IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2. Pelaksanaan Perumusan Standar dan Peraturan
4.2.3. Analisis Gap Perumusan Standar dan Peraturan
Hasil Focus Group Discussion (FGD) dan survei merupakan gambaran dari pelaksanaan prinsip-prinsip perumusan dan pengembangan standar dan peraturan. Gambaran dari pelaksanaan perumusan dan pengembangan standar dan perturan tersebut dibandingan dengan dokumen yang telah ditetapkan oleh BSN dan BPOM RI. Hasil analisis gap antara perumusan standar dan peraturan berdasarkan dokumen yang berlaku dan pelaksanaannya dapat dilihat pada Tabel 16.
75
Tabel 16. Analisis Gap Perumusan Standar dan Peraturan Berdasarkan Dokumen yang Berlaku di BSN dan BPOM dibandingkan dengan Pelaksanaannya
No Kategori Perumusan, Penetapan, dan Pemberlakuan Wajib Standar Berdasarkan Naskah Peraturan
Pelaksanaan Prosedur Perumusan Standar Berdasarkan Hasil FGD dan Survei Rekomendasi BSN BPOM 1 Trans- paran Prosedur perumusan standar dapat diakses di website: http://bsn.or.id/dan telah ditetapkan oleh kepala BSN Prosedur perumusan peraturan (pemberlakuan standar) belum diketahui secara luas oleh pihak yang
berkepentingan
FGD: pihak industri menyatakan masih banyak kebijakan yang dikeluarkan BPOM tidak melalui prosedur yang bakudan tidak diketahui oleh pengguna (industri)
18,33% total responden (13,04% pemerintah(i), 8,33% industri, 0% akademisi, 37,5% lembaga konsumen(i)) menyatakan tidak mengetahui prosedur perumusanstandar
Terjadi perbedaan persepsi antara kelompok responden pemerintah dan industri mengenai kemudahan dalam memperoleh informasi perumusan standar:
3,28% total responden (0% pemerintah, 4,35% industri, 0% akademisi, 12,5% lembaga konsumen) menyatakan sangat sulit untuk mendapatkan informasiperumusan standar
34,43% total responden (17,39% pemerintah, 56,52% industri, 42,86% akademisi, 12,5% lembaga konsumen) menyatakan sulit untuk mendapatkan informasiperumusan standar
47,54% total responden (60,87% pemerintah, 39,13% industri, 28,57% akademisi, 50% lembaga konsumen) menyatakan mudah untuk mendapatkan informasiperumusan standar
14,75% total responden (21,74% pemerintah, 0% industri, 28,57% akademisi, 25% lembaga konsumen) menyatakan sangat mudah untuk mendapatkan informasiperumusan standar 40,91% total responden (40,74% pemerintah, 36,84% industri, 62,5%
akademisi, 33,33% lembaga konsumen) menyatakan bahwa mengetahui prosedur penyusunan standar dari informasi website.
Otoritas pembuat standar dapat memberikan informasi prosedur perumusan standar dan kebijakan lainnya, sehingga semua pihak dapat mengikuti perkembangan dan terlibat di dalamnya Media yang dapat digunakan
untuk penyebaran informasi perumusan standar adalah melalui internet/website
Tabel 16. Analisis Gap Perumusan Standar dan Peraturan Berdasarkan Dokumen yang Berlaku di BSN dan BPOM dibandingkan dengan Pelaksanaannya (Lanjutan)
No Kategori Perumusan, Penetapan, dan Pemberlakuan Wajib Standar Berdasarkan Naskah Peraturan
Pelaksanaan Prosedur Perumusan Standar Berdasarkan Hasil FGD dan Survei Rekomendasi BSN BPOM 2 Terbuka Mengakomodir kepentingan Produsen, Konsumen, Pakar, dan Regulator; serta MASTAN (Masyarakat Standardisasi Nasional) Adanya keterlibatan dari BPOM, perwakilan industri, konsumen, dan akademisi dalam penyusunan peraturan (standar)
FGD: pihak industri menginginkan agar pakar mereka yang berasal dari R&D misalnya dapat berperan aktif dalam membuat konsep standar
Sebagian besar responden dalam survei pernah terlibat sebagai panitia teknis perumusan standar, yaitu sebesar 60% total responden (63,64% pemerintah, 43,48% industri, 85,71% akademisi, 75% lembaga konsumen)
18,64% total responden (23,81% pemerintah(i), 17,39% industri, 0% akademisi, 25% lembaga konsumen(i)) menyatakan tidak pernah dimintakan masukanterkait pembuatan suatu standar
Keaktifan responden, terutama kelompok responden industri, dalam mengusulkan standar masih rendah, yaitu sebesar 54,39% total responden (36,84% pemerintah(i), 65,22% industri, 57,14% akademisi, 62,5% lembaga konsumen(i)) menyatakan belum aktif dalam mengusulkanpembuatan standar.
