IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2. Pelaksanaan Perumusan Standar dan Peraturan
4.2.2. Survei
Berdasarkan informasi dari hasil Focus Group Discussion(FGD), diperoleh kesimpulan bahwa permasalahan utama yang menjadi kendala kebijakan pangan adalah mengenai pengembangan standar keamanan pangan, khususnya terkait dengan perumusan standar dan peraturan. Untuk itu, perlu dilakukan penggalian informasi yang lebih mendalam mengenai permasalahan perumusan dan pengembangan standar dan peraturan tersebut. Penggalian informasi tersebut
51
dilakukan melalui survei. Pada survei yang dilakukan, kata “Standar” termasuk (standar) SNI dan peraturan keamanan pangan.
Survei dilakukan dengan memberikan kuesioner kepada 4 kelompok besar responden, yaitu pemerintah, industri, akademisi, dan lembaga konsumen. Masing-masing responden diberikan pertanyaan yang sama mengenai penerapan prinsip-prinsip perumusan dan pengembangan standar keamanan pangan di Indonesia, yaitu prinsip transparan, terbuka, konsensus dan tidak memihak, efektif dan relevan, koheren, dan prinsip berdimensi pengembangan. Penilaian umum masing-masing kelompok responden terhadap penerapan prinsip perumusan dan pengembangan standar keamanan pangan dapat dilihat pada Gambar 10.
Gambar 10. Penilaian Umum Kelompok Responden terhadap Penerapan Prinsip- Prinsip Perumusan dan Pengembangan Standar
Pada Gambar 10 terlihat bahwa nilai rata-rata penilaian seluruh responden untuk setiap prinsip perumusan dan pengembangan standar berada pada nilai sekitar 0,5 dari nilai minimal 0 (kurang) dan maksimal 1 (sangat baik). Artinya, rata-rata seluruh responden memberikan penilaian antara baik dan cukup untuk penerapan prinsip-prinsip perumusan dan pengembangan standar (transparan, terbuka, konsensus dan tidak memihak, efektif dan relevan, koheren, dan berdimensi pengembangan). Hal ini menunjukkan bahwa penerapan dari prinsip- prinsip perumusan dan pengembangan tersebut belum sepenuhnya dinilai baik
oleh rata-rata responden, karena posisi penilaiannya masih berada di tengah- tengah skala.
Gambar 10 juga memperlihatkan bahwa beberapa kelompok responden memberikan penilaian yang berbeda terhadap penerapan prinsip-prinsip perumusan dan pengembangan standar keamanan pangan di Indonesia. Pada umumnya kelompok responden pemerintah memberikan penilaian yang baik terhadap penerapan seluruh prinsip perumusan dan pengembangan standar keamanan pangan (transparan, terbuka, konsensus dan tidak memihak, efektif dan relevan, koheren, serta berdimensi pengembangan).
Nilai yang berbeda dengan pemerintah terlihat pada penilaian dari responden industri dan lembaga konsumen. Responden dari kelompok industri dan lembaga konsumen masing-masing memberikan penilaian yang hampir separuh lebih rendah dibandingkan dengan penilaian dari responden Pemerintah.
Data-data di atas memberikan gambaran bahwa persepsi responden terhadap penerapan prinsip-prinsip perumusan dan pengembangan standar saat ini berbeda antar kelompok responden. Pemerintah memberikan penilaian yang relatif baik terhadap penerapan prinsip-prinsip perumusan dan pengembangan standar. Akan tetapi kelompok industri dan konsumen menilai penerapan prinsip-prinsip tersebut belum diterapkan secara optimal yang terlihat dari penilaiannya yang rendah. Hal ini menunjukkan bahwa pihak pemerintah sudah merasa benar dan sesuai dalam menyusun dan mengembangkan standar pangan di Indonesia, sedangkan pihak industri dan konsumen merasa prinsip-prinsip perumusan dan pengembangan standar belum dilaksanakan dengan baik.
