BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil penelitian
4.1.1 Sinonim
4.1.1.9 Sinonim yang maknanya hampir sama pada kelas kata verba
Relasi makna sinonim yang hampir sama maknanya pada kelas kata verba bahasa Kerinci dialek Tebing Tinggi terdapat 15 data yang telah di temukan oleh peneliti di lapangan. Relasi makna sinonim yang hampir sama maknanya yaitu kata sinonim yang tidak dapat dipertukarkan dalam semua konteks. Pada sinonim yang yang hampir sama maknanya terdapat beberapa perbedaan yaitu: 1) perbedaan berdasarkan nilai rasa (makna emotif), 2) perbedaan berdasarkan makna dasar dan makna tambahan, dan 3) perbedaan berdasarkan kelaziman pemakaiannya (kolokasinya)Berikut penjabaran lebih rinci mengenai data relasi makna sinonim yang hampir sama maknanya yang tergabung pada kelas kata verba. Data sinonim yang maknanya sama pada kelas kata verba dapat dilihat pada Lampiran Tabel 9.
1. Jalan-jalan
Kata “jalan-jalan” dalam BI terdapat 3 kata dalam DTT yaitu “Usaek, siran, raun” kata tersebut termasuk kedalam kelas kata verba. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Maoh kitao usaek kek daneu?
Maoh kitao siran kek daneu?
Maoh kitao raun kek daneu?
Dari tiga kalimat diatas memiliki arti kata yang sama yaitu “ayo kita jalan-jalan ke danau” Namun dalam segi kemaknaannya terdapat perbedaan berdasarkan makna dasar dan makna tambahan, kata “usaek” hanya digunakan untuk jalan-jalan dalam keseharian (bermain), kata “siran dan raun” digunakan untuk jalan-jalan pada saat hari lebaran dan biasa perginya bersama-sama dalam kelompok yang banyak atau ramai-ramai. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa kata diatas kata “Usaek, siran, raun” merupakan bagian dari relasi makna sinonim dengan jenis kata yang hampir sama maknanya karena secara konteksnya tidak dapat dipertukarkan dan terdapat perbedaan berdasarkan kelaziman pemakaiannya (kolokasinya).
2. Kelilipan
Kata “kelilipan” dalam BI terdapat 2 kata dalam DTT yaitu “Kalimpan, taculaek” kata tersebut termasuk kedalam kelas kata pronomina. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Susi kalimpan kayau pas gin kaheat tadih Susi taculaek kayau pas gin kaheat tadih
Dari dua kalimat diatas memiliki arti kata yang sama yaitu “susi kelilipan kayu pada saat pergi ke kebun tadi” Namun dalam segi kemaknaannya terdapat perbedaan berdasarkan makna dasar dan makna tambahan selain itu kata sinonim ini juga tidak dapat dipertukarkan dalam semua konteks. kata
“kalimpan” hanya digunakan untuk benda kecil yang masuk ke dalam mata tanpa tertusuk benda apapun tapi kata “taculaek” digunakan untuk kelilipan yang menyatakan tertusuk sesuatu yang keras seperti ranting dan lainnya pada
68
mata. Maka dari itu, kata “Kalimpan dan taculaek” merupakan bagian dari relasi makna sinonim dengan jenis kata yang hampir sama maknanya.
3. Menebang
Kata “menebang” dalam BI terdapat 4 kata dalam DTT yaitu “Nebing, nebbeh, ngancah, nakuk” kata tersebut termasuk kedalam kelas kata verba.
Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Ayah agi nebing kayau Ayah agi nakuk kayau Ayah agi nebbeh kayau Ayah agi ngancah kayau
Dari empat kalimat diatas memiliki arti kata yang sama yaitu “ayah sedang menebang kayu” Namun dalam segi kemaknaannya terdapat perbedaan berdasarkan makna dasar dan makna tambahan serta tidak dapat dipertukarkan ke dalam semua konteks. Kata “nebing” hanya digunakan untuk memotong kayu sampai putus, kata “nebbeh dan ngancah” digunakan untuk menebang rerumputan yang rimbun, kata “nakuk” hanya digunakan untuk menebang pohon tetapi tidak putus supaya kayu tersebut mati. Maka dari itu, kata
“Nebing, nebbeh, ngancah, nakuk” merupakan bagian dari relasi makna sinonim dengan jenis kata yang hampir sama maknanya.
