• Tidak ada hasil yang ditemukan

Wacana Theo Van Leeuwen

Dalam dokumen METODE PENELITIAN MEDIA (Halaman 154-159)

Theo Van Leeuwen memperkenalkan model analisis wacana untuk mendeteksi dan meneliti bagaimana suatu kelompok atau seseorang dimarjinalkan posisinya dalam suatu wacana. Bagaimana suatu kelompok dominan lebih memegang kendali dalam menafsirkan suatu peristiwa dan pemaknaannya, sementara kelompok lain yang posisinya rendah cenderung untuk terus menerus sebagai objek pemaknaan dan digambarkan secara buruk. Kelompok buruh, petani, nelayan, imigran gelap, wanita adalah kelompok yang tidak mempunyai kekuatan dan kekuasaan, tetapi juga dalam wacana pemberitaan sering digambarkan secara buruk: tidak berpendidikan, liar, mengganggu ketentraman dan kenyamanan dan sering bertindak anarkis.

Analisis Van Leeuwen secara umum menampilkan bagaimana pihak-pihak dan aktor (bisa seseorang atau kelompok) ditampilkan dalam pemberitaan. Dalam hal ini, dua hal yang harus diperhatikan yaitu proses pengeluaran (exclusion) dan proses pemasukan (inclusion).

A. Exclusion

Ada beberapa strategi bagaimana suatu aktor (seseorang atau kelompok) dikeluarkan dalam pembicaraan. Di antaranya dapat digambarkan sebagai berikut:

1. Pasivasi

Menurut Van Leeuwen, kita perlu mengkritisi bagaimana masing-masing kelompok itu ditampilkan dalam teks, apakah ada pihak atau aktor yang dengan strategi wacana tertentu hilang dalam teks. Salah satu cara klasik untuk menghilangkan seseorang adalah dengan membuat kalimat dalam bentuk pasif. Misalnya, dalam contoh kalimat berikut ini:

Aktif Polisi menembak seorang mahasiswa yang demonstrasi hingga tewas.

Pasif Seorang mahasiswa tewas tertembak saat demonstrasi.

2. Nominalisasi

Strategi wacana lain yang sering dipakai untuk menghilangkan kelompok atau aktor ssosial tertentu adalah dengan nominalisasi. Strategi ini berhubungan dengan mengubah kata kerja (verba) menjadi kata benda (nomina). Umumnya dilakukan dengan memberi imbuhan “pe-an”.

Nominalisasi tidak membutuhkan subjek, karena nominalisasi pada dasarnya adalah proses mengubah kata kerja yang bermakna tindakan/kegiatan menjadi kata benda yangg bermakna peristiwa.

Verba Polisi menembak seorang

mahasiswa yang demonstrasi hingga tewas

Nominalisasi Seorang mahasiswa tewas akibat penembakan saat demonstrasi.

3. Penggantian anak kalimat

Penggantian subjek juga dapat dilakukan dengan memakai anak kalimat yang sekaligus berfungsi sebagai pengganti aktor.

Tanpa anak

kalimat Polisi menembak seorang mahasiswa yang demonstrasi hingga tewas

Anak kalimat Untuk mengendalikan demonstrasi mahasiswa, tembakan dilepaskan.

Akibatnya, seorang mahasiswa tewas.

B. Inclusion

Ada beberapa macam strategi wacana yang dilakukan ketika seseorang atau kelompok ditampilkan dalam teks.

1. Diferensiasi-Indiferensiasi

Suatu peristiwa atau seorang aktor sosial bisa ditampilkan dalam teks secara mandiri, sebagai suatu peristiwa yang unik atau khas, tetapi bisa juga dibuat kontras dengan menampilkan peristiwa atau aktor lain dalam teks. Penghadiran kelompok atau peristiwa lain secara tidak langsung ingin menunjukan bahwa kelompok itu tidak bagus dibandingkan dengan kelompok lain. Ini merupakan strategi wacana bagaimana suatu kelompok disudutkan dengan menghadirkan kelompok atau wacana lain yang dipandang lebih dominan.

Indiferensiasi Buruh pabrik Maspion sampai kemarin masih melanjutkan mogok.

Diferensiasi Buruh pabrik Maspion sampai kemarin masih melanjutkan mogok.

Sementara tawaran direksi yang menawarkan perundingan tidak ditanggapi oleh para buruh.

2. Objektivasi-Abstraksi

Elemen wacana ini berhubungan dengan pertanyaan apakah informasi mengenai suatu peristiwa atau aktor sosial ditampilkan dengan memberi petunjuk yang kongkret ataukah ditampilkan secara abstraksi.

Makna yang diterima khalayak akan berbeda, karena dengan membuat abstraksi peristiwa atau aktor yang sebetulnya secara kuantitatif berjumlah sedikit dengan abstraksi dikomunikasikan seakan berjumlah banyak.

Objektivasi PKI telah 2 kali melakukan pemberontakan

Abstraksi PKI telah berulang kali melakukan pemberontakan

3. Nominasi-Kategorisasi

Dalam pemberitaan mengenai aktor (seseorang/kelompok) atau mengenai suatu permasalahan, seringkali terjadi pilihan apakah aktor tersebut ditampilkan apa adanya, ataukah disebutkan kategori dari aktor sosial tersebut. Kategori bisa bermacam-macam yang menunjukan ciri penting dari seseorang: agama, status, bentuk fisik, dan sebagainya.

