2.3. Kehidupan Komunitas di Lingkar
Perkebunan Sawit
Hadirnya industri perkebunan sawit membawa perubahan bagi kehidupan komunitas adat dan komunitas transmigran di tiga kabupaten terpilih: Barito Timur, Katingan, dan Kotawaringin Timur. Perubahan ini terjadi di berbagai aspek kehidupan komunitas. Perlu sedikit digambarkan kondisi tiga kabupaten terpilih sebelum pemaparan kehidupan komunitas yang ada di sekitar area perkebunan sawit.
Kabupaten Barito Timur. Kabupaten Barito Timur merupakan kabu- paten lumbung padi dan usaha karet. hampir 70 persen rakyat di kabupaten ini adalah petani karet. Selain karet, di kabupaten ini juga banyak terdapat perusahaan pertambangan – khususnya batubara. Meskipun kaya dengan tambang dan karet, namun angka kemiskinan kabupaten ini tertinggi di provinsi Kalimantan Tengah. Kabupaten Barito Timur (Bartim) yang memiliki luas wilayah 3.834 kilometer persegi atau 384.000 hektar terdiri dari 10 kecamatan, 100 desa dan tiga kelurahan, dihuni oleh 101.054 orang, terjalin dalam sejumlah 26.623 ru- mah tangga. Kabupaten ini terletak di bagian paling selatan dari daerah aliran sungai Barito sejauh berada di dalam wilayah provinsi Kalimantan Tengah (BTDA2013). Sungai Barito memanjang dari pegunungan tengah pulau Kaliman- tan ke arah selatan menuju ke laut Jawa, dari wilayah Kalimantan Tengah sampai ke Kalimantan Selatan. Sungai yang panjangnya mencapai 600 kilometer ini bermuara di Banjarmasin, ibukota provinsi Kalimantan Selatan. Barito Timur semula merupakan bagian dari kabupaten Barito Selatan. Bersamaan dengan beberapa kabupaten lain di Kalimantan Tengah, sejak 2002 kabupaten Barito Timur resmi menjadi kabupaten otonom.
Seperti kabupaten yang lain, pemerintah setempat juga mengandalkan sumberdaya alam untuk meningkatkan pendapatan daerah. Pemerintah menge luarkan banyak izin konsesi pertambangan dan perkebunan. Menurut Walhi Kalimantan Tengah, pemerintah telah mengeluarkan izin perkebunan untuk luasan sampai 246.940 hektar (64,41 persen dari total wilayah kabupaten), dan seluas 112.094 hektar untuk izin pertambangan (29,24 persen). Luasan yang tersisa tinggal 6,36 persen. Usaha pertambangan berbagai jenis mineral telah lebih dahulu diberikan dibandingkan dengan izin-izin perkebunan. Namun, menurut kaltengmining.com jumlah luasan operasi pertambangan telah mencapai areal yang lebih luas, yaitu 228.547.07 hektar. Jumlah total luasan izin untuk pertambangan dan perkebunan sawit kini sudah melebihi luasan
wilayah kabupaten Barito Timur sendiri. Dapat dikatakan di kabupaten ini nyaris tak tersisa lahan apa pun untuk warga masyarakat setempat, karena mayoritas lahan sudah diambil alih oleh perusahaan-perusahaan besar. Dengan kata lain, kerusakan hutan telah mencapai taraf yang sangat kritis. Pemerintah provinsi mengakui terjadi kerusakan hutan di kawasan daerah aliran sungai Barito, yang luasannya mencapai 1,2 juta hektar, termasuk wilayah kabupaten ini (Tribunnews.com 25/5/2010).
Sekalipun luasan areal izin pertambangan menggambarkan besarnya konsesi yang diberikan oleh pemerintah sampai mendekati angka 30 persen, perputaran nilai yang terjadi di kabupaten ini, sejauh tercatat sebagai pendapatan daerah, tampak tak sepadan: pertambangan hanya menyumbangkan sebesar rata-rata 1,02 persen (BTDA2013). Sebaliknya sektor pertanian menyumbangkan nilai terbesar yaitu rata- rata 49,3 persen dalam periode 2008-2012 (BTDA2013). Sekalipun belum banyak perkebunan-perkebunan besar membuka usaha pertanian kelapa sawit, seperti di kabupaten lain (lih Diagram 2), dalam sektor pertanian ini, perkebunan rakyat menduduki peran penting karena menyumbangkan andil nilai ekonomi sampai sebanyak antara 38,82 persen (2008) dan 35,49 persen (2012).
