• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelaksanaan Prinsip-Prinsip Perumusan dan pengembangan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3. Penerapan Prinsip-Prinsip Perumusan dan pengembangan Standar

4.3.1. Pelaksanaan Prinsip-Prinsip Perumusan dan pengembangan

Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil focus group discussion (Tabel 9) dan hasil survei (Gambar 10), terlihat bahwa terdapat perbedaan persepsi antara kelompok pemerintah dan industri. Perbedaan persepsi tersebut terlihat dalam memberikan penilaian terhadap penerapan prinsip-prinsip perumusan dan pengembangan standar (transparan, terbuka, konsensus dan tidak memihak, efektif dan relevan, koheren, dan berdimensi pengembangan). Perbedaan yang besar terlihat pada penilaian terhadap prinsip transparan dan efektif dan relevan.

Selain dari hasil survei, pelaksanaan prinsip-prinsip perumusan dan pengembangan standar akan dilihat dari beberapa data sekunder yang menunjukkan pelaksanaan prinsip-prinsip tersebut. Pelaksanaan prinsip-prinsip perumusan dan pengembangan standar yang terkait dengan perumusan (transparan, terbuka, dan konsensus dan tidak memihak) telah dijelaskan secara rinci pada Bagian 4.1 mengenai perumusan standar dan peraturan di BSN, BPOM, dan CAC. Untuk itu, pada bagian ini secara khusus hanya akan dibahas mengenai pelaksanaan prinsip-prinsip perumusan dan pengembangan standar yang terkait dengan tujuan aplikasi atau penerapan, yaitu prinsip efektif dan relevan, koheren, dan berdimensi pengembangan.

81

A. Pelaksanaan Prinsip Efektif dan Relevan

Sejak pertama kali diterbitkan hingga tahun 2006 jumlah SNI yang disusun sekitar 6633 judul ditambah dengan penyelesaian standar baru berjumlah sekitar 200 judul per tahun. Data hasil survei BSN (2006) terhadap kelompok standar menunjukkan profil perkembangan standar yang dapat dilihat pada Gambar 27.

Gambar 27. Jumlah Penggunaan SNI (diolah dari BSN, 2009)

Dari total jumlah standar SNI, standar sektor pertanian dan pangan merupakan sektor dengan jumlah SNI terbanyak, yaitu 952 SNI pada tahun 2006. Hasil penelitian mengenai penerapan SNI oleh BSN (2006) menunjukkan bahwa belum seluruh SNI diterapkan dengan baik oleh para pelaku usaha dan pemangku kepentingan di masyarakat Indonesia. Gambar 27 menunjukkan proporsi penerapan standar dalam berbagai bidang. Untuk bidang pertanian dan pangan misalnya hanya 12% SNI yang diterapkan (dari total 952 SNI bidang pertanian dan pangan hanya 118 SNI yang diterapkan), yang menunjukkan bahwa penerapan standar belum dilakukan secara optimal. Hal ini dapat disebabkan karena belum disadari sepenuhnya manfaat penerapan standar oleh masyarakat

(pelaku usaha), khususnya sebagai panduan dalam produksi dan acuan dalam transaksi perdagangan, terutama oleh industri kecil. Penyebab lain adalah ketentuan dan persyaratan di dalam standar masih sulit dipenuhi oleh para pelaku usaha. Untuk itu, keterlibatan pemangku kepentingan dalam perumusan standar masih perlu ditingkatkan, agar betul-betul dihasilkan SNI yang relevan dengan kondisi nyata dan sesuai dengan kebutuhan peningkatan daya saing produk.

