• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL ANALISA DATA

1. Deskripsi identitas diri responden II

Tabel 1

Gambaran Umum Responden II

Keterangan Responden II (Sanny)

Nama samaran Sanny

Usia 58 tahun

Agama Islam

Suku Bangsa Aceh

Pendidikan terakhir S2 magister manajemen

Pekerjaan Pensiunan dan sekarang

menjadi pimpinan sekolah swasta

Lama berumah tangga 23 tahun

Jumlah anak 3 orang

Anak I (21 tahun) Anak II (19 tahun) Anak III (12 tahun) Anak ke berapa yang autis.... dari.... 3 dari 3

Jenis kelamin anak yang autis Laki-laki

Sebelum menikah Berkenalan selama 4 bulan

Usia pasangan 49 tahun

Pendidikan pasangan S1 sastra sejarah Pekerjaan pasangan Pegawai Negeri Sipil

a. Latar Belakang Responden II (Sanny)

Sanny adalah anak kedua dari sembilan bersaudara. Ia memiliki 1 orang kakak, 1 orang adik laki-laki dan 6 orang adik perempuan. Adik laki-laki, adik perempuan dan kakak Sanny telah berkeluarga dan bekerja. Sanny merupakan keturunan suku Aceh. Sanny tidak memiliki orangtua lagi, karena kedua orangtua Sanny telah meninggal dunia. Ayah Sanny telah meninggal sekitar 13 tahun yang lalu dan ibu Sanny telah meninggal sekitar 3 tahun yang lalu.

Sebelum menikah, Sanny telah bekerja di Otorita Pelabuhan Bebas Sabang. Sanny menikah dengan seorang wanita yang diperkenalkan oleh temannya yang merupakan abang ipar dari Darni (bukan nama sebenarnya). Ketika menikah Sanny berusia 35 tahun sedangkan istrinya berusia 26 tahun. Sanny berkenalan selama 4 bulan dengan Darni dan kemudian memutuskan untuk meminangnya.

Dari hasil perkawinan mereka lahirlah dua anak perempuan yang diberi nama Rana dan Imza (bukan nama sebenarnya) dan 1 orang anak laki-laki yang diberi nama Rahmat. Saat ini Rana berusia 21 tahun dan sedang kuliah, sedangkan Imza berusia 19 tahun juga sedang kuliah dan Rahmat berusia 12 tahun saat ini masih mengikuti terapi wicara di rumahnya. Usia pernikahan Sanny saat ini telah berjalan sekitar 23 tahun. Saat ini, keseharian Sanny adalah sebagai pimpinan sebuah sekolah swasta bernama Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Sabang di Banda Aceh.

b. Hasil observasi

Secara fisik Sanny memiliki tinggi badan sekitar 172 cm dan berat badan sekitar 75 kg. Ia memiliki warna kulit sawo matang, tidak berambut (botak) pada bagian depan kepala dengan rambut sedikit keriting pada bagian belakang kepala, matanya bulat besar, hidung yang besar dan mancung, dan susunan gigi cukup rapi.

Keseluruhan wawancara dilakukan di rumah Darni. Wawancara dilakukan di ruang tengah yang kira-kira berukuran 4 x 6 m. Ruangan ini dijadikan tempat wawancara karena ruangan ini nyaman untuk dijadikan tempat wawancara dan tempat ini yang disepakati dengan itee menjadi tempat dilaksanakan wawancara.

Pada wawancara yang pertama, Sanny memakai baju berbahan katun berwarna hijau tua yang dipadu dengan kain sarung. Sebelum wawancara dimulai, terlebih dahulu peneliti berbincang-bincang sebentar dengan Sanny untuk mencairkan suasana dengan menanyakan mengenai perkembangan Rahmat anaknya yang autis. Peneliti dan Sanny juga saling menanyakan kabar dan bertukar cerita. Tak lama, wawancara pertama pun dimulai, tak lupa peneliti meminta izin kepada Sanny untuk menggunakan alat perekam (tape-recorder) selama wawancara berlangsung.

