PERLUNYA PENYERAPAN
DENGAN KURIKULUM BERBASIS PERATURAN DAERAH
Songgo Siruah
Kantor Bahasa Provinsi Maluku Utara, Kemdikbud Pos-El: [email protected], TG: 085241049420
Abstrak
Jika hanya bahasa daerah (BD) tertentu yang diajarkan di sekolah, bagaimana nasib BD lain yang ada di rantau? Namun, jika semua BD diajarkan di sekolah, bagaimana bentuk kurikulum dan materinya? Selain masalah tersebut, fakta juga menunjukkan bahwa imbauan tanpa disertai dengan sanksi untuk melindungi BD selama ini kurang efektif. Tulisan ini mengemukakan beberapa hal untuk melindungi BD. Imbauan disertai dengan sanksi diyakini lebih efektif. Sanksi untuk melindungi BD selain konstitusional juga harus mendidik dan menguntungkan semua pihak. Selain siswa dan guru, pihak sekolah, pemerintah, pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, dan orang-tua siswa harus dilibatkan secara berimbang, berkesinambungan, dan bertanggung jawab. Menurut penulis, ada beberapa hal yang patut diperhatikan agar pelindungan BD berjalan efektif. Pertama, kurikulum muatan lokal BD (KML-BD) disusun sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Kedua, KML-BD diatur dalam peraturan tentang bahasa daerah. Ketiga, peraturan ini harus memiliki insentif atau sanksi yang diterapkan secara tegas dan konsisten. Keempat, kurikulum BD harus sederhana supaya mudah dipahami dan mudah dilaksanakan. Kelima, tidak hanya BD tertentu yang diajarkan, tetapi semua BD. Keenam, tujuan akhir pembelajaran BD adalah membuat siswa dapat menuturkan BD kedua orang tuanya. Kurikulum BD yang didukung oleh peraturan daerah dimaksudkan untuk melindungi semua BD sebagaimana diamanatkan UUD 1945, Pasal 36.
2 I. Pendahuluan
Bagaimana bentuk kurikulum jika semua BD diajarkan di sekolah? Pertanyaan tersebut mengisyaratkan bahwa kurikulum BD yang komprehensif berbasis peraturan daerah sangat diperlukan untuk melindungi BD. Bahasa daerah perlu dilindungi karena selain berfungsi sebagai wadah pelestarian budaya juga BD berfungsi sebagai “pengikat” emosi dan kebersamaan suatu kelompok sosial masyarakat. Saat ini, bahasa daerah belum berfungsi sesuai dengan arah Politik Bahasa Nasional. Hal itu juga berarti bahwa pengembangan, pembinaan, dan pelindungan BD belum sepenuh sesuai dengan amanat UUD 1945, Pasal 36 tentang bahasa daerah.
Perencanaan bahasa dalam rangka pelindungan BD dilakukan untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Perencanaan bahasa daerah harus menghidupkan fungsi bahasa daerah. Dalam kedudukannya sebagai bahasa daerah, bahasa daerah berfungsi sebagai (1) lambang kebanggan daerah, (2) lambang identitas daerah, (3) alat penghubung dalam keluarga. Dalam hubungannya dengan fungsi Bahasa Indonesia, bahasa daerah berfungsi sebagai (1) pendukung bahasa nasional, (2) bahasa pengantar di sekolah, dan (3) alat pengembangan dan pendukung kebudayaan daerah (Halim dalam Taha, 2000).
Hingga saat ini belum ada peraturan daerah yang mengatur BD di setiap kabupaten/kota khususnya dalam wilayah Provinsi Maluku Utara. Padahal, salah satu cara yang efektif untuk melindungi BD adalah dengan menerbitkan peraturan daerah yang memihak kepada semua BD. Peraturan daerah ini tidak hanya melindungi BD yang jumlah penuturnya banyak dan berada dalam kota, tetapi juga melindungi BD yang jumlah penuturnya hanya 1--3 orang dan BD yang tersebar di daerah terpencil dan perbatasan. Peraturan daerah ini tidak hanya mengatur BD secara khusus, tetapi juga berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan masyarakat. Peraturan daerah ini termasuk hal yang harus direncanakan kaitannya dengan perencanaan bahasa. Menurut Abdullah (2011) perencanan bahasa termasuk meliputi masalah politik dan sistem pendidikan nasional suatu bangsa.
