• Tidak ada hasil yang ditemukan

6

bahasa Indonesia dan daerahnya sendiri. Hal ini terjadi karena adanya perkawinan campur, maksudnya tidak satu suku bangsa.

Dari tabel itu terlihat bahwa pada responden yang dari suku bangsa Angkola ada 122 responden atau 81,33% menjawab menggunakan bahasa Angkola dalam percakapannya sehari-hari di dalam rumah tangga mereka, 17 responden atau 11,33% menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari- hari di dalam rumah tengga, dan 11 responden atau 7,33% menggunakan bahasa lainnya, yaitu selain bahasa Angkola dan bahasa Indonesia.

Pada responden sebagai penutur bahasa Karo terlihat bahwa ada 86 responden atau 57,33% menjawab menggunakan bahasa Karo dalam percakapannya sehari-hari di dalam rumah tangga mereka, 61 responden atau 40,67% menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari di dalam rumah tengga, dan 3 responden atau 2,00% menggunakan bahasa lainnya, yaitu selain bahasa Karo dan bahasa Indonesia.

Pada responden sebagai penutur bahasa Mandailing terlihat bahwa ada 52 responden atau 34,67% menjawab menggunakan bahasa Mandailing dalam percakapannya sehari-hari di dalam rumah tangga mereka, 86 responden atau 57,33% menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari di dalam rumah tengga, dan 12 responden atau 8,00% menggunakan bahasa lainnya, yaitu selain bahasa Mandailing dan bahasa Indonesia.

Pada responden sebagai penutur bahasa Pakpak terlihat bahwa ada 65 responden atau 43,33% menjawab menggunakan bahasa Pakpak dalam percakapannya sehari-hari di dalam rumah tangga mereka, 38 responden atau 25,33% menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari di dalam rumah tengga, dan 47 responden atau 31,33% menggunakan bahasa lainnya, yaitu selain bahasa Pakpak dan bahasa Indonesia.

7

Pada responden sebagai penutur bahasa Simalungun terlihat bahwa ada 54 responden atau 36,00% menjawab menggunakan bahasa Simalungun dalam percakapannya sehari-hari di dalam rumah tangga mereka, 86 responden atau 57,33% menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari di dalam rumah tengga, dan 10 responden atau 6,67% menggunakan bahasa lainnya, yaitu selain bahasa Simalungun dan bahasa Indonesia.

Pada responden sebagai penutur bahasa Toba terlihat bahwa ada 70 responden atau 46,67% menjawab menggunakan bahasa Toba dalam percakapannya sehari-hari di dalam rumah tangga mereka, 67 responden atau 44,67% menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari di dalam rumah tengga, dan 13 responden atau 8,67% menggunakan bahasa lainnya, yaitu selain bahasa Toba dan bahasa Indonesia.

Pada responden sebagai penutur bahasa Nias terlihat bahwa ada 133 responden atau 88,67% menjawab menggunakan bahasa Nias dalam percakapannya sehari-hari di dalam rumah tangga mereka, 14 responden atau 9,33% menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari di dalam rumah tengga, dan 3 responden atau 2,00% menggunakan bahasa lainnya, yaitu selain bahasa Nias dan bahasa Indonesia.

Berdasarkan data di atas terlihat bahwa pada suku bangsa Nias mereka lebih dominan menggunakan bahasa Nias dalam percakapan sehari-hari, yaitu 88,67%, begitu juga pada suku bangsa Angkola yaitu 81,33%. Sementara suku bangsa yang lebih mengutamakan pemakaian bahasa Indonesia daripada bahasa daerah mereka yaitu pada suku bangsa Mandailing dan Simalungun, yaitu masing-masing 57,33%. Selanjutnya suku bangsa yang banyak menggunakan bahasa lainnya yaitu pada suku bangsa Pakpak sebanyak 31,33%. Hal ini dimaklumi karena daerah ini berbatasan dengan masyarakat Karo, masyarakat Toba, dan masyarakat Singkel, Nanggroe Aceh Darussalam.