Jika dilihat perbedaan penilaian antara kelompok responden pemerintah dan industri, penilaian terhadap prinsip Transparan dan Efektif dan Relevan memiliki perbedaan yang paling besar. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa penerapan dari prinsip Transparan dan Efektif dan Relevan belum dijalankan dengan baik saat perumusan dan pengembangan standar terutama bagi kelompok industri.
53
A. Prinsip Transparan
Codex Alimentarius Commission memberikan rekomendasi bahwa kajian risiko harus dilakukan secara transparan dan dapat dipertanggungjawabkan oleh semua pihak termasuk pemerintah, industri dan konsumen. Keseragaman kajian harus dilakukan dengan proses yang terbuka dan kemudahan untuk diakses oleh pemerintah dan semua organisasi yang berkepentingan dan tahapannya harus diketahui oleh masyarakat umum (Randel, 2000).
Gambar 11. Pengetahuan Responden tentang Tahapan Proses Pembuatan Standar Gambar 11 memperlihatkan bahwa sebagian besar responden mengetahui tahapan proses pembuatan standar. Beberapa responden (18,33% dari 60 responden) belum mengetahui tahapan proses pembuatan standar, termasuk beberapa lembaga pemerintah, industri, dan konsumen. Jika dilihat masing- masing kelompok responden, maka 13,04% pemerintah, 8,33% industri, 0% akademisi, dan 37,5% lembaga konsumen menyatakan belum mengetahui proses pembuatan standar. Kelompok responden pemerintah dan lembaga konsumen yang menyatakan belum mengetahui proses pembuatan standar adalah responden dari daerah (Tabel 10). Responden pemerintah dan lembaga konsumen yang menyatakan tidak mengetahui proses pembuatan standar 100% dari instansi daerah. Hal ini dapat menjadi perhatian untuk lebih meningkatkan sosialisasi mengenai proses perumusan standar keamanan pangan di Indonesia kepada semua stakeholder, termasuk instansi yang berada di daerah.
Tabel 10. Pengetahuan Responden Pemerintah dan Lembaga Konsumen Daerah tentang Tahapan Proses Pembuatan Standar
Pertanyaan: Apakah Anda mengetahui proses pembuatan standar?
Jawaban
Total % Jawaban "Tidak" terhadap Total Ya Tidak
Responden Pemerintah
Daerah 8 3 11 27,27
Keseluruhan 20 3 23 13,04
% Daerah terhadap Keseluruhan 40,00 100,00 47,83 -
Responden Lembaga Konsumen
Daerah 0 3 3 100,00
Keseluruhan 5 3 8 37,50
% Daerah terhadap Keseluruhan 0,00 100,00 37,50 -
Meskipun sebagian besar responden (81,67% dari 60 responden) menyatakan bahwa mereka mengetahui tahapan proses pembuatan standar, tetapi masih banyak responden yang menyatakan sulit untuk mendapatkan informasi prosedur perumusan standar tersebut. Tingkat kemudahan responden memperoleh informasi mengenai prosedur perumusan standar dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11. Tingkat Kemudahan Responden Memperoleh Informasi Prosedur Perumusan Standar
Pertanyaan: Seberapa mudah Anda mendapatkan informasi prosedur penyusunan suatu standar?