Diagram 2
Kondisi kehidupan warga masyarakat di kabupaten ini tampak sejajar de ngan kerusakan hutan dan lingkungan yang selama ini menyokong kehidupan manusia yang tinggal di sekitarnya. Menurut catatan statistik provinsi Kalimantan Tengah 2011, persentase jumlah keluarga miskin di kabupaten ini pada 2010 adalah yang terbanyak di antara semua kabupaten lain, yaitu mencapai 10,51 persen dibandingkan dengan semua kabupaten lain di provinsi Kalimantan Tengah. Jumlah keluarga miskin mencapai sekitar 11.700 keluarga (KTDA 2011). Antara 2010 s.d. 2012 tercatat sejumlah rata-rata 1.282 keluarga di kabupaten ini ter go long keluarga miskin atau pra-sejahtera (BTDA 2013). Status pendidikan ang katan kerja di kabupaten ini pun menggambarkan keadaan yang sejajar lebih dari separuh jumlah mereka (67,47 persen) adalah lulusan SMTP ke bawah (BTDA 2013).
Kabupaten Katingan. Kabupaten Katingan dengan luas sekitar 17.500 kilometer persegi (1,75 juta hektar) merupakan kebupaten pemekaran baru yang disahkan pada 2002. Sebagai kabupaten terluas kedua di Kalimantan Tengah setelah kabupaten Murung Raya, pada 2008 Katingan dihuni oleh 36.928 keluarga, yang terdiri dari 144.836 jiwa. Secara administratif terdiri dari 13 kecamatan, 154 desa, dan tujuh kelurahan. Mayoritas desa atau kelurahan (87 persen) berada di pinggir sungai. Dengan ini warga kabupaten Katingan bisa disebut sebagai “manusia sungai”. Lebih daripada semua kabupaten lain di provinsi Kalimantan Tengah, masyarakat Katingan sangat menggantungkan hidup pada sungai, terutama sungai Katingan.
Sungai adalah bagian utama dari kehidupan dan budaya Katingan. Dan sungai Katingan adalah sungai utama kabupaten ini, sungai terpanjang kedua (650 kilometer) setelah sungai Barito (900 kilometer). Sungai Katingan memiliki empat anak sungai, yaitu Kalanaman, Samba, Hiran dan Bemban. Nyaris seluruh wilayah kabupaten ini sesungguhnya tergolong sebagai “hutan” sebagaimana dikategorikan oleh Dinas Kehutanan Katingan. Berbeda dengan semua kabu paten lain di provinsi ini, Katingan memiliki kekayaan alam istimewa, di antara nya ditandai oleh adanya hutan lindung berupa dua areal konservasi yaitu taman nasional Sebangau seluas 348.170 hektar (19,9 persen dari seluruh wilayah kategori hutan) dan taman nasional Bukit Raya seluas 17.709 hektar (6,3 persen).
Pemerintah daerah kabupaten Katingan memanfaatkan sumberdaya alam di kabupaten ini untuk meningkatkan pendapatan asli daerah. Dalam beberapa tahun terakhir, ribuan hektar hutan hujan dibuka untuk perkebunan kelapa sawit dan pertambangan. Data Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah menunjukkan, sampai 2011 seluas 55.221 hektar hutan hujan di Katingan akan dan atau sudah dibuka untuk perkebunan sawit yang dimiliki korporasi atau perusahaan besar swasta (PBS), seperti tampak dalam Diagram 3.