4. Terpeleset
Kata “terpeleset” dalam BI terdapat 5 kata dalam DTT yaitu “Talanca, tadudeok, talentang, tatungkaut, tatimpaoh” kata tersebut termasuk kedalam kelas kata verba. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Nanggut talanca kek penejjun Nanggut tadudeok kek penejjun Nanggut talentang kek penejjun Nanggut tatimpaoh kek penejjun Nanggut tatungkaut kek penejjun
Dari lima kalimat diatas memiliki arti kata yang sama yaitu “kakek terpeleset di penurunan” Namun dalam segi kemaknaannya terdapat perbedaan berdasarkan makna dasar dan makna tambahan, kata “talanca” hanya digunakan untuk posisi tubuh belum tentu terjatuh ke tanah, kata “tadudeok”
digunakan untuk posisi tubuh orang yang terpeleset dengan posisi duduk, kata
“talentang” digunakan untuk posisi tubuh orang yang terpeleset dengan gaya baring terlentang, kata “tatungkaut” digunakan untuk posisi tubuh orang yang terpeleset dengan gaya tertelungkup ke depan, kata”tatimpaoh” digunakan untuk posisi tubuh orang yang terpeleset dengan gaya bersimpuh. Maka dari itu, kata “Talanca, tadudeok, talentang, tatungkaut, tatimpaoh” merupakan bagian dari relasi makna sinonim dengan jenis kata yang hampir sama maknanya karena kata tersebut tidak dapat dipertukarkan kesemua konteks.
5. Gotong royong
Kata “gotong royong” dalam BI terdapat 5 kata dalam DTT yaitu
“Taruyeong, nulaong, kalumpok, alunh, ngahai” kata tersebut termasuk kedalam kelas kata verba. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
manao kitao taruyeong isaok?
manao kitao nulaong isaok?
70
manao kitao kalumpok isaok?
manao kitao alunh isaok?
manao kitao ngahai isaok?
Dari lima kalimat diatas memiliki arti kata yang sama yaitu “dimana kita gotong royong besok” Namun dalam segi kemaknaannya terdapat perbedaan berdasarkan makna dasar dan makna tambahan, kata “taruyeng” hanya digunakan untuk melakukan pekerjaan bersama-sama tanpa upah, kata
“nulaong” digunakan untuk melakukan pekerjaan bersama-sama tetapi orang yang melakukan pekerjaan tersebut dipilih oleh orang si penyuruh sesuai kriteria yang diinginkan, kata “kalumpok” hanya di melakukan pekerjaan bersama tetapi orang yang melakukan tersebut telah memiliki kelompok terlebih dahulu, kata “ngahai “digunakan untuk oran yang melakukan pekerjaan bersama tetapi memiliki upah. Maka dari itu, kata “Taruyeong, nulaong, kalumpok, alunh, ngahai”merupakan bagian dari relasi makna sinonim dengan jenis kata yang hampir sama maknanya karena kata tersebut juga tidak dapat dipertukarkan ke semua kontek
6. Muntah
Kata “muntah” dalam BI terdapat 3 kata dalam DTT yaitu “Mutah, luncen, yaduweo” kata tersebut termasuk kedalam kelas kata verba. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Banyuak amat makan, mutah kan jadi nyuh Banyuak amat makan, luncen kan jadi nyuh Banyuak amat makan, yaduweo kan jadi nyuh
Dari tiga kalimat diatas memiliki arti kata yang sama yaitu “terlalu banyak makan makanya muntah” Namun dalam segi kemaknaannya terdapat perbedaan berdasarkan kelaziman pemakaiannya (kolokasinya) selain itu kata tersebut tidak dapat dipertukarkan dalam semua konteks. kata “ mutah”
digunakan mengeluarkan sesuatu dari mulut entah karena pusing, mual, kekenyangan dan lainnya untuk orang yang sudah dewasa. kata “luncen dan yaduweo” digunakan untuk anak kecil yang mengeluarkan sesuatu dari mulut sebab kekenyangan, Maka dari itu, kata “Mutah, luncen, yaduweo”
merupakan bagian dari relasi makna sinonim dengan jenis kata yang hampir sama maknanya.
