PERAIRAN DANGKAL DI PULAU SEMAK DAUN KEPULAUAN SERIBU JAKARTA
B. Biaya Variabel
5. PKSPL-IPB
5.3.5 Dampak Pengelolaan
5.3.5.1 Dampak Pada Sumberdaya Alam
Keberhasilan pengelolaan sea ranching, diharapkan berdampak pada tiga komponen besar yaitu : (1) Dampak pada kelestarian sumberdaya, (2) Dampak pada kondisi sosial masyarakat, dan (3) Dampak pada sumberdaya finansial. Sebagian dampak tersebut telah dianalisis dari penelitian sebelumnya, dan tidak menjadi kajian dari penelitian ini tetapi menjadi input untuk analisis kelembagaan ini.
Menurut Kurnia (2012) hasil analisis menunjukan bahwa pada penebaran pola sistem sea ranching tipe panen (harvest type) yang sesuai dengan daya dukungnya, diharapkan proses lepas-tumbuh-tangkap akan sesuai dengan daya dukung nutrien yang ada pada ekosistem ini. Penebaran juvenile ikan kerapu macan di lokasi tersebut akan menyeimbangkan struktur tropik dari ekosistem yang ada. Namun proses ini juga mensyaratkan adanya dukungan kelestarian sumberdaya khususnya
Pengembangan wisata (pancing dan snorkeling) yang direncanakan pada pengelolaan sea ranching dengan memperhitungkan daya dukung lingkungan, akan mengurangi dampak wisata pada ekosistem terumbu karang yang ada pada wilayah sea ranching. Rencana pengelolaan wisata snorkeling didasarkan pada analisis daya dukung wilayah yang telah dianalisis oleh Purnomo (2014). Pola sea ranching yang didasarkan pada put-grow-take dalam sistem ini, menempatkan bahwa karamba jaring apung bukan menjadi aktivitas utama. Tetapi hanya menjadi aktivitas tambahan untuk menampung ikan yang perlu untuk pembesaran sementara sampai dengan ukuran yang dijual (0.5 kg/ekor).
5.3.5.2 Dampak Pada Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat
Awal pengembangan sea ranching dilakukan dengan proses pembinaan masyarakat. Proses ini dilakukan khususnya dengan tokoh nelayan dan anggota sea ranching. Pembinaan masyarakat ini dilakukan dengan melakukan pertemuan (baik awal maupun intensif) baik di lokasi maupun di luar lokasi sea ranching. Pembinaan ini ditujukan untuk mendapatkan informasi terkait dengan pengelolaan sea ranching, pengawasan (monitoring), pelatihan, resolusi konflik, pertemuan dan pengambilan keputusan. Proses pembinaan dilakukan dalam jangka waktu 2 tahun dengan jumlah pendamping 2 orang. Hasil dari pembinaan ini diharapkan meningkatnya modal sosial (social capital) dan kapasitas masyarakat terkait dengan pengelolaan sea ranching.
Proses pengembangan sea ranching secara ekonomis juga memberikan manfaat baik pada pengelola maupun pada perekonomian masyarakat setempat. Pengelolaan wilayah perairan dangkal P. Semak Daun untuk sea ranching yang berhasil, disamping mendapatkan ikan hasil tangkapan/panen (harvest) juga harus diikuti dengan pengelolaan potensi wisata. Simulasi ekonomi menunjukan bahwa potensi penerimaan dari wisata (pancing dan snorkeling) sangat penting bagi penerimaan total. Pengelolaan sea ranching ini juga berpotensi menyerap produk dan tenaga kerja lokal, sehingga mempunyai dampak efek pengganda yang cukup besar bagi ekonomi lokal.
Rancangan pengelola sea ranching adalah masyarakat nelayan lokal. Sehingga sebagian besar penerimaan dari pengelolaan sea ranching akan dibelanjakan pada ekonomi lokal mengingat bahwa wilayah ini merupakan wilayah kepulauan. Kebocoran ekonomi yang terjadi adalah pembelian input dari luar seperti input juvenile dan bahan bakar untuk perahu. Disamping penerimaan yang diterima oleh pengelola, maka aktivitas sea ranching juga menggerakan ekonomi yang diterima oleh masyarakat di luar pengelola sea ranching misalnya sewa perahu untuk kegiatan memancing maupun kegiatan snorkeling. Efek pengganda lainnya juga dapat terjadi misalnya pembayaran transportasi para wisatawan pancing dan snorkling dari pelabuhan penyeberangan di wilayah
daratan Jakarta (Marina Ancol, Kaliadem-Muara Angke), Jawa Barat (Muara Gembong-Bekasi) maupun Banten. Sebagian nelayan juga berpotensi untuk menginap, sehingga berpotensi untuk meningkatkan dari pengeluaran akomodasi penginapan. Selama di lokasi sea ranching, wisatawan juga mengeluarkan biaya untuk konsumsi. Semua aktivitas wisatawan tersebut berpotensi menggerakan ekonomi lokal.
