BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil penelitian
4.1.1 Sinonim
4.1.1.1 Sinonim yang sama maknanya pada kelas verba
Dalam Relasi makna sinonim bahasa Kerinci dialek Tebing Tinggi ditemukan sinonim yang sama maknanya pada kelas kata verba. Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, sinonim yang sama maknanya yakni sinonim yang dapat bertukar dalam semua konteks, memiliki makna emotif yang sama dan kesamaan dalam kelaziman pemakaiannya (kolokasinya). Pada penelitian ini terdapat 20 data merepresentasikan data keseluruhan yang telah di temukan oleh peneliti di lapangan.
Berikut penjabaran lebih rinci mengenai data relasi makna sinonim yang sama maknanya yang tergabung pada kelas kata verba. Data sinonim yang maknanya sama pada kelas kata verba dapat dilihat pada Lampiran Tabel 1.
1. Berteman
Kata “berteman” dalam BI terdapat 4 kata dalam DTT yaitu: “Bakantui, kuzi, bakawean, mandan” kata tersebut termasuk kedalam kelas kata verba. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Mpaon bakantui nyan mpak juli Mpaon kuzi nyan mpak juli Mpaon bakawean nyan mpak juli Mpaon mandan nyan mpak juli
Dari empat kalimat diatas memiliki arti yang sama yaitu “kamu sangat berteman dengan julinar” Maka dari itu, kata “Bakantui, kuzi, bakawean dan mandan”
merupakan bagian dari relasi makna sinonim dengan jenis kata yang sama maknanya
karena kata tersebut dapat dipertukarkan ke semua konteks, memiliki persamaan dalam nilai rasa yang sama persamaan berdasarkan kelaziman pemakaiannya.
2. Mencret
Kata “mencret” dalam BI terdapat 4 kata dalam DTT yaitu: “Takincait, ngasao, buhuih, buceo” kata tersebut termasuk kelas kata verba. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Muak banyeak makan cabe klak takincait Muak banyeak makan cabe klak buceo Muak banyeak makan cabe klak buhuih Muak banyeak makan cabe klak ngasao
Dari empat kalimat diatas memiliki arti yang sama yaitu “jangan banyak makan cabe nanti mencret” dengan demikian dapat di katakan bahwa kata “Takincait, ngasao, buhuih dan buceo” merupakan kata yang bisa dipertukarkan dalam semua konteks, memiliki nilai emotif yang sama dan sama persamaan berdasarkan kelaziman pemakaiannya. Sehingga dalam sinonim termasuk pada bagian dari relasi makna sinonim dengan jenis kata yang sama maknanya.
3. Melihat
Kata “melihat” dalam BI terdapat 2 kata dalam DTT yaitu: “Tilaek, klin”
kata tersebut termasuk kedalam kelas kata verba. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Sayeo tilaek nyuk lina lah balek sakula Sayeo klin nyuk lina lah balek sakula
30
Dari dua kalimat diatas memiliki arti yang sama yaitu “tolong lihat lina apakah sudah pulang sekolah” Maka dari itu, kata “Tilaek dan klin”
merupakan bagian dari relasi makna sinonim dengan jenis kata yang sama maknanya. dalam semua konteks, memiliki nilai emotif yang sama dan sama persamaan berdasarkan kelaziman pemakaiannya.
4. Mengelupas
Kata “mengelupas” dalam BI terdapat 4 kata dalam DTT yaitu: “Ngalupaeh, ngalusaong, ngalekak, ngalisak” kata tersebut termasuk kedalam kelas kata verba. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Badinh ica ngalupaeh karnu gatean Badinh ica ngalusaong karnu gatean Badinh ica ngalekak karnu gatean Badinh ica ngalisak karnu gatean
Dari empat kalimat diatas memiliki arti yang sama yaitu “badan ica mengelupas karena gatal ” Maka dari itu, kata “Ngalupaeh, ngalusaong, ngalekak dan ngalisak” merupakan bagian dari relasi makna sinonim dengan jenis kata yang sama maknanya. Sebab kata tersebut dalam semua konteks dapat dipertukarkan, memiliki nilai emotif yang sama dan sama persamaan berdasarkan kelaziman pemakaiannya.
