• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAWAH SADAR

4. Area kritis (critical area atau critical factor)

Sedikit berbeda dengan ketiga level kesadaran yang sudah dibahas sebelumnya, area kritis bukanlah sebuah level kesadaran, melainkan fungsi dasar pikiran yang menjadi ‘filter’ atau saringan dalam pikiran, tugasnya adalah menyaring informasi baru yang diterima dari pikiran sadar ke dalam diri kita dan mencocokannya dengan persepsi lama yang sudah tersimpan terlebih dahulu di pikiran bawah sadar.

Jika informasi baru yang diterima sesuai dengan informasi lama yang ada di pikiran bawah sadar maka informasi ini akan diterima dan dijalankan, namun jika berlawanan maka ia akan menjalankan fungsi dasarnya untuk mengkritisi dan menolaknya. Masih ingat di bagian sebelumnya tadi kita sempat membicarakan fungsi perlindungan mental pikiran bawah sadar? Fungsi inilah yang diwakili oleh area kritis.

Di awal pemaparan Bab 1 ini Anda sudah mendapati beberapa contoh nyata masalah emosional dan perilaku yang menghambat kualitas hidup, jika kita

hubungkan dengan bahasan yang baru saja kita ulas tentang dinamika level kesadaran, kemana semua ini bermuara?

Tak lain dan tak bukan untuk memahami sebab-akibat di balik lahirnya berbagai masalah emosi dan perilaku tersebut. Lebih jauh lagi, memahami hal ini akan menjadi landasan penting bagi kita untuk mengidentifikasi berbagai faktor dan kemungkinan yang melandasi munculnya konflik antara level-level kesadaran, yang menjadikan seseorang terkena masalah emosi dan perilaku tertentu.

Begini prinsip kerjanya secara sederhana. Sejak kita berada dalam kandungan dan sampai lahir, fungsi dasar pikiran bawah sadar sudah aktif untuk merekam berbagai kejadian yang dialaminya, namun demikian pikiran sadar dan area kritis belumlah aktif optimal, yang menjadikan kita sangat reseptif dalam menerima ragam informasi dari luar dan menjadikannya acuan dasar dalam merespon kejadian berikutnya.

Tergantung dari dampak kejadian/informasi itu pada diri kita (menyenangkan, biasa saja atau malah menyakitkan), maka begitu juga ‘jejak’ emosi dan keyakinan atas kejadian itu kelak terbentuk dalam pikiran bawah sadar, jejak inilah yang menjadi acuan untuk merespon kejadian lain berikutnya dengan menggunakan emosi dan keyakinan yang lebih dulu ada sebagai pembandingnya.

Semakin seseorang beranjak dewasa, area kritis dan fungsi berpikir logis semakin berfungsi optimal, namun informasi, emosi dan keyakinan yang sudah terlanjur ada di pikiran bawah sadar tetaplah sama. Hal ini membuat meski kesadaran baru atas sebuah informasi sudah terbentuk, respon emosi yang muncul tetaplah respon emosi lama.

Mari kembali mengulas contoh yang sudah sempat dibahas sebelumnya, tentang anak kecil yang digigit anjing. Sebut aja ia digigit

seekor anjing yang sebenarnya berukuran kecil, ia merasa kaget dan takut (emosi) lalu saat itu ia memaknai (keyakinan) bahwa anjing kecil itu adalah makhluk yang berbahaya dan harus dihindari (perilaku).

Ketika ia beranjak dewasa, fungsi berpikir logis pikiran sadar dan area kritis semakin terbentuk, ia pun jadi menyadari bahwa dengan ukuran tubuhnya yang besar maka anjing kecil seharusnya tidak menjadi masalah, namun entah kenapa setiap kali berhadapan dengan anjing kecil ia tetap merasakan rasa takut yang sulit dipahaminya dan berusaha menghindar.

Mengacu pada bahasan sebelumnya, disini bisa kita pahami bahwa kesadaran logis barunya di pikiran sadar memang sudah menyadari makna baru dari anjing kecil bagi dirinya, namun makna yang tersimpan di pikiran bawah sadar bahwa anjing kecil adalah ‘makhluk berbahaya yang

menakutkan dan harus dihindari’ belumlah berubah.

