PEMARTABATAN BANGSA Oleh:
2. Analisis SWOT
Sebenarnya analisis SWOT ini pada mulanya dipakai pada bidang ekonomi dan bisnis. Analisis ini selalu dipakai sebagai langkah awal manajemen perusahaan dalam rangka mengembangkan bisnisnya khususnya dalam merumuskan dan menentukan strategi- strategi tertentu dalam suatu perencanaan. Analisis ini sebenarnya merupakan analisis faktor internal dan eksternal suatu lembaga. Analisis faktor internal berusaha menemukan kekuatan dan kelemahan dari sebuah perencanaan perusahaan. Bila dari analisis internal itu kekuatannya sangat menonjol maka bagaimana dengan kelemahannya? Bila dari perhitungan itu menguntungkan, maka perencanaan lembaga akan berjalan baik ke depan. Adapun analisis faktor eksternal berusaha menemukan peluang dan ancaman dari sebuah perencanaan. Bila peluangnya sangat besar dan ancamannya sedikit maka rencana lembaga akan berjalan dengan baik di kemudian hari (bdk."http://www.psychologymania.com/2012/12/pengertian-analisisswot.html) Dalam mengupayakan fungsi bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional, tentu harus dianalisis terlebih dahulu secara mendalam faktor internal dan faktor eksternalnya. Bagaimana kekuatan-kelemahannya dan bagaimana pula peluang- ancamannya. Bila kekuatannya sangat tinggi dan peluangnya cukup besar maka perencanaan itu akan dapat dicapai ke depan. Sebaliknya, bila kelemahannya sangat besar dan ancamannya juga besar maka perencanaan itu tidak akan tercapai dengan baik. Dengan memanfaatkan analisis SWOT ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada pemerintah dalam membuat perencanaan strategis untuk meningkatkan fungsi bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional.
Analisis SWOT terhadap internasionalisasi bahasa Indonesia ini selalu saya diskusikan dengan mahasiswa di kelas pada pertemuan awal dalam kuliah Bahasa
5 Indonesia di berbagai fakultas di UNDIP dan beberapa fakultas di beberapa PTS di Kota Semarang sejak tahun 2007. Hal-hal penting yang saya temukan dari berbagai diskusi kelas dan tulisan saya yang dipublikasikan Harian Suara Merdeka 28 Maret 2008 akan banyak diambil dalam makalah ini ditambah beberapa data-data terbaru yang saya temukan dari berbagai sumber.
2.1 Kekuatan (Strength)
Bahasa Indonesia merupakan bahasa terbesar di Asia Tenggara. Hal itu ditinjau dari segi penuturnya yang berjumlah lebih dari 240 juta orang. Jumlah itu akan semakin bertambah banyak, jika BI dikembalikan kepada subrumpun bahasa asalnya, Melayu; sebab bahasa tersebut tidak hanya didukung oleh warga negara Indonesia saja, tetapi juga warga Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, Thailand (selatan), dan Timor Leste.
Di samping jumlah penuturnya yang cukup banyak, bahasa dan budaya Indonesia juga sangat diminati oleh berbagai bangsa di dunia sejak sebelum Indonesia merdeka. Hal itu terbukti dari banyaknya peneliti asing, terutama peneliti Belanda, Inggris, Swiss, Prancis, dan Jerman, yang mengkaji bahasa dan budaya Indonesia (Nusantara) (Teeuw, 1984). Sekarang ini minat peneliti dan pakar budaya mancanegara terhadap keragaman bahasa dan budaya serta keanekaragaman sumberdaya hati makin bertambah banyak dan tidak terbatas pada beberapa negara saja, tetapi bisa jadi dengan komunikasi global ini beberapa pemerhati dari seluruh negara di dunia ini mengenali dan mengkaji bahasa dan budaya Indonesia.
Data lain yang memperkuat posisi BI adalah berdirinya berbagai fakultas studi ketimuran (faculty of oriental studies), kajian Asia Tenggara (South-East Asian Studies), dan pusat studi Indonesia (Indonesian studies) di berbagai perguruan tinggi di luar negeri. Berdasarkan jelajah internet dari berbagai sumber diinformasikan bahwa pembelajaran bahasa Indonesia di luar negeri makin meningkat, yakni diajarkan di berbagai perguruan tinggi, SD, SMP, SMA, dan lembaga-lembaga kursus. Jumlah pasti lembaga yang mengajarkan bahasa Indonesia di luar negeri memang belum tercatat dan terdata dengan baik. Jumlahnya belum tercatat pasti yang jelas jumlahnya ratusan tempat, tetapi bisa jadi sekarang jumlahnya sudah mencapai angka ribuan tempat.