5. Kondangan
Kata “kondangan” dalam BI terdapat 3 kata dalam DTT yaitu: “ngaruhui, asuk selang, sok anggin” kata tersebut termasuk kedalam kelas kata verba.
Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Maoh kitao gin garuhui umuah nina Maoh kitao gin asuk selang umuah nina Maoh kitao gin sok anggin umuah nina
Dari tiga kalimat diatas memiliki arti yang sama yaitu “ayo kita pergi kondanga di rumah nina”. jika dilihat dari segi konteksnya. Kata tersebut dalam semua konteks dapat dipertukarkan, memiliki nilai emotif yang sama dan sama persamaan berdasarkan kelaziman pemakaiannya. Maka dari itu, kata “Ngaruhui, asuk selang, sok anggin “ merupakan bagian dari relasi makna sinonim dengan jenis kata yang sama maknanya.
6. Berenang
Kata “berenang” dalam BI terdapat 3 kata dalam DTT yaitu: “reneang, rejeong, ngapai” kata tersebut termasuk kedalam kelas kata verba. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Maoh kita reneang kek takayek mbuak Maoh kita rejeong kek takayek mbuak Maoh kitao ngapai kek takayek mbuak
Dari tiga kalimat diatas memiliki arti yang sama yaitu “ayo kita berenang di sungai bawah”. kata tersebut dapat dilihat bahwa dalam segi konteksnya dipertukarkan dan memiliki nilai emotif yang sama serta . Maka dari itu, kata
“reneang, rejeong dan ngapai” tergolong kepada relasi makna sinonim dengan jenis kata yang sama maknanya serta persamaan berdasarkan kelaziman pemakaiannya.
32
7. Bertemu
Kata “bertemu” dalam BI terdapat 2 kata dalam DTT yaitu: “suweo, subeok” kata tersebut termasuk kedalam kelas kata verba. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Akau adeo suweo yii tadih Akau adeo subeok yii tadih
Dari dua kalimat diatas memiliki arti yang sama yaitu “tadi aku bertemu dengan yii” Maka dari itu, kata “suweo dan subeok” merupakan bagian dari relasi makna sinonim dengan jenis kata yang sama maknanya serta persamaan berdasarkan kelaziman pemakaiannya. Karena dalam semua konteks kata tersebut dapat dipertukarkan dan memiliki nilai emotif yang sama
8. Bercermin
Kata “bercermin” dalam BI terdapat 2 kata dalam DTT yaitu: “bacemuin, bakaceo” kata tersebut termasuk kedalam kelas kata verba. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Lah ilaok tuh, lah bacakeo be lah Lah ilaok tuh, lah bacemuin be lah
Dari dua kalimat diatas kata “bacemuin dan bakaceo” secara konteks dapat dipertukarkan dan memiliki nilai emotif yang sama serta persamaan berdasarkan kelaziman pemakaiannya. Selain itu dua kalimat diatas memiliki arti yang sama yaitu “sudah cantik jangan bercermin terus.” Maka dari itu, kata “bacemuin, bakaceo” merupakan bagian dari relasi makna sinonim dengan jenis kata yang sama maknanya.
9. Bertanya
Kata “tanya” dalam BI terdapat 3 kata dalam DTT yaitu “Nanyao, nuwaek dan masat” kata tersebut termasuk kedalam kelas kata verba. Berikut contoh
;konstruksi kalimatnya.
kek uti nanyao manao nyao ngetak pilot kek uti nuwaek manao nyao ngetak pilot kek uti masat manao nyao ngetak pilot
Dari tiga kalimat diatas memiliki arti yang sama yaitu “tanya sama uti, dimana dia menaruh pena” Maka dari itu, kata “Nanyao, nuwaek, dan masat” merupakan bagian dari relasi makna sinonim dengan jenis kata yang sama maknanya serta persamaan berdasarkan kelaziman pemakaiannya..
Sebab pada konteks katanya dapat dipertukarkan dan memiliki nilai emotif yang sama.
