• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERAIRAN DANGKAL DI PULAU SEMAK DAUN KEPULAUAN SERIBU JAKARTA

B. Biaya Variabel

5. PKSPL-IPB

5.4 Analisis Rejim dan Hak Sumberdaya 1 Rejim Sumberdaya

5.4.3 Perubahan Regim Untuk Pengelolaan Sea ranching

Masyarakat secara umum masih memahami bahwa pola pemanfaatan didasarkan pada akses terbuka (bebas tanpa ijin), dan milik bersama (common property). Persoalan penting dalam sea-ranching adalah (Whitmarsh, 2001) : (a) proses penangkapan kembali yang tidak terkontrol (jumlah dan waktu), (b) perusakan habitat dan (c) penangkapan yang dilakukan oleh nelayan diluar anggota sea ranching.

Dalam implementasinya agar somatic production sea ranching berjalan dengan baik terdapat tiga faktor penting yaitu : (a) Kepastian spasial, (b) Aturan main (rules of the game) dan (c) Organisasi/lembaga sebagai representasi kelompok nelayan dalam proses-proses kelembagaan (player of the game), agar tercapai kondisi wilayah yang tidak terganggu (demarcated area). Sea ranching harus dipahami sebagai bagian dari pengkayaan perikanan, yang hanya berjalan pada satu kondisi tertentu dan mungkin memerlukan transformasi beragam aspek teknis dan biologis serta pasar dan kelembagaan sebagai atribut sistem perikanan (Lorensen, 2008). Untuk itu diperlukan perubahan mendasar pada rejim yang melingkupi sistem sea ranching seperti terlihat dalam gambar berikut.

Rejim sumberdaya adalah struktur kelembagaan yang mendistribusikan akses pada sumberdaya dan pemanfaatannya (Vatn 2007). Berdasarkan

klasifikasi sumberdaya (Ostrom 2002), transformasi dari rejim sumberdaya diperlukan untuk sea ranching dari CPR yang bersifat non-exclusion menjadi rejim barang kelompok/grup atau barang privat semu, yang mempunyai kekuatan mengekslusi kuat. Seperti dikemukakan Eggertsson (2011), eksklusi ini sangat penting untuk terciptanya demarcated area, yang sangat bernilai ekonomis bagi sea ranching. Dalam perspektif kekuatan eksklusi (Hall et al. 2011), pada kasus sea ranching di perairan dangkal P Semak Daun sumber kekuatan ekshlusi ini adalah aturan pemerintah yang legitimatif. Sebab berdasarkan pada regulasi yang ada dengan rejim kepemilikan negara (state property), maka mekanisme pasar (proses jual beli) tidak bisa dilakukan untuk sumberdaya perairan (laut). Sedangkan sumber kekuatan eksklusi berbasis kekuatan (power) akan menimbulkan konflik disamping bertentangan dengan regulasi yang ada. Agar implementatif, maka prasyaratnya adalah ; (1) regulasi pemerintah harus efektif dan kuat (pemerintah kuat), dan (2) menimbulkan trade-off positif atau tidak menyebabkan worse-off bagi nelayan yang sebelumnya menangkap pada wilayah tersebut. Sehingga diperlukan kompensasi atas nelayan yang sebelumnya menangkap ikan (Gains 2013) diwilayah tersebut terutama pada saat musim barat. Kompensasi ini diberikan secara kolektif melalui kelembagaan perwakilan nelayan yang legitimatif (Jentoft 2000). Salah satu bentuknya adalah adanya jaminan bahwa nelayan merupakan penerima manfaat (beneficiaries) dari program ini, dimana kelembagaan pengelola sea ranching merupakan representasi dari nelayan yang terkena dampak proses lebih tangkap terutama bagi nelayan yang sebelumya menangkap di wilayah tersebut. Kelembagaan ini bisa merupakan HNSI maupun kelembagaan nelayan lain yang berada di wilayah tersebut. Bila kekuatan pemerintah ini efektif, maka pola rejim pengelolaan pun secara efektif bergeser dari akses terbuka menjadi akses tertutup/terbatas. Secara internasional, praktek atas kompensasi dilakukan pada pemanenan energi listrik (wind farm) (Perry dan Smith 2012) atau area perlindungan laut (Lelwellyn 2007).

Masyarakat nelayan sudah mengenal penutupan akses perairan, karena sebagian wilayah KAKS adalah wilayah TNKS dengan berbagai kriteria, dimana salah satunya adalah zona inti (no take zone). Secara mikro, masyarakat juga mengenal Area Perlindungan Laut (APL) yang berlokasi di Kel. P Panggang. Pengalaman dan pengetahuan ini menjadi dasar atas persepsi nelayan atas penutupan wilayah untuk kegiatan penangkapan. Hasil survey penelitian ini menunjukan bahwa 49.23% responden setuju untuk dilakukan pelarangan penangkapan seperti terlihat dalam gambar berikut.

