• Tidak ada hasil yang ditemukan

Area pemakanan di desa Luau Jawuk yang diambil alih

Dalam dokumen INDUSTRI PERKEBUNAN SAWIT DAN HAK ASASI (1) (Halaman 136-146)

F

oto J

ohanes J

Data Badan Pertanahan Nasional Provinsi Kalimantan Teng ah menyebut- kan, 57,43 persen warga Kalimantan Tengah tidak memiliki sertifikat tanah (Tabengan 12/10/2010). Ini berarti, mayoritas warga Kalimantan Tengah lemah posisinya di hadapan perusahaan. Perusahaan bisa menggunakan segala cara untuk mengambil alih tanah-tanah warga. Warga masyarakat adat selama ini tak pernah terpikir untuk mengurus surat tanah tanah. Sebab dalam kehidupan masyarakat adat tidak diperlukan surat bukti kepemilikan. Masyarakat adat punya cara sendiri dalam menentukan batas kepemilikan tanah, misalnya menggunakan pohon durian sebagai tanda atau cara lainnya. Warga saling percaya, saling menghargai, tidak saling mengganggu dan tidak pernah berselisih. Semua masalah – termasuk tanah, bisa diselesaikan secara adat.

Posisi warga di hadapan perusahaan sawit sangat lemah, selain karena mayoritas warga tidak memiliki bukti kepemilikan tanah juga karena sistem adudomba yang diterapkan perusahaan. Perusahaan menggunakan aparat negara (terutama aparat desa – dari RT, BPD, sampai kepala desa, dan juga kepolisian) dan pemangku adat untuk membantu perusahaan mendapatkan tanah-tanah warga. Mereka menjadi kaki tangan perusahaan dalam memperoleh lahan, dan membujuk atau bahkan turut menekan warga agar bersedia menyerahkan tanahnya. Mereka ini pula yang mencarikan orang-orang lokal yang bisa direkrut perusahaan untuk dijadikan ‘preman’ bayaran dan membantu perusahaan dalam melakukan ‘tekanan’ terhadap warga yang melakukan protes atau penolakan.

Dalam banyak kasus, agar lebih cepat dan mudah mendapatkan persetujuan masyarakat dan mempercepat proses pengambilalihan lahan masyarakat oleh perusahaan, aparat desa mendekati dan menggunakan beberapa warga yang mengatasnamakan keluarga besar dalam proses penerbitan Surat Keterangan Tanah oleh aparat desa. Dengan cara ini beberapa warga bisa dengan mudah menyerahkan lahan keluarga pada perusahaan karena tanah yang sebelumnya milik keluarga sudah berpindah menjadi milik perorangan. Seiring berjalannya waktu, anggota-anggota keluarga yang lain mulai mengajukan keberatan setelah mengetahui bahwa tanah-tanah warisan yang dimiliki bersama telah diterbitkan sertifikatnya atas nama pribadi atau perseorangan dan berpindah ke tangan perusahaan. Konflik di dalam keluarga dan masyarakat pun kian tak terhindarkan.

Pelanggaran hak atas budaya. Hilangnya hutan, tanah ulayat, dan tanah warga berdampak pada hilangnya hak warga untuk berpartisipasi dalam kegiatan budaya. Bagi masyarakat adat, budaya merupakan hasil interaksi antara manusia dengan manusia lainnya, tumbuhan, binatang, dan tanah (lih Xanthaki 2007). Relasi antara masyarakat adat dengan lingkungannya inilah yang membedakan masyarakat adat dengan masyarakat lainnya. Bagi komunitas adat di Kalimantan

Tengah, hutan, ladang, sungai, dan rawa adalah bagian dari identitas masyarakat adat. Kebudayaan masyarakat adat tak bisa dilepaskan dari keberadaan hutan, ladang, rawa, dan sungai. Banyak warga yang kehilangan tanah sekaligus juga kehilangan tempat ritual keagamaan mereka, yaitu tempat yang mereka sebut sebagai ‘keramat’ dalam agama Hindu Kaharingan dan sekaligus juga pekuburan leluhur mereka. Pembukaan lahan untuk perkebunan sawit tidak mengindahkan tanah keramat dan makam leluhur. Tempat keramat dan pekuburan leluhur hilang bersama dengan hilangnya hutan dan tanah warga.