Berdasarkan pada hasil FGD dan survei yang menunjukkan bahwa tingkat relevansi yang masih rendah, maka penelitian ini lebih lanjut menggali aspek relevansi ini, dengan melihat beberapa data hasil kajian dan penelitian yang terkait. Adapun contoh kasus yang terkait dengan tingkat relevansi standar dan peraturan yang masih rendah dapat dilihat pada data berikut ini:

1). Standar tentang Susu Segar

Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh PT Indolakto dari beberapa peternak susu di Boyolali, Bandung, Jakarta, Bogor, Sumedang, Garut, dan Cikajang dari tanggal 20 Juni–3 Juli 2011 diperoleh data bahwa sebagian besar peternak memproduksi susu dengan nilai Total Plate Count (TPC) atau Angka Lempeng Total (ALT) di atas standar SNI. Berdasarkan standar SNI 01-3141- 1998 (revisi SNI 3141.1:2011) batas TPC pada susu segar adalah 1 x 106CFU/ml (BSN, 1998; BSN, 2011a). Berdasarkan data sebaran, diperoleh angka bahwa rata-rata susu yang dihasilkan peternak di daerah sampling supplierPT Indolakto adalah 4,62 x 106 CFU/ml. Bahkan masih banyak susu dari peternak yang memiliki nilai TPC di atas 107CFU/ml.

Berdasarkan sumber data lain yang dikumpulkan dari penelitian berbagai badan/lembaga penelitian dan pengembangan (litbang), dinas peternakan daerah, dan beberapa perguruan tinggi (Usmiati dan Widaningrum, 2005; Usmiati dan Nurdjannah, 2007; Budiyanto dan Usmiati, 2009; Disnak Jateng, 2010; Marlina, et al., 2007; Balia, et al., 2008) diperoleh data bahwa sebagian besar peternak memproduksi susu dengan nilai TPC/ALT juga di atas standar SNI. Berdasarkan data tersebut, diperoleh angka bahwa rata-rata susu yang dihasilkan peternak di daerah penelitian (Bandung, Semarang, dan Bogor) adalah 2,38 x 107 CFU/ml. Bahkan masih banyak susu dari peternak yang memiliki nilai TPC di atas 107

83

CFU/ml. Secara kolektif data hasil sampling PT Indolakto dan data kolektif dari beberapa karya ilmiah dan pemerintah daerah tersebut dapat dilihat pada Gambar 28.

Gambar 28. Hasil Pengujian TPC Susu Segar di Beberapa Daerah di Indonesia (Diolah dari data PT Indolakto dan beberapa karya ilmiah*)

Keterangan: * Usmiati dan Widaningrum (2005), Usmiati dan Nurdjannah (2007), Budiyanto dan Usmiati (2009), Disnak Jateng (2010), Marlina, et al. (2007) Balia, et al.( 2008) Hal ini menggambarkan bahwa standar yang saat ini diberlakukan masih terlalu tinggi, dan sangat berat jika diterapkan bagi peternak kecil. Akibatnya banyak peternak yang tidak dapat memenuhi standar tersebut. Kondisi tersebut menyalahi prinsip penerapan standar yang seharusnya memiliki dimensi pengembangan dengan memperhatikan kepentingan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

2). Standar/Peraturan tentang Sari Buah

Data dari Asosiasi Industri Minuman Ringan (ASRIM) dalam Poeradisastra (2011) menggambarkan beberapa produk sari buah dari produsen yang ada di Indonesia menghasilkan kualitas total padatan yang tidak sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh BPOM RI. Menurut Poeradisastra (2011) produk sari buah sirsak dan lemon yang dihasilkan produsen di Indonesia menghasilkan nilai total padatan (Brix) 12,0-14,0% dan 4,2%; sedangkan menurut peraturan BPOM (2006) sari buah sirsak dan lemon berturut-turut harus memiliki nilai padatan minimal 14,5% dan 6%.

