• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Matriks SWOT Agroindustri Minyak Kelapa

b Minyak Kelapa

1. Permintaan pasar ekspor sangat tinggi 0,13 3,25 0,

4.3.7 Analisis Matriks SWOT Agroindustri Minyak Kelapa

Analisis SWOT (Strengths-Weakness-Opportunities-Threats) merumuskan alternatif- alternatif strategi pemasaran yang bisa digunakan oleh agroindustri minyak kelapa Indonesia dalam mengeskpor produk minyak kelapa berdasarkan kondisi agroindustri saat ini yang digambarkan pada matriks internal-eksternal seperti pada Gambar 24, yaitu pada posisi sel V tahap pertahankan dan pelihara. Alternatif strategi pemasaran yang dihasilkan melalui analisis SWOT disusun dengan menggunakan kombinasi antara faktor-faktor strategis internal dan eskternal yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang mana faktor-faktor tersebut diperoleh berdasarkan studi pustaka, literatur internet, dan diskusi serta wawancara pakar. Hasil analisis SWOT agroindustri

desiccated coconut Indonesia pada umumnya dapat dilihat pada Tabel 28.

Tabel 28. Matriks SWOT Industri Minyak Kelapa

Internal

Eksternal

Kekuatan (Strengths)

1. Ketersediaan bahan baku melimpah, yaitu sebanyak 3,85 juta hektar dengan produksi buah kelapa 16,5 miliar butir buah kelapa 2. Penghasil minyak kelapa

terbesar kedua di dunia, 800- 900 ribu ton per tahun 3. Promosi penjualan cukup baik,

melalui website, Cocoinfo International, Directory Traders APCC

Kelemahan (Weakness)

1. Kurang pengembangan produk, masih dalam bentuk kasar (crude)

2. Harga minyak kelapa tidak stabil karena mengikuti standar harga minyak Rotterdam sehingga keuntungan yang dapat diperoleh juga menjadi tidak tetap

3. Infrastruktur kurang memadai, seperti masih kurang

berkualitasnya pelabuhan internasional dan pasokan listrik

4. Sinkronisasi kebijakan pemerintah masih kurang 5. Kontinuitas bahan baku masih

tidak stabil, masih banyak petani ekspor kelapa butiran dan jumlah tanaman kelapa yang menghasilkan menurun dari 2.789.416 ha pada tahun 2007 menjadi 2.773.489 pada tahun 2009

Peluang (Opportunities)

1. Permintaan pasar ekspor sangat tinggi, cenderung naik dari tahun 2005 yaitu sebesar

Strategi S-O

1. Memperluas wilayah pemasaran ke pasar-pasar yang baru tumbuh, seperti

Strategi W-O

1. Mengembangkan produk seperti dalam bentuk non pangan yaitu produk

2.939.500 ton hingga tahun 2009 yaitu sebesar 3.064.800 ton

2. Perdagangan global semakin terbuka luas dengan adanya CAFTA dan free export taxes

untuk produk kelapa

3. Peningkatan jumlah penduduk dunia, yang mana saat ini mencapai 6.918.687.238 penduduk, meningkat dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 6.884.215.263 4. Pengembangan industri hilir

menjadi produk oleochemical

kelapa dan minyak goreng kelapa

Eropa Timur, Arab, China, dan Rusia serta pasar potensial seperti Amerika dan Eropa (S1, S2, S3, O1, O2, O3)

oleochemicals untuk bahan pembuatan sabun, deterjen, cat, dan produk akhir dalam bentuk pangan seperti minyak goreng, mentega, makanan bayi, dan lain sebagainya sehingga lebih bernilai tambah (W1, W2, W5, O2, O3, O4) 2. Menciptakan keselarasan kebijakan pemerintah yang mendukung industri dan petani kelapa (W2, W3, W4, W5, O1, O2, O3, O4)

Ancaman (Threats)