7. Kehujanan
Kata “kehujanan” dalam BI terdapat 2 kata dalam DTT yaitu “Kujin, takandaon” kata tersebut termasuk kedalam kelas kata verba. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Mia kujin kek simpang Mia takandaon kek simpang
Dari dua kalimat diatas memiliki arti kata yang sama yaitu “mia kehujanan di simpang” Namun dalam segi kemaknaannya terdapat perbedaan berdasarkan kelaziman pemakaiannya (kolokasinya) serta kata tersebut tidak dapat dipertukarkan dalam semua konteks. kata “ kujin” digunakan untuk seseorang yang kehujanan dan melanjutkan pulang, kata “takandaon”
digunakan orang yang kehujanan lalu memilih untuk berteduh. Maka dari itu,
72
kata “Kujin, takandaon” merupakan bagian dari relasi makna sinonim dengan jenis kata yang hampir sama maknanya.
8. Belajar
Kata “belajar” dalam BI terdapat 3 kata dalam DTT yaitu “Balajea, ngapam, nuntaut” kata tersebut termasuk kedalam kelas kata verba. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Andi agi balajea yun tuh Andi agi ngapam yun tuh Andi agi nuntaut yun tuh
Dari tiga kalimat diatas memiliki arti kata yang sama yaitu “andi sedang belajar di sana” Namun dalam segi kemaknaannya terdapat perbedaan berdasarkan makna dasar dan makna tambahan, kelazimanan pemakaiannya (kolokasinya) dan kata tersebut tidak dapat dipertukarkan dalam semua konteks. kata “balajea” digunakan untuk seseorang belajar di sekolah, kata
“ngapam” digunakan untuk seseorang mengulang pembelajaran setelah sekolah dan kata “nuntaut” digunakan seseorang untuk menuntut ilmu hitam atau putih pada dukun. Maka dari itu, kata “Balajea, ngapam, nuntaut”
merupakan bagian dari relasi makna sinonim dengan jenis kata yang hampir sama maknanya.
9. Mencagil
Kata “mencagil” dalam BI terdapat 3 kata dalam DTT yaitu “Ngagoah, nyajit, bagigin” kata tersebut termasuk kedalam kelas kata verba. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Muak ngagoah nyao, nyao ndok tideo Muak nyajit nyao, nyao ndok tideo Muak bagigin nyao, nyao ndok tideo
Dari tiga kalimat diatas memiliki arti kata yang sama yaitu “jangan mencagil dia, dia ingin tidur” Namun dalam segi kemaknaannya terdapat perbedaan berdasarkan makna dasar dan makna tambahan, perbedaan berdasarkan kelaziman pemakaiannya (kolokasinya) serta konteks katanya tidak dapat dipertukarkan. Kata “ ngagoah dan nyajit” digunakan untuk mencagil bayi agar ia tertawa, kata “bagigin” digunakan untuk mencagil anak kecil atau orang dewasa agar bisa diajak bermain atau berlarian kesana kemari. Maka dari itu, kata “Ngagoah, nyajit, bagigin” merupakan bagian dari relasi makna sinonim dengan jenis kata yang hampir sama maknanya.