Peneliti dan Sanny duduk berhadapan di bawah beralaskan sebuah tikar kayu berwarna cokelat tua. Sanny merasa cukup nyaman dan bebas dalam mengatur posisi duduknya. Pada saat wawancara pertama berlangsung peneliti menanyakan mengenai kehidupan perkawinan Sanny di awal-awal perkawinan sampai

akhirnya ia memperoleh anak yang didiagnosa autis. Sanny cukup terbuka dengan peneliti, hal ini ditunjukkan dengan jawaban-jawaban yang diutarakan Sanny terucap secara lancar. Selama proses wawancara Sanny sangat jarang melakukan kontak mata dengan peneliti, bahkan bisa dibilang Sanny lebih banyak memejamkan mata dan menjepit hidungnya serta melap hidungnya dengan tisu karena kebetulan pada saat itu Sanny sedang dalam keadaan sakit flu. Tidak ada hal yang mengganggu selama proses wawancara berlangsung hingga wawancara selesai.

Ketika peneliti bertanya mengenai perasaan Sanny ketika hadir anak autis di dalam kehidupan rumah tangganya, Sanny terlihat sering menatap ke bawah ketika ia sedang bercerita. Sanny juga banyak menatap ke atas (menerawang) ketika ia menceritakan tentang masa lalunya dan tentang kondisi Rahmat pada saat awal-awal didiagnosa menderita autisme.

Pada wawancara kedua, peneliti menanyakan lebih lanjut mengenai kehidupan masa kecil Sanny sampai sebelum ia memutuskan untuk menikah. Selanjutnya peneliti menanyakan lebih lanjut mengenai kehidupan perkawinan Sanny lebih lanjut setelah ia dikaruniai anak hingga ia dihadirkan anak dengan kondisi autisme. Pada saat wawancara Sanny mengenakan baju berbahan kaos berwarna hijau tua dan kain sarung berwarna hijau tua. Sanny terlihat biasa saja ketika menceritakan tentang masa lalunya, hal ini ditunjukkan dengan pada saat berbicara Sanny berbicara dengan volume suara datar dan menurunkan intonasi suara serta lebih banyak bersandar pada dinding.

Meskipun wawancara hanya dilakukan sebanyak 2 kali pertemuan, namun sebelum berlangsungnya wawancara, rapport awal telah dilakukan terlebih dahulu. Hal ini dikarenakan peneliti dan responden telah sangat mengenal satu sama lain sejak lama. Responden merupakan salah satu orangtua murid dari sebuah tempat terapi bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus dimana peneliti sering menghabiskan waktu di tempat tersebut dengan melakukan interaksi secara verbal dengan beberapa orangtua murid yang sedang menunggu anak-anak mereka hingga selesai menerima terapi.

Waktu Wawancara Sanny Responden Hari/Tanggal wawancara Waktu

wawancara

Tempat wawancara

Sanny Rabu/19 Februari 2009 20.00-22.00 WIB Rumah Itee Sanny Selasa/17 Maret 2009 20.00-21.00 WIB Rumah Itee

c. Data Hasil Wawancara

1). Kepuasan perkawinan Sanny sebelum memiliki anak autis

Kehidupan perkawinan Sanny dirasanya telah diatur oleh Allah SWT. Usia yang berbeda jauh dengan istrinya walaupun dari etnis yang sama tidak menghalangi ia dan istrinya untuk membina keluarga. Sanny menambahkan bahwa cukup berat perasaan yang dirasakan ketika pertama kali membina rumah tangga dan butuh waktu untuk mengenali dan menyesuaikan diri dengan karakter dari masing-masing pribadi.

Ya inilah memang… kadang-kadang sudah.. kan semua diatur oleh Allah SWT. Apalagi saya dengan istri beda umur yang sangat jauh… 9 tahun gitu, perbedaan umur, perbedaan... walaupun sama-sama etnis Aceh.. tapi perbedaan kedudukan dalam keluarga... saya anak ke 2 sedangkan istri saya anak bungsu, kejadian ini memang membutuhkan perhatian yang khusus gitu. Jadi tidak mudahlah, jadi mungkin karna berlandaskan agama jadi segala sesuatu itu bisa diatasai, walaupun namanya juga baru nikah, tapi ya lama-lama kita bisa melakukan hubungan silaturrahim dalam rumah tangga bisa lebih bertanggung jawab, ya... tapi kan banyak contoh dari orangtua-orangtua kita dulu, dijodohkan juga tapi tetap bisa langgeng sampai sekarang. Ya syukur alhamdulillah sampai sekarang belum ada masalah-masalah yang gimana, ...masih bisa... masih bisa... dijalani dengan baik

(R2, W1,/42./b.189-208/hal.7-8)

