Dari tahun 1960-an hingga tahun 1970-an, sekumpulan pendekatan kualitatif yang menaruh perhatian pada praktik interpretif yang membentuk realita mulai membayang-bayangi bidang sosiologi. Pengacuan yang dilakukan Harold Garfinkel (1967) terhadap tatanan sosial dan penjelasan yang dia berikan terkait dengan manajemen feminitas transeksual, kritik metodologis terhadap sosiologi konvensional, dan bahkan klaim Peter Berger dan Thomas Luckmann (1966) yang menyatakan bahwa realita terkonstruksi secara sosial menaikan gengsi disiplin keilmuan tersebut, yang memicu kemarahan dari kelompok pakar konvensional sekaligus melahirkan sekumpulan teori dari kelompok pakar baru.
A. Prinsip-Prinsip Fenomenologis
Pendekatan penelitian praktik interpretif memiliki sederet asumsi subjektivis tentang hakikat pengalaman nyata dan tatanan sosial.
Pendekatan tersebut mengingatkan kita pada upaya Alfred Schutz dalam membangun fenomenologi sosial yang mengaitkan sosiologi dengan fenomenologi filosiofisnya Edmund Husserl (1970). Pemikiran Husserl menitikberatkan bahwa ilmu pengetahuan selalu berpijak pada hal yang eksperiensial (yang bersifat pengalaman). Baginya, hubungan antara persepsi dengan objek-objeknya tidaklah pasif. Husserl berpendapat bahwa kesadaran manusia secara aktif mengandung objek-objek pengalaman. Prinsip ini kemudian menjadi pijakan bagi setiap penelitian kualitatif tentang praktik dan perilaku yang membentuk realitas.
Upaya Schutz (1970) ini merupakan kelanjutan dari upaya Husserl;
yakni mengkaji cara-cara anggota masyarakat menyusun dan membentuk ulang alam kehidupan sehari-hari. Ia kemudian memperkenalkan serangkaian prinsip yang pada gilirannya menjadi dasar bagi kerangka teori dan empiris untuk penelitian-penelitian fenomenologis, etnometodologis, konstruksionis berikutnya. Ia menekankan bahwa kesadaran dan interaksi bersifat saling membentuk. Schutz (1964) menyatakan bahwa ilmu sosial semestinya memusatkan perhatian pada cara-cara dunia/kehidupan diciptakan dan dialami oleh anggota-anggotanya. Dalam pandangan ini, subjektivitas adalah satu-satunya prinsip yang tidak boleh dilupakan ketika para peneliti sosial memaknai objek-objek sosial.
Prinsip tersebut sangat berbeda dengan asumsi-asumsi eksperiensial ‘sikap alamiah natural attitude’ (Schutz, 1970) – prinsip dan sikap interpretif sehari-hari yang (secara prinsipil) menganggap dunia
‘terpisah dan lepas’ dari semua tindak persepsi atau interpretasi. Dalam natural attitude, manusia berasumsi bahwa dunia/kehidupan sudah ada sebelum ia (manusia) ada dan tetap akan ada walaupun manusia tidak ada di sana. Schutz menyarankan kita agar mempelajari tindakan sosial yang terjadi di dalam ‘sikap alamiah’ dengan membatasi dunia/kehidupan, atau dengan kata lain, mengesampingkan orientasi manusia kepadanya yang diterima apa adanya. Semua penilaian ontologis tentang alam dan hakikat benda-benda serta peristiwa harus ditangguhkan terlebih dahulu. Peneliti
harus berkonsentrasi pada bagaimana setiap anggota dunia kehidupan memproduksi (secara interpretif) bentuk-bentuk yang mereka anggap nyata.
Fenomenologi sosial Schutz dimaksudkan untuk merumuskan ilmu sosial yang mampu menafsirkan dan menjelaskan tindakan dan pemikiran manusia dengan cara menggambarkan struktur-struktur dasar. Inilah isu utama interpretif yang memusatkan perhatian pada makna dan pengalaman subjektif sehari-hari, yang bertujuan untuk menjelaskan bagaiman objek dan pengalaman terciptakan secara penuh makna dan dikomunikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Agenda utamanya adalah untuk memperlakukan subjektivitas sebagai topik penelitian itu sendiri, bukan sebagai pantangan metodologis.
B. Bentuk-Bentuk Etnometodologis
Meskipun etnometodologi banyak berutang budi pada fenomenologi sosial Schutz, akan tetapi perlu juga dipahami bahwa etnometodologi bukan semata-mata pengembangan dari program yang ia rintis. Etnometodologi mengkaji masalah tatanan atau keteraturan dengan cara mengombinasikan sensibilitas fenomenologis (Maynard dan Clayman, 1991) dengan perhatian besar pada praktik sosial konstitutif (Garfinkel, 1967). Dari sudut pandang etnometodologis, fakta sosial tercipta karena adanya tindakan interpretif dari setiap anggota masyararakat – aktivis yang menjadi wahana bagi aktor untuk memproduksi dan mengorganisasikan kondisi dalam kehidupan sehari-hari itu sendiri.