Kelompok Responden
Pemerintah Industri Akademisi Lembaga Konsumen
Total
Jawaban Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
1= Sangat mudah 5 21,74 0 0 2 28,57 2 25 9 14,75
2= Mudah 14 60,87 9 39,13 2 28,57 4 50 29 47,54
3= Sulit 4 17,39 13 56,52 3 42,86 1 12,5 21 34,42
4= Sangat sulit 0 0 1 4,35 0 0 1 12,5 2 3,279
Total 23 100 23 100 7 100 8 100 61 100
Tabel 11 memperlihatkan bahwa sebagian besar responden (47,54% dari 61 responden) menyatakan bahwa untuk mendapatkan informasi prosedur perumusan suatu standar mudah. Akan tetapi dengan jumlah yang cukup besar juga (34,43% dari 61 responden) responden menyatakan bahwa untuk mendapatkan informasi tersebut sulit. Sebagian besar yang menyatakan bahwa untuk memperoleh informasi prosedur perumusan standar masih sulit adalah dari responden kelompok industri. Bahkan jumlah responden industri yang menyatakan bahwa
55
memperoleh informasi prosedur penyusunan standar masih sulit (56,52% dari 23 responden) lebih besar jumlahnya dibandingkan dengan yang menyatakan mudah (39,13% dari 23 responden).
Berbeda dengan kelompok responden industri, kelompok responden pemerintah yang menyatakan sangat mudah dan mudah memperoleh informasi prosedur penyusunan standar jumlahnya lebih besar (21,74% dan 60,87% dari 23 responden) dibandingkan dengan responden yang menyakatan sulit dan sangat sulit (17,39% dan 0% dari 23 responden). Kondisi tersebut dapat dijadikan indikator bahwa penyampaian informasi mengenai prosedur pembuatan standar belum berjalan secara optimal, khususnya kepada industri.
Padahal informasi mengenai prosedur penyusunan standar sangat berguna bagi pelaku usaha (industri) yang akan menerapkan standar. Jika informasi prosedur penyusunan ini diketahui oleh semua pihak yang berkepentingan, terutama pelaku usaha, diharapkan keterlibatan mereka di dalam penyusunan standar menjadi besar. Keterlibatan yang besar dari pelaku usaha dalam penyusunan dan konsensus standar diharapkan dapat meningkatkan keberterimaan dan penerapan standar yang dihasilkan.
Dari responden yang menyatakan bahwa mereka mengetahui tahapan proses pembuatan standar perlu diketahui juga cara dan media yang dimanfaatkan untuk memperoleh informasi tersebut. Gambar 12 memperlihatkan sumber informasi yang digunakan oleh responden untuk memperoleh inforasi mengenai prosedur penyusunan standar.
Gambar 12 memperlihatkan bahwa sebagian besar responden (40,91% dari 66 jawaban responden) menjawab bahwa sumber informasi perumusan standar diperoleh dari website/internet. Hal ini dapat menjadi pertimbangan untuk meningkatkan keterbukaan informasi perumusan standar akan lebih efektif jika dilakukan melalui website/internet.
Gambar 12. Sumber Informasi Perumusan Standar
Urutan kedua responden menjawab bahwa informasi prosedur penyusunan standar diperoleh dari instansi tempat responden bekerja, dengan jumlah 30,30% dari 66 jawaban responden. Sebagian besar yang menjawab hal tersebut adalah responden kelompok pemerintah. Hal ini dapat dipahami karena pemerintah merupakan lembaga yang berwenang dalam mengkoordinasi perumusan standar dan sebagai regulator yang memberlakukan standar. Sebagian responden yang lain menjawab informasi prosedur penyusunan standar diperoleh melalui surat dari intansi terkait dan perorangan dengan masing-masing jumlah 21,21% dan 1,51% dari total 66 jawaban responden.
B. Prinsip Terbuka
Terbuka adalah salah satu prinsip yang harus dipenuhi di dalam perumusan dan pengembangan suatu standar. Terbuka dapat diartikan bahwa di dalam menyusun dan menetapkan suatu standar keamanan pangan, semua stakeholder harus dilibatkan. Pihak pemerintah, industri, akademisi, dan konsumen harus terlibat di dalam perumusan dan penetapan standar keamanan pangan. Semua stakeholder diberi kesempatan yang sama dalam menyampaikan aspirasi dan suara dalam pengambilan keputusan saat penetapan suatu standar.