Hasil analisis bangkitan ekonomi berdasarkan transaksi ekonomi berbasis pada aktivitas langsung maupun tidak langsung menunjukan nilai dengan range antara Rp.827.445.922-Rp.1.310.902.616 per tahun pada periode tahun 1 sampai tahun 5. Perhitungan ini didasarkan bahwa hasil penerimaan yang diterima oleh masyarakat lokal termasuk pengelola (penjualan ikan dan penerimaan wisata) dan non pengelola juga akan dibelanjakan pada ekonomi lokal setelah dikurangi untuk belanja input (yang diasumsikan hanya juvenile dan BBM). Hal ini diasumsikan dengan pola ekonomi yang relatif tertutup, karena wilayah berupa kepulauan dimana transportasi bisa dilakukan tetapi adanya kendala jadwal dan kendala alam. Hasil analisis belanja ekonomi input non lokal berkisar antara nilai Rp.115.358.192-Rp.146.293.805 per tahun. Belanja ini meliputi belanja untuk BBM perahu wisata dan perahu untuk pengawasan sistem sea ranching dan pembelian input juvenile ikan kerapu macan yang tidak diproduksi lokal. Hasil analisis ini menunjukan bahwa 77.71%-85.80% dari nilai ekonomi keseluruhan penerimaan dan belanja baik langsung dan tidak langsung terkait dengan pengelolaan sea ranching dibelanjakan pada ekonomi lokal. Besaran nilai ini berkisar antara Rp.38.074.691 sampai dengan Rp.60.958.003 per bulan (Tabel 4.26). Transaksi ini akan lebih banyak dibelanjakan pada perekonomian Kel. P. Panggang.
Tabel 5.7 Nilai manfaat ekonomi sea ranching bagi perekonomian lokal
No. Uraian 1 2 Tahun 3 4 5
1. Bangkitan ekonomi total
(Rupiah) 768 979 255 1 136 685 198 1 215 235 949 1 132 274 506 1 090 724,861 2. Total Kebocoran ekonomi (rupiah) 131 033 515 115 358 192 146 293 805 134 368 015 115 415 891
3. Transaksi lokal (Rupiah) 456 896 303 697 153 997 731 484 047 669 443 148 648 784 639
4. Transaksi lokal per bulan rata-
rata (Rupiah) 38 074 691 58 096 166 60 957 003 55 786 929 54 065 386 5. Proporsi transaksi lokal dari Bangkitan Ekonomi Total (%) 77.71 85.80 83.33 83.28 84.90
Nilai pada Tabel 5.7, belum termasuk perhitungan pada transaksi ikutan seperti pengeluaran wisatawan untuk biaya transportasi pemberangkatan dan pulang menuju pelabuhan pemberangkatan (embarkasi) di Jakarta, Jawa Barat dan Banten; dan pengeluaran akomodasi, konsumsi dan biaya lainnya selama pada pada kawasan wisata di Kel. P. Panggang. Sehingga secara ekonomis dapat meningkatkan pendapatan masyarakat lokal baik pengelola sea ranching maupun non-sea ranching.
5.3.5.3 Dampak Terhadap Keuangan Pengelolaan
Selain dampak pada ekonomi lokal secara keseluruhan pada wilayah sea ranching (Kel. P. Panggang dan sekitarnya), dampak ekonomis pengelolaan sea ranching juga dapat dilihat secara finansial pada unit pengelola sea ranching. Berdasarkan analisis ekonomis, pengelolaan sea ranching mendapatkan keuntungan yang bervariasi dari –Rp.2,887,881.19-Rp.26,646,592.09 selama 5 tahun. Kondisi kerugian pada tahun pertama karena adanya pola tanam untuk menghasilkan pola penerimaan per bulan tanpa harus melewati daya dukung. Nilai ini sudah merupakan keuntungan, sehingga menjadi penerimaan keluarga secara langsung. Nilai ini lebih besar dibandingkan dengan penerimaan nelayan kerapu yang melakukan penangkapan di lokasi sea ranching. Keuntungan ini sudah memberhitungkan seluruh biaya yang timbul dalam pengelolaan. Bila kondisi sudah lebih stabil, maka keuntungan akan menjadi semakin besar karena menurunnya biaya transaksi.
Berdasarkan pada analisis diatas, maka modifikasi dari Rudd (2004) analisis Kerangka Kerja Kelembagaan IAD dapat digambarkan dalam Gambar 5.11 sebagai berikut.
Berdasarkan Gambar 5.11, maka kelembagaan pengelolaan sea ranching dipengaruhi oleh : (1) karakteristik sumberdaya (alam, fisik, karakteristik masyarakat, modal sosial dan finansial), (2) Aturan main dan pengambilan keputusan, (3) Aksi dan situasi aksi aktor/lembaga dan (4) dampak yang ditimbulkan (pada ekosistem perairan, kesejahteraan sosial masyarakat dan keuangan untuk pengelolaan).
Gambar 5.11 Analisis kelembagaan sea ranching di perairan dangkal Semak Daun berdasar kerangka kerja IAD (Sumber : Modifikasi dari
5.4 Analisis Rejim dan Hak Sumberdaya