BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil penelitian
4.1.2 Antonimi
4.1.2.5 Antonimi kutub pada kelas kata adjektiva
106
Contoh konstruksi BI : Contoh konstruksi TT Dia baru saja datang nyao bahu be tideo Dia sudah lama di sini nyao lah lamao siko
Dari kata baru dan lama atau dalam DTT bahiu dan lamao dapat dilihat bahwa benar-benar memiliki batas yang mutlak. Jika sesuatu yang lama tentunya ia tidak baru dan begitu pula sebaliknya jika sesuatu yang lama maka ia tidak baru.
keatas gradasi sesuatu yang bagus maka semakin bagus, jika semakin kebawah gradasi kata jelek maka akan menjadi semakin jelek. Namun tidak mutlak sampai di situ saja, ketidakmutlakan ini dapat dilihat jika, orang yang jelek bisa dianggap bagus oleh orang lain begitupun sebaliknya orang yang bagus bisa jadi dianggap jelek oleh orang lain.
2. Susah dan Mudah
Dalam bahasa Kerinci dialek Tebing Tinggi kata susah yaitu “payah” dan kata mudah yaitu “mudeah”. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Contoh konstruksi BI : Contoh konstruksi DTT Pelajarannya sangat mudah balajea nyuh mudeah nyan Pelajarannya sangat susah balaea nyuh payah nyan
Dari kata susah dan mudah, juga susah ditentukan batasannya. Semakin keatas gradasi sesuatu yang susah maka semakin susah, jika semakin kebawa gradasi kata mudah maka akan menjadi semakin mudah sesuatu. Namun tidak mutlak sampai di situ saja, ketidakmutlakan ini dapat dilihat jika dilihat, jika suatu pekerjaan yang mudah bagi seseorang belum tentu mudah bagi yang lain, begitu sebaliknya jika suatu pekerjaan yang susah bagi orang lain belum tentu susah bagi yang lainnya.
3. Bodoh dan Pintar
Dalam bahasa Kerinci dialek Tebing Tinggi kata bodoh yaitu “pandae” dan kata pintar yaitu “cdeh”. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
108
Contoh konstruksi BI : Contoh konstruksi DTT Anak itu sangat bodoh uduak tuh pandae nyan Anak itu sangat pintar uduak tuh cdeh nyan
Dari kata bodoh dan pintar, juga susah ditentukan batasannya. Semakin keatas gradasi seseorang yang pintar maka semakin pintar, jika semakin kebawa gradasi seseorang yang bodoh maka akan menjadi semakin bodoh. Namun tidak mutlak sampai di situ saja, ketidakmutlakan ini dapat dilihat jika dilihat, jika seseorang bodoh dalam mengerjakan sesuatu belum tentu seseorang bodoh dalam sesuatu yang lainnya, begitupun sebaliknya jika seseorang pintar dalam suatu bidang belum tentu ia juga bodoh dalam bidang yang lainnya.
4. Dekat dan Jauh
Dalam bahasa Kerinci dialek Tebing Tinggi kata dekat yaitu “dekeat” dan kata jauh yaitu “jeoh”. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Contoh konstruksi BI : Contoh konstruksi DTT Rumah adi dekat dari masjid umuah adi dekeat taho masjuid Rumah adi jauh dari masjid umuah adi jeoh taho masjuid
Dari kata dekat dan jauh, juga susah ditentukan batasannya. Semakin keatas gradasi sesuatu yang dekat maka akan semakin dekat, jika semakin kebawa gradasi sesuatu yang jauh maka akan semakin jauh. Namun tidak mutlak sampai di situ saja, ketidakmutlakan ini dapat dilihat jika dilihat, jika seseorang berjalan dari kota A ke kota B merasa jarak tempuhnya jauh maka seseorang yang lain bisa saja merasa bahwa jarak kota A ke kota B tidak begitu jauh atau dekat.