Dengan kata lain, salah satu penyebab masalah emosional atau perilaku tercipta yaitu ketika ada informasi spesifik tertentu yang masuk ke dalam pikiran bawah sadar di masa ketika area kritis terbuka - yang dimaknai

secara negatif - yang menimbulkan jejak emosi dan keyakinan negatif

tertentu. Ketika area kritis menutup dan fungsi perlindungan mental aktif, klarifikasi baru yang masuk tidak diterima oleh pikiran bawah sadar sehingga seseorang hidup dengan asosiasi yang ‘menyakitkan’ akan kejadian atau objek tertentu yang terlanjur dimaknai secara negatif dan meninggalkan jejak emosi negatif dalam dirinya, yang akan keluar sewaktu-waktu di kejadian masa depan yang dianggapnya sejenis.

Permasalahan emosi bukan hanya seputar rasa takut, seorang teman saya jaman sekolah dulu sering kali marah jika mendengar bentakan, meski itu tidak ditujukan padanya. Rupanya ketika kecil dulu ia sering mendengar ayahnya membentak ibunya secara kasar dan hal itu membuatnya membenci ayahnya. Suara bentakan yang didengarnya di masa depan

membuatnya terasosiasi dengan sosok ayahnya yang dibencinya sehingga respon otomatisnya adalah marah ketika mendengar bentakan, karena hal itu menghubungkannya dengan jejak emosi tidak menyenangkan yang terbentuk dari pengalaman masa lalunya, meski kesadaran logisnya tahu bahwa bentakan itu tidak ditujukan padanya.

Ada banyak dinamika emosi dalam diri kita, jika kita membicarakan emosi yang bersifat tidak menyenangkan, atau membuat kita tidak nyaman dan kita sendiri tidak memahami mengapa hal itu terjadi, maka kuncinya sederhana, ada jejak emosi tertentu di pikiran bawah sadar yang tercipta dari pengalaman masa lalu yang menyebabkannya muncul.

Untuk memperjelas bahasan kita, mari pahami terlebih dahulu bahwa konteks permasalahan perilaku yang kita maksudkan disini adalah seseorang yang terjebak dalam perilaku atau kebiasaan yang dianggapnya tidak baik karena bertentangan dengan dogma, norma, nilai-nilai lingkungan atau kesadaran barunya, dimana ia berusaha keras untuk mengubahnya, namun menghadapi kesulitan luar biasa yang membuatnya berulang kali gagal mengubah perilaku dan kebiasaan itu.

Meski berhubungan langsung dengan bahasan sebelumnya, ada sedikit bahasan lanjutan untuk dinamika masalah perilaku ini. Salah satu pembedanya yaitu jika dinamika masalah emosi muncul karena adanya jejak emosi negatif yang tersimpan di pikiran bawah sadar, dinamika masalah perilaku muncul karena rasa sakit pada jejak emosi negatif di pikiran bawah sadar ini kemudian ‘teredakan’ (terasa lebih baik) oleh penyaluran perilaku tertentu, meski dampaknya negatif sekali pun.

Ingatlah bahwa salah satu fungsi dasar pikiran bawah sadar adalah juga sebagai pelindung bagi kesadaran kita. Ketika suatu waktu sebuah jejak emosi negatif tercipta dalam pikiran bawah sadar, maka pikiran bawah sadar juga memiliki naluri mencari cara agar beban itu tidak terlalu terasa menyakitkan, dengan cara mencari pelariannya sendiri, salah satu istilah psikologi yang mewakili hal ini adalah ego defense mechanism.

Misalnya saja seseorang yang ketika jaman sekolah sering mengalami

bullying, ia memendam emosi kesedihan dan ketakutan akibat tindakan

teman-temannya tersebut, suatu waktu ketika sedang sendirian dan larut dalam beban emosinya ia tidak sengaja menonton film porno di internet yang ternyata mengalihkannya dari rasa sedih dan takut tersebut. Pikiran bawah sadar yang merasa mendapatkan kenikmatan dari proses ini karena mengalihkannya dari rasa sakitnya kemudian mengasosiasikan kegiatan ini sebagai sebuah penyaluran yang bermanfaat, maka dimulailah cikal-bakal perilaku seseorang yang kecanduan film porno.

