• Tidak ada hasil yang ditemukan

Wacana Roger Fowler, dkk

Dalam dokumen METODE PENELITIAN MEDIA (Halaman 135-140)

Roger Fowler, Robert Hodge, Gunther Kress dan Tony Trew merupakan sekelompok pengajar di Universitas East Anglia. Kehadiran mereka terutama ditandai dengan diterbitkannya buku language and Control pada tahun 1979. Pendekatan yang mereka lakukan kemudian dikenal sebagai critical linguistics. Critical linguistics terutama memandang bahasa sebagai praktik sosial, melalui mana suatu kelompok memantapkan dan menyebarkan ideologinya. Critical linguistics terutama dikembangkan dari teori linguistik. Tujuan dari penelitian ini adalah melihat bagaimana tata bahasa/grammar tertentu dan pilihan kosakata tertentu membawa implikasi dan ideologi tertentu.

Dalam membangun model analisisnya, Roger Fowler dkk. terutama mendasarkan pada penjelasan Halliday mengenai struktur dan fungsi bahasa. Fungsi dan struktur bahasa ini menjadi dasar struktur tata bahasa, dimana tata bahasa itu menyediakan alat untuk dikomunikasikan kepada khalayak. Apa yang dilakukan oleh Fowler, dkk. Adalah meletakan tata bahasa dan praktik pemakaiannya tersebut untuk mengetahui praktik ideologi. Berikut ini diuraikan beberapa elemen yang dipelajari oleh Fowler dkk. tersebut:

A. Kosakata

Bahasa, dilihat Fowler dkk. sebagai sistem klasifikasi. Bahasa menggambarkan bagaimana realitas dunia dilihat, memberi kemungkinan seseorang untuk mengontrol dan mengatur pengalaman pada realitas sosial. Sistem klasifikasi ini berbeda-beda antara seseorang atau satu kelompok dengan kelompok lainnya bergantung kepada pengalaman budaya, sosial, dan politik kelompok tersebut.

1. Kosakata: Membuat Klasifikasi

Bahasa pada dasarnya selalu menyediakan klasifikasi. Realitas tertentu dikategorisasikan sebagai ini, dan akhirnya dibedakan dengan realitas yang lain. Klasifikasi terjadi karena realitas begitu kompleksnya, sehingga orang kemudian membuat penyederhanaan dan abstraksi dari realitas tersebut. Misalnya, tindakan pasukan Interfet ketika berada di Timor Timur yang memborgol, menodong dan menggeledah penduduk Timor Timur yang dicurigai sebagai milisi. Tindakan itu dapat dikatakan sebagai

“intervensi” (campur tangan pihak asing dalam menangani kerusuhan di Indonesia), dapat juga dikatakan sebagai “menjalankan tugas” (apa yang dilakukan Interfet tersebut sesuai dengan misinya untuk menangani sumber kekacauan di Timor Timur). Kita lihat di sini bagaimana kata-kata tersebut menyediakan klasifikasi bagaimana realitas dipahami. Klasifikasi itu bermakna peristiwa harusnya dilihat dalam sisi yang satu bukan yang lain.

Klasifikasi (Anti-Interfet) Klasifikasi (Pro-Interfet) Masalah dalam negeri Masalah internasional

Intervensi, konspirasi

internasional Bantuan kemanusiaan Menambah kekerasan Menghentikan kekerasan Nasionalisme Hak asasi manusia,

hukum internasional, nilai kemanusiaan

2. Kosakata: Membatasi Pandangan

Menurut Fowler dkk., bahasa pada dasarnya bersifat membatasi (Eriyanto, 2003: 137), kita diajak berfikir untuk memahami seperti itu, bukan yang lain. Klasifikasi menyediakan arena untuk mengontrol informasi dan pengalaman. Kosakata berpengaruh terhadap bagaimana kita mamahami dan memaknai suatu peristiwa. Hal ini karena khalayak tidak mengalami atau mengikuti suatu peristiwa secara langsung.