Perlu diperkuat posisi pakar/ahli yang merumuskan kajian risiko dengan dukungan data yang valid dan ahli yang kredibel, sehingga hasil kajiannya dapat dipercaya oleh semua pihak
Perlu mengoptimalkan peran semua stakeholder melalui penguatan peran asosiasi
3 Konsen- sus dan Tidak Memi- hak Rapat konsensus hanya dapat dilakukan apabila rapat mencapai kuorum. Belum secara eksplisit dijelaskan
Jumlah responden yang tidak terlibat sebagai panitia teknis dan tidak terlibat dalam pengambilan keputusan saat penetapan standar jumlahnya hampir sama, yaitu sebesar 43,33% total responden (50% pemerintah(i), 43,48% industri, 28,57% akademisi, 37,5% lembaga konsumen) menyatakan tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusansaat penetapan suatu standar.
Terjadi perbedaan persepsi antara kelompok responden pemerintah dan industri mengenai pelaksanaan pengambilan keputusan saat penetapan standar:
55,56% dari total responden yang terlibat dalam pengambilan keputusan saat penetapan standar (25% pemerintah(i), 92,31% industri, 40% akademisi, 50% lembaga konsumen) menyatakan
hanya sebagian aspirasinya diterimaatau diakomodasi.
Penetapan standar harus memastikan bahwa semua stakeholder terlibat dan berdasarkan keputusan bersama dari semua stakeholder. Masukan dari berbagai pihak harus
dipertimbangkan
Pedoman perumusan standar yang telah ditetapkan BSN perlu dilaksanakan dengan lebih efektif dengan menjamin terjadinya konsensus saat penetapan standar
77
Tabel 16. Analisis Gap Perumusan Standar dan Peraturan Berdasarkan Dokumen yang Berlaku di BSN dan BPOM dibandingkan dengan Pelaksanaannya (Lanjutan)
No Kategori Perumusan, Penetapan, dan Pemberlakuan Wajib Standar Berdasarkan Naskah Peraturan
Pelaksanaan Prosedur Perumusan Standar Berdasarkan Hasil FGD dan Survei
Rekomendasi
BSN BPOM
61,76% dari total responden yang terlibat dalam pengambilan keputusan saat penetapan standar (90,91% pemerintah, 46,15% industri, 40% akademisi, 60% lembaga konsumen) menyatakan bahwa proporsi setiap instansi dalam pengambilan keputusan sudah
berimbang.
38,24% dari total responden yang terlibat dalam pengambilan keputusan saat penetapan standar (9,09% pemerintah, 53,85% industri, 60% akademisi, 40% lembaga konsumen) menyatakan bahwa proporsi setiap instansi dalam pengambilan keputusan tidak berimbang 4 Efektif dan Relevan Ketentuan dalam perumusan SNI: Tidak dimaksudkan atau berpotensi menimbulkan hambatan perdagangan yang berlebihan atau yang tidak diperlukan Dukungan ilmiah dari individu/pakar perorangan Dukungan ilmiah dari individu/pakar perorangan dan tim mitra bestari
Selaras dengan kajian BSN (2009) yang menunjukkan rendahnya penerapan SNI oleh pelaku usaha (terutama UMKM), berdasarkan hasil survei penelitian ini juga menunjukkan bahwa responden
kelompok industri (hampir semuanya kelompok skala usaha menengah ke atas) menunjukkan masih rendahnya penerapan SNI/standar BPOM di instansinya. Sebesar 30,43% responden kelompok industri
menyatakan hanya sebagian standaryang dikeluarkan/ditetapkan BPOM dan BSN diterapkandi instansinya.
58,62%, 31,03%, dan 10,35% industriresponden kelompok industri menyatakan bahwa kendala utama yang dihadapi dalam penerapan standar berturut-turut adalah kesiapan lab uji, biaya dan teknologi
Seluruh kelompok responden sepakat menyatakan bahwa faktor
perdagangan, kesehatan, kesiapan teknologi, gizi, dan lingkungan
penting dipertimbangkan dalam penyusunan standar pangan masing- masing berjumlah lebih dari 50%. Seluruh kelompok responden (98,28% dari 58 responden) juga sepakat bahwa kesehatan adalah faktor utamayang harus dipertimbangkan dalam penyusunan standar.