3). Standar/Peraturan tentang Penggunaan Pemanis Siklamat

Data lain dari BPOM RI dalam Suratmono (2009) menyebutkan ketidaksesuaian penggunaan siklamat pada Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) yang beredar di Indonesia dengan standar. Data tersebut menyebutkan bahwa pada tahun 2006 dan 2007 ditemukan 42,28% dan 42,88% dari seluruh PJAS yang disampling di seluruh Indonesia tidak memenuhi syarat penggunakan pemanis siklamat berdasarkan HK.00.05.5.1.4547 tahun 2004 tentang Persyaratan Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Pemanis Buatan dalam Produk Pangan. 4). Standar tentang Makanan Pendamping Air Susu Ibu

Dari parameter gizi, Herlina (2008) telah melakukan kajian kesesuaian produk makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) dengan SNI. Hasilnya menunjukkan bahwa 61% dari 100 produk MP-ASI bubuk lokal yang beredar memiliki kandungan vitamin B6 di bawah standar yang ditetapkan dalam SNI 01- 7111.1-2005 yaitu minimal 0,7mg/100g. Hasil kajian terhadap produk MP-ASI bubuk instan lokal dapat dilihat pada Gambar 29.

Gambar 29. Kandungan Gizi MP-ASI Bubuk Instan Lokal (Diolah dari Herlina, 2008)

Selain itu, berturut-turut sebanyak 74%, 74%, 87%, dan 74% dari 23 produk MP-ASI bubuk instan impor yang beredar di Indonesia memiliki kandungan vitamin E, vitamin B6, asam folat, dan iodium di bawah standar yang ditetapkan dalam SNI 01-7111.1-2005 yaitu masing-masing minimal 4mg/100g, 0,7mg/100g,

85

27mg/100g, dan 45mcg/100g. Hasil kajian terhadap produk MP-ASI bubuk instan impor dapat dilihat pada Gambar 30a, 30b, 30c, 30d.

Gambar 30a. Kandungan Vitamin E pada MP-ASI Bubuk Instan Impor (Diolah dari Herlina, 2008)

Gambar 30c. Kandungan Asam Folat pada MP-ASI Bubuk Instan Impor (Diolah dari Herlina, 2008)

Gambar 30d. Kandungan Iodium pada MP-ASI Bubuk Instan Impor (Diolah dari Herlina, 2008)

Sebanyak 55% dan 50% dari 33 produk MP-ASI biskuit yang beredar memiliki kandungan Zink (Zn) dan Selenium (Se) di bawah standar yang ditetapkan dalam SNI 01-7111.2-2005 yaitu masing-masing minimal 2,5mg/100g dan 10mcg/100g. Hasil kajian terhadap produk MP-ASI biskuit dapat dilihat pada Gambar 31.

87

Gambar 31. Kandungan Zink MP-ASI Biskuit (Diolah dari Herlina, 2008) Sebanyak 75%, 100%, 100%, 100%, 100%, 100%, 100%, 63%, dan 88% dari 8 produk MP-ASI siap masak yang beredar memiliki kandungan serat pangan, vitamin E, vitamin B1, vitamin B2, niasin, vitamin B6, vitamin C, natrium, dan iodium di luar batas standar yang ditetapkan dalam SNI 01-7111.3- 2005 yaitu masing-masing maksimal 5g/100g, minimal 5mg/100g, 0,7mg/100g, 0,7mg/100g, 0,5mg/100g, 1,2mg/100g, dan 80mg/100g, maksimal 100 mg/100 kkal, dan minimal 55 mcg/100 g. Hasil kajian terhadap produk MP-ASI siap masak dapat dilihat pada Gambar 32a, 32b, 32c, 32d, 32e, 32f. 32g, dan 32h.