10. Turun
Kata “turun” dalam BI terdapat 3 kata dalam DTT yaitu “Tuhaun, kawoah, nejjiun” kata tersebut termasuk kedalam kelas kata verba. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Muak udeok ateh be, tuhaun kahi mai Muak udeok ateh be, kawoah kahi mai Muak udeok ateh be, nejjiun kahi mai
Dari tiga kalimat diatas memiliki arti yang sama yaitu “ayo turun, jangan duduk di atas aja” Maka dari itu, kata “Tuhaun, kawoah, nejjiun”
merupakan bagian dari relasi makna sinonim dengan jenis kata yang sama
34
maknanya. Karena dari data di atas dapat di lihat bahwa konteks katanya dapat dipertukarkan dan memiliki nilai emotif yang sama serta terdapat dalam kelaziman pemakaiannya (kolokasinya).
11. Bangun
Kata “bangun” dalam BI terdapat 3 kata dalam DTT yaitu “Bangkuit, ngideap, nyageo” kata tersebut termasuk kedalam kelas kata verba. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Lah bangkuit juli tadih natung?
Lah ngideap juli tadih natung?
Lah nyageo juli tadih natung?
Dari tiga kalimat diatas memiliki arti yang sama yaitu “tante apakah juli sudah bangun?” Maka dari itu, kata “Bangkuit, ngideap, nyageo”
merupakan bagian dari relasi makna sinonim dengan jenis kata yang sama maknanya. Karena dari data diatas “Bangkuit, ngideap, nyageo” konteks katanya dapat dipertukarkan dan memiliki nilai emotif yang sama serta persamaan berdasarkan kelaziman pemakaiannya..
12. Tertawa
Kata “tertawa” dalam BI terdapat 2 kata dalam DTT yaitu “Geleak, ngarakah” kata tersebut termasuk kedalam kelas kata verba. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Padohan dak adeo ngan lucu dok nyao geleak Padohan dak adeo ngan lucu dok nyao ngarakah
Dari dua kalimat diatas memiliki arti yang sama yaitu “padahal tidak ada yang lucu tapi dia tertawa.” Maka dari itu, kata “Geleak, ngarakah” konteks katanya dapat dipertukarkan dan memiliki nilai emotif yang sama serta persamaan berdasarkan kelaziman pemakaiannya, sehingga kata tersebut termasuk relasi makna sinonim dengan jenis kata yang sama maknanya.
13. Berbicara
Kata “berbicara” dalam BI terdapat 3 kata dalam DTT yaitu “Parageo, nguta, tatau” kata tersebut termasuk kedalam kelas kata verba. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Sapo ungi parageo umuah mimi tau?
Sapo ungi nguta umuah mimi tau?
Sapo ungi tatau umuah mimi tau?
Dari tiga kalimat diatas memiliki arti yang sama yaitu “itu suara siapa yang berbicara di rumah mimi?” Maka dari itu, kata “Parageo, nguta, tatau”
merupakan bagian dari relasi makna sinonim dengan jenis kata yang sama maknanya karena konteks pada katanya dapat dipertukarkan dan memiliki nilai emotif yang sama.
14. Tergantung
Kata “tergantung” dalam BI terdapat 3 kata dalam DTT yaitu “Taganteong, tajunteai, tagayiut” kata tersebut termasuk kedalam kelas kata verba. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
36
Baju sapo tagayiut kek ntan tuh?
Baju sapo tajunteai kek ntan tuh?
Baju sapo taganteong kek ntan tuh?
Dari tiga kalimat diatas secara konteks katanya dapat dipertukarkan dan memiliki nilai emotif yang sama sehingga memiliki arti yang sama serta persamaan berdasarkan kelaziman pemakaiannya yaitu “itu baju siapa yang tergantung di jemuran?” Maka dari itu, kata “Taganteong, tajunteai, tagayiut” merupakan bagian dari relasi makna sinonim dengan jenis kata yang sama maknanya.
15. Tergeser
Kata “tergeser” dalam BI terdapat 2 kata dalam DTT yaitu “Tagaseak, ta anjak” kata tersebut termasuk kedalam kelas kata verba. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Siti muak ngahu pusin adik, tagaseak pusin nyao klak nangaih nyuh Siti muak ngahu pusin adik, taanjak pusin nyao klak nangaih nyuh
Dari dua kalimat diatas memiliki arti yang sama yaitu “siti jangan mengganggu mainan adik, jika mainannya tergeser nanti dia menangis”
Maka dari itu, kata “Tagaseak, taanjak” merupakan bagian dari relasi makna sinonim dengan jenis kata yang sama maknanya serta persamaan berdasarkan kelaziman pemakaiannya karena konteks katanya dapat dipertukarkan dan memiliki nilai emotif yang sama.