Lokasi kedua artefak budaya tersebut, yaitu keramat dan makam leluhur, sekarang berada di dalam wilayah perkebunan sawit. Karena perusahaan sawit menerapkan kebijakan keamanan secara ketat dengan melibatkan preman-preman bayaran, warga yang semula memiliki tempat keramat dan pekuburan leluhur dilarang memasuki wilayah itu lagi. Kalau pun masih ada tempat keramat yang sampai tidak dirusak dan tidak dihilangkan, warga tidak bisa lagi mengaksesnya.

Tidak ada perlindungan juga terhadap obyek-obyek budaya, seperti

sandung, patahu, dan sapundu. Sandung adalah tempat meletakkan tulang belulang orang Dayak sesudah ditiwahkan. Tiwah adalah upacara ritual kematian untuk mengantar arwah ke lewu liau (dunia atas). Sapundu adalah tiang pengorbanan upacara adat terutama tiwah. Patahu adalah rumah-rumahan tempat meletakkan sesajian. Tanaman-tanaman lokal yang biasa dipakai dalam upacara adat juga habis dibabat. Telah terjadi pelanggaran terhadap hak masyarakat adat dalam melestarikan dan menguatkan hubungan spiritual dengan tanah, wilayah, dan sumber daya alam lainnya. Secara budaya, mayarakat menjadi sangat lemah. Tidak ada lagi pengembangan kegiatan-kegiatan budaya dan pelibatan masyarakat dalam kegiatan-kegiatan budaya.

Kasus 5: Hutan Hilang, Hilang Pula Tempat Keramat

“Selain kehilangan lahan karet, saya juga kehilangan 1 hektar wilayah keramat yang sering dipakai untuk ritual agama Hindu Kaharingan yang saya anut sejak kecil. Tempat keramat dan tradisi Hindu Kaharingan adalah satu kesatuan. Ritual-ritual dalam tradisi Hindu Kaharingan membutuhkan wilayah keramat yang rata rata berada di hutan. Hutan keramat ini dilindungi oleh pemilik keramat, pohon-pohonnya tidak ditebang. Kawasan Hutan keramat yang sudah dibabat habis itu kini ditumbuhi ratusan pohon sawit sejak tempat itu dirampas oleh perusahaan sawit tahun 2011 lalu.”

–Sulja, warga desa Mirah Kalanaman, kecamatan Katingan Tengah, kabupaten Katingan–

Sistem perladangan berpindah – masyarakat adat menyebutnya dengan sistem berladang ‘gilir balik’ (bukan perladangan berpindah sebagaimana disebut- kan pihak luar)– tidak dapat dipisahkan dari keberadaan komunitas adat Dayak. Sistem berladang gilir ini tidak merusak tanah karena setelah selesai menanam di satu area, mereka tidak meninggalkan begitu saja area bekas ladang tersebut. Sebelum meninggalkan area tersebut, mereka menanami terlebih dahulu bekas ladang yang akan mereka tinggalkan tersebut dengan berbagai tanaman kayu, buah-buahan, karet, rotan, dan lainnya. Dengan demikian lahan bekas ladang tersebut akan kembali menjadi hutan dan pada gilirannya akan dipakai kembali untuk berladang.

Kegiatan berladang adalah kegiatan budaya, yang melibatkan kerjasama dan gotong rotong antarwarga sejak mulai menebas, membakar, menanam, hingga memanen. Sebelum ladang ditinggalkan untuk membuka ladang di lokasi lain, ada ketentuan adat yang mengharuskan mereka terlebih dahulu menanam karet, rotan, damar dan tumbuhan lainnya di ladang yang akan ditinggalkan tersebut. Sistem perladangan komunitas adat mengandung nilai-nilai ritual dan religi, yang sarat dengan kearifan lokal terkait pemeliharaan keseimbangan ekosistem. Dalam memanfaatkan hutan untuk berladang, masyarakat tidak melakukannya dengan sesuka hatinya. Terdapat sejumlah aturan adat yang mereka taati demi menjaga agar hutan yang merupakan bagian dari kehidupan mereka tetap terjaga kelestariannya. Hutan melekat erat dalam kehidupan keagamaan komunitas adat. Sebelum masyarakat melakukan pembukaan ladang, mereka melakukan ritual untuk meminta izin pada roh-roh penunggu hutan karena hutan mereka yakini sebagai tempat bersemayam roh para leluhur yang menjaga hutan bagi anak cucu yang masih hidup. Dalam menentukan lokasi hutan yang akan dijadikan ladang pun mereka melakukan ritual untuk meminta petunjuk para roh. Dengan cara ini komunitas adat menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dengan alam. Mereka yang merusak hutan dan lahan dengan cara membakar secara sembarangan terkena sanksi adat, yang diberikan dalam bentuk denda adat, pengganti kerugian atau hukuman sosial yang membuat pelaku perusakan menanggung rasa malu.