Ketika suatu hari orang tersebut mendapatkan kesadaran bahwa tindakannya tersebut tidak baik dan ia ingin berubah maka disinilah terjadi konflik antara pikiran sadar yang ingin berubah dengan pikiran bawah sadar yang tidak ingin berubah karena merasa terlanjur mendapatkan kenikmatan dari perilaku yang ia lakukan.

Hal lain yang membedakan dinamika masalah perilaku adalah bisa jadi sebuah perilaku menjadi sulit untuk dirubah bukan karena jejak emosi tertentu, melainkan karena informasi itu terlanjur masuk ke pikiran bawah sadar dengan mekanisme tertentu di masa lalu dan akhirnya diyakini sebagai suatu perilaku yang memang sewajarnya dilakukan di masa kini.

Penting bagi kita untuk memahami bagaimana sebuah informasi bisa masuk ke pikiran bawah sadar, terutama karena hal ini tidak disadari terjadinya, yang akan kita bahas di bawah ini:

1. Ketika area kritis belum terbentuk - yang satu ini cukup jelas kiranya, sebagaimana sudah dibahas sebelumnya bahwa ketika area kritis belum terbentuk maka pikiran bawah sadar bersifat sangat reseptif atas informasi yang diterima dan dimaknainya dari luar untuk kemudian diterima dan dijadikan program mental. Namun demikian, masih ada ragam situasi dimana terlepas dari area kritis sudah terbentuk optimal atau tidak, tetap saja sebuah informasi masuk ke pikiran bawah sadar dan menjadi program mental di dalamnya, yang akan dibahas mulai poin berikut.

2. Figur otoritas - ketika seseorang mendengar sesuatu dari orang yang diyakininya memiliki pengaruh atas dirinya maka area kritis punya kecenderungan untuk mengendurkan pertahanannya. Contohnya saja seorang anak yang dikata-katai bodoh oleh orang tua dan gurunya, orang tua dan guru adalah figur otoritas bagi anak dimana informasi dari mereka sangatlah dipercaya, tidak heran si anak tersebut meyakini bahwa dirinya bodoh sampai ia dewasa dimana hal ini mempengaruhi kepercayaan diri dan kemampuan belajarnya. Bagi orang dewasa hal ini bisa terjadi oleh atasan yang ditakuti di pekerjaan misalnya, atau oleh seorang tokoh tertentu yang dikagumi secara fanatik.

3. Identifikasi lingkungan - lingkungan dimana kita tumbuh punya peran tersendiri sebagai sumber informasi intens yang kita terima dan oleh karenanya memiliki pengaruh tersendiri bagi pikiran bawah sadar. Kebiasaan, nilai-nilai budaya dan norma adalah salah satu yang terbentuk dari peranan lingkungan. Salah satu naluri dasar manusia adalah membuat dirinya familiar dengan situasi di sekitarnya, hal ini muncul dalam bentuk perilaku yang tidak disadari untuk meniru kebiasaan yang berlaku di lingkungan sekitarnya.

4. Emosi - dalam kondisi emosional yang memuncak, area kritis terbuka dan informasi bisa masuk begitu saja, itulah mengapa dalam kasus

phobia kita tidak harus menjadi pihak yang mengalami kejadiannya

langsung, cukup dengan melihat dan mengalami emosi puncak pun cukup. Misalnya saja seorang anak yang melihat ibunya ditempeli kecoak dan ibunya menjerit-jerit ketakutan, ia tidak ditempeli namun merasa takut hal itu menimpanya, di saat yang bersamaan emosinya yang memuncak terfokuskan pada kecoak tersebut yang melahirkan pemaknaan bahwa ‘kecoak adalah makhluk yang berbahaya’, hal ini pun bisa saja menjadi phobia tersendiri baginya kelak ketika dewasa. 5. Fokus yang terserap (absorped attention) - ketika berkonsentrasi

penuh, ada kalanya area kritis ‘lengah’ pada asupan informasi lain yang tidak disadari, yang diselipkan/terselipkan di dalam informasi itu, misalnya saja orang-orang yang sering menonton film kekerasan maka perilakunya cenderung terpengaruh karena ada pesan-pesan tak kasat mata tentang ‘nikmatnya’ kekerasan di film itu. Pesan tak kasat mata itu bisa jadi bukan sesuatu yang sengaja dimunculkan, namun tetap saja ada makna-makna yang diasosiasikan oleh pikiran bawah sadar dengan cara tersendiri atas stimulus yang dialaminya itu.