Gambar 32b. Kandungan Vitamin E MP-ASI Siap Masak (Diolah dari Herlina, 2008)

Gambar 32c. Kandungan Vitamin B1 MP-ASI Siap Masak (Diolah dari Herlina, 2008)

Gambar 32d. Kandungan Vitamin B2 MP-ASI Siap Masak (Diolah dari Herlina, 2008)

89

Gambar 32e. Kandungan Niasin MP-ASI Siap Masak (Diolah dari Herlina, 2008)

Gambar 32f. Kandungan Vitamin B6 MP-ASI Siap Masak (Diolah dari Herlina, 2008)

Gambar 32g. Kandungan Vitamin C MP-ASI Siap Masak (Diolah dari Herlina, 2008)

Gambar 32h. Kandungan Iodium MP-ASI Siap Masak (Diolah dari Herlina, 2008) 5). Standar/Peraturan tentang Makanan yang Dikalengkan

Berdasarkan peraturan BPOM RI Nomor HK.00.06.1.52.4011 tentang Penetapan Batas Maksimum Cemaran Mikroba dan Kimia dalam Makanan, produk-produk pangan yang dikalengkan memiliki persyaratan batas maksimal cemaran mikrobiologi. Produk buah, sayuran, corned dan sosis dalam kaleng memiliki batas maksimal ALT (Angka Lempeng Total)/TPC (Total Plate Count) sebesar 1 x 102 koloni/g; sedangkan untuk ikan dan produk ikan, serta sup dan kaldu dalam kaleng memiliki batas maksimal ALT sebesar 1 x 101 koloni/g (BPOM, 2009). Padahal produk-produk pangan berasam rendah yang dikalengkan (low acid canned foods) tersebut harus melalui pengolahan dan pengawetan untuk mencapai kondisi steril komersial.

Kondisi steril komersial dapat diperoleh dari pengolahan pangan dengan menggunakan suhu tinggi dalam periode waktu yang cukup lama sehingga tidak ada lagi mikroorganisme patogen dan pembusuk yang hidup. Kondisi steril komersial umumnya dicapai melalui proses sterilisasi dengan menerapkan konsep 12D. Konsep 12D merupakan konsep yang umum digunakan dalam sterilisasi komersial untuk menginaktifkan spora mikroorganisme yang berbahaya, yaitu Clostridium botulinum. Arti 12D di sini adalah bahwa proses termal yang dilakukan dapat mengurangi jumlah spora C. botulinum sebesar 12 siklus logaritma atau F=12D, yaitu mengurangi jumlah spora C. botulinum menjadi 10-9

91

dengan asumsi jumlah spora awal sebesar 103 dalam satu kaleng. Nilai 10-9 diartikan bahwa dari 109 (satu miliar) kaleng, hanya 1 kaleng yang berpeluang mengandung spora C. botulinum. Bila spora C. botulinum memiliki nilai D121=0.21 menit, maka dosis sterilisasi (Fo) dengan menerapkan konsep 12D harus ekuivalen dengan pemanasan pada 121oC selama 2,52 menit. (Hariyadi, 2008).

Berdasarkan hasil penelitian dan kajian yang dilakukan oleh Hariyadi (2008 dan 2011a) terhadap 131 produk pangan yang dikalengkan di Indonesia, diperoleh angka kecukupan panas (nilai Fo) antara 1,9 hingga 149 menit (Gambar 33). Pengujian dengan parameter nilai Fo tersebut lebih efektif dilakukan untuk menjamin keamanan pangan produk yang dikalengkan, dibandingkan dengan pengujian dengan parameter mikrobiologi dengan menghitung ALT dan menguji 1 miliar kaleng untuk menemukan 1 kaleng yang mengandung spora C. botulinum. Pengujian yang terdapat di dalam standar/peraturan BPOM RI (2009) tidak relevan dengan tujuan proses sterilisasi dan tidak dapat mendorong produsen untuk meningkatkan keamanan pangan produknya.