8

4. Sumbangan Kosakata

Bahasa Indonesia dalam perkembangannya menerima pengaruh dari bahasa lain terutama dari bahasa asing dan bahasa daerah. Pengaruh ini demikian besarnya sehingga di dalam bahasa Indonesia timbul berbagai kata serapan yang sangat bermanfaat bagi perkembangan bahasa Indonesia ke depannya. Dalam perkembangannya bahasa daerah di Sumatera Utara, mempunyai pengaruh yang sangat besar karena mengingat penuturnya masih relatif banyak. Maka dari itu dalam makalah ini penulis mencoba memberikan sedikit ulasan mengenai peran bahasa daerah yang ada di Sumatera Utara dalam pengembangan bahasa Indonesia, khususnya dalam menyumbangkan kosakata.

Bahasa daerah memiliki sejumlah fungsi. Fungsi-fungsi itu adalah: (1) alat komunikasi intraetnis, (2) sarana menunjukkan keakraban, (3) sarana menunjukkan identitas daerah dan kebanggaan daerah. Dengan fungsi-fungsi itu, diharapkan bahasa daerah dipakai secara murni dalam ranah keluarga, ketetanggaan dan kekariban (antaranggota etnis yang sama), ranah adat, dan ranah agama.

Kenyataan yang ada ialah pemakaian bahasa daerah telah terkontaminasi oleh pemakaian unsur-unsur bahasa Indonesia dan mengalami pergeseran. Sebagaimana pada ranah pemakaian bahasa ibu seperti pada tabel di atas, dikhawatirkan terjadi pergeseran penggunaan bahasa daerah pada ranah keluarga. Kekhawatiran itu muncul karena lingkungan keluarga merupakan lingkungan bahasa informal paling utama, tempat semestinya anak pertama kali dan dalam waktu yang paling lama memperoleh bahasa daerah. Di dalam keluargalah bisa terjadi transmisi bahasa lintas generasi yang berguna bagi pemertahanan bahasa daerah (Reyhner, 1999). Jika pergeseran itu terus-menerus terjadi, ke depan, penggunaan bahasa daerah di dalam keluarga semakin sulit untuk diharapkan menjadi penopang lestarinya bahasa daerah. Oleh karena itu, perlu dipikirkan cara lain untuk menciptakan lingkungan bahasa untuk menyelamatkan bahasa daerah

9

dari kepunahannya. Cara itu adalah (1) mewajibkan penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar sejak di taman kanak-kanak sampai di kelas tiga sekolah dasar pada daerah-daerah yang dimungkinkan dan (2) mengajarkannya sebagai mata pelajaran dengan pendekatan komunikatif.

UUD 1945 pada pasal 32 ayat (2) menegaskan bahwa “Negara menghormati dan memilihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional.” Namun fenomena yang terjadi pada saat ini, bahasa daerah mulai menjadi bahasa yang “tersisihkan”. Penutur bahasa daerah semakin berkurang, seiring semakin popularnya penggunaan bahasa Indonesia bahkan bahasa asing dalam interaksi sehari-hari. Misalnya, penutur bahasa Batak Toba yang mulai dihinggapi sikap inferior (rendah diri). Mereka akan merasa lebih modern, terhormat, dan terpelajar jika dalam peristiwa tutur sehari-hari, baik dalam ragam lisan maupun tulis, menggunakan bahasa Indonesia, atau bahkan menyelipkan setumpuk istilah asing.

Keadaan yang demikian mengundang keprihatinan banyak pihak, baik dari pemerhati budaya, pendidik, serta dari kalangan pemerintah. Usaha demi usaha pun mulai dilakukan untuk merevitalisasi bahasa daerah. Di antaranya adalah pengadaan lomba-lomba, duta bahasa, dan yang paling penting adalah melalui jalur pendidikan formal. Usaha merevitalisasi bahasa daerah melalui jalur mendidikan formal berupa usaha memaksimalkan pembelajaran bahasa daerah di tingkat sekolah. Pembelajaran bahasa daerah tersebut bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan, kebanggaan dan kepedulian siswa kepada bahasa daerahnya sendiri.

Berikut beberapa contoh yang dapat dijadikan sumbangan kosakata Indonesia untuk mengganti kata serapan yang sudah lama diserap ke dalam bahasa Indonesia, yaitu yang sampai saat ini belum juga ada padanannya dalam bahasa Indonesia ataupun bahasa daerah.

