PERAIRAN DANGKAL DI PULAU SEMAK DAUN KEPULAUAN SERIBU JAKARTA
4 ANALISIS EKONOM
4.3 Analisis Pelepasan, Pertumbuhan dan Panen
Secara keseluruhan perairan dangkal di sekitar P Semak Daun seluas 678.31 ha. Wilayah ini terdiri dari empat goba dan satu area yang merupakan satu penggalian pasir dan pengambilan koral untuk bangunan. Hasil penelusuran atas wilayah ini didapatkan bahwa masing-masing goba tersebut mempunyai luasan yang berbeda-beda seperti terlihat dalam Gambar 4.2.
Gambar 4.2 Goba dan Perairan Pulau Semak Daun
Digitasi pada luasan tersebut didapatkan bahwa jumlah keseluruhan wilayah tersebut adalah sebesar 678.301 ha, dengan wilayah paling luas adalah Goba Karang Lebar. Bila wilayah pengambilan karang dan penambangan pasir dikeluarkan dari wilayah yang potensial untuk implementasi sea ranching, maka luas total keseluruhan perairan ini adalah 508.61 ha. Hasil analisis perhitungan luas wilayah masing-masing goba tersebut adalah sebagai berikut.
Tabel 4.1 Luas wilayah perairan di perairan dangkal Semak Daun
No. Wilayah Luas (ha)
1. Goba Semak Daun 139.06
2. Karang Sempit 43.90
3. Goba Kucing 74.82
5. Karang Lebar 250.84
6. Wilayah pengambilan karang
dan penambangan pasir 169.69
Total 678.301
Ikan Kerapu bebek adalah jenis ikan karnivora. Ikan karnivora mempunyai kecenderungan untuk bersifat memangsa hewan lain, termasuk ikan kerapu dalam ukuran lebih kecil. Sehingga penebaran ikan kerapu harus memperhatikan sifat
ini. Pada sisi lain, ikan kerapu juga merupakan ikan yang berasosiasi dengan karang. Sehingga ikan Kerapu mempunyai area ruaya yang lebih terbatas.
Studi sebelumnya oleh Kurnia (2012) bahwa daya dukung lingkungan untuk restocking pada sea ranching dengan tipe panen (harvest type), sebesar 0.7 sampai 1.06 ton/tahun. Pola penebaran yang optimal dilakukan pada ukuran panjang tebar 17 cm, dengan total jumlah juvenile sebanyak 4 000 ekor dan produksi (recaptured) sebesar 1.059,661 kg per tahun. Kondisi ini pada nilai koefisien mortalitas penangkapan (F) sebesar 0.376, yang menunjukan besarnya hasil tangkapan kembali ikan yang bisa dilakukan.
Pertumbuhan alami ikan kerapu bebek di alam berbeda dengan ikan kerapu yang dibesarkan di karamba jaring apung, karena pengaruh tidak adanya pemberian pakan. Hasil pendugaan parameter ikan kerapu macan yang ditangkap di alam adalalah L∞ = 97.48, t0 = -0.44 dan k =0.27 (Kurnia 2012). Berdasarkan
parameter tersebut, persamaan pertumbuhan ikan kerapu sebagai fungsi waktu sesuai persamaan Von Bertalanfy adalah :
………(1) dengan :
Lt = panjang ikan pada waktu umur ikan ke-t (cm) t = waktu umur ikan (tahun)
Ikan kerapu macan di alam pada lokasi penelitian bersifat allometrik postif (Kurnia 2012) yang ditunjukan oleh persamaan yang menghubungkan bobot ikan (W) dengan panjang ikan (L) sebagai berikut :
W=0.008L3.16…………(2)
Panjang ikan dan bobot ikan yang diturunkan dari rumus pertumbuhan ikan dan hubungan panjang berat ikan kerapu macan di alam dapat dilihat dalam table berikut.