Gambar 33. Hasil Pengujian Kecukupan Panas pada Beberapa Produk Pangan yang Dikalengkan (Hariyadi, 2011a)

6) Standar Wajib Air Minum dalam Kemasan dan Garam Beryodium

Permasalahan lain yang terjadi adalah rendahnya penegakkan hukum (law enforcement) pada peraturan yang telah mewajibkan standar. Jika dilihat dari

beberapa data penerapan standar (SNI) wajib terlihat bahwa masih terdapat produk Air Minum dalam Kemasan (AMDK) dan garam beryodium yang tidak memenuhi standar. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) melakukan pengujian pada produk Air Minum dalam Kemasan (AMDK) gelas tahun 2010. Dari 21 merek yang diuji ditemukan 2 merek yang melewati batas maksimum total koloni bakteri berdasarkan standar SNI 3553-2006, yaitu angka lempeng total akhir maksimal 1 x 105 koloni/ml. Penelitian lain yang dilakukan Saputra (2011) terhadap 13 garam yodium bermerek yang beredar di Denpasar, Bali, dengan jumlah 60 sampel, terdapat 2 merek garam beryodium yang mengandung iodium kurang dari standar SNI 3556:2010 yaitu minimal 30 ppm.

B. Pelaksanaan Prinsip Koheren

Saat ini masih terjadi kendala harmonisasi dalam penerapan standar dan peraturan di tingkat internasional. Dapat diambil contoh adalah standar/peraturan penggunaan bahan tambahan pangan (pewarna dan pengawet) di negara-negara anggota ASEAN. Perbedaan standar tersebut dapat dilihat pada Tabel 17 dan Tabel 18.

Tabel 17. Standar Penggunaan Pewarna Pangan di Negara-Negara ASEAN (Fardiaz, 2009)

93

Tabel 17 menunjukkan contoh kasus ke(tidak)harmonisan standar/peraturan di beberapa negara-negara ASEAN yang memiliki aturan yang berbeda dalam mengatur atau melarang penggunaan pewarna sintetis.

Tabel 18 menunjukkan contoh kasus ke(tidak)harmonisan standar di beberapa negara-negara ASEAN yang memiliki aturan yang berbeda dalam mengatur atau melarang penggunaan pengawet pangan.

Tabel 18. Standar Penggunaan Pengawet Pangan di Negara-Negara ASEAN (Fardiaz, 2009)

Kasus lain terkait dengan harmonisasi standar/peraturan di tingkat internasional adalah kasus mi instan. Kasus mi instan dari Indonesia yang diekspor ke Taiwan akhir-akhir ini mendapatkan perhatian yang cukup serius. Dimana terjadi perbedaan standar mengenai penggunaan Methyl-p-hydroxy Benzoate pada produk mi instan dari Indonesia di Taiwan.

C. Pelaksanaan Prinsip Berdimensi Pengembangan

Berdasarkan hasil survei, terlihat bahwa hampir seluruh responden sepakat bahwa faktor pengembangan bahan baku lokal, pengembangan UMKM, dan

peningkatan daya saing produk Indonesia adalah faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam perumusan dan pengembangan standar keamanan pangan di Indonesia. Selain itu, pihak-pihak yang memiliki keterbatasan akses dan kemampuan untuk terlibat dalam perumusan dan pengembangan standar perlu mendapatkan perhatian yang lebih. Kelompok yang perlu mendapatkan perhatian tersebut adalah kelompok industri UMKM dan kelompok instansi yang berada di daerah. Dengan peningkatan partisipasi, peran serta, dan keterlibatan kelompok ini dalam usulan, perumusan dan pengembangan standar diharapkan proses pembahasan standar menjadi efektif dan standar yang dihasilkan relevan untuk diaplikasikan oleh semua pihak yang berkepentingan.

Untuk meningkatkan partisipasi UMKM dalam penerapan standar keamanan pangan, sedapat mungkin saat perumusan standar disediakan data yang valid mengenai kondisi penggunaan suatu bahan pangan yang akan dibuatkan standarnya, terutama penggunaannya oleh UMKM. Jika jumlah penggunaan suatu bahan pangan tertentu masih besar oleh UMKM yang juga jumlahnya banyak, maka perlu dipertimbangkan kesiapan UMKM dalam menyesuaikan standar yang akan diterapkan dan kesiapan lembaga pengawas yang akan menegakan peraturan pemberlaku wajib standar.