Pengalaman secara empirik masyarakat setempat tentang perubahan rejim ini adalah pembentukan Area Perlindungan Laut Berbasis Masyarakat (APL-BM) yang dibentuk sejak tahun 2003 di Kelurahan P Panggang. Lokasi APL mengokupasi perairan yang sebelumnya bersifat common pool resources, akses terbuka dan sekarang berupa menjadi tertutup. Atas dasar SK Bupati KAKS No.375/2004, pengelola APL mempunyai kewenangan untuk mengusir nelayan (melakukan ekslusi) yang melakukan penangkapan di wilayah APL. Sehingga masyarakat bisa menerima. Pengawasan, zonasi, pemberian tanda area (boundary) dan sanksi menjadi instrumen pengaturan yang penting untuk pengelolaan APL- BM. Sehingga otorisasi secara legal menjadi satu kebutuhan bagi pengelolaan sea ranching yang efektif.

Transformasi rejim hak sumberdaya (Ribot dan Peluso 2003) dari akses ke hak kepemilikan (property) sebagai prasyarat demarcated right dapat diperoleh dari peralihan kewenangan (transfer of authority) kepemilikan perairan sea ranching oleh pemerintah sampai batas klasifikasi kepemilikan tertentu (Charles 2001; Schlager dan Ostrom 1992) dan karakteristiknya (Scot 2008) kepada kelompok nelayan yang legitimatif. Hal ini mengingat bahwa secara kultural dan legal formal, kepemilikan sumberdaya perairan di lokasi sekarang adalah state property. Karena demarcated right menimbulkan ekslusi, sehingga dasar dari kekuatan ekslusi (exclusion power) tersebut adalah regulasi pemerintah. Seperti diuraikan sebelumnya, efektivitas penyerahan dan sistem ekslusi ini sangat tergantung dari kekuatan/kapasitas pemerintah. Semakin kuat pemerintah, demarcated right akan semakin efektif dan esklusi semakin mudah. Sehingga demarcated right tersebut semakin kuat dan sah (legitimated). Beberapa regulasi pemerintah dapat menjadi seperti UU No. 1/2014 tentang pemerintahan daerah dan UU No.23/2014 perubahan UU No.27/2004 tentang pengelolaan WP3K. Penyerahan sistem eksklusi dilakukan pada masyarakat lokal dalam bentuk komunal yang direpresentasikan koperasi, bila syarat teknis, administrative dan operasioanl telah dipenuhi.

Pemberian hak ijin pemanfaatan (use right) sebagai bagian sistem property (Schlagger dan Ostrom 1992) yang menjadi dasar hak demarkatif, harus disertai Gambar 5.17 Persepsi responden pada pelarang penangkapan di lokasi sea

dengan karakteristiknya (Scott 2008) yaitu ekslusivitas, waktu yang berlaku, fleksibilitas, kualitas, transferabilitas dan divisibilitas.

Eksklusivitas merupakan salah satu hal mendasar untuk membangun sistem sea ranching. Eksklusivitas bagi sea ranching tercermin dalam dua bentuk pokok yaitu : (a) berhak menghindari atau mencegah gangguan secara fisik ke area sea ranching, dan (b) kebebasan untuk menggunakan haknya secara agregatif atas wilayah perairan dalam area sea ranching. Fleksibilitas menunjukan pemilik ijin secara fleksible bisa menggunakan kekuasaan dan kewajibannya tanpa mengurangi haknya. Kualitas hak menggambarkan bahwa hak tersebut aman dari klaim pihak lain sampai batas tertentu, dan pemilik hak mendapatkan imbalan (pay-off) dari usaha pemanfaatan perairan tersebut. Kualitas hak secara historis ditentukan oleh tiga hal (Scott 2008) : legitimasi, penegakan dan kebebasan dari perampasan.

Konsep dapat dipindah (transferable) hanya hak pemanfaatannya saja, bukan merujuk pada alienation (Schlagger dan Ostron 1992) bagi bukti fisik kepemilikan (physical). Sedangkan divisibilitas, terkait dengan multiple use divisibility (Scott 2008) bukan horizontal atau vertical divisibility. Karena wilayah demarcated sea-ranching bisa digunakan untuk pemanfaatan lain yang bisa menguntungkan seperti wisata secara ekslusif (snorkeling, diving, memancing).

Berdasarkan analisis diatas, maka transformasi rejim untuk mendukung sea ranching secara ringkas dapat digambarkan pada Gambar 5.18 berikut.

Untuk mendorong pengelolaan sea ranching efektif, maka perlu dibangun aturan sebagai variabel eksogen bagi kelembagaan sea ranching. Responden mengusulkan beberapa poin yang diperlukan seperti terlihat dalam Tabel 5.10. Tabel 5.10 Persepsi responden pada elemen aturan untuk pengelolaan sea

ranching

No. Elemen (%) No. Elemen (%)

1. Pengawasan 52.31 8. Pembentukan Kelompok 9.23 2. Penjagaan 32.31 9. Peningkatan Kesadaran 6.15 3. Pemberian Tanda Batas 20.00 10. Penetapan Pemerintah 6.15

4. Pelarangan 18.46 11. Sosialisasi 4.62

5. Zonasi 12.31 12. Perlunya Rancangan Pengelolaan 3.09 6. Penjelasan boleh dan tidak boleh 10.77 13. Transparansi Pengelolaan 1.54 7. Sanksi 10.77 14. Mata Pencaharian Alternatif 1.54

Sumber : Hasil Survei, 2014, n= 65

Keterangan : % jumlah responden yang memilih elemen tersebut dibanding dengan total responden.