1. Ekspor bahan baku (kelapa utuh) mencapai 10,4 juta butir pada tahun 2007

2. Negara pesaing memproduksi dengan jumlah lebih banyak 87% dibandingkan yang diproduksi oleh Indonesia 3. Manajemen industri negara

pesaing lebih baik dengan penerapan GMP dan HACCP serta manajemen SDM yang baik sehingga para pekerja memiliki etos kerja yang tinggi 4. Impor dari negara Singapore

lebih mudah dalam hal pemberian L/C dan birokrasi ekspor-impornya lebih sederhana

5. Tersaingi produk minyak nabati lain, seperti minyak kelapa sawit dan minyak kedelai

Strategi S-T

1. Melakukan peremajaan wilayah areal kelapa Indonesia sehingga dapat meningkatkan produktivitas tanaman kelapa Indonesia (S1, S3, T1, T2, T5) 2. Mengusahakan pengembangan

dan pelatihan manajemen industri minyak kelapa Indonesia sehingga lebih teratur dan pekerjanya memiliki etos kerja tinggi (S1, S2, T2, T3, T5)

3. Mempromosikan minyak kelapa sebagai minyak yang tidak berbahaya dan memiliki kandungan kolesterol rendah (S1, S2, S3, T5)

Strategi W-T

1. Memperbaiki infrastruktur yang ada dan menambah infrastruktur agar

memperlancar proses ekspor (W3, W4, T3, T4)

2. Meningkatkan efisiensi proses dengan melakukan proses pengolahan kelapa terpadu agar dapat membeli kelapa butiran dengan harga lebih mahal dibanding negara pesaing (W2, W4, W5, T1, T2, T3)

3. Meningkatkan kemudahan birokrasi dalam proses ekspor- impor dengan meningkatkan tingkat keamanan di pelabuhan, pemberrian kemudahan dalam hal perizinan, serta pemberian kepercayaan yang mudah dalam mengeluarkan L/C (W3, W4, T4)

Berdasarkan analisis matriks SWOT, dirumuskan strategi-strategi pemasaran yang dapat diaplikasikan sebagai berikut:

1. Strategi SO

Strategi SO adalah strategi yang menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang (Rangkuti, 2006). Berdasarkan analisis matriks SWOT pada agroindustri minyak kelapa Indonesia, dihasilkan satu alternatif strategi SO yaitu memperluas wilayah pemasaran. Sampai tahun 1980, Indonesia masih belum diperbolehkan mengekspor produk kelapa karena kelapa dijadikan minyak goreng untuk kebutuhan domestik yang mana hal ini terjadi pada saat sebelum adanya minyak kelapa sawit. Sehingga Indonesia terlambat memasuki pasar ekspor kelapa dan hanya mampu merebut pasar-pasar baru atau permintaan tambahan dari pasar-pasar yang sebelumnya telah direbut oleh negara lain seperti Filipina. Oleh karena itu, untuk meningkatkan volume ekspor dari agroindustri minyak kelapa itu sendiri diperlukan perluasan daerah pemasaran untuk mengisi pasar-pasar yang baru tumbuh, seperti Eropa Timur, Arab, China, dan Rusia. Selain itu juga perlu dilakukan pemasaran yang lebih intensif ke negara-negara potensial yang memiliki permintaan cukup besar untuk produk-produk kelapa seperti Amerika dan Eropa. Seperti yang dinyatakan oleh Kotler (1997), strategi pengembangan pasar baru merupakan salah satu strategi pertumbuhan intensif, kisi ekspansi pasar atau produk.

2. Strategi WO

Menurut David (2009), strategi WO adalah strategi yang meminimalkan kelemahan yang dimiliki untuk memanfaatkan peluang yang ada.Terdapat dua alternatif strategi untuk strategi WO, yaitu: 1) Mengembangkan produk sehingga lebih bernilai tambah, 2) Menciptakan keselarasan kebijakan pemerintah yang mendukung industri dan petani kelapa.