Sebagai contoh, saat ini kondisi peternak kecil masih banyak yang menghasilkan susu sapi segar dengan nilai TPC di atas 1 x 106 cfu/g, sehingga peternak tersebut kesulitan dalam menerapkan standar yang ada. Agar penerapan standar oleh pelaku usaha (peternak) tersebut efektif dan fungsi pengawasan juga mudah dilakukan, seharusnya standar dibuat dengan cara bertahap. Standar seharusnya ditetapkan secara gradual dengan tujuan membina dan meningkatkan kualitas produk para pelaku usaha agar sesuai dengan standar. Jika, kualitas produk para pelaku usaha sudah meningkat, kemudian standar dapat digeser lagi sampai batas yang diinginkan. Ilustrasi penetapan secara bertahap (gradual) sebagai salah satu penerapan prinsip berdimensi pengembangan dapat dilihat pada Gambar 34.

95

Gambar 34. Dimensi Pengembangan Standar (Hariyadi, 2011b)

Setiap lima tahun sekali suatu standar seharusnya dievaluasi pelaksanaannya. Jika ada hambatan di dalam penerapannya, standar tersebut perlu direvisi. Evaluasi yang menghasilkan revisi harus berdasarkan pada pertimbangan tertentu yang memperhatikan dimensi pengembangan agar penerapan standar tersebut menjadi lebih efektif. Standar seharusnya mampu mendorong pelaku usaha untuk memperbaiki kualitas produknya.

Jika dilihat dari data BSN (2011c) masih banyak SNI pangan yang berumur lama (lebih dari 5 tahun) dan belum dilakukan kaji ulang (revisi, amandemen, atau abolisi). Untuk itu, otoritas pembuat standar (BSN) perlu melakukan kaji ulang terhadap SNI yang telah ditetapkan terutama untuk SNI yang telah berumur paling lama. Kaji ulang tersebut juga berfungsi untuk mengevaluasi tingkat penerapan SNI oleh pelaku usaha. Kaji ulang akan semakin mendesak diperlukan sebagai upaya persiapan menghadapi perdagangan bebas (misal CAFTA dan APEC) dimana standar (SNI) berfungsi untuk menjamin produk pangan yang dihasilkan produsen Indonesia memiliki kualitas dan daya saing dalam menghadapi era perdagangan bebas tersebut. Kondisi banyaknya umur SNI bidang Pangan yang sudah lama dapat dilihat pada Gambar 35.

Gambar 35. Umur SNI Pangan Hingga November 2011 (diolah dari BSN, 2011d)

4.3.2. Rekomendasi Prinsip-Prinsip Perumusan dan Pengembangan Standar dan Peraturan Keamanan Pangan

Berdasarkan hasil analisis gap 1 dan gap 2, maka perumusan dan pengembangan standar dan peraturan keamanan pangan perlu dilakukan dengan menerapkan dan memperkuat prinsip-prinsip perumusan dan pengembangan standar, yaitu:

1. Transparan

Perlu diberikan akses informasi seluas-luasnya mengenai prosedur penyusunan dan perkembangan perumusan standar pangan kepada pihak yang berkepentingan. Media informasi yang dapat dimanfaatkan adalah melalui internet dengan menyampaikan prosedur perumusan standar dan peraturan pangan pada situs website lembaga pemerintah yang berwenang dalam pengembangan standardisasi nasional (BSN dan instansi teknis).

2. Terbuka

 Prinsip terbuka dalam perumusan dan pengembangan standar pangan dapat diwujudkan dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada semua pihak yang berkepentingan (pemerintah, industri, akademisi, dan konsumen) untuk berpartisipasi aktif dalam memberikan usulan dan masukan serta keterlibatan dalam pembahasan standar dan peraturan pangan. Usulan dan

97

masukan masing-masing pihak dapat disampaikan melalui asosiasi agar berjalan secara tertib dan efektif.