Perasaannya memang berat... ya... karena kita masih belum tau sama sekali tentang masing-masing. Ya kita harus kerja keras, ...untuk mengenali pasangan. Begitu juga pasangan kita..., ya ini sebenarnya membutuhkan waktu. Apalagi waktu pindah ke Banda Aceh harus kos, ya tahun 1986-1987 itu... walau dari segi finansial ya cukup dan memadai, karena kerja di Departemen Keuangan, tapi dari segi hubungan...., ya seperti saya katakan sebelumnya butuh waktu untuk mengenali dan menyesuaikan diri

Kehidupan perkawinan Sanny yang dirasanya berat di awal-awal perkawinan tidak membuatnya merasa tidak bahagia dengan perkawinannya. Bagi Sanny perkawinan yang dijalankannya yang sudah mencapai 23 tahun ini telah membuatnya merasa bahagia. Hal ini dikarenakan ia telah memiliki pekerjaan dan anak-anak. Baginya keduanya merupakan sumber kebahagiaan dalam hidupnya.

Bahagia ya... karena memang saat itu saya ya ada pekerjaan, punya anak. Gejolak itu memang bagian dari kita menjalani rumah tangga. Kalau kita pikir, mmm... kalo nggak bahagia ya nggak mungkin lanjut sampe sekarang.... dah 23 tahun ya lebih kurang... (tersenyum).

(R2, W1,/46./b.456-460/hal.16)

Bagi saya pekerjaan dan anak-anak adalah dua kebahagiaan yang penting dalam hidup saya di dunia ini.

(R2, W1,/46./b.464-466/hal.16)

2) Reaksi saat anak didiagnosa autisme

Anak Sanny yang ketiga, yang kebetulan anak laki-laki satu-satunya di dalam keluarga didiagnosa menderita autisme. Pada awalnya, Sanny merasa terkejut dengan kondisi tersebut. Hal ini dikarenakan ketidaktahuan dan ketidaksiapan menerima hadirnya anak dengan kondisi autisme dalam kehidupan rumah tangganya. Selain itu, karena keterbatasan pengetahuan dan informasi tadi membuat Sanny tidak begitu antusias dalam menangani anaknya yang mengalami gangguan autisme. Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, kini akhirnya Sanny menyadari kekeliruannya tidak sejak dulu menangani anaknya tersebut secara intensif. Namun sekarang, Sanny tetap mengusahakan beragam cara untuk membantu penyembuhan Rahmat, walaupun menurut Sanny memang pada awalnya Sanny dan istrinya merasa terpukul.

Memang itulah kelemahan kita, ya waktu itu kita nggak tau apa itu autis, jadi pada waktu itu sekitar taun ’97 an, ’98 lah jadi sudah sekitar 12 taun lalu itu, kita pengetahuannya tentang autisme terbatas sekali. Kita waktu mendengar kabar tersebut, terkejut ya... terkejut karna kita juga nggak tau gimana itu, apakah anak itu cuman ada kelainan sedikit lalu ya bisa sembuh dalam waktu tertentu. Kebetulan waktu diagnosa itu, dokter spesialis itu yang nyarankan ke tempat terapi itu untuk belajar. Kebetulan waktu itu kita baru aja dipindahin dari daerah makanya susah nyari tempat. Padahal waktu masih di Jakarta, ....ya lumayan banyak ada tempatnya, cuman ya kita terus nyari buku-buku yang berhubungan dengan autisme juga. Tapi ya waktu itu masih terbatas juga,

apalagi waktu itu kemauan yang besar untuk berusaha itu dirasa masih kurang. Waktu di Jakarta itu memang masih terbatas tempat-tempat dan informasi-infromasi tentang autis, trus saran dari dokter spesialis itu ya bersabarlah dalam menunggu giliran untuk diterapi, karna memang jumlah anak yang menderita autisme itu lagi banyak-banyaknya waktu itu, untuk agak bisa terus... ya jam terapinya agak sulit, ya mesti nunggu giliran. Waktu itu nunggu gilirannya lumayan lama lah. Sekarang ya baru kita sadari, kalau waktu kecil itu ditangani lebih cepat... pasti ya akan lebih mudah untuk sembuh sekarang ini, ya sulit sih. Sekarang karna kebetulan udah besar trus ya apa namanya.... kriteria-kriteria itu anak dengan autisme lengkap dengan anak saya. Tapi karna kita orang yang beragama jadi lebih banyak berdoa minta jalan keluarnya. Selain itu dibawa juga ke tempat guru-guru agama minta untuk di bantu doakan

(R2, W1,/104./b.668-705/hal.23-24)

Walaupun kita merasa terpukul, tapi kita harus pelihara amanah Allah tersebut.

