• Tidak ada hasil yang ditemukan

Wacana Norman Fairclough

Dalam dokumen METODE PENELITIAN MEDIA (Halaman 128-132)

Fairclough berusaha membangun suatu model analisis wacana yang memiliki kontribusi dalam analisis sosial dan budaya, sehingga ia mengkombinasikan tradisi analisis tekstual-yang selalu melihat bahasa dalam ruang tertutup-dengan konteks masyarakat yang lebih luas. Titik perhatian besar dari Fairclough adalah melihat bahasa sebagai praktik kekuasaan. Untuk melihat bagaimana pemakai bahasa membawa nilai ideologis tertentu dibutuhkan analisis yang menyeluruh. Melihat bahasa dalam perspektif ini membawa konsekuensi tertentu. Bahasa secara sosial dan historis adalah bentuk tindakan, dalam hubungan dialektika dengan struktur sosial. Oleh karena itu, analisis harus dipusatkan pada bagaimana bahasa itu terbentuk dan dibentuk dari relasi sosial dan konteks sosial tertentu.

Norman Fairclough membangun model yang mengintegrasikan secara bersama-sama analisis wacana yang didasarkan pada linguistik dan pemikiran sosial dan politik, dan secara umum diintegrasikan pada perubahan sosial. Oleh karena itu, model yang dikemukakan oleh Fairclough ini sering juga disebut sebagai model perubahan sosial (social change). Fairclough memusatkan perhatian wacana pada bahasa.

Fairclough menggunakan wacana menunjuk pada pemakaian bahasa sebagai praktik sosial, lebih daripada aktivitas individu atau untuk merefleksikan sesuatu.

Memandang bahasa sebagai praktik sosial seperti demikian, mengandung sejumlah implikasi. Pertama, wacana adalah bentuk dari tindakan, seseorang menggunakan bahasa sebagai suatu tindakan pada dunia dan khususnya sebagai bentuk representasi ketika melihat dunia/realitas. Kedua, model mengimplikasikan adanya hubungan timbal balik antara wacana dan struktur sosial. Di sini wacana terbagi oleh struktur sosial, kelas, dan relasi sosial lain yang dihubungkan dengan relasi spesifik dari institusi tertentu seperti pada hukum atau pendidikan, sistem dan klasifikasi.

Fairclough membagi analisis wacana dalam tiga dimensi: teks, discourse practice, dan socialcultural practice. Dalam model Fairclough, teks di sini dianalisis secara linguistik, dengan melihat kosakata, semantik, dan tata kalimat. Ia juga memasukan koherensi dan kohesivitas, bagaimana antarkata atau kalimat tersebut digabung sehingga membentuk pengertian.

Semua elemen yang dianlisis tersebut dipakai untuk melihat tiga masalah berikut.

Pertama, ideasional yang merujuk pada representasi tertentu yang ingin ditampilkan dalam teks, yang umumnya membawa muatan ideologis tertentu. Kedua, relasi. Merujuk pada analisis bagaimana konstruksi hubungan di antara wartawan dengan pembaca, seperti apakah teks disampaikan secara informal ataupun formal, terbuka atau tertutup. Ketiga, identitas. Merujuk pada konstruksi tertentu dari identitas wartawan dan pembaca, serta bagaimana personal dan identitas ini hendak ditampilkan.

A. Teks

Fairclough melihat teks dalam berbagai tingkatan. Sebuah teks bukan hanya menampilkan bagaimana suatu objek digambarkan tetapi juga bagaimana hubungan antar objek didefinisikan. Ada tiga elemen dasar dalam model Fairclough, yang dapat digambarkan dalam tabel berikut.

Setiap teks pada dasarnya, menurut Fairclough, dapat diuraikan dan dianalisis dari ketiga unsur tersebut.

Unsur Yang Ingin Dilihat

Representasi

Bagaimana peristiwa, orang, kelompok, situasi, keadaan, atau apa pun ditampilkan dan digambarkan dalam teks.

Relasi

Bagaimana hubungan antara wartawan, khalayak, dan partisipan berita ditampilkan dan digambarkan dalam teks.

Identitas

Bagaimana identitas wartawan, khalayak, dan partisipan berita ditampilkan dan digambarkan dalam teks.

Representasi pada dasarnya ingin melihat bagaimana seseorang, kelompok, tindakan, kegiatan ditampilkan dalam teks. Representasi dalam pengertian Fairclough dilihat dari dua hal, yakni bagaimana seseorang, kelompok, dan gagasan ditampilkan dalam anak kalimat dan gabungan atau rangkaian antaranak kalimat.

B. Intertektualitas

Salah satu gagasan penting dari Fairclough adalah mengenai intertekstualitas, yang dikembangkan dari pemikiran Julia Kristeva dan Michael Bakhtin. Intertekstualitas adalah sebuah istilah di mana teks dan ungkapan dibentuk oleh teks yang datang sebelumnya, saling menanggapi dan salah satu bagian dari teks tersebut mengantisipasi lainnya. Dalam pengertian Bakhtin, seperti dikutip Fairclough, semua ungkapan baik tertulis maupun lisan, dari semua jenis teks seperti laporan ilmiah, novel dan berita dibedakan di antaranya oleh perubahan dari pembaca (atau penulis), dan ditujukan dengan pembicara atau penulis sebelumnya (baik itu laporan ilmiah atau novel).