Tabel 4.2 Pertumbuhan Panjang dan Bobot Ikan Kerapu Umur
Ikan (Bulan)
Waktu Umur
ikan (tahun) Panjang Ikan (Lt) (cm) Berat Ikan per ekor (gram/ekor) 1 0.08 12.85 25.51 2 0.17 14.73 39.30 3.24 0.27 17.00 61.90 4.24 0.35 18.80 84.94 5.24 0.44 20.55 112.54 6.24 0.52 22.26 144.92 7.24 0.60 23.93 182.23 8.24 0.69 25.57 224.59 9.24 0.77 27.17 272.08 10.24 0.85 28.73 324.73 11.24 0.94 30.26 382.57 12.24 1.02 31.76 445.56 13.24 1.10 33.22 513.67
Berdasar Tabel 4.2, maka umur ikan pada saat penebaran dengan panjang 17 cm adalah setara umur 3.24 bulan di alam, dengan bobot ikan 61.90 gram/ekor. Panjang ikan yang mencapai L∞ sepanjang 97.48 cm akan terjadi pada umur ikan 33 tahun dengan bobot sebesar 15 kg/ekor. Ukuran ikan yang bisa dijual dimulai pada bobot 3.0 ons ke atas atau dimulai pada ikan ukuran 28.73 cm atau setara umur ikan 10.24 bulan bisa dipanen. Umur ikan pada 10.24 bulan setara dengan 7 bulan dari waktu penebaran (penebaran dilakukan di awal bulan) seperti terlihat dalam tabel berikut.
Tabel 4.3 Umur, panjang dan berat ikan setelah waktu penebaran Umur
Ikan (bulan)
Umur ikan
(tahun) pada umur ke-t Panjang Total (Lt) (cm)
Berat Ikan
(gram/ekor) Waktu setelah enebaran (bulan) 1.00 0.08 12.85 25.51 2.00 0.17 14.73 39.30 3.24 0.27 17.00 61.90 1 4.24 0.35 18.80 84.94 2 5.24 0.44 20.55 112.54 2 6.24 0.52 22.26 144.92 3 7.24 0.60 23.93 182.23 4 8.24 0.69 25.57 224.59 5 9.24 0.77 27.17 272.08 6 10.24 0.85 28.73 324.73 7 11.24 0.94 30.26 382.57 8 12.24 1.02 31.76 445.56 9 13.24 1.10 33.22 513.67 10 14.24 1.19 34.65 586.83 11 15.24 1.27 36.05 664.96 12 16.24 1.35 37.41 747.95 13
Sumber : Hasil analisis berdasarkan model dari Kurnia (2012).
Laju kematian alami (mortalitas alami/M) ikan kerapu macan di lokasi studi sebesar 0.45 sampai 0.46 per tahun (Kurnia 2012). Informasi ini sangat berguna untuk mengestimasi jumlah biomasa ikan yang berada pada perairan. Mortalitas alami ini bisa dikarenakan kematian oleh predasi, penyakit atau factor lainnya.
Bila dilihat dari waktu dari penebaran sampai ukuran panen sesuai dengan permintaan pasar minimal 7 bulan, maka akan terlalu lama. Sehingga walaupun mungkin secara bio-teknis bisa dilakukan, tetapi sulit bagi nelayan untuk bisa bertahan tanpa penghasilan selama kurun waktu minimal 7 bulan. Secara ekonomis hal ini tidak menguntungkan. Sehingga perlu disimulasikan pola penebaran (release) dengan pola musim bulanan (seperti pola musim tebar pada budidaya). Sehingga nelayan mempunyai potensi pendapatan terjadwal. Namun demikian, dengan karakteristik ikan kerapu yang cenderung predator sehingga berpotensi kanibal, maka penebaran tidak dilakukan pada satu perairan yang sama dengan ukuran ikan yang berbeda. Untuk menghindari terjadinya pemangsaan ikan oleh ikan yang lebih besar, maka dapat dilakukan penebaran pada ukuran yang berbeda pada wilayah perairan yang berbeda. Oleh karena itu, dengan
adanya wilayah goba dengan batasan alamiah berupa perairan; maka setiap goba dapat dimanfaatkan menjadi satu tempat pelepasan ikan muda kerapu dengan satu ukuran. Sehingga potensi terjadinya kanibalisme akan semakin rendah, dan memungkinkan adanya kematian alamiah yang semakin rendah.
Walaupun terdapat eman wilayah (zona) dalam perairan dangkal Semak Daun, tetapi satu wilayah merupakan wilayah pengambilan karang dan pasir untuk bahan bangunan non-komersial. Walaupun tidak dikuatkan oleh peraturan legal (mengingat bahwa wilayah ini merupakan bagian dari Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu), tetapi masyarakat telah mempunyai kesepakatan menetapkan daerah di bagian timur Goba Karang Lebar merupakan wilayah pengambilan karang dan pasir. Sehingga jumlah goba yang bisa dimanfaatkan untuk pelepasan ikan kerapu muda adalah 5 unit.
