Analisis isi merupakan metode analisis teks yang telah paling lama mapan di antara metode empiris penelitian sosial lain. Pada dasarnya, istilah analisis isi hanya mengacu pada metode-metode yang memusatkan perhatian pada aspek-aspek isi teks yang bisa diperhitungkan dengan jelas dan langsung dan sebagai sebuah perumusan bagi frekuensi relatif dan absolut kata per teks atau unit permukaan. Konsep tersebut diperluas secara berlanjut yang beroperasi dengan berbagai kategori (sintaktik, semantik, pragmatik), tetapi setidaknya mencoba mengkalkulasi kategori-kategori tersebut dengan survei frekuensi klasifikasi.
A. Asal Muasal Teoretis
Perkembangan analisis isi telah dipengaruhi oleh perkembangan media massa dan oleh perpolitikan internasional. Berelson (1952) dalam karya utamanya yang berjudul Content Analysis in Communication Reaserch, menyatakan bahwa di Amerika Serikat antara tahun 1912 dan 1930 hanya ada 10 atau 15 analisis si yang dilakukan. Aktivitas pertama yang patut dicatat – yang dilakukan terhadap perkembangan di bidang jurnalistik, bioskop, dan radio yang sangat cepat – dilaksanakan pada paruh kedua tahun 1930-an (Silbermann, 1974: 253).
Dasar teoriti langkah pertama menuju analisis-analisis isi adalah model komunikasi massa yang dikembangkan oleh Harold D. Lasswell:
rumus yang dikemukakan Lasswell “yang mengatakan apa kepada siapa dan dengan efek yang bagaimana” (who says what to whom and with what effect) menentukan jalannya penelitian komunikasi massa modern ini.
Kepentingan telah memusatkan komunikator, penerima, dan efek komunikasi pada tempat diasumsikannya terjadi sebuah keterhubungan sebab yang jelas. Dalam rangka menyelidiki interelasi ini, isi atu muatan komunikatifnya harus diperhitungkan secermat mungkin. Lasswell berhasil memapankan metodenya dengan memberikan penekanan pada, di atas nilai-nilai lain, nilai politis yang ada dalam analisis isi.
Perkembangan analisis isi secara mendasar ditandai oleh tiga konferensi. Pada agustus 1941, konferensi pertama yang membahas tentang penelitian komunikasi massa interdisipliner diselenggarakan di Chicago dan dihadiri, antara lain, oleh Harold D. Lasswell, Bernard Barelson dan Paul Lazarsfeld. Dalam konferensi tersebut, tidak hanya istilah ‘analisis isi’ yang ditemukan untuk menamai metode baru ini, namun Lasswell, dalam sebuah presentasinya yang cukup penting, menjelaskan dengan terinci pendekatan dan tujuan analisis isi: semua tanda (sign) dan pernyataan dianalisis dengan tujuan untuk menguji efeknya bagi pendengarnya; hasilnya adalah frekuensi dari simbol-simbol tertentu, intensitas, dan perhitungan dari pengirimnya.
Konferensi kedua diorganisasikan oleh Charles E. Osgood di Allerton House (Monticello, Illinois) 1995. Dalam konferensi tersebut dipresentasikan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Teori-teori baru –
seperti teori informasi yang diajukan oleh Shannon dan Weaver (1949) – dan teknik-teknik analitis yang telah disempurnakan (analisis kontingensi dan analisis asersi evaluatif yang dikemukakan Osgood) bersama dengan
‘Analisis Proses Interaksi’ Bale (1950) menghasilkan sebuah situasi yang di dalamnya analisis isi dipahami sebagai analisis komunikasi dan keasyikannya dengan teks cetak yang secara berangsur-angsur terus menurun.