57
Gambar 13. Keterlibatan Responden sebagai Panitia Teknis Perumusan Standar Gambar 13 di atas memperlihatkan bahwa sebagian besar responden yang berpartisipasi dalam survei ini pernah dilibatkan sebagai panitia teknis penyusunan suatu standar (60% dari 60 responden), meskipun masih banyak responden yang merasa belum dilibatkan sebagai panitia teknis perumusan standar (40% dari 60 responden). Hal ini dapat dijadikan dasar untuk mengetahui lebih jauh mengenai pelaksanaan perumusan dan penetapan standar di tingkat panitia teknis berdasarkan informasi dari responden yang berpartisipasi dalam survei ini.
Gambar 14. Partisipasi Responden dalam Memberikan Masukan terkait Pembuatan Suatu Standar Pangan
Gambar 14 memperlihatkan bahwa sebagian besar responden (81,36% dari 59 responden) pernah dimintai/memberikan masukan terkait dengan pembuatan suatu standar. Dalam jumlah yang lebih kecil (18,64% dari 59 responden) menyatakan bahwa mereka tidak pernah dimintai masukan terkait dengan pembuatan suatu standar. Jika dilihat per kelompok responden, 23,81% pemerintah, 17,39% industri, 0% akademisi, 25% lembaga konsumen menyatakan tidak pernah dimintai masukan terkait pembuatan suatu standar.
Sebagian besar kelompok responden pemerintah dan lembaga konsumen yang menyatakan tidak pernah dimintai masukan terkait pembuatan standar berasal dari daerah (Tabel 12). Responden pemerintah dan lembaga konsumen yang menyatakan tidak pernah dimintai masukan terkait pembuatan standar masing-masing sebesar 80% dan 100% berasal dari instansi di daerah
Tabel 12. Partisipasi Responden Pemerintah dan Lembaga Konsumen Daerah dalam Memberikan Masukan terkait Pembuatan Standar Pangan
Pertanyaan: Apakah Anda/instansi Anda pernah dimintai masukan terkait
pembuatan suatu standar pangan yang terkait bidang Anda?
Jawaban Total % Jawaban "Tidak" terhadap Total Ya Tidak Responden Pemerintah Daerah 5 4 9 44,44 Keseluruhan 16 5 21 23,81
% Daerah terhadap Keseluruhan 31,25 80,00 42,86 -
Responden Lembaga Konsumen
Daerah 1 2 3 66,67
Keseluruhan 6 2 8 25,00
% Daerah terhadap Keseluruhan 16,67 100,00 37,50 -
Gambar 15 memperlihatkan jumlah responden yang pernah dan tidak pernah mengusulkan pembuatan standar pangan jumlahnya hampir berimbang. Setiap kelompok responden ada yang pernah mengusulkan pembuatan standar pangan. Akan tetapi jumlah responden yang pernah mengusulkan pembuatan suatu standar pangan jumlahnya lebih kecil (45,61% dari 57 responden) dibandingkan dengan jumlah responden yang tidak pernah mengusulkan pembuatan suatu standar pangan (54,39% dari 57 responden). Sebagian besar kelompok responden industri (65,22% dari 23 responden) menyatakan tidak pernah mengusulkan pembuatan suatu standar pangan.
59
Gambar 15. Peran Responden dalam Mengusulkan Pembuatan Standar Pangan Tingkat partisipasi dari semua stakeholder di dalam mengusulkan pembuatan suatu standar pangan sangat penting, terlebih untuk para pelaku usaha (industri) di bidang pangan yang nantinya akan menerapkan standar tersebut. Jika melihat Gambar 15 terlihat bahwa kelompok responden industri sebagian besar tidak pernah mengusulkan pembuatan suatu standar. Hal ini akan menjadi salah satu indikator penyebab rendahnya tingkat penerapan suatu standar. Kondisi tersebut dikhawatirkan membuat para pelaku usaha merasa bahwa standar yang dibuat adalah tidak sesuai dengan kebutuhan mereka.
