikan kesimpulan yang dibuat berdasarkan uraian skripsi ini, yang dilengkapi dengan saran-saran.

(25)

DAN WEWENANGNYA DALAM PENGAWASAN PERUSAHAAN ASURANSI

A. Struktur Regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Mendesain sebuah struktur regulasi yang independen adalah merupakan hal yang sangat penting. Hal ini dapat dilihat dari kegagalan beberapa negara yang mempunyai sebuah stuktur regulasi yang tidak independen. Pengalaman Korea dan Jepang sebelum di tahun 1990an merupakan contoh dari kegagalan struktur regulasi yang tidak independen.28

Di Korea regulator dan pengawasan bank khusus dan lembaga nonbank berada dalam kekuasaan Ministry of Finance and Economy. Pada saat itu banyak permasalahan dalam pengaturan dan pengawasan termasuk kekuasaan untuk mengenyampingkan persyaratan yang pada gilirannya di percaya menjadi salah satu faktor penyebab dari krisis di Korea.29 Permasalahan independensi pada pengawasan keuangan yang dipegang oleh Ministry of Finance di Jepang juga dipercaya menjadi sumber dari kelemahan sektor keuangan di Jepang di tahun 1990an.30

Perlu menjadi ingatan bahwa berdasarkan penelitian tidak ada institusi yang independen dari pengaruh politik jangka pendek dan independen dari

28 Bismar Nasution, “Struktur Regulasi Independensi Otoritas Jasa Keuangan” (Medan : Makalah disampaikan pada Seminar Hukum Peran dan Tujuan Otoritas Jasa Keuangan Ikatan Hukum Ekonomi Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, 2013), hlm 7

29 Marc Qiuntyn and Michael W. Taylor, Regulatory and Supervisory Independence and Financial Stability, IMF Working Paper WP/02/46, tahun 2006, hlm 6

30 Ibid., hlm 6-7

(26)

keterikatan dan pengaruh lembaga keuangan. Terdapat pendapat yang mengatakan, bahwa meskipun independensi pengawas sangat penting untuk sektor keuangan, hal tersebut mungkin sulit dibuktikan untuk dapat berkembang dan memberikan jaminan. Pengawas sering bekerjasama dengan lembaga keuangan tidak hanya dalam memeriksa dan memantau, tetapi juga dalam menegakkan sanksi dan bahkan mencabut izin. Selanjutnya, dikatakan “because much supervisory activity takes place outside direct public view, interference, either by politicians or by industry, can be subtle, taking many form” (karena banyak kegiatan pengawasan terjadi di luar pandangan publik langsung, gangguan, baik oleh politisi atau industri, bisa halus, mengambil banyak bentuk).31

Berdasarkan pengalaman di atas maka tidak dapat dipungkiri bahwa independensi merupakan faktor utama yang harus diperhatikan dalam mendesain sebuah struktur regulasi yang tepat untuk Indonesia, terutama independensi dari pengaruh politik kepentingan yang masih menjadi momok di Indonesia. Namun demikian, apabila tidak dicermati secara hati-hati, sebuah institusi yang mempunyai absolute independence (independensi mutlak) juga dapat menyebabkan pengaruh negatif. Sebuah regulator yang terlalu independen dari pemerintah dan politik dapat menyebabkan “regulatory capture” dimana regulator terjebak untuk membuat kebijakan bias yang hanya menguntungkan golongan tertentu saja. Tanpa adanya kontrol yang cukup dari pemerintah dan stakeholders lainnya, sebuah regulator yang terjebak dalam “regulatory capture” dapat melihat kepentingan industri sebagai kepentingan publik. Hal ini dapat mengakibatkan

31 Kennet Kaoma Mwenda dalam Bismar Nasution, Op.Cit, hlm 7-8

(27)

regulasi yang dibuatnya hanya untuk bertujuan mengurangi biaya dari industri daripada menciptakan keseimbangan dari kepentingan industri dan kepentingan publik.32