(R2, W1,/110./b.735-743/hal.25)

Sanny mengatakan bahwa terkadang muncul ketakutan pada diri Sanny akan bagaimana Rahmat ke depannya, mengingat kemampuan Rahmat yang masih sangat terbatas di usianya yang sekarang. Tapi, seiring berjalannya waktu, Sanny mencoba untuk pasrah menerima kondisi Rahmat dan meyakini bahwa Allah punya rencana yang indah untuk Rahmat. Selain itu, Sanny juga merasa kehilangan karena ia memiliki keinginan walaupun Rahmat memiliki keterbatasan, namun di usia sekolah iatetap dapat bersekolah.

Mungkin terkadang iya ya. Kan belakangan ini saya sering sama Rahmat,. Saya suka mikir gitu, dia dah umur segini, masih belum bisa….. yang gampang-gampang aja belum bisa dia buat. Gimana lah nanti dia kalo dah besar lagi. Kami-kami ini kan dah tua, kakak-kakaknya juga nanti kan akan menikah, saya takut gitu gimana dia kedepannya. Cuman belakangan ini, saya dah lebih pasrah lah sama Allah, Allah dah tau jalan yang terbaik buat Rahmat. Sekarang saya cuma berusaha melempangkan jalan menuju ke sana aja lah…..

(R2, W2,/75./b.320-331/hal.8-9)

dulu saya berpikir, dengan keterbatasan kemampuan dia, ....di usia sekolah, dia tetap bisa sekolah di sekolah umum, tapi karna sekarang sudah begini, saya jadi pasrah sama Allah.

3). Kepuasan perkawinan Sanny setelah memiliki anak autis

Kehidupan rumah tangga yang dijalani Sanny semenjak hadirnya anak dengan kondisi autisme menjadi terganggu. Menurutnya, harmonisasi dalam keluarga menjadi terganggu dan interaksi dengan lingkungan jadi terbatas.

Ya sebenarnya ada anak autis ini konsentrasi dan sosialisasinya terganggu jadi ya butuh perhatian khusus, jadi ya pasti terganggu kehidupan rumah tangga saya dan harmonisasi rumah tangga, karena waktu kita itu lebih banyak ke dia. Karna kita jadi terbatas berinteraksi ke lingkungan secara bebas. Ya mesti mendapat perhatian khusus....

(R2, W1,/106./b.709-716/hal.24-25)

Menurut Sanny, kehadiran anak dengan gangguan autisme menjadi pengganggu harmonisasi dalam sebuah kehidupan rumah tangga bergantung pada bagaimana kedua pasangan menyikapi hal tersebut.

.... Ya sekarang tinggal gimana yang harus kita lakukan, apakah kita sikapi dengan emosional, atau menganggapnya sebagai sesuatu yang sudah dikehendaki oleh Allah, makanya ya kita harus menerima karena sakit yang diberi Allah maka Allah pula yang akan menyembuhkannya.

(R2, W1,/106./b.716-722/hal.25)

Setelah kehadiran Rahmat dengan kondisi autis, Sanny mengatakan bahwa komunikasinya dengan istri menjadi terganggu. Hal ini ditunjukkan dengan terbatasnya konunikasi yang terjalin dikarenakan butuh waktu yang lebih banyak dalam menjaga Rahmat. Asalkan tetap bisa berkomunikasi dirasa Sanny hal ini tidak menjadi masalah.

Ya tetap ada terganggu, karena komunikasi kita kan sudah terbatas karena harus menjaga anak dan sebaginya, butuh waktu yang banyak buat memperhatikan Rahmat, ... tapi ya alhamdulillah memang masih dalam tahap sewajarnya lah, masih tetap bisa komunikasi, ngomong.... bicarain apa yang mesti dibicarain. Asalkan kita tetap bisa terus berkomunikasi, saya rasa nggak ada masalah sih...

(R2, W1,/108./b.728-732/hal.25)

Sanny mengatakan bahwa ia merasa bahagia ketika dapat berkomunikasi dengan istrinya, karena pada saat itu alat komunikasi yang biasa mereka pergunakan hanyalah telepon rumah dan surat. Semenjak kehadiran Rahmat dengan kondisi autisme, Sanny merasa bahwa dirinya mejadi lebih terbuka dan

jujur terhadap istrinya. Sanny juga mengatakan kalau dirinya memberikan kepercayaan penuh kepada istrinya untuk mengurusi keperluan Rahmat ataupun ketika ada masalah yang berhubungan dengan Rahmat.