Diagram 3
Perkembangan luasan lahan perkebunan sawit di kabupaten Katingan
Sementara sumber lain (kaltengmining.com) menyebutkan, sampai 2011 terdapat seluas lebih dari 173.000 hektar hutan dibongkar untuk berbagai pertambangan, terutama batubara (91.000 hektar), zirkon (61.572 hektar), bijih besi (16.650 hektar), emas (250 hektar). Total kebun rakyat tercatat sebanyak 25.352 hektar sampai 2011. Bahkan berdasarkan catatan Walhi, perkebunan besar – terutama perkebunan sawit di Katingan sudah mengambil alih seluas 22 persen (344.095 hektar) dari keseluruhan wilayah kabupaten, pertambangan mencapai 29 persen (453.386 hektar) dan wilayah pengelolaan hutan lindung sejumlah mendekati 50 persen (791.636 hektar).
Data BPS 2006 – 2012 menunjukkan, sektor perkebunan memberikan kontribusi 14,52 – 16,23 persen dari total pendapatan daerah atau senilai maksimal Rp258,16milyar. Tetapi nilai ini tak sebanding dengan total nilai pendapatan dari sektor pertanian yang lain: tanaman pangan, ternak, kehutanan dan perikanan, yang berkisar antara 16,23 – 17,01 persen atau senilai minimal Rp260,63 milyar, meskipun kontribusi dari sektor tanaman pangan, ternak, kehutanan, dan perikanan ini cenderung menurun.
Mantan Bupati Katingan Duwel Rawing mengakui bahwa pemerintahnya belum sepenuhnya mampu menangani masalah kemiskinan yang dialami oleh nyaris sejumlah 7,56 persen dari seluruh warga kabuaten ini. Rawing mengakui bahwa sampai sejumlah 40 persen dari seluruh warga Katingan masih tetap tidak
memiliki akses pada listrik publik. Akses terhadap air bersih juga masih minim. Demikian juga dengan akses terhadap pendidikan. Sampai tahun 2010, lebih dari separuh (52,05 persen) warga Katingan berusia kerja (52,05 persen) ternyata hanya lulusan SD (33,68 persen), tidak tamat atau drop-outs SD (16,79 persen) atau tidak pernah sekolah sama sekali (1,58persen).
Ekspansi perkebunan sawit membawa perubahan drastis terhadap kondisi lingkungan dan bagi kehidupan individu dan komunitas. Jika orang memasuki wilayah kabupaten Katingan, mungkin anda masih beruntung karena masih mungkin menyaksikan adanya hutan lindung, meski tak semudah seperti dahulu lagi karena posisi hutan lindung berada di kawasan hulu sungai Katingan. Areal kabupaten ini terdiri dari tiga bagian utama dari sisi ekosistem, yaitu lahan gambut di bagian selatan, lahan tanah yang cocok untuk bercocok tanam di bagian tengah, dan hutan lindung di bagian utara kabupaten ini. Areal perkebunan sawit yang merangsek masuk ke kabupaten ini terkonsentrasi di bagian tengah kabupaten ini, di lokasi-lokasi di mana kebanyakan warga masyarakat tinggal dan menggantungkan kehidupan mereka. Di wilayah bagian tengah dan selatan perusakan kawasan hutan terus terjadi. Ini membawa perubahan drastis pada kehidupan warga di tingkat individu dan komunitas.
Catatan yang perlu ditambahkan tentang kabupaten Katingan adalah bahwa kabupaten ini termasuk dalam lima kabupaten yang merupakan lumbung padi di provinsi Kalimantan Tengah. Empat kabupaten lainnya adalah kabupaten Kapuas, Pulang Pisau, Barito Timur, dan Lamandau. Meluasnya area yang diperuntukkan bagi perkebunan sawit dan industri eksploitatif lainnya apabila tidak dikendalikan tentunya akan berdampak pada melemahnya ketahanan pangan di kabupaten Katingan dan juga provinsi Kalimantan Tengah.