Berladang sebagai kegiatan budaya itu tidak bisa lagi dilakukan komunitas adat karena hutan sudah menghilang. Demikian juga kegiatan ekonomi lainnya, seperti berburu, berkebun, mencari ikan di sungai dan rawa, dan mengambil hasil hutan baik secara bersama atau sendiri-sendiri. Ekspansi perkebunan sawit yang mengambil alih hutan, lahan, sungai, dan rawa, membuat masyarakat adat tidak bisa lagi menjalani cara hidup yang sudah berlangsung puluhan dan bahkan ratusan tahun. Akses mereka atas tanah, hutan, dan sumberdaya alam

yang menjadi basis kebudayaan mereka telah dihilangkan. Bahkan masyarakat yang berhasil mempertahankan lahan kebunnya dari perampasan yang dilakukan perusahaan sawit mengaku kesulitan mengakses kebun mereka karena lokasi kebun ada di tengah kebun sawit.

Kasus 6: Tak Bisa Menggarap Kebun

yang Berlokasi di Tengah Perkebunan Sawit

“Ada kebun warga yang berada di tengah kebun sawit. Kebun warga ini milik masyarakat desa Moroduyung, kecamatan Pematang Karau. Warga kesulitan menggarap kebun mereka karena perusahaan tidak mengizinkan mereka masuk ke area perkebunan sawit. Padahal kebun mereka ada di tengah-tengah perkebunan sawit.”

–Fernandez – warga desa Tampa, kecamatan Paku, kabupaten Barito Timur–

Tak ada perlindungan terhadap pengetahuan tradisional yang diajarkan secara turun temurun, seperti obat-obatan, ketrampilan menganyam, berburu, berladang, menangkap ikan, dan lainnya. Pengetahuan tradisional dalam mengelola sumberdaya alam secara komunal perlahan menghilang. Perubahan lingkungan fisik telah mengubah cara hidup masyarakat.

Hilangnya akses warga dan komunitas atas kegiatan budaya mengubah secara mendasar kehidupan ekonomi, sosial, dan politik individu dan komunitas. Demikian pula sebaliknya, perubahan dalam kehidupan ekonomi, sosial, dan politik telah mengubah kehidupan budaya dalam komunitas. Dalam hal ini ekspansi industri perkebunan sawit membawa kebudayaan baru yang mengubah masyarakat menjadi individualis dan berorientasi pada materi. Kehidupan berkomunitas semakin luntur. Praktik budaya makin menurun, karena tidak ada lagi hutan, tanah, wilayah, hukum, institusi, tradisi, ritual, sistem dan lembaga pendidikan, bahasa, pengetahuan, pengobatan, dan pangan lokal. Tidak ada lagi pertemuan adat reguler tentang pengelolaan sumber daya alam. Hilangnya pertemuan reguler berarti juga hilangnya ruang dialog dan ruang komunikasi antarwarga dalam komunitas. Kalau pun masih ada pertemuan, warga yang menolak kehadiran perkebunan sawit tidak lagi diundang. Warga terkotak-kotak dalam kelompok-kelompok pro sawit, kontra sawit, dan kelompok yang tak peduli. Tak tampak lagi tradisi kerjasama, gotong royong, dan partisipasi yang dulu terasa sangat kental dalam kehidupan masyarakat. Kelembagaan, aturan, dan nilai-nilai adat ditinggalkan. Individu-individu bersaing untuk mendapatkan keuntungan bagi diri sendiri. Kini di kalangan warga komunitas mulai dikenal kelompok

‘Orang Kaya Baru’ (OKB), yaitu mereka yang berelasi dekat dengan perusahaan sawit dan berperan sebagai ‘calo’ perusahaan sawit dalam mendapatkan tanah- tanah warga. Mereka ini juga yang sering dipakai perusahaan untuk menghadapi warga yang menentang kehadiran perkebunan sawit. Ironisnya, para OKB ini kebanyakan adalah para pemimpin dan aparat desa (mulai dari RT, BPD sampai kepala desa) dan pemangku adat, yang punya peranan dan tanggung jawab besar dalam kehidupan komunitas. Nilai-nilai dan kearifan yang diwariskan para leluhur tak lagi jadi pegangan dalam hidup berkomunitas. Akibatnya, konflik di dalam keluarga, antarwarga, antara warga dengan perusahaan, antara warga dengan pemerintah dan pemangku adat menjadi tak terelakkan.