Selain itu, akan sulit untuk mengukur akuntanbilitas dari regulator yang mempunyai independensi yang absolut. Regulator yang mempunyai independensi yang absolute dapat mengejar kepentingannya sendiri tanpa mempertimbangkan kebijakan ekonomi dari pemerintah. Beberapa pengamat bahkan menganggap regulator tersebut sebagai “fourth branch of government” (cabang keempat pemerintah) dimana si regulator tersebut berada dalam sistem trias politica yang selama ini menjadikan dasar dari check and balances.33

Hal inilah yang menyebabkan perlunya untuk membentuk sebuah struktur regulasi yang independen sesuai dengan kondisi perekonomian dari Negara tersebut. Dalam perekonomian yang sedang berkembang, Intervensi dari pemerintah kadang diperlukan pada hal-hal tertentu dikarenakan belum adanya struktur regulasi dan infrastruktur perekonomian yang kuat dan masih belum terbentuknya legal culture (budaya hukum) yang mendukung instrumen perekonomian (misalnya pengakuan terhadap hak kontraktual).34

Indonesia adalah negara berkembang dengan perekonomian yang masih berkembang. Infrastruktur perekonomian yang ada juga masih belum sematang Negara lain yang mempunyai perekonomian yang maju. Oleh karenanya harmonisasi antara kebijakan pemerintah dan regulasi di bidang perekonomian

32 M. Qiuntyn & M. W. Taylor, Should Financial Sector Regulators Be Independent, IMF Economic Issue No.32, tahun 2004 dalam Bismar Nasution, Op.Cit, hlm 9

33Kenneth Kaoma Mwenda, Op.Cit, hlm 34

34 Ibid., hlm 31-33

(28)

menjadi sangat penting untuk menjamin pertumbuhan ekonomi yang sehat dan tepat untuk kesejahteraan rakyat. Dalam konteks inilah, struktur regulasi otoritas jasa keuangan di Indonesia (OJK) harus dapat menyeimbangkan antara kepentingan pemerintah dan kepentingan industri agar nantinya arah kebijakan perekonomian di bidang keuangan dapat berjalan dengan selaras.35

Independensi yang dimaksud bukanlah independensi yang absolut. OJK sebagai regulator dan pengawas jasa keuangan harus dapat berfungsi sebagai katalisator pembangunan ekonomi dan wasit untuk fair play. Untuk memahami independensi lembaga tersebut dapat dikaitkan dengan independensi bank central.

Karena tidak ada satu negara pun yang menyesal telah memberikan independensi kepada bank sentralnya.36

Independensi bank sentral dapat berarti dua hal. Pertama, bank sentral memiliki kebebasan untuk menentukan bagaimana untuk mencapai tujuannya.

Kedua, keputusan-keputusan yang diambil olehnya sulit untuk dibatalkan oleh cabang-cabang atau lembaga pemerintahan lainnya.37

Independen dalam menentukan bagaimana untuk mencapai tujuannya bukan berarti bahwa bank sentral dapat menentukan sendiri tujuannya, karena tujuan bank sentral secara umum tentu saja ditetapkan melalui legislasi yang disepakati bersama melalui suatu sistem demokrasi. Tapi yang dimaksud adalah bahwa bank sentral memiliki diskresi yang luas mengenai bagaimana

35 Bismar Nasution, Op.Cit, hlm 10

36 Lars Nyberg, The Framework of Modern Central Banking, Speech on Reforming the State Bank of Thailand, Hanoi, 21 March 2006, hlm 5

37 Alan S. Blinder, Central Banking in Theory and Practice, (Cambridge : The MIT Press, 1998), hlm 54

(29)

menggunakan instrumen-instrumennya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan melalui undang-undang.38

Untuk mengukur struktur independensi yang diadopsi oleh UUOJK, maka ada beberapa panduan yang dapat digunakan. Panduan ini tidaklah dimaksudkan sebagai acuan untuk sistem yang sempurna karena seperti yang telah disampaikan di atas, struktur independensi yang tepat haruslah disesuaikan dengan kondisi dan struktur perekonomian dari Negara tersebut. Secara umum, struktur regulasi yang independen dapat diukur dari beberapa faktor sebagai berikut:39

1. Independensi Dari Segi Regulasi

Regulasi di bidang keuangan haruslah didesain untuk memberi keleluasaan untuk OJK dalam membentuk kebijakan yang tepat. Undang-undang yang ada haruslah memberi ruang dan fleksibilitas kepada OJK untuk dapat mendesain dan merubah kebijakan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan ekonomi.