 Keterlibatan semua pihak harus didorong agar tingkat penerimaan standar pangan dan peraturan yang akan ditetapkan menjadi tinggi, termasuk mendorong usulan, masukan, dan pertimbangan dari lembaga yang ada di daerah.

 Diperlukan tim atau lembaga independen sebagai pengkaji risiko dengan anggota terdiri atas para pakar dan ahli yang kredibel dan mempunyai kapabilitas sesuai dengan bidang pembahasan standar dan peraturan pangan. 3. Konsensus dan tidak memihak

Di dalam penetapan standar dan peraturan pangan harus diterapkan prinsip konsensus dengan mempertimbangkan semua masukan dari pihak yang terlibat (pemerintah, industri, akademisi, dan konsumen). Prosedur yang telah ditetapkan oleh BSN mengenai konsensus dalam pengambilan keputusan saat penetapan standar perlu diterapkan dengan lebih efektif, sehingga semua perwakilan yang hadir merasa dihargai pendapatnya dan diperoleh keputusan standar dan peraturan yang merupakan hasil kesepakatan bersama.

4. Efektif dan relevan

 Diperlukan data yang valid mengenai kondisi Indonesia sebagai bahan pertimbangan dan dasar dalam penetapan suatu standar dan peraturan pangan, misalkan data tentang paparan (jumlah bahan pangan yang dikonsumsi setiap individu).

 Di dalam perumusan standar pangan perlu diterapkan analisis risiko, khususnya kajian risiko. Kajian risiko diperlukan dalam penetapan kriteria di dalam standar dan peraturan pangan.

 Di dalam pemberlakuan standar pangan perlu diperhatikan kesiapan pelaku usaha (industri) yang akan menerapkannya. Salah satu hal yang penting diperhatikan adalah kesiapan infrastruktur (laboratorium pengujian) yang mampu menguji parameter yang ditetapkan dalam standar.

 Sebelum standar (SNI) pangan diberlakukan secara wajib oleh instansi teknis dalam bentuk peraturan, diperlukan kajian mengenai dampak regulasi melalui Regulatory Impact Analysis(RIA).

5. Koheren

 Kajian terhadap standar atau peraturan lain di dalam negeri saat merumuskan suatu standar pangan perlu dilaksanakan dengan lebih efektif.  Di dalam merumuskan suatu standar dan peraturan pangan juga diperlukan

harmonisasi terhadap standar dan peraturan yang berlaku secara internasional dan berlaku di negara lain terutama negara tujuan ekspor produk pangan Indonesia.

 Standar Codex yang telah ditetapkan oleh CAC dapat dijadikan rujukan utama dalam menetapkan ketentuan dan kriteria di dalam standar dan peraturan pangan Indonesia, terlebih jika data tentang profil kualitas produk pangan di Indonesia belum tersedia atau masih terbatas. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi jika terjadi perselisihan perdagangan antar negara anggota WTO yang menjadikan standar Codex sebagai acuan.

6. Berdimensi pengembangan

 Kepentingan UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah), pengembangan bahan baku lokal, dan peningkatan daya saing produk Indonesia perlu menjadi pertimbangan dalam merumuskan standar pangan, sehingga standar yang dihasilkan berguna bagi kepentingan nasional dan dapat diterima secara luas khususnya oleh pelaku usaha pangan di dalam negeri.

 Faktor pertama dan utama yang perlu diperhatikan dalam perumusan standar dan peraturan keamanan pangan adalah faktor kesehatan masyarakat.

Jika prinsip-prinsip perumusan dan pengembangan standar dan peraturan tersebut diterapkan dengan baik, diharapkan dapat meminimalisir bahkan menghilangkan perbedaan persepsi antar lembaga (terutama pemerintah dan industri) dalam perumusan dan pengembangan standar dan peraturan pangan. Semua pihak akan merasa memiliki, bertanggung jawab, dan beritikad baik untuk menerapkan standar yang telah ditetapkan sebagai keputusan bersama melalui konsensus.

V. SIMPULAN DAN SARAN