Kasus 7: Industri Perkebunan Sawit Merusak Tatanan Adat

“Masyarakat merawat hutan, menangkap ikan dan binatang hutan, menebang po- hon, mengambil kayu, membuka ladang, semuanya mengikuti aturan adat. Semua ada aturannya, dan dijalankan secara turun temurun. Tapi sekarang ini tatanan adat sudah rusak. Ini sangat terasa. Biasanya kegiatan seni budaya sangat berkaitan dengan alam dan hutan. Kita bikin ritual di hutan, pohon besar, dekat mata air. Selain meyakini Tuhan, kita juga meyakini adanya roh-roh yang tidak nampak. Masyarakat dalam suka dan duka serta perselisihan selalu memanggil dan memohon bantuan. Saat membuka ladang, masyarakat juga lakukan ritual untuk memohon izin dari pohon-pohon besar. Sekarang tatanan adat sudah rusak. Ada perpecahan dalam keluarga, juga dalam ma- syarakat. Yang memperjuangkan tanah adat diancam orang-orang lokal yang dekat dengan perusahaan.”

–Mardiana, tenaga medis dan pendiri Sanggar Tari “Rirung Munge”, Barito Timur–

Kesimpulan. Korporasi perkebunan sawit telah melanggar hak warga dan masyarakat atas hutan, tanah ulayat, ladang, dan kebun. Korporasi mengambil alih hutan, tanah ulayat, ladang, dan kebun dan mengubahnya menjadi perkebunan sawit. Hutan, tanah ulayat, dan lahan individu yang menjadi identitas dan sumber kehidupan individu dan komunitas telah berpindah ke tangan korporasi. Korporasi perkebunan sawit tidak menghormati dan secara tidak adil mengambil alih hak warga dan komunitas atas hutan, tanah ulayat, dan lahan individu. Perampasan hak atas tanah oleh korporasi ini dilakukan dengan dukungan negara. Pada tanah melekat – secara langsung atau tidak langsung – hak warga dan komunitas untuk hidup dan melangsungkan kehidupan. Pelanggaran hak atas tanah sebagai sumber kehidupan dan basis kebudayaan oleh perusahaan

sawit dan juga pemerintah telah berdampak, salah satunya pada pelanggaran hak atas budaya. Tanah adalah identitas dan basis kegiatan budaya dan perampasan tanah berarti juga pelanggaran hak atas budaya.

3.2.2. Terhadap Hak atas Pekerjaan

Hak atas pekerjaan dapat dikelompokkan dalam empat kategori (lih

Drzewicky 2001), yaitu:

1. Hak yang terkait dengan pekerjaan : hak atas pekerjaan, hak untuk memilih pekerjaan secara bebas, hak untuk bebas dari perbudakan, hak untuk bebas dari kerja paksa, hak untuk mendapatkan perlindungan dalam pekerjaan (hak untuk tidak dipecat secara semena-mena)

2. Hak yang diturunkan dari pekerjaan: hak atas kondisi kerja yang adil (jam kerja, waktu istirahat, pembayaran cuti tahunan, dan lainnya), hak atas kondisi kerja yang sehat dan nyaman, hak atas upah yang adil, hak atas jaminan sosial, hak perempuan, orang muda maupun anak atas perlindungan dalam pekerjaan, dan lainnya

3. Hak yang berkaitan dengan perlakuan yang adil dan tidak diskriminatif 4. Hak instrumental: hak untuk berserikat, hak untuk berorganisasi, hak

untuk bernegosiasi secara kolektif, hak untuk mogok.

Terkait dengan ketenagakerjaan, sektor perkebunan – tak terkecuali perkebunan kelapa sawit, adalah sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja. Di Kalimantan Tengah, industri perkebunan kelapa sawit telah menyerap puluhan dan bahkan ratusan ribu tenaga kerja, yang berasal dari Kalimantan Tengah, dari pulau Kalimantan, dari luar pulau Kalimantan, dan juga dari luar wilayah Indonesia atau tenaga kerja asing. Satu ciri khas yang sangat menonjol dalam industri perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah adalah dominannya pola hubungan kerja yang longgar. Ini terlihat dari praktik kerja buruh harian lepas (BHL) dan tidak diberlakukannya kontrak kerja bahkan terhadap para buruh yang berstatus pekerja tetap.