Undang-undang yang terlalu detail menjadi indirect intervention dimana secara tidak langsung OJK diarahkan dan dikekang untuk mengeluarkan sebuah kebijakan yang belum tentu sesuai dengan kondisi yang ada.40

Dalam konteks ini, secara umum UU OJK telah mengadopsi regulatory independence. Dalam UU OJK, OJK diberi kewenangan yang cukup luas untuk menformulasikan regulasi.41 Isu regulatory independence juga harus dilihat dari sudut pandang UU terkait seperti UU Perbankan, UU Pasar Modal. Studi yang lebih mendalam terhadap peraturan yang ada haruslah dilakukan untuk

38 Bismar Nasution, Op.Cit, hlm 10

39 Ibid., hlm 11

40 Marc Quintyn and Michael W Taylor, Op.Cit, hlm 14-16

41 Lihat Pasal 8 UU OJK

(30)

menganalisis apakah peraturan perundang-undangan yang ada sudah mengakomodir independensi dari UU OJK.42

2. Independensi Dari Segi Pengawasan

Tanpa pengawasan yang konsisten dan menyeluruh, regulasi tidak akan menjadi efektif dalam membentuk rezim sistem keuangan yang efisien dan stabil.43 Ada beberapa aspek dalam membentuk pengawasan yang independen sebagai berikut:44

a. Perlindungan hukum kepada jajaran OJK dalam melakukan tugasnya. Jajaran OJK harus mendapat perlindungan hukum ketika mengeluarkan kebijakannya. Hal ini untuk menghindari adanya keragu-raguan dalam mengambil keputusan karena adanya ancaman tuntutan hukum. Selain itu tuntutan hukum juga dapat menyebabkan lambatnya pengambilan keputusan dimana hal ini dapat mengakibatkan hasil yang negatif mengingat sifat perekonomian yang sangat kontekstual. Di banyak negara, undang-undang melindungi regulator dari kewajiban pelaksanaan tugas yang timbul dari kekuasaan negara, kecuali regulator yang beritikad buruk. Perlindungan regulator penting, agar mereka bekerja dengan rajin, kompeten, mandiri dan profesional.

b. Adanya sistem dan standar yang jelas dalam peraturan OJK mengenai pengawasaan dan pengenaan sanksi. Sistem dan standar yang jelas dapat mencegah penyalahgunaan kekuasaan dan menjadi alat check and balances karena keputusan yang diambil bukanlah berdasarkan kebijakan indvidu tetapi harus mengacu pada peraturan yang ada. Hal ini dapat meminimalisasi adanya kebijakan yang bersifat subjektif dan menjaga konsistensi dalam pengawasan regulasi.

c. Sistem remunerasi yang jelas dan terjamin. Harus ada standar gaji yang cukup dan sistem jenjang karir yang berdasarkan merit. Hal ini ditujukan untuk meminimalisir potensi korupsi dan juga memastikan bahwa OJK diisi oleh orang-orang yang professional dan kompeten dalam bidangnya.

d. Adanya sistem sanksi dan banding yang jelas. Struktur yang ada harus memberikan kejelasan dalam proses pengenaan sangsi dan upaya hukum yang dapat dilakukan serta jangka waktu dalam prosesnya. Hal ini dilakukan tidak hanya untuk menjaga kepastian hukum, tetapi juga untuk memastikan bahwa otoritas jasa keuangan dapat mengambil tindakan dan kebijakan yang tepat.

Upaya hukum yang berlebihan misalnya dapat menyebabkan.