6. Relaksasi - ketika rileks/mengantuk area kritis terbuka dan lebih reseptif untuk menerima informasi, hal ini biasa dialami ketika mengantuk akan tidur atau ketika baru terbangun dari kondisi tidur. Rasa rileks identik dengan rasa aman, karena fungsi dasar area kritis sendiri terhubung dengan fungsi perlindungan mental, maka dalam kondisi rileks area kritis pun mengendurkan pertahanannya yang membuat informasi lebih mudah masuk ke pikiran bawah sadar.

7. Repetisi - ketika sebuah informasi disampaikan berulang-ulang maka lambat laun area kritis akan mulai mengendurkan area pertahanannya dan pesan-pesan yang tersirat disana akan mulai masuk ke pikiran bawah sadar secara bertahap.

Sekali lagi, dihubungkan dengan dinamika masalah perilaku, terjadinya salah satu atau lebih dari mekanisme di atas berpotensi meninggalkan jejak program/keyakinan di pikiran bawah sadar yang kelak melahirkan perilaku tertentu, yang sulit untuk dirubah begitu saja, mekanisme di atas bukan hanya terjadi ketika kita kecil, melainkan bahkan sampai kita dewasa, karena di usia kita yang sekarang pun selalu ada masa dimana area kritis membuka dan informasi tertentu masuk tanpa disadari, salah satunya yaitu ketika situasi-situasi di atas terjadi.

Disadari atau tidak, segala sikap, perilaku dan kebiasaan kita saat ini adalah ‘bentukan’ dari masa lalu kita yang terjadi dengan semua mekanisme di atas. Orang tua adalah contoh hidup bagi anak, sering kali sebuah perilaku terbentuk karena seorang anak menyaksikan orang tuanya menunjukkan perilaku atau sikap tertentu yang dimaknainya sebagai ‘itulah

yang memang sewajarnya dilakukan’.

Seorang pria yang sering melakukan kekerasan pada istrinya misalnya dan sulit mengendalikannya, ternyata ketika kecil ia sering menyaksikan ayahnya melakukan kekerasan pada ibunya, pikiran polos kecilnya menyimpulkan bahwa seperti itulah memang seharusnya peran suami terhadap istri, yang termanifestasi dalam bentuk perilaku kasar pada istrinya sendiri ketika dewasa. Ketika ia dewasa dan menikah, pikiran sadarnya menyadari hal itu salah, namun begitulah, pikiran bawah sadar tetap menjalankan apa yang dianggapnya benar, sehingga terjadi pertentangan batin antara kesadaran yang ingin berubah dengan kesadaran lain yang menganggap bahwa yang dilakukannya sudah benar adanya.

Kesadaran manusia bekerja secara terintegrasi, artinya semua lapisan kesadaran yang ada: pikiran sadar, pikiran bawah sadar dan pikiran tidak sadar, kesemuanya saling terhubung dan saling mempengaruhi.

Sebagaimana sudah dibahas sebelumnya, pikiran tidak sadar mewakili kesadaran jasmani, artinya kondisi kesehatan kita turut dipengaruhi olehnya. Di sisi lain, kondisi pikiran bawah sadar adalah yang paling mempengaruhi pikiran tidak sadar secara langsung, yang kemudian berdampak pada kondisi kesehatan fisik.

Dengan fungsi dasarnya sebagai pelindung, pikiran bawah sadar menjalankan fungsinya untuk terus menyimpan jejak emosi dan keyakinan negatif tertentu karena menurutnya jejak emosi dan keyakinan itu masih perlu disimpan sebagai acuan kerja untuk melindungi diri kita di masa depan. Hal ini terjadi pada mereka yang takut pada binatang atau objek tertentu misalnya, jejak emosi dan keyakinan atas rasa takut itu dipertahankan oleh pikiran bawah sadar agar ketika kita dihadapkan dengan objek sejenis tersebut di masa depan ia segera menjalankan fungsinya untuk melindungi/melarikan diri.

