• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3 Dampak DPL terhadap Ekologi Terumbu Karang

Pertumbuhan dan distribusi organisme laut tergantung pada parameter fisik perairan, seperti suhu, salinitas, kecerahan dan kecepatan arus. Tabel 15 menunjukkan kualitas perairan di lokasi penelitian, yaitu DPL Pulau Badi.

Tabel 15. Data kualitas perairan di DPL Pulau Badi

No Parameter Hasil Pengukuran Keterangan

1. Kecepatan arus 0.3 m/dtk Arah arus ke utara

2. Kecerahan 100%

3. Kedalaman 3 m

4. Salinitas 32‰

Kecepatan arus di lokasi penelitian berkisar 0.3 m/detik. Arus di perairan Pulau Badi dipengaruhi oleh dinamika arus Selat Makassar. Pasokan utama massa air berasal dari Laut Sulawesi (Samudera Pasifik). Umumnya arus bergerak dari utara ke selatan atau sebaliknya, sesuai dengan musim yang berlaku. Kondisi arus saat penelitian termasuk kuat dan menuju ke utara. Pergerakan ikan pun dimungkinkan menuju ke arah utara. Karenanya, banyak nelayan yang mencari ikan di sebelah utara Pulau Badi. Keberadaan arus tersebut mengalirkan massa air yang mengandung nutrient dan sedimen. Arus yang kuat dapat memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan dan perkembangan terumbu karang karena dapat membersihkan pori-pori karang utamanya dari tutupan sedimen.

Kecerahan perairan mencapai 100% dan kedalaman lokasi penelitian berkisar 3 m. Kecerahan dan kedalaman dapat mempengaruhi pertumbuhan karang. Cahaya yang mempengaruhi tingkat kecerahan perairan merupakan salah satu faktor yang sangat penting karena cahaya sangat dibutuhkan bagi

zooxanthellae untuk melakukan proses fotosintesis dimana hasil fotosintesis tersebut dimanfaatkan oleh organisme lainnya.

Salinitas perairan di DPL Pulau Badi saat penelitian adalah 32‰. Ini berarti besaran salinitas tersebut masih dalam batas normal. Menurut Nybakken (1992), kisaran salinitas yang baik untuk kehidupan ekosistem terumbu karang adalah 32.00 – 35.00‰.

Suhu perairan di DPL Pulau Badi adalah 300C. Kisaran suhu yang baik untuk pertumbuhan karang adalah 23 – 250C. Suhu ekstrim yang masih dapat ditoleransi berkisar antara 36 – 400C (Nybakken 1992). Sedangkan menurut Anwar et al (1984), kisaran suhu yang baik untuk ikan adalah 25 - 320C. Pola suhu perairan ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti intensitas cahaya, pertukaran panas antara air dengan udara di sekelilingnya dan ketinggian geografis (Barus 2004).

4.3.2 Tutupan Karang Hidup

Pengamatan kondisi terumbu karang DPL hanya dilakukan di Pulau Badi. Titik lokasi pengamatan merupakan titik lokasi pengamatan yang dilakukan oleh LIPI pada tahun 2008 dan COREMAP II Kabupaten Pangkep tahun 2009 pada

kedalaman 3 m. Hasil pengamatan tahun 2008 – 2010 menunjukkan persentase tutupan karang hidup berturut-turut, yaitu 42%, 53% dan 54% (Prayudha dan Petrus 2008, COREMAP II 2009). Hal ini berarti terjadi peningkatan persentase tutupan karang hidup sebesar 12% selama 2 tahun DPL terbentuk. Berdasarkan Gomez dan Yap (1988), persentase karang hidup saat ini termasuk dalam kategori baik. Kenaikan ini diindikasikan karena tidak adanya aktivitas penangkapan di DPL. Sesuai dengan kesepakatan, lokasi DPL merupakan zona larang ambil dimana tidak diperbolehkan melakukan eksploitasi terhadap sumberdaya di lokasi tersebut. Persentase kenaikan tutupan karang hidup DPL Pulau Badi disajikan pada Gambar 11. Beberapa contoh gambar kondisi terumbu karang disajikan pada Lampiran 3.

Sumber: Prayudha dan Petrus (2008), COREMAP II (2009) dan data penelitian (2010) Gambar 11. Persentase tutupan karang hidup DPL Pulau Badi (2008 – 2010)

Kenaikan persentase tutupan karang hidup tahun 2008 – 2009 adalah 11% dan 2009 – 2010 adalah 1%. Hal ini menunjukkan perbedaan kenaikan yang berbeda dari tahun ke tahun. Kenaikan yang kecil pada tahun 2009 – 2010 diindikasikan adanya pemutihan karang yang ditemui pada saat pengamatan kondisi terumbu karang (2010). Pemutihan karang ini belum/tidak dapat diantisipasi dengan adanya DPL, tetapi lebih kepada tindakan-tindakan untuk mengurangi dampak global warming.