Secara umum tenaga kerja yang bekerja di perusahaan sawit terbagi dalam beberapa kategori atau status, yakni buruh harian lepas (BHL), buruh borongan, buruh harian tetap (Syarat Kerja Umum - SKU), dan buruh tetap bulanan (staf). Buruh harian lepas adalah buruh tidak tetap yang upah kerjanya dihitung berdasarkan hari kerja buruh. Buruh harian tetap adalah buruh tetap yang upahnya dihitung per hari kerja. Sementara buruh tetap bulanan adalah buruh tetap yang upahnya dihitung per bulan. Ada juga yang memisahkan antara buruh tetap bulanan (mandor dan satpam) dengan staf.

Tidak mudah mendapatkan informasi tentang kondisi perburuhan yang ada di perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah, khususnya di wilayah kabupaten yang menjadi lokasi studi. Perusahaan relatif kurang terbuka atau bahkan cenderung menutup diri dalam hal informasi terkait kebijakan dan kondisi perburuhan. Sementara para buruh sendiri juga kurang memiliki kebebasan untuk menyampaikan informasi perihal aturan dan kondisi kerja di tempat mereka bekerja. Ada kekhawatiran di kalangan buruh bahwa mereka akan mendapatkan kesulitan dari pihak perusahaan kalau mereka berbicara dengan orang luar terkait kondisi perburuhan di tempat mereka bekerja. Kalau pun perusahaan memberikan informasi terkait kebijakan perburuhan yang diterapkan, kebijakan ini tidak bisa dengan mudah dikonfirmasi berdasarkan kondisi riil yang dihadapi para buruh. Sebab tidak mudah mendapatkan akses untuk berbicara secara bebas dengan para buruh. Bahkan di kabupaten Barito Timur perusahaan PT Sawit Graha Manunggal (SGM) dan PT KSL sama sekali tidak bersedia memberikan informasi. Informasi didapatkan secara tidak langsung dari para warga yang punya relasi dekat dengan para buruh yang bekerja di perkebunan sawit di sekitar desa mereka. Laporan tentang kondisi hak buruh di perkebunan sawit pada akhirnya lebih banyak memotret kondisi buruh di PT Karya Dewi Putra (KDP) di kabupaten Katingan dan PT Katingan Indah Utama (KIU) di Kotawaringin Timur.

Kasus 1: Buruh Tak Punya Kebebasan untuk Berbicara dan Menyatakan Pendapat “Jika ada soal-soal di kebun, tak ada tempat mengadu. Kemana tempat mengadu. Malah kalau auditor datang, kami dilarang keluar oleh mandor atau askep (asisten ke- pala) supaya tidak ada kesempatan ngomong dengan auditor. Mereka bilang, kami ini bodoh, tahu apa bicara dengan auditor. Padahal sebodoh-bodohnya kami, tahu saja apa yang diomongkan kecuali sedang mabuk.”

–Mansyur – bukan nama sebenarnya – buruh harian lepas PT Katingan Indah Utama

Industri perkebunan sawit mengandalkan peran buruh harian, baik buruh harian lepas (BHL) maupun buruh harian tetap (SKU). Baik buruh harian lepas maupun harian tetap bekerja di semua sektor pekerjaan, mulai dari pembersihan lahan, penanaman, penyemprotan, pemupukan, pemangkasan, panen, pengang- kutan hingga proses produksi di pabrik. Selain buruh harian lepas, kerja-kerja di perkebunan sawit juga mengandalkan peran buruh yang berstatus buruh harian

tetap (Syarat Kerja Umum – SKU). Meskipun melakukan pekerjaan yang sama, namun buruh BHL dan buruh SKU memiliki hak yang berbeda. Berikut adalah kondisi pelaksanaan hak-hak buruh di perkebunan sawit.

3.2.2.1. Hak yang Terkait dengan Pekerjaan

Pelanggaran hak warga atas pekerjaan. Hadirnya perkebunan sawit di komunitas-komunitas desa adat dan transmigran membawa dampak terhadap hak atas pekerjaan. Di satu sisi, hadirnya perkebunan sawit membuka lapangan kerja baru bagi warga lokal dan pendatang. Selain merekrut tenaga kerja lokal, perusahaan juga merekrut dan mendatangkan tenaga kerja dari daerah lain. Namun di sisi lain, perkebunan sawit yang mengambil alih hutan, lahan, sungai, dan rawa juga membawa dampak pada pelanggaran hak atas pekerjaan para warga komunitas adat dan transmigran. Warga yang pekerjaan sehari-harinya adalah petani peladang, pekebun karet, pencari ikan, dan lainnya kini kehilangan pekerjaan yang berpuluh tahun mereka tekuni.

