3. METODOLOGI PENELITIAN
3.3 Analisis Data
3.3.4 Analisis Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan
tujuan tertentu. Pengelolaan ini memerlukan input yang selanjutnya dapat diolah/diproses sehingga dapat menghasilkan output yang diharapkan. Variabel- variabel dalam input, proses dan output (Tabel 3) dianalisa untuk mengetahui faktor-faktor dominan yang mempengaruhi keberhasilan pengelolaan DPL.
Variabel yang digunakan dalam analisis tanggapan masyarakat terhadap input pengelolaan DPL terdiri dari 8 variabel pertanyaan seperti yang tercantum pada Tabel 3 (X1 – X8). Analisis ini menggunakan skala pengukuran (skala
Likert). Setiap variabel pertanyaan memiliki skor, dimana skor terkecil adalah 1 dan skor terbesar adalah 5. Penilaian skor dilakukan pada setiap variabel pertanyaan kemudian dihitung total skor keseluruhan variabel pertanyaan untuk mengetahui tingkat tanggapan masyarakat terhadap input pengelolaan DPL. Jika jumlah responden 70 orang, maka jumlah skor tertinggi setiap variabel pertanyaan 5 x 70 = 350 dan jumlah skor terendah 1 x 70 = 70. Jika jumlah pertanyaan 8,
maka perhitungan skor tertinggi keseluruhan variabel pertanyaan 5 x 8 x 70 = 2 800 dan skor terendah 1 x 8 x 70 = 560. Kriteria interpretasi skor
setiap variabel dan keseluruhan variabel pertanyaan input pengelolaan DPL disajikan dalam Tabel 7.
Tabel 7. Kriteria interpretasi skor variabel pertanyaan input pengelolaan DPL
No Kisaran skor Interpretasi
Masing-masing variabel
1. 70 – 125 Tidak bagus/mendukung 2. 126 – 181 Sedikit bagus/mendukung 3. 182 – 237 Cukup bagus/mendukung 4. 238 – 293 Bagus/mendukung
5. 294 – 350 Sangat bagus/ mendukung Keseluruhan variabel
1. 560 – 1 007 Tidak bagus/mendukung 2. 1 008 – 1 455 Sedikit bagus/mendukung 3. 1 456 – 1 903 Cukup bagus/mendukung 4. 1 904 – 2 351 Bagus/mendukung
5. 2 352 – 2 800 Sangat bagus/ mendukung
3.3.4.2 Analisis Tanggapan Masyarakat terhadap Proses Pengelolaan DPL Variabel yang digunakan dalam analisis tanggapan masyarakat terhadap proses pengelolaan DPL terdiri dari 22 variabel pertanyaan seperti yang tercantum dalam Tabel 3 (Y1 – Y22). Analisis ini menggunakan skala pengukuran (skala
Likert). Setiap variabel pertanyaan memiliki skor, dimana skor terkecil adalah 1 dan skor terbesar adalah 5. Penilaian skor dilakukan pada setiap variabel pertanyaan kemudian dihitung total skor keseluruhan variabel pertanyaan untuk
mengetahui tingkat tanggapan masyarakat terhadap proses pengelolaan DPL. Jika jumlah responden 70 orang, maka jumlah skor tertinggi setiap variabel pertanyaan 5 x 8 x 70 = 2 800 dan jumlah skor terendah 1 x 8 x 70 = 560. Jika jumlah pertanyaan 22, maka jumlah skor tertinggi keseluruhan variabel pertanyaan 5 x 22 x 70 = 7 700 dan jumlah skor terendah 1 x 22 x 70 = 1 540. Kriteria interpretasi skor setiap variabel dan keseluruhan variabel pertanyaan proses pengelolaan DPL disajikan dalam Tabel 8.
Tabel 8. Kriteria interpretasi skor variabel pertanyaan proses pengelolaan DPL
No Kisaran skor Interpretasi
Masing-masing variabel
1. 70 – 125 Tidak bagus/mendukung 2. 126 – 181 Sedikit bagus/mendukung 3. 182 – 237 Cukup bagus/mendukung 4. 238 – 293 Bagus/mendukung
5. 294 – 350 Sangat bagus/ mendukung Keseluruhan variabel 1. 1 540 – 2 771 Tidak bagus 2. 2 772 – 4 003 Sedikit bagus 3. 4 004 – 5 235 Cukup bagus 4. 5 236 – 6 467 Bagus 5. 6 468 – 7 700 Sangat bagus
3.3.4.3 Analisis Tanggapan Masyakarat terhadap Output Pengelolaan DPL Variabel yang digunakan dalam analisis tanggapan masyarakat terhadap output pengelolaan DPL terdiri dari 11 variabel pertanyaan seperti yang tercantum dalam Tabel 3 (Z1 – Z11). Analisis ini menggunakan skala pengukuran (skala
Likert). Setiap variabel pertanyaan memiliki skor, dimana skor terkecil adalah 1 dan skor terbesar adalah 5. Penilaian skor dilakukan pada setiap variabel pertanyaan kemudian dihitung total skor keseluruhan variabel pertanyaan untuk mengetahui tingkat tanggapan masyarakat terhadap output pengelolaan DPL. Jika jumlah responden 70 orang, maka jumlah skor tertinggi setiap variabel pertanyaan 5 x 70 = 350 dan jumlah skor terendah 1 x 70 = 70. Jika jumlah pertanyaan 11, maka jumlah skor tertinggi keseluruhan variabel pertanyaan 5 x 11 x 70 = 3 850 dan jumlah skor terendah 1 x 11 x 70 = 770. Kriteria interpretasi skor setiap variabel dan keseluruhan variabel pertanyaan disajikan dalam Tabel 9.