42 Bismar Nasution, Op.Cit, hlm 11

43 Marc Quintyn and Michael W Taylor, Op.Cit, hlm 17-20

44 Kenneth Kaoma Mwenda, Op.Cit, hlm 13

(31)

3. Independensi Dari Segi Institusi

Independensi dari segi institusi (Institutional Independence) mengacu pada status dari otoritas jasa keuangan yang terpisah dari lembaga eksekutif dan legislatif. Mengingat fungsinya yang sangat krusial untuk menyeimbangkan keadaan perekonomian dan kegagalan fungsi otoritas jasa keuangan yang tidak independen seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, menjadi sangat penting untuk menjaga independensi sebuah otoritas jasa keuangan dari pengaruh politik dan pemerintah.45 Untuk mencapai hal ini ada beberapa faktor penting yang harus diadopsi oleh sebuah struktur regulasi yang independen sebagai berikut:46

a. Peraturan yang jelas mengenai pengangkatan dan pemberhentian dari personel senior. Kepastian mengenai proses pengangkatan dan pemberhentian diperlukan untuk memberikan jaminan kepada anggota OJK untuk dapat mengambil keputusan tanpa adanya kekhawatiran atas ancaman pemberhentian.

b. Struktur pengaturan yang jelas. Pengambil kebijakan di OJK sebaiknya bersifat kolektif dan diisi oleh para ahli di bidangnya. Hal ini untuk mencegah adanya satu individu yang terlalu dominan yang pada gilirannya dapat mempengaruhi kebijakan yang di ambil.

c. Proses pengambilan kebijakan yang transparan. Walaupun ada beberapa keputusan yang menurut sifatnya bersifat rahasia dan sensitif, proses pengambilan kebijakan yang transparan harus tetap dilakukan. Hal ini penting untuk memastikan adanya kontrol dari publik terhadap kebijakan yang diambil oleh OJK.

4. Independensi Dari Segi Pembiayaan

Independensi dari segi pembiayaan (Budgetary Independence) mengacu pada keterlibatan dari eksekutif dan legislatif dalam memutuskan besarnya anggaran OJK termasuk personel dan besarnya gaji. Otoritas yang mempunyai

45 Ibid., hlm 20

46 Bismar Nasution, Op.Cit, hlm 13

(32)

kebebasan dalam merancang anggaran dan sumber dayanya akan lebih siap untuk menghadapi tekanan politik. Sehinga, proses pengambilan keputusan akan dapat berjalan lebih cepat dan sesuai dengan perkembangan pasar. Dalam hal ini, maka sebaiknya pendanaan dari OJK diperoleh dari luar anggaran pemerintah.47

Apabila pendanaan hanya berasal dari industri, ada kekhawatiran bila nantinya OJK akan mengalami conflict interest di saat mengambil keputusan yang berpotensi merugikan industri. Misalnya dalam situasi krisis dimana industri dapat menekan OJK untuk mengambil kebijakan yang menguntungkan industri tanpa melihat kepentingan publik secara umum. Dalam konteks ini, UUOJK telah mengambil langkah yang tepat. Dalam UUOJK, pendanaan OJK berasal dari kombinasi APBN dan premi dari Industri. Mengingat masih rentannya perekonomian Indonesia, kombinasi ini merupakan solusi yang baik dimana OJK tetap dapat berfungsi penuh di saat krisis dengan dukungan dari pemerintah.48

Sistem pengawasan yang dilakukan oleh OJK adalah sistem pengawasan terintegrasi, artinya seluruh kegiatan jasa keuangan yang dilakukan oleh berbagai lembaga keuangan tunduk pada sistem pengaturan dan pengawasan OJK. Sistem pengawasan jasa keuangan secara terintegrasi dimulai di Skandinavia pada pertangahan tahun 1980an. Inggris dan Jepang menerapkan sistem pengawasan terintegrasi pada tahun 1998 dengan mendirikan United Kingdom Financial

47 Kenneth Kaoma Mwenda, Op.Cit, hlm 21

48 Bismar Nasution, Op.Cit, hlm 14

(33)

Services Authority (Inggris Raya Otoritas Jasa Keuangan) dan Japan Financial Services Agency (Jepang Otoritas Jasa Keuangan).49

Pada dasarnya, faktor yang melatar belakangi pendirian lembaga pengawas jasa keuangan terpadu berbeda di setiap negara, namun setidaknya terdapat beberapa faktor yang memicu dilakukannya perubahan terhadap struktur kelembagaan pengawas jasa keuangan. Pertama, munculnya konglomerasi keuangan dan mulai diterapkannya universal banking di banyak negara. Kondisi ini menyebabkan regulasi yang didasarkan atas sektor menjadi tidak efektif karena terjadi gap dalam regulasi dan supervisi. Kedua, stabilitas sistem keuangan telah menjadi isu utama bagi lembaga pengawas (dan lembaga pengawas) yang awalnya belum memperhatikan masalah stabilitas sistem keuangan, mulai mencari struktur kelembagaan yang tepat untuk meningkatkan stabilitas sistem keuangan.

