Hermeneutika objektif termasuk ke dalam kelompok prosedur rekonstruktif yang dikarakterisasi oleh gagasan penemuan struktur laten.
Tanpa bergantung pada epistemologi ilmiahnya sendiri, hermeneutika objektif bekerja berdasar pemahaman sehari-hari dan mengembangkannya dengan berdasarkan seperangkat kaidah yang berlaku dengan cara tertentu dan eksplisit. Dalam perkembangnnya, hermeneutika objektif tumbuh dari sebuah prosedur empiris yang berasal dari praktik penelitian dan didasarkan pada pengalaman praktik penelitian seperti itu dan pada rekonstruksinya. (Bohnsack: 69).
Perkembangan Hermeneutika objektif sebagai metode analisis teks dibarengi dengan kebutuhan bagi pengembangan sebuah metodologi baru untuk ilmu-ilmu sosial. Kebutuhan ini berasal dari perluasan domain penelitian sosiologi dalam bidang-bidang yang ditandai oleh keberadaan sebuah subkesadaran sosial. Sebagai ilmu hermeneutika, metode ini melintasi batas yang ditetapkan dalam varian klasiknya, karena varian klasik tersebut terjebak dalam dunia individu dan maksud individu tersebut (his atau her).
A. Asal Muasal Teoretis
Prosedur yang digunakan dalam hermeneutika objktif dikembangkan dari konteks penyelidikan terhadap sosialisasi anak-anak di keluarga-keluarga dengan tujuan supaya bisa menginterpretasikan rekaman interaksi internal dalam keluarga. Masa-masa yang menentukan dalam kajian ini adalah pertanyaan mengenai cara anak-anak untuk bisa berpartisipasi dalam dunia sosial keluarga kendati mereka pertama-tama harus menguasai kompetensi yang penting untuk bisa ambil bagian dalam dunia ini.
Dari hermeneutika, metode ini meminjam gagasan bahwa semua pemahaman itu dikondisikan oleh pengetahuan sebelumnya yang dimiliki interpreter dan bahwa pemahaman itu diperluas melalui interpretasi dan menciptkan kondisi-kondisi baru bagi pemahaman (lingkaran hermeneutika). Apabila dilihat dengan cara seperti ini, kita bisa memandang prosedur analitis berangkai sebagai sebuah kasus khusus dalam lingkaran hermeneutika.
Seperti halnya teori kritis yang dikemukakan Horkheimer dan Adorno, hermeneutika objektif menolak semua model yang mencoba memahami teks dengan menggunakan sistem kategori-kategori yang telah ditetapkan sebelumnya. Hermeneutika objektif juga mengadopsi pernyataan para pemikir zaman Enlightenment (pencerahan) yang akan memperlihatkan bagaimana tindakan itu dibatasi ole dogma, mitos, dan ideologi, dalam kasus pada tataran linguistik.
B. Asumsi Teoretis Dasar
Dalam hermeneutik objektif, muncul pandangan tertentu tentang hubungan antara individu denga masyarakat yang mempertahankan jarak yang sama dari dua kutub yang berlawanan: di satu kutub ada kubu subjektivitas dan di kutub yang lain ada objektivitas-teoretis sosial. Kedua perspektif tersebut tidak dipandang sebagai sebuah yang kontradiktif, namun sebagai dualisme yang memberikan kontribusi bagi penjelasan yang masuk akal tentang perilaku interaktif manusia.
Berdasarkan kaidah yang bisa direkonstruksi, teks interaksi merupakan struktur-struktur makna objektif dan struktur makna tersebut merepresentasikan struktur makna laten dari interaksi itu sendiri. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sebuah teks, begitu diproduksi, merupakan sebuah realitas sosial yang memiliki kaidahnya sendiri dan prosedurnya sendiri bagi rekonstruksinya. Realitas ini tidak bisa ditandakan pada kecenderungan penutur dalam melakukan tindakan dan keadaan psikis mereka maupun realitas psikis batin penerimanya. (Oevermann dkk., 1979: 379).
Sejalan dengan pengertian ini, hermeneutik objektif memahami makna sebagai sebuah struktur sosial objektif yang muncul secara interaktif. Ha ini menyiratkan bahwa makna muncul dalam tindakan yang mutual, dan juga bahwa kontribusi masing-masing partisipan dalam penciptaan makna itu tidak dapat diakses dan derada di luar perhatian peneliti. Dari sinilah lahir kebutuhan selanjutnya untuk memperkenalkan sebuah konsep alam bawah sadar sosial.
Dengan menggunakan gagasan utama latensi (latency), dipertimbangkan bahwa subjek-subjek sosial itu terikat ke dalam konteks tindakan dan berpartisipasi dalam tindakan yang terstruktur maknanya hanya bisa diinterpretasikan secara parsial. Tidaklah terjadi secara kebetulan bila titik awal untuk melaksanakan metode ini berasal dari penelitian dalam sosialisasi.
