IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Perumusan Kebijakan dan Standar yang Ditetapkan oleh BSN,
4.1.2. Perumusan Peraturan dan Pemberlakuan Wajib Standar oleh
satu instansi teknis menurut PP No. 102/2000 tentang Standardisasi Nasional, berwenang dalam memberlakukan wajib suatu SNI yang dituangkan dalam suatu peraturan melalui surat keputusan (SK) kepala BPOM RI. Saat ini, BPOM RI juga menetapkan suatu peraturan berupa ketentuan, pedoman, dan kode praktis yang terkait dengan keamanan pangan tanpa melalui prosedur yang ditetapkan oleh BSN.
Penyusunan suatu peraturan, pedoman, dan kode praktis di BPOM RI dimulai dengan melakukan pengumpulan materi dan kajian pustaka. Kemudian dilakukan pemetaan dan kaji banding dengan peraturan yang berlaku baik di dalam maupun luar negeri. BPOM RI kemudian mengundang narasumber dan stakeholder untuk memberikan masukan dan dimintai pendapatnya. Pembahasan draf peraturan, pedoman, dan kode praktis dilakukan sebanyak 3 kali untuk meng-
37
Penyusunan Standar
PELAKSANA & PESERTA HASIL PROSES Penyusunan konsep Rapat teknis RSNI1 RSNI2 Rapat konsensus
Perbaikan RSNI2 RSNI3
Jajak pendapat disetujui Perbaikan RSNI3 RASNI RSNI4 Penetapan + penomoran Pemungutan suara disetujui RASNI SNI Publikasi Rapat teknis DT Konseptor dan PT/SPT PT/SPT dan TAS QC QC PT/SPT dan TAS PT/SPT BSN, MASTAN, PT/ SPT BSN PT/SPT BSN, MASTAN, PT/ SPT BSN BSN BSN PT Tidak Tidak Tidak Ya Ya Ya 100% <100% Keterangan: PT : Panitia Teknis SPT : Sub Panitia Teknis
TAS :Tenaga Ahli Standardisasi sebagai pengendali mutu yang ditugaskan oleh BSN untuk memantau pelaksanaan rapat teknis
BSN : Badan Standardisasi Nasional MASTAN : Masyarakat Standardisasi Indonesia RSNI : Rancangan Standar Nasional Indonesia DT : Dokumen Teknis
hasilkan rumusan yang baik (BPOM, 2010). Mekanisme perumusan suatu peraturan dan pemberlakuan wajib standar yang saat ini berlaku di BPOM RI dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6. Mekanisme Perumusan Suatu Peraturan dan Pemberlakuan Wajib Standar di BPOM RI (BPOM, 2010)
Instansi teknis (misal BPOM RI, Kemenkes, Kementan, KKP, Kemenperin, Kemenhut) dapat memberlakukan wajib SNI yang terkait dengan kesehatan masyarakat, keamanan, keselamatan atau pelestarian lingkungan hidup dan/atau pertimbangan ekonomi. Intansi teknis dapat memberlakukan wajib keseluruhan atau sebagian dan/atau sebagian parameter di dalam suatu SNI.
Jika instansi teknis, misalnya BPOM RI ingin memberlakukan wajib SNI, maka perlu mengajukan usulan kepada BSN terlebih dahulu. Usulan tersebut diberikan setahun sebelum rencana penetapan regulasi teknis yang akan
39
memberlakukan wajib SNI. BSN memasukkan usulan pemberlakuan regulasi teknis di dalam Program Nasional Regulasi Teknis. Kemudian perumusan regulasi teknis dilakukan oleh instansi teknis dengan memperhatikan berbagai faktor agar regulasi tersebut efektif dijalankan dan tidak memberikan hambatan yang berarti bagi perkembangan dunia usaha dan pertumbuhan ekonomi nasional. Draf regulasi teknis yang akan diberlakukan terlebih dahulu dilakukan notifikasi kepada World Trade Organization (WTO) untuk mendapatkan tanggapan dari anggota WTO. Notifikasi dilakukan melalui BSN. Jika draf regulasi teknis tersebut dianggap tidak memberatkan bagi negara anggota WTO, instansi teknis dapat menetapkan regulasi teknis tersebut.
Regulasi teknis kemudian dapat diimplementasi dengan mempertimbangkan waktu bagi pelaku usaha untuk menyesuaikannya. Waktu implementasi regulasi tersebut minimal 6 bulan setelah ditetapkan. Setelah diimplementasikan, instansi teknis melakukan pengawasan pra pasar, pasar, dan didukung dengan pengawasan oleh masyarakat. Misalkan untuk BPOM RI, melakukan pengawasan pra pasar pada saat registrasi produk dari pelaku usaha. Pengawasan pasar dilakukan melalui surveilan. Pengawasan oleh masyarakat dapat dilakukan oleh lembaga konsumen.