Ketiga, kepercayaan dan keyakinan pasar terhadap lembaga pengawas menjadi komponen utama good governance. Untuk meningkatkan good governance pada lembaga pengawas jasa keuangan, banyak negara melakukan revisi struktur lembaga pengawas jasa keuangannya.50

OJK memiliki kewenangan menerbitkan regulasi yang mencakup regulasi perbankan, pasar modal, perasuransian dan Lembaga keuangan Bukan bank (LKBB). Pasal 6 UU OJK menetapkan bahwa OJK berwenang menetapkan peraturan untuk seluruh lembaga keuangan. Kewenangan menetapkan peraturan

49 Zulkarnain Sitompul, Konsepsi Dan Transformasi Otoritas Jasa Keuangan (Conception And Transformation Financial Services Thority), Jurnal Legislasi Indonesia, Oktober Vo.9 No.3 tahun 2012, hlm 344

50 Ichwan Kurnia, Independensi Otoritas Jasa Keuangan Dalam Pengawasan Pada Dunia Perbankan Ditinjau Berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 Tentang Otoritas Jasa Keuangan, melalui https://ichwankurniablog.wordpress.com, diakses tanggal 3 Desember 2016

(34)

tersebut diberikan kepada DK (Dewan Komisoner) OJK. Dengan ketentuan seperti ini peraturan yang diterbitkan OJK dapat bersifat integratif karena diterbitkan oleh DK yang dapat melihat permasalahan yang dihadapi lembaga keuangan secara holistik. Untuk itu, DK harus didukung oleh aparatur yang mampu mengintegrasikan semua peraturan OJK. Hal ini merupakan tantangan besar karena pengawasan masing-masing lembaga keuangan berada pada kepala eksekutif sehingga merekalah yang sehari-hari bergelut dengan masalah-masalah yang dihadapi oleh industri. Usulan peraturan dan perubahan peraturan tentunya berasal dari masing-masing kepala eksekutif. Hal ini dapat menyebabkan peraturan yang ditetapkan oleh DK bersifat sangat sektoral.51

Regulasi terhadap lembaga keuangan bank dan nonbank selama ini ditangani oleh institusi yang berbeda. Lembaga keuangan bank diatur dan diawasi oleh Bank Indonesia (BI), sedangkan lembaga keuangan nonbank seluruhnya diawasi oleh Bapepam-LK sebuah lembaga yang bernaung di bawah Kementerian Keuangan. Regulasi sektor perbankan dilaksanakan oleh Bank Indonesia berdasarkan amanat UU Nomor 6 Tahun 2009 tentang Bank Indonesia. Sektor perbankan diatur dan diawasi oleh BI karena sektor tersebut memiliki pertautan erat dengan kebijakan moneter mengawasi dan mengatur sektor perbankan merupakan salah satu tugas untuk mencapai kestabilan nilai tukar rupiah.

Kebijakan baru ini telah menyisakan keraguan dan kekhawatiran di benak beberapa kalangan dalam kaitannya dengan efektivitas OJK. Sebagaimana diketahui, salah satu alasan utama penggabungan otoritas regulasi dan supervisi

51Zulkarnain Sitompul. Op.Cit, hlm 353

(35)

yang diintrodusir OJK tersebut adalah dalam rangka mewujudkan efisiensi dan memicu perkembangan lembaga keuangan. Namun menurut beberapa kalangan belum terdapat suatu bukti empiris mengenai keunggulan dari penggabungan otoritas pengaturan dan pengawasan tersebut terutama baik dari sisi mikro prudensial maupun dari sisi stabilitas sistem keuangan. Oleh karena itu, salah satu tantangan serius yang harus diperhatikan adalah bagaimana membangun kepercayaan masyarakat bahwa OJK akan mampu menjalankan perannya secara baik.52

Regulasi dan pengawasan sektor keuangan juga menempati posisi penting dalam rangka mengantisipasi potensi pelanggaran yang mungkin saja dilakukan oleh lembaga keuangan. Perkembangan kompetisi di sektor keuangan tak dapat dipungkiri akan memicu institusi individu untuk terus melakukan inovasi produk.