6 Ratusan atau ribuan lembaga kajian Indonesia tersebut tidak terlepas dari pembelajaran Bahasa Indonesia yang diselenggarakan oleh masing-masing lembaga di negaranya, baik yang melibatkan maupun tidak melibatkan pengajar Indonesia sebagai penutur asli (native speaker) sebab penguasaan Bahasa Indonesia menjadi tujuan utama lembaga penyelenggara. Dengan banyaknya pembelajaran Bahasa Indonesia di luar negeri, maka posisi tawar Bahasa Indonesia menjadi meningkat karena bahasa itu dikenal dan dikuasai oleh penutur asing sehingga ke depan berpotensi menjadi bahasa internasional
Di samping itu, berdasarkan data Biro Perencanaan dan Kerja-Sama Luar Negeri (BPKLN) Kemendikbud 2012, tercatat kurang lebih 80 negara terlibat dalam pembelajaran bahasa dan budaya Indonesia melalui program Darmasiswa RI (Indonesian Scholarship Program). Berdasarkan sebaran data BPKLN tersebut, juga tercatat bahwa jumlah perguruan tinggi di Indonesia yang terlibat dalam penyelenggarakan pembelajaran BIPA tidak kurang dari 50 lembaga yaitu PTN dan PTS. Tingginya minat orang asing belajar bahasa dan budaya Indonesia, serta meningkatnya jumlah lembaga kursus dari dalam dan luar negeri ini menjadi modal besar bagi pemerintah dalam rangka internasionalisasi bahasa Indonesia.
Hal lain yang mendukung kekuatan bahasa Indonesia adalah popularitas bahasa Indonesia di dunia maya dan kekayaan etnis, seni budaya, keindahan alam dan kekayaan sumberdaya hayati. Ada tiga bahasa Asia yang popular di dunia maya yaitu bahasa Mandarin, Jepang, dan Indonesia. Bahasa Mandarin kini sudah menjadi bahasa internasional (sudah diakui PBB), bahasa Jepang sangat sulit dipelajari karena dalam pembelajaran bahasanya menggunakan huruf kenji, sedangkan bahasa Indonesia cukup mudah dipelajari oleh orang asing karena dalam pembelajarannya menggunakan huruf latin. Kemudahan bahasa Indonesia ini tentu saja akan menambah minat orang asing belajar bahasa Indonesia terlebih jika mereka ingin tinggal cukup lama di Indonesia untuk berinvestasi, berbisnis, atau melakukan berbagai penelitian terhadap potensi dan kekayaan Indonesia.
2.2Kelemahan (Weakness)
Di samping Bahasa Indonesia mempunyai kekuatan yang cukup besar untuk menjadi bahasa internasional, tetapi di balik itu secara internal pemakaian bahasa Indonesia masih mengandung banyak kelemahan sebab pemakaian bahasa Indonesia
7 di dalam negeri sendiri belum optimal. Artinya, pemakaian bahasa Indonesia oleh bangsa sendiri belum optimal. Menurut catatan Robert Manurung, kelemahan bahasa Indonesia itu disebabkan oleh empat hal, yaitu penggunaan bahasa ibu (daerah) di berbagai suku bangsa tertentu masih sangat kuat, masyarakat lebih bangga menggunakan bahasa asing dan campuran (bahasa Indonesia dan bahasa asing), banyaknya tawaran promosi budaya dari negara asing, serta penutur bahasa Indonesia tidak memiliki rasa percaya diri dan peduli terhadap kelestarian bahasa nasionalnya sendiri
Sebenarnya, dari keempat hal itu persoalan masih kuatnya penggunaan bahasa ibu di kalangan etnis tertentu bukanlah masalah besar karena bahasa daerah itulah ke depan menjadi penguat Bahasa Indonesia. Begitu juga dengan banyaknya tawaran untuk belajar bahasa asing seperti bahasa Jepang, Korea, Mandarin, dan sebagainya bukanlah persoalan yang besar, sebab dengan dikuasainya bahasa asing oleh orang Indonesia maka akan meningkatkan kualitas bangsa Indonesia karena hal itu akan memudahkan komunikasi dan diplomasi bangsa Indonesia dengan bangsa lain.
Persoalan terberat adalah munculnya perasaan rendah diri dan malu menggunakan bahasa Indonesia di dalam dan di luar negeri sehingga mereka lebih percaya diri dengan berbicara dalam bahasa Inggris dan atau asing lainnya. Begitu juga bagi yang penguasaan bahasa asingnya kurang bagus, untuk membuat lebih bergengsi atau agar kelihatan lebih intelektual mereka menggunakan bahasa campuran (Indonesia-asing). Bila persoalan rendah diri atau kurang percaya diri merasuk ke hati anak bangsa, maka orang asing pun akan menjadi malas belajar bahasa Indonesia sebab sang empunya bahasa sendiri kurang suka dan kurang menghargai bahasa Indonesia, tetapi lebih menyukai bahasa asing atau campuran.
