BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil penelitian
4.1.1 Sinonim
4.1.1.10 Sinonim yang maknanya hampir sama pada kelas kata nomina
78
Lita anuak mpaon babaleah umuah sakula Lita anuak mpaon balageo umuah sakula Lita anuak mpaon baibiut umuah sakula Lita anuak mpaon basakeat umuah sakula
Dari empat kalimat diatas memiliki arti yang sama yaitu “Lita anak kamu berantam di sekolah walaupun memiliki arti yang sama namun dalam segi kemaknaannya terdapat perbedaan, kata “babaleah” digunakan untuk bertengkar dengan melibatkan adu mulut dan fisik. Kata “balageo”
bertengkar dengan melibatkan fisik. Kata “baibiut” digunakan bertengkar tetapi hanya muluit saja. Kata “basakeat” bertengkar tetapi melibatkan fisik.
Dari penjelasan tersebut dapat dilihat bahwa kata tersebut terdapat perbedaan berdasarkan makna dasar dan makna tambahan, perbedaan berdasarkan kelaziman pemakaiannya (kolokasinya) serta kata tersebut tidak dapat dipertukarkan dalam semua konteks. Maka dari itu kata tersebut merupakan bagian dari relasi makna sinonim dengan jenis kata yang sama maknanya.
bahasa Kerinci dialek Tebing Tinggi terdapat 6 data yang telah di temukan oleh peneliti di lapangan. Berikut penjabaran lebih rinci mengenai data relasi makna sinonim yang hampir sama maknanya yang tergabung pada kelas kata nomina. Data sinonim yang maknanya sama pada kelas kata nomina dapat dilihat pada Lampiran Tabel 10.
1. Luka
Kata “luka” dalam BI terdapat 5 kata dalam DTT yaitu “Lukao, tasayat, tabeak, takuak, baraheah” kata tersebut termasuk kedalam kelas kata nomina.
Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Anuak mpaon balageo nyao lukao Anuak mpaon balageo nyao baraheah Anuak mpaon balageo nyao takuak Anuak mpaon balageo nyao tabeak Anuak mpaon balageo nyao tasayat
Dari lima kalimat diatas memiliki arti kata yang sama yaitu “anak kamu bertinju saat terluka” Namun dalam segi kemaknaannya terdapat perbedaan berdasarkan makna dasar dan makna tambahan serta dalam konteksnya yang tidak dapat dipertukarkan. Kata “lukao” digunakan untuk luka biasa entah bekas tinju ataupun bekas di cakar pada saat berantem, kata “tasayat”
digunakan untuk terluka karena pisau atau disayat pisau pada saat bertinju, kata ”tabeak” digunakan untuk terluka karena parang pada saat bertinju, kata
“takuak” digunakan untuk orang yang bertinju karena lukanya menganga parah disebabkan oleh parang atau kapak, kata “baraheah” digunakan untuk
80
orang yang bertinju dan lukanya mengeluarkan banyak darah. Maka dari itu, kata “Lukao, tasayat, tabeak, takuak, baraheah” merupakan bagian dari relasi makna sinonim dengan jenis kata yang hampir sama maknanya.
2. Teriak
Kata “teriak” dalam BI terdapat 4 kata dalam DTT yaitu “Ngaih, miyaeng, kiyiu, nyalaong” kata tersebut termasuk kedalam kelas kata nomina. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Lah ngaih di dengua uhang Lah miyaeng di dengua uhang Lah kiyiu di dengua uhang Lah nyalaong di dengua uhang
Dari empat kalimat diatas memiliki arti kata yang sama yaitu “jangan berteriak di dengar orang” Namun dalam segi kemaknaannya terdapat perbedaan berdasarkan makna dasar dan makna tambahan, perbedaan pada kelaziman pemakaiannya (kolokasinya) serta dalam segi konteks tidak dapat dipertukarkan. Kata “ngaih dan miyaeng” digunakan untuk berteriak di rumah atau di pekarangan lingkungan masyarakat, kata “kiyiu” digunakan untuk berteriak di dalam hutan untuk memanggil atau sebagai simbol bahwa ada orang di hutan, kata”nyalaong” digunakan untuk orang berteriak sambil menangis. Maka dari itu, kata “Ngaih, miyaeng, kiyiu, nyalaong” merupakan bagian dari relasi makna sinonim dengan jenis kata yang hampir sama maknanya.
3. Kakak
Kata “kakak” dalam BI terdapat 7 kata dalam DTT yaitu “Uwo, ngah, knik, kanduak, kutih, kanjang, kebbuh, ncu” kata tersebut termasuk kedalam kelas kata nomina. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Uwo awak nduak kemanao?
Ngah awak nduak kemanao?
Knik awak nduak kemanao?
Kanduak awak nduak kemanao?