10. Berkumpul
Kata “berkumpul” dalam BI terdapat 4 kata dalam DTT yaitu “Bakampeong, karuyiun, basusiun, talunggaok” kata tersebut termasuk kedalam kelas kata verba. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
apao gawe uhang bakampeong beh tau apao gawe uhang basusuin beh tau apao gawe uhang talunggaok beh tau apao gawe uhang karuyiun beh tau
Dari empat kalimat diatas kata berkumpul memiliki arti yang sama, hanya saja jika dilihat lebih jelas lagi terdapat perbedaan di dalamnya berdasarkan nilai rasa (makna emotif), perbedaan pada makna dasar dan makna tambahan selain
74
itu “Bakampeong, karuyiun, basusiun, talunggaok” tidak dapat dipertukarkan pada semua konteks. Kata “ kampeong” digunakan untuk manusia, kata
“talunggaok” bisa digunakan untuk manusia, benda mati bahkan hewan bahkan tumbuhan, kata “kariuyiun dan basusin” digunakan untuk hewan saja.
Maka dari itu, kata “Bakampeong, karuyiun, basusiun, talunggaok”
merupakan bagian dari relasi makna sinonim dengan jenis kata yang hampir sama maknanya.
11. Jatuh
kata “jatuh” dalam BI terdapat 8 kata dalam DTT yaitu “Jateoh, lucae, tagule, tadudeok, taentak,takangkang, talempao, tajeheong” kata tersebut termasuk kedalam kelas kata verba. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Akau jateoh tadih pas usaek Akau lucae tadih pas usaek Akau tagule tadih pas usaek Akau tadudeok tadih pas usaek Akau taentak tadih pas usaek Akau takangkang tadih pas usaek Akau talempao tadih pas usaek Akau tajeheong tadih pas usaek
Dari delapan kalimat diatas memiliki arti kata yang sama yaitu “aku jatuh saat bermain tadi” namun dalam segi kemaknaan kata tersebut terdapat perbedaan yaitu kata “jateoh dan lucae” hanya digunakan untuk jatuh dari ketinggian. Kata “tagule” hanya digunakan untuk seseorang atau benda yang
jatuh lalu bergulir. Kata ”tadudeok” hanya digunakan untuk seseorang yang jatuh dengan posisi terduduk. Kata “taentak” hanya digunakan untuk seseorang yang jatuh lalu pantatnya terhentak ke tanah. Kata “takangkang”
seseorang yang terjatuh dengan posisi terkangkang. Kata “talempao dan tajeheong” seseorang yang terjatuh dengan posisi kakinya masuk ke dalam lobang. Maka dari itu, “Jateoh, lucae, tagule, tadudeok, taentak,takangkang, talempao, tajeheong” merupakan bagian dari relasi makna sinonim dengan jenis kata yang hampir sama maknanya karena terdapat perbedaan pada perbedaan berdasarkan makna dasar dan makna tambahan, perbedaan berdasarkan kelaziman pemakaiannya (kolokasinya) dan kata tersebut tidak dapat dipertukarkan dalam semua konteks.
12. Meninggal
kata “meninggal” dalam BI terdapat 4 kata dalam DTT yaitu “Matai, mampaih, ninggal, balek” kata tersebut termasuk kedalam kelas kata verba.
Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Nanggut lah ninggal Nanggut lah matai Nanggut lah mampaih Nanggut lah balek
Dari keempat kalimat memiliki arti yang sama “nanggut sudah meninggal”
namun jika kita lihat lagi dalam segi kemaknaannya terdapat perbedaan berdasarkan nilai rasa (emotif) yaitu kata “matai” digunakan untuk hewan yang meninggal, kata “mampaih” digunakan untuk orang yang meninggal
76
dengan makna kata yang kasar, kata “ninggal dan balek” digunakan untuk manusia yang sudah meninggal. Maka dari itu, “Matai, mampaih, ninggal, balek” merupakan bagian dari relasi makna sinonim dengan jenis kata yang hampir sama maknanya selain itu kata tersebut juga tidak dapat dipertukarkan dalam semua konteks.