C. Tujuan Metode Hermeneutik Objektif
Tujuan yang ingin dicapai metode hermeneutik objektif adalah menguak struktur-struktur objektif pada interaksi. Struktur-struktur ini dikarakterisasi bersifat objektif pada interaksi karena beroperasi terlepas dari maksud subjektif para partisipannya. Hal ini mendorong timbulnya kebutuhan untuk memperluas bidang realitas sosial yang bisa dikses secara analitis dengan tataran penentu tindakan, namun bersifat laten.
D. Garis Besar Metode Hermeneutik Objektif
Variasi konteks. Dalam eksperimen tentang pemikiran, variasi konteks berarti upaya menempatkan unit makna untuk dianalisis ke dalam keseluruhan konteks yang bisa dipahami, melalui perbedaan yang dihasilkan dalam makna, struktur makna laten, dn juga kondisi konkret tindakan.
Konteks internal dan eksternal. Oevermann melakukan pembedaan yang tegas antara konteks eksternal dan internal karena konteks-konteks tersebut memainkan peran yang berbeda dalam analisis. Konteks eksternal adalah informasi mengenai situasi tertentu atau peristiwa yang dilaporkan
yang tidak termaktub dalam lapora atau teks yang harus direkonstruksi.
Dengan kata lain, kondisi pragmatik faktual yang menentukan teks dari luar dan membatasi cakupan kemungkinan interpretatifnya. Di sisi lain, konteks internal mengacu pada informasi kumulatif yang berasal dari analisis berangkai. Tipe konteks ini akan dan hendaknya digunakan untuk meniadakan sebagian bacaan yang dihasilkan.
Analisis berangkai. Mode prosedur analisis berangkai sangatlah penting dalam metodologi hermeneutik objektif. Mode ini terdiri atas upaya memecah teks atau materi yang khusus dipilih untuk dianalisis ke dalam unit-unit yang lebih kecil dan kemudian menginterpretasikannya dalam rangkaian. Kemungkinan makna yang diperoleh setelah proses penginterpretasian unit-unit kecil secara prograsif lebih dibatasi selama analisis berlangsung sampai struktur sebuah kasus tertentu menjadi jelas.
Analisis terinci. Memecah teks ke dalam rangkaian yang terpisah-pisah merupakan prakondisi bagi analisis terinci, yang selama dilaksanakannya pemisahan teks tersebut, terdapat prosedur interatif yang ekstentif, dimulai dari unit-unit makna terkecil. Di sini, sebanyak mungkin konteks penghasil makna dikontruksikan dalam masing-masing unit terkecil tersebut. Melalui rangkaian unit-unit tersebut, jumlah kemungkinan konteks berkurang dengan sendirinya selama analisis berlangsung: secara ideal, jumlah kemungkinan tersebut akan mengecil menjadi sebuah konteks tunggal dan dengan demikian kasus yang dianalisis bisa diuraikan dengan jelas.
E. Kemiripan dan Perbedaan Metode Ini Dibandingkan dengan Prosedur dan Metode Lain
Perbedaan antara hermeneutik objektif dengan prosedur-prosedur rekonstruktif lain terutama terletak pada asumsinya mengenai latensi. Hal ini akan menjadikan dasar paling tepat untuk melakukan pembandingan.
Meskipun hermeneutik objektif tidak memandang maksud-maksud subjektif semata-mata sebagai cerminan struktur sosial yang tanpa terasa, namun secara jelas membedakan dirinya dengan metode-metode yang berorientasi fenomenologis sosial yang mencoba mendukung pola mana individu sebagai “proses-proses terstruktur, berorientasi, dan tipifikasi”
(Mathiesen, 1994: 81). Pada jenis analisis ini, struktur sosial objektif, dalam bentuk miliue dan lingkungan dikonsepsikan sebagai sebuah kondisi marjinal yang sangat bertentangan dengan cara yang ditempuh hermeneutik objektif dalam menangani kondisi tersebut.
Dimensi komparatif selanjutnya berasal dari pemisahan yang ketat konteks internal dan ekternal, sebagaimana yang dilakukan oleh hermeneutik objektif. Agar bisa menemukan makna segmen individu, terlepas dari posisinya, para ahli hermeneutik klasik menggali informasi dari teks yang lengkap dan juga menggunakan informasi kontekstual pada sebuah tingkatan yang berbeda.
Bila dibandingkan dengan prosedur analisis isi (seperti SYMLOG) yang menganalisis teks dengan bantuan kerangka kategori yang telah ditetapkan sebelumnyam hermeneutik objektif menjadi metode yang penting berdasarkan persyaratannya untuk melaksanakan analisis dalam
bahasa kasus. Pelanggaran prinsip ini akan menggiring pada sebuah rekonstruksi opini yang telah tertanam pada diri interpreter, bukannya rekonstruksi makna yang laten.