10

Di antara kosakata tersebut, misalnya migran bersasal dari bahasa Inggris ‘migrant’ yang mana masyarakat Indonesia memahaminya sebagai jenis penyakit ‘kepala sebelah’. Sampai saat ini kosakata tersebut belum ada padanannya dalam bahasa Indonesia dan daerah kita. Kan tetapi, dalam bahasa Batak Toba dikenal ada istilah poning dan taponing. Poning memiliki arti sakit kepala. Taponing mempunyai arti sakit kepala sebelah saja. Oleh sebab itu, melalui forum Kongres Bahasa Indonesia ini, kami mengusulkan kiranya kata migran diganti dengan kata taponing.

Selanjutnya ada kosakata asing juga yang sudah begitu memasyarakat di Indonesia, yaitu monopause yang mempunyai arti seorang wanita yang sudah tidak mengalami masa subur lagi, atau sudah tidak bisa mengandung dan melahirkan anak lagi. Sampai saat ini, sepengetahuan penulis belum ada padanannya dalam bahasa Indonesia ataupun bahasa daerah. Dari penelitian kami di Provinsi Sumatera Utara, kami mendapati ada sebuah kata dari bahasa Batak Toba yang dapat digunakan untuk padanan kata menopause, yaitu sae ladang. Pengertian secara harfiah sae artinya tidak bisa lagi; ladang artinya lahan perswahan.

Jadi sae ladang adalah lahan sawah yang sudah tidak dapat ditumbuhi atau ditanam lagi. Namun, dalam konteks budaya masyarakat Batak Toba istilah sae ladang ini diperuntukkan bagi wanita yang sudah mengalami masa tidak subur lagi. Sehingga kehadiran kosakata sae ladang dapat dijadikan sebagai pengganti kosakata asing menopause.

Itu baru sebagian yang dapat kami paparkan dalam makalah ini, sumbangan bahasa daerah yang ada di Sumatera Utara dalam memperkaya kosakata bahasa Indonesia. Sebenarnya masih banyak lagi dari bahasa daerah yang ada di Provinsi Sumatera Utara, namun karena keterbatasan ruang, hanya dua kosakata di atas yang dapat kami sampaikan dalam makalah ini.

11

5. Penutup

Bahasa harus didokumentasikan secara rinci. Pemerintah dan dunia pendidikan tinggi, khususnya pendidikan tinggi yang berkaitan langsung dengan masalah-masalah bahasa, harus secara bersama-sama turun tangan melakukan pekerjaan besar yang manfaatnya tidak dapat dirasakan langsung dan seketika, sedangkan biayanya jelas tidak sedikit.

Langkah-langkah revitalisasi harus dilakukan secara bertahan, dan sebagian besar di antaranya justru tidak berkaitan secara langsung dengan bahasa itu sendiri, yaitu dengan memperbanyak jumlah pengguna bahasa, terutama kaum wanitanya, dan meningkatkan taraf pendidikan mereka. Kisah sukses bagaimana bahasa Ibrani, bahasa Olelo, dan bahasa Gaeilge, yang sudah mati berhasil dihidupkan kembali dan sekarang penggunanya menjadi ribuan dan bahkan jutaan perlu dipelajari secara cermat dan dijadikan salah satu acuan model.

Mungkin ini tidak kalah pentingnya, para ahli bahasa harus belajar menyiapkan mental bahwa jika setelah semua usaha dilakukan, tetapi sebuah bahasa benar-benar punah karena tidak lagi ada penggunanya, bahasa tersebut diyakini tidak punah karena telah tercatat dan terekam dengan baik. Menyaksikan film Star Trek: The Last Voyager mungkin akan membantu banyak orang memahami konsep ini.

DAFTAR PUSTAKA

Anonby, Stan J. 1999. “ Reversing Language Shift: Can Kwak’wala Be Revived” dalam Reyhner, Jon dkk. (Ed.). Revitalizing Indigenous Languages. Flagstaff, AZ: Northern Arizona University.

Halim, Amran. 1976. “Fungsi dan Kedudukan Bahasa Indonesia.” dalam Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Politik Bahasa Nasional. Jakarta: PN Balai Pustaka.

1

Peran Bahasa Indonesia dalam Perlindungan Konsumen