Namun demikian, inovasi yang dilakukan seringkali berpotensi melanggar ketentuan yang berlaku karena desakan kompetisi yang begitu ketat. sasaran pokok dari regulasi dan supervisi adalah untuk mendorong keamanan dan kesehatan lembaga-lembaga keuangan melalui evaluasi dan pemantauan yang berkesinambungan, termasuk penilaian terhadap manajemen risiko, kondisi keuangan dan kepatuhan terhadap undang-undang dan regulasi.53

B. Otoritas Jasa Keuangan sebagai Lembaga yang Independensi

Otoritas Jasa Keuangan (yang selanjutnya disebut OJK) adalah suatu lembaga pemegang otoritas tertinggi dan disebut lembaga extraordinary, di mana

52 Hasbi Hasan, Efektivitas Pengawasan Otoritas Jasa Keuangan Terhadap Lembaga Perbankan Syariah, Jurnal Legislasi Indonesia, Oktober Vo.9 No.3 tahun 2012, hlm 374

53 Ibid., hlm 376

(36)

lembaga ini mendapatkan pemindahan fungsi pengaturan dan pengawasan pada lembaga-lembaga keuangan, seperti Perbankan, Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Non-Bank (asuransi, dana pensiun dan termasuk di dalamnya lembaga pembiayaan konsumen) seluruh bisnis keuangan di Indonesia berada di bawah pengaturan dan pengawasannya yang bebas dari intervensi pihak manapun.

Namun pembentukan lembaga superpower menimbulkan kekhawatiran tentang kewenangan besar yang dimilikinya.54

OJK dilandasi dengan prinsip-prinsip tata kelola yang baik, yang meliputi independensi, akuntabilitas, pertanggungjawaban, transparan dan kewajaran (fairness). OJK merupakan otoritas di sektor jasa keuangan yang memiliki relasi dan keterkaitan yang kuat dengan otoritas lain, dalam hal ini otoritas fiskal dan moneter. OJK melibatkan keterwakilan unsur-unsur dari kedua otoritas tersebut secara ex-officio (jabatan seseorang pada lembaga tertentu karena tugas dan kewenangannya pada lembaga lain). Keberadaan ex-officio ini dimaksudkan dalam rangka koordinasi, kerjasama dan harmonisasi kebijakan di bidang fiskal, moneter dan sektor jasa keuangan, untuk memastikan terpeliharanya kepentingan nasional dalam rangka persaingan global dan kesepakatan internasional, kebutuhan koordinasi dan pertukaran informasi dalam rangka menjaga dan memelihara stabilitas sistem keuangan.55

Konsep dari pengaturan independensi telah lebih menjadi terkait dengan sektor jasa dibandingkan dengan sektor barang. Selanjutnya, pengawasan yang

54 Adrian Sutedi, Aspek Hukum Otoritas Jasa Keuangan, (Jakarta: Penerbit Raih Asa Sukses, 2014), hlm 78

55 Hermansyah, Hukum Perbankan Nasional Indonesia, (Jakarta : Penerbit Kencana, 2014), hlm 217

(37)

independen (supervisory independence) sangat penting untuk sektor keuangan.

Sejalan dengan itu, ketentuan Pasal 2 ayat (2) UUOJK telah menentukan, bahwa OJK adalah lembaga yang independen dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, bebas dari campur tangan pihak lain, kecuali untuk hal-hal yang secara tegas diatur dalam Undang-Undang ini.