Pada 1967, konferensi tentang analisis isi ketiga dilaksanakan di Annenberg School di Philadelphia dan di sini dibahas mengenai cakupan metodenya. Ditilik dari sudut pandang teoritis, analisis isi sebelumnya akan dikritisi berdasarkan pandangan bahwa hasil analisis isi harus tetap bersifat ambivalen selama peneliti tidak bersikap terbuka mengenai prosedur penyeleksiannya yang ditetapkan oleh konteks sebagian isi dan oleh tujuan analisisnya.
B. Asumsi Teori Dasar
Di masa-masa awal setelah pencetus penelitian analisis isi, terdapat sebuah model komunikasi stimulus-respons yang tidak diragukan lagi berorientasi behavioris yang mengemukakan bahwa hubungan antara pengirim, stimulus, dan penerima bersifat asimetris. Isi atau muatan dipandang sebagai hasil proses komunikasi yang distrukturkan sesuai dengan rumus klasik Lasswell: “siapa berkata tentang apa, pada saluran mana, kepada siapa, dan dengan efek yang bagaimana” (Lasswell 1946:
37).
Karya semiotik Moris (1938, 1986) mendukung pengakuan bahwa komunikasi terjadi tidak berdasarkan pada stimulus melainkan pada makna yang diletakan padanya dan yang tidak dapat diakses melalui bentuk konkret yang berupa sebuah stimulus. Di sisi lain, analisis isi lebih banyak dipengaruhi oleh model transmisi berita yand diajukan Shannon & Weaver (1949: 7), meski secara jelas ditujukan hanya untuk tataran sintaksis: suatu sumber informasi (pengirim) melalui pemancar (transmitter) menyampaikan berita sebagai sinyal ke arah penerimanyam dan diteruskan ke tujuan akhirnya. Selama proses transmisi terdapat sederet kemungkinan sumber interferensi.
C. Tujuan Metode Analisis Isi
Tujuan yang ingin dicapai oleh metode analisis isi bisa dipahami dengan mengacu pada sederet kutipan berikut, yang disusun sesuai dengan urutan kronoligis:
Analisis isi merupakan suatu teknik penelitian untuk menguraikan isi komunikasi yang jelas secara objektif, sistematis, dan kuantitatif.
(Barelson 1952: 18).
Analisis isi merupakan sembarang teknik penelitian yang ditujukan untuk membuat kesimpulan dengan cara mengidentifikasi karakteristik tertentu pada pesan-pesan secara sistematis dan objektif. (Holsti 1968: 601).
Pengklasifikasian materi simbolis oleh para pengamat yang telah terlatih secara ilmiah yang hendaknya, dengan bantuan dari klasifikasi eksplisit dan kaidah prosedural, mempertimbangkan bagian-bagian dari materi terkstual yang benar-benar berada dalam kategori skema penelitian itu dan yang merupakan karakteristik yang sesungguhnya pada analisis isi yang ada.
D. Kerangka Metode Analisis Isi
Kerangka metode penelitian isi terdiri dari penentuan sampel, unit analitis, kategori dan koding, koding dan reliabilitas, analisis dan evaluasi, dan tipologi prosedur analisis isi.
Herkner (1874: 165), dengan mengikuti Holsti (1968), mengklasifikasikan prosedur analisis isi menurut ciri-ciri berikut: tujuan penelitian, tingkat semiotik, tipe perbandingan, dan pertanyaan penelitian (dengan menggunakan rumus Lasswell). Jika kita mencoba menggabungkan kedua taksonomi tersebut, prosedur analisis isi yang terdapat dalam literatur yang relevan bisa diklasifikasikan berdasarkan tingkat semiotik dan pertanyaan penelitian. (Simak gambar berikut)
E. Analisis Isi Kualitatif
Tahun 1950-an telah berkembang kontroversi tentang strategi penelitian pada analisis isi. Berelson (1952) merupakan orang pertama yang menggabungkan metode dan tujuan analisis isi kualitatif yang telah dikembangkan hingga saat itu dan keduanya berfokus pada perhitungan berdasarkan analisis-analisis frekuensi.
