PEMBAHASAN TEMUAN PENELITIAN
5.3 Teks Pidato Adat dan Pasambahan Batagak Pangulu
5.3.1.1 Struktur Makro (Tema)
Tema teks pidato adat batagak pangulu adalah mengukuhkan atau mersmikan gelar kebesaran penghulu di Minangkabau. Pengukuhan gelar penghulu ini bertujuan untuk membesarkan gelar penghulu tersebut di nagari agar mempunyai kedudukan yang sama dengan penghulu-penghulu yang sudah dikukuhkan sebelumnya sehingga dia sudah bisa dibawa sehilir semudik untuk membicarakan masalah-masalah yang dihadapi oleh anak nagari. Penghulu yang belum dikukuhkan kedudukannya masih lemah di nagari seperti dikatakan duduknya belum sama rendah tegaknya belum sama tinggi. Misalnya, di Nagari Piobang, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat tempat penelitian yang penulis lakukan ini penghulu atau niniak mamak yang belum dikukuhkan (1) belum bisa belum bisa memberikan pendapat, masukan, dan saran ketika rapat di balai adat atau di Kerapatan Adat Nagari (KAN) dalam membicarakan masalah anak nagari; (2) Kalau ada upacara batagak pangulu atau malewakan gala pengulu dia diundang oleh dubalang tanpa pakai tepak23 dan ketika hadir diacara tersebut dia hanya memakai pakaian biasa dan pakai peci; (3) Kalau ada upacara batagak panglu atau malewakan gala pangulu di rumah gadang tempat duduknya juga dibedakan; dan (4) Mereka tidak bisa menjadi pengurus inti di kantor Kerapatan Adat Nagari (KAN). Selama
penghulu ini belum dikukuhkan selama itu pula mereka tidak mempunyai hak yang sama dengan penghulu yang sudah dikukuhkan seperti yang dikemukan di atas.
Setelah gelar penghulu dikukuhkan kedudukan penghulu tersebut secara adat sudah sama dengan penghulu-penghulu lain seperti dikatakan duduknya sudah sama rendah tegaknya sudah sama tinggi. Pendapat, masukan, dan saran mereka telah bisa dipertimbangkan dalam mengambil suatu keputusan tentang masalah-masalah adat dan pembangunan yang dihadapi oleh anak nagari. Dengan demikian, batagak pangulu tidak lain adalah melegitimasi kedudukan penghulu di nagari.
5.3.1.2 Superstruktur (Struktur Alur)
Teks pidato adat batagak pangulu ini dapat dibagi atas pendahuluan, isi, dan penutup.
a. Pendahuluan
Bagian pendahuluan teks pidato adat batagak pangulu ini disampaikan oleh F. Dt. Patiah Baringek. Bagian pendahuluan ini merupakan pidato pengantar untuk meresmikan 16 orang penghulu yang baru. Dalam pidato pengantar ini berisi:
Pertama, pembukaan dengan pengucapan salam oleh penyampai pidato kepada hadirin lalu permintaan ampun kepada Tuhan, niniak mamak, alim ulama, cerdik pandai, dan bundo kanduang.
Kedua, penyampaian pantun yang berisi pusaka nenek moyang dari dahulu tetap dipakai dan sedikit pun tidak akan hilang.
Ketiga, penyampaian sejarah nenek moyang orang Minangkabau yang menceritakan seorang raja dari awang-gumawang (angkasa) bernama Zulkarnaen turun ke Banu (Benua) Ruhum. Raja Zulkarnaen ini mempunyai anak tiga orang, yaitu (1) Maharaja Alif tinggal di Banur Ruhum; (2) Maharaja Dipang tinggal di Banu (Benua) China; dan (3) Maharaja Dirajo tinggal di Pulau Perca. Pada suatu saat ketika Maharaja Dirajo mengarungi laut dan sampai di tengah laut besar tampaklah api berkedip-kedip sebesar telur itik. Lalu api tersebut dituju tampaklah puncak Gunung Merapi. Dari sinilah asal mula dan turunnya nenek moyang orang Minangkabau.