Menurut Fairclough, suara seorang sumber berita yang akan dijadikan berita bisa ditampilkan secara langsung (direct discourse) dapat juga secara tidak langsung (indirect discourse) (Eriyanto, 2003: 307).

Misalnya Amien Rais menyerukan kepada Gus Dur agar ia berhenti bicara yang menimbulkan polemik, itu dapat ditampilkan secara langsung dan secara tidak langsung dalam judul berita sebagai berikut:

Langsung Amien Rais: “Mulai sekarang Gus Dur harus berhenti bicara politik.”

Tidak langsung Amien Rais menyerukan agar Gus Dur berhenti bicara politik.

Tidak langsung Amien Rais mulai berani melarang Gus Dur bicara politik.

Pemilihan antara pengutipan langsung dengan pengutipan tidak langsung bukanlah semata-mata persoalan teknis jurnalistik, karena sebetulnya pilihan mana yang diambil menggambarkan strategi wacana bagaimana wartawan menempatkan dirinya fi tengah banyak suara yang berada di luar dirinya. Ini sebetulnya paradoks dalam suatu berita, seperti halnya paradoks yang disuarakan oleh sastra. Sumber berita yang merupakan suara-suara yang demikian banyak dari suatu peristiwa pada dasarnya tidak berbicara secara langsung kepada khalayak, tetapi lewat wartawan.

Intertekstualitas dapat dibagi ke dalam dua bagian besar; manifest intertectuality dan interdiscursivity. Manifest intertectuality adalah bentuk intertekstualitas di mana teks yang lain atau suara yang lain muncul secara eksplisit dalam teks. Dalam manifest intertectuality, teks lain hadir secara eksplisit dalam teks, yang muncul misalnya dalam bentuk kutipan. Jika dalam manifest intertectuality teks-teks lain dapat diamati dan mewujud dalam teks, dalam interdiscursivity teks teks lain tersebut mendasari konfigurasi elemen yang berbeda dari order of discourse.

C. Discourse Practice

Analisis discourse practice memusatkan perhatian pada bagaimana produksi dan konsumsi teks. Teks dibentuk lewat suatu praktik diskursus, yang akan menentukan bagaimana teks tersebut diproduksi. Misalnya wacana di kelas. Wacana itu terbentuk lewat suatu praktik diskursus yang melibatkan bagaimana hubungan antara guru dan murid, bagaimana guru menyampaikan pelajaran, bagaimana pola hubungan dan posisi murid dalam pelajaran di kelas, dan sebagainya.

Hal yang sama terjadi dalam media. Teks berita melibatkan praktik diskursus yang rumit dan kompleks. Praktik wacana inilah yang menentukan bagaimana teks tersebut terbentuk. Dalam pandangan Fairclough, ada dua sisi dari praktik diskursus tersebut yakni produksi teks (di pihak media) dan konsumsi teks (di pihak khalayak). Jadi, jika ada teks media yang merendahkan dan memarjinalkan posisi wanita, memarjinalkan posisi buruh, kita harus mencari tahu bagaimana teks tersebut diproduksi dan bagaimana juga teks tersebut dikonsumsi.

D. Sociocultural Practice

Analisis sosiocultural practice didasarkan pada asumsi bahwa konteks sosial yang ada di luar media mempengaruhi bagaimana wacana yang muncul dalam media. Ruang redaksi atau wartawan bukanlah bidang atau kotak kosong yang steril, tetapi sangat ditentukan oleh faktor di luar

dirinya. Sociocultural practice ini memang tidak berhubungan langsung dengan produksi teks, tetapi ia menentukan bagaimana teks diproduksi dan dipahami. Misalnya sebuah teks yang merendahkan atau memarjinalkan posisi perempun. Teks semacam ini mempresentasikan ideologi patriarkal yang ada dalam masyarakat. Artinya, ideologi masyarakat yang patriarkal itu berperan daam membentuk teks yang patriarkal pula.

Menurut Fairclough, hubungan sociocultural practice dalam menentukan teks terjadi secara tidak langsung tetapi dimediasi oleh discourse practice. Kalau ideologi dan kepercayaan masyarakat itu paternalistik, maka hubungannya dengan teks akan dimediasi oleh bagaimana teks tersebut diproduksi dalam suatu proses dan praktik pembentukan wacana. Mediasi itu meliputi dua hal. Pertama, bagaimana teks tersebut diproduksi. Kedua, khalayak juga akan mengkonsumsi dan menerima teks tersebut dalam pandangan yang patriarkal.

Dalam dokumen METODE PENELITIAN MEDIA (Halaman 128-132)