Hak warga untuk memilih pekerjaan secara bebas tidak dihormati.

Perusahaan perkebunan sawit melanggar hak warga untuk memilih pekerjaan secara bebas. Hilangnya hutan, ladang, kebun, dan rawa, serta pencemaran sungai membuat warga tak bisa lagi memilih pekerjaan secara bebas. Mereka tidak bisa lagi bertani, berburu, menganyam, mencari ikan, dan pekerjaan lainnya karena sumber hidup mereka sudah dirampas perusahaan. Mereka tak lagi punya banyak pilihan. Satu-satunya pekerjaan yang bisa mereka lakukan setelah desa mereka dikepung oleh perusahaan sawit adalah menjadi buruh perkebunan sawit. Seperti yang terjadi pada komunitas desa Kabuau, kecamatan Parenggean, kabupaten Kotawaringin Timur, 90 persen warga bekerja sebagai buruh perkebunan sawit dengan status buruh harian lepas. Meskipun sudah bertahun-tahun bekerja, status mereka tetaplah buruh harian lepas. Hal serupa terjadi pada masyarakat transmigran, dan masyarakat desa lainnya yang sebagian besar lahannya sudah diambil perusahaan sawit.

Kasus 2: Lahan Diambil, Warga Terpaksa Jadi Buruh Perkebunan Sawit “Masyarakat transmigran di wilayah SP 2 (desa Selawah) 90 persen warganya sudah bekerja di perusahaan PT Sawit Graha Manunggal (SGM) karena mereka tidak punya lahan lagi. Lahan sudah diambil perusahaan.”

Buruh perkebunan miskin perlindungan. Buruh yang bekerja di per kebunan – apa pun status mereka, tidak menandatangani perjanjian kerja. Perusahaan secara sepihak menentukan segala ketentuan dan persyaratan, dan buruh dipaksa menerima segala ketentuan dan persyaratan tersebut. Tiadanya perjanjian kerja membuat buruh rentan mengalami perlakuan tidak adil. Sebab mereka tidak mengetahui secara pasti hak-hak mereka. Terlebih dengan kondisi kerja dan kondisi geografis perkebunan yang terisolir, membuat perusahaan jauh dari jangkauan pengawasan pemerintah. Akibatnya, buruh perkebunan juga jauh dari jangkauan perlindungan pemerintah.

Perusahaan perkebunan sawit cenderung meminimumkan tanggung jawab terhadap buruh dengan menerapkan sistem hubungan kerja longgar melalui praktik buruh harian lepas. Dengan status sebagai buruh harian lepas, buruh tidak mendapatkan perlindungan dalam pekerjaan. Perusahaan bisa dengan mudah memutuskan hubungan kerja apabila perusahaan sudah tidak membutuhkan tenaga mereka atau apabila perusahaan secara sepihak menilai mereka sebagai yang ‘tidak loyal’ pada perusahaan dan ‘melanggar ketentuan perusahaan’. Keamanan pekerjaan (job security), dengan demikian, tidak terjamin. Agar buruh bisa tetap bekerja, mereka harus memenuhi segala ketentuan yang dipersyaratkan secara sepihak oleh perusahaan dan terus bertahan meski menghadapi kondisi kerja buruk.

Kasus 3: Buruh tidak tahu statusnya sebagai buruh harian lepas

“Baru satu setengah tahun saya bertugas di sini saya sudah mengurus pemakaman delapan orang warga buruh PT KDP, terdiri dari dua buruh dan enam anak-anak buruh. Mereka meninggal karena sakit dan tak mendapatkan pengobatan memadai. Mereka adalah buruh dengan status harian lepas. Namun mereka tidak tahu statusnya buruh harian lepas, meskipun sudah setahun lebih bekerja di PT KDP. Buruh baru tahu statusnya ketika anaknya meninggal dan meminta bantuan perusahaan untuk membawa jasad anaknya ke kampung. Pihak perusahaan hanya memberi uang Rp 250 ribu dengan alasan bahwa statusnya adalah buruh harian lepas.”

Foto 33 — Buruh perkebunan sawit berstatus harian lepas yang meninggal

Dalam dokumen INDUSTRI PERKEBUNAN SAWIT DAN HAK ASASI (1) (Halaman 136-146)