Tabel 13. Peran Responden Pemerintah dan Lembaga Konsumen Daerah dalam Mengusulkan Pembuatan Standar Pangan
Pertanyaan: Apakah Anda/instansi Anda pernah mengusulkan
pembuatan suatu standar pangan?
Jawaban Total % Jawaban "Tidak" terhadap Total Ya Tidak Responden Pemerintah Daerah 5 4 9 44,44 Keseluruhan 12 7 19 36,84
% Daerah terhadap Keseluruhan 41,67 57,14 47,37 -
Responden Lembaga Konsumen
Daerah 0 3 3 100,00
Keseluruhan 3 5 8 62,50
% Daerah terhadap Keseluruhan 0,00 60,00 37,50 -
Selain itu, kelompok responden pemerintah juga masih banyak yang tidak pernah mengusulkan pembuatan suatu standar. Kelompok responden pemerintah
ini pada umumnya berada di daerah yaitu sebesar 57,14% (Tabel 13). Hal ini menjadi tantangan dalam pengembangan standar keamanan pangan di Indonesia. Keterlibatan dan usulan dari daerah sangat diperlukan dalam mempertimbangkan suatu standar, sehingga dapat diaplikasikan dengan mudah oleh semua pihak termasuk bagi instansi pemerintah yang ada di daerah.
C. Prinsip Konsensus dan Tidak Memihak
Prinsip konsensus dan tidak memihak dapat diartikan bahwa standar yang ditetapkan merupakan hasil kesepakatan di antara semua stakeholder dan mempertimbangkan asas keadilan dalam penetapannya. Gambar 16 dan Tabel 14 menunjukkan pendapat responden dari kelompok pemerintah, industri, akademisi, dan lembaga konsumen tentang pelaksanaan prinsip konsensus dan tidak memihak di dalam penetapan suatu standar pangan.
Gambar 16. Keterlibatan Responden dalam Pengambilan Keputusan Saat Penetapan Standar
Gambar 16 memperlihatkan bahwa dengan jumlah yang hampir sama responden yang menyatakan bahwa mereka pernah dan tidak pernah dilibatkan dalam pengambilan keputusan dalam penetapan suatu standar pangan dengan jumlah masing-masing 56,67% dan 43,33% dari 60 total responden. Responden kelompok pemerintah (sebagian besar berada di daerah, Tabel 14) yang merasa tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan tersebut juga jumlahnya masih
61
relatif besar. Responden pemerintah dan lembaga konsumen yang merasa belum dilibatkan dalam pengambilan keputusan suatu standar pangan masing-masing sebesar 81,82% dan 100% dari instansi di daerah. Ke depan efektifitas peran semua stakeholder dalam pengambilan keputusan dalam penetapan suatu standar sangat diperlukan untuk menghasilkan standar yang baik dan dapat diterapkan dengan efektif.
Tabel 14. Keterlibatan Responden Pemerintah dan Lembaga Konsumen Daerah dalam Pengambilan Keputusan Saat Penetapan Standar
Pertanyaan: Apakah Anda/instansi Anda pernah dilibatkan dalam pengambilan keputusan suatu standar pangan?
Jawaban Total % Jawaban "Tidak" terhadap Total Ya Tidak Responden Pemerintah Daerah 1 9 10 90,00 Keseluruhan 11 11 22 50,00
% Daerah terhadap Keseluruhan 9,09 81,82 45,45 -
Responden Lembaga Konsumen
Daerah 0 3 3 100,00
Keseluruhan 5 3 8 37,50
% Daerah terhadap Keseluruhan 0,00 100,00 37,50 -
Jumlah responden yang dilibatkan dalam pengambilan keputusan suatu standar dan jumlah responden yang terlibat sebagai panitia teknis perumusan standar hampir sama. Total responden yang menyatakan pernah terlibat dalam pengambilan keputusan saat penetapan standar sebanyak 56,67% dari 60 responden (Gambar 16), sedangkan total responden yang menyatakan pernah terlibat sebagai panitia teknis perumusan standar sebesar 60% dari 60 responden (Gambar 13). Hal ini menunjukkan konsistensi dari data yang diperoleh, yaitu responden yang tidak terlibat sebagai panitia teknis juga tidak akan terlibat dalam pengambilan keputusan saat penetapan standar.