Analisis isi kualitatif yang lebih mutakhir diajukan Mayring (1988) telah meraih popularitas (simak, misalnya, Lamnek 1989: 202f. Mayring 1991) kendati kemandiriannya, bila dibandingkan dengan model klasik, telah dipertanyakan (Lamnek, 1989: 213). Bagi Mayring, proses analisis isi terdiri atas sembilan tahap berikut (Mayring, 1988: 42ff):
Penentuan materi
Analisis situasi tempat asal teks
Pengkarakteran materi secara formal
Penentuan arah analisis
Diferensiasi pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab sesuai dengan teori yang ada
Penyeleksian teknik-teknik analitis (ringkasan, eksplikasi, penataan)
Pendefinisian unit-unit analisis
Analis materi (ringkasan, eksplikasi, penataan)
interpretasi
F. Persamaan dan Perbedaan Dibandingkan dengan Metode Lain
Metode-metode etnografi dan grounded theory juga berurusan dengan kategori-kategori yang berfungsi sebagai kerangka analitis. Namun, tidak seperti metode-metode tersebut, proses pengategorisasian analisis isi mengharuskan kategori-kategorinya ditetapkan dan dioperasionalisasikan
terlebih dahulu. Perubahan skema kategori selama proses koding hendaknya hanya dilakukan dalam keadaan yang sangat mendesak saja.
Sebaliknya, metode etnografi terutama metode grounded theory – mengajukan pengembangan kategori secara induktif (konsep dan indikator) berdasarkan data tekstual.
Selain itu, SYMLOG dan juga semiotik naratif bisa diklasifikasikan sebagai analisis isi semantik-pragmatik. Prosedur-prosedur tersebut akan terlebih dahulu menghasilkan pertanyaan-pertanyaan penelitian yang spesifik dan skema-skema kategori yang berasal darinya. Jika kembali pada definisi analisis isi yang luas, bahkan prosedur-prosedur analisis wacana kritis bisa dipandang sebagai analisis isi yang multidimensi dan multilevel. Dalam kasus apa pun, teknik analisis isi bisa digunakan dalam kerangka analisis wacana kritis.
Metode etnometodologis (MCD, analisis percakapan) jelas berbeda dengan analisis isi karena sepenuhnya meniadakan pengategorisasian data. Perbedaan antara analisis isi dengan pragmatik fungsional dan antara hermeneutika objektif dengan DTA adalah bahwa semuanya memiliki basis serupa.
Etnografi
A. Asal Muasal Teoretis
Akar teoretis metode etnografi ditemukan dalam karya antropologi dan etnologi Bronislaw Malinowski, Franz Boas dan dalam kajian linguistik Edward Sapir. Inti metodologi etnografi adalah reflektivitas fundamentalnya.
Semua penelitian sosial akan didasarkan pada kemampuan manusia dalam melakukan observasi partisipan dan kemampuan merefleksikan observasi tersebut. Dasar epistemologis kebanyakan metode etnografi dikemukakan dalam pendekatan-pendekatan fenomenologis sosial yang dikemukakan Alfred Schutz dan dalam karya Peter Berger dan Thomas Luckmann (1967).
Dalam bidang linguistik, John Gumperz dan Dell Hymes menyajikan
‘etnografi komunikasi’ atau ‘etnografi bertutur’ dalam sejumlah khusus American Anthropologist (1964), sebagai metode ataupun sebagai teori yang memandang pola-pola komunikatif sebagai bagian dari perilaku dan pengetahuan kultural. Dalam karyanya, Hymes mencoba mengeksploitasi model-model formal linguistik untuk menginterpretasikan perilaku manusia dalam konteks kultural.