Menurut Keputusan Menteri dalam Negeri No. 40 Tahun 2007, pengembangan dan pembinaan BD adalah kewajiban Pemerintah Daerah. Yang dimaksud dengan pemerintah daerah ialah Pemerintah Daerah, DPR, dan perangkat daerah. Pemerintah daerah meliputi gubernur, bupati, dan wali kota, sedangkan perangkat daerah meliputi dinas daerah, lembaga teknis daerah, kecamatan, dan kelurahan (wiki.com, 2013). Kewajiban pemerintah daerah juga dijelaskan dalam UU No. 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan. Dalam pasal 42 (2)
3 dijelaskan bahwa “Pengembangan, pembinaan, dan pelindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara bertahap, sistematis, dan berkelanjutan oleh pemerintah daerah di bawah koordinasi lembaga kebahasaan” (Badan Bahasa, 2009).
Seseorang yang kehilangan BD juga akan kehilangan jati diri sebagai warga bangsa. Seseorang yang merasa tidak memiliki jati diri pada akhirnya merasa tidak penting bagi orang lain. Jika perasaan ini muncul dalam diri seseorang atau sekelompok etnik, perselisihan antar-etnik bernuansa suku, agama, ras, dan antar-golongan akan lebih sering terjadi. Perasaan tidak memiliki persamaan bahasa atau persamaan kepentingan dapat menjadi provokasi oleh pihak tertentu untuk memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal tersebut belum disadari oleh berbaagai pihak terutama Pemerintah Daerah. Pembangunan fisik seperti jalan, jembatan, dan gedung bertingkat dianggap lebih penting darpada pembangunan nonfisik seperti pelestarian BD. Kecenderungan ini berbahaya karena secara tidak langsung mengabaikan bagian penting dari pembangunan manusia Indonesia yang seutuhnya. Pembangunan di bidang kebahasaan tidak dapat disamakan dengan pembangunan jembatan, tetapi bukan berarti pembangunan jembatan lebih penting daripada upaya pelindungan BD.
Fakta menunjukkan bahwa BD termasuk yang ada di rantau akan punah seiring dengan perkembangan zaman. Selain malu dan tidak bangga menggunakan BD-nya, umumnya orang cenderung mengganggap BD tidak penting karena mereka dapat berkomunikasi dengan BI. Selain itu, tidak ada kegiatan sekolah dan peraturan yang mengharuskan mereka mengusai BD. Jika ada kewajiban setiap siswa mampu ber-BD, siswa termasuk orang tua mereka tentu mengupayakannya. Pertanyaan yang harus dijawab kaitannya dengan pelindungan BD adalah “Mengapa bahasa daerah perlu dilestarikan?” Pertanyaan tersebut juga menjadi tantangan penelitian interdisipliner, seperti psikolinguistik, antropolinguistik, sosialinguistik, dan linguistik forensik. Hasil penelitian interdisipliner diharapkan membuka hati dan pikiran masyarakat bahwa bahasa benar-benar memiliki peranan penting dalam pembangunan bangsa.
Pemerintah daerah belum tertarik melestarikan BD dari berbagai aspek. Hal itu terlihat dari kebijakan yang dikeluarkan. Hingga saat ini, tak satu pun kabupaten dan kota yang memiliki peraturan tentang BD. Demikian pula, masyarakat belum memiliki kreativitas untuk melestarikan BD-nya dengan swadana. Padahal, pelastarian BD merupakan tugas pemerintah dan seluruh masyarakat bahasa. Pelestarian BD tidak hanya dapat dilakukan di sekolah atau di rumah, tetapi juga dapat dilakukan di lingkungan masyarakat terutama melalui berbagai kegiatan adat dan keagaamaan. Perlu disadari bahwa melestarikan BD berarti melstarikan peradaban, nilai-nilai luhur, dan jati diri bangsa sendiri.