Pengembangan produk bertujuan untuk meningkatkan volume eskpor produk kelapa Indonesia. Dengan mengembangkan produk minyak kelapa hingga lebih kepada produk hilir seperti dalam bentuk non pangan seperti produk oleochemicals untuk bahan pembuatan sabun, deterjen, cat, dan produk akhir dalam bentuk pangan seperti minyak goreng, mentega, makanan bayi, dan lain sebagainya. Sehingga akan diperoleh peningkatan nilai tambah yang mana juga meningkatkan keuntungan, serta penambahan lapangan kerja bagi rakyat Indonesia. Namun demikian, strategi ini dapat tercipta melalui bantuan pemerintah dan kerjasama dengan negara yang biasa mengimpor produk minyak kelapa dari Indonesia untuk diolah kembali menjadi produk oleochemical kelapa. Diperlukan kerjasama dengan pengimpor minyak kelapa sebagai negara yang memasarkan produk oleochemical kelapa dan Indonesia sebagai produsen produk oleochemical tersebut dengan teknologi proses dan peralatan yang dibantu oleh pemerintah dalam mempelajarinya dan dalam menyediakan.

Dalam hal memajukan perindustrian kelapa Indonesia dan memajukan kesejahteraan petani kelapa Indonesia, diperlukan keselarasan kebijakan pemerintah, baik dari Kementrian Perindustrian, Perdagangan, maupun Pertanian. Misalnya dengan pemberian insentif dari pemerintah untuk agroindustri kelapa, antara lain dengan penyediaan bebas pajak (tax holiday) bagi industri dalam jangka waktu tertentu untuk pajak pembangunan, pajak penghasilan, dan lain-lain, atau pemberian dana untuk membangun infrastruktur. Sehingga hal ini mendukung industri untuk membeli bahan baku (kelapa) dari petani dengan harga tinggi, atau hal tersebut dapat dijadikan persyaratan bagi industri jika menginginkan memperoleh bebas pajak dalam jangka waktu tertentu. Sehingga industri Indonesia dapat

menguasai kelapa dalam negeri dan para petani dapat tetap sejahtera dengan harga tinggi untuk kelapa yang dibeli oleh para industri.

3. Strategi ST

Strategi ST adalah strategi yang menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk mengatasi ancaman yang ada(Manktelow dan Carlson, 2011). Terdapat tiga alternatif strategi pemasaran yang dirumuskan melalui strategi ST, yaitu: 1) Melakukan peremajaan wilayah areal kelapa Indonesia, 2) Mengusahakan pengembangan dan pelatihan manajemen industri minyak kelapa Indonesia sehingga lebih teratur dan pekerjanya memiliki etos kerja tinggi, 3) Mempromosikan minyak kelapa sebagai minyak yang tidak berbahaya dan memiliki kandungan kolesterol rendah.

Strategi peremajaan wilayah areal kelapa Indonesia perlu dilakukan guna meningkatkan produktivitas kelapa di Indonesia. Strategi peremajaan atau rehabilitasi ini dilakukan dengan penggunaan benih unggul yang telah direkomendasikan oleh pemerintah dan bahkan dapat dilakukan perluasan di daerah yang secara agroekologi sesuai untuk tanaman kelapa. Sehingga dengan bertambahnya produktivitas, bahan baku untuk pembuatan minyak kelapa pun akan semakin bertambah dan produksi minyak kelapa juga akan meningkat. Sehingga dapat memenuhi permintaan negara-negara potensial seperti Amerika yang jumlah impor minyak kelapanya terbanyak di dunia yaitu sebesar 484.341 ton pada tahun 2009 (APCC, 2009). Tentunya hal ini dapat meningkatkan ekspor minyak kelapa Indonesia.

Strategi pelatihan manajemen industri bertujuan untuk menciptakan agroindustri minyak kelapa yang memiliki manajemen industri yang baik, teratur, disiplin, sehingga memiliki pekerja yang beretos kerja tinggi serta manajemen proses yang higienis dengan teknologi canggih dan proses produksi minyak kelapa yang higienis sehingga dapat menyaingi pesaing utama, seperti Filipina dan Srilanka. Dengan pelatihan manajemen industri yang diciptakan atau diatur dan diselenggarakan secara rutin oleh industrinya sendiri maupun dengan bantuan fasilitas dari pemerintah, manajemen industri minyak kelapa Indonesia dapat lebih maju dibanding negara lain dan dapat menghasilkan produk minyak kelapa dengan kualitas lebih baik serta mampu dipercaya oleh negara-negara pasar potensial untuk memenuhi kebutuhan minyak kelapa mereka.