B. Asumsi Teoretis Dasar
Teks dan bahasa analisis etnografi dalam konteks budaya: budaya
“merujuk pada sebuah pola makna yang diwariskan secara historis yang diwujudkan dalam simbol, sebuah sistem konsepsi yang diwariskan dan diekspresikan dalam bentuk simbolis yang digunakan oleh manusia sebagai alat untuk mengkomunikasikan, melestarikan, dan mengembangkan pengetahuan mengenai tindakannya terhadap kehidupan” (Geertz, 1973: 89). Oleh karena itu, pola budaya tersebut juga menyediakan berbagai program bagi bahasa dan teks.
Pertanyaan mengenai hubungan antara budaya dan bahasa merupakan titik awal ‘etnografi bertutur’. Tidak bisa dibantah bahwa bahasa itu ada dalam sebuah konteks budaya, namun tetap terbuka kemungkinan mengenai penjelasan hubungannya dengan budaya. Etnografi bertutur mencoba menguraikan mode-mode tuturan menurut cara-cara yang dengannya mode-mode tersebut mengontruksikan dan merefleksikan mode kehidupan sosial dalam masyarakat tutur tertentu (Fitch & Philipsen, 1995: 263).
Etnografi bertutur mencoba mengetengahkan kerangka kerja tempat bisa dilaksanakannya kajian antropologis dan linguistik komunikasi.
Etnografi bertutur memiliki kesamaan dengan pendekatan-pendekatan etnografis tradisional dalam hal ketertarikan kedua macam pendekatan ini untuk memberikan penjelasan secara lengkap tentang makna dan perilaku, yang tertanam dalam sebuah stuktur nilai, tindakan, dan norma yang luas (Schiffrin, 1994: 140).
C. Tujuan Metode Etnografi
Sebuah ciri yang mungkin ada pada semua metode etnografis adalah menginterpretasikan teks berdasarkan latar belakang struktur budaya atau menggunakan teks sebagai alat untuk merekonstruksi struktur budaya tersebut. Menjalankan metode etnografi ibarat berusaha membaca sebuah manuskrip – asing, tidak jelas, penuh elipsis, ketidakruntutan, perubahan-perubahan yang mencurigakan, dan komentar-komentar yang tendensius, namun ditulis tidak dalam bentuk simbol-simbol pengucapan (graphs) konvensional tetapi dalam bentuk contoh-contoh perilaku berwujud yang sementara. (Geertz, 1973: 10).
Dengan demikian, adat tiga karakteristik Deskripsi etnografis:
interpretif, merupakan interpretasi dari apakah sesuatu itu akan ditentukan oleh arus wacana sosialnya; dan penginterpretasian yang dilibatkan tercakup dalam aktivitas untuk coba menyelamatkan apa yang dikatakan oleh wacana seperti itu dari keadaannya yang kacau-balau dan memperbaikinya, sehingga bisa dipahami. (Geertz, 1973: 20).
D. Garis Besar Metode Etnografi
Secara garis besar, ada beberapa sifat khusus dari metode etnografi.
Pertama, penekanan dalam metode etnografi adalah pada pengumpulan data. Dalam pengumpulan data ini, observasi partisipan merupakan metode pengumpulan yang paling penting. Kedua, analisis teks dilaksanakan dalam bentuk pertanyaan yang diajukan mengenai teks yang dianalisis. Cicourel menggunakan analisis wawancara psikiatris (Pittenger dkk., 1960: 210) sebagai contoh yang di dalamnya muncul pertanyaan-pertanyaan berikut:
Apa yang dikatakan masing-masing partisipan? Mengapa dia berkata seperti itu? Bagaimana dia mengatakannya? Apakah dampak yang ditimbulkan perkatannya kepada partisipan lain?
Kapan dan bagaimana materi baru dimasukan ke dalam gambaran itu dan oleh siapa? Apa yang sedang dikomunikasikan di luar kesadaran? (Cicourel, 1964: 172)
Keempat, pertanyaan serupa diajukan oleh hammersley & Atkinson mengenai dokumen yang harus dianalisis:
Bagaimana dokumen itu ditulis? Bagaimana dokumen itu dibaca?