Tabel 9. Kriteria interpretasi skor variabel pertanyaan output pengelolaan DPL
No Kisaran skor Interpretasi
Masing-masing variabel
1. 70 – 125 Tidak bagus/mendukung 2. 126 – 181 Sedikit bagus/mendukung 3. 182 – 236 Cukup bagus/mendukung 4. 238 – 293 Bagus/mendukung
5. 294 – 350 Sangat bagus/ mendukung Keseluruhan variabel 1. 770 – 1 385 Tidak bermanfaat 2. 1 386 – 2 001 Sedikit bermanfaat 3. 2 002 – 2 617 Cukup bermanfaat 4. 2 618 – 3 232 Bermanfaat 5. 3 233 – 3 850 Sangat bermanfaat 3.3.4.4 Analisis Faktor
Analisis ini digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pengelolaan DPL. Metode ekstraksi yang digunakan dalam analisis faktor adalah Principal Component Analysis (metode komponen utama), yaitu mengelompokkan variabel-variabel ke dalam beberapa komponen utama.
Pengolahan dan analisis data diawali dengan pembobotan variabel yang dijadikan pertimbangan dalam pengelolaan DPL. Data yang diperoleh berupa data ordinal berskala Likert dengan kisaran 1 sampai dengan 5. Selanjutnya dilakukan tahapan proses analisis faktor dengan software SPSS 13.00 sebagai berikut:
1. Pemilihan variabel yang layak untuk dimasukkan dalam analisis faktor. Analisis faktor yang terdapat dalam program SPSS akan mengurutkan faktor mulai dari yang memiliki pengaruh paling besar/paling dominan sampai kepada faktor yang paling kecil/paling tidak dominan yaitu dengan cara melihat nilai communalities masing-masing variabel. Variabel dengan nilai
communalities terbesar adalah yang memberikan pengaruh yang paling dominan. Hal ini dikarenakan jumlah varian bersangkutan yang dapat dijelaskan oleh faktorisasi juga lebih besar persentasenya. Sehingga dapat diketahui variabel-variabel yang memberikan kontribusi pengaruh paling besar terhadap keberhasilan dalam pengelolaan DPL. Metode yang digunakan
untuk menentukan faktor-faktor tersebut adalah Bartllet’s Test of Sphericity. Kesesuaian analisis faktor diuji dengan menggunakan metode Kaiser-Mayer- Olkin (KMO). Angka MSA (measure of sampling adequacy) berkisar 0 – 1. Jika nilai MSA sama dengan satu maka variabel tersebut dapat diprediksi tanpa kesalahan oleh variabel lain. Jika MSA di atas 0.5 maka variabel masih dapat diprediksi tanpa kesalahan oleh variabel lain. Jika MSA di bawah 0.5 maka variabel tersebut tidak diikutkan dalam analisis faktor.
2. Setelah variabel dipilih dengan MSA, kemudian diekstrasikan dengan metode PCA sehingga menghasilkan satu atau beberapa faktor. Hal yang perlu diperhatikan adalah nilai eigenvalue pada variabel-variabel yang diikutkan dalam faktor analisis. Proses pemfaktoran dihentikan pada komponen dengan nilai eigenvalue di bawah 1.
3. Hasil pemfaktoran seringkali dijumpai variabel yang belum jelas akan dimasukkan ke dalam faktor yang mana, oleh karenanya perlu dilakukan rotasi matriks komponen. Metode rotasi yang digunakan adalah varimax dan diperoleh hasil pemfaktoran yang berisikan variabel-variabel yang mempengaruhi keberhasilan pengelolaan DPL.
4. Setelah komponen utama terbentuk, proses selanjutnya adalah interpretasi hasil dari analisis faktor.
3.3.5 Analisis Stakeholder
Analisis stakeholder merupakan analisis untuk mengetahui sejauh mana peran dan kontribusi masing-masing stakeholder dalam suatu program atau kegiatan (Chetwynd dan Chetwynd 2001). Beberapa hal yang dilihat dan dinilai dalam analisis stakeholder terkait pengelolaan DPL di Desa Mattiro Deceng antara lain:
1. Peran masing-masing stakeholder, yaitu sebagai pelaksana, pengorganisir, pembuat kebijakan, pemanfaat, pengontrol, pendukung atau penentang.
2. Tingkat kepentingan stakeholder terhadap pengelolaan DPL, yaitu sangat tinggi (skor 5), tinggi (skor 4), cukup (skor 3), kurang tinggi (skor 2) dan rendah (skor 1).
3. Tingkat pengaruh stakeholder terhadap pengelolaan DPL, yaitu sangat tinggi (skor 5), tinggi (skor 4), cukup (skor 3), kurang tinggi (skor 2) dan rendah (skor 1).
Hasil skor yang diperoleh kemudian diplotkan secara manual pada sumbu X (kepentingan) dan Y (pengaruh) sehingga diketahui stakeholder yang mempunyai kepentingan tinggi pengaruh tinggi, kepentingan tinggi pengaruh rendah, kepentingan rendah pengaruh tinggi dan kepentingan rendah pengaruh rendah.