Setelah beberapa waktu pemberlakuan berjalan, regulasi teknis perlu dievaluasi dan dikaji ulang mengenai efektifitas pelaksanaannya. Evaluasi dan kaji ulang minimal dilakukan setelah 5 tahun regulasi teknis berjalan. Jika ada hal yang perlu diperbaiki, maka instansi teknis dapat menyusun kembali draf regulasi teknis yang baru atau perbaikan regulasi teknis yang lama agar dapat diimplementasi secara efektif.
Tata cara pemberlakuan SNI secara wajib
Waktu Pelaksana
Proses
Rencana SNI yg akan diberlakukan secara wajib tahun X+1
Kompilasi rencana SNI yg akan diberlakukan secara wajib tahun X+1
Publikasi rencana SNI yg akan diberlakukan secara wajib tahun X+1
Masukan thd rencana SNI yg akan diberlakukan secara
wajib tahun X+1 Rapat musyawarah penyelesaian
duplikasi wewenang
Program Nasional Regulasi Teknis tahun X+1
Penyampaian Program Nasional Regulasi Teknis tahun X+1 kpd Instansi Teknis Publikasi Program Nasional Regulasi Teknis
tahun X+1
Perumusan Rencana Regulasi Teknis dan persiapan infrastruktur pendukungnya
Notifikasi Rancangan Regulasi Teknis ke WTO
Penetapan Regulasi Teknis Pemberlakuan Regulasi Pembahasan thd tanggapan Negara anggota WTO Masukan terkait duplikasi kewenangan Masukan tdk terkait duplikasi kewenangan Ada tanggapan Instansi Teknis BSN c.q. Pusat yang terkait dengan penerapan standar BSN Pejabat Es. I dari
instansi terkait Pihak yang berkepentingan BSN BSN BSN Instansi Teknis Notification body Instansi Teknis Instansi Teknis
Selambatnya bulan April tahun X
Minggu kedua bulan Mei tahun X
14 hari setelah publikasi
Tergantung kesiapan Instansi Teknis
Peling singkat 60 hari setelah disampaikan kepada sekretariat WTO
Paling singkat 6 bulan setelah ditetapkan Tidak ada tanggapan
Tidak ada masukan
41
Berdasarkan keputusan kepala Badan Standardisasi Nasional dalam Peraturan Kepala BSN Nomor 1 Tahun 2011 tentang Pedoman Standardisasi Nasional Nomor 301 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia Secara Wajib, setiap intansi teknis seperti BPOM yang akan memberlakukan standar secara wajib harus mengikuti prosedur seperti Gambar 7 dan Gambar 8.
Beberapa contoh standar yang diberlakukan wajib di bidang pangan dan pertanian oleh instansi teknis dapat dilihat pada Tabel 6 dan Tabel 7. Di sektor industri makanan dan minuman terdapat 440 SNI, dan 428 SNI di antaranya memiliki relevansi dengan CAFTA (China-ASEAN Free Trade Agreement) sementara 12 SNI lainnya tidak terkorelasi (BSN, 2010). Dari 428 SNI makanan dan minuman tersebut, 9 SNI di antaranya telah ditetapkan sebagai SNI wajib melalui regulasi pemerintah, dengan perincian pada Tabel 6.
Tabel 6. Regulasi Teknis Pemberlakuan Wajib SNI Bidang Pangan (BSN, 2010)
No SNI Regulasi Pemerintah
1 SNI 01-3751-2006, Tepung Terigu
Peraturan Menteri Perindustrian No. 49/M-IND/PER/7/2008
2 SNI 01-3747-1995, Kakao Bubuk
Peraturan Menteri Perindustrian No. 45/M-IND/PER/5/2009 diubah menjadi No. 157/M-IND/PER/11/2009
3 SNI 01-3553-2006, Air
Minum dalam Kemasan
Peraturan Menteri Perindustrian No. 69/M-IND/PER/7/2009
4 SNI 01-3556-1994, Garam
Konsumsi Beryodium
Surat Keputusan Menteri Perindustrian No. 29/M/SK/2/1995
5 SNI 01-3140.22006, Gula Kristal Rafinasi
Peraturan Menteri Perindustrian No. 27/M-IND/PER/2/2010
6 SNI 01-3140.12001, Gula Kristal Mentah (raw sugar)
Keputusan Bersama No. 03/Kpts/ KB.410/1/2003
7 SNI 01-6993-2004, Bahan Tambahan Pangan Pemanis Buatan - Persyaratan Penggunaan dalam Produk Pangan
Surat Keputusan Kepala BPOM No.00.05.5.1.4547
8 SNI 01-0222-1995, Bahan Tambahan Makanan
Peraturan Menteri Kesehatan No.722/ Menkes/PER/XI/88
9 SNI 01-0219 -1987, Kodeks Makanan Indonesia
Surat Keputusan Kepala BPOM No.HK.00.05.5.00617 dan Keputusan Menteri Kesehatan No.