5. Banyak dan Sedikit
Dalam bahasa Kerinci dialek Tebing Tinggi kata banyak yaitu “banyeak” dan kata sedikit yaitu “dikuit”. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Contoh konstruksi BI : Contoh konstruksi DTT Buah jambuya sangat banyak uwuah lipeo banyeak nyan Buah jambunya sangat dikit uwuah lipeo dikuit nyan
Dari kata banyak dan sedikit, juga susah ditentukan batasannya. Semakin keatas gradasi sesuatu yang banyak maka akan menjadi semakin banyak jika semakin kebawa gradasi sesuatu yang sedikit maka akan semakin sedikit. Namun tidak mutlak sampai di situ saja, ketidakmutlakan ini dapat dilihat jika jika seseorang mendapatkan jambu satu plastik sudah merasa banyak, seseorang yang lainnya akan merasa jambu satu plastik merasa masih sedikit.
6. Besar dan Kecil
Dalam bahasa Kerinci dialek Tebing Tinggi kata besar yaitu “gdeang” dan kata kecil yaitu “naek”. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Contoh konstruksi BI : Contoh konstruksi DTT Baju adiknya besar baju adiknyuh gdeang Baju adiknya kecil baju adiknyuh naek
Dari kata besar dan kecil, juga susah ditentukan batasannya. Semakin keatas gradasi yang besar maka akan semakin besar pula sesuatu, sebaliknya jika semakin kebawah gradasi yang kecil maka akan menjadi semakin kecil sesuatu tersebut. Namun tidak mutlak sampai di situ saja, ketidakmutlakan ini dapat dilihat jika si A mendapatkan
110
buah yang besar, maka si B bisa saja merasakan bahwa hal yang sama besar dengan yang didapatkan oleh si A adalah sesuatu yang kecil.
7. Kasar dan Halus
Dalam bahasa Kerinci dialek Tebing Tinggi kata kasar = yaitu “kasa” dan kata halus yaitu “alaih”. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Contoh konstruksi BI : Contoh konstruksi DTT Bahan bajunya halus bahan bajunyuh alaih Bahan bajunya kasar bahan bajunyuh kasa
Dari kata kasar dan halus, juga susah ditentukan batasannya. Semakin keatas gradasi yang halus maka akan semakin halus sesuatu tersebut, jika semakin kebawah gradasi kasar maka akan semakin kasar sesuatu hal.. Namun tidak mutlak sampai di situ saja, ketidakmutlakan ini dapat dilihat jika si A merasa bahwa bulu kucing sangat hasul sebaliknya si B bisa merasakan bahwa bulu kucing masih kasar atau agak kasar.
8. Sempit dan Luas
Dalam bahasa Kerinci dialek Tebing Tinggi kata sempit yaitu “sempait” dan kata luas yaitu “ujeo”. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Contoh konstruksi BI : Contoh konstruksi DTT
Lapangan di depan rumah sangat sempit lapangan ukeo umah sempait nyan Lapangan di depan rumah sangat luas lapangan ukeo umah ujeo nyan
Dari kata sempit dan luas, juga susah ditentukan batasannya. Semakin keatas gradasi luas maka akan semakin luas sesuatunya, begitu pun sebaliknya jika semakin turun gradasi sempit maka akan semakin sempit pula sesuatu hal. Namun tidak mutlak sampai di situ saja, ketidakmutlakan ini dapat dilihat jika si A merasa kamar yang
berukuran 3x4 sudah luas bisa saja si B merasa bahwa kamar yang berukuran 3x4 adalah tempat yang sempit.
9. Tinggi dan Rendah
Dalam bahasa Kerinci dialek Tebing Tinggi kata tinggi yaitu “unjaeh” dan kata rendah yaitu “ndah”. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Contoh konstruksi BI : Contoh konstruksi DTT Batang di depan rumah tinggi sekali batingh ukeo umah tinggai nyan Batang di depan rumah rendah sekali batingh ukeo umah ndah nyan
Dari kata tinggi dan rendah, juga susah ditentukan batasannya. Semakin keatas gradasi tinggi maka akan semakin tinggi suatu hal, begitu pula sebaliknya jika semakin kebawah gradasi rendah maka akan rendah sesuatu hal. Namun tidak mutlak sampai di situ saja, ketidakmutlakan ini dapat dilihat jika si A merasa bahwa pintu yang berukuran 1,5 meter sudah tinggi bisa saja si B menganggap pintu tersebut masih rendah.