4.3.3 Indeks Mortalitas Karang

Indeks mortalitas atau indeks kematian karang memperlihatkan besarnya perubahan karang hidup menjadi karang mati. Berdasarkan perhitungan indeks mortalitas karang di DPL Pulau Badi tahun 2008 – 2010 diperoleh masing-masing sebesar 0.5, 0.21 dan 0.21. Hal ini menunjukkan adanya penurunan indeks mortalitas karang dari tahun 2008 sampai 2010. Penurunan mortalitas karang ini diindikasikan karena tidak adanya aktifitas penangkapan di DPL. Indeks mortalitas karang yang diperoleh saat penelitian mendekati 0, yaitu 0.21. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada perubahan berarti bagi karang hidup. Besaran indeks mortalitas karang yang sama pada tahun 2009 dan 2010 dapat disebabkan karena kenaikan persentase tutupan karang hidup yang kecil, yaitu 1%.

4.3.4 Ikan Karang

Ikan karang dikelompokkan menjadi 3 berdasarkan tujuan pengelolaannya, yaitu: ikan target, ikan indikator dan ikan mayor. Ikan yang ditemukan saat

pengamatan terdiri dari 45 spesies dari 18 famili. Kelimpahan ikan adalah 456 ind/250 m2 dengan komposisi kelimpahan ikan target, indikator dan major

masing-masing 114 ind/250 m2, 3 ind/250 m2 dan 339 ind/250 m2 (Gambar 12).

Gambar 12. Persentase jumlah individu ikan/250 m2 di DPL Pulau Badi (2010)

Jika dibandingkan dengan tahun 2009 (319 ind/250 m2), maka kelimpahan ikan yang diperoleh saat pengamatan mengalami peningkatan (Gambar 13). Data yang diperoleh ini tidak dapat dibandingkan dengan data 2008 karena berdasarkan

laporan yang diperoleh tidak menunjukkan kelimpahan ikan di lokasi DPL Pulau Badi, akan tetapi kelimpahan ikan keseluruhan DPL di Kecamatan Liukang Tuppabiring. Famili dan spesies ikan yang ditemukan di DPL Pulau Badi disajikan pada Lampiran 4.

Sumber: COREMAP II (2009) dan data penelitian (2010)

Gambar 13. Kelimpahan ikan/250 m2 di DPL Pulau Badi (2009-2010) Persentase jumlah ikan indikator yang dijumpai adalah 1%. Pada umumnya, ikan ini jumlahnya lebih kecil daripada ikan major. Ikan indikator dijadikan indikator kesuburan ekosistem terumbu karang yang diwakili oleh famili Chaetodontidae. Ikan indikator yang dijumpai di DPL saat pengamatan adalah Chaetodon octofasciatus. Pada tahun 2008, dijumpai lebih dari satu spesies ikan indikator, yaitu Chaetodon octofasciatus, Chaetodon baronessa, Chaetodon kleini, Chaetodontrifascialis dan Chelman rostratus (Prayudha dan Petrus 2008). Pada tahun 2009 ditemukan lebih banyak jumlah ikan indikator dengan kelimpahan 7 ind/250 m2. Hal ini menunjukkan adanya penurunan jenis dan jumlah ikan indikator. Hal ini dapat disebabkan antara lain (i) pada saat pengamatan ikan-ikan tersebut tidak berada pada transek pengamatan dan (ii) kondisi karang yang menyebabkan ikan-ikan tersebut tidak nyaman untuk tumbuh dan berkembang lagi. Meskipun adanya peningkatan persentase tutupan karang hidup, adanya pemutihan karang yang ditemukan di sekitar lokasi

pengamatan meskipun tidak terlalu banyak dapat mengancam kondisi karang ke depan dan pada akhirnya mengancam kehidupan biota lainnya.

Berdasarkan pengamatan tahun 2010, kelimpahan tertinggi ditemukan pada famili Pomacentridae dengan kelimpahan 249 ind/250 m2. Begitu pula pada tahun sebelumnya. Hanya saja, kelimpahan famili ini lebih kecil daripada tahun 2009, yaitu 300 ind/250 m2. Famili Pomacentridae merupakan ikan karang yang mempunyai jenis ikan terbanyak dan menjadi kelompok dominan di perairan terumbu karang. Famili ini umumnya menempati urutan pertama dalam jumlah maupun jenis ikan dalam perairan terumbu karang. Ikan ini memiliki daerah territorial tertentu, relatif stabil dan dijumpai dimulai dari daerah pasang surut sampai dengan kedalaman 40 m (Montgomery et al. 1980). Kelimpahan ikan tertinggi saat pengamatan (2010) adalah ikan Chromis ternatensis, yaitu sebesar 80 ind/250 m2.

