4.2 Temuan Penelitian
4.2.3 Analisis Kearifan Lokal
Temuan data kearifan lokal tradisi batagak pangulu di Minangkabau terdapat sembilan unsur, yakni gotong royong, musyawarah dan mufakat, kerukunan dan penyelesaian konflik, kebenaran dan keadilan, kesopansantunan, komitmen, keharmonisan, pengelolaan gender, dan kesetiakawanan sosial yang dapat dilihat pada tabel 4.5 di bawah ini.
Tabel 4.5
Temuan Data Kearifan Lokal No. Kearifan Lokal Keterangan
1. Gotong royong Biaya batagak pangulu di Minangkabau bisa mencapai 100 juta rupiah bahkan lebih. Biaya perhelatan yang sangat besar ini dan tidak semua penghulu dapat melaksanakannya. Biaya yang cukup besar ini dapat diatasi dengan meresmikan gelar penghulu secara bersama-sama. Kemudian kalau ada satu kaum atau suku akan meresmikan gelar penghulunya sendiri mereka bersama-sama menanggulanginya. Bantuan yang diberikan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Bantuan berupa uang, pemikiran, beras, kelapa, kayu bakar, dan tenaga.
2. Musyawarah dan
Mufakat
Musyawarah dan mufakat ini terlihat ketika kaum menetapkan siapa pengganti penghulu lama yang meninggal. Kaum dengan musywarah dan mufakat akan menunjuk salah seorang anggota kaum laki-laki sebagai penggantinya. Kalau tidak ada kesepakatan kaum gelar penghulu tidak bisa dilekatkan sehingga untuk sementara waktu gelar penghulu tersebut dilipat. Musyawarah ini juga terlihat ketika gelar penghulu tersebut dikukuhkan. Segala sesuatu yang dilakukan dan diputuskan selalu dimusyawarahkan terlebih dahulu. Juru sambah yang akan tampil ditentukan terlebih dahulu melalui musyawarah. Demikian pula jawaban yang akan disampaikan oleh juru sambah dimusyawarahkan terlebih dahulu.
3. Kerukunan dan penyelesaian konflik
Penghulu di Minangkabau berfungsi untuk menjaga kerukunan dan penyelesai konflik yang timbul di antara kemenakan. Hal ini terlihat ketika sambutan yang diberikan oleh staf ahli Gubernur Provinsi Sumatera Barat dan Bupati Lima Puluh Kota. Dalam sambutanya Gubernur Sumatera Barat yang diwakili oleh staf ahli Prof. Dr. Rahman Sani, M. Sc. menyatakan penghulu yang menjadi suluh dendang dalam nagari dan sebagai panutan masyarakat kok kusuik nan kamanyalasaikan kok karuah nan kamajannihkan (jika kusut yang menyelesaikan jika keruh yang menjernihkan). Hal ini juga dipertegas oleh Buapati Lima Puluh Kota sekaligus Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) yang menyatakan tidak semua masalah kriminal diselesaikan dengan hukum positif. Niniak mamak harus bisa menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi anak kemenakan. Kalau ada permasalahan yang muncul langsung diselesaikan jangan sampai masalah itu menjadi besar.
4. Kebenaran dan
keadilan
Penghulu di Minangkabau selalu dituntut berkata benar dan menghukum secara adil. Dalam sambutanya Gubernur Sumatera Barat yang diwakili oleh staf ahli Prof. Dr. Rahman Sani, M. Sc. menyatakan bajalan dinan luruih bakato dinan bana di muko jadi tauladan di samping jadi pambimbing di belakang menjadi pendorong ka kanan elok (berjalan yang lurus berkata yang benar di muka jadi teladan di samping jadi pambimbing di belakang menjadi pendorong ke yang elok). Begitu juga dalam menjatuhkan hukuman dalam satu perkara kalau ada perselisihan di antara kemenakan penghulu menjatuhkan hukuman secara adil.
5. Kesopansantunan Sebelum menyampaikan pidato adat batagak pangulu, penyampai teks pidato mengawalinya dengan pengucapan salam secara agama Islam kepada hadirin sesuai dengan adat bersendi
syarak, syarak bersendi kitabullah. Lalu dilanjutkan dengan permintaan ampun penyampai pidato adat kepada Tuhan sekiranya dalam penyampaian pidato tersebut ada yang salah. Penyampai pidato adat menyadari bahwa manusia itu adalah makhluk yang lemah di hadapan Tuhan dan mempunyai ilmu yang sedikit bila dibandingkan dengan ilmu dimiliki Tuhan. Begitu juga dalam mengakhiri pidato adat juga diucapkan salam.
6. Komitmen Ada komitmen dan sinergi yang kuat antara adat dan agama. Dalam perjanjian Bukit Marapalam dinyatakan adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah. Hal ini mengisyaratkan bahwa adat itu tidak bertentangan dengan agama dan adat itu sejalan dengan agama.
7. Keharmonisan Keharmonisan terlihat pada keserasian antara adat dan agama. Adat sejalan dengan agama yang terkenal dengan adaik basandi sarak, sarak basandi kitabullah (adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah). Maksudnya, adat di Minangkabau sejalan dengan agama dan adat yang tidak bertentangan dengan agama. Adat Minangkabau adalah adat yang Islami yang bersumber pada Al Quran, sunnah nabi, ijmak, dan kiyas (Marajo, 2006:9-11). Hukum dan norma Islam bersumber kepada empat sumber tersebut. Karena bersifat universal, hukum dan norma Islam diterima oleh masyarakat Minangkabau dan disesuaikan dengan perkembangan zaman.
8. Pengelolaan gender Yang menjadi penghulu di Minangkabau adalah laki-laki bukan perempuan. Dalam sistem matrilineal yang dianut oleh masyarakat Minangkabau, kemenakan laki-lakilah yang menjadi penghulu jika penghulu yang tua sudah meninggal atau sudah uzur maka gelar penghulunya diwariskan kepada kemenakannya yang laki-laki. Kalau sekiranya tidak ada lagi kemenakan yang berhak menerimanya maka gelar
penghulu tersebut akan dilipat (terbenam). Gelar penghulu ini kembali dipakai atau dikukuhkan apabila kemenakan perempuan tadi melahirkan anak laki-laki. Jadi, dalam hal pengelolaan gender anak laki-lakilah yang menjadi penghulu di Minangkabau. Sedangkan perempuan juga diberi kedudukan yang sama dengan laki-laki yang disebut dengan bundo kanduang.
9. Kesetiakawanan sosial Bantuan kaum atau suku yang diberikan ketika diadakan acara batagak pangulu bermacam- macam sesuai dengan kemampuan masing- masing. Kalau dia kaya dapat memberi bantuan dalam bentuk uang, kalau dia cerdik pandai dapat memberi bantuan dalam bentuk pemikiran, kalau dia punya beras dan kelapa dapat member bantuan dalam bentuk beras dan kelapa untuk dimasak, kalau dia tidak punya apa-apa hanya punya tenaga dan tenaganya ini bisa digunakan untuk membantu jalannya acara tersebut. Bagi orang Minangkabau tidak ada manusia yang tidak berguna, semua manusia berguna sesuai dengan kemampuannya masing-masing sesuai bunyi papatah nan cadiak bao baiyo, nan buto pahambuih lasuang, nan pakak pambao badia, nan lumpuah pangajuik ayam (yang cerdik dibawa berunding, yang buta penghembus lesung, yang tuli pembawa bedil, yang lumpuh penghalau ayam). Kemudian kestiakawanan sosial juga terlihat ketika makan bersama. Kerbau yang disembelih dimakan oleh anak nagari secara bersama-sama.