Sekitar 60% responden dari total 60 responden yang menyatakan pernah terlibat dalam pengambilan keputusan saat penetapan suatu standar pangan, kemudian diberikan pertanyaan lanjutan. Pertanyaan tersebut terkait dengan pelaksanaan proses pengambilan keputusan. Tabel 15 menunjukkan pendapat responden terhadap pelaksanaan pengambilan keputusan saat penetapan suatu standar.
Tabel 15. Pendapat Responden terhadap Pelaksanaan Pengambilan Keputusan Saat Penetapan Standar
Pertanyaan 1: Apakah aspirasi Anda diterima/diakomodasi dalam pengambilan keputusan?
Kelompok Responden
Pemerintah Industri Akademisi Lembaga Konsumen
Total Jawaban Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
1= Ya 9 75 1 7,69 3 60 2 33,33 15 41,67
2= Sebagian 3 25 12 92,31 2 40 3 50 20 55,55
3= Tidak 0 0 0 0 0 0 1 16,67 1 2,78
Total 12 100 13 100 5 100 6 100 36 100
Pertanyaan 2: Seberapa besar pengaruh Anda/Instansi Anda dalam pengambilan keputusan?
Kelompok Responden
Pemerintah Industri Akademisi Lembaga Konsumen
Total Jawaban Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
1= Sangat besar 5 41,67 0 0 0 0 2 33,33 7 19,44
2= Besar 4 33,33 1 7,69 1 20 2 33,33 8 22,22
3= Cukup besar 2 16,67 8 61,54 3 60 1 16,67 14 38,90
4= Kecil 1 8,33 4 30,77 1 20 1 16,67 7 19,44
Total 12 100 13 100 5 100 6 100 36 100
Pertanyaan 3: Menurut Anda bagaimana proporsi setiap instansi dalam pengambilan keputusan?
Kelompok Responden
Pemerintah Industri Akademisi Lembaga Konsumen
Total Jawaban Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
1= Berimbang 10 90,91 6 46,15 2 40 3 60 21 61,76
2= Tidak berimbang 1 9,09 7 53,85 3 60 2 40 13 38,24
Total 11 100 13 100 5 100 5 100 34 100
Tabel 15 pada Pertanyaan 1 memperlihatkan bahwa sebagian besar responden (55,56% dari 36 responden) menyatakan bahwa hanya sebagian aspirasi mereka diterima atau diakomodasi dalam pengambilan keputusan saat penetapan suatu standar. Responden yang menyatakan hal tersebut sebagian besar dari kelompok industri (92,31% dari 13 responden kelompok industri). Hal ini berbeda dengan kelompok pemerintah yang menyatakan bahwa aspirasi mereka diterima (sepenuhnya) di dalam pengambilan keputusan dalam penetapan suatu standar (75% dari 12 responden kelompok pemerintah). Perbedaan persepsi ini akan menjadi penghambat dalam penerapan standar. Kelompok industri menganggap bahwa standar yang dibuat adalah bukan hasil kesepakatan yang adil dikarenakan tidak semua aspirasinya diterima di dalam pengambilan keputusan
63
dalam penetapan standar tersebut. Untuk itu, mekanisme dan pelaksanaan dalam pengambilan keputusan perlu diperbaiki agar semua stakeholder yang terlibat tidak ada yang merasa tidak atau kurang diperhatikan dalam menyampaikan aspirasinya.