Waktu yang diperlukan untuk sampai pertumbuhan ikan pada ukuran yang ditangkap kembali minimal adalah 7 bulan, dengan perkiraan bobot ikan per ekor 324.74 gram/ekor. Harga maksimal diperoleh pada saat ikan berukuran 500 gram/ekor, yang akan dicapai pada waktu umur ikan 13.24 bulan atau setelah pelepasan ikan 10 bulan. Untuk kepentingan analisis ini, maka digunakan waktu 10 bulan pertumbuhan ikan sampai dengan ukuran tertangkap pada satu wilayah goba. Sehingga jeda waktu pelepasan antar goba adalah 2 sampai 3 bulan. Bila menggunakan asumsi ini, maka nelayan akan dapat memanen ikan setiap 2 sampai 3 bulan sekali tetapi pada lokasi goba yang berbeda.
Jumlah ikan muda yang dilepas, secara proporsional disesuaikan dengan proporsi luas perairan dalam satu goba. Total jumlah penebaran ikan per tahun 4 000 ekor dengan tingkat hasil tangkapan kembali (harvest) sebesar 1.058,661 kg sesuai dengan daya dukung wilayah perairan. Dalam simulasi ini maka diasumsikan :
1. Tingka produksi/panen (harvest) proporsional dengan jumlah benih yang ditebar.
2. Produktivitas primer perairan masing-masing goba sama.
3. Tingkat kematian ikan juvenile alamiah (M) sama mengingat bahwa mempunyai perairanan mempunyai kondisi ekosistem yang saling terhubung.
4. Tingkat kematian akibat mortalitas tangkapan (F) diasumsikan sama karena menggunakan alat tangkap yang sama.
5. Kualitas benih yang ditebar sama.
Berdasarkan kebutuhan juvenile untuk setiap pelepasan ikan secara proporsional, Karang Lebar membutuhkan benih yang paling besar. Kebutuhan benih juvenil setiap pelepasan dapat dilihat dalam tabel berikut.
Tabel 4.4 Luasan dan kebutuhan jumlah juvenil yang perlu dilepas No. Naman Goba Luasan
(ha) Luasan (%) Proporsi Jumlah Juvenil Dilepas (ekor)
1. Semak Daun 139.06 . 1 094
2. Karang Sempit 43.9 8.63 345
3. Goba Kuning 74.82 14.71 588
4. Karang Lebar 250.84 49.32 1 973
Pola penebaran ikan muda (juvenile) kerapu disimulasikan seperti pada tabel berikut. Kotak yang berwarna lebih gelap menunjukan adanya penebaran ikan sesuai dengan kapasitas yang proporsional sesuai dengan perhitungan diatas. Pada bulan ke-10 setelah penebaran. sesuai dengan pola pelepasan yang dilakukan maka dilakukan penangkapan sekaligus dilakukan pelepasan kembali sejumlah yang sama pada goba yang sama. Demikian pola ini terus berlangsung selama analisis yaitu 5 tahun atau bulan ke-60.
Tabel 4.5 Jadwal pelepasan juvenil ikan kerapu pada setiap goba di perairan dangkal Semak Daun pada sistem sea ranching
No Nama 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 Semak Daun 2 Karang Sempit 3 Kucing 4 Karang Lebar
Keterangan : Kotak yang berwarna gelap menunjukan adanya pelepasan juvenile
Pola ini berimplikasi penting secara ekonomis. karena menunjukan adanya arus kas yang keluar (cash out-flow) maupun arus kas masuk (cash in-flow) dari sisi pengelola sea ranching. Tetapi pola ini juga secara ekonomis dapat menggambarkan pola arus kas yang masuk dan keluar dari wilayah sea ranching secara keseluruhan. karena adanya beberapa input dalam sea ranching yang harus didatangkan dari luar wilayah. khususnya Kelurahan Pulau Panggang.
Seperti dalam konsepsi awal. bahwa kegiatan sea-ranching mensyaratkan adanya habitat ikan yang menjamin ketesediaan pakan alami untuk mendukung pertumbuhan ikan optimal. Karakteristik ikan kerapu adalah ikan yang berasosiasi dengan karang. sehingga adanya karang yang memadai untuk mendukung kehidupan kerapu di alam menjadi prasyarat ekosistem yang dibutuhkan. Pada sisi lain. bila kondisi ini terjadi menimbulkan potensi wisata berupa wisata pancing (sport fishing) dan wisata snorkling. Hal ini juga sesuai dengan kondisi wilayah Kelurahan P. Panggang sebagai salah satu destinasi wisata penting di Kepulauan Pulau Seribu. khususnya Kecamatan Kepulauan Seribu Utara.