• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. METODE PENELITIAN

4.4. Metode Analisis

4.4.1. Analisis Keterkaitan dan Multiplier

Analisis keterkaitan pada intinya untuk mengamati seberapa jauh keterkaitan antar sektor pada wilayah sendiri dan wilayah lain, yang kemudian berdasarkan hasil analisis tersebut dapat ditunjukkan sektor-sektor infrastruktur mana yang potensial dijadikan sebagai leader dalam perekonomian Kalimantan Timur di masa mendatang. Ukuran- ukuran yang diguna ka n da lam analisis strukt ur ini dapat dijelaskan sebagai berikut.

Matriks transaksi antar wilayah Kaltimtara (U) dan Kaltimsela (S) persamaan keseimbangan output untuk masing- masing wilayah pada studi ini dapat dinotasikan :

XiU= ZijUU + ZijU S + FiU ... [43] XiS= ZijSU + ZijSS + FiS ... [44] dimana :

XiU adalah total output sektor i Kalimantan Timur wilayah Utara XiS adalah total output sektor i Kalimantan Timur wilayah Selatan ZijUU adalah transaksi dari sektor i ke sektor j di Kalimantan Timur

wilayah Utara sendiri

ZijSS adalah transaksi dari sektor i ke sektor j di Kalimantan Timur wilayah Selatan sendiri

ZijUS adalah transaksi dari sektor i ke sektor j dari Kalimantan Timur wilayah Utara ke wilayah Selatan

ZijSU adalah transaksi dari sektor i ke sektor j dari Kalimantan Timur wilayah Selatan ke wilayah Utara

FiU adalah permintaan akhir sektor i di Kalimantan Timur wilayah Utara

FiS adalah permintaan akhir sektor i di Kalimantan Timur wilayah

Selatan.

Selanjutnya berdasarkan asumsi Leontief bahwa fungsi produksi adalah linear (Trinh et al., 2005), maka koefisien input untuk setiap wilayah ditentukan melalui rumus: AiUU = ZijUU / XiU ... [45] AiUS = ZijU S / XiU ... [46] AiSS = ZijSS / XiS ... [47] AiSU = ZijSU / XiS ... [48] dimana :

AiUU adalah matriks koe fisien input sektor i Kalimantan Timur wilayah Utara yang berasal dari wilayah sendiri

AiSS adalah matriks koe fisien input sektor i Kalimantan Timur wilayah Selatan yang berasal dari wilayah sendiri

AiUS adalah matriks koe fisien input sektor i dari Kalimantan Timur wilayah Utara ke wilayah Selatan

AiSU

Persamaan [45] dan [47] menunjukan koefisien input langsung perdagangan pada wilayah sendiri atau intraregion trade direct input coefficient, sedangkan persamaan-persamaan lainnya menjelaskan koe fisien langsung perdagangan antar wilayah atau interregion trade direct input coefficient. Jika setiap persamaan koefisien input di atas diubah ke dalam bentuk perkalian akan diperoleh persamaan matriks transaks i perda gangan, misalnya untuk wilayah U sendiri adalah Zij

adalah matriks koe fisien input sektor i dari Kalimantan Timur wilayah Selatan ke wilayah Utara

UU

perkalian tersebut yang kemudian disubtitusikan ke persamaan [43] sampai dengan [44], maka persamaan keseimbanga n output menjadi :

XiU = AiUU XiU + AiUS XiU + FiU ... [49] XiS = AiSS XiS + AiSU XiS + FiS ... [50] Penyelesaian matriks pada setiap persamaan [49] da n [50] secara terpisah akan menghasilkan matriks invers Leontief untuk masing- masing wilayah seba gai berikut: MUU= [ I - AUU – AUS (I – ASS)-1 ASU ]-1 ... [51] MSS = [ I – ASS – ASU (I – AUU)-1 AU S ]-1... [52] MUS = AU S (I – ASS)-1 ... [53] MSU = ASU (I – AUU)-1 ... [54] dimana :

MUU ada lah matriks multiplier wilayah sendiri Kalimantan Timur wilayah Utara

MSS ada lah matriks multiplier wilayah sendiri Kalimantan Timur wilayah Selatan

MUS ada lah matriks multiplier antarwilayah Kalimantan Timur wilayah Utara ke wilayah Selatan

MSU ada lah matriks multiplier antarwilayah Kalimantan Timur wilayah Selatan ke wilayah Utara

Persamaan [51] da n [52] menunjukkan matriks multiplier pada wilayah sendiri, seda ngka n persamaan [53] da n [54] merupakan matriks multiplier antar wilayah. Jika setiap endogen dalam persamaan matriks multiplier tersebut dicantumkan dalam sebuah tabel, akan diperoleh suatu tabel matriks multiplier antar wilayah seba gai berikut.