Kosakata Perang Kosakata Penghalusan Perang, pembunuhan,

Contoh kasus adalah bagaimana media memaknai dan menyebut peristiwa Ambon. Pilihan kata-kata yang dipakai menunjukan sikap media tertentu ketika melihat dan mamaknai suatu peristiwa. Di sini ternyata ada perbedaan yang menarik antara Republika di satu sisi dengan Suara Pembaharuan dan Kompas di sisi lain. Republika banyak menyebut peristiwa Ambon sebagai “pembantaian”, sedangkan Kompas dan Suara Pembaharuan banyak menyebut peristiwa Ambon ini sebagai “konflik”,

“pertikaian” atau “bentrok”. Pemakaian kata-kata yang berbeda ini, hendaklah dipahami bukan semata-mata sebagai soal istilah belaka, karena kata-kata tersebut menimbulkan arti dan pemaknaan tertentu ketika diterima oleh khalayak.

3. Kosakata: Pertarungan Wacana

Kosakata haruslah dipahami dalam konteks pertarungan wacana.

Dalam suatu pemberitaan, setiap pihak mempunyai versi atau pendapat sendiri-sendiri atas suatu masalah. Mereka mempunyai klaim kebenaran, dasar pembenaran dan penjelas mengenai suatu masalah. Mereka bukan hanya mempunyai versi yang berbeda, tetapi juga berusaha agar versinya yang dianggap paling benar dan lebih menentukan dalam mempengaruhi opini publik. Dalam upaya memenangkan penerimaan publik tersebut, masing-masing pihak menggunakan kosakata sendiri dan berusaha memaksakan agar kosakata itulah yang lebih diterima oleh publik.

Contoh kasus yang terjadi adalah bagaimana pertarungan wacana terjadi dalam kosakata yang diberitakan media mengenai kasus Aceh dalam rentang waktu 1 mei sampai 31 Juli 1999. Diantara peristiwa yang terjadi adalah peristiwa Kreung Geukuh, Pulo Rungkem dan Peudada.

Peristiwa Versi Militer Versi GAM

Kreung tertentu-kata, kalimat, proposisi-membawa nilai ideologis tertentu. Kata dipandang bukan sebagai sesuatu yang netral, tetapi membawa implikasi ideologis tertentu. Di sini, pemakaian kata, kalimat, susunan dan bentuk kalimat tertentu proposisi tidak dipandang semata sebagai persoalan teknis tata bahasa atau linguistik, tetapi ekspresi dari ideologi: upaya untuk membentuk pendapat umum, meneguhkan, dan membenarkan pihak sendiri dan mengucilkan pihak lain.

Pada level pilihan kata dipertanyakan bagaimana peristiwa dan aktor yang terlibat dalam peristiwa tersebut dibahasakan. Penamaan itu berhubungan dengan paling tidak aktor-aktor yang terlibat dan peristiwanya. Misalnya berita perkosaan dapat digambarkan dengan pilihan kosakata berikut:

Aktor Peristiwa Aktor

seorang gadis diperkosa oleh pemuda seorang wanita digagahi pemuda gadis kecil dinodai pemuda

gadis SMA diperawani seorang pengangguran seorang anak disetubuhi ayah kandungnya

B. Tata Bahasa

Roger Fowler dkk., memandang bahasa sebagai satu set kategori dan proses. Kategori yang penting disebut sebagai model yang menggambarkan hubungan antara objek dengan peristiwa.

Secara umum ada tiga model yang diperkenalkan Roger Fowler dkk.

