• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Intrapersonal pada Responden II (Sanny)

HASIL ANALISA DATA

2. Analisis Intrapersonal pada Responden II (Sanny)

Tabel 3

Kepuasan perkawinan pada responden II (Sanny)

No Aspek Kesimpulan Konfirmasi Teoritis

1 Latar belakang •Sanny anak kedua dari sembilan bersaudara. Kesemua saudara Sanny telah berkeluarga dan bekerja. Kedua orangtua Sanny telah meninggal dunia.

•Sanny menikah dengan wanita yang diperkenalkan oleh kawannya dan Sanny menikah di usianya yang ke 35 tahun.

•Sanny hanya berkenalan dengan wanita tersebut selama 4 bulan dan kemudian memutuskan untuk meminangnya.

•Dari perkawinannya, Sanny dikaruniai 2 orang putri dan 1 orang putra.

•Sanny telah pensiun, namun saat ini ia menjadi pimpinan sebuah sekolah tinggi swasta

2 Kepuasan perkawinan sebelum

memiliki anak autis

•Harapan Sanny adalah ingin mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Salah satu cara untuk mencapainya adalah dengan membina rumah tangga yang mawaddah warahmah

•Sanny merasa cukup berat ketika pertama kali membina rumah tangga. Hal ini dikarenakan butuh waktu yang banyak untuk mengenali dan menyesuaikan diri dengan karakter pasangan

•Sanny merasa bahagia dengan perkawinannya. Hal ini dikarenakan pada saat ia membina rumah tangga ia memiliki pekerjaan dan memiliki anak. Bagi Sanny keduanya adalah sumber kebahagiaan baginya di dunia ini.

• Menurut Hughes & Noppe

(1985), kepuasan perkawinan yang dirasakan

oleh pasangan tergantung pada tingkat dimana mereka merasakan perkawinannya tersebut sesuai dengan kebutuhan dan harapannya.

• Menurut Hughes & Noppe

(1985), kepuasan perkawinan yang dirasakan

oleh pasangan tergantung pada tingkat dimana mereka merasakan perkawinannya tersebut sesuai dengan kebutuhan dan harapannya.

3 Reaksi terhadap diagnosa autisme a.Lega b.Kehilangan c.Mencari infromasi

•Sanny merasa terkejut karena tidak mengetahui dan tidak siap menerima anaknya hadir dengan kondisi autisme

•Sanny dan istrinya juga merasa terpukul dengan kondisi Rahmat yang autis

•Keterbatasan informasi dan pengetahuan membuat Sanny tidak menangani anaknya secara serius. Namun setelah berbagai informasi ia peroleh, akhirnya Sanny mulai menangani anaknya secara intensif

Sanny sempat tidak menganggap serius kondisi anaknya yang autis. Tapi, setelah Sanny menemukan berbagai informasi akhirnya ia merasa lega dan mulai mencari bantuan ahli.

Sanny juga memiliki harapan terhadap anaknya yang autis, yaitu di usia sekolah, ia dapat bersekolah, tapi keinginan tersebut tidak dapat terwujud.

Sanny dan istri berusaha mencari informasi.

Dalam menerima kehadiran anak dengan gangguan autisme, beragam hal terjadi pada diri orangtua. Orangtua biasanya stres, kecewa, patah

semangat, mencari pengobatan keman-mana,

serba khawatir terhadap masa depan anaknya dan lain-lain (Widihastuti, 2007). 4 Kepuasan perkawinan setelah memiliki anak autis Communication a.Opennes b.Honesty c.Ability to trust

•Komunikasi antara Sanny dan istri menjadi terganggu.

•Ada kebahagiaan bagi Sanny ketika ia dapat berkomunikasi dengan istrinya.

•Sanny merasa bahwa ia menjadi sosok yang lebih terbuka.

Ia merasa menjadi pribadi yang lebih jujur terhadap istrinya.

Istri Sanny biasanya akan

•Rice (dalam Hartono, 2006), komunikasi yang dimaksud bukan sekadar berbicara, tapi juga mendengarkan. Bila Anda sudah mulai malas mendengarkan pasangan berbicara, berarti Anda

telah kehilangan komunikasi.

•Menurut Rice (dalam Hartono, 2006), banyak pasangan mengaku, kejujuranlah yang membuat

perkawinan mereka bertahan lama. Memang,

d.Listening skill

e. Empathy

menyelesaikan masalahnya sendiri, bila ia dapat mengatasi hal

tersebut seorang diri, termasuk masalah yang berkenaan dengan Rahmat. Sanny pun memberikan dukungan paa istrinya.

Sanny merasa senang bila istrinya mau banyak bercerita padanya, terutama mengenai perkembangan Rahmat.

Semenjak Rahmat Hadir, Sanny menunjukkan sikap empati dengan mengajak keluarganya rekreasi atau membantu istrinya dalam pekerjaan rumah tangga.

mengakui dengan jujur kesalahan dan kekhilafan, tak jarang pahit didengarkan, tapi kejujuran akan menyelamatkan hubungan.

•Rasa percaya, empati dan saling mendengarkan serta mendukung menyebabkan

adanya kepuasan perkawinan. (Laswell,

1999).

5 Leisure Activity Aktivitas waktu luang menjadi berkurang. Hal ini dikarenakan butuh waktu yang panjang untuk membawa Rahmat berekreasi.