Perlu dilakukan analisis risiko, terutama kajian risiko dalam perumusan standar
Sebelum standar diberlakukan, perlu dilakukan analisis kajian dampak dan kesiapan
infrastruktur. Kajian yang dapat dilakukan adalah RIA
(Regulatory Impact Analysis) Kesepakatan responden terhadap
pentingnya mempertimbangkan faktor perdagangan, kesiapan teknologi, gizi, lingkungan dan terutama kesehatan dapat dijadikan titik tolak untuk mencari kesamaan persepsi saat penetapan kriteria/ketentuan di dalam standar
Tabel 16. Analisis Gap Perumusan Standar dan Peraturan Berdasarkan Dokumen yang Berlaku di BSN dan BPOM dibandingkan dengan Pelaksanaannya (Lanjutan)
No Kategori Perumusan, Penetapan, dan Pemberlakuan Wajib Standar Berdasarkan Naskah Peraturan
Pelaksanaan Prosedur Perumusan Standar Berdasarkan Hasil FGD dan Survei
Rekomendasi
BSN BPOM
5 Koheren Sedapat mungkin harmonis dengan standar internasional yang telah ada (mengadopsi satu standar internasional yang relevan) Melalui Pemetaan dan Kaji Banding (Nasional, Regional, Internasional)
Terjadi perbedaan persepsi antara kelompok responden pemerintah dan industri dalam menilai kajian terhadap peraturan/standar yang berlaku di dalam negeri dalam perumusan suatu standar, yaitu sebesar 6,90% total responden (13,64% pemerintah, 0% industri, 16,67% akademisi, 0% lembaga konsumen), 41,38% total responden (63,64% pemerintah, 18,18% industri, 50% akademisi, 37,5% lembaga konsumen), 32,76% total responden (13,64% pemerintah, 50% industri, 16,67% akademisi, 50% lembaga konsumen), dan 18,96% total responden (9,09% pemerintah, 31,82% industri, 16,67% akademisi, 12,5% lembaga konsumen) menyatakan bahwa kajian terhadap regulasi/standar lain yang belaku di dalam negeri
berturut-turut ”sangat baik”, ”baik”, ”cukup”, dan ”kurang” diperhatikan dalam perumusan standar.
74,65% total responden (76% pemerintah, 84,62% industri, 85,71% akademisi, 46,15% lembaga konsumen) menyatakan bahwa standar Codex adalah rujukan utama dalam penetapan standar
Peraturan/standar negara tujuan ekspor juga perlu
menjadipertimbangan dalam perumusan standar, yaitu sebesar 28,77% total responden (33,33% pemerintah, 32% industri, 30% akademisi, 9,09% lembaga konsumen) menyatakan peraturan/standar negara tujuan eksporperlu dipertimbangkan dalam perumusan standar.
Jika data di Indonesia belum tersedia, rujukan utama yang dapat digunakan adalah standar Codex
Peraturan/standar negara tujuan/target ekspor komoditas pangan perlu dipertimbangakan dalam perumusan suatu standar komoditas pangan tersebut.
79
Tabel 16. Analisis Gap Perumusan Standar dan Peraturan Berdasarkan Dokumen yang Berlaku di BSN dan BPOM dibandingkan dengan Pelaksanaannya (Lanjutan)
Keterangan: (i)
sebagian besar responden pemerintah/lembaga konsumen yang menyatakan hal tersebut berasal dari daerah
No Kategori Perumusan, Penetapan, dan Pemberlakuan Wajib Standar Berdasarkan Naskah Peraturan
Pelaksanaan Prosedur Perumusan Standar Berdasarkan Hasil FGD dan Survei Rekomendasi BSN BPOM 6 Berdi- mensi Pengem- bangan Mempertimbangkan kepentingan UMKM dan daerah dengan memberikan peluang untuk dapat berpartisipasi dalam proses perumusan SNI. Secara eksplisit belum dicantumkan mengenai faktor sebagai dimensi pengembangan dalam perumusan standar
Seluruh kelompok responden menyatakan bahwa faktor
pengembangan bahan baku lokal, pengembangan UMKM, dan peningkatan daya saing produk Indonesiaadalah sangat penting diperhatikan sebagai dimensi pengembangan dengan jumlah berturut- turut 85,25%, 75%, dan 98,36%; sisanya menyatakan “agak penting” dan “cukup penting”.
Akumulasi ranking yang diberikan oleh seluruh responden dan masing-masing kelompok responden dari ranking terkecil berurut-turut adalah perlindungan kesehatan konsumen, perlindungan produk dalam negeri, kesiapan lab uji, dan kesiapan adopsi teknologi.
Perlu penetapan di dalam prosedur perumusan standar bahwa faktor-faktor tertentu perlu diperhatikan sebagai dimensi pengembangan dalam perumusan standar agar standar yang ditetapkan dapat berfungsi melindungi kesehatan konsumen dan sekaligus meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional Kesepakatan semua kelompok
responden dapat menjadi titik tolak untuk mempertimbangkan faktor pengembangan bahan baku lokal, pengembangan UMKM, peningkatan daya saing produk Indonesia, dan terutama perlindungan kesehatan konsumen dalam perumusan suatu standar (keamanan) pangan
4.3. Penerapan Prinsip-Prinsip Perumusan dan Pengembangan Standar dan