Di sektor industri pertanian dan produk pertanian terdapat 121 SNI, dan 117 SNI di antaranya memiliki relevansi dengan CAFTA sementara 4 SNI lainnya tidak terkorelasi (BSN, 2010). Dari 121 SNI pertanian dan produk pertanian tersebut, 81 SNI di antaranya telah ditetapkan sebagai SNI wajib melalui 21 regulasi pemerintah seperti pada Tabel 7.
Tabel 7. Regulasi Teknis Pemberlakuan Wajib SNI Bidang Pertanian (BSN, 2010)
No Nomor Regulasi Tentang
1 UU No. 12 Tahun 1992 Sistem budidaya tanaman
2 UU No. 16 Tahun 1992 Karantina hewan, ikan dan tumbuhan 3 UU No. 18 Tahun 2004 Perkebunan
4 UU No. 18 Tahun 2009 Peternakan dan kesehatan hewan 5 UU No. 22 Tahun 1983 Kesehatan masyarakat veteriner 6 UU No. 82 Tahun 2000 Karantina hewan
7 UU No. 14 Tahun 2002 Karantina tumbuhan 8 Keputusan Bersama No.
881/MENKES/
SKB/VIII/1996 dan Nomor 711/Kpts/ TP.270/8/1996
Batas maksimum residu pestisida pada hasil pertanian
9 Peraturan Menteri No. 58/Permentan/
OT.140/8/2007
Pelaksanaan sistem standardisasi nasional di bidang pertanian
10 Keputusan Menteri No. 469/Kpts/ HK.310/8/2001
Tempat-tempat pemasukan dan pengeluaran media pembawa organisme pengganggu tumbuhan karantina
11 Keputusan Menteri No. 380/Kpts/ OT.130/ 10/2005
Penunjukan direktorat jenderal pengolahan dan pemasaran hasil pertanian sebagai otoritas kompeten (competent authority) pangan organik 12 Keputusan Menteri No.
381/ Kpts/OT.140/ 10/2005
Pedoman sertifikasi kontrol veteriner unit usaha pangan asal hewan
13 Keputusan Menteri No. 37/ Kpts/HK.060/ 1/2006
Persyaratan teknis dan tindakan karantina tumbuhan untuk pemasukan buah-buahan dan sayuran buah segar ke dalam wilayah negara RI
14 Peraturan Menteri No. 18/ Permentan/ OT.140/2/2008
Persyaratan dan tindakan karantina
tumbuhan untuk pemasukan hasil tumbuhan hidup berupa sayuran umbi lapis segar 15 Peraturan Menteri No. 22/
Permentan/ OT.140/4/2008
Organisasi dan tata kerja unit pelaksana teknis karantina pertanian
16 Peraturan Menteri No. 35/Permentan/
OT.140/7/2008
Persyaratan dan penerapan cara pengolahan hasil pertanian asal tumbuhan yang baik (good manufacturing practices)
43
No Nomor Regulasi Tentang
Permentan/ OT.140/ 10/2008
segar asal tumbuhan 18 Peraturan Menteri No. 27/
Permentan/ PP.340/5/2009
Pengawasan keamanan pangan terhadap pemasukan dan pengeluaran pangan segar asal tumbuhan
19 Peraturan Menteri No. 38/Permentan/
PP.340/8/2009
Perubahan peraturan menteri pertanian nomor: 27/ Permentan/PP.340/5/2009 tentang pengawasan keamanan pangan terhadap pemasukan dan pengeluaran pangan segar asal tumbuhan
20 Peraturan Menteri No. 20/Permentan/
OT.140/4/2009
Pemasukan dan pengawasan peredaran karkas, daging, dan/atau jeroan dari luar negeri
21 Peraturan Menteri No. 09/Permentan/
OT.140/2/2009
Persyaratan dan tatacara tindakan karantina tumbuhan terhadap pemasukan media pembawa organisme pengganggu tumbuhan karantina ke dalam wilayah negara RI