Kotawaringin Timur. Kotawaringin Timur adalah kabupaten penyumbang pendapatan asli daerah terbesar bagi provinsi Kalimantan Tengah. Kabupaten ini dikenal sebagai wilayah padat perkebunan sawit, dengan intensitas konflik tertinggi. Perluasan area tanam kelapa sawit dilakukan secara besar-besaran tiap tahun, baik dengan mengonversi lahan pertanian maupun hutan. Kabupaten ini juga dicatat sebagai kabupaten yang memiliki lahan kritis terbesar di provinsi Kalimantan Tengah dan kabupaten dengan angka kemiskinan tertinggi kedua setelah kabupaten Barito Timur (Dayak Pos 29/2/2009). Pemerintah provinsi Kalimantan Tengah tengah berupaya menggenjot produksi padi dan menjadikan Kotawaringin Timur sebagai daerah surplus padi (Banjarmasin Pos 5/8/2008). Ironisnya, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan provinsi Kalimantan Timur, Tute Lelo, menyatakan, kabupaten Kotawaringin Timur bersama dengan kabupaten
Seruyan dan Kotawaringin Barat merupakan kabupaten yang telah mengubah sebagian besar lahan potensial untuk pertanian tanaman pangan menjadi perkebunan sawit (Dayak Pos 12/8/2008). Bila tidak segera dicegah perluasannya dikhawatirkan akan mengganggu ketahanan pangan lokal.
Kabupaten Kotawaringin Timur yang memiliki luas area sampai 16.796 km2 (1,67juta hektar), terdiri dari 17 kecamatan, 17 desa (kepala desa dipilih warga) dan 161 kelurahan (lurah diangkat bupati), dibentuk sebagai konsekuensi dan bagian dari penetapan provinsi Kalimantan Tengah pada 1953. Tapi, Kotim, akronim yang menjadi nama juluk kabupaten ini, menyandarkan kehidupan masyarakatnya pada daerah aliran sungai (DAS) Mentaya dan merupakan induk dari dua kabupaten yang kemudian dimekarkan secara bersamaan sejak 2002. Dua area kabupaten yang lain adalah DAS Seruyan dan DAS Katingan.
Jumlah penduduk pada 2012 mencapai 380.443 orang, yang terhimpun dalam 101.628 keluarga. Lebih dari 53 persen dari angkatan kerja (totalnya mencapai 162.479 orang) warga Kotawaringin Timur pada 2012 hanya lulusan sekolah dasar atau tak lulus sekolah dasar. Sementara itu, sejauh tercatat jumlah rata-rata keluarga miskin sampai lima tahun terakhir mencapai lebih dari 10.500 keluarga. Terdapat tiga desa yang tergolong paling banyak keluarga miskin: Antang Kalang, Cempaga dan Mentawa Baru atau Ketapang (Sampit). Yang terakhir ini sekaligus adalah desa yang paling banyak jumlah penduduknya (78.183 orang; 21.031 keluarga).
Seperti kabupaten-kabupaten lain di Kalimantan Tengah, Kotawaringin Timur mengandalkan eksploitasi sumber daya alam – khususnya hutan – untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Menurut catatan Walhi, dari luas wilayah kabupaten Kotawaringin Timur, 440.295 hektar (26,60 persen) sudah dikuasai perusahaan penguasaan hutan, 35.491 hektar (2,20 persen) dikuasai industri pertambangan, dan 506.131 hektar (30,68 persen) dikuasai perusahaan perkebunan sawit. Ini berarti masih tersisa sebanyak 40,52 persen area kabupaten yang belum diserahkan sebagai konsesi. Areal lahan tersisa ini berada dalam status “sedang menunggu pembongkaran”. Sebab data BPS 2013 menunjukkan, hampir seluruh area kabupaten ini telah dikategorikan sebagai area yang disebut dengan “hutan produksi”, yang terdiri dari hutan produksi tetap dan hutan produksi terbatas. Masing-masing seluas 35,05 persen dan 64,80 persen dari seluruh area kabupaten ini. Dengan kata lain, seluruh area hutan di kabupaten ini merupakan sumber daya alam utama yang dipertaruhkan untuk pendapatan daerah. Dengan demikian, di kabupaten ini tak tersedia area konservasi hutan hujan demi keberlanjutan lingkungan.