Namun ada kalanya pikiran bawah sadar juga menyadari bahwa jejak emosi negatif yang ada di dalamnya bukanlah hal yang baik untuk disimpan terus-menerus, di satu sisi hal itu harus dikeluarkan namun di sisi lain ia tidak tahu caranya, maka yang terjadi adalah pengaruh dari emosi negatif itu kemudian ‘bocor’ ke pikiran tidak sadar yang menjalankan fungsi kesadaran jasmani dan memicu tubuh untuk memproduksi hormon-hormon negatif tertentu atau mempengaruhi cara kerja organ tertentu dalam tubuh, yang melahirkan penyakit psikosomatis.

Penyakit psikosomatis inilah yang ketika diperiksa secara medis sering kali luput dan sulit terdeteksi, namun penderitanya terus merasakan rasa sakitnya. Kalau pun jenis penyakit ini benar-benar muncul ke permukaan dan terdeteksi secara medis, ketika ditangani tak jarang hasilnya hanya membaik sementara dan kemudian kembali kumat.

Jadi bagaimana solusinya? Selain dengan terus melakukan upaya penyembuhan secara medis, tentu upaya untuk melakukan perbaikan psikologis pun perlu dilakukan, salah satu caranya yaitu dengan menelusuri jejak emosi negatif yang tersimpan di pikiran bawah sadar dan melepaskannya sampai tuntas.

Disinilah terletak kompleksitas berikutnya, ada kalanya penyakit psikosomatis muncul karena orang tersebut menolak (denial) mengakui keberadaan emosi negatif itu dalam dirinya, entah karena gengsi atau pun karena sebab lainnya. Di sisi lain, emosi itu seolah ‘memanggil-manggil’ mereka untuk mengakui keberadaannya dengan cara menghantui hidupnya dalam bentuk ragam rasa sakit secara fisik.

Bukan sekali dua kali saya menjumpai orang-orang yang bergulat dengan permasalahan yang dianggapnya permasalahan medis untuk sekian lamanya, justru baru memperoleh kesembuhannya setelah mereka menyadari, bersedia mengakui dan berdamai dengan emosi negatif di pikiran bawah sadarnya. Pemahaman ini juga yang melandasi metode penyembuhan holistik yang banyak berkembang akhir-akhir ini.

Meski mungkin terdengar agak aneh bagi sebagian orang, jika kita pahami dengan lebih seksama sesungguhnya ada keterhubungan yang sangat erat antara pikiran bawah sadar dengan berbagai kejadian yang kita alami.

Ada orang-orang yang entah mengapa berulang kali mengalami peristiwa-peristiwa yang sulit dipahaminya secara logis, contohnya saja seorang wanita yang entah kenapa berulang kali menjalin hubungan namun setiap kali hubungan itu beranjak ke jenjang yang lebih serius selalu saja ada hal-hal yang menyebabkan hubungannya kandas.

Jika hal ini terjadi sekali-dua kali mungkin wajar adanya, namun ketika hal ini terjadi berulang-ulang tentu ada yang perlu kita pertanyakan. Ternyata ketika kecil wanita ini merasa trauma dengan kehidupan pernikahan ayah-ibunya yang ia saksikan penuh dengan pertengkaran, tanpa disadarinya pikiran bawah sadar masa kecilnya membenci pernikahan dan senantiasa ingin menghindarinya.

Itulah mengapa ketika hubungannya berjalan biasa saja tidak ada hal sensitif apa pun yang terjadi, namun ketika hubungan itu mulai terasosiasi dengan pernikahan selalu ada saja sikap atau perilakunya yang tidak disadari, yang menjadi sabotase di balik kandasnya hubungannya.

Dalam contoh lain, seseorang yang selalu mengalami permasalahan keuangan meski gajinya besar dan seharusnya lebih dari cukup. Entah dari mana selalu saja ada hal-hal yang ‘membuatnya’ harus mengeluarkan uang besar-besaran sehingga gajinya kembali habis.