Hal lain yang menjadi titik kelemahan internasionalisasi adalah keberadaan bahasa Indonesia di mata orang asing masih dikacaukan dengan bahasa Melayu atau masih dianggap sebagai bahasa Melayu. Pengacauan yang demikian itu bukan kesalahan mereka tetapi karena kebijakan pemerintah Indonesia terdahulu yang ikut menggerakkan proyek Melindo (Melayu-Indonesia). Kondisi demikian menjadi lebih parah lagi ketika Malaysia mengklaim dirinya sebagai sebuah negara Melayu, sehingga bahasa Indonesia seolah-olah menjadi bagian dari bahasa Melayu dan atau bahasa Malaysia.
8 Faktor di luar kebahasaan yang dapat dikategorikan sebagai kelemahan internasionalisasi bahasa Indonesia yaitu meskipun negeri ini memiliki kekayaan etnis sumberdaya alam, dan lain-lain, tetapi Indonesia bukanlah negara maju dalam ilmu pengetahuan, teknologi, industri, dan teknik informatika. Kondisi ini tentu saja mengurangi minat orang asing untuk belajar bahasa Indonesia dan datang berkunjung ke Indonesia.
2.1. Peluang (Opportunity)
Modal besar utama yang menjadikan peluang besar untuk meningkatkan fungsi bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional adalah jumlah penutur bahasa Indonesia di dalam dan di luar negeri sangat banyak, minat belajar bahasa dan budaya Indonesia oleh orang asing semakin meningkat, diajarkannya bahasa Indonesia dari tingkat SD sampai perguruan tinggi di luar negeri, dibukanya pusat studi Indonesia dan kajian Indonesia di luar negeri yang kian meningkat, dan dipersiapkannya bahasa Indonesia menjadi bahasa pengantar di Asia Tenggara. Bertolak dari modal utama yang cukup besar itu, secara bertahap bahasa Indonesia memiliki peluang menjadi bahasa internasional. Persoalannya adalah, maukah kita menangkap peluang besar itu, mampukah kita mempersiapkan dan menata strategi-strategi untuk menangkap peluang tersebut, dan pedulikah kita untuk mengangkat Bahasa Indonesia menjadi bahasa dunia.
2.3Ancaman (Threath)
Di samping bahasa Indonesia memiliki peluang yang cukup besar menjadi bahasa internasional, tentu saja bila internasionalsasi itu terwujud muncul ancaman- ancaman bagi bahasa Indonesia sendiri. Ada beberapa hal penting yang akan mengancam bahasa dan bangsa Indonesia terkait internasionaliasi bahasa sekurang- kurangnya dari banyak sumber dapat dirangkum menjadi tiga macam, yaitu mengancam orisinalitas bahasa Indonesia, menurunnya jiwa nasionalisme bangsa, dan menurunnya penguasaan bahasa Indonesia bagi orang Indonesia.
Ancaman terhadap orisinalitas bahasa Indonesia adalah kecenderungan yang tidak perlu dirisaukan sebab bahasa Indonesia di negeri sendiri juga mengalami proses itu. Bila kita telusuri lebih jauh munculnya bahasa Indonesia yang semula diangkat
9 dari bahasa Melayu, kini pun kalau kita bandingkan dengan bahasa Melayu Riau dan Melayu Deli sudah jauh berbeda. Kalau awalnya bahasa Melayu yang diangkat masih kuat pengaruh bahasa Arabnya, kini sudah mulai luntur karena bahasa Indonesia sekarang ini banyak dipengaruhi bahasa Inggrisnya, bahkan warna kemelayuannya semakin menipis seiring pengaruh bahasa Jawa dan daerah lain mewarnai bahasa Indonesia.
Yang menakutkan dari dampak internasionalisasi bahasa Indonesia adalah menurunnya jiwa nasionalisme dan makin rendahnya penguasaan bahasa Indonesia. Kedua hal itu akan muncul jika proses internasionalisasi bahasa tidak diperkuat dengan penanaman rasa nasionalisme dan pembinaan kebahasaan terhadap anak-anak bangsa. Oleh karena itu, dalam merencanakan internasionalisasi bahasa itu, seluruh komponen bangsa dilibatkan. Dengan menanamkan rasa bangga dan cinta terhadap bahasa Indonesia, dan lebih bangga jika bahasa Indonesia dituturkan dan digunakan oleh berbagai bangsa lain, maka rasa nasionalisme akan terpupuk sebab anak bangsa menjadi lebih percaya diri dengan meningkatnya kedudukan bahasa nasionalnya menjadi bahasa internasional. Munculnya rasa bangga itu tentu saja akan menjadi sangat ironis bila anak bangsa sebagai sang empunya bahasa tidak menguasai bahasa Indonesia.Oleh karena itu, pembinaan bahasa secara internal juga harus lebih digalakkan seiring dengan berjalannya proses internasionalisasi.