Tabel 15 pada Pertanyaan 2 memperlihatkan bahwa sebagian besar responden (38,89% dari 36 responden) menyatakan bahwa pengaruh mereka di dalam pengambilan keputusan saat penetapan standar cukup besar. Responden yang menyatakan bahwa pengaruhnya kecil dan cukup besar dalam pengambilan keputusan penetapan standar sebagian besar dari responden kelompok industri (30,77% dan 61,54% dari 13 responden kelompok industri). Sebagian besar responden kelompok pemerintah menyatakan bahwa pengaruhnya sangat besar dan besar di dalam pengambilan keputusan saat penetapan suatu standar (41,67% dan 33,33% dari 12 responden kelompok pemerintah). Perbedaan penilaian tersebut juga dapat memperlihatkan persepsi ketidakadilan di dalam pengambilan keputusan saat penetapan suatu standar, terutama bagi kalangan industri/pelaku usaha.
Tabel 15 pada Pertanyaan 3 memperlihatkan pendapat responden terhadap proporsi setiap instansi dalam pengambilan keputusan saat penetapan standar. Meskipun secara total sebagian besar responden (61,76% dari 34 responden) menyatakan bahwa proporsi setiap instansi sudah seimbang, tetapi jika dilihat per kelompok responden akan terlihat penilaian yang berbeda. Sebagian besar kelompok responden industri menyatakan bahwa saat ini proporsi setiap instansi dalam pengambilan keputusan penetapan suatu standar tidak berimbang. Dari total 13 responden kelompok industri, 53,85% menyatakan tidak berimbang, sedangkan 46,15% yang menyatakan berimbang.
Hal sebaliknya dinyatakan oleh responden kelompok pemerintah yang hampir seluruhnya menyatakan bahwa proporsi pengambilan keputusan sudah berimbang. Dari total 11 responden, 90,91% kelompok responden pemerintah menyatakan berimbang, sedangkan hanya 9,09% yang menyatakan tidak berimbang. Hal tersebut menunjukkan perbedaan persepsi lagi antara responden kelompok pemerintah dan kelompok industri.
D. Prinsip Efektif dan Relevan
Prinsip efektif dan relevan dapat diartikan bahwa standar yang dibuat harus dapat digunakan dan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan para pelaku usaha. Kesiapan pelaku usaha di dalam menerapkan standar yang dibuat harus diperhatikan agar standar dapat digunakan secara efektif.
Gambar 17. Pengetahuan Responden terhadap SNI produknya
Gambar 17 memperlihatkan bahwa hampir semua responden (92,73% dari 55 responden) mengetahui standar SNI untuk produk yang dihasilkannya. Sebanyak 100% dari 23 responden kelompok industri mengetahui SNI produknya. Hal ini menjadi indikator awal kemungkinan semua responden, terutama pelaku usaha (industri) untuk menerapkan standar pangan yang telah ditetapkan. Akan tetapi, pengetahuan responden (industri) akan SNI produknya belum tentu akan berimplikasi pada penerapan SNI tersebut pada produk yang dihasilkan responden (industri). Tingkat penerapan standar oleh responden (industri) dapat dilihat pada Gambar 18, Gambar 19, dan Gambar 20.
65
Gambar 18. Pendapat Responden Mengenai Penerapan Standar
Gambar 18 memperlihatkan bahwa sebagian besar responden (65,38% dari 52 responden), termasuk pelaku usaha (industri) telah menerapkan standar yang dikeluarkan oleh BSN/BPOM. Akan tetapi jika dilihat per kelompok responden, terlihat masih banyak pelaku industri (30,43% dari 23 responden) menyatakan hanya sebagian standar yang dikeluarkan/ditetapkan BPOM dan BSN diterapkan di instansinya. Hal ini mengindikasikan bahwa penerapan standar yang dikeluarkan BPOM dan BSN belum sepenuhnya efektif diterapkan oleh pelaku usaha. Kondisi rendahnya penerapan standar pangan terutama yang telah dikeluarkan oleh BSN dapat dilihat kajian BSN (2009).