16. Copot
Kata “copot” dalam BI terdapat 3 kata dalam DTT yaitu “Tanggan, leppaeh, tamin” kata tersebut termasuk kedalam kelas kata verba. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Kacing baju alim tanggan pas nyao usaek tadih Kacing baju alim leppaeh pas nyao usaek tadih Kacing baju alim tamin pas nyao usaek tadih
Dari tiga kalimat diatas memiliki arti yang sama yaitu “tadi pada saat bermain kacing baju alim copot” selain itu pada konteks katanya dapat dipertukarkan dan memiliki nilai emotif yang sama serta persamaan berdasarkan kelaziman pemakaiannya. Sehingga kata “Tanggan, leppaeh, tamin” menjadi bagian dari relasi makna sinonim dengan jenis kata yang sama maknanya.
17. Naik
Kata “jarang” dalam BI terdapat 4 kata dalam DTT yaitu “Naek, nakai, kateh, kahid” kata tersebut termasuk kedalam kelas kata verba. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Umuah mpaon naek kiyun tuh?
Umuah mpaon nakai kiyun tuh?
Umuah mpaon kateh kiyun tuh?
Umuah mpaon kahid kiyun tuh?
Dari empat kalimat diatas secara konteks pada katanya dapat dipertukarkan dan memiliki nilai emotif yang sama serta persamaan berdasarkan kelaziman
38
pemakaiannya. sehingga kesamaat tersebut kata “Naek, nakai, kateh, kahid”
merupakan bagian dari relasi makna sinonim dengan jenis kata yang sama maknanya. Selain itu, kalimat diatas memiliki arti yang sama yaitu “rumah kamu naik ke sana?”
18. Mati
Kata “mati” dalam BI terdapat 2 kata dalam DTT yaitu “Matai, padeam”
kata tersebut termasuk kedalam kelas kata verba. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Kia sayeo beliu nyuk lilain, lampau matai Kia sayeo beliu nyuk lilain, lampau padeam
Dari dua kalimat diatas memiliki arti yang sama yaitu “kia tolong belikan lilin, lampunya mati”. Maka dari itu dapat dilihat bahwa pada kata tersebut terdapat konteks kata yang bisa dipertukarkan dan memiliki makna emotif yang sama serta persamaan berdasarkan kelaziman pemakaiannya. sehingga kata “Matai, padeam” merupakan bagian dari relasi makna sinonim dengan jenis kata yang sama maknanya.
19. Menurun
Kata “menurun” dalam BI terdapat 3 kata dalam DTT yaitu “Manuhaun, kembuoak, kawoah” kata tersebut termasuk kedalam kelas kata verba. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Jalinh awuah umuah ninu mpaon manuhaun nyan Jalinh awuah umuah ninu mpaon kembuoak nyan Jalinh awuah umuah ninu mpaon kawuah nyan
Dari tiga kalimat diatas memiliki arti yang sama yaitu “jalan dibawah rumah nenek kamu sangat menurun” Maka dari itu, kata “Manuhaun, kembuoak, kawoah” merupakan bagian dari relasi makna sinonim dengan jenis kata yang sama maknanya serta persamaan berdasarkan kelaziman pemakaiannya.
Karena , kata “Manuhaun, kembuoak, kawoah” dapat dipertukarkan dalam semua konteks dan memiliki nilai emotif yang sama.
20. Tertipu
Kata “tertipu” dalam BI terdapat 3 kata dalam DTT yaitu: “Tatipau, tadayeo, tananyao” Kata tersebut tergabung dalam kelas kata verba. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
akau tatipau nyan pas melli diyean mpak sila tadih akau tadayeo nyan pas melli diyean mpak sila tadih akau tananyao nian pas melli diyiean mpak sila tadih
Dari ketiga kalimat diatas memiliki arti yang sama yaitu “tadi aku tertipu pada saat membeli durian bersama sila.” kata “Tatipau, tadayeo dan tananyao”terdapat kesamaan pada makna emotif, kelaziman pemakaiannya (kolokasinya) dan dapat bertukar dalam semua konteks. Maka dari itu, kata
“Tatipau, tadayeo dan tananyao” merupakan bagian dari relasi makna sinonim dengan jenis kata yang sama maknanya.