Istilah indendensi tersebut dapat diartikan sebagai ide untuk tidak dipengaruhi atau dikendalikan oleh pihak lain, independensi setiap badan regulator dapat dilihat dari empat sudut yang terkait satu sama lain, yaitu regulasi, pengawasan, institusional, dan anggaran. Oleh karena itu, OJK membutuhkan independensi, baik dari pemerintah maupun dari industri yang diawasinya, sehingga tujuan OJK sebagaimana ditentukan Pasal 4 UUOJK dapat tercapai.

Kejelasan tujuan OJK tersebut adalah alat mengukur tingkat independensi, yakni;

1. tujuan ditetapkan secara jelas dapat membantu pengurus membuat keputusan tentang alokasi sumber daya dan dalam menentukan respon kebijakan yang tepat dalam situasi tertentu,

2. tujuan adanya pengaturan (arrangement) tentang akuntabilitas untuk respon kebijakan. Pasal 4 UUOJK menyatakan, bahwa OJK dibentuk dengan tujuan agar keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan:

a. terselenggaranya secara teratur, adil, transparan, dan akuntabel;

b. mampu mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan stabil; dan

c. mampu melindungi kepentingan Konsumen dan masyarakat.

(38)

Di samping itu, untuk mengukur tingkat independensi OJK dilihat dari indepensi, akuntabilitas, integritas, dan sumber daya yang memadai. Lembaga independen harus mampu memformulasikan kebijakan atas dasar strategi jangka panjang dan dapat mengambil keputusan yang kredibel. Independensi dapat diperoleh dengan adanya ketentuan yang mengatur tentang pemberhentian pengurus, otonomi anggaran dan kemampuan mengalokasikan sumber daya berdasarkan kebijakan internal lembaga.56

Pasal 2 ayat (2) UUOJK menentukan OJK adalah lembaga yang independen dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, bebas dari campur tangan pihak lain, kecuali untuk hal-hal yang secara tegas diatur dalam Undang- undang ini. Independensi OJK tersebut merupakan salah satu isu penting dalam membahas peran OJK. Independensi tidak berarti OJK bebas menjalankan pengaturan dan pengawasan yang mereka inginkan. Independen berarti OJK dapat menggunakan instrumen yang dimilikinya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh sistem politik tanpa adanya campur tangan dari pihak diluar OJK. Ini yang disebut dengan “instrumen independence” bukan “goal independence”. Konsekuensi independen bagi OJK adalah harus lebih akuntabel untuk tindakan yang dilakukan dalam pengaturan dan pengawasan secara transparan.57

56 Bismar Nasution, Pengaturan dan Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan Menurut Undang-undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan, disampaikan pada Sosialisasi Undang-undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan, Pengawasan Industri Jasa Keuangan yang terintegrasi, dilaksanakan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan bekerjasama dengan Universitas Medan Area, Hotel Santika Medan, 2012 hal 3

57 Ibid, hlm 3

(39)

Untuk menentukan independensi suatu lembaga pengawas, dapat digunakan empat dimensi yang menjadi alat ukur independensi yaitu, regulasi, supervisi, institusi dan anggaran. Independensi regulasi dan supervisi merupakan independensi inti. Independensi institusi dan anggaran dibutuhkan untuk mendukung pelaksanaan fungsi regulasi dan supervisi tersebut. Independensi regulasi dan supervisi sulit untuk dicapai tanpa pengaturan yang jelas tentang independensi institusi dan anggaran. Independensi regulasi dimaksudkan sebagai kemampuan dari lembaga pengawas memperoleh suatu tingkatan otonomi dalam menetapkan peraturan teknis yang mengatur industri yang diawasinya sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Dalam kaitan ini, undang-undang yang mengatur industri keuangan sebaiknya hanya mengatur hal-hal prinsip sehinggak lembaga pengawas dapat leluasa menerbitkan dan mengamendmen regulasi teknis tanpa perlu melibatkan atau melalui proses politik (legislasi). Hanya saja, perlu diwaspadai bahaya independen regulasi, yaitu pengawas dapat saja menjadi curiga yang berlebihan sehingga terjadi pengaturan yang berlebihan (over regulated) tanpa mempertimbangkan biaya regulasi terhadap industri yang diawasi.58