Ya senang sekali ya…. sama lah kayak sebelum-sebelumnya. Masalahnya cuma satu ini aja lah…. saya ini tinggalnya pisah ma ibu dan anak-anak, jadi memang kalo mau komunikasi tu susah. Walaupun waktu itu dah banyak yang pake hp, tapi kami masih pake telpon rumah atau surat lah buat nanya kabar atau ada keperluan apa gitu

(R2, W2,/77./b.336-343/hal.9)

Memang gitu ya. Saya ngerasa kalau saya itu jadi lebih terbuka dan jujur sama ibu. Kalau nggak gitu kan susah. Mana ada anak dengan kebutuhan istimewa yang Allah titipkan, kan mesti kita jaga dia.... Susah nanti kalau kita nggak saling terbuka danjujur sama pasangan. Bisa-bisa ntar berantem lagi karena dikirain yang nggak-nggak (tersenyum). Urusan pasangan kita jujur atau nggak itu mah urusan belakangan, yang penting kita jujur.... ya kan

(R2, W2,/79./b.345-354/hal.9)

Ya jelas ya masih. Kan ibu yang lebih banyak ngurus Rahmat, jadinya kalau ada perlu-perlu ma Rahmat atau ada masalah gitu yang berhubungan sama Rahmat, biasanya kalau ibu bisa atasin sendiri, dia.... ya atasi duluan

(R2, W2,/81./b.358-362/hal.9)

Sanny menambahkan bahwa kondisi Rahmat yang autis membuatnya lebih dapat menunjukkan sikap empati terhadap istrinya dengan cara mengajak istri dan anak-anaknya berekreasi ataupun membantu pekerjaan rumah. Sanny pun merasa senang bila istrinya mau menganggapnya sebagai pendengar yang baik bagi dirinya, terutama mengenai perkembangan Rahmat. Walaupun kini ada Rahmat dengan kondisi autisme, Sanny tetap menjadikan istrinya sebagai salah satu pihak yang dapat ia mintai saran dan masukan jika ia sedang mengalami masalah.

Paling waktu saya pulang aja, saya ajak rekreasi, kemana gitu. Atau bantu-bantu lah sikit di rumah, ntah ngapain... buat ngeringanin kerjaannya ibu aja (R2, W2,/83./b.366-369/hal.9)

Ya haruslah... kan kalau saya dan ibu bisa berbagi saya bisa ngeringanin pikirannya ibu juga. Lagian dengan ibu banyak cerita ke saya, saya kan jadi tau gimana perkembangannya Rahmat.

Kalau sekarang sih, kami banyak diskusi ya tentang Rahmat, apa yang mesti kami lakukan buat Rahmat, biar dia....eee.... mandiri lah minimal

(R2, W2,/85./b.373-381/hal.9-10)

Tetap ya, kan kita ini satu keluarga, jadi ya... mesti saling cerita, supaya kita dapat masukan dan saran. Kan kalo kita bisa sharing jadi lebih baik ntar keputusan yang diambil

(R2, W2,/87./b.384-387/hal.10)

Semenjak kehadiran Rahmat, waktu rekreasi bisa dibilang berkurang. Yang menjadi kendala adalah butuh waktu yang lama dan panjang untuk membawa Rahmat mendatangi tempat-tempat rekreasi. Apalagi semisal pantai, Rahmat sangat menyukai air dan kalau sudah bermain air pasti akan menghabiskan waktu yang tidak singkat.

Ya berkurang, sebenarnya ada misalnya waktu bawa dia ke pantai, tapi ya... memerlukan waktu khusus, karena kalau dia main di laut itu, senang sekali dan mau berlama-lama. Nggak bisa kita cuma sebentar di sana, mesti lama, dia senang sekali dengan air, wakalu liat air rasanya... gimana gitu dia

(R2, W1,/116./b.777-783/hal.26-27)

……Setelah Rahmat didiagnosa autis, memang saya akui... jarang memang kami rekreasi. Biasanya .... kendalanya waktu ya, saya sekarang banyak kesibukan di luar, kadang Sabtu dan Minggu saya mesti ngajar, jadi agak terhambat juga buat jalan-jalan dengan keluarga sama-sama. Anak saya yang dua, kakaknya Rahmat juga kuliah di luar Aceh jadi susah buat sama-sam pigi rekreasi. Sebenarnya sih harusnya sering bisa bawa Rahmat jalan-jalan, cuma kadang dah kecapean ngurus Rahmat

(R2, W2,/53./b.197-207/hal.6)

Kehadiran Rahmat dengan kondisi autisme menjadi sedikit kendala dalam pelaksanaan kegiatan keagamaan. Waktu tidur Rahmat yang tidak menentu, membuat Sanny dan istrinya sulit untuk memenuhi kebiasaannya yang sering shalat malam. Termasuk juga kegiatan-kegiatan keagamaan lain, jadi terbatas, menurut Sanny hal ini membutuhkan pengertian dan penyesuaian. Kendala lain muncul dalam hal pengelolaan keuangan karena memerlukan banyak pengeluaran untuk kebutuhan Rahmat.