10. Ringan dan Berat
Dalam bahasa Kerinci dialek Tebing Tinggi kata ringan yaitu “ingan” dan kata berat yaitu “bheat”. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Contoh konstruksi BI : Contoh konstruksi DTT Saat di pakai sandalnya berat pas make selup nyuh bheat Saat di pakai sandalnya ringan pas make selup nyuh ingan
Dari kata ringan dan berat, juga susah ditentukan batasannya. Semakin keatas gradasi berat maka akan semakin berat suatu hal, begitu pula sebaliknya jika semakin kebawah gradasi ringan maka akan semakin ringan sesuatu hal. Namun tidak mutlak
112
sampai di situ saja, ketidakmutlakan ini dapat dilihat jika si A merasa bahwa 1 kg beras sudah berat, sedangkan si B merasa bahwa beras 1 kg adalah sesuatu yang ringan.
11. Kaya dan Miskin
Dalam bahasa Kerinci dialek Tebing Tinggi kata kaya yaitu “kayao” dan kata miskin yaitu “miskain”. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Contoh konstruksi BI : Contoh konstruksi DTT Paman itu sangat kaya mamuak tuh kayao nyan Paman itu sangat miskin mamuak tuh miskain nyan
Dari kata kaya dan miskin, juga susah ditentukan batasannya. Semakin keatas gradasi kaya maka akan semakin kaya seseorang, begitu pula sebaliknya jika semakin kebawah gradasi miskin maka akan semakin miskin seseorang. Namun tidak mutlak sampai di situ saja, ketidakmutlakan ini dapat dilihat jika si A merasa bahwa bahwa Ia sudah kaya dengan memiliki uang 500.000 sedangkan si B merasa bahwa dengan uang 500.000 ia belum kaya atau masih miskin.
12. Wangi dan Busuk
Dalam bahasa Kerinci dialek Tebing Tinggi kata wangi yaitu “haun” dan kata busuk yaitu “useok”. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Contoh konstruksi BI : Contoh konstruksi DTT Mawar itu bau sangat wangi mawar ruh haun biun Mawar itu bau sangat busuk mawar ruh useok biun
Dari kata wangi dan busuk, juga susah ditentukan batasannya. Semakin keatas gradasi wangi maka akan semakin wangi sesuatu hal, begitu pula sebaliknya jika
semakin kebawah gradasi busuk maka akan semakin busuk sesuatu hal. Namun tidak mutlak sampai di situ saja, ketidakmutlakan ini dapat dilihat jika si A merasa bahwa minyak kayu putih adalah sesuatu yang wangi maka di lain hal si B merasa bahwa minyak kayu putih adalah sesuatu yang busuk.
13. Cepat dan Lambat
Dalam bahasa Kerinci dialek Tebing Tinggi kata cepat yaitu “lekaeh” dan kata lambat yaitu “lamao”. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Contoh konstruksi BI : Contoh konstruksi DTT Dia belajarnya sangat cepat nyao lekaeh nyan balajea Dia belajarnya sangat lambat nyao lambat nyan balajea
Dari kata cepat dan lambat, juga susah ditentukan batasannya. Semakin keatas gradasi cepat maka akan cepat sesuatu hal, begitu pula sebaliknya jika semakin kebawah gradasi lambat maka akan semakin lambat sesuatu hal. Namun tidak mutlak sampai di situ saja, ketidakmutlakan ini dapat dilihat jika si A merasa bahwa ia sudah berlari dengan sangat cepat tetapi bisa saja si B merasa bahwa si A adalah orang yang berlari dengan lambat.
14. Murah dan Mahal
Dalam bahasa Kerinci dialek Tebing Tinggi kata murah yaitu “muhah” dan kata mahal yaitu “mahan” Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Contoh konstruksi BI : Contoh konstruksi DTT Harga celana itu sangat mahal hargo suwan tuh mahan nyan Harga celana itu sangat murah hargo suwan tuh muhah nyan
114
Dari kata murah dan mahal. juga susah ditentukan batasannya. Semakin keatas gradasi mahal maka akan semakin mahal sesuatu hal, begitu pula sebaliknya jika semakin kebawah gradasi murah maka akan semakin murah sesuatu hal.. Namun tidak mutlak sampai di situ saja, ketidakmutlakan ini dapat dilihat jika si A merasa bahwa ia membeli baju dengan harga 100.000 sudah sangat murah, sebaliknya si B merasa bahwa membeli baju dengan harga 100.000 adalah sesuatu yang mahal.