Gambar 19 memperlihatkan bahwa hampir semua responden (90,38% dari 52 responden) menyatakan bahwa penerapan standar memberikan manfaat bagi diri atau instansinya. Hanya sebagian kecil (9,62% dari 52 responden) terutama dari responden kelompok industri dan akademisi yang menyatakan bahwa penerapan standar memberikan manfaat sebagian (tidak sepenuhnya). Sebanyak 17,39% dari 23 responden kelompok industri menyatakan bahwa penerapan standar hanya sebagian memberikan manfaat.
Gambar 20. Pendapat Responden Mengenai Hambatan dalam Penerapan Standar Kajian BSN (2009) menunjukkan bahwa penerapan penerapan standar pangan SNI yang bersifat sukarela masih rendah, untuk itu perlu dicari faktor- faktor yang menjadi penghambat di dalam penerapan standar pangan SNI tersebut. Gambar 20 menunjukkan bahwa sebagian besar responden (53,33% dari 60 responden) menyatakan bahwa kesiapan lab uji adalah faktor penghambat utama di dalam penerapan standar (keamanan) pangan. Selain itu, faktor biaya dan teknologi juga menjadi penghambat dalam penerapan suatu standar (keamanan) pangan dengan jumlah responden masing-masing 33,33% dan 13,33% dari total 60 responden.
Jika dilihat secara khusus pada jawaban kelompok responden industri sebagai kelompok yang akan menerapkan standar, terlihat bahwa sebanyak 58,62%, 31,03%, 10,35% dari 29 jawaban responden kelompok industri berturut- turut memberikan jawaban faktor kesiapan lab uji, biaya, dan teknologi yang
67
menjadi penghambat di dalam penerapan standar. Untuk itu, di dalam menyusun dan menetapkan suatu standar (keamanan) pangan faktor tersebut (kesiapan lab uji, biaya, dan teknologi) dan terutama faktor kesiapan lab uji harus diperhatikan agar standar yang dibuat efektif diterapkan oleh pelaku usaha.
Menurut Othman (2006) infrastruktur labororatorium yang memadai sangat dibutuhkan untuk mendukung kegiatan monitoring, surveilan, dan penegakan peraturan dalam meningkatkan sistem keamanan pangan. Kesiapan laboratorium meliputi peralatan pada laboratorium pengawasan pangan, analis yang terlatih, dan implementasi Sistem Jaminan Mutu yang sesuai dengan standar internasional. Tantangan terbesar bagi negara-negara di kawasan Asia Tenggara dalam meningkatkan kemampuan laboratorium pengawasan pangan adalah dengan memperkecil nilai limit of detection (LOD) pada alat laboratorium yang digunakan untuk mendeteksi keberadaan zat yang dilarang menurut peraturan.
Gambar 21. Pendapat Responden Mengenai Faktor yang Perlu Dipertimbangkan dalam Perumusan Standar
Gambar 21 memperlihatkan bahwa sebagian besar responden menyatakan bahwa faktor perdagangan, kesehatan, kesiapan teknologi, gizi, dan lingkungan
sangat penting dan penting diperhatikan dalam perumusan standar. Lebih dari 50% pada setiap faktor, responden menyatakan bahwa faktor-faktor tersebut sangat penting dipertimbangkan dalam perumusan standar. Responden sepakat bahwa faktor utama yang perlu diperhatikan adalah kesehatan (98,28% dari 58 responden).
E. Prinsip Koheren
Prinsip koheren dapat diartikan bahwa standar yang disusun harus memperhatikan standar atau peraturan lain baik yang berlaku di dalam maupun luar negeri. Hal ini untuk menjamin bahwa tidak terjadi tumpang-tindih (overlap) standar atau peraturan di dalam negeri. Selain itu, diharapkan adanya harmonisasi