Nominasi Seorang laki-laki ditangkap polisi karena kedapatan membawa obat-obatan terlarang.

Kategorisasi Seorang laki-laki kulit hitam ditangkap polisi karena kedapatan membawa obat-obatan terlarang.

4. Nominasi-Identifikasi

Strategi wacana ini hampir mirip dengan kategorisasi, yakni bagaimana suatu kelompok, peristiwa atau tindakan didefinisikan. Bedanya dalam identifikasi, proses pendefinisian dilakukan dengan memberi anak kalimat sebagai penjelas.

Nominasi Seorang wanita ditemukan tewas, diduga sebelumnya diperkosa.

Identifikasi Seorang wanita, yang sering keluar malam, ditemukan tewas. Diduga sebelumnya diperkosa.

5. Determinasi-Indeterminasi

Dalam pemberitaan seringkali aktor atau peristiwa disebutkan secara jelas, tetapi sering kali juga tidak jelas. Anonimitas ini bisa jadi karena wartawan belum memiliki bukti yang cukup untuk menulis, ada ketakutan struktural kalau kategori yang jelas dari aktor sosial tersebut disebut dalam teks atau berbagai alasan lainnya. Hal ini karena anonimitas, menurut Van Leeuwen, justru membuat suatu generalisasi, tidak spesifik. Misalnya sebagai berikut:

Indeterminasi Menlu Alwi Shihab disebut-sebut terlibat skandal Bulog.

Determinasi Orang dekat Gus Dur disebut-sebut terlibat dalam skandal Bulog.

6. Asimilasi-Individualisasi

Asimilasi terjadi ketika dalam pemberitaan bukan kategori aktor sosial spesifik yang disebut dalam berita tetapi komunitas atau kelompok

sosial di mana seseorang tersebut berada. Secara lebih terperinci dapat dijelaskan dengan contoh berikut:

Individualisasi Adi, mahasiswa Trisakti, tewas ditembak Parman, seorang polisi, dalam demonstrasi di Cendana kemarin.

Asimilasi Mahasiswa tewas ditembak polisi dalam demonstrasi di Cendana kemarin.

7. Asosiasi-Disosiasi

Kelompok sosial di sini menunjukan pada di mana aktor tersebut berada, tetapi persoalannya apakah disebut secara eksplisit atau tidak dalam teks. Asosiasi menunjukan pada pengertian ketika dalam teks, aktor sosial dihubungkan dengan asosiasi atau kelompok yang lebih besar, di mana aktor sosial tersebut berada. Sebaliknya disasosiasi, jika tidak terjadi hal demikian. Hal itu dapat dibedakan dalam contoh kalimat berikut:

Disosiasi Sebanyak 40 orang muslim meninggal dalam kasus Tobelo, Galela dan Jailolo.

Asosiasi Umat Islam dimana-mana selalu menjadi sasaran pembantaian. Setelah di Bosnia, sekarang di Ambon. Sebanyak 40 orang muslim meninggal dalam kasus Tobelo, Galela dan Jailolo.

C. Kerangka Analisis

Menurut Van Leeuwen, ada dua hal yang perlu diperhatikan ketika kita memeriksa aktor sosial dalam pemberitaan tersebut. Pertama, eksklusi:

apakah dalam teks berita itu aktor sosial dihilangkan atau disembunyikan dalam pemberitaan atau tidak. Kedua, inklusi: bagaimana aktor yang disebut itu ditampilkan dalam pemberitaan. Secara umum, apa yang ingin dilihat dari model Van Leeuwen ini dapat digambarkan sebagai berikut:

TINGKAT YANG INGIN DILIHAT

Eksklusi Apakah ada aktor (seseorang/kelompok sosial) yang dihilangkan atau disembunyikan dalam pemberitaan.

Misalnya dalam berita mengenai demonstrasi mahasiswa, apakah semua aktor yang terlibat diberitakan secara menyeluruh, apakah ada upaya media untuk hanya mengedepankan satu aktor dan menghilangkan aktor lainnya? Apa efek dari penghilangan tersebut?

Bagaimana strategi yang dilajukan untuk menyembunyikan atau menghilangkan aktor sosial tersebut?

Misalnya dalam berita mengenai demonstrasi mehasiswa tersebut, polisi sebagai pelaku penembakan dihilangkan. Strategi apa yang dilakukan? Apakah strategi tersebut dilakukan secara sengaja oleh media ataukah melewati

suatu proses yang tidak disadari oleh penulis/wartawan?

Inklusi Dari aktor sosial yang disebut dalam berita, bagaimana mereka ditampilkan? Dengan strategi apa pemarjinalan atau pengucilan itu dilakukan?

Misalnya dalam berita mengenai kekerasan terhadap wanita. Kalau pelaku kekerasan misalnya disebut dalam teks berita, bagaimana aktor itu disebut? Apakah penggambaran tersebut berkaitan dengan proses marjinalisasi atau pengucilan aktor tertentu dalam pemberitaan? Kalau ya, dilakukan dengan cara dan strategi yang bagaimana?

Dalam dokumen METODE PENELITIAN MEDIA (Halaman 154-159)