Sebelum berkembangnya perkebunan sawit, kabupaten Kotawaringin Timur mengandalkan PAD dari memanfaatkan sumberdaya hutan. Dengan berlang-sungnya otonomi daerah, pemerintah daerah dengan kewenangan barunya mengeluarkan izin-
izin HPH skala kecil (dikenal juga dengan HPHH 100 hektar) untuk mendongkrak PAD. Sistem HPHH ini dinilai memberikan akses relatif lebih baik bagi masyarakat dalam memanfaatkan sumberdaya hutan, sekalipun dengan keuntungan jangka pendek. Sebab banyak dampak negatif yang ditimbulkan dengan bermunculannya HPHH 100 hektar. Diantaranya, sumberdaya hutan yang semakin terdegradasi, masyarakat semakin terpinggirkan dan praktek pencurian kayu yang semakin marak karena lemahnya penegakan hukum, kerusakan lingkungan, serta tidak jelasnya hak tenurial. Dalam jangka pendek, masyarakat setempat, terutama para elit, menikmati keuntungan langsung dari memanen kayu. Namun dalam jangka panjang, dampak lingkungan kegiatan eksploitasi hutan tersebut mengancam penghidupan masyarakat setempat meski dalam praktek-praktek pencurian kayu, masyarakat setempat juga turut ambil bagian.
Perkembangan industri di Kalimantan Tengah pada umumnya, khususnya kabupaten Kotawaringin Timur, telah mengalami proses transisi dari industri kayu menjadi industri perkebunan berskala besar. Meskipun industri kayu masih merupakan sumber pendapatan daerah, namun semakin menipisnya hutan yang tersedia telah membuat pemerintah daerah mencari alternatif sumber pendapatan daerah yang lain. Salah satunya adalah sawit. Sebagai misal, antara tahun 2008 hingga 2010, di Kabupaten Kotawaringin Timur telah terjadi peningkatan luas area perkebunan sawit swasta yang cukup besar dari 292.531 hektar menjadi 469.120 hektar.
Dalam catatan Dinas Kehutanan dan Perkebunan kabupaten Kotawaringin Timur, di kabupaten Kotawaringin Timur terdapat 47 perusahaan perkebunan sawit. Saat ini, Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur mencanangkan program “Lahan Sawit Sejuta Hektar”. Padahal menurut Staf Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Kotawaringin Timur sudah tidak ada lahan yang tersisa. Di kecamatan Parenggean – yang dipilih sebagai lokasi studi – sudah beroperasi hampir 20 perusahaan perkebunan sawit, yakni PT Sapta Karya Damai, PT Karya Makmur Bahagia, PT Unggul Lestari, PT Uni Primacom, PT Katingan Indah Utama, PT Surya Inti Sawit Kahuripan, PT Mukti Sawit Kahuripan, PT Wana Yasa Kahuripan Indonesia, PT Swadaya Sapta Putra, PT NSP, PT Tumas Agro Subur Kencana I, PT Tunas Agro Subur Kencana 2, PT Tunas Agro Subur Kencana 3, PT Sarana Prima Multi Niaga, PT Bina Hutan Lestari, PT Hutan Sawit Lestari, PT Windo Nabatindo Lestari, PT Bangkit Giat Usaha Mandiri. Delapan perusahaan di antaranya, yaitu PT Uni Primacom, PT Karya Makmur Bahagia, PT Katingan Indah Utama, PT Surya Inti Sawit Kahuripan, PT Tunas Agro Subur Kencana, PT Bangkit Giat Usaha Mandiri, PT Sarana Prima Multi Niaga, PT Swadaya Sapta Putra, telah memiliki pabrik CPO sendiri (Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kotim 2013). Semua perusahaan ini beroperasi di bekas lahan HPH.
Kecamatan Parenggean, yang menjadi lokasi riset, luas wilayahnya 1.584 kilometer persegi (KotimDA 2012), dihuni sekitar 11.000 keluarga atau hampir 38.000 jiwa. Sekitar 30 persen penduduknya adalah warga asli Dayak dan separuh dari warga asli Dayak ini masuk kategori penduduk miskin.
Jarak kecamatan Parenggean dari Sampit (ibukota Kotawaringin Timur) hanyalah 105 kilometer, yang mestinya bisa ditempuh satu hingga dua setengah jam perjalanan. Namun dalam kenyataannya untuk bisa mencapai Parenggean dari Sampit bisa menghabiskan waktu lima jam penuh karena kondisi jalan yang rusak, bergelombang, berlubang, dan berlumpur.