Iya juga sih, apalagi kalau misalnya kita harus jaga dia sampai larut malam, pasti ya susah kalu mau bangun tuk ibadah malam. Misalnya juga pengajian, ya ga bisa ikut dua-duanya, paling ibu tinggal dengan rahmat, kalo saya sih tetap ikut pengajian. Ya tapi sayang si ibunya sih karena memang terganggu

kegiatan ibu, apalagi yang ibu seharusnya ikut jadi nggak bisa ikut. Tapi ya untungnya sekarang sudah ada yang jaga, ya jadi lumayan agak terbantu la. Ibu sih lebih banyak di rumah. Jadi saya lebih banyak waktu untuk ikut, misalnya saya diminta untuk jaga Rahmat, ...jadi ya ga usah ngaji dulu, kata ibu, ...ya kalo kayak gitu terganggu sih kegiatan keagamaan, pengajian saya. Walaupun kadang-kadang saya juga nggak ngaji karena istri benar-benar mau istirahat, atau misalnya karna lagi benar-benar nggak enak badan, mau nggak mau ya jadi saya yang menjaga Rahmat

(R2, W1,/118./b.786-804/hal.27)

Memang ada kendala pastinya dalam mengelola keuangan, memang banyak sih pengeluaran untuk si Rahmat, ...tapi kita prinsip bahwa ada yang menjaga dan membimbing Rahmat, berapapun biayanya ya akan kita keluarkan

(R2, W1,/120./b.808-812/hal.27)

Sanny menambahkan bahwa konflik tetap terjadi setelah kehadiran Rahmat, namun sifatnya saja yang berbeda dan satu-satunya cara untuk menyelesaikannya adalah dengan membicarakannya.

Sebelum ada Rahmat konflik yang muncul sifatnya internal, prbadi masalah saya dengan istri, ya lebih kepada konflik perbedaan pendapat, cemburu, dan lain sebagainya. Ya penyebabnya macam-macam, salah paham, cemburu..., walaupun menurut saya sih cemburu itu bagus karena dengan adanya cemburu berarti kita kan sayang dan cinta gitu...., jangan kecemburuan karna seperti sebuah ungkapan yang menyebutkan ”love is not complete without jelous but

jelousy is hell of love” tapi setelah hadirnya Rahmat konfliknya berkenaan

dengan kepedulian dengan pengasuhan anak. Karena kurang perhatian timbul konflik. Ibunya merasa kenapa nggak peduli, kan itu sama-sama anak kita. Masalah yang lain mengenai pola pengasuhan, pola perhatian dan pola kesediaan tentang Rahmat ya jadi sangat perhatian. Ya dibicarakanlah....

(R2, W1,/112./b.744-762/hal.25-26)

Sanny mengatakan bahwa ia masih sering mengungkapkan rasa sayangnya kepada istrinya walaupun bersamaan dengan humor. Aktivitas seksual, menurut Sanny masih rutin dilakukan, walaupun hal ini dilakukan bergantung pada situasi dan kondisi kesehatan keduanya.

Masih suka ya kadang-kadang, cuma sih ya... eee.... kadang-kadang sambil becanda aja gitu bilangnya. Jadi mungkin nggak dianggap serius sama si ibu kali (tersenyum)

Kayaknya masih rutin lah kalau sekarang..., mungkin ada 1 kali seminggu. Ya walaupun nggak tentu juga ya. Kan dah tua sekarang ini dan berumur, jadi memang nggak terlalu dipikirkan kali lah masalah ini.

Kadang liat situasi juga, nggak dipaksa lah.... kalau sama-sama sehat dan memungkinkan ya.... eee.... abru dilakukan gitu

(R2, W2,/91./b.397-404/hal.10)

Tanggapan keluarga Sanny dengan kehadiran Rahmat adalah mereka prihatin dengan kondisi ini, walaupun mereka tidak begitu mengetahui mengenai apa itu autisme. Kondisi ini adalah hal baru baik bagi keluarga Sanny maupun keluarga