13. Pergi
kata “pergi” dalam BI terdapat 4 kata dalam DTT yaitu “Barangkeat, pegin, malalao, madeang” kata tersebut termasuk kedalam kelas kata nomina.
Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Kemanao pegin shai nih?
Kemanao malalao shai nih?
Kemanao madeang shai nih?
Kemanao barengkeat shai nih?
Dari empat kalimat diatas memiliki arti kata yang sama yaitu “hari ini pergi kemana?” Namun dalam segi kemaknaannya terdapat perbedaan berdasarkan makna dasar dan makna tambahan. kata “berangkeat” digunakan untuk pergi jauh ke luar kota, kata “pegin” untuk pergi kesuatu tempat tetapi dekat.
Selain itu, juga terdapat makna yang berdasarkan makna emotif (nilai rasa).
Kata “madeang dan malalao” digunakan untuk kata pergi yang diperuntukkan binatang. Maka dari itu, kata “Barangkeat, pegin, malalao, madeang”
merupakan bagian dari relasi makna sinonim dengan jenis kata yang hampir sama maknanya selain itu kata tersebut juga tidak bisa dipertukarkan dalam semua konteks.
14. Kaget
Kata “Kaget” dalam BI terdapat 4 kata dalam DTT yaitu: “Takanjat, takejiut, tapessao, tapangah” kata tersebut termasuk kedalam kelas kata verba. Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
Takanjat akau nilik mpaon lah gedeang nyan minin Takejiut akau nilik mpaon lah gedeang nyan minin Tapessao akau nilik mpaon lah gedeang nyan minin Tapangah akau nilik mpaon lah gedeang nyan minin
Dari empat kalimat diatas memiliki arti yang sama yaitu “aku kaget melihatmu sekarang udah besar” walaupun memiliki arti yang sama masih terdapat perbedaan dalam makna kata “Takanjat, takejiut, tapessao”
digunakan pada saat ada seseorang yang mengangetkan dengan sentuhan fisik ataupun dengan suara yang keras. Sedangkan kata “tapangah” kaget ketika melihat orang lain memiliki perubahan drasti dari masa lalunya, entah itu bertambah tinggi atau bertambah sukses. Maka dari itu, kata kata “Takanjat, takejiut, tapessao dan tapangah” dikatakan sinonim yang maknanya hampir sama karena konteksnya tidak dapat bertukar serta terdapat perbedaan pada berdasarkan nilai rasa (makna emotif), makna dasar dan makna tambahan, dan perbedaan berdasarkan kelaziman pemakaiannya (kolokasinya).
15. Bertengkar
Kata “bertengkar” dalam BI terdapat 4 kata dalam DTT yaitu “babaleah, balageo, baibiut, basakeat” kata tersebut termasuk kedalam kelas kata verba.
Berikut contoh konstruksi kalimatnya.
78
Lita anuak mpaon babaleah umuah sakula Lita anuak mpaon balageo umuah sakula Lita anuak mpaon baibiut umuah sakula Lita anuak mpaon basakeat umuah sakula
Dari empat kalimat diatas memiliki arti yang sama yaitu “Lita anak kamu berantam di sekolah walaupun memiliki arti yang sama namun dalam segi kemaknaannya terdapat perbedaan, kata “babaleah” digunakan untuk bertengkar dengan melibatkan adu mulut dan fisik. Kata “balageo”
bertengkar dengan melibatkan fisik. Kata “baibiut” digunakan bertengkar tetapi hanya muluit saja. Kata “basakeat” bertengkar tetapi melibatkan fisik.
Dari penjelasan tersebut dapat dilihat bahwa kata tersebut terdapat perbedaan berdasarkan makna dasar dan makna tambahan, perbedaan berdasarkan kelaziman pemakaiannya (kolokasinya) serta kata tersebut tidak dapat dipertukarkan dalam semua konteks. Maka dari itu kata tersebut merupakan bagian dari relasi makna sinonim dengan jenis kata yang sama maknanya.