Yang berkontribusi besar atas kerusakan jalan adalah melintasnya kendaraan berbobot berat setiap hari di wilayah tersebut. Kini, yang melintas adalah truk-truk milik perusahaan sawit. Ketika industri kayu masih berjaya, truk-truk pengangkut log jumlahnya tak terhitung. Kayu tidak hanya dihanyutkan di sungai Tualan, tetapi juga diangkut melalui jalan darat.
Sejarah masuknya perusahaan sawit di Parenggean dimulai oleh PT Trasindo, milik orang Korea. Tahun 2001, perusahaan ini tidak beroperasi lagi. Akibat kerusuhan, kantor Trasindo dibakar dan masyarakat kocar-kacir. Trasindo kemudian dilikuidasi bank. Lahan Trasindo sendiri adalah lahan transmigran yang bersertifikat yakni SP 1, SP 2, SP 3G, SP 4G. Ada 770 hektar lahan yang sudah ditanami. Sesudah Trasindo tidak beroperasi, masuk PT Uni Primacom, dan kemudan PT Makin. Sejalan dengan bertambahnya jumlah perusahan perkebunan sawit, luasan perkebunan sawit juga meningkat dari tahun ke tahun, seperti terlihat dalam Diagram 4.
Meningkatnya luasan area perkebunan sawit di kabupaten Kotawaringin Timur membawa konsekuensi, salah satunya adalah kerentanan terhadap konflik. Banyak kasus sengketa lahan yang tak terselesaikan. Di kecamatan Telawang, misalnya, sampai 2012 tertumpuk 115 kasus sengketa lahan (jpnn.com, 8/1/2012). Ketua Tim Terpadu, Putu Sudarsana menyatakan, sejak dibentuk tahun 2009, Tim Terpadu sudah menerima sekitar 200 kasus sengketa lahan. Sementara warga meyakini, kasus sengketa lahan yang terjadi di kabupaten Kotawaringin Timur lebih banyak dari yang dilaporkan.
Diagram 4
Perkembangan luasan lahan perkebunan sawit di kabupaten Kotawaringin Timur
Konsekuensi berikutnya adalah meningkatnya kerentanan terhadap ben- cana banjir. Sungai-sungai meluap, terutama jika turun hujan deras, sekarang sudah jauh lebih sering terjadi daripada masa-masa sebelum pembukaan hutan. Apalagi area kabupaten ini pada umumnya merupakan daerah rendah di bagian selatan pulau Kalimantan. Daerah yang tertinggi dari permukaan laut hanyalah 60 meter. Kota Sampit sebagai ibukota kabupaten ini, bahkan halaman kantor bupati sekalipun, rutin terkena dampak bencana banjir (jpnn.com 12/7/2012).
Kehidupan masyarakat berbasis budaya sungai menjadi lebih terancam oleh kemerosotan mutu lingkungan hidup. Di kabupaten ini terdapat empat anak sungai utama dari sungai Mentaya, yaitu sungai Cempaga, Tualan, Sampit dan Seranau. Kondisi sungai-sungai ini sudah tercemar bersamaan dengan intensifnya pembukaan hutan dan menjadi lebih parah setelah beroperasinya kebun-kebun kelapa sawit. Menurut petugas kesehatan setempat, kebiasaan masyarakat mengandalkan air sungai untuk konsumsi keluarga telah berdampak pada rentannya kondisi kesehatan warga kabupaten ini, terutama sejauh tampak pada kasus merebaknya penyakit diare dan anak-anak penderita masalah gizi.
Bahkan pada pertengahan 2011 pemerintah menyatakan “KLB Diare” (jpnn.com
2/8/2011). Anak-anak penderita gizi buruk dominan bermunculan di desa-desa kawasan pedalaman (jpnn.com 30/12/2012).