Pada satu sisi, program etnometodologis awal Garfinkel (1967) merupakan tanggapan langsung terhadap teori gurunya (Talcott Parsons, 1968) yakni teori aksi (Heritage, 1984). Bagi Parsons, tatanan sosial dapat dihadirkan melalui sisitem norma, aturan dan nilai yang terlembagakan.
Garfinkel berupaya mencari alternatif dari pendekatan tersebut;bagi garfinkel, aktor sosial merupakan sang penilai yang merespons semua kekuatan sosial eksternal dan dimotivasi oleh dorongan dan kewajiban batin. Ia yakin bahwa setiap orang memiliki kompetensi interaksional dan linguistik praktis yang memungkinkan hakikat realitas kehidupan sehari-hari yang dapat diserap, dipahami, dan teratur dapat diproduksi. Setiap orang merupakan anggota masyarakat; semua tindakan yang mereka lakukan membentuk tatanan sosial. Topik etnometodologi, sesungguhnya merupakan prosedur keseharian – yaitu, etnometode – dari tiap-tiap anggota ketika mencipta, mempertahankan dan mengolah rasa akan realitas objektif.
Etnometodologi telah berhasil menjelaskan berbagai macam aspek dalam tatanan sosial. Salah satunya adalah bagaimana tatanan, sistem motivasi, atau hubungan sebab-akibat antara motivasi dengan pola perilaku – hadir melalui praktik deskriptif dan penalaran anggotanya. Apabila sosiologi konvensional berpatokan pada aturan, norma dan makna bersama untuk menjelaskan perilaku yang teratur, etnometodologi juga menjadikan aturan sebagai fokus kajiannya; hanya saja dengan cara yang amat berbeda. Etnometodologi mengesampingkan pandangan bahwa perilaku merupakan aturan yang dipandu atau dimotivasi oleh nilai dan
harapan bersama agar mampu mengamati bagaimana tindakan dijelaskan dan diuraikan dengan merujuk pada aturan, norma, motif dan semacamnya.
Tampilan perilaku sebagai konsekuensi dari sebuah aturan pun diperlukan seperti adanya – yaitu, tampilan suatu peristiwa sebagai wujud kesetiaan atau ketidaksetiaan pada aturan. Dengan menciptakan aturan dan mengkaji rasa mereka pada kasus-kasus tertentu, para anggota (masyarakat) menganggap aktivitas yang mereka lakukan sebagai aktivitas yang rasional, koheren, berfungsi sebagai contoh dan teratur (Zimmerman, 1970).
Dari sisi prosedur, sebuah penelitian etnometodologis harus selalu disesuaikan dengan wacana dan interaksi yang berlangsung secara alami seiring dengan berlangsungnya penelitian terhadap unsur pembentuk setting/konteksnya. Bagaimanapun, titik tolaknya dapat bervariasi.
Meskipun selalu berkutat dengan percakapan dan interaksi, ada banyak penelitian berorientasi etnografis yang membahas wacana dalam konteks;
yang dieksplorasi adalah muatan/isi ujaran sebagai pembentuk makna lokal. Pada sisi lain, analis juga dapat mengeksplorasi strukturasi ujaran yang bersambung sebagai sarana untuk membangun konteks dan makna.
Meskipun aspek-aspek tertentu dan ranah tersebut dapat ditonjolkan, struktur, konteks dan isi tetap merupakan aspek-aspek yang memperoleh perhatian utama dalam penelitian etnometodologis.
C. Tema-Tema Klasik yang Mengemuka
Sebagian perkembangan mutakhir dalam etnometodologi dan pendekatan-pendakatan terkait telah mengarah ke tema-tema sosiologis klasik. Fenomena ini mempresentasikan semakin luasnya perkembangan bidang tersebut, di samping juga menjembatani perhatian pada tataran mikro dan tataran makro. Richard Hilbert (1992), berpendapat bahwa banyak pertimbangan dalam etnometodologi juga dijumpai pada karya Max Webber dan Emile Durkheim.
Secara umum, etnometodologis dianggap berorientasi mikrososiologis. Dorothy Smith berupaya meluruskan kesalahkaprahan tersebut; ia mengombinasikan perspektif etnometodologis dengan perspektif Marxis dan Feminis; yang muncul kemudian adalah tema-tema klasik yang jauh berbeda. Smith memperluas kritiknya hingga relasi pengaturan yang berlaku dalam praktik penelitian ilmu sosial yang nyaris mengatur perempuan karena rancangan penelitian yang lazim nampak kurang peka dengan pengalaman keseharian kaum perempuan.
Penelitian David Silvermen (1987) mengenai praktik komunikasi dan medis justru lebih dekat dengan etnometodologi tradisonal. Penelitian tersebut memfokuskan perhatian pada peran konteks di dalam interpretasi namun tetap berorientasi pada kebijakan sosial. Di samping itu, ada pula penelitian model percakapan analitis yang berubah menjadi ‘percakapan institusional’ (Drew dan Heritage, 1993). Meskipun titik tolak yang diambil tetap pada keteraturan struktur percakapan lintas situasi, muncul penekanan pada bagaimana konteks institusional atau organisasional berpengaruh pada praktik interaksional. Drew dan Heritage (1993) keduanya mencatat bahwa percakapan institusional biasanya dipengaruhi
oleh orientasi tujuannya yang terbatas dan bentuk organisasional konvensionalnya.