Kutih awak nduak kemanao?
Kanjang awak nduak kemanao?
Kebuh awak nduak kemanao?
Dari tujuh kalimat diatas memiliki arti kata yang sama yaitu “kakak, kamu mau kemana?” Namun dalam segi kemaknaannya terdapat perbedaan berdasarkan kelaziman pemakaiannya (kolokasinya) serta kata tersebut juga tidak dapat dipertukarkan dalam semua konteks. Kata “uwo” digunakan untuk panggilan kakak pertama, kata “ngah” digunakan untuk panggilan kakak kedua, kata “knik” digunakan untuk panggilan kakak ketiga, kata
“kanduak” digunakan untuk panggilan kakak keempat, kata “kutih”
digunakan untuk panggilan kakak lima, kata “kanjang” digunakan untuk panggilan kakak keenam, kata “kebuh” digunakan untuk panggilan kakak tujuh, kata “ncu” digunakan untuk panggilan kakak terakhir atau anak bungsu. Maka dari itu, kata “Uwo, ngah, knik, kanduak, kutih, kanjang,
82
kebbuh dan ncu” merupakan bagian dari relasi makna sinonim dengan jenis kata yang hampir sama maknanya.
4. Lampu
kata “lampu” dalam BI terdapat 4 kata dalam DTT yaitu “Lampau, sulaoh, ramea, baliteo” kata tersebut termasuk kedalam kelas kata nomina. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Andi sayeao idut nyuk lampau lah kelam ahai nih Andi sayeao idut nyuk sulaoh lah kelam ahai nih Andi sayeao idut nyuk ramea lah kelam ahai nih Andi sayeao idut nyuk baliteo lah kelam ahai nih
Dari empat kalimat diatas memiliki arti kata yang sama yaitu “andi tolong hidupkan lampu hari sudah malam” Namun dalam segi kemaknaannya terdapat perbedaan berdasarkan makna dasar dan makna tambahan dan kata tersebut tidak dapat dipertukarkan dalam semua konteks. Kata “lampau”
digunakan untuk segala bentuk lampu dan lebih dominan ke lampu listrik, kata “sulaoh” digunakan untuk lampu yang terbuat dari bambu dan sabut kelapa di berikan minyak tanah, kata “ramea” digunakan untuk lampu yang terbuat dari besi yang diisi dengan minyak tanah dan sumbu lampunya menggunakan tali seperti tali pel, kata “baliteo” digunakan untuk lampu yang terbuat dari kemiri dan kapas yang dibakar. Maka dari itu, kata
“Lampau, sulaoh, ramea dan baliteo” merupakan bagian dari relasi makna sinonim dengan jenis kata yang hampir sama maknanya.
5. tidur
kata “tidur” dalam BI terdapat 3 kata dalam DTT yaitu “tideo, ngluaeng, tasilaeh” kata tersebut termasuk kedalam kelas kata nomina. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Nyao bahiu nyan tideo Nyao bahiu nyan ngulaeng Nyao bahiu nyan tasilaeh
Dari tiga kalimat diatas memiliki arti kata yang sama yaitu “dia baru saja tidur” Namun dalam segi kemaknaannya terdapat perbedaan berdasarkan makna dasar dan makna tambahan serta tidak dapat dipertukarkan dalam semua konteks. Kata “tideo” digunakan untuk seseorang yang benar-benar tertidur dengan terlelap, kata “ngulaeng” digunakan untuk seseorang yang hanya sekedar baring saja, kata “tasilaeh” digunakan untuk seseorang yang hampir terlelap namun terbangun dengan tiba-tiba. Maka dari itu, “tideo, ngluaeng dan tasilaeh” merupakan bagian dari relasi makna sinonim dengan jenis kata yang hampir sama maknanya.
6. Pemarah
Kata “pemarah” dalam BI terdapat 3 kata dalam DTT yaitu “Pamenggaih, nyanyaok, mamaek” kata tersebut termasuk kedalam kelas kata nomina.
Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Ndi sulas pamenggaih nyan dok Ndi sulas nyanyaok nyan dok Ndi sulas mamaek nyan dok
84
Dari tiga kalimat diatas memiliki arti yang sama yaitu “ibu sulas sangat pemarah” jika dilihat secara artinya memang memiliki arti yang sama, namun jika dilihat lagi kata “Pamenggaih, nyanyaok dan mamaek” terdapat perbedaan berdasarkan makna dasar dan makna tambahan serta tidak dapat dipertukarkan dalam semua konteks. Kata “Pamenggaih” digunakan untuk marah dengan tetapi melibatkan fisik seperti memukul. Kata “nyanyaok dan mamaek” digunakan marah tetapi hanya mulut saja. Maka dari itu, merupakan bagian dari relasi makna sinonim dengan jenis kata yang sama maknanya.