Dari sisi ekonomi, kabupaten Kotawaringin Timur memiliki ciri khas dengan adanya bandara Haji Asan dan pelabuhan Ketapang di kota Sampit. Pelabuhan Ketapang dan bandara Haji Asan ini membuat Kabupaten Kotawaringin Timur menjadi salah satu pintu gerbang ke Provinsi Kalimantan Tengah. Pelabuhan merupakan titik bongkar-muat untuk provinsi Kalimantan Tengah yang berperan sebagai pintu keluar dan masuk barang-barang dagang sehingga menghasilkan pemasukan yang tak sedikit menyumbang pada anggaran daerah. Hasil-hasil hutan, kebun dan tambang dibawa keluar – baik untuk tujuan di dalam negeri maupun ekspor ke luar negeri dilakukan melalui Sampit. Dua negara yang dominan menjadi tujuan ekspor adalah Malaysia dan Cina. Bahan ekspor utama terutama adalah biji besi, zirkon, minyak kelapa sawit (CPO), rotan (sampai 2010). Cepatnya perluasan kebun-kebun sawit juga tampak dalam terus meningkatnya nilai ekspor minyak sawit (CPO) yang keluar dari kabupaten ini. Selama periode 2007-2011 sebanyak 251,71 ribu ton minyak kelapa sawit telah diusung keluar dari kabupaten ini dengan nilai tukar sebesar 196,43 juta dollar Amerika Serikat. Sektor perkebunan, lebih daripada sektor-sektor pertanian yang lain, tercatat menyumbangkan sebesar antara 13 – 16 persen dari seluruh perputaran nilai dalam tahun-tahun terakhir. Sayangnya, sejauh ini seluruh perputaran nilai itu justru diserap keluar dari kabupaten ini.
Berikut adalah potret kehidupan komunitas sebelum dan sesudah ber- operasinya industri perkebunan sawit di tiga kabupaten terpilih.
2.3.1. Komunitas Desa Sarapat
Desa Sarapat berada di wilayah kecamatan Dusun Timur, kabupaten Barito Timur. Sebelum tahun 2007 –ketika perusahaan perkebunan sawit belum beroperasi di wilayah desa Sarapat– kehidupan masyarakat desa ini berjalan tenang dan damai. Warga hidup bergantung sepenuhnya pada hutan dan sungai. Warga menggunakan sungai yang mengalir di belakang pemukiman mereka untuk keperluan konsumsi sehari-hari. Mereka mengambil air bersih untuk minum, memasak, mandi dan mencuci dari sungai. Saat itu sungai masih jernih dan belum tercemar.
Sungai yang bersih juga menyediakan sumber protein yang berlimpah bagi warga desa Sarapat. Beragam jenis ikan seperti baung, puyau, pahiau, patin
menggunakan pancing maupun rengge atau ansiding, jaring tradisional yang terbuat dari anyaman rotan.
Kawasan hutan terdapat di sepanjang kiri dan kanan sungai. Sungai yang melintasi desa itu disebut sungai Ranu Lembang atau sungai Sarapat, dengan dua anak sungainya yakni sungai Tabu Kuyut dan Luau atau sungai Benawa. Keberadaan hutan di kiri dan kanan sungai menyeimbangkan tinggi-rendah permukaan sungai dan mengatur debitnya sedemikian rupa sehingga banjir tidak pernah melanda kawasan pemukiman desa Sarapat.
Hutan juga merupakan sumber pangan berlimpah bagi masyarakat desa Sarapat. Selain mengambil pangan dari hutan, warga juga mendapatkan sumber karbohidrat dengan bertanam padi ladang sekali dalam setahun. Sumber protein hewani mereka peroleh dengan berburu binatang hutan. Mereka juga mengambil dedaunan dan akar-akaran yang tumbuh di hutan sebagai sumber vitamin. Juga madu hutan bisa dengan mudah mereka dapatkan dari pohon-pohon besar yang ada di hutan.
Ketika hutan dan sungai masih utuh, pekerjaan warga masyarakat de sa Sarapat sangat beragam. Mereka bekerja sebagai peladang, pengumpul tanam- an dan hasil hutan, pencari ikan, dan sekaligus pemburu binatang. Dalam me- manfaatkan hutan dan sungai sebagai sumber penghidupan, komunitas desa Sarapat mematuhi batasan aturan-aturan adat yang disepakati bersama di tingkat komunitas. Adat mengajarkan mereka untuk mengambil secukupnya, tidak menimbun, dan tidak merusak. Hutan dan sungai sangat dijaga keutuhannya karena kehidupan mereka bergantung sepenuhnya dari kebaikan alam.