Skolnick (dalam Lefrancois, 1984) salah satu hal yang mempengaruhi kepuasan perkawinan ialah saling menikmati waktu bersama. 6 Religious

Orientation

Kondisi Rahmat yang autis menjadi kendala dalam melaksanakan ibadah. Kebiasaan shalat malam yang mereka lakukan menjadi tidak menentu karena jam tidur Rahmat yang tidak tentu pula.

Olson & Fowers (dalam Saragih, 2003) seseorang

memiliki keyakinan beragama, dapat dilihat dari

sikapnya yang peduli teradap hal-hal keagamaan dan mau beribadah. Umumnya, setelah menikah individu akan lebih memperhatikan kehidupan beragama dengan membiasakan diri beribadah dan melaksanakan ajaran agama yang mereka anut. 7 Conflict

Resolution

Konflik tetap terjadi, hanya sifatnya lebih kepada kepedulian terhadap pengasuhan anak. Untuk mengatasi hal ini Sanny dan istrinya membicarakan jalan keluar yang terbaik.

•Menurut Skolnick (dalam

Lefrancois, 1984) diperlukan adanya keterbukaan pasangan untuk memecahkan masalah untuk mendapatkan solusi terbaik.

•kehadiran anak autis ini juga dapat mempererat hubungan diantara

suami-istri, karena mereka berdua dapat bersama-sama berusaha untuk menerima keadaan anak mereka dan mengambil hikmah dari kehadiran anak autis di

dalam kehidupan perkawinan mereka (The

Impact of Autism On The Family, 2006).

8 Financial Management

Kendala yang dihadapi adalah biaya yang besar untuk kebutuhan Rahmat.

Olson & Fowers (dalam Fournier, 1983) kepuasan perkawinan dipengaruhi bagaimana menilai sikap dan cara pasangan mengatur keuangan.

9 Sexual

Orientation •Ekspresi kasih sayang

ditunjukkan Sanny kepada istrinya melalui humor.

•Aktivitas seksual biasanya dilakukan rutin 1 kali seminggu. Walaupun demikian, hal ini tetap dilakukan dengan melihat situasi dan kondisi.

Menurut Olson & Fowers (dalam Fournier, 1983), pasangan mencapai kepuasan perkawinan ketika pasangan dapat mencapai kepuasan seksual.

10 Family and

Friends

Hubungan pertemanan Sanny terganggu dan menjadi terbatas semenjak hadir Rahmat. Dengan kondisi Rahmat yang autis, dukungan moral lah yang banyak diberikan oleh keluarganya.

Pusponegoro dan Solek (2007) mengatakan bahwa, penanganan anak-anak seperti anak dengan gangguan autisme tidak hanya melibatkan orangtua, tetapi juga

saudara-saudaranya, keluarga penderita dan orang-orang di

lingkungan keluarga. 11 Children and

Parenting •Peran Sanny dalam pengasuhan Rahmat dirasakan kurang karena ia dengan istri dan anak-anaknya lebih banyak tinggal terpisah bahkan setelah Rahmat didiagnosa autis. Setelah tinggal bersama, Sanny berharap agar ia bisa memberikan perhatian yang lebih besar kepada Rahmat

•Menurut Sanny, ayah dari seorang anak autis harus berperan besar.

•Orangtua harus mengetahui arah dan periode perkembangan anak mereka yang berbeda dari anak normal. Kedua orangtua diharapkan untuk saling membantu agar kemajuan anak dapat terlihat lebih baik Pusponegoro dan Solek, 2007).

•Menurut Skolnick (dalam

•Sanny memiliki harapan agar Rahmat bisa sembuh. Sempat terpikirkan oleh Sanny untuk menjadikan Rahmat seorang penghapal Al-qur’an atau olahragawan.

•Untuk mewujudkan harapan tersebut, Sanny membiasakan Rahmat untuk membaca doa-doa tertentu. Sedangkan keinginan Sanny untuk menjadikan Rahmat seorang olahragawan, belum ada usaha yang dilakukannya.

umumnya setelah menikah Orangtua akan mengajarkan dasar-dasar dan nilai-nilai agama yang dianut kepada anaknya dan membiasakan diri beribadah dan melaksanakan ajaran agama.

•Menurut Papalia (2006), Otoriter: gaya pengasuhan yang menekankan kontrol dan kepatuhan

12 Personality Issue Semenjak hadirnya Rahmat, Sanny merasa istrinya menjadi pribadi yang lain. Istrinya sering mudah terpancing emosi dan menunjukkan emosi yang berlebihan.

Dalam menerima kehadiran anak dengan gangguan autisme, beragam hal terjadi pada diri orangtua. Orangtua biasanya stres, kecewa, patah

semangat, mencari pengobatan keman-mana,

serba khawatir terhadap masa depan anaknya dan lain-lain (Widihastuti, 2007).

13 Egalitarian Role •Sanny beranggapan bahwa peran dan tanggung jawab antara ia dan istrinya ikut terpengaruh. Hal ini perlu disikapi dengan agama saja.

•Sanny berharap agar istrinya dapat meningkatkan ibadahnya, peduli dengan lingkungan sekitar dan lebih sabar dalam menghadapi berbagai persoalan.

•Sanny berharap agar istrinya lebih memahami kondisinya yang sudah pensiun.

Menurut Sadli (Anggraini,

1995) perkawinan merupakan perpaduan dan

interaksi antara dua orang atau lebih yang masing-masing mempunyai peranan sendiri-sendiri sebagai suami istri.

14 Gambaran kepuasan perkawinan responden

Sanny merasa bahagia dan puas dalam hubungan perkawinannya dengan tetap memperbaiki kekurangan diri dan saling mengkoreksi.