Ketentuan dalam Pasal 2 ayat (2) UU OJK telah dijelaskan bahwa adanya pengecualian terhadap independensi OJK berlaku pula bagi ketentuan Bank Indonesia. Meskipun Bank Indonesia dan OJK adalah lembaga yang independen tetapi keindependensiannya tidak berlaku secara absolut (mutlak). Begitu juga dengan lembaga OJK tidak mutlak sebagai lembaga yang independen. Undang-

58 Zulkarnain Sitompul, Op.Cit, hlm 348

(40)

Undang Nomor 23 Tahun 1999 sebagaimana diubah melalui Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004 sebagaimana diubah melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2009 tentang Bank Indonesia (selanjutnya disingkat UU BI) menegaskan di Pasal 4 ayat (2) UU BI tidak berlaku keindependensian Bank Indonesia secara murni sebab pasal ini merupakan pasal pengecualian. Ketentuan pengecualian itu ditentukan, jika diatur secara tegas dalam UU BI. UU OJK juga mengatur ketentuan pengecualian di Pasal 1 angka 1 jo Pasal 2 ayat (2) terdapat pengecualian jika diatur secara tegas menurut UU OJK. Independensi bagi BI dan OJK tidak diserahkan kepada kedua lembaga ini secara mutlak. Ketika misalnya sistem itu berurusan dengan penyehatan perbankan seperti persoalan ekonomi makro sebagaimana ditentukan dalam Pasal 39 UU OJK.59

Peran otoritas jasa keuangan dalam mengawasi lembaga keuangan sudah jelas bahwa OJK dalam hal ini berperan sebagai regulative dan controlling atas lembaga keuangan. Aspek-aspek yang meliputi aktivitas lembaga keuangan, permasalahan kelembagaan, kesehatan lembaga keuangan, kehati-hatian lembaga keuangan, serta perlindungan atas konsumen. Sebagaimana yang dijelaskan tentang fungsi OJK dan tujuan dibentuknya OJK. Untuk mewujudkan tujuan dan menjalankan setiap fungsi dengan baik maka perlu adanya koordinasi dengan BI dalam mebuat peraturan dan pengawasan di sektor perbankan khususnya yang sangat kompleks.

Lembaga independen seperti OJK disektor jasa keuangan tindakan yang sangat positif yang dilakukan oleh pemerintah dalam mengawasi lembaga

59 Wiwin Sri Rahyani, Independensi Otoritas Jasa Keuangan Dalam Perspektif Undang- Undang Nomor 21 Tahun 2011 Tentang Otoritas Jasa Keuangan, Jurnal Legislasi Indonesia, Oktober Vo.9 No.3 2012, hlm 370

Referensi

Dokumen terkait

Di dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, disebutkan bahwa pengertian Retribusi adalah pungutan daerah sebagai

“Analisis Yuridis Tentang Perlindungan Hukum Bagi Pengguna Jasa Penerbangan Dalam Hal Pembatalan Penerbangan Secara Sepihak Ditinjau Dari UU Perlindungan Konsumen (Studi

UU Perasuransian mengatur bab khusus mengenai perlindungan hukum bagi pemegang polis, tertanggung atau peserta asuransi yaitu bab 11 yang terdiri dari 2 (dua) pasal yaitu

Dengan memperhatikan pengertian konsumen dan pelaku usaha dalam undang- undang tersebut di atas, maka pemegang polis atau tertanggung dalam perjanjian asuransi dapat

Kewajiban Negara dalam memberikan kenyamanan dan perlidungan bagi warga Negara nya mengharuskan pemerintah menciptakan hunian yang layak huni namun dibatasi dengan

Dasar hukum pejabat pembuat akta tanah (PPAT) berupa Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang tentang Jabatan Notaris dan Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun

Lisensi adalah kontrak yang memungkinkan pihak lain selain pemilik hak kekayaan intelektual untuk membuat, menggunakan, menjual atau mengimport produk atau jasa berdasarkan

Desa yang pada awalnya sebagai self-governing community hingga menjadi kesatuan masyarakat hukum (inlandsce gementee), lalu menjadi kesatuan masyarakat hukum adat