4 Salah satu upaya untuk melindungi BD adalah mengajarkannya di sekolah. Menurut Djajasudarma (2000), ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengajaran BD sebagai muatan lokal wajib, yakni sumber daya guru, materi, dan Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) BD yang akan diajarkan. Menurutnya, GPPP harus sesuai dengan lingkungan sosial anak dan kebutuhan pembangunan daerah. Selain itu, alokasi waktu untuk setiap jenjang kelas SD dan SMP juga perlu diperhatikan. Alwi (2000) berpendapat bahwa perhatian yang sungguh-sungguh perlu diarahkan pada upaya menjadikan BD sebagai muatan lokal dan bahasa pengantar pada tahap awal pendidikan. Menurutnya, BD dapat dilestarikan dengan mengajarkan di sekolah. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Taha (2000) bahwa Fungsi BD sebagai jati diri dan kepribadian bangsa menuntut semua pihak untuk bersikap positif dan meningkatkan mutu penggunaan BD-nya. Ahli
bahasa, ahli sejarah, budayawan, dan lainnya harus bahu membahu mewujudkan tujuh hal, dua di antaranya ialah pendokumentasian sistem internal bahasa-bahasa daerah dan penyusunan kurikulum muatan lokal (Mu’adz, 2000). Pendokumentasian bahasa daerah yang harus dilakukan meliputi kamus, tata bahasa, dan ejaan sebagai bahan dasar penyusunan materi muatan lokal bahasa daerah.
Makalah ini bertujuan untuk mendorong Pemerintah Daerah agar melindungi BD dengan kurikulum yang dikukuhkan dalam suatu peraturan daerah. Bahasa daerah yang dilindungi bukan hanya BD mayoritas, melainkan semua BD yang berada dalam wilayah administrasi pemerintahannya. Peraturan daerah ini tidak hanya mengatur BD, tetapi juga mengatur hal-hal yang berhubungan dengan BD, misalnya ketersediaan guru BD dan hak dan kewajiban penutur bahasa daerah.
II. Pembahasan
Pembahasan meliputi pelindungan bahasa daerah, kurikulum bahasa daerah, dan peraturan daerah tentang bahasa daerah. Ketiga hal tersebut diuraikan secara singkat sebagai berikut.
2.1 Pelindungan Bahasa Daerah
Pelindungan BD tidak hanya untuk melestarikan BD, tetapi juga untuk kepentingan yang lebih luas dalam bidang sosial, ekonomi, politik dan budaya (Abdullah, 2011). Perencanaan BD juga berkaitan dengan kemejemukan etnik dan BD. Kemejemukan BD mengharuskan setiap warga negara menguasai dua bahasa atau lebih. Namun, pengembangan dan pembinaan Bahasa Indonesia kadang-kadang dipandang sebagai salah satu penyebab berkurangnya penggunaan BD. Padahal, antara BI dan BD sama- sama saling membutuhkan terutama dari segi pengebangan kosakata.
5 Mahendra (2000) melukiskan hubungan antara BI, BD, dan bahasa asing seperti bunga dalam taman sari. Seharusnya ketiga bahasa itu saling melengkapi dan hidup berdampingan. Bahasa Indonesia membutuhkan BD dan bahasa asing dalam pengembangan kosakata. Demikian pula, BD membutuhkan kosakata BI dan bahasa asing agar tetap dapat bertahan hidup. Ketiga bahasa itu memiliki fungsi masing-masing sehingga keberadaanya tetap penting. Bahasa Indonesia berfungsi sebagai perekat NKRI yang terdiri atas berbagai suku bangsa, BD berfungsi sebagai identitas etnik dan pengikat emosional suku bangsa, dan bahasa asing berfungsi sebagai pembawa informasi baru yang dibutuhkan oleh penutur BI dan BD sebagai warga negara.
Pelindungan BD berupaya memposisikan BD pada ranah yang tepat agar fungsi-fungsinya tetap berjalan. Bahasa daerah sebagai identitas etnik tidak boleh hilang hanya karena penuturnya mampu berbahasa Indonesia atau berbahasa asing. Ranah penggunaan BD seperti di rumah, acara-acara adat, acara-acara keagamaan, dan kegiatan sosial yang melibatkan komunitas homogen harus dimanfaatkan sebagai wadah penggunaan BD. Bagi sebagian orang perasaan biasanya lebih terwakili jika menggunakan BD daripada menggunakan BI atau bahasa asing. Misalnya, orang Bugis di rantau, pada saat tertentu, lebih sering memutar lagu daerah karena pesan-pesan yang disampaikan lewat lagu lebih mencerminkan karakter mereka. Demikian pula, jika mereka bertemu sesama, mereka langsung menggunakan bahasa