Tabel 13. Matriks Multiplier Wilayah Sendiri dan antar wilayah Kalimantan Timur

Output

Input Kaltimtara Kaltimsela

Kaltimtara MUU MUS

Kaltimsela MSU MSS

Sebagaimana halnya dengan tabel I-O wilayah tunggal, pemahaman mengenai nilai sebuah mutliplier untuk sektor tertentu tidak berbeda jauh, dimana secara konseptual nilai multiplier itu menunjukan seberapa besar dampak dari injeksi neraca eksogen, dalam hal ini adalah permintaan akhir suatu sektor terhadap pe ruba han output sektor yang lain atau total output perekonomian. Namun demikian, khusus untuk tabel I-O antar wilayah semacam ini selain dampak antar industri dalam wilayah sendiri ditampilkan dampak antar industri dan antar wilayah sekaligus juga dapat dijelaskan. Multiplier seperti ini biasa disebut sebagai total multiplier spas ial.

Sebagai contoh, jika suatu sektor di wilayah Kaltimtara mempunyai multiplier sebesar mijUS ini menunjukkan besarnya dampak dari injeksi permintaan akhir di sektor i pada wilayah U (Kaltimtara) terhadap output di sektor j pada wilayah S (Kaltimsela). Singkatnya, melalui tabel I-O antar wilayah selain dapat dijelaskan dampak intraindustri atau interindustri untuk wilayah sendiri, juga dampak intraindustri atau interindustri untuk antar wilayah. Inilah salah satu kelebihan yang tidak diperoleh hanya melalui analisis tabel I-O wilayah tungg al.

Selain multiplier output, beberapa multiplier lainnya dapat ditentukan juga, seperti multiplier nilai tambah, pendapatan dan tenaga kerja. Demikian pula

untuk matriks invers Leontief yang digunakan dapat berupa matriks invers terbuka dan tertutup. Termasuk tipe multipliernya dapat ditentukan, yakni multiplier tipe I dan tipe II. Pada prinsipnya seluruh perhitungan multiplier yang digunakan pada analisis tabe l I-O wilayah tunggal dapat diaplikasikan seluruhnya untuk tabel I-O antar wilayah.

Ukuran keterkaitan antar wilayah lainnya yang amat penting dijelaskan adalah indeksss dampak balik antar daerah atau Interregional Feed-Back Index (IFB) dan indeksss dampak balik dan tumpahan antar daerah atau Interregional Feed-Back and Spill-Over Index (IFS). Kedua ukuran ini telah dikembangkan oleh Blair dan Miller (1990) dalam Muchdie (2000), yang biasa digunakan untuk mengukur saling ketergantungan antar wilayah. Berdasarkan kedua indeksss tersebut dapat dianalisis pentingnya keterkaitan antar wilayah di Kalimantan Timur, baik itu pada wilayahnya sendiri yakni antara Kalimantan Timur wilayah Selatan de ngan Utara. IFB dapat dengan mudah diperlihatkan sebagai selisih antara total multiplier pada model I-O wilayah tunggal dan total multiplier pada mod el I-O antar wilayah, yaitu total multiplier yang terjadi di wilayah yang bersangkutan pada model I-O antar wilayah. Sedangkan IFS adalah total multiplier yang terjadi di wilayah lain karena terjadinya peningkatan permintaan akhir pada wilayah yang sedang dianalisis. Dalam studi ini, secara matematis kedua indeksss tersebut untuk masing- masing wilayah dapat dirumuskan:

IFBU = MUU – MSU ... [55] IFBS = MSS – MU S ... [56] IFSU = MUS ... [57] IFSS = MSU ... [58]

dimana :

IFBU adalah interregional feed-back index untuk Kalimantan Timur

wilayah Utara

IFBS adalah interregional feed-back index untuk Kalimantan Timur

wilayah Selatan IFSU

IFSS adalah interregional feed-back and spill-over index untuk

Kalimantan Timur wilayah Selatan

adalah interregional feed-back and spill-over index untuk

Kalimantan Timur wilayah Utara