Pembahasan:
Berdasarkan struktur alur bagian pendahuluan teks pidato adat batagak pangulu di atas teks diawali dengan pengucapan salam secara agama Islam oleh penyampai pidato kepada hadirin sesuai dengan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Lalu dilanjutkan dengan permintaan ampun penyampai pidato adat kepada Tuhan sekiranya dalam penyampaian pidato tersebut ada yang salah. Penyampai pidato adat menyadari bahwa manusia itu adalah makhluk yang lemah di hadapan Tuhan dan mempunyai ilmu yang sedikit bila dibandingkan dengan ilmu dimiliki Tuhan yang menguasai bumi dan langit seperti firman Tuhan dalam Surat Al Baqarah ayat 225.
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya) tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan
Allah tidak merasa berat memelihara keduanya dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.
Nilai kearifan yang bisa diambil dari uraian di atas adalah kesopansantunan. Dengan siapapun berjumpa hendaklah selalu mengucapkan salam sebagai tanda penghormatan terhadap orang tersebut. Begitu juga manusia selalu diajar untuk rendah hati dan tidak sombong karena pada dasarnya manusia itu adalah makhluk yang lemah di hadapan Tuhan.
Kemudian permintaan maaf juga disampaikan kepada niniak mamak, alim ulama, cerdik pandai, dan bundo kanduang sekiranya dalam penyampaian pidato tersebut tidak sesuai dengan digariskan oleh adat. Hal ini menunjukkan bahwa sebagai manusia juga tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan. Nilai yang bisa diambil dari sikap seperti ini adalah kesopansantunan, rendah hati, dan tidak sombong seperti dikatakan dalam pribahasa contohlah ilmu padi semakin lama semakin merunduk. Artinya, manusia semakin berilmu semakin rendah hati bukan sebaliknya bukan menjadi sombong. Nilai inilah yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya untuk menjaga kehidupan yang berbudi dan bermatabat.
Di bahagian pendahuluan teks pidato adat ini dikemukakan juga bahwa adat yang digariskan nenek moyang tetap dipakai dan tidak sedikit pun hilang. Hal ini menunjukkan bahwa apa yang telah digariskan oleh moyang orang Minangkabau yaitu Dt. Katumanggungan dan Dt. Perpatih Nan Sabatang sampai sekarang tetap dipegang teguh. Artinya, aturan-aturan adat yang telah dibuat yang berisi nilai dan norma tetap dipertahankan supaya masyarakat Minangkabau tetap hidup damai dan sejahtera.
Di bagian pendahuluan juga diceritakan sejarah asal-usul nenek moyang orang Minangkabau. Asal-asul nenek moyang orang Minangkabau terdapat dalam Tambo Minangkabau. Menurut Djamaris (1991:74-75) salah satu fungsi Tambo Minangkabau adalah menyatukan pandangan orang Minangkabau terhadap asal-usulnya. Dengan demikian, diuraikan kembali tambo dalam pidato adat batagak pangulu atau malewakan pangulu berarti mengingatkan kembali kepada penghulu yang baru dikukuhkan supaya tahu sejarah asal-usul nenek moyang orang Minangkabau.
b. Isi
Bagian isi teks pidato adat batagak pangulu ini yang disampaikan oleh F. Dt. Patiah Baringek mencakup:
Pertama, ninik yang berdua Dt. Patiah Nan Sabatang dan Dt. Katumangungan dibuatlah adat dan lembaga. Rantau diberi beraja dan luhak diberi berpenghulu. Luhak di Minangkabau terdiri atas Luhak Tanah Datar, Luhak Lubuk Agam, dan Luhak Lima Puluh.
Kedua, penekanan delapan perkara untuk anak laki-laki di Minangkabau sesuai dengan pepatah adat yang dikemukakan oleh Dt. Katumanggungan dan Dt. Perpatih Nan Sabatang, yaitu: (1) menjadi tuanku; (2) kedua menjadi bilal; (3) menjadi khatib; (4) keempat menjadi imam; (5) menjadi hubalang; (6) menjadi pagawai; (7) menjadi penghulu; dan (8) menjadi raja.
Ketiga, mengukuhkan atau meresmikan 16 orang ninik mamak atau penghulu di Jorong Gando. Niniak mamak yang sudah dikukuhkan sudah bisa dibawa seilir semudik.