Tanpa disadarinya ternyata ketika kecil ia pernah dimarahi oleh tetangganya yang orang kaya ketika bermain di depan rumahnya, saat itu pikiran bawah sadarnya menyimpulkan bahwa ‘orang kaya itu egois’ dan keyakinan ini terus dipertahankannya sampai dewasa, maka setiap kali gaji besar masuk ke rekeningnya - yang terasosiasi dengan kekayaan - saat itu juga pikiran bawah sadar menjalankan fungsi perlindungannya untuk menghindarkannya dari ‘menjadi orang kaya’, karena makna dari kaya itu sendiri dalam benaknya bersifat negatif dan harus dihindari.

Menariknya lagi, dalam perspektif keilmuan kuantum kita meyakini bahwa pikiran manusia memiliki getaran yang disebut sebagai vibrasi. Apa yang kita pikirkan dalam diri selalu memancarkan vibrasi tertentu ke luar diri yang kemudian beresonansi dengan lingkungan dan kehidupan serta kemudian mengkondisikan lingkungan atau kualitas hidup yang dijalani di luar diri agar sejalan dengan kualitas vibrasinya, pemahaman ini juga yang melandasi prinsip hukum tarik-menarik (Law of Attraction).

Sedemikian beruntunnya fenomena ‘kesialan beruntun’ ini dan sedemikian misterius penyebabnya, banyak orang yang kemudian di ujung pencariannya menunjuk ‘nasib’ sebagai biang penyebabnya. Apakah demikian adanya? Seorang tokoh besar dunia psikologi, Carl Gustav Jung, mengulas fenomena ini dalam salah satu kutipannya yang melegenda: “Sampai kita membuat pikiran bawah sadar ini ‘sadar’, ia akan terus mengendalikan (arah) hidup kita dan kita akan menyebutnya nasib.”

Bukan berarti nasib itu tidak ada, sebagai orang yang beriman tentu kita menyadari adanya takdir dan nasib, namun dalam rangka menyempurnakan upaya tentu ada baiknya kita menyadari bahwa Tuhan YME menciptakan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna karena adanya akal-pikiran, bukankah layak kita sepakati bahwa salah satu tanda rasa syukur kita padanya adalah dengan mengeksplorasi lebih dalam lapisan-lapisan kesadaran yang tersimpan di dalam akal-pikiran ini dan mencri tahu pengaruhnya secara langsung pada kualitas hidup kita?

Sampai sejauh ini saja sudah bisa kita sadari dahsyatnya kesadaran manusia, terutama yang berpusat dari pikiran bawah sadar. Dengan pengaruh langsungnya pada pikiran tidak sadar, pikiran bawah sadar sangat

mempengaruhi kondisi fisik dan kesehatan kita. Dengan pengaruh langsungnya pada pikiran sadar, pikiran bawah sadar juga mempengaruhi lancarnya keberlangsungan upaya kita dalam melakukan perubahan.

Jika demikian adanya, bukankah akan sangat efektif jika upaya perubahan bisa dilakukan langsung di level pikiran bawah sadar? Disinilah justru muncul kompleksitas berikutnya, sebagaimana sudah berkali-kali disiratkan di bahasan sebelumnya, pikiran bawah sadar beroperasi di level kesadaran yang justru tidak kita sadari, tanpa pemahaman akan prinsip dan teknik yang tepat bisa dikatakan mustahil untuk bisa mengakses level kesadaran ini secara langsung dan secara sengaja.

Mengapa ada kalimat ‘secara sengaja’ pada paragraf di atas? Karena pada dasarnya kita sering dan berulangkali mengakses pikiran bawah sadar dalam keseharian kita, namun prosesnya tidak kita sadari dan memang sulit kita kendalikan secara sengaja.

Kapankah itu? Yaitu ketika menjelang tidur dan terbangun dari tidur. Perlu kita pahami terlebih dahulu bahwa pikiran sadar pada dasarnya beroperasi di gelombang otak beta, sementara itu pikiran bawah sadar beroperasi di gelombang otak alpha dan theta.

Dalam aktivitas sehari-hari, kita lebih banyak mengoperasikan gelombang otak beta, ketika menjelang tidur dan kesadaran kita mulai berpindah, dalam kondisi inilah gelombang otak turun bertahap ke alpha dan theta, hanya saja prosesnya berjalan sedemikian cepat dan sulit kita kendalikan secara sengaja, maka di titik ini gelombang otak pun berpindah ke delta, yang mengindikasikan kondisi tidur lelap, level ini sendiri