Promosi minyak kelapa sebagai minyak yang tidak berbahaya dan mengandung kolesterol yang paling kecil dibanding minyak lainnya diperlukan untuk membuat dunia (pasar potensial ekspor minyak kelapa) mengetahui bahwa minyak kelapa merupakan minyak terbaik dibanding minyak lainnya. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengunjungi pameran produk kelapa di pasar potensial dan menunjukkan produk minyak kelapa Indonesia serta menjelaskan mengenai karakteristik minyak kelapa, baik melalui presentasi, pamflet, poster, dan lain sebagainya, serta dapat memberikan tester minyak kelapa hasil produksi Indonesia. Sehingga hal ini akan menjadikan permintaan minyak kelapa Indonesia akan semakin meningkat dan ekspor minyak kelapa Indonesia juga dapat semakin meningkat.

4. Strategi WT

Strategi WT adalah strategi yang bersifat defensif dengan cara meminimalkan kelemahan dan menghindari ancaman yang ada (David, 2009). Terdapat tiga alternatif strategi WT yang dapat diterapkan, yaitu: 1) Memperbaiki infrastruktur yang ada dan menambah infrastruktur agar memperlancar proses ekspor, 2) Meningkatkan efisiensi proses

agar dapat membeli kelapa butiran dengan harga lebih mahal dibanding negara pesaing, 3) Meningkatkan kemudahan birokrasi dalam proses ekspor-impor

Memperbaiki dan menambah infrastruktur sangat dibutuhkan guna menunjang kelancaran proses dan distribusi ekspor produk minyak kelapa ini. Contohnya untuk infrastruktur seperti pelabuhan internasional. Penambahan pelabuhan internasional di Indonesia memang tidak mudah, oleh karena itu usaha untuk meningkatkan kualitas dari infrastruktur yang ada dapat dilakukan agar sistem di pelabuhan internasional tersebut berjalan lebih lancar dan baik. Seperti memperbaiki agar tidak terjadi kemacetan di sekitar pelabuhan, pengusahaan air bersih, pengusahaan alat bongkar muatan agar tidak lama pengoperasiannya, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, agroindustri juga perlu mendukung agar bisa saling menjaga infrastruktur yang ada.

Efisiensi proses juga diperlukan agar industri dapat memperoleh keuntungan yang lebih dan tidak terdapat bahan baku yang terbuang sia-sia. Efisiensi proses dilakukan dengan pengusahaan proses pengolahan kelapa terpadu dengan unit pengolahan yang dapat menghasilkan beraneka ragam produk dan memanfaatkan seluruh bagian dari kelapa yang dibeli industri di petani sehingga dapat memperoleh keuntungan lebih. Hal ini juga bertujuan untuk meningkatkan harga kelapa petani, sehingga industri dapat membeli kelapa dengan harga yang tinggi, sehingga petani juga tidak mengekspor kelapa (butir) ke negara lain karena industri di negeri sendiri mampu membeli dengan harga mahal yang diinginkan petani. Hal ini dapat saling menguntungkan kedua belah pihak dan meningkatkan ekspor kelapa Indonesia. Ini merupakan salah satu strategi menguasai bahan baku dari dalam negeri sendiri.

Peningkatan kemudahan birokrasi dalam proses ekspor-impor bertujuan agar para pembeli dari negara potensial tidak merasa kesulitan dalam melakukan proses impor dari negara Indonesia. Kemudahan birokrasi tidak hanya dalam hal perizinan, namun juga dalam hal keamanan yang biasanya terdapat permintaan tarif tertentu dari pihak yang tidak bertanggung jawab sehingga memperlambat proses pengiriman barang ke negara pasar potensial. Hal ini dapat diterapkan dengan kebijakan dari pemerintah untuk tidak mempersulit masalah perizinan, meningkatkan keamanan di sekitar pelabuhan internasional, serta menempatkan aparat pemerintahan yang bertanggung jawab untuk ditugaskan di sekitar pelabuhan internasional, baik itu dari pihak bea cukai, maupun dari pihak Dinas Perhubungan. Tentu saja hal ini dapat meningkatkan ekspor produk kelapa Indonesia.