Tujuh dari sebelas famili utama menurut Djamali dan Mubarak (1998) dan Hutomo (1986) sebagai penyumbang produksi perikanan ditemukan di DPL Pulau Badi ini, yaitu: Caesionidae, Serranidae, Scaridae, Siganidae, Labridae, Haemulidae dan Acanthuridae. Jumlah individu famili ikan disajikan pada Tabel 16.

Tabel 16. Jumlah individu famili ikan/250 m2 di DPL Pulau Badi (2010)

No Famili Jumlah (Individu/250 m2)

1. Pomacentridae 249 2. Caesionidae 87 3. Apogonidae 37 4. Labridae 37 5. Haemulidae 10 6. Serranidae 8 7. Pomachantidae 5 8. Tetraodontidae 5 9. Balistidae 3 10. Chaetodontidae 3 11. Plotosidae 3 12. Bleniidae 2 13. Siganidae 2 14. Acanthuridae 1 15. Ephippidae 1 16. Scaridae 1 17. Scolopsidae 1 18. Zanclidae 1 Jumlah 456

Indeks keanekaragaman, indeks keseragaman dan indeks dominansi dihitung sebagai data dukung dan pelengkap. Data ini tidak dapat dibandingkan dengan data tahun sebelumnya karena keterbatasan informasi data yang diperoleh. Perhitungan indeks-indeks tersebut disajikan pada Lampiran 5.

Keanekaragaman merupakan suatu karakteristik tingkatan komunitas berdasarkan organisasi biologisnya. Indeks Keanekaragaman (H’) populasi organisme digunakan agar mudah untuk menganalisis informasi jumlah individu masing-masing spesies ikan dalam suatu komunitas (Odum 1993). Indeks Keanekaragaman ikan di DPL Pulau Badi adalah 3.05. Berdasarkan Indeks Shannon-Wiener, keanekaragaman ikan termasuk dalam kategori tinggi. Suatu komunitas dikatakan mempunyai keanekaragaman tinggi apabila terdapat banyak spesies dengan jumlah individu masing-masing spesies yang relatif merata.

Keseragaman ikan menunjukkan pola sebaran ikan, yaitu merata atau tidak. Indeks Keseragaman ikan (E) menunjukkan 0.8. Hal ini berarti bahwa keseragaman antarspesies relatif seragam atau jumlah individu masing-masing spesies relatif sama.

Indeks Dominansi (C) digunakan untuk mengetahui tingkat dominansi oleh spesies tertentu dalam ekosistem. Tingkat dominansi yang tinggi dapat mengganggu struktur komunitas karena adanya tekanan ekologi. Indeks dominansi ikan di DPL Pulau Badi menunjukkan 0.08. Hal ini berarti bahwa tidak terdapat spesies yang mendominasi spesies lainnya sehingga komunitas dalam keadaan stabil.

Tinggi rendahnya kelimpahan, keanekaragaman dan keseragaman ikan dapat dipengaruhi oleh pengambilan data ikan pada saat pengamatan di lapangan. Penambahan dan pengurangan jumlah spesies ikan dapat disebabkan oleh:

1. Spesies tertentu tidak berada di daerah transek pengamatan, sehingga tidak tercatat

2. Karang dijadikan ikan sebagai tempat perlindungan. Peningkatan jumlah perlindungan mengakibatkan peningkatan kelimpahan ikan yang secara spesifik menjadikan karang sebagai tempat persembunyian (Jones 1991). 3. Adanya migrasi ikan keluar atau masuk di daerah pengamatan.

- Ikan menjadikan karang sebagai tempat mencari makan karena terdapat hubungan antara ikan dan biota yang hidup pada karang termasuk alga (Choat dan Bellwood 1991).

- Ikan menjadikan karang sebagai tempat berlindung dan daerah luar karang sebagai tempat mencari makan (Barnes 1980).

- Spesies diurnal bersembunyi di karang sedangkan spesies nocturnal

mencari makan, sebaliknya pada siang hari spesies diurnal mencari makan dan spesies nocturnal bersembunyi.

- Ikan hanya berada di terumbu karang pada sebagian siklus hidupnya, misalnya saat juvenil, dan pada saat dewasa beruaya ke luar terumbu. Beberapa jenis ikan karang keluar dari ekosistemnya ke biotope lain, seperti ke daerah lamun (Sorokin 1993).