Pertama, model transitif. Model ini berhubungan dengan proses, yakni melihat bagian mana yang dianggap sebagai penyebab suatu tindakan, dan bagian lain sebagai akibat dari suatu tindakan. Kalimat seperti “polisi memukul mahasiswa” adalah bentuk transitif, di mana polisi tersebut sebagai aktor yang menyebabkan peristiwa tersebut terjadi. Model kedua, intransitif. Dalam model ini seorang aktor dihubungkan dengan suatu proses tetapi tanpa menjelaskan atau menggambarkan akibat atau objek yang dikenai. Kalimat seperti “polisi berlari” atau “polisi menembak” adalah bentuk intransitif. Ketiga, model relasional. Model relasional menggambarkan hubungan di antara dua entitas model transitif dan intransitif. Hubungan tersebut bisa ekuatif, yakni hubungan antara sama-sama kata benda seperti dalam kalimat “korban polisi tersebut adalah seorang ayah dari 1 anak”. Hubungan itu bisa juga atributif, di mana kata benda dihubungkan dengan kata sifat untuk menunjukan suatu kualitas atau penilaian tertentu seperti dalam kalimat “polisi itu sangat garang”.

Salah satu aspek penting dan khas dari pemikiran Roger Fowler dkk.

adalah transformasi. Tata kalimat tersebut bukan sesuatu yang baku, tetapi dapat diubah susunannya, dipertukarkan, dihilangkan, ditambah dan dikombinasikan dengan kalimat lain dan disusun ulang. Perubahan-perubahan itu bukan hanya mengubah struktur kalimat tetapi juga bisa mengubah makna dari bahasa yang digunakan secara keseluruhan. Salah satu transformasi itu adalah pasivasi, yakni mengubah tata susunan kalimat dari bentuk aktif menjadi bentuk pasif.

Aktif Seorang ayah memperkosa anak gadisnya sendiri yang baru berumur 12 tahun.

Pasif Seorang anak gadis yang baru berumur 12 tahun diperkosa oleh ayahnya sendiri.

Tipe transformasi lainnya adalah nominalisasi. Nominalisasi terjadi ketika kalimat atau bagian dari kalimat, gambaran dari suatu tindakan atau partisipan dibentuk dalam kata benda, umumnya mengubah kata kerja (verba) ke dalam kata benda (nomina). Contoh transformasi nominalisasi seperti dengan memberi imbuhan “pe-an”, kata memperkosa menjadi pemerkosaan, membunuh menjadi pembunuhan dan sebagainya.

C. Kerangka Analisis

Dalam menggunakan model analisis Roger Fowler dkk. dalam menganalisis wacana pemberitaan suatu teks berita, yang perlu diperhatikan adalah bahasa yang dipakai oleh media bukanlah sesuatu yang netral, tetapi mempunyai aspek atau nilai ideologis tertentu.

Permasalahan pentingnya adalah bagaimana realitas itu dibahasakan oleh media. Realitas itu bisa berarti bagaimana peristiwa dan aktor-aktor yang terlibat dalam peristiwa itu dipresentasikan dalam pemberitaan melalui bahasa yang dipakai. Bahasa sebagai representasi dari realitas tersebut bisa jadi berubah dan berbeda sama sekali dibandingkan dengan realitas yang sesungguhnya.

Teks berita, jika hendak dianalisis dengan menggunakan kerangka yang dibuat oleh Roger Fowler dkk., maka yang menjadi titik perhatian adalah pada praktik pemakaian bahasa yang digunakan. Dua hal yang harus diperhatikan. Pertama, pada level kata. Kata-kata di sini bukan hanya sebagai penanda atau identitas tetapi dihubungkan dengan ideologi tertentu, makna apa yang ingin dikomunikasikan kepada khalayak. Pihak atau kelompok mana yang diuntungkan dengan pemakaian kata-kata tersebut dan pihak atau kelompok mana yang dirugikan dan posisinya termarjinalkan. Kedua, pada level kalimat. Bagaimana kata-kata disusun ke dalam bentuk kalimat tertentu dimengerti dan dipahami bukan semata sebagai persoalan teknis kebahasaan, tetapi praktik bahasa.

Dalam dokumen METODE PENELITIAN MEDIA (Halaman 135-140)