Pembahasan:
Pada bagian isi diceritakan nenek moyang orang Minangkabau, yaitu Dt. Katumangungan Dt. Patiah Nan Sabatang dan telah membuat adat dan lembaga. Rantau diberi beraja dan luhak diberi berpenghulu. Kemudian luhak dibagi menjadi tiga, yaitu Luhak Tanah Datar, Luhak Lubuk Agam, dan Luhak Lima Puluh. Selanjutnya, penekanan delapan perkara untuk anak laki-laki di Minangkabau salah satu di antaranya adalah menjadi penghulu. Lalu dilanjutkan dengan pengukuhan 16 orang niniak mamak atau penghulu di Jorong Gando. Niniak mamak yang sudah dikukuhkan sudah bisa dibawa sehilir semudik
Penghulu yang sudah dikukuhkan ditandai dengan pemotongan seekor kerbau berarti dia sudah membayar kewajiban terhadap adat seperti dikatakan adaik diisi limbago dituang (adat diisi lembaga dituang). Adat yang sudah digariskan oleh ninik moyang orang Minangkabau, yaitu adat Dt. Katumanggungan dan Dt. Perpatih Nan Sabatang. Penghulu yang sudah dikukuhkan kedudukannya sudah sama dengan penghulu-penghulu yang lain yang sudah diresmikan sebelumnya seperti dikatakan duduaknyo samo randah tagaknyo samo tinggi (duduknya sama rendah tegaknya sama tinggi). Penghulu ini sudah bisa dibawa sehilir semudik untuk membicarakan masalah-masah adat yang dialami anak nagari. Hal ini mengukuhkan aturan-aturan adat yang sudah digariskan oleh oleh nenek moyang orang Minangkabau, yaitu Dt. Katumanggungan dan Dt. Perpatih Nan Sabatang serta penghulu-penghulu di nagari.
Bagi penghulu yang belum dikukuhkan atau diresmikan kedudukannya belum sama dengan penghulu-penghulu yang sudah dikukuhkan sebelumnya seperti dikatakan duduaknyo alun samo randah, tagaknyo alun samo tinggi (duduknya belum sama rendah, tegaknya belum sama tinggi). Mereka belum bisa dibawa sehilir semudik seperti kalau ada ada rapat-rapat penghulu mereka belum bisa membrikan pendapat, masukan, dan saran; kalau ada acara batagak pangulu dia hadir dengan pakaian biasa; tempat duduknya dibedakan di rumah gadang; dan tidak bisa menjadi pengurus inti Kerapatan Adat Nagari (KAN).
Aturan-aturan adat yang dibuat oleh penghulu-penghulu di nagari menyebabkan mereka tidak berdaya menghadapinya. Selama penghulu atau niniak mamak itu belum dikukuhkan mereka akan tetap lemah dan terpingirkan dibalik aturan-aturan adat tersebut. Hal ini perlu dicari solusinya supaya keberadaan penghulu tersebut sama kedudukannya di nagari dengan penghulu- penghulu yang lain yang sudah dikukuhkan atau diresmikan.
c. Penutup
Bagian penutup ini berisi: Pertama, adat sudah diisi dan lembaga sudah dituang oleh niniak mamak atau penghulu yang baru maka niniak mamak yang lama sudah bisa membawa sehilir semudik.
Kedua, pengucapan salam penutup oleh penyampai pidato adat (F. Dt. Patiah Baringek).
Pembahasan:
Ketika penghulu sudah melaksanakan kewajibannya seperti dikatakan adaik diisi limbago dituang (adat diisi lembaga dituang) dengan ditandai dengan
penyembelihan seekor kerbau penghulu tersebut di nagari sudah sama kedudukannya dengan penghulu-penghulu yang lain. Mereka sudah bisa dibawa sehilir semudik untuk membicarakan masalah-masah adat yang dialami anak nagari karena duduaknyo alah samo randah tagaknyo alah samo tinggi (duduknya sudah sama rendah tegaknya sudah sama tinggi).
Adat sudah diisi lembaga sudah dituang berarti penghulu yang baru sudah melaksanakan kewajibannya sesuai dengan aturan adat yang sudah digariskan oleh nenek moyang orang Minangkabau, yaitu Dt. Katumanggungan dan Dt. Perpatih Nan Sabatang. Dengan kata lain aturan adat yang sudah dibuat oleh nenek moyang orang Minangkabu tersebut kembali dikukuhkan atau dikuatkan.
Kemudian teks pengukuhan penghulu diakhiri dengan pengucapan salam penyampai pidato adat oleh F. Dt. Patiah Baringek.