Siapa yang menulisnya? Siapa yang membacanya? Untuk tujuan apa? Pada situasi yang bagaimana? Dengan hasil seperti apa, apa yang perlu diketahui pembaca agar bisa memahami dokumen itu?
(1995: 173)
Kelima, dalam menyelidiki struktur linguistik dari perspektif etnografis, keterlibatan konteks dipandang sebagai sesuatu yang sangat penting karena konteks di sini tidak hanya berarti konteks linguistik dan konteks situasional yang ditetapkan secara lebih sempit, namun juga ekspresi wajah, isyarat, aktivitas tubuh, seluruh kelompok orang yang hadir selama berlangsungnya pertukaran ujaran dan bagian lingkungan tempat orang-orang tersebut melangsungkan kegiatannya (Malinowski, 1966: 22).
E. Kriteria Kualitas
Pada intinya, ada dua argumen berbeda yang saling tarik menarik.
Pertama, penolakan mutlak terhadap kriteria kualitas ilmiah positivis, seperti
validitas, reliabilitas, objektivitas, atau inter-subjektivitas. Kedua, penerimaan dalam hal prinsip terhadap kriteria kualitas tersebut, meski dilakukan pengubahan bentuk guna menyesuaikan dengan objek penelitiannya dan strategi penelitian kualitatif.
Hammersley (1992: 50f) dalam bahasan yang berjudul “bentuk-bentuk yang cerdas dari realisme” menawarkan sebuah adaptasi konsep validitas:
Validitas berarti percaya pada hasil bukannya pada kepastian mutlak.
Realitas dipandang bebas dari opini peneliti.
Realitas sering kali dijelaskan dari berbagai perspektif.
Silverman (1993: 160) termasuk pendukung pendapat yang menyatakan bahwa generalisasi yang sesuai dengan konsep-konsep teoritis lebih tepat dibandingkan sekedar mencoba melakukan penarikan kesimpulan dari kasus-kasus individu tentang populasi yang lebih besar.
Oleh sebab itu, hendaknya dilakukan penentuan sampel teoretis dan kasus-kasus yang ada hendaknya diseleksi tidak berdasarkan latar belakang konsep-konsep yang menarik saja.
F. Kesamaan dan Perbedaan Dibandingkan dengan Metode Lain
Metode etnografis umum memperlihatkan kemiripan dengan metode-metode yang berdasar pada grounded theory dan etnometodologi.
Namun, terkait dengan penemuan konsep, grounded theory telah disempurnakan secara lebih terinci. GT berfokus pada pembahasan prosedur koding dan, dengan demikian, bisa dipandang sebagai pelngkap bagi analisis teks etnografis. Metode-metode etnometodologis berbeda dengan etnografi ditilik dari tujuannya. Pada metode-metode etnometodologi yang menjadi perhatiannya adalah upaya menemukan pola-pola dan penjelasan rasionalisasi normal bagi anggota dari unit-unit sosial, sedangkan pada etnografi perhatian ditujukan pada penjelasan pola-pola budaya dengan menggunakan konsep-konsep yang tidak digunakan oleh para aktor itu sendiri.
Terdapat perbedaan-perbedaan yang jelas dari semua metode yang mendekati teks dengan menggunakan konsep yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Metode etnografis bahkan juga bekerja dengan menggunakan kategori, namun cenderung bersifat sementara.
Operasionalisasi yang tepat, selektivitas, independensi, dan tanpa ambigu bukanlah kriteria yang harus dipenuhi oleh kategori etnografis, dan kuantifikasi hampir tidak diperhitungkan.
Ditemukan banyak kemiripan yang sangat menarik antara kerangka bertutur etnografi komunikasi, konsep-konsep kerangka grounded theory dan kategori analisis isi yang dikemukakan oleh Holsti dan Berelson sebagai sesuatu yang relevan dengan analisis teks mana pun.